Monthly Archives: April 2021

Menyelami Kehidupan Rasulullah SAW Bersama Keluarga

Standar

Hal menarik ketika berada di Masjid Nabawi adalah menyelami kehidupan Nabi SAW bersama keluarganya. Ternyata rumah Rasulullah SAW sangatlah sederhana dan kehidupan sehari-harinya sangat bersahaja. Ukuran rumah beliau tak lebih dari 5 x 4 m2 dan halaman belakang 5×3,5 m2. Atapnya dari pelepah kurma, dindingnya dari batu bata tahan api, lantainya tanah.

Kubah hijau di Masjid Nabawi.

Masya Allah … Sunggung luar biasa. Bukan istana pualam atau hiasan emas dan perak yang dinikmati Rasulullah SAW bersama keluarganya. Sanggupkan kita meneladani kehidupannya yang demikian ? Sanggupkan kita tidak mengeluh dan berputus asa ketika menemui kesulitan hidup?

Aku merasakan sentuhan yang sangat mengharukan ketika shalat di Masjid Nabawi. Terbayang bagaimana Rasulullah SAW menjadi imam, para sahabat (Abu Bakar as Shiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Hamzah sayyid al syuhada, Salman al Farizi, Abbas ibn Abdul Muthalib, Al Hakam ibn Sa’id, Ubay ibn Ka’ab, Zaid ibn Haritsah, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, Zaid ibn Tsabit, Abu Lubabah. Begitu juga serasa ada para ummul mu’minin (kecuali Khadijah binti Khuwailid yang telah wafat) Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Zainab binti Huzaimah, Juwairiyah binti Haris, Sofiyah binti Hay bin Akhtab, Hindun binti Abi Umaiyah, Ramlah binti Abu Sufyan, Hafsah binti Umar bin Khatab, Zainab binti Jahsy, Maimunah binti Haris.

Ya … terasa di hati ini suasana syahdu saat putri-putri beliau hadir di sini Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Subhanallah … mereka adalah pejuang sejati, penegak kalimat tauhid, rela berkorban harta, raga, bahkan jiwa. Dua kali aku berada di raudah ‘taman surga’, seperti ucap Nabi SAW : “Antara kamarku dan mimbarku adalah taman (raudah) dari taman-taman surga. Dan mimbarku di atas kolam.” (Shahih Bukhari no. 1888).

Alhamdulillah aku dapat shalat dua rakaat dengan tenang dan nyaman. Pada kesempatan lain aku berkeliling masjid sampai makam Rasulullah SAW. Kubah hijau menandai rumah Aisyah ra yang kini menjadi makam, di sanalah Muhammad SAW wafat dan dikuburkan. Betapa sederhana dan bersahaja kehidupan beliau, namun betapa tinggi kecintaan beliau kepada umatnya. “Umati … umati … umati …” begitulah pesan terakhir Rasulullah SAW menjelang wafatnya.

Airmata ini tak terasa deras mengalir membasahi pipi. Bila salah mohon dimaafkan Ya Allah … Aku memperoleh kesan mendalam tentang Nabi SAW. Kitab Syama’il an Nubuwwah karya Abu Isa at Tirmizi menggambarkan sosok manusia yang paling baik budi pekertinya. Teladan Rasulullah SAW tercermin dalam kebaikan rohani, kemuliaan jiwa, kesucian hati, keserhanaan tingkah laku, kebersihan, dan kehalusan rasa. Sifatnya lemah lembut tapi kesatria, ramah tetapi serius, dan otaknya cerdas. Alam pikirannya luas sehingga mampu mempengaruhi baik kepada orang pandai maupun orang yang tidak berpengetahuan.

Senyumnya memikat, sabar terhadap bawahan, rela menjenguk orang sakit sekalipun memusuhinya, memenuhi undangan orang miskin sekalipun. Tak segan menjahit sendiri pakaiannya, memerah susu kambing, dan menolong pekerjaan rumah. Muhammad SAW menyayangi orang miskin, mencintai anak-anak, dan menghormati perempuan. “Ya Nabi salam ‘alaika, ya Rasul salam … salam ‘alaika, ya Habib salam ‘alaika, shalawattullah ‘alaika …” Shalawat dan salam kepada kekasih Allah SWT menjadi tali penghubung antara umatnya dengan Nabi SAW yang mulia.

Masjid Nabawi adalah saksi sejarah perjuangan Rasulullah SAW menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Cahaya terang benderang pembuka kegelapan telah Allah SWT tetapkan dari Masjid Nabawi. Bukankah Muhammad SAW tetap ada di Madinah sejak hijrah hingga wafatnya ? Artinya Allah SWT telah mengabulkan do’a beliau, untuk menjadikan Madinah (khususnya Masjid Nabawi) seperti dalam do’a Rasulullah SAW yang terkenal : “Ya Allah … berikanlah kecintaan kami kepada Madinah, sebagaimana Engkau berikan kecintaan kepada Makkah, atau lebih dari itu. Dan bersihkanlah ia serta berkatilah kepada kami dalam makanan dan bekalnya, dan gantilah wabah penyakitnya dengan juhfah.” (Shahih Bukhari no. 1889).

Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam, pengalaman spiritual yang luar biasa aku dapatkan ketika ziarah ke Madinah. Jejak Muhammad SAW nyata ada di sana. Perjuangan dakwah Islamiyah, ketegaran hati, kepemimpinan, akhlak mulia, persahabatan dalam iman dan islam, bahkan kecintaan beliau kepada umatnya terpancar dari Madinah.

Aku di depan pelataran Masjid Nabawi saat menunaikan ibadah haji tahun 2006/2007.

Hikmah yang aku dapatkan dari perjalanan ziarah ini tak lepas dari kekuasaan  Allah SWT. Perintah-Nya kepada manusia agar mengadakan perlawatan di muka bumi untuk membuktikan kekuasaan Allah SWT : “Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang orang-orang yang sebelum mereka,  sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka ? Dan tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa,” (QS. Faathir 35 : 44).

Masjid Quba aku kunjungi saat ada kesempatan untuk ziarah sirah Nabawiyah di sekitar Kota Madinah.

Oya … Teteh anakku bungsu saat menunaikan ibadah Umroh tahun 2018 juga berkunjung ke Masjid Quba.

