Monthly Archives: Februari 2021

Kerusakan Alam di Hutan Kalimantan Sebabkan Banjir Besar Tahun 2021

Standar

‘Senja itu di Pitch 10, pohon pohon besar di hutan yang rapat nampak seperti hamparan karpet hijau. Hutan primer hanya tersisa sekitar 1000-1500-an meter dari kaki tebing, sisanya telah beralih menjadi perkebunan sawit, membentang sejauh penglihatan. Di kejauhan, semburat matahari sore nampak kemerahan di batas-batas punggungan’. 

Kalimat itu ditulis oleh Angga seorang pemanjat tebing yang telah selesai melakukan pembukaan jalur di Tebing Batu Daya pedalaman Kalimantan Barat.

Banjir melanda Kalimantan Selatan tahun 2021.

Sungguh, kalau Pemerintah Pusat dan Daerah mau jujur. Sebab kerusakan alam itulah pangkal terjadinya musibah banjir di Kalimantan Selatan dan daerah lainnya. Hutan primer tropis beralih fungsi menjadi hutan produksi secara tak terkendali. Deforestasi yang sangat tinggi.

Kalau hanya untuk menyalahkan hujan turun. Jika air yang tak ada tempat kembali juga disalahkan, maka untuk apa bersusah payah datang ke lokasi banjir? Hujan turun sudah Sunnatulllah. Air sejatinya harus punya jalan pulang. Bila tak ada jalan pulang karena digeser, digusur, dialihfungsikan, bahkan dirampok tentu air akan mengamuk. Marahnya air karena rumahnya tak lagi tersedia. Air menerjang apa saja yang menghalanginya kembali.

Hutan gundul. Penebangan liar dibiarkan saja tanpa kendali. Hukum tak ditegakkan.

Tengok jutaan hektar tambang batubara menyisakan rusaknya daerah resapan. Pandang hutan yang tak lagi lebat, akibat pepohonan tumbang ditebang tak tergantikan. Jenguk kebun-kebun sawit merambah tanah-tanah gembur tak lagi menahan aliran air. Sibak banyak tempat tak lagi ada akar-akar pohon yang bisa menyerap air. 

Google earth menampakkan pulau Kalimantan yang tak lagi hijau.

Kerusakan hutan di Kalimantan menjadi salah satu masalah yang mencuri perhatian di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini. Hutan di Kalimantan adalah paru-paru Indonesia yang amat penting keberadaannya. Di sana menjadi tempat hidup ribuan marga dan satwa. Namun kini hutan Kalimantan nampak rusak akibat kebakaran hutan, industri penebangan kayu, dan industri perkebunan.

Kini mata nanar berurai air mata karena dilanda musibah banjir yang kau katakan terburuk sejak 50 tahun lampau. Luapan air di sungai Barito hanya fenomena permukaan. Coba telaah intinya … Kaji sebab musababnya!

Aku turut prihatin dan berduka atas musibah menimpa saudara-saudara di Kalimantan Selatan. Oya … Pa Kaekaha seorang Kompasianer sudah menuliskannya dengan lengkap di kompasiana.com. Para aktivitis lingkungan sudah bersuara. Semoga korban bisa memperoleh bantuan yang telah dijanjikan Pemerintah Daerah maupun Pusat.┬áMereka juga diberikan kesehatan, kesabaran, dan semangat untuk kembali pulih setelah bencana ini berlalu. Semoga alam kembali diperhatikan dan berhentilah merusaknya. Karena bila rusak, kita juga yang akan merugi.

sumber : https://googleberita.com/fakta-kerusakan-hutan-kalimantan/