Monthly Archives: Juli 2021

Inilah Dua Cara Mencintai Indonesia Dengan Sederhana

Standar

Sebagai bagian dari semangat menuliskan tema tantangan Indonesia yang beragam, maka  berkisah tentang cara mencintai Indonesia dengan sederhana ini aku pilih. Ya … Mencinta Indonesia adalah ungkapan rasa syukur atas anugerah sebuah negeri indah dari Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa. Dua cara sederhana yang aku coba lakukan sebagai tanda cintaku kepada tanah airku Indonesia … Negeri elok amat kucinta … Tanah tumpah darahku yang mulia …

Pertama Menjelajah Alam Negeri Sendiri

Aku dan keluarga lebih memilih wisata dalam negeri sebagai tanda syukur atas karunia keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Gunung, lembah, sungai, pantai, laut, pulau, kota dan desa di Indonesia sungguh kaya ragam bentang alam dan sangat menarik untuk dipelajari.

Alhamdulillah kami bisa mengunjungi Danau Toba dan air tejun Bah Biak Sumatra Utara, Sungai Batanghari Jambi, Gunung Merapi Jawa Tengah, Pulau Sempu Jawa Timur, Pantai Kuta dan Sanur Bali, Pulau Gili Trawangan Lombok, Sungai Mahakam Samarinda, Kawah Putih Ciwidey, dan Gunung Bromo Jawa Timur.

Kami berkesempatan menjejakkan kaki di Pulau Komodo NTT, Pantai Losari dan Laut Bunaken di Sulawesi, Pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, Gunung Kerinci di Lombok, Pulau Belitung, Kota Jayapura, Pulau Weh, Pantai Anyer, dan Kepulauan Seribu.

Tak ketinggalan kami juga mengunjungi Kaliurang Yogyakarta, Danau Sarangan Magetan, Kawasan Baturaden Purwokerto, Wisata alam Linggarjati Kuningan, Kota Brastagi, Bukit Sekipan Tawangmangu, Mata air panas Ciater Subang, Kebun Raya Bogor dan Cibodas.

Inilah parade foto-foto sebagai tandamata betapa eloknya zamrud katulistiwa.

Air terjun Bah Biak. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/07/29/terpikat-indahnya-air-terjun-bah-biak-dan-kebun-teh-sidamanik/
Indahnya Danau Toba. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5b87c8ddc112fe794541fcd6/terdampar-dalam-indahnya-danau-toba
Berada di Taman Nasional Komodo terasa menembus lorong waktu. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/56e91820c823bd59107c5e7c/indahnya-pulau-komodo-dan-pantai-pink
Pulau Belitung nan cantik. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5994526fda56da559978e2e2/cantiknya-belitung
Kawah Putih Ciwidey. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5a644550dcad5b03134f01e2/kawah-putih-ciwidey-yang-legendaris

Kedua Memberi Empati Kepada Sesama

Blusukan di kawasan kota tua, mengunjungi museum, pasar tradisional, dan bangunan bersejarah sering aku lakukan bersama anak-anak. Hal ini agar mereka bisa belajar lebih dalam tentang keruangan Indonesia yang membentang dari ujung Barat di Pulau Weh hingga di Timur Merouke. Dengan mempelajari sejarah diharapkan dapat meningkatkan rasa cinta kepada negeri ini. Tentu sambil mengamati tata kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

Berjumpa teman dari Papua. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fa285a6d541df236b13a422/supraise-bisa-jumpa-om-tjip-dan-tante-lina

Aku memiliki teman dari Papua, Aceh, Palembang, Padang, Medan, Bali, Lombok, Palangkaraya, Makasar, dan Samarinda. Aku dan suami juga dari suku berbeda Sunda dan Jawa. Semoga kami akan lebih berempati kepada sesama tanpa membedakan agama, suku, bangsa, dan budaya. Mengapa penting berempati kepada sesama? Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang bermartabat, selalu menjaga kerukunan, saling menghormati dan menghargai keberagaman yang ada.

Kawasan Kota Tua Jakarta. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5a914ab0f133447a090ece22/merajut-cinta-di-kota-tua-jakarta

Oya … Ini beberapa museum yang pernah kami kunjungi di Jakarta adalah Museum Gajah, Monumen Nasional, Museum Wayang, Museum Fatahilah, Museum Bank Mandiri, Museum Satria Mandala, semua museum di TMII, dan Museum Macan. Saat mengunjungi Kebun Raya Bogor tak lupa mampir ke Museum Zoologi.

