Monthly Archives: Oktober 2020

ya nabi salam ‘alaika : 12 rabi’ul awwal 1442 hijriyah

Standar

Hikmah saat menunaikan ibadah haji tahun 2006 / 2007. Berada di kota Madinah selama 10 hari. Setelah sebelumnya hampir 30 hari berada di kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji seperti wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, mabit di Mina, tawaf dan sa’i di Masjidil Haram. Juga ziarah tafakur sejarah Islam di sekitar kota Makkah.

Di Masjid Nabawi, dua kali aku berada di raudah ‘taman surga’, seperti ucap Nabi SAW : “Antara kamarku dan mimbarku adalah taman (raudah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari no. 1888).

Alhamdulillah aku dapat shalat dua rakaat dengan tenang dan nyaman. Pada kesempatan lain aku berkeliling masjid sampai makam Rasulullah SAW. Kubah hijau menandai rumah Aisyah ra yang kini menjadi makam, di sanalah Muhammad SAW wafat dan dikuburkan. Betapa sederhana dan bersahaja kehidupan beliau, namun betapa tinggi kecintaan beliau kepada umatnya. “Umati … umati … umati …” begitulah pesan terakhir Rasulullah SAW menjelang wafatnya. 

Airmata ini tak terasa deras mengalir membasahi pipi. Aku, Dewi Laily Purnamasari di pelataran Masjid Nabawi Madinah. Sesaat sebelum menunaikan ibadah shalat berjamaah dan berkunjung ke Raudah. Alhamdulillah … “Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam … salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, shalawattullah ‘alaika …” Shalawat dan salam kepada kekasih Allah SWT menjadi tali penghubung antara umatnya dengan Nabi SAW yang mulia. Masjid Nabawi adalah saksi sejarah perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Cahaya terang benderang pembuka kegelapan telah Allah SWT tetapkan dari Masjid Nabawi.

Bukankah Muhammad SAW tetap ada di Madinah sejak hijrah hingga wafatnya ? Artinya Allah SWT telah mengabulkan do’a beliau, untuk menjadikan Madinah (khususnya Masjid Nabawi) seperti dalam do’a Rasulullah SAW yang terkenal : “Ya Allah … berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan kecintaan kepada Makkah, atau lebih dari itu. Dan bersihkanlah ia serta berkatilah kepada kami dalam makanan dan bekalnya, dan gantilah wabah penyakitnya dengan juhfah.” (Shahih Bukhari no. 1889). 

Alhamdulillah sepuluh tahun kemudian, pada saat anakku Teteh Maryam Aliyya Al Kindi berusia 10 tahun bisa menunaikan ibadah umroh. Cuaca bulan April tahun 2017 sangat nyaman menemani perjalanan ibadah kami. Masya Allah … Teteh sangat bahagia bisa beribadah di Masjid Nabawi Madinah.

Teteh mendapatkan hikmah dari sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, pengalaman spiritual yang luar biasa didapatkan ketika ziarah ke Madinah. Jejak Muhammad SAW nyata ada di sana. Perjuangan dakwah Islamiyah, ketegaran hati, kepemimpinan, akhlak mulia, persahabatan dalam iman dan islam, bahkan kecintaan beliau kepada umatnya terpancar dari Madinah. Hal menarik ketika berada di Masjid Nabawi adalah menyelami kehidupan Nabi SAW bersama keluarganya. Ternyata rumah Rasulullah SAW sangatlah sederhana dan kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja.

Ukuran rumah beliau tak lebih dari 5 x 4 m2 dan halaman belakang 5 x 3,5 m2. Atapnya dari pelepah kurma, dindingnya dari batu bata tahan api, lantainya tanah. Subhanallah … luar biasa. Bukan istana pualam atau hiasan emas dan perak yang dinikmati Rasulullah SAW bersama keluarganya. Sanggupkan kita meneladani kehidupannya yang demikian ? Sanggupkan kita tidak mengeluh dan berputus asa ketika menemui kesulitan hidup ? 

Aku merasakan sentuhan yang sangat mengharukan ketika shalat di Masjid Nabawi. Terbayang bagaimana Rasulullah SAW menjadi imam, para sahabat (Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hamzah sayyid al syuhada, Salman al Farizi, Abbas ibn Abdul Muthalib, Al Hakam ibn Sa’id, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Haritsah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Zaid ibn Tsabit, Abu Lubabah.

Begitu juga serasa ada para ummul mu’minin (kecuali Khadijah binti Khuwailid yang telah wafat) Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Zainab binti Huzaimah, Juwairiyah binti Haris, Sofiyah binti Hay bin Akhtab, Hindun binti Abi Umaiyah, Ramlah binti Abu Sufyan, Hafsah binti Umar bin Khatab, Zainab binti Jahsy, Maimunah binti Haris. 

Ya … terasa di hati ini suasana syahdu saat putri-putri beliau hadir di sini Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Subhanallah … mereka adalah pejuang sejati, penegak kalimat tauhid, rela berkorban harta, raga, bahkan jiwa. Bila salah mohon dimaafkan Ya Allah … Aku memperoleh kesan mendalam tentang Nabi SAW. Kitab Syama’il an Nubuwwah karya Abu Isa at Tirmizi menggambarkan sosok manusia yang paling baik budi pekertinya. 

