Monthly Archives: Januari 2021

Tren Busana Muslimah Tahun 2021

Standar

Berangkat dari pengharapan akan masa yang lebih baik, wabah pandemi Covid-19 bisa berakhir, dunia lebih damai dan sehat. Serta manusia senantiasa bahagia menjalani kehidupannya.

Gamis biru dengan jilbab berbunga ungu

Bunga mewakili kebahagiaan. Warna-warni cerah beragam rupa bentuk dari bunga mencerminkan harapan. Harum semerbak mewangi serupa damai dan sehat bagi jasmani dan rohani. Ya … Tren busana berbunga-bunga layak dipilih untuk tahun 2021 yang baru saja kita awali.

Mari disimak foto-foto busana muslimah tren 2021 : (catatan … bila menemukan wajah modelnya sama / mirip dengan penulis atau anak gadisnya itu hanya kebetulan belaka he3 …). 

Lanjut ya …

Pertama Tren 2021 Gamis Berbunga

Gamis berbunga biru yang kekinian.

Warna biru lambang perdamaian dan kemantapan. Semua gradasi biru dari navy hingga baby blue akan menghiasi tren 2021. Menjadi lebih keren lagi bila berpadu dengan hitam elegan. Gamis berbunga dengan jilbab warna senada akan menjadi pilihan apik.

Gamis hitam dengan bunga warna-warni.

Hitam elegan bisa dikombinasikan dengan warna bunga apa saja. Warna-warni bunga menandakan hati yang selalu bahagia.

Warna silver atau abu-abu identik dengan keseriusan, kemandirian, dan tanggung jawab. Pilihan warna dan nuansa bunga ungu-putih yang berarti rasa aman tepat sekali. Tahun 2021 seharusnya kita lebih bertanggung jawab dan serius juga mandiri dalam menuntaskan tantangan kehidupan. 

Namun rasa aman juga sejatinya menjadi landasan. Dengan warna kita bisa bicara. Bahwa rasa aman itu hak asasi setiap warga negara yang harus dijamin oleh pemerintahnya. Bukan begitu ?

Siver dan ungu menawan.

Ungu dan silver kembali dikombinasikan dengan menarik. Tampak cantik gamis yang digunakan oleh anakku saat menuanikan ibadah umroh dan beribadah di masjid Nabawi Madinah. Oya … Warna lilac juga akan menjadi tren 2021.

Bunga ungu, lilac, lavender yang manis.

Lilac adalah ungu pastel dengan sedikit hint warna pink. Nuansa ungu lainnya adala lavender, plum, orchid, amethyst, iris dan violet. He3 … Bagi yang tak begitu sensitif visual sepertinya tidak mudah membedakan gradasi warna tersebut.

Kedua Tren 2021 Jilbab Berbunga

Warna merah melambangkan tubuh / jasmani manusia. Sedang putih melambangkan rohani / jiwa. Selain itu merah juga berarti berani. Berarti juga energi untuk menghadapi beragam tantangan di masa kini dan berjuang menjadi pemenangnya. Semangat untuk terbebas dari segala bahaya dan kesulitan. Tren 2021 akan menjadikan bunga merah dan putih sebagai lambang perjuangan bersama.

Jilbab berbunga merah putih.

Ayolah … Tunjukan kasih sayang dan empati kepada sesama, siapapun itu. Jangan karena berbeda lalu terjadilah saling menghina. Membangun dan memajukan bangsa dan negara ini harus bergandeng tangan.  Tidak saling menyakiti dan mendzalimi sesama. Tidak pula arogan atau semena-mena hanya karena sedang berkuasa. 

Jilbab berbunga pink.

Tak boleh ada yang terpinggirkan atau bahkan dianggap musuh. Mengkritik dengan apik adalah cara saling mengingatkan. Jangan alergi dengan kritik loh! Semakin dewasa dan bijak justru bila mendapat kritik harusnya bersyukur, artinya ada balance -penyeimbang. Yuk! Kembali menjadi bangsa yang terkenal dengan keramahtamahannya, sopan dan santun baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Ketiga Tren 2021 Masker dan Cadar

Melengkapi busana muslimah tren 2021, masker akan tetap harus selalu dipakai saat keluar rumah. Masker dengan warna senada jilbab akan digunakan agar tampak serasi.