Yuk! Mampir membaca artikel berikut:

Renungan Hari Pendidikan Nasional

Standar

Wahai orangtua! Tidakkah kita senantiasa bercermin di waktu sebelum berangkat keperaduan? Tidakkah terus menerus kita bermuhasabah pada penghujung malam. Apakah kita telah mengajar dengan keteladan kepada anak? Ataukah secara sadar atau tidak, telah begitu saja menyerahkan pendidikan kepada sekolah? Lalu orangtua cuci tangan, berlepas tanggungjawab. 

Masa wabah pandemi Covid-19 sejatinya adalah kawah candradimuka bagi orangtua. Mau tidak mau harus menjadi guru anak-anak di rumah kan? Sekarang 24 jam anak-anak bersama kita.

Orangtua adalah guru pertama dan utama bagi anak.

Dimasa yang lampau seakan semua urusan pendidikan beres di sekolah. Orangtua cukup bertanya, “Ada PR apa Nak?!” Kadang sambil melotot karena nilai ulangan anak tak sampai KKM. Atau  pagi hari orangtua berteriak, “Adeeeee … Cepetan telat nih! Berangkat sekolah aja males … Mau jadi apa kamu ?!”

Segala yang diangankan tak sesuai kenyataan. Berbagai teori pendidikan diajarkan. Sekolah-sekolah gencar mempromosikan keunggulan. Namun, banyak orangtua menjadi tak habis pikir dan kecewa tak berkesudahan. Mengapa anak-anak terkesan tidak memiliki perilaku atau kepribadian yang baik? Percakapan mereka kadang di luar dugaan, sangat kasar dan jorok. Bahkan tindakannya menjurus kepada kriminal. Tak bersemangat belajar. Ikut kelompok free sex atau menonton film porno.

Tahukah wahai para orangtua? Mengasuh dan mendidik anak adalah sebuah kesempatan berharga dan menyenangkan. Kita bisa tumbuh bersama anak-anak. Hubungan baik antara orangtua dengan anak akan memotivasi kita agar terus mendorong dan membimbing anak menghadapi masa depannya. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, kita telah membuat anak merasa dia memiliki teman berbagi pikiran. Dia bisa menanyakan berbagai persoalan yang sulit. Ini penting! Karena kita ingin anak tidak lari kepada narkoba, pergaulan bebas, atau perilaku negatif lain akibat dia tidak merasa memiliki orangtua yang menjadi sahabat sejatinya.

Orangtua sebagai guru, tentu patut memahami proses menjadi cerdas bagi anak-anaknya. Proses itu bernama belajar. Belajar harus memperhatikan kecerdasan yang secara unik dimiliki oleh masing-masing anak. Cara belajar yang tepat menjadikan kecerdasan melejit lebih cepat. Cara belajar yang tidak tepat justru akan mematikan kecerdasan. Seabgai contoh, balita (0-6 tahun) belajar dengan cinta dan kasih sayang. Sedangkan anak SD (7-13 tahun) berikanlah tanggung jawab. Bagi anak SMP/SMA (14-19 tahun) kepercayaan adalah hal utama.

Siapa tak kenal Nabi Ibrahim AS? Juga Nabi Muhammad SAW … Begitupun Lukman, kisahnya begitu dahsyat di dalam kitab suci Al Quran. Mengapa dahsyat? Kita terbiasa dan sangat umum bila mendengar kisah anak dengan ibunya. Betul ? Semenjak dikandung, dilahirkan, disusui dan dirawat seringkali ibu menjadi tokoh. Lalu … Para bapak ada dimana ya?

Islam mengajarkan bahwa pendidikan dan tumbuh kembang anak adalah tanggung jawab ibu dan ayah. Tak ada alasan berkelit karena sibuk luar biasa, alias biasa di luar. Sehingga ayah tak terlibat dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak. Tengoklah kisah Nabi Ismail AS dengan ayahnya dalam dialog-dialog indah. Nilai-nilai tauhid menjadi percakapan mereka berdua. Keimanan kepada Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa adalah landasan hubungan kasih sayang antara ayah dan anak. Aku menuliskannya di sini https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5509022d813311961cb1e32c/orang-tua-cerdas-belajar-dari-ibrahim-as

Begitupun belasan ayat menceritakan Lukman memberi nasihat tauhid penuh makna kepada anaknya. “La tusrik billah …,” jangan ada sekutu bagi Allah Yang Maha Esa lagi Maha Pemurah. Tuntutan hidup dengan hanya mengharap ridho Allah Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana diberikan oleh Lukman kepada anaknya. Monggo mampir di artikelku ini : https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5509068aa33311aa452e3b0d/ingin-menjadi-ayah-hebat-bergurulah-kepada-luqman-as

Bila dua orang mulia tadi dikisahkan memberi nasihat kepada anak laki-laki. Yuk! Tengok sirah Nabi Muhammad SAW. Beliau begitu menyayangi putrinya, Fatimah RA yang hidup bersama hingga akhir hayat Rasulullah SAW. Bukan hanya perkataan, namun akhlak mulia menjadi rujukan utama. Kasih sayang beliau kepada keluarga, istri, anak, cucu dan sahabat dikisahkan penuh keharuan mendalam di sini https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/04/30/menyelami-kehidupan-rasulullah-saw-bersama-keluarga/

Bersyukur suamiku berusaha menjadi ayah yang baik bagi ketiga anaknya. Aku tulis di sini : https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2013/04/01/jadi-ayah-hebat-siapa-takut/ dan https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55006fdfa333111e73510f4e/jadi-orangtua-perlu-megaskill-of-leadership

Selamat hari pendidikan nasional. Semoga selalu bahagia belajar dan bertumbuh bersama anak-anak kita.

Drama Tak Terduga, Saat Antar Jemput Anak Sekolah

Standar

Hidup itu kadang tak selalu baik-baik saja. Ada drama tak terduga yang bisa bikin jantungan dan membuat menangis. Namun setelah kita lalui dan menemukan hikmahnya, kita mampu menceritakan kembali dengan senyuman, bahkan diringi tawa geli.

Teteh aya-aya wae … Minta digendong mirip itu tuh yang ada di samping Ibu ha3 …
Kaka dan Mas jaman cilik bikin Ibu dag-dig-dug deh!