Teladan Rasulullah SAW tercermin dalam kebaikan rohani, kemuliaan jiwa, kesucian hati, keserhanaan tingkah laku, kebersihan, dan kehalusan rasa. Sifatnya lemah lembut tapi kesatria, ramah tetapi serius, dan otaknya cerdas. Alam pikirannya luas sehingga mampu mempengaruhi baik kepada orang pandai maupun orang yang tidak berpengetahuan. Senyumnya memikat, sabar terhadap bawahan, rela menjenguk orang sakit sekalipun memusuhinya, memenuhi undangan orang miskin sekalipun. Tak segan menjahit sendiri pakaiannya, memerah susu kambing, dan menolong pekerjaan rumah. Muhammad SAW menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak, dan menghormati perempuan. 

Al Quran sebagai tuntunan umat Islam adalah mukjizat Rasulullah SAW. Bila benar mencintai Beliau, maka bacalah, pelajarilah, pahamilah, jalankanlah ajaran-Nya dan sunnah Rasul. Ya Nabi salam ‘alaika …

Hikmah yang ku dari perjalanan ziarah ini tak lepas dari kekuasaan  Allah SWT. Perintah-Nya kepada manusia agar mengadakan perlawatan di muka bumi untuk membuktikan kekuasaan Allah SWT : “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang orang-orang yang sebelum mereka,  sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka ? Dan tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa,” (QS. Faathir 35 : 44).

Al Quran, Masjid dan Kucing

Standar

Dulu aku tak percaya … Masa sih kucing itu suka mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al Quran ?! Namun … Kejadian yang aku alami sendiri,  membuatku tak henti berucap Masya Allah … Subhanallah … Allahu Akbar. Benar … Ada kucing yang senang mendengarkan lantunan Kitabullah.

Suatu siang di selasar masjid sekolah Teteh Maryam Aliyya Al Kindi … Anakku bungsu ini sedang mengikuti kegiatan tahfidzulquran. Teteh terpilih masuk kelas khusus menghafal Al Quran sejak usia 9 tahun. Aku menunggu Teteh sambil membaca beberapa lembar Al Quran. Ya Allah … Selagi lamat-lamat aku membaca ayat demi ayat dengan terjemahannya, tetiba kucing manis ini duduk lalu -ngerungkel dipangkuanku. 

Kucing manis berbulu putih abu-abu ini sekejap memejamkan matanya. Tampak menikmati suara pelanku yang hampir seperti berbisik. Sejenak aku jeda membaca Al Quran dan berswafoto dengan kucing ini. Ia tetap bergeming terdengar dengkur halusnya. Tubuhnya hangat dipangkuanku. 

Sekitar setengah jam, Aku menyelesaikan bacaan. Apa yang terjadi ?; Kucing lucu ini pun membuka matanya. Ia lalu -nguliet (apa yah kata lainnya -meregangkan badannya gitu he3 …), mengusap mata dengan kaki depannya, menyentuh tanganku seperti hendak salam … Lalu -ngeloyor pergi … Ya Allah Yang Maha Agung Lagi Maha Tinggi, benar adanya tuntunan Muhammad Rasulullah SAW. Alquran itu adalah firman-Mu. 

Terbukti nyata hewan saja bahagia mendengarkan bacaan kitab suci ini.  Sejatinya kita hamba-Nya yang dimulikan yang memiliki akal dan qalbu seharusnya lebih bahagia bila berdekatan dengan Al Quran. Membacanya, mentadaburinya, memahaminya, melaksanakan ajaran yang terkandung didalamnya. Al Quran adalah Al Huda -petunjuk pedoman kehidupan umat Islam.

Hari itu aku membaca surah Al Kahfi ayat ke 30. Allah berfirman ‘sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu.’ Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberikan ilmu dan pengetahuan kepada manusia hamba-Nya agar bisa mengerti akan makna penciptaan dirinya. Maka pelajarilah Al Quran. Dengan beriman dan beramal kebajikan berdasarkan Al Quran dan As Sunnah maka Allah akan melimpahkan karunia-Nya.

Ayat 31 dalam surat Al Kahfi Allah berjanji, ‘Mereka itulah yang memperoleh surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai (dalam surga itu) mereka diberi hiasan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. (Itulah) sebaik-baik pahala dan tempat istirahat yang indah’. 

Oya … Satu lagi nih. Aku juga memperhatikan hampir setiap masjid ada kucing penghuni setianya. Begitupun di Masjid PB. Soedirman sebagai pusat kegiatan keagamaan di sekolah Teteh. Siswa-siswi melaksanakan shalat, dhuha, shalat dzuhur dan shalat ashar setiap hari sekolah. 

Ada juga kegiatan tahsin dan tahfizhulquran. Hari besar keagamaan seperti shalat Ied baik Idul Fitri maupun Idul Adha juga dilaksanakan oleh DKM masjid. Siswa-siswi kelas 4 yang melaksanakan malam bina iman dan taqwa juga menggunakan masjid untuk shalat wajib, shalat tahajud, dan mendengarkan kajian / halaqah. Alhamdulillah … 

Semoga kita termasuk di dalam golongan orang-orang yang senantiasa beriman dan mengerjakan kebajikan aamiin ya Rabbal’alamin.

Naik Bandros Keliling Bandung, Jalan-jalan Bareng Hijaber Cilik

Standar

Bandung Tour on Bus berwarna merah cerah serasi benar dengan kostum Teteh Maryam Aliyya Al Kindi pagi itu. Sebelum Covid-19 menjadi wabah pademi di Indonesia, kami sempat berjalan-jalan keliling kota Bandung naik Bandros. Murah meriah loh! Udara Bandung yang sejuk dan cerahnya langit menemani perjalanan kami sekitar 1 jam. 