Masker harus dikenakan saat di luar ruangan. Lokasi Villa Poeti Bogor.
Cadar untuk kegiatan outdoor bersama keluarga di Tahura Dago Bandung.

Cadar juga akan menjadi pelengkap yang digunakan oleh banyak muslimah pada tren 2021. Beragam alasan pemakaian cadar dan itu sah-sah saja. Aku sendiri memilih menggunakan masker dan cadar sesekali, ketika harus keluar rumah saat wabah pandemi Covid-19 ini masih terus menapak naik angkanya. 

Riset SDM : Pentingnya Dukungan Sosial Bagi Pekerja

Standar

Ganster (1986) menyatakan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial membutuhkan dukungan orang lain, termasuk keluarga. Demikian juga, kita sebagai karyawan yang bekerja di berbagai perusahaan tentu sangat membutuhkan dukungan sosial dari pasangan, keluarga, teman, rekan kerja, dan tentu saja atasan kita.

Pengembangan karir berkaitan dengan dukungan sosial.

Dukungan sosial menunjukkan hubungan untuk membantu memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan.

Patut direnungkan bahwa SDM adalah satu-satunya aset perusahaan yang bernafas atau hidup, di samping aset-aset lain yang tak bernafas (seperti : gedung, modal kerja, mesin, dsb). Keunikan SDM ini mensyaratkan pengelolaan yang berbeda, sebab aset ini memiliki pikiran, perasaan, dan perilaku, sehingga jika dikelola dengan baik mampu memberi sumbangan bagi kemajuan perusahaan secara aktif.

Dukungan itu bisa bersifat langsung maupun tidak langsung.Ternyata dari berbagai penelitian dihasilkan kesimpulan bahwa dukungan sosial memiliki pengaruh cukup besar dalam mendukung aspek psikologi karyawan, sehingga karyawan mampu bekerja dengan tenang, dapat berkonsentrasi mengerjakan pekerjaan, menjadi loyal, termotivasi bekerja dan sebagainya.

Cobalah cek apakah kita telah mendapat dukungan sosial yang baik dari suami / istri, rekan kerja, bahkan atasan ?

Silahkan jawab beberapa pertanyaan berikut ini (pertanyaan di modifikasi dari buku Riset SDM karya Istijanto, MM, MCom).

1. Apakah suami / istri  ingin mendengarkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pekerjaan saya ?

2. Apakah suami / istri saya menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap pekerjaan saya ?

3. Apakah suami / istri saya dapat diandalkan jika suatu tugas berat terjadi pada pekerjaan saya ?

4. Apakah atasan langsung saya peduli dengan kondisi perkembangan karir saya ?

5. Apakah saya sangat ramah dalam bergaul dengan satu atau lebih rekan kerja saya ?

6. Apakah saya secara rutin menjalankan suatu bentuk kegiatan dengan rekan sekerja saya di luar jam kerja, seperti olahraga bersama ?

7. Apakah saya mendapat masukan dari atasan mengenai seberapa baik saya bekerja ?

8. Apakah saya memiliki cukup kesempatan dalam pekerjaan saya untuk mengetahui bagaimana kemajuan saya selama bekerja ?

9. Apakah saya mendapat kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain ?

10. Apakah atasan langsung membantu saya menjalankan pekerjaan sehingga menjadi lebih menyenangkan ?

Bila jawaban anda lebih banyak ya, maka dukungan sosial telah anda dapatkan. Namun, bila lebih banyak jawaban tidak, maka cek kembali apa gerangan yang menyebabkan dukungan sosial itu tidak anda dapatkan ?

Pustaka :

Ganster, DC, Fusilier, MR, dan Mayes, BT, 1986, Role of Social Support in the Experience of Stress at Work, Journal of Applied Psychology, vol. 71, hlm 102-110.

http://nuranisadl.blogspot.com/2015/04/kesmen-tugas-2-hubungan-antara.html

Ditulis oleh : Dewi Laily Purnamasari, ST.MM, dosen Universitas CIC Cirebon

Riset SDM : Konflik Peran Dan Wewenang

Standar

Sebagai karyawan yang bekerja di perusahaan apakah anda pernah atau sedang mengalami konflik peran ?Jika anda merasa mengalami perlakuan tidak konsisten sebagai akibat penerimaan tugas yang bertentangan dari berbagai pihak, sebagai efek dari ketidak kompakan perintah.