Sepatu Sekolah Tertinggal di Garasi

Kaka dan Mas pernah sampai di sekolah pagi sekali, semangat dong! Sepanjang jalan ngobrol dan bercanda. Pas mau turun, mereka heboh. “Sepatu aku mana Bu?” tanya Mas. Aku mengenyitkan dahi di kursi supir. “Hhhmmm … Biasanya di mana?’ “Eeehhh … Sepatu Kaka juga gak ada!”

Mereka naik ke mobil tadi nyeker. Kaos kaki dimasukkan saku celana. Tas dipunggung dan bekal makanan di tenteng. Pasti dipikir mereka sepatu ada di mobil. Ya ampuuunnn … Aku baru ingat sepatu ada di garasi, karena kemarin sore aku cuci karpet mobil. Lupa aku masukkan ke mobil lagi. Jadi mereka turun nyeker dong! Langsung ngacir masuk kelas. Aku balik ke rumah ambil sepatu. Untung sekolah dekat saja, bisa sampai di sekolah sebelum bel berdering.

Ibu pun bisa salah dan terlupa.

Tas Sekolah Tidak Ada di Mobil

Pengalaman saat Teteh gak bawa tas ke sekolah, karena tasnya lupa aku taruh di ruang tamu rumah. Jadi ada kebiasaan Teteh kalau pulang sekolah dan tidak ada PR, dia tidak menurunkan tas sekolah dari mobil. Teteh sudah sepakat kalau urusan turun naik tas sekolah itu tanggung jawab sendiri. Entah kenapa, aku kok ya malah menurunkan tas sekolah Teteh bersama barang belanjaan.

Saat Teteh mau turun dari mobil sibuk mencari tasnya. “Ibu … Tas aku mana?” Mukanya cemas. “Ada di kursi belakang kali Teh, coba cari!” Tapi aku sambil mikir. Aammmpuuunnn … Baru ngeh iya ya tas sekolah Teteh ada di rumah. Aduuhhh … Sekolah Teteh jauh dari rumah, kalau kembali untuk mengambil tas tak akan cukup waktu. Jadi aku telpon ojek langganan dan minta dia ke rumah untuk ambil tas Teteh. Untung saja suami masih di rumah. Drama ketinggalan tas pun berakhir manis, walau Teteh tadi sempat nangis. Dan aku minta maaf karena melakukan hal di luar perjanjian.

Penting juga ternyata punya langganan, baik ojek, tukang sayur, penjual buah, laundry, salon, catering, bahkan mbok pijet. Mereka bisa menolong ketika keadaan darurat.

Dimanakah Tas Teteh?

Cerita pulang sekolah di hari Jumat, Teteh minta mampir ke koperasi untuk membeli pulpen, penghapus, dan kertas isi binder. Ramai suasananya karena banyak juga anak lain yang berbelanja.

Sesampainya di rumah, Teteh mencari-cari tas sekolahnya. “Bu … Tas Aku kok gak ada?” Aku yang sedang menutup pintu pagar sekilas ingat. “Teteh tadi bawa tas ke mobil gak?” tanyaku. “Bukannya tadi Ibu yang tenteng?” Teteh balik bertanya. “Ibu tenteng belajaan koperasi,” kataku.

Jadi di mana tas Teteh? Menangis lah Teteh. Si bungsu cantik nan manja ini kalau menangis tak bisa sebentar. Belum berhenti kalau hatinya masih sedih dan galau. Aku sudah minta maafpun masih tetap menangis.

Rupanya tas sekolah Teteh teronggok manis di koperasi, dekat tumpukan barang. Mungkin tanpa sadar tasnya dilepas dari pegangan, pilih-pilih barang, lalu menenteng belanjaan, masuk ke dalam mobil, lupa kalau tadi bawa tas sekolah. Untung saja penjaga koperasi menyimpan nomor wa ku. Saat merapikan barang, ada tas sekolah tertinggal, dibuka terlihat nama anakku di sampul buku. Menjelang maghrib dia wa kalau tas sekolah Teteh sudah diamankan di pos satpam sekolah.

Itulah efek positif kenal baik dengan berbagai pihak di sekolah anak, termasuk penjaga koperasi, ibu kantin, satpam, pramubakti, bahkan juru parkir mobil dan supir mobil antar jemput sekolah bisa membantu saat diperlukan.

Pulang Sekolah Dititip Tetangga

Pernah suatu kali aku ada agenda keluar rumah. Sehari sebelumnya sudah ku siapkan pesan mobil antar jemput sekolah untuk Mas. Karena di rumah tak ada siapapun, Mba yang membantu cuci-setrika hanya sampai jam 10-an. Aku juga sowan ke tetangga depan rumah titip Mas sekitar 1-2 jam sebelum aku pulang. Kebetulan anaknya tetanggaku itu sohibnya Mas walau beda sekolah.

Ternyata kejadiannya tak sesuai prediksi, jalanan Jakarta tak bersahabat. Biasanya sebelum jam 3 sore amanlah masuk Bintaro masih longgar. Tapi kali ini padat merayap.

Aku berdoa semoga Mas tak bermasalah. Dan tetanggaku juga tak ada kendala. Salah dugaanku. Sohib Mas ada les siang itu. Jadi Mas harus ditinggal di garasi rumahku, karena rumah mereka harus dikunci. Untung saja garasi rumahku tak dikunci.

Saat aku sampai, terlihat Mas duduk selonjoran di depan pintu ruang tamu. Langsung aku dekati Mas, “Maafin Ibu ya Mas …” Eeehhh … Masih ada bekas airmata. Rupanya Mas menangis. Anakku ini waktu TK memang cetek airmatanya. Jadi ini kejadian Mas masih TK. Aku ikut selonjoran di lantai, peluk dan pangku Mas menghadap ke wajahku. Aku elus rambut kruwelnya dan cium pipinya. Mas tersenyum walau samar, “Ibu kok lama … Pake banget! Laper nih …” Aku cuma bisa bilang lagi, “Maaf ya Mas …”

Selesai bersih-bersih badan, aku dan Mas makan siang sambil ngobrol. Cerita gimana tadi di sekolah, gimana rasanya dititipin di tetangga, dan minta Mas kasih saran gimana caranya agar tak terulang kejadian seperti tadi? Ide cemerlang dari Mas, sssttt … rahasia tidak boleh diceritakan di sini.

