Monthly Archives: April 2021

Warisan Ibu

Standar

Ditulis oleh : Abu Bakar Akbar, anak pertama dari Ibu Sirriyah dan Bapak Roosdi Ahmah Suhada

Di suatu pagi tahun 2010, Ibunda meninggal dunia di usia 79 tahun.

Sehari sebelumnya  sempat  berobat karena badan terasa panas. Ikhtiar untuk sembuh dilakukan tetapi pagi itu Ibu mengalami stroke. Dengan ambulan rumah sakit yang menjemput ke rumah, Ibu dibawa ke rumah sakit. Keadaan ibu terus menurun dan akhirnya jelang subuh Ibu pergi untuk selama lamanya.

Setahun sebelumnya, Ibu juga di rawat di rumah sakit, dengan pertolongan Alloh, Ibu sembuh bahkan menjadi tuan rumah Halal bi Halal Bani Tafsir Anom dirumah Eyang Condro. Acara itu sungguh istimewa karena terabadikan sampai kini siapa yang hadir. Juga menjadi tonggak karena rumah  Eyang bisa dilestarikan sebagai aset dan amal jariyah.

Penulis berdiri paling kanan, bersama Ibu, Bapak. Ketiga adik penulis, berurutan ke arah kiri Umar Nur Rahman, Rachmad Aziz Muchorm, dan Amir Al Amin.

Rumah di Jalan Dewi Sartika no. 8 merupakan kediaman Eyang Condrodiprojo Kakung dan Putri dengan  Ibuku waktu kecil bersama kakak dan adiknya. Setelah berkeluarga Ibu menempati rumah yang tidak jauh dari rumah Eyang di ruas jalan yang sama di Jalan Dewi Sartika no. 2 Surakarta. Rumah yang sampai kini kami tempati bersama seorang istri dan tiga orang anak.

Ada hikmah dari kedua rumah itu. Ibu mewakafkan 1/3 dari luas tanah di rumah no. 8 untuk kegiatan keagamaan dan bahkan Ibu telah merintis pendirian Yayasan Marhamah. Sedangkan di rumah no. 2, disamping untuk tepat tingga[ dan tempat praktek juga sebagai tempat pengajian. Pengajian rutin bulanan tiap hari Kamis yang di hadiri sekitar 80 ibu-ibu dari wilayah Danukusuman. Diselenggarakan juga pengajian dua mingguan di hari Sabtu, jamaah yang datang dari berbagai pelosok kota Solo. Hingga kini, rumah no. 2 menjadi tempat yang masih sering disebut dikalangan komunitas ibu-ibu,  walau Ibu telah wafat.

Ibu, Bapak, tiga orang adikku, Pak Sukarjo dan istri di halaman rumah no. 8, Jl. Dewi Sartika Solo.

Karunia Alloh atas kedua rumah di Jalan Dewi Sartika no. 8 dan no.  2, di mana Ibu berpesan untuk menjadikan rumah itu sebagai sarana ibadah di samping tempat tinggal dan rumah tempat mudik. Sekarang ke dua rumah itu telah dibagi kepada ahli waris setelah Ibu wafat.

Ibu dikaruniai 4 (empat) orang putra. Kami berempat sepakat untuk mengabadikan warisan ibu dengan mempertahankan tanah dan bangunan serta menambah fungsi bangunan. Rumah no 2 ,tempat kediaman Ibu yang selama ini difungsikan sebagai tempat tinggal dan tempat praktek, menjadi tempat tinggal. Sedangkan rumah no. 8 difungsikan sebagai penginapan dan kegiatan Pengajian.

Adik-adik bersama istri di depan teras rumah no. 8, sekarang menjadi penginapan bernama Musafir Guest House.

Seiring waktu, kami merenovasi aset Yayasan menjadi dua lokal kelas untuk fasilitas pengajian dan santunan yatim. Kami terus berusaha melanjutkan kegiatan  Pengajian Bulanan Al Husna, Pengajian Tafsir Al Quran Yayasan Marhamah setiap Sabtu pagi jam 05.30-06.30, serta Santunan anak yatim setiap Ahad pagi. Demikian sedikit kisah dakwah semoga menjadi hikmah. 

Yayasan Marhamah warisan Ibu berada di rumah no. 8 terdiri dari 2 kelas untuk kegiatan pengajian.
Anak yatim yang menjadi bagian Yayasan Marhamah.

Disamping warisan aset dan amal ada warisan lain yang tidak kalah penting yakni semangat bersilaturahmi.

Ibu Sirriyah Roosdi dan Ibu Sri Bachit.
Berkah silaturahmi, Pak Abdul Nur Adnan, Pak Abdul Basith Adnan, dan Mas Masykur bin Abdul Hayyi Adnan bersama Ibu, Bapak, dan adik penulis di teras rumah no. 2 Solo.
Para cucu bersama Eyangnya di halaman rumah no. 2 saat mudik lebaran tahun 2002.
Saya dan istri menerima kunjungan keluarga Mba Irawati, Mba Salmah, Mas Lukman, dan Mas Natsir putra-putri dari Ibu Sri Bachit di rumah no. 2 Solo pada tahun 2019.

Sepanjang hayatnya Ibu adakan perteman rutin keluarga BTA di Solo, juga HBH BTA tahunan di Mushola Yasinan Kauman. Dalam berbagai kesempatan Ibu sempatkan berkunjung ke rumah kerabat di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Jogja, Surabaya dan Medan. Semangat itulah yang terwariskan kepada kami, berkunjung untuk mempererat tali silaturahmi.

Halal bi halal Bani Tafsir Anom V (BTA V) pada tahun 1996 di Musola Pengulon Kauman.
Setiap tahun di bulan Syawal diselenggarakan silaturahmi BTA V di Solo.

Semenjak tahun lalu, wabah pandemi Covi-19 telah merubah gaya silaturahmi. Kini silaturahmi tidak hanya dilakukan secara nyata namun bisa dilengkapi dengan maya. Teknologi informasi memungkinkan kerabat yang tersebar di berbagai belahan dunia terhubung baik dengan platform digital seperti Zoom, maupun media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Bani Tafsir Anom yang terdiri dari berbagai generasi pernah terhubung dengan milis BTA, pengalaman pribadi, curahan hati hadir dalam kebersamaan. Melengkapi kebersamaan itu hadir Facebook BTA, tempat kerabat bernostalgia dengan foto-foto lama maupun foto halal bi halal BTA dari waktu ke waktu. Dan kini acara Zoom BTA semoga menambah kehangatan kerabat. Yang jauh jadi dekat, Yang dekat jadi manfaat.

Baca juga artikel ini :

Menyelami Kehidupan Rasulullah SAW Bersama Keluarga

Standar

Hal menarik ketika berada di Masjid Nabawi adalah menyelami kehidupan Nabi SAW bersama keluarganya. Ternyata rumah Rasulullah SAW sangatlah sederhana dan kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ukuran rumah beliau tak lebih dari 5 x 4 m2 dan halaman belakang 5×3,5 m2. Atapnya dari pelepah kurma, dindingnya dari batu bata tahan api, lantainya tanah.

Kubah hijau di Masjid Nabawi.