Sebagai contoh anda adalah karyawan bagian akuntansi yang kemudian ditugaskan manajer produksi untuk juga mengawasi kualitas produk yang dihasilkan perusahaan. Begitupun bila anda adalah karyawan yang tidak memiliki wewenang yang seharusnya, sehingga anda mengalami kesulitan menjalankan pekerjaan. Bila konflik peran terjadi, anda bisa menjadi frustasi.

Untuk mengetahui hal tersebut, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini!

1.Apakah saya selalu melanggar aturan atau perusahaan demi menjalankan tugas ?

2.Apakah saya dituntut menyelesaikan tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan secara berbeda ?

3.Apakah saya menerima tugas tanpa dukungan pekerjaan dan bantuan untuk menyelesaikannya ?

4.Apakah sayamenerima penugasan yang berbeda-beda dari dua karyawan senior atau lebih ?

5.Apakah saya menerima tugas tanpa sumber daya dan material (misalnya waktu penyelesaian, ruang kerja, atau atk / computer, printer, dll) yang cukup untuk menjalankannya ?

6.Apakah saya tidak dapat memilih sendiri cara atau prosedur menjalankan pekerjaan saya ?

7.Apakah saya tidak mampu mengendalikan sendiri jadwal kerja saya ?

8.Apakah saya tidak memungkinkan mengubah cara-cara kerja yang biasa, sehingga saya dapat memprioritaskan aspek pekerjaan tertentu dan mengesampingkan yang lain ?

9.Apakah saya tidak dapat mengubah apa yang menjadi sasaran pekerjaan saya ?

10.Apakah saya tidak memiliki sejumlah kebebasan dalam menentukan apa yang menjadi sasaran pekerjaan saya ?

Bila anda memberikan jawaban ya lebih banyak, maka anda sedang merasa mengalami konflik peran dan wewenang pekerjaan.

Cobalah renungkan dan cek kembali apa kira-kira yang menjadi penyebab hal tersebut anda rasakan ? Sedangkan, bila anda menjawab lebih banyak tidak, maka anda dalam kondisi yang baik dan dapat menjalan peran / wewenang pekerjaan dengan baik pula.

Ada lima masalah kebiasaan / behaviors dari karyawan yang dapat menghambat kerjasama tim, yaitu :

  1. Poor Job Performance. An employee whose work falls below expectations, causing others to constantly have to pick up the slack, can be a tremendous drain on teams—especially when it’s habitual.
  2. Can’t Work Well with Others. Employees who struggle to create positive relationships with their colleagues, clients, or customers can be a liability.
  3. Doesn’t Respond to Coaching. Employees who aren’t responsive to coaching or feedback fail to make necessary changes despite repeated, explicit attempts to work with them.
  4. Resistant to Change. Leaders report issues with employees who resist change, or who may even refuse a change altogether.
  5. Not Responsible for Own Actions. An unwillingness to take responsibility for their actions—and instead blame others—also ranked highly as a common negative attribute, regardless of the exact form the behavior took.

Ditulis oleh : Dewi Laily Purnamasari, ST.MM, dosen Universitas CIC Cirebon

Quality Leader

Standar
Pemimpin berkualitas membawa organisasinya pada tujuan dan menjadi juara. (sumber : https://www.zoho.com/blog/cliq/10-signs-youre-doing-leadership-right.html)

Tidaklah pantas bila kita menjadi pemimpin asal-asalan, apalagi jadi-jadian (sekedar asal jadi, cuma karena punya banyak pendukung). Menjadi pemimpin (keluarga, masyarakat, bahkan negara) sudah seharusnya memiliki apa yang disebut ‘Megaskills of Leadershif’ yang dikemukakan oleh Burt Nanus (baca buku The Leader’s Edge karya Burt Nanus).

Buku karya Burt Nanus.

The 7 Keys to Effective Leadership

  • – Put people first . People are the most important asset of any organization. …
  • – Encourage risk taking and innovation . …
  • – Embrace change. …
  • – Emphasize honesty and integrity. …
  • – Establish open communications. …
  • – Foster a learning environment. …
  • – Be a team builder.

The 7 keys to effective leadership 

–   Put people first . People are the most important asset of any organization. The U.S. military’s motto is “Mission first, People always.” This is an explicit recognition that without people, nothing is accomplished. 