Salah Rumah Saat Pulang Sekolah

Sewaktu dinas di Cirebon, aku dapat rumah dinas dari kampus. Tapi sering juga mampir dan menginap di rumah Mamahku yang tinggal di komplek berdekatan dengan rumahku. Nah … Kaka sejak TK sudah ikut antar jemput mobil sekolah. Suatu hari, aku bilang kepada supir sekolah bahwa Kaka pulangnya ke rumah Mamah.

Hiiikssss … Aku tunggu hingga menjelang maghrib kok ya Kaka belum pulang juga. Ini kisah jaman aku belum punya handphone loh! Aku telpon sekolah pakai telepon rumah Mamah. Menurut pihak sekolah Kaka sudah pulang pakai mobil sekolah, sejak jam 4 sore (fullday school pulang setelah shalat ashar). Waduh! Aku tak bisa telpon supir sekolah karena dia tak punya telepon rumah.

Aku kok merasa ada yang salah … Sambil berdoa semoga Kaka baik-baik saja. Ya Allah … Jangan-jangan Kaka diantar ke rumahku. Bukan ke rumah Mamah. Langsung aku naik ke mobil dan meluncur ke rumahku. Benar! Kaka ada di halaman rumah sedang main. Pagar rumah terkunci. Aku buka dan langsung peluk Kaka yang tampak bingung. “Ibu kok gak ada di rumah? Katanya pulang sebelum Kaka pulang sekolah?”

“Maaf ya Kaka … Aduh Ibu juga bingung? Kenapa Kaka dianterin ke sini?” jawabku. Lalu Kaka cerita tadi supir sekolah bilang ada pesan kalau pulangnya ke rumah Mamah. Kaka bilang ke komplek Mamahku. Tapi supirnya tidak percaya, kan disuruhnya ke rumah Mamah, bukan ke rumah Nenek.

Miss communication lagi deh! Sering terjadi dan bikin Kaka kesal. Jadi … Kaka tuh memanggil Neneknya dengan sebutan Mamah. Maksudnya diantar ke rumah Nenek, bukan ke rumah Mamahnya yang dipanggil Ibu.

Eeehhh … Kaka ternyata digendong supir sekolah hingga bisa meloncati pagar rumah loh! Ya ampun ada-ada saja ya kisah heboh gini bikin jantungan.

Hikmah tidak ada handphone adalah lebih sering terkoneksi dan bergantung kepada pertolongan Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar. Alhamdulillah anak-anak selalu dalam lindungan-Nya.

Baca juga yuk! Cerita seru lainnya di sini:

Makna Surat Al Ashr dalam Konteks Pendidikan Anak

Standar

By Al’Ashr (the time). Verily, man is in loss, except those who believe and do righteous good deeds, and recomend one another to the truth, and recomend one another to patience. (QS. Al’Ashr : 1-3).

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran”.

Kaka, Mas dan Teteh.

Kita, masing-masing memiliki 86.400 detik. Mengapa ada beberapa orang yang mengurus organisasi atau perusahaan besar, bahkan negara dalam batas waktu seperti itu? sedangkankan yang lainnya tergopoh-gopoh, tersandung, suntuk, bahkan terjungkal dan kehabisan akal dalam pekerjaan-pekerjaan sederhana?

Trik berikut dapat membantu kita agar tetap konsisten menjalankan pengelolaan waktu.
1. Setiap tiga sampai enam bulan sekali kumpulkan catatan waktu harian dan bandingkan dengan catatan kita terdahulu;
2. Melihat kembali daftar sepuluh terbesar hal-hal pemboros waktu untuk mengidentifikasi bidang-bidang mana yang perlu dibenahi;
3. Setiap minggu memilih satu kebiasaan buruk yang ingin di hilangkan;


Aku ingin berbagi pengalaman memanfaatkan waktu bersama ketiga anakku Kaka, Mas dan Teteh.

Alhamdulillah, selama masa sekolah anak-anak ku belum ada peristiwa mereka terlambat datang ke sekolah. Kaka, Mas, dan Teteh biasa bangun jam setengah lima (sebelum adzan subuh), pernah beberapa kali setelah adzan subuh. Kami sekeluarga memiliki waktu satu setengah jam untuk mengerjakan seluruh aktifitas persiapan sekolah dan kerja.

Contoh jadwal harian keluarga :
04.30 bangun – berdoa
04.30 – 05.00 mandi, berpakaian, shalat subuh (semua sudah dilakukan sendiri / mandiri semenjak TK)
05.00 – 05.30 membuat sarapan dan bekal sekolah (Kaka sudah bisa membantu membuat sarapan, Mas membantu menemani Teteh main, atau gantian Mas bantu masak)
05.30 – 06.00 sarapan, berangkat sekolah (jemputan atau naik angkutan kota dan sudah bisa mandiri semenjak TK)
dalam waktu satu setengah jam kami sekeluarga bisa menyelinginya dengan mengobrol, mendengarkan tausiah dari radio, atau murotal Al Quran. Bila kami bisa siap lebih cepat, sebelum berangkat masih sempat main di halaman rumah sambil melihat tanaman, bunga, kupu-kupu, dan menikmati matahari serta udara pagi yang segar.

Kaka dan Mas, juga kemudian Teteh saat SD sudah terbiasa menyelesaikan pekerjaan sekolah sebelum shalat isya. Jadi, mereka bisa tidur jam delapan malam, paling lambat jam sembilan malam. Hari sekolah adalah hari tanpa televisi dan permainan komputer / game lainnya. Mereka bisa istirahat sambil membaca buku atau komik, bermain musik, mengobrol, memasak, atau olahraga ringan. Jika lalai mengerjakan pekerjaan rumah lalu harus dikerjakan pagi hari, mereka harus bangun lebih pagi lagi. Atau bila ada buku dan tugas tertinggal mereka belajar menanggung resikonya. Peringatan / hukuman dari sekolah adalah bentuk pembelajaran untuk menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab.

Penting untuk orangtua, saat anak-anak belajar di sore / malam hari jangan sekali-kali menghidupkan televisi! Matikan saja. Ganti dengan obrolan ringan, temani mereka makan atau bermain bersama. Jika memiliki PS, gameboy, komputer, laptop, dll yang berisi permainan elektronik, simpan di tempat terkunci (bila tidak cabut kabel atau tutup dengan kain / kertas karton). Buka dan sepakati pemanfaatan nya untuk hari libur sekolah / sabtu-minggu. Tapi keluarga kami tidak pernah punya PS dan gameboy.