Bandung memang kota yang selalu membuat kangen. Kulinernya maknyuuuussss. Tempat wisatanya keren. Banyak bangunan peninggalan masa kolonial yang masih terpelihara. Seperti Gedung Sate tempat berkantornya Gubernur Jawa Barat, hotel Savoy Homan, gedung Bank Indonesia, kawasan jalan Braga, dan jalan Asia Afrika. 

Bis terbuka ini bertarif Rp. 20.000,- saja untuk berkeliling dengan rute Halte Alun-Alun Bandung sampai  Museum Geologi. Pemandu wisata menjelaskan berbagai lokasi dan bangunan yang kami lewati. Nama-nama unik juga sangat menarik. Seperti nama makanan bandros, cilok, batagor dan colenak. Ha3 … Teteh tertawa-tawa saat dijelaskan ternyata nama-nama itu adalah singkatan. 

Setelah puas berkeliling kota, kami turun di Museum Geologi. Museum yang didirikan pada 16 Mei 1928 menjadi destinasi wisata sambil belajar yang mengasyikkan. Gedung berarsitektur kolonial ini indah sekali. Dinding dicat putih bersih. Langit-langit gedung yang tinggi membuat kesan gagah. Bukaan jendela besar menjadikan sirkulasi udara dan pencahayaan alami didapat dengan maksimal. 

Teteh senang sekali bisa belajar fosil dinosaurus.
Seru juga ya bisa belajar tentang sumber daya alam Indonesia yang sangat kaya.
Waaahhhhh … Batu mulianya besar sekali, kata Teteh. Hi3 … Ibu cuma pakai secuil aja udah mahal ya?

Koleksi unik dan menarik membuat Teteh senang berlama-lama di museum ini. Kami pun berkeliling dari satu ruangan ke ruangan lain dengan nyaman. Ada ruangan yang memajang fosil dinosaurus. Sejarah perkembangan bumi pada masa dinosaurus terlihat di dinding dan sangat informatif. Wah … Belajar jadi seru nih!

Ruangan lain yang kami datangi berisi koleksi batu-batu mulia. Betapa kaya sumber daya alam Indonesia. Ada juga sejarah perkembangan penduduk di Indonesia sejak jaman purba hingga saat ini. Teteh tertarik dengan koleksi barang-barang temuan dari berbagai tahun. Seperti guci, keramik, gerabah, alat dari besi, juga tengkorak manusia. Oya … Tiket masuk museum sangat terjangkau. Pelajar dan mahasiswa hanya membayar Rp. 2.000,- saja. Di pojok kiri bangunan ada toko kecil yang menjual cenderamata.

Hari beranjak siang. Kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota menuju masjid Salman ITB. Kami melaksanakan shalat dzuhur dan lanjut makan siang di kantin Salman. Nah … Kantin ini legendaris sejak aku kuliah di tahun 1989 menjadi favorit mahasiswa untuk menuntaskan rasa lapat. Masakannya beragam pilihan. Pastinya sesuai dengan kantong mahasiswa. 

Palembang Kota Tertua Di Indonesia, Jalan-Jalan Bareng Hijaber Cilik

Standar

Pagi ini suamiku berangkat dinas menuju Kota Palembang. Penerbangan paling pagi dengan pesawat Batik ternyata delay hingga pukul 08.00 WIB. Di masa wabah pandemi Covid-19 memang cukup merepotkan jika hendak bepergian terutama jika menggunakan kendaraan umum. Kemarin suami menjalani rapid tes dengan hasil non reaktif, Alhamdulillah.

Kota Palembang berdasarkan data di wikipedia adalah kota tertua di Indonesia. Prasasti Kedukan Bukit bertanda tahun 683 Masehi yang ditemukan di Bukit Siguntang sebelah barat Kota Palembang menjadi bukti klaim tersebut. 

Aku dan anakku Maryam Aliyya Al Kindi (biasa disapa Teteh) juga sangat senang bisa menjejakkan kaki di Kota Palembang 3 tahun lalu.

Selama tiga hari menikmati Kota Palembang rasanya belum cukup. Hari pertama kami bersilaturahim dan menikmati malam bulan purnama di Jembatan Ampera yang membentang lebih dari 1.000 meter di atas Sungai Musi. 

Makan malam yang nikmat. Menu ikan laut, udang, dan cumi-cumi kesukaan Teteh. Angin semilir dan gemericik air sungai menemani malam yang hangat. 

Lampu silah berganti warna di jembatan Ampera menambah suasan romantis. Sesekali bulan purnama bersembunyi di balik awan … lalu mengintip genit memancarkan cahaya putih cemerlang. Masya Allah indah sekali.

Pagi hari selepas sarapan di hotel, Aku dan Teteh kembali ke tepian sungai Musi. Panjang sungai ini 750 km, membelah kota Palembang menjadi dua bagian. 

Sungai terpanjang di pulau Sumatera ini memiliki sejarah panjang dan berpengaruh terhadap perkembangan kerajaan Sriwijaya hingga negara Indonesia sekarang.  Di tepi sungai Musi banyak perahu motor yang biasa digunakan oleh wisatawan untuk berlayar menyusuri sungai. Baik jarak dekat ataupun hingga jauh menuju Pulau Kamaro yang unik.

Aku memilih menyewa perahu secara privat. Ya! Berdua saja dengan Teteh menyusuri sungai Musi menuju pulau Kamaro. Seru … Sepanjang perjalanan banyak kapal besar baik yang mengangkut belerang, minyak bumi, atau barang produksi lainnya. Ada juga perahu nelayan kecil sepertinya sedang memancing ikan. 