Masya Allah … Sunggung luar biasa. Bukan istana pualam atau hiasan emas dan perak yang dinikmati Rasulullah SAW bersama keluarganya. Sanggupkan kita meneladani kehidupannya yang demikian ? Sanggupkan kita tidak mengeluh dan berputus asa ketika menemui kesulitan hidup?

Aku merasakan sentuhan yang sangat mengharukan ketika shalat di Masjid Nabawi. Terbayang bagaimana Rasulullah SAW menjadi imam, para sahabat (Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hamzah sayyid al syuhada, Salman al Farizi, Abbas ibn Abdul Muthalib, Al Hakam ibn Sa’id, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Haritsah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Zaid ibn Tsabit, Abu Lubabah. Begitu juga serasa ada para ummul mu’minin (kecuali Khadijah binti Khuwailid yang telah wafat) Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Zainab binti Huzaimah, Juwairiyah binti Haris, Sofiyah binti Hay bin Akhtab, Hindun binti Abi Umaiyah, Ramlah binti Abu Sufyan, Hafsah binti Umar bin Khatab, Zainab binti Jahsy, Maimunah binti Haris.

Ya … terasa di hati ini suasana syahdu saat putri-putri beliau hadir di sini Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Subhanallah … mereka adalah pejuang sejati, penegak kalimat tauhid, rela berkorban harta, raga, bahkan jiwa. Dua kali aku berada di raudah ‘taman surga’, seperti ucap Nabi SAW : “Antara kamarku dan mimbarku adalah taman (raudah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari no. 1888).

Alhamdulillah aku dapat shalat dua rakaat dengan tenang dan nyaman. Pada kesempatan lain aku berkeliling masjid sampai makam Rasulullah SAW. Kubah hijau menandai rumah Aisyah ra yang kini menjadi makam, di sanalah Muhammad SAW wafat dan dikuburkan. Betapa sederhana dan bersahaja kehidupan beliau, namun betapa tinggi kecintaan beliau kepada umatnya. “Umati … umati … umati …” begitulah pesan terakhir Rasulullah SAW menjelang wafatnya.

Airmata ini tak terasa deras mengalir membasahi pipi. Bila salah mohon dimaafkan Ya Allah … Aku memperoleh kesan mendalam tentang Nabi SAW. Kitab Syama’il an Nubuwwah karya Abu Isa at Tirmizi menggambarkan sosok manusia yang paling baik budi pekertinya. Teladan Rasulullah SAW tercermin dalam kebaikan rohani, kemuliaan jiwa, kesucian hati, keserhanaan tingkah laku, kebersihan, dan kehalusan rasa. Sifatnya lemah lembut tapi kesatria, ramah tetapi serius, dan otaknya cerdas. Alam pikirannya luas sehingga mampu mempengaruhi baik kepada orang pandai maupun orang yang tidak berpengetahuan.

Senyumnya memikat, sabar terhadap bawahan, rela menjenguk orang sakit sekalipun memusuhinya, memenuhi undangan orang miskin sekalipun. Tak segan menjahit sendiri pakaiannya, memerah susu kambing, dan menolong pekerjaan rumah. Muhammad SAW menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak, dan menghormati perempuan. “Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam … salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, shalawattullah ‘alaika …” Shalawat dan salam kepada kekasih Allah SWT menjadi tali penghubung antara umatnya dengan Nabi SAW yang mulia.

Masjid Nabawi adalah saksi sejarah perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Cahaya terang benderang pembuka kegelapan telah Allah SWT tetapkan dari Masjid Nabawi. Bukankah Muhammad SAW tetap ada di Madinah sejak hijrah hingga wafatnya ? Artinya Allah SWT telah mengabulkan do’a beliau, untuk menjadikan Madinah (khususnya Masjid Nabawi) seperti dalam do’a Rasulullah SAW yang terkenal : “Ya Allah … berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan kecintaan kepada Makkah, atau lebih dari itu. Dan bersihkanlah ia serta berkatilah kepada kami dalam makanan dan bekalnya, dan gantilah wabah penyakitnya dengan juhfah.” (Shahih Bukhari no. 1889).

Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, pengalaman spiritual yang luar biasa aku dapatkan ketika ziarah ke Madinah. Jejak Muhammad SAW nyata ada di sana. Perjuangan dakwah Islamiyah, ketegaran hati, kepemimpinan, akhlak mulia, persahabatan dalam iman dan islam, bahkan kecintaan beliau kepada umatnya terpancar dari Madinah.

Aku di depan pelataran Masjid Nabawi saat menunaikan ibadah haji tahun 2006/2007.

Hikmah yang aku dapatkan dari perjalanan ziarah ini tak lepas dari kekuasaan  Allah SWT. Perintah-Nya kepada manusia agar mengadakan perlawatan di muka bumi untuk membuktikan kekuasaan Allah SWT : “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang orang-orang yang sebelum mereka,  sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka ? Dan tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa,” (QS. Faathir 35 : 44).

Masjid Quba aku kunjungi saat ada kesempatan untuk ziarah sirah Nabawiyah di sekitar Kota Madinah.

Oya … Teteh anakku bungsu saat menunaikan ibadah Umroh tahun 2018 juga berkunjung ke Masjid Quba.

Yuk! Mampir membaca artikel berikut:

Renungan Hari Pendidikan Nasional

Standar

Wahai orangtua! Tidakkah kita senantiasa bercermin di waktu sebelum berangkat keperaduan? Tidakkah terus menerus kita bermuhasabah pada penghujung malam. Apakah kita telah mengajar dengan keteladan kepada anak? Ataukah secara sadar atau tidak, telah begitu saja menyerahkan pendidikan kepada sekolah? Lalu orangtua cuci tangan, berlepas tanggungjawab. 

Masa wabah pandemi Covid-19 sejatinya adalah kawah candradimuka bagi orangtua. Mau tidak mau harus menjadi guru anak-anak di rumah kan? Sekarang 24 jam anak-anak bersama kita.

Orangtua adalah guru pertama dan utama bagi anak.

Dimasa yang lampau seakan semua urusan pendidikan beres di sekolah. Orangtua cukup bertanya, “Ada PR apa Nak?!” Kadang sambil melotot karena nilai ulangan anak tak sampai KKM. Atau  pagi hari orangtua berteriak, “Adeeeee … Cepetan telat nih! Berangkat sekolah aja males … Mau jadi apa kamu ?!”

Segala yang diangankan tak sesuai kenyataan. Berbagai teori pendidikan diajarkan. Sekolah-sekolah gencar mempromosikan keunggulan. Namun, banyak orangtua menjadi tak habis pikir dan kecewa tak berkesudahan. Mengapa anak-anak terkesan tidak memiliki perilaku atau kepribadian yang baik? Percakapan mereka kadang di luar dugaan, sangat kasar dan jorok. Bahkan tindakannya menjurus kepada kriminal. Tak bersemangat belajar. Ikut kelompok free sex atau menonton film porno.