Alternatif untuk menyalurkan energi anak-anak adalah dengan olahraga. Kaka dan Mas ikut klub karate berlatih seminggu sekali selama tiga – empat jam. Bila waktu masih luang, mereka berenang selama dua – tiga jam. Waktu istirahat sekolah mereka memilih membaca atau bermain bola / basket, bersepeda atau berlarian bersama teman-temannya.

Budaya membaca harus dikembangkan.

Bosan … Ya! benar sekali, anak-anak sering merasa bosan. Agar mereka mampu berkonsentrasi dan rileks, maka pilihlah kegiatan membaca dan mendengarkan musik untuk meningkatkan daya pikir dan daya kreasi anak-anak. Membaca dapat dilakukan sambil duduk tenang, tubuh beristirahat, hati senang, akal berkembang, … tentu kita harus ikut aktif bersama mereka membaca. Bukan di suruh membaca, tetapi temani mereka membaca. Ajaklah berdiskusi tentang apa yang mereka atau kita baca …

Yakinlah! … pendidikan dan kebiasaan dimasa kecil bagai mengukir di atas batu … kuat berakar dan menjadi akhlakul karimah kelak di masa depan.

Walau sudah berusaha mengatur waktu dengan baik, tetap saja ada behind the scene yang tak terduga.

Kaka dan Mas pernah sampai di sekolah pagi sekali, semangat dong! Sepanjang jalan ngobrol dan bercanda. Pas mau turun, mereka heboh. “Sepatu aku mana Bu?” tanya Mas. Aku mengenyitkan dahi di kursi supir. “Hhhmmm … Biasanya di mana?’ “Eeehhh … Sepatu Kaka juga gak ada!”

Mereka naik ke mobil tadi nyeker. Kaos kaki dimasukkan saku celana. Tas dipunggung dan bekal makanan di tenteng. Pasti dipikir mereka sepatu ada di mobil. Ya ampuuunnn … Aku baru ingat sepatu ada di garasi, karena kemarin sore aku cuci karpet mobil. Lupa aku masukkan ke mobil lagi. Jadi mereka turun nyeker dong! Langsung ngacir masuk kelas. Aku balik ke rumah ambil sepatu. Untung sekolah dekat saja, bisa sampai di sekolah sebelum bel berdering.

Pengalaman lain saat Teteh gak bawa tas ke sekolah, karena tasnya lupa aku taruh di ruang tamu. Jadi ada kebiasaan Teteh kalau pulang sekolah dan tidak ada PR, dia gak nurunin tas. Jadi sudah sepakat kalau urusan turun naik tas itu tanggung jawab sendiri. Entah kenapa, aku kok ya malah nurunin tas Teteh bersama barang belanjaan.

Pas Teteh mau turun dari mobil sibuk dong cari tasnya. “Ibu … Tas aku mana?” Mukanya cemas gitu. Aku malah jawab, “Ada di kursi belakang kali Teh, coba cari!” Tapi aku sambil mikir … Dan aammmpuuunnn … Baru ngeh iya ya tas Teteh ada di rumah. Aduuhhh … Sekolah Teteh jauh dari rumah. Jadi aku telpon ojek langganan dan minta dia ke rumah untuk ambil tas Teteh. Untung aja suami masih di rumah. Drama ketinggalan tas pun berakhir manis, walau Teteh tadi sempat nangis. Dan aku minta maaf karena melakukan hal di luar perjanjian.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Berdaya dan Bahagia Sebagai Ibu

Standar

Pernahkah teman mendapat pertanyaan unik dari anaknya? Seperti anakku bungsu, Teteh bertanya tadi pagi : “Bu … apa sih pekerjaan Ibu?” He3 … Ada-ada saja nih! Kalau di KTP tertulis ‘Mengurus Rumah Tangga’.

“Sesungguhnya pekerjaan Ibu buuuaaannnyyyaaak sekali Teh … Mau tahu?” tanyaku sambil tersenyum lebar.

Selain mengurus rumah tangga. Ibu mu ini, adalah arsitek, tugasnya merancang bangunan seperti rumah, masjid, atau gedung. Pernah juga mengawasi pembangunan apartemen. Proyek pembangunan itu butuh diawasi. Jadi kadang bekerja hingga larut malam. Berdebu dan panas. Bergaul dengan para tukang sekaligus bersama para pemilik modal.

Ibu dosen di perguruan tinggi, pernah menjadi Direktur Akademi AP-CIC Cirebon. Selain mengajar, dosen itu harus menulis jurnal dan melakukan pengabdian kepada masyarakat. Ibu ikut menjadi peneliti dan sukarelawan di sebuah LSM. juga menjadi narasumber seminar atau sekedar sebagai moderator. Sebelum Teteh lahir, Ibu aktif di Partai Amanat Nasional, dan menjadi caleg DPR RI juga balon Walikota.

Saat Teteh masih di perut, Ibu menjadi relawan di Posyandu dan PAUD (menemani anak-anak usia 2-4 tahun bermain sambil belajar). Saat Teteh berumur 2 tahun, Ibu menghidupkan lagi sebuah TK yang mati suri. Bersyukur TK itu sampai kini masih beroperasi.

Waktu luang Ibu isi dengan membaca dan menulis. Ibu paling senang bila diundang workshop dan lokakarya Apalagi kalau di luar kota dan menginap di hotel, bisa sekalian refresing. Selain berbagi ilmu, juga ikut program perbaikan gizi ha3 … Makanan hotel kan enak-enak yah?

Ibu tidak semata bekerja. Namun, Ibu ingin berkarya. Makanya Ibu tak terlalu risau dengan gaji, upah, atau imbalan materi. Pengalaman mengajarkan rezeki bisa datang dari mana saja. Termasuk dari tempat yang tidak disangka-sangka.

Walau Ibu sepertinya sibuk. Teteh … tenang saja! Tak terbersit niat mengabaikan kalian. Kaka, Mas, dan Teteh tetap nomor satu. Bapa juga nomor satu.

Buktinya sambil menulis, (paling asyik ya menulis di kompasiana.com dan wordpress.com) Ibu tetap menemani Teteh belajar, tilawah dan menghafal Al Quran, serta menggambar, memotret, membuat kriya bersama.