Sekitar satu jam sampailah di Pulau Kamaro. Ada bangunan Klenteng Hok Tjing Rio dan legenda tentang harta berupa emas permata yang dibuang ke sungai Musi. Bangunan dengan arsitektur khas negeri Tiongkok yang berpadu dengan kebudayaan lokal sangat mencolok berada di delta sungai Musi. 

Warna merah cerah, kuning keemasan dengan sedikit hijau menjadi latar yang menarik untuk berfoto. Rimbunnya pepohonan juga membuat betah berlama-lama menikmati suasana sambil menyeruput air kepala muda yang segar.

Menjelang tengah hari, kami kembali ke Kota Palembang untuk melanjutkan silaturahim dan berkunjung ke Museum Al Quran. Makan siang kali ini kami mencicipi sop ikan gabus, pempek dan es kacang merah yang maaaknyuuus. Sore hari tak lupa belanja oleh-oleh. Kain tenun berupa sarung dan selendang menjadi oleh-oleh cantik nih. Tak lupa pempek pastinya sebagai makanan khas Palembang harus ditenteng sebagai oleh-oleh. Waaahhhh … bagasi bertambah dong! Ha3 … Begitulah kalau emak piknik ya … 

Hari ketiga selepas subuh, Aku dan Teteh harus sudah kembali ke Jakarta. Semoga lain waktu bisa kembali menikmati kota Palembang dan kota-kota lainnya di Sumatera Selatan. Insya Allah …

Silakan mampir di artikel lainnya:

Berkuda di Kebun Teh Gunung Mas Puncak: Jalan-Jalan Bareng Hijaber Cilik

Standar
Perkebunan teh yang hijau asri dengan latar gunung yang gagah sangat memanjakan mata. Masyaallah …

Angin semilir membuat jilbab hijau pupus Teteh Maryam Aliyya Al Kindi berkibar perlahan. Hangatnya mentari menemani riangnya hati di akhir pekan. Udara kaya oksigen bagai detox alami menyemangati aktivitas pagi ini. Agrowisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor menawarkan keindahan alam dan ketenangan suasana. Cocok untuk tempat berlibur keluarga.

Teteh pun girang sekali saat memasuki kawasan agrowisata melihat kuda-kuda berjejer. 

“Aku mau berkuda di sini Bu …”, pintanya sambil mengedipkan mata dan menangkupkan kedua telapak tangan. 

Alam Indonesia memang sangat mempesona, patutlah kita bersyukur.
Kuda yang keren dan gagah dipilih Teteh untuk ditunggangi mengelilingi perkebunan teh.

“Pleaaaseeee ya”, sambil tersenyum manis sekali.  Hi3 … Begitulah aksi Teteh kalau sangat ingin sesuatu. “Hhhmmm …”, dehemku. “Boleh”.  Seketika Aku dipeluknya. Tanda terimakasih tentu.

Teteh sangat menyukai menunggang kuda -berkuda adalah olahraga yang menyenangkan. Lebih asyik lagi bila berkuda sambil menikmati pemandangan kebun teh dan barisan bukit dan gunung yang cantik. Seru loh! Berkuda di alam bebas. 

Senangnya Teteh bisa bebas bergerak, melompat, berlari, dan menikmati indahnya alam di sini.

Setelah puas berkeliling kebun teh, kami beristirahat di villa sederhana. Murah meriah harganya cukup terjangkau. Villa yang kami sewa memiliki dua kamar tidur, satu ruang tamu yang bergabung dengan ruang makan dan dapur kecil, serta satu kamar mandi.

Sore hari yang santai. Teteh berlari di lapangan rumput yang luas. Sambil melompat dan menari. Aku kebagian memotret aksi serunya. Alhamdulillah. 

Teteh berkuda ditemani Mas.

Keesokan harinya, Teteh ditemani Mas Hanif memilih berkuda menuju istal atau kandang kuda. Lokasinya sekitar 1 km dari villa kami. Di istal ada kuda yang sangat besar dan tinggi. 

Kata pemandu itu adalah kuda yang dititipkan untuk dipelihara. Kuda berasal dari Australia. Waaaahhhh … Senangnya Teteh bisa belajar tentang bagaimana kuda dipelihara. 

Teteh memperhatikan kuda yang sedang dipasangkan telapak atau sepatu. Ada juga yang sedang dimandikan dan disisir bulunya. Kandangpun dibersihkan secara teratur agar kuda selalu sehat dan kuat. 

Makanan kuda tidak boleh sembarangan loh! Rumput khusus dan campuran dedak ditambah vitamin. Air minum juga harus terjaga kebersihannya. Di istal ada kuda kecil. Sepertinya baru saja dilahirkan. Lucu… Kuda kecil masih minum susu kepada induknya.

Oya… Teman-teman kompasiana yang tidak sempat membawa bekal dari rumah tak perlu khawatir. Ada restoran dengan sajian makanan dan minuman yang sedap. Banyak juga warung yang buka 24 jam dengan menu lebih sederhana.

Nah… Tak lengkap jika ke agrowisata kebun teh tapi tidak tracking menyusuri kebun teh di bagian belakang kawasan ini. Seru sekali Teteh bisa bertemu ibu-ibu pemetik teh dengan keranjang besar dipunggungnya. Topi mereka lebar dengan baju berwarna-warni tampak kontras dengan latar hijau dedaunan.

Mampir yuk di artikel ini:

Malioboro Yogyakarta : Jalan-jalan Bareng Hijaber Cilik

Standar

Alhamdulillah … Aku mendapat undangan dari adik kesayangan Dede Sulaeman. Dia akan melaksanakan Ujian Terbuka untuk memperoleh derajat Doktor dalam Ilmu Lingkungan.