Tahukah wahai para orangtua? Mengasuh dan mendidik anak adalah sebuah kesempatan berharga dan menyenangkan. Kita bisa tumbuh bersama anak-anak. Hubungan baik antara orangtua dengan anak akan memotivasi kita agar terus mendorong dan membimbing anak menghadapi masa depannya. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, kita telah membuat anak merasa dia memiliki teman berbagi pikiran. Dia bisa menanyakan berbagai persoalan yang sulit. Ini penting! Karena kita ingin anak tidak lari kepada narkoba, pergaulan bebas, atau perilaku negatif lain akibat dia tidak merasa memiliki orangtua yang menjadi sahabat sejatinya.

Orangtua sebagai guru, tentu patut memahami proses menjadi cerdas bagi anak-anaknya. Proses itu bernama belajar. Belajar harus memperhatikan kecerdasan yang secara unik dimiliki oleh masing-masing anak. Cara belajar yang tepat menjadikan kecerdasan melejit lebih cepat. Cara belajar yang tidak tepat justru akan mematikan kecerdasan. Seabgai contoh, balita (0-6 tahun) belajar dengan cinta dan kasih sayang. Sedangkan anak SD (7-13 tahun) berikanlah tanggung jawab. Bagi anak SMP/SMA (14-19 tahun) kepercayaan adalah hal utama.

Siapa tak kenal Nabi Ibrahim AS? Juga Nabi Muhammad SAW … Begitupun Lukman, kisahnya begitu dahsyat di dalam kitab suci Al Quran. Mengapa dahsyat? Kita terbiasa dan sangat umum bila mendengar kisah anak dengan ibunya. Betul ? Semenjak dikandung, dilahirkan, disusui dan dirawat seringkali ibu menjadi tokoh. Lalu … Para bapak ada dimana ya?

Islam mengajarkan bahwa pendidikan dan tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab ibu dan ayah. Tak ada alasan berkelit karena sibuk luar biasa, alias biasa di luar. Sehingga ayah tak terlibat dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak. Tengoklah kisah Nabi Ismail AS dengan ayahnya dalam dialog-dialog indah. Nilai-nilai tauhid menjadi percakapan mereka berdua. Keimanan kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa adalah landasan hubungan kasih sayang antara ayah dan anak. Aku menuliskannya di sini https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5509022d813311961cb1e32c/orang-tua-cerdas-belajar-dari-ibrahim-as

Begitupun belasan ayat menceritakan Lukman memberi nasihat tauhid penuh makna kepada anaknya. “La tusrik billah …,” jangan ada sekutu bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemurah. Tuntutan hidup dengan hanya mengharap ridho Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana diberikan oleh Lukman kepada anaknya. Monggo mampir di artikelku ini : https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5509068aa33311aa452e3b0d/ingin-menjadi-ayah-hebat-bergurulah-kepada-luqman-as

Bila dua orang mulia tadi dikisahkan memberi nasihat kepada anak laki-laki. Yuk! Tengok sirah Nabi Muhammad SAW. Beliau begitu menyayangi putrinya, Fatimah RA yang hidup bersama hingga akhir hayat Rasulullah SAW. Bukan hanya perkataan, namun akhlak mulia menjadi rujukan utama. Kasih sayang beliau kepada keluarga, istri, anak, cucu dan sahabat dikisahkan penuh keharuan mendalam di sini https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/04/30/menyelami-kehidupan-rasulullah-saw-bersama-keluarga/

Bersyukur suamiku berusaha menjadi ayah yang baik bagi ketiga anaknya. Aku tulis di sini : https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2013/04/01/jadi-ayah-hebat-siapa-takut/ dan https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55006fdfa333111e73510f4e/jadi-orangtua-perlu-megaskill-of-leadership

Selamat hari pendidikan nasional. Semoga selalu bahagia belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita.

Drama Tak Terduga, Saat Antar Jemput Anak Sekolah

Standar

Hidup itu kadang tak selalu baik-baik saja. Ada drama tak terduga yang bisa bikin jantungan dan membuat menangis. Namun setelah kita lalui dan menemukan hikmahnya, kita mampu menceritakan kembali dengan senyuman, bahkan diringi tawa geli.

Teteh.
Kaka dan Mas.

Sepatu Sekolah Tertinggal di Garasi

Kaka dan Mas pernah sampai di sekolah pagi sekali, semangat dong! Sepanjang jalan ngobrol dan bercanda. Pas mau turun, mereka heboh. “Sepatu aku mana Bu?” tanya Mas. Aku mengenyitkan dahi di kursi supir. “Hhhmmm … Biasanya di mana?’ “Eeehhh … Sepatu Kaka juga gak ada!”

Mereka naik ke mobil tadi nyeker. Kaos kaki dimasukkan saku celana. Tas dipunggung dan bekal makanan di tenteng. Pasti dipikir mereka sepatu ada di mobil. Ya ampuuunnn … Aku baru ingat sepatu ada di garasi, karena kemarin sore aku cuci karpet mobil. Lupa aku masukkan ke mobil lagi. Jadi mereka turun nyeker dong! Langsung ngacir masuk kelas. Aku balik ke rumah ambil sepatu. Untung sekolah dekat saja, bisa sampai di sekolah sebelum bel berdering.

Ibu pun bisa salah dan terlupa.

Tas Sekolah Tidak Ada di Mobil

Pengalaman saat Teteh gak bawa tas ke sekolah, karena tasnya lupa aku taruh di ruang tamu rumah. Jadi ada kebiasaan Teteh kalau pulang sekolah dan tidak ada PR, dia tidak menurunkan tas sekolah dari mobil. Teteh sudah sepakat kalau urusan turun naik tas sekolah itu tanggung jawab sendiri. Entah kenapa, aku kok ya malah menurunkan tas sekolah Teteh bersama barang belanjaan.

Saat Teteh mau turun dari mobil sibuk mencari tasnya. “Ibu … Tas aku mana?” Mukanya cemas. “Ada di kursi belakang kali Teh, coba cari!” Tapi aku sambil mikir. Aammmpuuunnn … Baru ngeh iya ya tas sekolah Teteh ada di rumah. Aduuhhh … Sekolah Teteh jauh dari rumah, kalau kembali untuk mengambil tas tak akan cukup waktu. Jadi aku telpon ojek langganan dan minta dia ke rumah untuk ambil tas Teteh. Untung saja suami masih di rumah. Drama ketinggalan tas pun berakhir manis, walau Teteh tadi sempat nangis. Dan aku minta maaf karena melakukan hal di luar perjanjian.

Penting juga ternyata punya langganan, baik ojek, tukang sayur, penjual buah, laundry, salon, catering, bahkan mbok pijet. Mereka bisa menolong ketika keadaan darurat.

Dimanakah Tas Teteh?

Cerita pulang sekolah di hari Jumat, Teteh minta mampir ke koperasi untuk membeli pulpen, penghapus, dan kertas isi binder. Ramai suasananya karena banyak juga anak lain yang berbelanja.

Sesampainya di rumah, Teteh mencari-cari tas sekolahnya. “Bu … Tas Aku kok gak ada?” Aku yang sedang menutup pintu pagar sekilas ingat. “Teteh tadi bawa tas ke mobil gak?” tanyaku. “Bukannya tadi Ibu yang tenteng?” Teteh balik bertanya. “Ibu tenteng belajaan koperasi,” kataku.