–   Encourage risk taking and innovation  .   Organizations that stick to the ‘tried and true’ often stagnate. Progress comes only through moving into uncharted territory and trying new things.   Identify and reward the risk takers and innovators in your organization. 

–   Embrace change.   Change is a constant in life; in fact, the only constant. To be an effective leader, you should not only embrace change, you should promote it. 

–   Emphasize honesty and integrity.   The most technically competent people who lack honesty and integrity are little more than charlatans. If an organization is to prosper and endure, it must exude trust, and the integrity of an organization is a function of the honesty and integrity of every member of that organization. 

–   Establish open communications.   Knowledge is the key to power and success. As a leader, it is essential that you have access to the knowledge of those around you. An atmosphere of open, candid communication provides you the knowledge to make effective decisions. 

–   Foster a learning environment.   Each decade, science and technology increases exponentially. Learning should be a life-long pursuit. In addition to continually learning yourself, as a leader, you should encourage your subordinates to constantly upgrade their own skills and knowledge. 

–   Be a team builder.   No man is an island. Except for certain works of art, nothing is created without the effort of a number of individuals working together. Leverage the diversity and different talents within your organization through the creation of teams. 

(sumber : https://www.tremr.com/charles-ray/the-7-keys-to-effective-leadership)

Siapapun dia (baik perempuan maupun laki-laki) yang menjadi pemimpin haruslah memiliki sifat dasar kepemimpinan (baca buku On Becomming a Leader karya Warren Bennis). Peran perempuan sebagai pemimpin seringkali terhalangi oleh persepsi, pemahaman, dan konstruksi sosial-budaya-ekonomi-agama-politik yang ada ditengah masyarakat.

Perbedaan jenis kelamin bukan alasan untuk meminggirkan, memarjinalkan, mendominasi bahkan menzalimi pihak lain. Jadi … atas nama apapun tidaklah adil jika perolehan hasil usaha seseorang atau prestasi kepemimpinan diukur, dinilai, bahkan dibatasi hanya karena ada perbedaan jenis kelamin.

Ada tujuh keterampilan yang harus dimiliki pemimpin menurut Burt Nanus :

Pemimpin harus berpandangan jauh ke depan; menguasai perubahan; disain organisasi; pempelajaran antisipatoris; inisiatif; penguasaan interdependensi; standar integritas yang tinggi.

1. Berpandangan jauh ke depan adalah mata pemimpin terus memandang horizon yang jauh, meskipun kaki kita sedang melangkah ke arahnya;

2. Menguasai perubahan adalah pemimpin mengatur kecepatan, arah, dan irama perubahan dalam organisasi sehingga pertumbuhan dan evolusinya seiring dengan perubahan yang terjadi di lingkungan (lokal, nasional, maupun global).

3. Disain organisasi adalah pemimpin sebagai pembangun organisasi yang mempunyai wewenang dan mampu memujudkan visi organisasi yang diinginkan.

4. Pembelajar antisipatoris adalah pemimpin pembelajar seumur hidup yang berkomitmen untuk mempromosikan pembelajaran di dalam organisasi.

5. Inisiatif adalah pemimpin mendemonstrasikan kemampuan untuk membuat berbagai hal menjadi kenyataan.

6. Penguasaan interdependensi adalah pemimpin menginspirasi seluruh anggota organisasi untuk saling berbagi gagasan dan kepercayaan untuk berkomunikasi dengan baik dan rutin, serta mencari pemecahan masalah secara kolaboratif.

7. Standar integritas yang tinggi adalah pemimpin bersikap fair, jujur, toleran, terpercaya, peduli, terbuka, loyal.

Adapun enam sifat yang harus dimiliki pemimpin menurut Warren Bennis : (visioner; berkemauan kuat; integritas; amanah; rasa ingin tahu; berani).

1. Visioner adalah pemimpin mempunyai ide yang jelas tentang apa yang organisasi inginkan -baik masing-masing pribadi maupun bersama- dan memiliki kekuatan untuk bertahan ketika mengalami kemunduran atau kegagalan.

2. Berkemauan kuat adalah pemimpin mencintai apa yang dikerjakan dan kesungguhan yang luar biasa dalam menjalani hidup, dikombinasikan dengan kesungguhan dalam bekerja menjalani profesinya.

3. Integritas adalah pemimpin tahu kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, namun tetap teguh memegang prinsip dan belajar dari pengalaman bagaimana belajar dari dan bekerjasama dengan sesama anggota organisasi.