Ibu senang menemani Teteh ke toko buku. Kita membeli buku cerita, majalah, novel, dan alat melukis. Teteh ikut Ibu workshop di Cirebon, dilanjut wisata kuliner mencicipi mie koclok dan empal gentong yang sedap.  Oya, kita sering berenang dan bersepeda bersama kan?

Nah … Beruntung Ibu tak suka nonton sinetron, infotaimen/gosip, dan ngerumpi. Satu lagi! Ibu hampir lupa kalau (maaf ya Teh …) tak begitu suka memasak. Tapi, Ibu tahu loh! Teteh pasti suka dibuatkan ayam kecap, spaghetti bologne, makroni skotel, gadon daging, dan puding susu. Iya … Insya Allah Ibu bisa!

Waktu Teteh TK, Ibu mendapat amanat sebagai Deputi Rektor di ISIF, Dewan Kebijakan di Fahmina Institute, dan mengajar di AP-CIC di kota Cirebon, walau sudah tinggal di Jakarta. Ibu dipercaya merancang ‘faceoff‘ Rumah Pintar di Kebayoran Baru, aula kampus ISIF di Cirebon, dan renovasi sekolah Yayasan Mambaul Ula Jakarta sebagai bentuk kerja sosial kemasyarakatan.

Entah mengapa? Ibu terpilih menjadi pengurus WOTK – Komite sekolah. dan aktif berjumpa guru-guru, Kepala Sekolah, dan orangtua siswa. Setelah Teteh makin mandiri, Ibu bisa ikut kajian di berbagai tempat dan belajar tahsin AlQuran di AlUtsmani.

Menjadi Ibu berdaya itu keharusan, merasa bahagia itu pilihan. Bersyukurlah bila keduanya berpadu serasi, berdaya dan bahagia sebagai Ibu.

Wawancara di Tabloid Wanita Indonesia tahun 2005.
Tahun 2002 di koran Radar Cirebon.
Artikelku terbit tahun 2003 di Majalah AyahBunda.
Narasumber seminar parenting.
Moderator seminar pendidikan.
Wawancara tahun 2013 di Tabloid Wanita Indonesia.
Aktifis partai PAN.
Peserta workshop UNDP.
Berjumpa Ibu Negara Ainun Habibie.
Berjumpa teman dari Papua pada acara Kompasianival.
Cerita Sampul Majalah NooR.
Cover Majalah NooR edisi Juni 2006.

Ada artikel menarik lainnya di link berikut, sila disimak:

Kenangan Indah Bersama 3 Anakku

Standar

Bila harus menulis tentang Ibu, aku senang sekali. Perjalanan menjalankan amanah terhadap tiga anak sangat luar biasa.

Sebagai perempuan, kiprahnya sangat beragam. Mulai dari Wakil Direktur Fahmina Institute, Direktur Akademi Perdagangan Widya Dharma (APWD) Cirebon, Wakil Ketua DPD PAN Kota Cirebon, hingga pernah menjadi Caleg DPR RI dan calon Walikota Cirebon. Tapi coba tanya apa profesi utamanya, dengan tegas ia akan menjawab, ‘Saya seorang Ibu, Yang lainnya profesi sampingan.” Dewi Laily Purnamasari : Ibu Profesional (dikutip dari majalah NOOR edisi Juni 2006). 

Kaka, Mas, dan Teteh umur satu bulan.

Ibu adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu juga CEO di dalam rumahtangganya. Ibu sebagai co-pilot dari pesawat bernama pernikahan bersama suami bekerjasama menerbangkan cita-cita setinggi langit. Sukses dunia akhirat, bahagia hingga kelak sampai di surga-Nya yang terindah.

Aku berupaya mencari ilmu tentang pengasuhan dan pendidikan keluarga, memahami, lalu menjalankannya. Berguru kepada orang berilmu, hadir dalam majelis, membaca Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan peran Ibu sangatlah penting. Membaca buku terkait pendidikan anak, kesehatan, lingkungan, psikologi, teknologi, sosial-ekonomi-hukum, bahkan politik pun harus terus dilakukan.

Ada yang bertanya, mengapa harus membaca buku politik? Apa iya terkait pendidikan anak? Menurutku iya! Karena politik juga penting dalam kehidupan, banyak tata laksana berkehidupan terkait pendidikan pasti juga ditentukan oleh kebijakan politik. Jangan alergi dengan politik ya …

Kaka dan Mas jaman kecil sering aku ajak main di kantor LSM dan sekretariat partai.

Ada kisah menarik tentang dua anakku yang laki-laki. Mereka adalah anak yang mudah beradaptasi. Kaka dan Mas sering aku ajak seminar, lokakarya, dan diskusi baik di dalam maupun di luar kota. Mereka sudah aku bawa bahkan sejak dalam kandungan. Mungkin karena pengalaman ikut kegiatanku di usia sangat dini, mereka jadi terbiasa dan enjoy. Selama perjalanan menuju lokasi, aku ajak mereka melakukan permainan, bernyanyi bersama, menghafal doa dan ayat Al Quran. Tentu aku selalu membawakan buku-buku bacaan dan alat gambar. Bersyukur, mereka tidak rewel dan terlihat mudah menyesuaikan diri. Selesai acara, kami mencoba mengenal lingkungan baru seperti bangunan, makanan dan minuman, jenis busana, kerajinan tangan, bahasa daerah. Semua berguna untuk menambah pengetahuan dan pengalaman.

Begitupun anak bungsuku, Teteh. Gadis cilik yang sangat enerjik dan lincah. Dia sangat senang bermain di luar rumah. Aku menyempatkan diri pergi berdua saja dengannya. Oya … Teteh usianya jauh dari Kaka dan Mas. Mereka sudah masuk pesantren di luar kota.

Teteh jadi teman Ibu traveling.

Aku dan Teteh beberapa kali ke luar kota, naik kereta api atau pesawat, Teteh sangat menikmati perjalanan. Banyak kenangan indah dengan Teteh selama bepergian berdua. Pernah waktu di Solo hampir setiap hari Teteh minta naik odong-odong di alun-alun Keraton. Boncengan naik sepeda atau keliling kota naik becak. Teteh minta berhenti di depan kandang kebo bule hi3 … Antusias sekali Teteh memberi makan kangkung beberapa ikat. 