Jadi di mana tas Teteh? Menangis lah Teteh. Si bungsu cantik nan manja ini kalau menangis tak bisa sebentar. Belum berhenti kalau hatinya masih sedih dan galau. Aku sudah minta maafpun masih tetap menangis.

Rupanya tas sekolah Teteh teronggok manis di koperasi, dekat tumpukan barang. Mungkin tanpa sadar tasnya dilepas dari pegangan, pilih-pilih barang, lalu menenteng belanjaan, masuk ke dalam mobil, lupa kalau tadi bawa tas sekolah. Untung saja penjaga koperasi menyimpan nomor wa ku. Saat merapikan barang, ada tas sekolah tertinggal, dibuka terlihat nama anakku di sampul buku. Menjelang maghrib dia wa kalau tas sekolah Teteh sudah diamankan di pos satpam sekolah.

Itulah efek positif kenal baik dengan berbagai pihak di sekolah anak, termasuk penjaga koperasi, ibu kantin, satpam, pramubakti, bahkan juru parkir mobil dan supir mobil antar jemput sekolah bisa membantu saat diperlukan.

Pulang Sekolah Dititip Tetangga

Pernah suatu kali aku ada agenda keluar rumah. Sehari sebelumnya sudah ku siapkan pesan mobil antar jemput sekolah untuk Mas. Karena di rumah tak ada siapapun, Mba yang membantu cuci-setrika hanya sampai jam 10-an. Aku juga sowan ke tetangga depan rumah titip Mas sekitar 1-2 jam sebelum aku pulang. Kebetulan anaknya tetanggaku itu sohibnya Mas walau beda sekolah.

Ternyata kejadiannya tak sesuai prediksi, jalanan Jakarta tak bersahabat. Biasanya sebelum jam 3 sore amanlah masuk Bintaro masih longgar. Tapi kali ini padat merayap.

Aku berdoa semoga Mas tak bermasalah. Dan tetanggaku juga tak ada kendala. Salah dugaanku. Sohib Mas ada les siang itu. Jadi Mas harus ditinggal di garasi rumahku, karena rumah mereka harus dikunci. Untung saja garasi rumahku tak dikunci.

Saat aku sampai, terlihat Mas duduk selonjoran di depan pintu ruang tamu. Langsung aku dekati Mas, “Maafin Ibu ya Mas …” Eeehhh … Masih ada bekas airmata. Rupanya Mas menangis. Anakku ini waktu TK memang cetek airmatanya. Jadi ini kejadian Mas masih TK. Aku ikut selonjoran di lantai, peluk dan pangku Mas menghadap ke wajahku. Aku elus rambut kruwelnya dan cium pipinya. Mas tersenyum walau samar, “Ibu kok lama … Pake banget! Laper nih …” Aku cuma bisa bilang lagi, “Maaf ya Mas …”

Selesai bersih-bersih badan, aku dan Mas makan siang sambil ngobrol. Cerita gimana tadi di sekolah, gimana rasanya dititipin di tetangga, dan minta Mas kasih saran gimana caranya agar tak terulang kejadian seperti tadi? Ide cemerlang dari Mas, sssttt … rahasia tidak boleh diceritakan di sini.

Salah Rumah Saat Pulang Sekolah

Sewaktu dinas di Cirebon, aku dapat rumah dinas dari kampus. Tapi sering juga mampir dan menginap di rumah Mamahku yang tinggal di komplek berdekatan dengan rumahku. Nah … Kaka sejak TK sudah ikut antar jemput mobil sekolah. Suatu hari, aku bilang kepada supir sekolah bahwa Kaka pulangnya ke rumah Mamah.

Hiiikssss … Aku tunggu hingga menjelang maghrib kok ya Kaka belum pulang juga. Ini kisah jaman aku belum punya handphone loh! Aku telpon sekolah pakai telepon rumah Mamah. Menurut pihak sekolah Kaka sudah pulang pakai mobil sekolah, sejak jam 4 sore (fullday school pulang setelah shalat ashar). Waduh! Aku tak bisa telpon supir sekolah karena dia tak punya telepon rumah.

Aku kok merasa ada yang salah … Sambil berdoa semoga Kaka baik-baik saja. Ya Allah … Jangan-jangan Kaka diantar ke rumahku. Bukan ke rumah Mamah. Langsung aku naik ke mobil dan meluncur ke rumahku. Benar! Kaka ada di halaman rumah sedang main. Pagar rumah terkunci. Aku buka dan langsung peluk Kaka yang tampak bingung. “Ibu kok gak ada di rumah? Katanya pulang sebelum Kaka pulang sekolah?”

“Maaf ya Kaka … Aduh Ibu juga bingung? Kenapa Kaka dianterin ke sini?” jawabku. Lalu Kaka cerita tadi supir sekolah bilang ada pesan kalau pulangnya ke rumah Mamah. Kaka bilang ke komplek Mamahku. Tapi supirnya tidak percaya, kan disuruhnya ke rumah Mamah, bukan ke rumah Nenek.

Miss communication lagi deh! Sering terjadi dan bikin Kaka kesal. Jadi … Kaka tuh memanggil Neneknya dengan sebutan Mamah. Maksudnya diantar ke rumah Nenek, bukan ke rumah Mamahnya yang dipanggil Ibu.

Eeehhh … Kaka ternyata digendong supir sekolah hingga bisa meloncati pagar rumah loh! Ya ampun ada-ada saja ya kisah heboh gini bikin jantungan.

Hikmah tidak ada handphone adalah lebih sering terkoneksi dan bergantung kepada pertolongan Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar. Alhamdulillah anak-anak selalu dalam lindungan-Nya.

Makna Surat Al Ashr dalam Konteks Pendidikan Anak

Standar

By Al’Ashr (the time). Verily, man is in loss, except those who believe and do righteous good deeds, and recomend one another to the truth, and recomend one another to patience. (QS. Al’Ashr : 1-3).

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”.

Kaka, Mas dan Teteh.

Kita, masing-masing memiliki 86.400 detik. Mengapa ada beberapa orang yang mengurus organisasi atau perusahaan besar, bahkan negara dalam batas waktu seperti itu? sedangkankan yang lainnya tergopoh-gopoh, tersandung, suntuk, bahkan terjungkal dan kehabisan akal dalam pekerjaan-pekerjaan sederhana?

Trik berikut dapat membantu kita agar tetap konsisten menjalankan pengelolaan waktu.
1. Setiap tiga sampai enam bulan sekali kumpulkan catatan waktu harian dan bandingkan dengan catatan kita terdahulu;
2. Melihat kembali daftar sepuluh terbesar hal-hal pemboros waktu untuk mengidentifikasi bidang-bidang mana yang perlu dibenahi;
3. Setiap minggu memilih satu kebiasaan buruk yang ingin di hilangkan;


Aku ingin berbagi pengalaman memanfaatkan waktu bersama ketiga anakku Kaka, Mas dan Teteh.

Alhamdulillah, selama masa sekolah anak-anak ku belum ada peristiwa mereka terlambat datang ke sekolah. Kaka, Mas, dan Teteh biasa bangun jam setengah lima (sebelum adzan subuh), pernah beberapa kali setelah adzan subuh. Kami sekeluarga memiliki waktu satu setengah jam untuk mengerjakan seluruh aktifitas persiapan sekolah dan kerja.