4. Amanah adalah pemimpin memperoleh kepercayaan dari anggota organisasi. 5. Rasa ingin tahu adalah pemimpin ingin selalu belajar sebanyak mungkin agar tahu segala hal yang berguna bagi organisasi.

6. Berani adalah pemimpin berani mengambil resiko, bereksperimen, dan mencoba hal-hal baru.

(diadaptasi dari buku Muhammad SAW The Super Leader – Super Manager karya Nio Gwan Chung)

Memang tidak mudah!

Namun percayalah … semua itu akan kita peroleh sekali lagi dengan keberanian mengaktualisasikan pengetahuan yang telah kita miliki. Jadilah pemimpin bukan hanya sekedar menjadi bos. Semangat!

Perbedaan bos dan pemimpin.

Ditulis oleh : Dewi Laily Purnamasari, ST.MM, dosen Universitas CIC Cirebon

Bahagia Belajar Lebih Penting Dari Merdeka Belajar

Standar
Belajar dari rumah / PJJ, orangtua pun turut serta menjadi guru buat anaknya.

Biasanya kan liburan bisa berkunjung keberbagai destinasi wisata. Jadi ya kami sering-sering saja buka channel destinasi wisata yang keren-keren lewat online. Oya … Liburan ini juga Teteh puas-puasin main koleksi Legonya. Ha3 … Ini memang liburan super spesial karena harus banyak di rumah saja. 

Yuk! Simak persiapan menuju hari pertama pesantren dari rumah di semester genap tahun ajaran 2020/2021 ala Teteh Maryam Aliyya Al Kindi. Oya … Teteh sekolah di SMP Quran Al Ihsan Kebagusan Jakarta.

Mindmap Teteh menjadi penyemangat belajar.

Teteh, Maryam Aliyya Al Kindi membuat mindmap dan jadwal home learning. Diberi warna kemudian ditempel di dinding ruang belajar. Menulis cita-cita dan rute masa depan juga penting diajarkan kepada anak-anak. Nanti tulisannya akan aku buat untuk tema pilih kampus agar sesuai minat dan bakat anak.

Bahagia belajar sebgai pembelajar sejati.

Sejak kemarin Teteh sudah beberes kamar belajarnya. Baju sekolah digantung rapi diberi pewangi biar segar dan semangat. Buku-buku disusun ulang setelah akhir semester ganjil agak berantakan dipakai ujian akhir. Materi semester lalu ditata ulang, dan binder diberi label mata pelajaran untuk semester genap. 

Meja belajar (walaupun lebih sering belajar sambil selonjoran di lantai saat membaca dan menghafal Al Quran) dirapikan. Laptop dan gadget dicek apakah kondisinya masih baik. 

Jadwal pelajaran online Pesantren dari rumah.

Sambil beberes peralatan belajar, agar tetap bahagia, Teteh baking cheess cake yang yuuummmyyy. Juga sempat diajak sepedaan ke TMII (tetap pakai protokol 3M) refresing dan mandi matahari. 

Sejatinya belajar itu semenjak dari buaian hingga ajal menjemput. Kembali belajar bukanlah kata yang tepat bila menerapkan konsep belajar selamanya, belajar dimana saja, belajar kepada siapa saja, belajar dengan cara apa saja, 

Sejatinya belajar itu terus … terus … terus dan terus. Bisa jadi yang dimaksud adalah kembali belajar agar belajar menjadi lebih bahagia. Ya benar! Bahagia belajar itu sangat penting. Lebih utama dari merdeka belajar yang dicanangkan Mas Menteri he3 …

Mengapa bahagia belajar itu penting ? Sungguh patut disadari bahagia itu ada dari dalam diri. Bukan dari luar. Bila para pembelajar sejati sudah merasakan bahagia belajar, akan ada keluhan saat melakukan aktifitas belajar. Semenjak dini, aku mencoba menerapkan bahagia belajar kepada ketiga anakku. Satu bocorannya nih … Seringkali mereka aku ajak tidak masuk sekolah. Tapi tetap belajar. Ha3 … Kok bisa ?!

Orangtua lain akan bilang itu bolos. Gak belajar. Atau mungkin dicap anak malas. Tapi … Aku bilang itu belajar di luar sekolah. Belajar di alam atau belajar di lingkungan sosial. Istilah kerenku mobileschooling. 