Sambil menyelam minum air … Jadilah, Aku ajak Teteh Maryam Aliyya Al Kindi ke Yogyakarta sambil berlibur. Berbagi cerita tentang Yogyakarta tiada habisnya. Setiap orang yang pernah menjejakkan kaki di kota ini memiliki kenangan indah tersendiri. Begitupun Aku dan anakku bulan Mei tahun lalu berlibur di Yogyakarta sekaligus menghadiri Wisuda Doktor adik tersayang di Universitas Gajah Mada.

Bukan pertama kali ini Teteh berlibur di Yogyakarta. Namun pengalaman berkeliling kota dengan becak listrik barulah pertama kali. Dari penginapan di kawasan kampus UGM, Teteh menuju jalan Malioboro dan langsung minta untuk belanja di pasar Beringharjo. Borong batik pastinya he3 … Pagi itu pasar masih lengang. Leluasa kami memilih berbagai motif batik yang cantik. Murah meriah loh! Pedagangnya pun sangat ramah.

Selesai berbelanja, Teteh ingin mengunjungi pusat kota dan berfoto dengan latar belakang berbagai bangunan yang unik dan bersejarah. Seperti gedung Kantor Pos, gedung Bank Indonesia dan Bank Negara Indonesia. Ada juga benteng Vredeburg, istana Kepresidenan atau Gedung Agung dan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tentu tak ketinggalan Masjid Gedhe Kauman.

Benteng Vredeburg dibangun pada tahun 1767. Erat kaitannya dengan perjanjian Giyanti tahun 1755. Belanda memang menerapkan strategi -ikut campur dan mengawasi gerak-gerik raja-raja Jawa. Benteng ini sebagai upaya Belanda untuk berjaga-jaga jika Keraton berpaling tidak lagi menjalin hubungan baik dan balik memusuhi. 

Hari beranjak siang, kami kembali ke penginapan. Becak listrik melaju melewati Tugu Ngayogyakarta yang legendaris. Tugu ini dibangun oleh Pemerintah Belanda setelah tugu sebelumnya runtuh karena gempa. Usia tugu ini hampir 3 abad sebagai gambaran semangat rakyat dan keraton dalam melawan penjajahan.

Oya … Liburan kali ini juga dipenuhi rasa bangga dan bahagia. Adikku lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. Alhamdulillah.

naik ratangga yuk! : jalan-jalan bareng hijaber cilik

Standar

Akhir pekan sebelum wabah pandemi Covid-19 datang. Aku mengajak si bungsu keliling kota Jakarta menggunakan moda transportasi umum. Kami memilih beberapa jenis moda, pertama dari rumah kami berjalan kaki. Ingat pesan Pa Anies Baswedan, bahwa kaki adalah alat transportasi terhebat dan paling praktis. Ke mana kita akan melangkah ?; Maka kaki akan menemani . 

Rumah kami tak jauh dari halte Transsjakarta Pasar Kramatjati. Kurang lebih 300 meter kami sudah menempelkan kartu untuk masuk ke dalam halte. Duduk sebentar menanti Tj jurusan Kampung Rambutan – Blok M. Tak lama datang bis berwarna biru … Pintu terbuka dan traalalaaaa … Hawa dingin menyeruak dari dalam bis. Adem sekali bis yang kami tumpangi ini. Alhamdulillah … Tempat duduk juga banyak yang kosong. 

Lift ini juga menyambungkan sisi terminal dengan pusat perbelanjaan di sebrang sana. Jadi aman ya tidak menyebarang sembarangan. Suanana terasa modern dengan tampilan kaca di sekeliling lift. 

Gaya hidup baru yang menurutku sangat baik. Teteh tergolong Gen-Z yang lahir setelah tahun 1995 hingga tahun 2010. Generasi ini sudah berkenalan dengan internet dan perangkat digital semenjak masih balita. 

Stasiun berada di lantai tiga didesain dengan atap tenda. Beberapa tempat duduk disiapkan untuk penumpang yang masih menunggu kereta datang. Oya … tadi di lantai dua Teteh sempat membaca sekilas buku yang disediakan oleh pengelola. Asyik juga nih … Jika harus menunggu lama, kita bisa membaca untuk mengisi waktu.

Nah … Kondisi kota Jakarta yang -katanya macet dan padat lalu lintas tentu harus disiasati dan diberi solusi. Moda transportasi umum adalah salah satu solusi tepat guna dan harus didukung. Walau kami ada kendaraan pribadi, mobil dan motor. Namun alangkah bijak bila lebih sering menggunakan transportasi umum untuk bepergian. 

Gowes Di Kota Tua Jakarta Bareng Hijaber Cilik

Standar

Mentari beranjak tinggi, ketika aku sampai di Kawasan Kota Tua Jakarta. Cukup hangat dan tentu saja membuat cucuran keringat. Anakku -Teteh begitu biasa dipanggil, mendadak minta jalan-jalan di kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata.

Oya… Sebagai warga Jakarta yang baik … ‘cie-cie’ … kami memanfaatkan transportasi publik. Transjakarta memang asyik, nyaman, aman, murah pake banget!

Kenapa di Kota Tua dilarang mati gaya ??? … Aku tuh seneng banget bisa sepedaan keliling alun-alun yang luas banget. Sewa sepedanya hanya 20ribu rupiah untuk 30 menit. Teteh pun hobinya sama, jadilah kami berkejaran sambil tertawa riang berasa seumuran. 