Contoh jadwal harian keluarga :
04.30 bangun – berdoa
04.30 – 05.00 mandi, berpakaian, shalat subuh (semua sudah dilakukan sendiri / mandiri semenjak TK)
05.00 – 05.30 membuat sarapan dan bekal sekolah (Kaka sudah bisa membantu membuat sarapan, Mas membantu menemani Teteh main, atau gantian Mas bantu masak)
05.30 – 06.00 sarapan, berangkat sekolah (jemputan atau naik angkutan kota dan sudah bisa mandiri semenjak TK)
dalam waktu satu setengah jam kami sekeluarga bisa menyelinginya dengan mengobrol, mendengarkan tausiah dari radio, atau murotal Al Quran. Bila kami bisa siap lebih cepat, sebelum berangkat masih sempat main di halaman rumah sambil melihat tanaman, bunga, kupu-kupu, dan menikmati matahari serta udara pagi yang segar.

Kaka dan Mas, juga kemudian Teteh saat SD sudah terbiasa menyelesaikan pekerjaan sekolah sebelum shalat isya. Jadi, mereka bisa tidur jam delapan malam, paling lambat jam sembilan malam. Hari sekolah adalah hari tanpa televisi dan permainan komputer / game lainnya. Mereka bisa istirahat sambil membaca buku atau komik, bermain musik, mengobrol, memasak, atau olahraga ringan. Jika lalai mengerjakan pekerjaan rumah lalu harus dikerjakan pagi hari, mereka harus bangun lebih pagi lagi. Atau bila ada buku dan tugas tertinggal mereka belajar menanggung resikonya. Peringatan / hukuman dari sekolah adalah bentuk pembelajaran untuk menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Penting untuk orangtua, saat anak-anak belajar di sore / malam hari jangan sekali-kali menghidupkan televisi! Matikan saja. Ganti dengan obrolan ringan, temani mereka makan atau bermain bersama. Jika memiliki PS, gameboy, komputer, laptop, dll yang berisi permainan elektronik, simpan di tempat terkunci (bila tidak cabut kabel atau tutup dengan kain / kertas karton). Buka dan sepakati pemanfaatan nya untuk hari libur sekolah / sabtu-minggu. Tapi keluarga kami tidak pernah punya PS dan gameboy.

Alternatif untuk menyalurkan energi anak-anak adalah dengan olahraga. Kaka dan Mas ikut klub karate berlatih seminggu sekali selama tiga – empat jam. Bila waktu masih luang, mereka berenang selama dua – tiga jam. Waktu istirahat sekolah mereka memilih membaca atau bermain bola / basket, bersepeda atau berlarian bersama teman-temannya.

Budaya membaca harus dikembangkan. Bosan … Ya! benar sekali, anak-anak sering merasa bosan. Agar mereka mampu berkonsentrasi dan rileks, maka pilihlah kegiatan membaca dan mendengarkan musik untuk meningkatkan daya pikir dan daya kreasi anak-anak. Membaca dapat dilakukan sambil duduk tenang, tubuh beristirahat, hati senang, akal berkembang, … tentu kita harus ikut aktif bersama mereka membaca. Bukan di suruh membaca, tetapi temani mereka membaca. Ajaklah berdiskusi tentang apa yang mereka atau kita baca …

Yakinlah! … pendidikan dan kebiasaan dimasa kecil bagai mengukir di atas batu … kuat berakar dan menjadi akhlakul karimah kelak di masa depan.

Walau sudah berusaha mengatur waktu dengan baik, tetap saja ada behind the scene yang tak terduga.

Kaka dan Mas pernah sampai di sekolah pagi sekali, semangat dong! Sepanjang jalan ngobrol dan bercanda. Pas mau turun, mereka heboh. “Sepatu aku mana Bu?” tanya Mas. Aku mengenyitkan dahi di kursi supir. “Hhhmmm … Biasanya di mana?’ “Eeehhh … Sepatu Kaka juga gak ada!”

Mereka naik ke mobil tadi nyeker. Kaos kaki dimasukkan saku celana. Tas dipunggung dan bekal makanan di tenteng. Pasti dipikir mereka sepatu ada di mobil. Ya ampuuunnn … Aku baru ingat sepatu ada di garasi, karena kemarin sore aku cuci karpet mobil. Lupa aku masukkan ke mobil lagi. Jadi mereka turun nyeker dong! Langsung ngacir masuk kelas. Aku balik ke rumah ambil sepatu. Untung sekolah dekat saja, bisa sampai di sekolah sebelum bel berdering.

Pengalaman lain saat Teteh gak bawa tas ke sekolah, karena tasnya lupa aku taruh di ruang tamu. Jadi ada kebiasaan Teteh kalau pulang sekolah dan tidak ada PR, dia gak nurunin tas. Jadi sudah sepakat kalau urusan turun naik tas itu tanggung jawab sendiri. Entah kenapa, aku kok ya malah nurunin tas Teteh bersama barang belanjaan.

Pas Teteh mau turun dari mobil sibuk dong cari tasnya. “Ibu … Tas aku mana?” Mukanya cemas gitu. Aku malah jawab, “Ada di kursi belakang kali Teh, coba cari!” Tapi aku sambil mikir … Dan aammmpuuunnn … Baru ngeh iya ya tas Teteh ada di rumah. Aduuhhh … Sekolah Teteh jauh dari rumah. Jadi aku telpon ojek langganan dan minta dia ke rumah untuk ambil tas Teteh. Untung aja suami masih di rumah. Drama ketinggalan tas pun berakhir manis, walau Teteh tadi sempat nangis. Dan aku minta maaf karena melakukan hal di luar perjanjian.

Traditional Market Potential

Standar

Potensi Pasar Tradisional

Menurut Wikipedia, pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

Pasar Beringharjo di kota Yogyakarta.

Berbelanja di pasar tradisional kerap aku lakukan diberbagai kesempatan. Saat berlibur di kota Yogyakarta, aku ajak Teteh mampir di pasar Beringharjo jalan Malioboro. Apa yang dibeli? Aku membeli batik untuk oleh-oleh. Harganya terjangkau dengan desain yang menarik, unik, cantik. Oya … Kendaraan yang dipilih Teteh adalah becak. Di Jakarta sudah tidak ada becak, jadi deh nostalgia keliling kota.

Kisah menarik liburan di Yogyakarta ada di sini https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5f75d423d541df45dd25ae02/rindu-berlibur-di-yogyakarta

Pasar tradisional di berbagai kota / kabupaten di Indoenesia masih memiliki posisinya tersendiri di mata masyarakat. Sekalipun harus berhadapan dengan gempuran dari pasar-pasar mewah, mal-mal, supermarket, bahkan mini market yang merayap masuk di lahan pasar tradisional.

Seseorang ketika menyematkan kata tradisional pada hal-hal tertentu, biasanya mengandung makna perendahan atau penomorduaan. Kelas bawah. Berbeda ketika menyebutkan kata modern, yang dimaknai mengandung kehebatan dan kemajuan.