Teteh juga menemani aku mengajar di kampus Cirebon. Kadang ikut ke dalam kelas atau menunggu di ruang dosen sambil membaca buku dan menggambar. Teteh pernah aku ajak mengikuti seminar Internasional, pesertanya dari berbagai negara. Kebetulan panitia memperbolehkan Teteh ikut duduk di bangku peserta. Selama berjam-jam acara, Teteh anteng, tentu saja sambil membaca buku dan menggambar, bahkan sepertinya ikut menyimak paparan narasumber dalam bahasa Inggris. Entah mengerti atau tidak?

Alhamdulillah … Ya Allah Yang Maha Suci, Maha Pencipta Yang Paling Baik, aku dianugerahi anak-anak yang sehat, cerdas, dan baik. Semoga aku mampu bersyukur sebagaimana Engkau telah memberikan doa dalam Al Quran “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh aku termasuk orang muslim.” (QS. Al Ahqaf 46 : 15).

Buku Favoritku, Khadijah dan Aisyah

Standar

Alhamdulillah di akhir pekan membaca buku berjudul ‘Khadijah – The True Love Story of Muhammad SAW’. Di pekan lain aku membaca buku berjudul ‘Aisyah – The Greatest Women in Islam’.

Buku karya Abdul Mun’im Muhammad yang diterbitkan Cordoba.
Sulaiman an-Nadawi menulis buku ini yang diterbitkan oleh Qisthi Press.

Semoga membuatku istiqamah di jalan-Mu menjadi penerang bagi sesama dengan kebaikan dan akhlak mulia. Pintaku selalu kelak berjumpa dengan-Mu. Dengan panggilan “Wahai jiwa yang tenang! kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. Al Fajr 89 : 27 – 30).

Menjelajah untaian kata dalam buku-buku ini Insya Allah akan menguatkan kita sebagai perempuan yang telah diberi keutamaan oleh Allah Yang Maha Adil lagi Maha Mulia.

Perempuan dalam Islam sejatinya sangat bermartabat, dihargai, diberikan ruang untuk beramal kebajikan seluas-luasnya. Islam memberikan jalan cahaya bagi perempuan untuk menjadi manusia paripurna -insan kamil- yang selamat dan bahagia dunia akhirat. Maka, seharusnya kita mendudukkan banyak pejuang perempuan dalam khasanah sejarah sebagai pahlawan. Tidak hanya satu dua saja : begitupun tentu banyak pahlawan dalam kehidupan kita semisal ibu, nenek, guru-guru perempuan, sahabat juga rekan kerja.

Semoga Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Pemurah menjadikan kita perempuan yang selalu diberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga mampu menebar kebaikan bagi sesama juga semesta.

Aamiin ya Rabbal’alamin

Membaca buku di akhir pekan sangat menyenangkan.

Karya Tulis Maryam Terbit di NatGeo Kids Indonesia

Standar

Anakku bungsu, Teteh : Maryam Aliyya Al Kindi memiliki pengalaman mengirim tulisan ke sebuah majalah anak. Teteh sudah senang melihat-lihat buku sejak usia balita, bahkan waktu taman kanak-kanak sudah bisa membaca sendiri. Hobi lainnya adalah berpetualang di alam terbuka. “Seru!” begitu alasan Teteh jika main di ruang terbuka. 

Teteh menjelajah kaki gunung Merapi.

Saat liburan tiba, kami sekeluarga lebih memilih berburu tempat liburan di luar ruang. Kami menjelajah kaki gunung, air terjun, kebun teh, hutan pinus, sungai, danau, juga jalan setapak di pedesaan. Tak lupa kami juga menyusuri pematang sawah dan menikmati kehidupan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota Jakarta.

Nah … Salah satu tempat menjelajah yang keren adalah kaki Merapi. Teteh senang bertafakur alam di sana. Pamannya yang ahli geologi menjadi tutor selama kami menjelajah bebatuan dan pasir hasil letusan merapi. Betapa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa membuktikan betapa mudah saja bagi-Nya untuk mengguncangkan bumi dengan ‘batuk-batuk-nya gunung. Semburan asap panas pun dapat menghanguskan segala yang diterpanya.

Keasyikan makin memuncak karena kami harus menaiki jeep terbuka untuk sampai di lokasi dekat bunker. Wuih … Teteh malahan tertawa gembira ketika jeep yang dikemudikan sengaja mencari rute ekstrem : berguncang-guncang dan meliuk-liuk.

Inilah tulisan Teteh yang terbit di Majalah National Geographic Kids Indonesia.

Judul artikel karya Teteh Menjelajah Kaki Merapi. Saat mengirimkan tulisan ini, Teteh baru berumur 7 tahun.

Teteh girang sekali sewaktu datang paket berisi hadiah kaos keren dan bukti terbit di majalah yang dikirim oleh redaksi.

Hadiahnya kaos keren sekali.

Doa Keluar Dari Kegelapan dan Kesusahan

Standar

Do’a dan dzikir mempunyai kedudukan yang tinggi dalam agama dan tempat yang istimewa dalam hati hamba yang beriman. Tiada terkira kenikmatan, karunia, dan anugerah dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya.

Allah Mahabesar lagi Mahakuasa.

Selepas bersujud kepada Illahi Rabbi, Allah Yang Mahamulia lagi Mahaadil berdo’alah dengan kesungguhan hati. “Ya Rabb-ku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih. (QS. An-Naml : 19).

Dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaaf ayat 15, Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Pengampun mengajarkan do’a yang begitu indah. “Ya Rabb-ku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali’Imran : 8).

Rasa gelap gulita bagai berada di lautan dalam : tertimbun gelombang bergulung-gulung berlapis-lapis. Kita semua pernah merasakannya bukan? Rasa sesak di dada … Resah, sumpek, ‘galau‘, ‘bete‘, kecewa, sedih, gelisah bahkan dengki, iri, dan dendam pun kadang bersarang di sana. Hendak kemana kita mencari cahaya untuk menerangi gelap gulitanya hati?

Hingar bingar dan dentam musik di ruang diskotik atau lantunan lagu di ruang karaoke tak jua melipurnya. Pemandangan indah, pelayanan mewah, bahkan suguhan beragam kenikmatan tak dapat mengusir gelap gulita yang makin menyiksa. Oh … Memang hati suratannya bukan diterangi oleh kepalsuan dunia. Hati adalah ciptaan Allah Yang Mahabesar lagi Mahaagung tentu harus diterangi dengan kemuliaan.