Sengaja kami menyewa sepeda onthel jadul ini, agar sesuai dengan latar bangunan kolonial di kawasan kota Tua Jakarta. Gedung-gedung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda memiliki ciri khas arsitektur dengan dinding tebal berwarna putih. Fasade dengan jendela lebar dan pintu yang tinggi menyesuaikan dengan langit-langit yang juga dibuat tinggi. Fungsinya adalah sebagai penyejuk dan sirkulasi udara yang baik. Bukankah Indonesia negara tropis yang cenderung panas ? Sedangkan masa itu belum ada AC.

Ha3 … Aslinya sih beda 37 tahun loh! Memang olahraga itu resep awet sehat dan awet muda. Coba aja kalo gak percaya … Rugi deh! Satu lagi nih … Asyiknya di Kota Tua itu buat foto-foto. Banyak spot keren yang bisa menghasilkan gambar keren. Sayangkan kalau kita malu-malu bergaya. 

Nah … Setelah puas sepedaan, lanjut berkunjung ke Museum Fatahilah -sekarang namanya Museum Sejarah Jakarta. Setelah di revitalisasi jadi bagus, bersih, tertata rapi, dan ramah anak. Betah banget Teteh memperhatikan berbagai informasi di ruangan-ruangan yang berbeda. 

Jika lapar … Bolehlah mampir di kedai Djakarte persis di depan museum. Asyik ngopi cantik di sini sambil ngobrol seru.

Bangunan historis ini sangat mendukung hobi memotret dan bergaya Teteh. Ada pintu tinggi berwarna merah yang cantik sebagai latar foto. Lantai kayu dan pigura besar juga mendukung hasil foto-foto kami. 

Di halaman dalam museum ada penjual makanan khas Betawi seperti es selendang mayang yang enak dinikmati saat cuaca semakin terik. Kerak telor yang harum dan gurih, gado-gado dan toge goreng juga tersedia. 

Small Business Management and Entrepreneurship

Standar
Pekerja memindahkan ikan yellowfin di pelabuhan ikan di Banda Aceh, Kamis (4/4/2019).

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) harus diakui sebagai kekuatan strategis dan penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi nasional. UMKM memiliki posisi penting tidak hanya dalam penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat di daerah, tetapi dalam banyak hal mereka menjadi perekat dan menstabilkan masalah kesenjangan sosial.

Perkembangan dan peran UMKM terhadap perekonomian, tentu tidak terlepas dari entrepreneur yang menjadi motor penggerak perekonomian. Mereka mampu memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan kapasitas ekonomi dan pengalokasian sumber daya secara efektif.

Sejalan tren masa kini, maka entrepreneur harus mampu menghadapi kompetisi dan berinovasi, mencapai pertumbuhan bisnisnya. Maka akses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, modal, dan sumber daya manusia adalah niscaya menjadi kebutuhan bagi keberhasilan bisnisnya.

Rachmat Pambudy dosen Kepala Bagian Bisnis dan Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB menyusun buku dengan judul Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil. Buku ini disusun bersama rekan dosen lainnya yaitu Wahyu Budi Priatna dan Burhanuddin.

Apa saja yang menarik dari small bisnis ? Sejauh mana kontribusi sirausaha bisnis kecil ? Juga Kelemahan, kendala, dan tantangan bisnis kecil menjadi topik menarik dalam diskusi saya dengan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Bisnis dan Entrepreneurship. Saya mengampu mata kuliah ini di Universitas CIC Cirebon bersama kolega dosen Sudadi Pranata dan Amroni sebagai Kaprodi Manajemen Bisnis.

Mahasiswa masih melaksanakan perkuliahan secara daring. Namun, saya dan beberapa dosen melakukan diskusi terkait konten dan metode materi entrepreneurship dengan menerapkan protokol Covid-19. Semoga pandemi ini segera berlalu dan kegiatan perkuliahan bisa berjalan dengan lebih kondusif, aamiin.

Kembali ke small business. Kecil itu cantik. Kecil itu indah juga menarik. Banyak sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Bisnis kecil sangat menarik untuk di kaji, didiskusikan serta ditumbuhkembangkan hingga menjadi besar. Mengapa demikian ? Sebab memiliki dan menjalankan bisnis kecil adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan. Banyak bukti bahwa usaha-usaha besar yang berhasil dimulai dari usaha kecil. Mengembangkan usaha kecil merupakan langkah awal untuk menjadi pengusaha besar.

Tujuan seseorang yang dicapai melalui bisnis kecil meliputi : memperoleh kemandirian, menghasilkan pendapatan yang tinggi, membantu keluarga, menghasilkan produk yang tidak tersedia bebas.

Tujuan usaha tersebut diantaranya adalah : tujuan jasa menyediakan kebutuhan konsumen, pengusaha mencapai tujuan sosial nerupa pengakuan akan eksistensi diri dan perusahaannya di mata masyarakat, dan tujuan keuntungan / profit, serta tujuan perkembangn usaha.

Pengusaha kecil merupakan sumber bagi pengusaha menengah dan besar. Mata rantai yang tak terpisahkan. Usaha kecil justru menyerap tenaga kerja yang besar alias padat karya. Dalam negara agraris seperti Indonesia, usaha kecil memiliki sumbangan yang sangat berarti dalam menekan laju urbanisasi. Tak kalah pentingnya, usaha kecil melahirkan pengusaha perempuan yang sukses.