Istilah pasar tradisional seringkali mengarah kepada pasar-pasar yang bermodal kecil, lemah, kotor, tidak rapih, semrawut dan seringkali tidak taat aturan. Karena, gejala ini menghinggapi banyak orang, Pemerintah Daerah pun terkadang tidak berpikir keras untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang memungkinkan mereka bisa bertahan, maju dan bisa memberikan nilai lebih kepada kesejahteraan para pedagang dan masyarakat pada umumnya.

Walau demikian, pasar tradisional tetap punya posisi strategis. Apalagi jika diberdayakan melalui kebijakan-kebijakan yang memihak dari Pemerintah Daerah. Masyarakat seringkali tumpah ruah mendatangi dan memadati sentra-sentra pasar tradisional. Jika dilihat lebih mendalam, pasar tradisional memiliki beberapa fungsi penting yang tak dapat digantikan begitu saja oleh pasar modern.

Ada empat fungsi ekonomi yang bisa diperankan oleh pasar tradisional.

Pertama : Pasar tradisional merupakan tempat di mana masyrakat berbagai lapisan memperoleh barang-abrang kebutuhan harian dengan harga yang relatif terjangkau. Mengapa? Ya … Tak bisa dipungkiri memang harga barang terutama bahan baku makanan atau juga pakaian, kebutuhan sehari-hari lebih murah dibandingkan harga yang ditawarkan pasar modern. Pasar tradisional merupakan pilar penyangga ekonomi masyarakat kecil.

Kedua : Pasar tradisional merupakan tempat yang relatif lebih memungkinkan dimasuki oleh pelaku ekonomi lemah / pedagang kecil. Mereka memiliki jumlah yang besar / mayoritas dalam piramida ekonomi di Indonesia. Pasar tradisional mudah diakses oleh pedagang kecil karena harga sewa kios / lapak, bahkan bisa di emperan, terjangkau oleh mereka. Pedagang kecil tidak mampu menyewa di pasar modern dengan harga yang lebih mahal, karena modal mereka juga terbatas.

Ketiga : Pasar tradisional merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) lewat retribusi yang ditarik dari pedagang pasar. Mencakup administarasi kebersihan dan keamanan.

Keempat : Akumulasi aktivitas jual beli di pasar merupakan faktor penting dalam penghitungan tingkat pertumbuhan ekonomi baik pada skala lokal, regional, maupun nasional. Di samping fungsi ekonomi, pasar tradisional berperan dalam fungsi sosial. Pasar tradisional adalah fasade, wajah depan, penampakan wajah asli masyarakat yang saling tergantung karena saling membutuhkan. Selain itu, pasar tradisional adalah tempat bagi masyarakat terutama dari kalangan menengah ke bawah, untuk melakukan interaksi sosial dan melakukan diskusi informal atas segenap permasalahan yang mereka hadapi.

Aku bila berkunjung ke sebuah kota, musti mampir di pasar tradisionalnya. Bisa belanja oleh-oleh khas daerah, seperti di pasar Gede kota Solo ini. Ada cerita menarik loh di sini https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fbcfbf4d541df26b73b98c3/musafir-guest-house-berasa-menginap-di-rumah-eyang

Pasar Gede di kota Solo.

Kali ini mengajak Teteh menjejak masa lalu di pasar Triwindu Solo; barang-barang antik yang tak lagi digunakan anak-anak gen Z, seperti lampu cempor, patromaks, setrika arang, radio, televisi tabung hitam putih, sepeda onthel, alat takar minyak tanah, mesin ketik manual. Beberapa barang aku pernah memakainya. Cung! Siapa yang dulu pernah pakai patromaks, lampu cempor atau barang-barang jadul lainnya?

Pasar Triwindu di kota Solo.

Sila mampir di artikel tentang wisata unik di pasar antik ini. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fc0e8078ede482b326e77f3/wisata-unik-di-pasar-antik

Mari kita mencoba menganalisis pasar tradisional dengan menggunalan alat SWOT. Apa itu analisis SWOT? Analisis SWOT digunakan untuk mengetahui faktor internal dan faktor eksternal dalam pengembangan Pasar TradisionalAnalisis SWOT menggambarkan peluang dan ancaman yang dihadapi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Pasar Tradisional.

Analisis SWOT : Pengertian, Metode Analisis, dan Contohnya
Sumber CPSSoft. Gambar analisis SWOT.

Dalam jurnal UMM, Senaspro tahun 2016 ditulis oleh Wahyu Wulandari. bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi pasar tradisional sebagai penyedia jasa dalam berbelanja dan berdampak terhadap sikap konsumen sebagai berikut :


Pertama adalah faktor internal yang terdiri dari dua komponen yaitu kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness). Kekuatan (strength) dikembangkan agar lebih tangguh dari sarana dan prasarana pendukung yang dimiliki oleh pasar tradisional, sedangkan kelemahan (weakness) sebagai faktor kendala yang datang dari dalam pasar tradisional terhadap proses pelayanan pada sikap konsumen dalam berbelanja di pasar tradisional.

Pengaruh faktor internal terhadap sikap konsumen di pasar tradisional, adalah strength (kekuatan) diambil dari atribut potensi masalah yang termasuk dalam Kuadran Lanjutkan Prestasi. Sedangkan weakness (kelemahan) diambil dari atribut potensi masalah yang termasuk dalam Kuadran Prioritas Utama.

Kuadran Prioritas Utama memuat atribut-atribut yang dimiliki oleh pasar tradisional yang dianggap penting oleh pengunjung tetapi pada kenyataaannya atribut-atribut tersebut belum sesuai dengan harapan pengunjung, sehingga kinerja dari atribut-atribut tersebut harus lebih ditingkatkan lagi agar dapat memuaskan pengunjung.

Sedangkan Kuadran Lanjutkan Prestasi memuat atribut-atribut dari pasar tradisional sebagai tempat berbelanja yang dianggap penting oleh pengunjung dan memiliki tingkat kinerja yang tinggi sehingga perlu dipertahankan prestasinya.


Kedua adalah faktor eksternal yang terdiri dari dua komponen yaitu peluang (opportunities) dan ancaman (treatment). Peluang (opportunities) sebagai kesempatan yang berasal dari luar yang berasal dari kebijakan pemerintah, peraturan, atau kondisi ekonomi secara global. Sedangkan ancaman (treatment) merupakan hal yang dapat mendatangkan kerugian berasal dari luar kemampuan pengamatan.

Kekuatan (strengt) dan kelemahan (weakness) terdiri dari atribut :

  1. Keberadaan lokasi pasar tradisional
  2. Masyarakat sebagai konsumen yang berbelanja di pasar tradisional
  3. Mempertahankan budaya tawar menawar
  4. Banyaknya variasi produk yang dijual
  5. Harga produk relatif murah
  6. Kemudahan dalam akses transportasi

Peluang (opportunities) dan ancaman (treatment) terdiri dari atribut :

  1. Perhatian pemerintah daerah
  2. Pertumbuhan ekonomi daerah (di masa wabah pandemi Covid-19)
  3. Pertumbuhan UMKM dan pedagang
  4. Keterlibatan perbankan terhadap UMKM dan pedagang
  5. Pertumbuhan pasar modern yang terus meningkat
  6. Produk yang dijual pasar modern lebih berkualitas dan didukung promosi yang gencar

Analisis SWOT digunakan untuk membahas faktor internal dan faktor eksternal pengembangan Pasar Tradisional Kertha. Analisis SWOT menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh sebuah pasar tradisional.