Sebagaimana Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah memberikan petunjuk-Nya kepada kita : ‘Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkati, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur, dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya d atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang.’ (QS. An Nur 24 : 35-36).

Begitu benderang petunjuk-Nya. Kita memang terkadang lalai untuk berusaha menggapai cahaya-Nya. Hidup dan kehidupan kita di dunia ini hanyalah sekejap saja. Lalu, bila yang sekejap itu hanya berisi kegelapan, alangkah meruginya kita. Namun, bila cahaya-Nya menerangi jalan sepanjang hayat dikandung badan, tentulah kebahagiaan akan kita dapatkan baik di dunia maupun kelak di akhirat.

‘Milik Allahlah apa yang di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahakaya, Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena-pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi), setelah (kering)nya niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.  Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Luqman 31 : 26-30).

Artikel menarik lainnya sila mampir di link berikut:

Mamah Tak Pernah Menyuruh Belajar

Standar

Masa sih??? Mana ada Mamah (atau orangtua) yang tak cerewet menyuruh anak-anaknya belajar. Malah ada loh Mamah yang menyuruh pakai mulut plus jari-jari untuk menjewer atau mencubit anak-anaknya : agar mau belajar. Bahkan lebih heboh lagi pakai kata-kata ancaman seperti (maaf … adegan ini tidak untuk ditiru he3 …). “Ayo belajar! Nanti b*g* loh! Mau jadi tukang b*c*?”

Waduh … Apakah anda orangtua seperti itu? Mamahku, Hj. Tuti Sulastri, SH. MH hingga diusianya yang ke-65 tetap energik mengajar di Fakultas Hukum Unswagati Cirebon. Kini Mamah sudah pensiun, namun tetap sehat diusianya yang ke-70, kisahnya ada di sini https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2020/11/28/barakallah-mamahku-diusia-70-tahun-awet-cantik/ .

Mamah diusia ke-70 awet cantik dan semoga senantiasa sehat.

Nah … Mamahku tercinta tak pernah menyuruh belajar dengan cara-cara di atas. Mau tahu dengan gaya seperti apa beliau mengajak aku dan keempat adik-adikku belajar ? Beliau mengajak bukan menyuruh. Mamah rela, ikhlas, dan sabar menemani belajar. Bahkan membuatkan minuman dan cemilan sebagai bonus agar kami semangat belajar.

Lebih hebat lagi! Mamah tetap rajin belajar dan mulai kuliah saat berusia 45 tahun. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjananya bersamaan dengan adikku nomor empat, diusianya yang ke-50 tahun. Tak berhenti sampai sarjana. Beliau tidak menyuruh kami terus belajar tanpa memberi teladan. Mamah kuliah lagi pascasarjana dan lulus magister hukum pada usia 55 tahun.

Semangat belajarnya tak pernah pupus, tak lekang ditelan kesibukannya mengurus, mendidik, dan merawat kelima anak-anaknya. Beliau mengisi hari-harinya dengan aktif mengajar di kampus. Juga tak pernah menyuruh mahasiswanya belajar. Sebagai dosen, Mamah memberikan bukti nyata bahwa belajar harus menjadi panggilan jiwa. Belajar tak mengenal usia senja. Mahasiswa terpacu dan malu bila malas belajar, karena dosennya telah berbuat lebih dari sekedar nasihat kata-kata.

Mamah, Bapak, aku dan empat orang adikku (tiga perempuan dan satu laki-laki).

Kami berlima, sangat bangga kepada Mamah. Beliau terus memberikan semangat agar kami belajar tidak hanya di bangku sekolah dan kampus. Lebih penting belajar di dunia nyata bersama masyarakat dan lingkungan. Alhamdulillah aku lulus sebagai sarjana arsitektur dari ITB diusia 23 tahun dan menyelesaikan studi S2 diusia 27 tahun. Adik keduaku, bergelar MM dari Unsoed. Adik nomor tiga telah meraih gelar Doktor di bidang lingkungan dari UGM. Sedangkan adik keempat, seorang dokter dengan ilmu lanjutan Magister Kesehatan di UI. Adik bungsu menempuh sekolah pascasarjana manajemen dan bergelar M.Si di Unsoed.

Jazakillah khayr Mamah tercinta … Juga tak lupa Bapak (almarhum) tersayang. Teladan kalian semoga diberi hadiah surga-Nya yang terindah oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.

Kaka, Mas dan Teteh.

Aku pun berusaha menerapkan kepada ketiga anakku, bahwa bahagia belajar itu lebih penting dari merdeka belajar. Seperti dalam artikel ini https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/01/19/bahagia-belajar-lebih-penting-dari-merdeka-belajar/ . Belajar tidak karena disuruh orang lain, namun karena kecintaan kepada ilmu. Semoga kelak ilmunya bermanfaat bagi kemashlahatan umat manusia, berkah dunia akhirat, dan menjadi jalan kebaikan apapun profesinya.

Kaka, anakku sulung adalah sarjana Peternakan alumni Unpad. Insya Allah tahun ini melanjutkan S2 Entrepreneur di SBM ITB. Mas, anakku kedua sedang kuliah di Planologi ITB semester 6. Sedang anak bungsuku, Teteh duduk di kelas 7 SMP Quran. Teteh sedang berjuang menyelesaikan ziyadah Alquran 20 juz dan mutqin 5 juz di semester ini.

Barakallah, anak-anak kesayangan Ibu dan Bapak … Aku bahagia sebagai ibu, kisahnya ada di sini https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/04/14/berbagi-kisah-inspiratif/ Semoga Allah Yang Maha Terpuji lagi Maha Bijaksana memudahkan segala urusan kalian. Membukakan jalan, menerangi akal, melapangkan hati, dan meridhoi segala usaha kalian dalam menuntut ilmu.

Pose tahun 2008, saat Teteh baru berumur 6 bulan, sedang umur Kaka 12 tahun dan Mas 8 tahun.

Alhamdulillah … Tentu, aku pun sangat bersyukur ditemani suami yang baik hati dalam mendidik Kaka, Mas, dan Teteh. Semoga kelak kami berkumpul kembali di surga-Nya, bersama orang-orang shalih, berjumpa Rasulullah SAW dan dapat menatap wajah Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aamiin.