Adapun faktor yang menyebabkan kegagalan pada bisnis kecil yaitu :

  1. Ketidakmampuan dan kurangnya pengalaman dalam hal manajemen.
  2. Pengabaian; bahwa untuk mengawali suatu bisnis kecil dibutuhkan suatu komitmen waktu yang luar biasa. Para pemilik bisnis yang tidak bersedia untuk bekerja dalam waktu lama dan melakukan beragam tugas akan mengalami kegagalan.
  3. Sistem kontrol yang lemah; sistem kontrol akan membantu para pengusaha untuk memonitor biaya, tingkat produksi, produktivitas, dan sebagainya.
  4. Modal yang tidak mencukupi; umumnya usaha kecil selama enam bulan tidak memperoleh keuntungan, sehingga dibutuhkan modal yang memadai.

Beberapa kebijakan yang diperlukan dalam mengatasi masalah eksternal pengusaha kecil antara lain dalam hal :

  1. Kebijakan perizinan mengenai usaha, lokasi, dan lainnya;
  2. Kebijakan fiskal dan moneter mengenai nilai uang / inflasi, perpajakan, suku bunga, dan kemudahan kredit serta kemudahan fasilitas ekspor.
  3. Kebijakan tentang perburuhan mengenai upah minimum, kontrak kerja, perselisihan buruh dan lainnya.
  4. Kebijakan keamanan berusaha.

Keterbatasan dalam orientasi kemampuan kewirausahaan atau entrepreneurship di kalangan pengusaha kecil seharusnya menjadi daya tarik bagi perguruan tinggi untuk mengambil peran sebagai katalisator dalam transfer ilmu pengetahuan dan teknologi agar pengusaha kecil lebih berkembang dan mampu meraih kesuksesan.

Pemerintah daerah dan pusat juga harus melakukan berbagai program yang menstimulus pengusaha kecil agar bisa berkembang dan menjadi motor penggerak perekonomian daerah dan Indonesia.

Dosen Universitas CIC Cirebon dalam diskusi terbatas terkait topik entrepreneurship dan manajemen bisnis : tetap 3M ya …

Kami sedang berusaha merealisaikan gagasan / ide berdirinya komunitas pengusaha muda di kalangan mahasiswa kota Cirebon. Jadi semenjak mahasiswa, walau masih menempuh pendidikan di perguruan tinggi mereka sudah bisa memulai bisnis kecil. Mereka juga diberikan pendampingan dan akses networking/jejaring dengan para pengusaha yang lebih senior dan sukses.

Silakan membaca referensi berikut:

Dewi Laily Purnamasari, ST. MM Dosen Universitas CIC Cirebon dan Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi S.Pt (alumni Fapet Unpad, pengusaha muda bidang peternakan) kandidat magister entrepreneurship SBM ITB.

Entrepreneurship Introduction

Standar


Sandiaga Uno
 mengatakan, “Suatu negara dengan kekayaan sumber daya alamnya, bila tidak mampu dimanfaatkan untuk mendorong menjadi alat pertumbuhan ekonomi, maka akan berubah menjadi kutukan sumber daya alam (the resource curse)”. 

Negara-negara maju bukan karena mengandalkan sumber daya alamnya, melainkan pada faktor entrepreneurship yang dicirikan pada karakter penduduknya yang semangat, kerja keras, kreativitas, dan pantang menyerah. Indonesia perlu mereorientasi pembangunannya ke arah itu. 

Maka benar dan sepakat dengan Bang Sandi … Bahwa arah baru ekonomi Indonesia mendatang adalah entrepreneur. Mewujudkan sebanyak-banyaknya pelaku usaha atau entrepreneur. Kelompok inilah yang akan menjadi lokomotif, penarik gerbong pertumbuhan ekonomi nasional kini dan dimasa mendatang.

Indonesia memiliki tantangan membangkitkan minat kaum muda menjadi entrepreneur yang masih relatif rendah. Salah satu sebabnya karena sistem pendidikan yang kurang mendukung iklim usaha. Sangat disayangkan bukan ? Generasi muda yang terjun ke dunia entrepreneur rupanya masih mengidap sindrom mental ingin cepat kaya dan rendah inovasi.

Negara butuh entrepreneur bukan calo.

Negara miskin sumber daya alam, namun maju ekonominya. Mengapa ? Ya … Sebab mereka sadar dan berusaha mengelolanya dengan baik dan benar. Indonesia dikaruniai oleh Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa potensi alam yang melimpah ruah. Namun … Bukan jaminan, negara dan bangsa ini bisa maju. Jikalau warganegara tidak mampu mengolahnya. 

Siapa yang bisa mengolah kekayaan alam itu ? Dialah seorang entrepreneur. Profesi ini terletak pada kemampuannya memberikan nilai tambah pada produk. 

Entrepreneur adalah yang mampu menciptakan nilai tambah (add value) di pasar melalui pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda sehingga dapat bersaing. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, untuk mendapatkan keuntungan eksponensial.

Lalu … Apa bedanya dengan calo ? Pengusaha bermental calo hanya berkepentingan menjual semua sumber daya alam, tanpa memikirkan sejauhmana memiliki dampak kelanjutan -yang penting untung dan bisa balik modal cepat. 

Mental calo merusak ekonomi. Cukup! Indonesia telah cukup melahirkan pengusaha bermental calo yang giat menjual kekayaan sumber daya alam ke negara-negara lain di dunia dalam bentuk raw material. 

Negara harus lebih banyak lagi menciptakan, mendorong, sekaligus juga memfasilitasi para pelaku usaha yang memiliki tanggungjawab untuk menjual sekaligus juga mengolahnya. Sehingga memiliki nilai tambah bagi peningkatan kekayaan negara pada satu sisi dan kesejahteraan sosial masyarakat di lingkungannya.