Menurut Rangkuti (2008), tahapan dalam merumuskan strategi melalui matriks SWOT sebagai berikut.

  1. Meletakan faktor-faktor kekuatan dan kelemahan pada matriks IFAS, faktor-faktor peluang dan ancaman pada matriks EFAS.
  2. Merumuskan strategi SO, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
  3. Merumuskan strategi ST, yaitu dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman.
  4. Merumuskan strategi WO, yaitu berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
  5. Merumuskan strategi WT, yaitu berusaha meminimalkan kelemahan yang ada dan menghindari ancaman

Baca juga artikel berikut sebagai referensi:

Berdaya dan Bahagia Sebagai Ibu

Standar

Pernahkah teman mendapat pertanyaan unik dari anaknya? Seperti anakku bungsu, Teteh bertanya tadi pagi : “Bu … apa sih pekerjaan Ibu?” He3 … Ada-ada saja nih! Kalau di KTP tertulis ‘Mengurus Rumah Tangga’.

“Sesungguhnya pekerjaan Ibu buuuaaannnyyyaaak sekali Teh … Mau tahu?” tanyaku sambil tersenyum lebar.

Selain mengurus rumah tangga. Ibu mu ini, adalah arsitek, tugasnya merancang bangunan seperti rumah, masjid, atau gedung. Pernah juga mengawasi pembangunan apartemen. Proyek pembangunan itu butuh diawasi. Jadi kadang bekerja hingga larut malam. Berdebu dan panas. Bergaul dengan para tukang sekaligus bersama para pemilik modal.

Ibu dosen di perguruan tinggi, pernah menjadi Direktur Akademi AP-CIC Cirebon. Selain mengajar, dosen itu harus menulis jurnal dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ibu ikut menjadi peneliti dan sukarelawan di sebuah LSM. juga menjadi narasumber seminar atau sekedar sebagai moderator. Sebelum Teteh lahir, Ibu aktif di Partai Amanat Nasional, dan menjadi caleg DPR RI juga balon Walikota.

Saat Teteh masih di perut, Ibu menjadi relawan di Posyandu dan PAUD (menemani anak-anak usia 2-4 tahun bermain sambil belajar). Saat Teteh berumur 2 tahun, Ibu menghidupkan lagi sebuah TK yang mati suri. Bersyukur TK itu sampai kini masih beroperasi.

Waktu luang Ibu isi dengan membaca dan menulis. Ibu paling senang bila diundang workshop dan lokakarya Apalagi kalau di luar kota dan menginap di hotel, bisa sekalian refresing. Selain berbagi ilmu, juga ikut program perbaikan gizi ha3 … Makanan hotel kan enak-enak yah?

Ibu tidak semata bekerja. Namun, Ibu ingin berkarya. Makanya Ibu tak terlalu risau dengan gaji, upah, atau imbalan materi. Pengalaman mengajarkan rezeki bisa datang dari mana saja. Termasuk dari tempat yang tidak disangka-sangka.

Walau Ibu sepertinya sibuk. Teteh … tenang saja! Tak terbersit niat mengabaikan kalian. Kaka, Mas, dan Teteh tetap nomor satu. Bapa juga nomor satu.

Buktinya sambil menulis, (paling asyik ya menulis di kompasiana.com dan wordpress.com) Ibu tetap menemani Teteh belajar, tilawah dan menghafal Al Quran, serta menggambar, memotret, membuat kriya bersama.

Ibu senang menemani Teteh ke toko buku. Kita membeli buku cerita, majalah, novel, dan alat melukis. Teteh ikut Ibu workshop di Cirebon, dilanjut wisata kuliner mencicipi mie koclok dan empal gentong yang sedap.  Oya, kita sering berenang dan bersepeda bersama kan?

Nah … Beruntung Ibu tak suka nonton sinetron, infotaimen/gosip, dan ngerumpi. Satu lagi! Ibu hampir lupa kalau (maaf ya Teh …) tak begitu suka memasak. Tapi, Ibu tahu loh! Teteh pasti suka dibuatkan ayam kecap, spaghetti bologne, makroni skotel, gadon daging, dan puding susu. Iya … Insya Allah Ibu bisa!

Waktu Teteh TK, Ibu mendapat amanat sebagai Deputi Rektor di ISIF, Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, dan mengajar di AP-CIC di kota Cirebon, walau sudah tinggal di Jakarta. Ibu dipercaya merancang ‘faceoff‘ Rumah Pintar di Kebayoran Baru, aula kampus ISIF di Cirebon, dan renovasi sekolah Yayasan Mambaul Ula Jakarta sebagai bentuk kerja sosial kemasyarakatan.

Entah mengapa? Ibu terpilih menjadi pengurus WOTK – Komite sekolah. dan aktif berjumpa guru-guru, Kepala Sekolah, dan orangtua siswa. Setelah Teteh makin mandiri, Ibu bisa ikut kajian di berbagai tempat dan belajar tahsin AlQuran di AlUtsmani.

Menjadi Ibu berdaya itu keharusan, merasa bahagia itu pilihan. Bersyukurlah bila keduanya berpadu serasi, berdaya dan bahagia sebagai Ibu.

Wawancara di Tabloid Wanita Indonesia tahun 2005.
Tahun 2002 di koran Radar Cirebon.
Artikelku terbit tahun 2003 di Majalah AyahBunda.
Narasumber seminar parenting.
Moderator seminar pendidikan.
Wawancara tahun 2013 di Tabloid Wanita Indonesia.
Aktifis partai PAN.
Peserta workshop UNDP.
Berjumpa Ibu Negara Ainun Habibie.
Berjumpa teman dari Papua diacara Kompasianival.
Cerita Sampul Majalah Noor.
Cover Majalan Noor edisi Juni 2006.

Kenangan Indah Bersama 3 Anakku

Standar

Bila harus menulis tentang Ibu, aku senang sekali. Perjalanan menjalankan amanah terhadap tiga anak sangat luar biasa.

Sebagai perempuan, kiprahnya sangat beragam. Mulai dari Wakil Direktur Fahmina Institute, Direktur Akademi Perdagangan Widya Dharma (APWD) Cirebon, Wakil Ketua DPD PAN Kota Cirebon, hingga pernah menjadi Caleg DPR RI dan calon Walikota Cirebon. Tapi coba tanya apa profesi utamanya, dengan tegas ia akan menjawab, ‘Saya seorang Ibu, Yang lainnya profesi sampingan.” Dewi Laily Purnamasari : Ibu Profesional (dikutip dari majalah NOOR edisi Juni 2006). 

Kaka, Mas, dan Teteh umur satu bulan.

Ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu juga CEO di dalam rumahtangganya. Ibu sebagai co-pilot dari pesawat bernama pernikahan bersama suami bekerjasama menerbangkan cita-cita setinggi langit. Sukses dunia akhirat, bahagia hingga kelak sampai di surga-Nya yang terindah.