Belajar langsung tentang fosil, bebatuan, dan ilmu kebumian di Museum Geologi Bandung.

Apa materi ajarnya ? Waaaahhhh … Banyak sekali. Melimpah ruah. Sebagai contoh saat di sekolah sulit mengajarkan apa itu transaksi ekonomi di pasar, maka anakku mendapatkan ilmunya benar-benar di pasar tradisional dekat rumah. 

Mereka belanja, membayar, bahkan menawar dan memilih barang. Mereka juga melihat produk pertanian, produksi pabrikan, dan jasa seperti kuli angkut atau bahkan ada pengamen. Di sekolah teori tapi praktek ada di lapangan.

Belajar ilmu kelautan dan budaya bahari di pantai Baron Yogyakarta.

Aku beberapa kali mengajak anak-anak rapat Partai (dulu aku sempat jadi Sekretaris DPD PAN Kota Cirebon). Iiihhh … Aya-aya wae cenah kata beberapa temanku. Ini pembelajaran politik praktis. 

Anak-anak gak alergi dengan diskusi, debat, bahkan yang rada panas sekalipun. Begitulah cara musyawarah mufakat dalam hikmah kebijaksanaan. Sila ke empat dalam Pancasila, bila hanya dihafal -dirapalkan mana bisa menjadi semangat berkehidupan kebangsaan. Anakku juga ikut aku ke kampus, saat aku mengajar. 

Belajar arsitektur, bangunan bersejarah, dan budaya Indonesia di Candi Borobudur.

Mahasiswaku beragam etnis dan latar agama. Mereka jadi tahu bahwa berkehidupan sosial harus saling menghargai. Begitu juga bertetangga dengan beragam suku dan agama berjalan harmonis. 

Walau keluarga kami tak pernah mengucapkan selamat hari raya mereka, tapi sejauh ini kehidupan bertetangga kami baik-baik saja. Saling tolong menolong dalam menjaga keamanan dan kebersihan juga ketertiban lingkungan. Itulah belajar toleransi yang sesungguhnya.

Belajar tata ruang kota, transportasi publik, dan transaksi berbasis digital bisa dilakukan dengan berkeliling Kota Jakarta menggunakan Transjakarta, MRT, juga KRL.

Bahagia belajar juga harus dicontohkan. Orangtualah teladan utamanya. Jangan hanya cakap di mulut saja. Tapi lakukan! Seperti gemar atau cinta membaca. 

Belajar di Perpustakaan Nasional. Cinta membaca membuka jendela dunia.

Ya … Orangtua harus terlebih dahulu cinta membaca. Berikan anak-anak buku-buku bacaaan yang bagus. Investasikan dana khusus untuk membeli buku. Lalu pajang buku-buku agar mudah dijangkau anak. Nah … Anak-anak akan tertarik untuk belajar mandiri -independent learner. Di negara seperti Singapura juga Finlandia. 

Ada hari-hari dimana anak-anak harus belajar dari rumah. Mereka dipacu dan dipicu untuk menjadi pembelajar sejati. Belajar mandiri dengan bahagia belajar tentunya.

Begitupun yang anak-anakku alami saat masuk boarding school atau pesantren. Aku pilihkan sekolah berasrama yang banyak menerapkan pembelajaran mandiri. 

Belajar pertanian, peternakan, dan sumber pangan lainnya, langsung terjun ke sawah. Melihat langsung tanaman padi dan cara menanamnya.

Dengan belajar di luar ruang, praktikum, kemping, study tour atau kunjungan ilmiah sesuai tema belajar. Anak-anak diberi fasilitas untuk mengembangkan kepemimpinannya dengan beragam kegiatan olahraga dan organisasi. 

Belajar sumber daya alam Indonesia seperti teh, kopi, dan rempah-rempah di perkebunan Teh Sidamanik Pematang Siantar Sumatera Utara.

Bahkan mereka dilatih menjadi volunter kegiatan sosial di daerah minus, seperti pemukinan pemulung dan desa terpencil.

Belajar memelihara hewan kesayangan juga dapat melatih empati dan rasa bertanggung jawab memeliharanya.

Oke saat ini situasinya beda kan ? Belajar dari rumah atau PJJ bisa juga disebut belajar daring. Menurut pendapatku tetap saja utamakan bahagia belajar.