Wabah pandemi Covid-19, resesi eknomi dunia, dan masalah penurunan kualitas lingkungan (seperti pemanasan global) membuat dunia juga ekonomi berada dalam ketidakpastian. 

Apa yang diharapkan dengan ketidakpastian ekonomi ini ? YES (Young Entrepreneur Summit) yang digagas oleh Kamrussamad dalam buku -The Entrepreneur Virus menyampaikan hasil penelitian bahwa entrepreneur adalah profesi yang mampu berdamai dengan ketidakpastian.

Lima alasan berikut :

1. Entrepreneur terbiasa dengan ketidakpastian, karena tidak melihat adanya pilihan alternatif selain mengembangkan bisnisnya.

2. Entrepreneur mampu mengatasi ketidakpastian karena yakin dengan mimpi dan cita-citanya.

3. Entrepreneur merayakan ketidakpastian karena memang antusias menerimanya.

4. Entrepreneur menghadapi ketidakpastian lebih pragmatis dan fleksibel. Mereka juga yakin dan terobsesi mengatasi semua yang dimimpikan dan lebih realistis.

5. Entrepreneur menggunakan jaringannya untuk mengatasi ketidakpastian. Tidak tumbuh sendirian, tapi berjejaring dengan rekan, keluarga, dan kolega bisnis.

Dengan lima hal di atas, maka entrepreneur adalah jawaban terhadap situasi ekonomi nasional dan global yang berlaku dengan penuh ketidakpastian. Profesi inilah yang akan mampu menjawab ketidakpastian global dengan kepastian pertumbuhan ekonomi yang mandiri.

Saya mengajar di kelas Manajemen Bisnis … Mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Bisnis dan Entrepreneurship akan saya berikan tujuh pertanyaan ini :

1. Apa keterampilan anda ?

2. Apa passion anda ?

3. Dimana keahlian anda ?

4. Berapa modal yang anda butuhkan ?

5. Berapa duit yang bisa anda keluarkan, ketika bisnis anda gagal ?

6. Gaya hidup seperti apa yang anda ingin jalani ?

7. Apakah anda siap jadi entrepreneur ?

Jawabannya beragam. Biasa mereka akan senyum-senyum kecut saat membahas modal. Atau ketika berdiskusi tentang bisnis itu bisa sukses juga bisa gagal. Biasanya tidak siap dengan kegagalan. Tentu menjadi pengusaha sukses tak semudah membalik telapak tangan. 

Gagasan YES adalah inisiatif mendorong lahirnya entrepreneur dari kalangan generasi muda. Fokus gerakannya terdiri dari : sharing pengetahuan, memberikan dorongan (supporting), membangun jaringan (networking), mentoring bisnis, temu bisnis, dan mempertemukan calon investor / pemodal.

Kampus tempat saya mengajar adalah Universitas CIC Cirebon. Berada di sebuah kota ujung timur provinsi Jawa Barat, menjadikan Cirebon sebagai jalur perlintasan perdagangan utama di pulau Jawa. Pun era masa lalu pelabuhan Cirebon terkenal sebagai pelabuhan yang sibuk dengan perdagangan antar negara. Tak heran bila kota Cirebon menyebutkan dirinya sebagai kota perdagangan dan jasa.

Rektor Universitas CIC Cirebon bersama mahasiswa dan civitas akademika Oktober 2019
Rektor Universitas CIC didampingi kaprodi Manajemen Bisnis dan dosen senior entrepreneurship

Rektor Universitas CIC Cirebon, Chandra Lukita diberbagai kesempatan sering mengungkapkan gagasan tentang pentingnya mahasiswa dibekali dengan wawasan, keterampilan, dan keahlian entrepreneurship. Juga memberikan motivasi agar generasi muda memiliki cita-cita menjadi pengusaha. 

Perguruan tinggi juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah entrepreneurship dari pengantar sampai lanjutan. Jejaring bisnis juga diupayakan dengan menempatkan mahasiswa untuk magang di dunia bisnis. Tak kalah penting adalah bekal kemampuan teknologi informasi. 

Kaprodi Manajemen Bisnis Amroni dan dosen senior entrepreneurship Sudadi Pranata memberikan arahan kepada mahasiswa agar terus berusaha menggapai cita-cita sebagai pengusaha. 

Dari kuisioner yang saya berikan kepada mahasiswa hampir 75% mahasiswa yang mengambil jurusan manajemen bisnis bercita-cita menjadi pengusaha. Alhamdulillah … Semoga cita-cita mereka dapat terwujud dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi kota Cirebon juga Indonesia.

Pelabuhan Cirebon berlatar indahnya gunung Ciremai

Cirebon is a port city on the north coast of the Indonesian island of Java. It is located in the province of West Java near the provincial border with Central Java, approximately 297 km east of Jakarta, at. The administrative area of Cirebon is very small in extent, however, its dense suburbs sprawl into the surrounding regency; the official metropolitan area encompasses this regency as well as the city, and covers an area of 1,021.88 km2, with a 2010 Census population of 2,366,340.The seat of a former Sultanate, the city’s West and Central Java border location have seen its history influenced by both Sundanese and Javanese culture as well as Arab and Chinese.HistoryThe sultanate court lies near the modern day city of Cirebon on West Java’s north coast. Throughout the 16th and 17th centuries, the sultanate thrived and became the region’s centre of trade and commerce, as well as served as an Islamic learning and dissemination centre. The sultanate split into four royal houses, starting in 1677. Today there are four kratons (palaces) in Cirebon; Keraton Kasepuhan, Kraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, and Keraton Keprabonan, each has their own lineage and all are the descendants and remnants of the Cirebon Sultanate.