Aku berupaya mencari ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan keluarga, memahami, lalu menjalankannya. Berguru kepada orang berilmu, hadir dalam majelis, membaca Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan peran Ibu sangatlah penting. Membaca buku terkait pendidikan anak, kesehatan, lingkungan, psikologi, teknologi, sosial-ekonomi-hukum, bahkan politik pun harus terus dilakukan.

Ada yang bertanya, mengapa harus membaca buku politik? Apa iya terkait pendidikan anak? Menurutku iya! Karena politik juga penting dalam kehidupan, banyak tata laksana berkehidupan terkait pendidikan pasti juga ditentukan oleh kebijakan politik. Jangan alergi dengan politik ya …

Kaka dan Mas jaman kecil sering aku ajak main di kantor LSM dan sekretariat partai.

Ada kisah menarik tentang dua anakku yang laki-laki. Mereka adalah anak yang mudah beradaptasi. Kaka dan Mas sering aku ajak seminar, lokakarya, dan diskusi baik di dalam maupun di luar kota. Mereka sudah aku bawa bahkan sejak dalam kandungan. Mungkin karena pengalaman ikut kegiatanku di usia sangat dini, mereka jadi terbiasa dan enjoy. Selama perjalanan menuju lokasi, aku ajak mereka melakukan permainan, bernyanyi bersama, menghafal doa dan ayat Al Quran. Tentu aku selalu membawakan buku-buku bacaan dan alat gambar. Bersyukur, mereka tidak rewel dan terlihat mudah menyesuaikan diri. Selesai acara, kami mencoba mengenal lingkungan baru seperti bangunan, makanan dan minuman, jenis busana, kerajinan tangan, bahasa daerah. Semua berguna untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.

Begitupun anak bungsuku, Teteh. Gadis cilik yang sangat enerjik dan lincah. Dia sangat senang bermain di luar rumah. Aku menyempatkan diri pergi berdua saja dengannya. Oya … Teteh usianya jauh dari Kaka dan Mas. Mereka sudah masuk pesantren di luar kota.

Teteh jadi teman Ibu traveling.

Aku dan Teteh beberapa kali ke luar kota, naik kereta api atau pesawat, Teteh sangat menikmati perjalanan. Banyak kenangan indah dengan Teteh selama bepergian berdua. Pernah waktu di Solo hampir setiap hari Teteh minta naik odong-odong di alun-alun Keraton. Boncengan naik sepeda atau keliling kota naik becak. Teteh minta berhenti di depan kandang kebo bule hi3 … Antusias sekali Teteh memberi makan kangkung beberapa ikat. 

Teteh juga menemani aku mengajar di kampus Cirebon. Kadang ikut ke dalam kelas atau menunggu di ruang dosen sambil membaca buku dan menggambar. Teteh pernah aku ajak mengikuti seminar Internasional, pesertanya dari berbagai negara. Kebetulan panitia memperbolehkan Teteh ikut duduk di bangku peserta. Selama berjam-jam acara, Teteh anteng, tentu saja sambil membaca buku dan menggambar, bahkan sepertinya ikut menyimak paparan narasumber dalam bahasa Inggris. Entah mengerti atau tidak?

Alhamdulillah … Ya Allah Yang Maha Suci, Maha Pencipta Yang Paling Baik, aku dianugerahi anak-anak yang sehat, cerdas, dan baik. Semoga aku mampu bersyukur sebagaimana Engkau telah memberikan doa dalam Al Quran “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim.” (QS. Al Ahqaf 46 : 15).

Buku Favoritku, Khadijah dan Aisyah

Standar

Alhamdulillah di akhir pekan membaca buku berjudul ‘Khadijah – The True Love Story of Muhammad SAW’. Di pekan lain aku membaca buku berjudul ‘Aisyah – The Greatest Women in Islam’.

Buku karya Abdul Mun’im Muhammad yang diterbitkan Cordoba.
Sulaiman an-Nadawi menulis buku ini yang diterbitkan oleh Qisthi Press.

Semoga membuatku istiqamah di jalan-Mu menjadi penerang bagi sesama dengan kebaikan dan akhlak mulia. Pintaku selalu kelak berjumpa dengan-Mu. Dengan panggilan “Wahai jiwa yang tenang! kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr 89 : 27 – 30).

Menjelajah untaian kata dalam buku-buku ini Insya Allah akan menguatkan kita sebagai perempuan yang telah diberi keutamaan oleh Allah Yang Maha Adil lagi Maha Mulia.

Perempuan dalam Islam sejatinya sangat bermartabat, dihargai, diberikan ruang untuk beramal kebajikan seluas-luasnya. Islam memberikan jalan cahaya bagi perempuan untuk menjadi manusia paripurna -insan kamil- yang selamat dan bahagia dunia akhirat. Maka, seharusnya kita mendudukkan banyak pejuang perempuan dalam khasanah sejarah sebagai pahlawan. Tidak hanya satu dua saja : begitupun tentu banyak pahlawan dalam kehidupan kita semisal ibu, nenek, guru-guru perempuan, sahabat juga rekan kerja.

Semoga Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Pemurah menjadikan kita perempuan yang selalu diberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga mampu menebar kebaikan bagi sesama juga semesta.

Aamiin ya Rabbal’alamin

Membaca buku di akhir pekan sangat menyenangkan.

Karya Tulis Maryam Terbit di NatGeo Kids Indonesia

Standar

Anakku bungsu, Teteh : Maryam Aliyya Al Kindi memiliki pengalaman mengirim tulisan ke sebuah majalah anak. Teteh sudah senang melihat-lihat buku sejak usia balita, bahkan waktu taman kanak-kanak sudah bisa membaca sendiri. Hobi lainnya adalah berpetualang di alam terbuka. “Seru!” begitu alasan Teteh jika main di ruang terbuka. 

Teteh menjelajah kaki gunung Merapi.

Saat liburan tiba, kami sekeluarga lebih memilih berburu tempat liburan di luar ruang. Kami menjelajah kaki gunung, air terjun, kebun teh, hutan pinus, sungai, danau, juga jalan setapak di pedesaan. Tak lupa kami juga menyusuri pematang sawah dan menikmati kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Jakarta.

Nah … Salah satu tempat menjelajah yang keren adalah kaki Merapi. Teteh senang bertafakur alam di sana. Pamannya yang ahli geologi menjadi tutor selama kami menjelajah bebatuan dan pasir hasil letusan merapi. Betapa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa membuktikan betapa mudah saja bagi-Nya untuk mengguncangkan bumi dengan ‘batuk-batuk-nya gunung. Semburan asap panas pun dapat menghanguskan segala yang diterpanya.

Keasyikan makin memuncak karena kami harus menaiki jeep terbuka untuk sampai di lokasi dekat bunker. Wuih … Teteh malahan tertawa gembira ketika jeep yang dikemudikan sengaja mencari rute ekstrem : berguncang-guncang dan meliuk-liuk.

Inilah tulisan Teteh yang terbit di Majalah National Geographic Kids Indonesia.

Judul artikel karya Teteh Menjelajah Kaki Merapi. Saat mengirimkan tulisan ini, Teteh baru berumur 7 tahun.

Teteh girang sekali sewaktu datang paket berisi hadiah kaos keren dan bukti terbit di majalah yang dikirim oleh redaksi.

Hadiahnya kaos keren sekali.