Kami berkunjung ke Keraton Kesepuhan dan Masjid Sang Ciptarasa saat menjenguk Mamahku di Cirebon. Saat silaturahim dengan kerabat di Solo kami berkunjung ke Keraton Surakarta, Museum Keris, Museum The Heritage Palace, Museum Sangiran, Museum Astiri Tawangmangu, dan Museum Gula Klaten.

Lawang Sewu Semarang. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5ef47bc3097f364098515f03/foto-foto-keren-di-lawang-sewu

Di Yogyakarta kami berkunjung ke Museum Monumen Yogya Kembali, Museum D’Mata, Museum Gunungapi Merapi, Museum Benteng Vredeburg, Masjid Agung, dan Keraton Yogyakarta. Tak lupa berkunjung ke Museum Kereta Api Ambarawa, Kota Tua dan Lawang Sewu Semarang, Candi Borobudur, Masjid Demak dan Masjid Kudus warisan Walisanga.

Museum Perangko, Museum Geologi, Museum Konfrensi Asia Afrika, Gedung Sate, dan kampus tercinta ITB di Bandung telah kami kunjungi. Tempat keren lainnya adalah Museum Batak TB Silalhi Toba Samosir, Museum Simalungun Pematang Siantar, Museum Kata Andrea Hirata dan Museum Budaya Belitung. Juga Museum Sriwijaya Pulau Kemaro dan Museum Al-Quran Palembang serta Museum Tsunami Aceh.

Masjid Demak. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2020/12/18/uji-nyali-nyupir-10-hari-keliling-jawa/
Borobudur. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fcb6bf7d541df594e50a412/misteri-gunadharma-arsitek-borobudur
Belajar berempati kepada sesama. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/551aac66a33311a521b65932/perempuan-bercerita-lansia-perkasa-di-tawangmangu

Bagaimana menumbuhkan empati dari berkunjung ke museum?

Terpikat Indahnya Air Terjun Bah Biak dan Kebun Teh Sidamanik

Standar

Anakku bungsu, Teteh senang sekali ikut dalam perjalanan kali ini. Ya tak apalah ijin untuk tidak masuk sekolah. Tapi tetap bisa belajar tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia secara langsung. Aku berkunjung ke Kabupaten Simalungun Sumatra Utara yang menyimpan banyak pesona keindahan alam. Sungguh bersyukur bisa menikmatinya ketika berkesempatan meninjau sebuah proyek pembangunan gedung. 

Teteh bermain di kebun teh Sidamanik. Ada yang tahu ini hewan apa ya jadi boneka simbol Asia Games? Teteh membeli di Kebun Binatang Siantar kemarin sore.

Aku memilih menginap di sebuah hotel kecil yang nyaman dan bersih. Sesuailah dengan anggaran sekitar Rp. 500.000,- per malam. Nah … Saat akan menyewa mobil komplit dengan drivernya untuk menjelajah tempat wisata alam di sekitar Pematang Siantar, aku chat dengan teman ITB 89. Dewi namanya he3 … Sama ya. Dia tingagl di Medan dan bisa merekomendasikan tempat penyewaan mobil yang aman dan nyaman.

Sebelum terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Kualanamu, aku searching Google. Aku mencari tahu tempat wisata yang terjangkau secara jarak dan waktu di sekitar Pematang Siantar. Berhubung waktuku juga tidak lama hanya 2 hari saja. Akhirnya aku terkesan dan memilih akan mengunjungi perkebunan teh Sidamanik dan air terjun Bah Biak juga Kebun Binatang Siantar.

Hari pertama setelah urusan kantor selesai pagi hari, aku ajak Teteh mampir sebentar ke Kebun Binatang Siantar. Lanjut sorenya menyelesaikan tugas kantor lagi hingga malam hari.

Hari kedua pagi-pagi setelah sarapan di hotel, kami segera berangkat agar bisa menikmati udara sejuk dan segar sepanjang perjalanan. Mobil menelusuri jalanan yang cukup sepi. Di kiri kanan tampak perkampungan penduduk dengan rumah kayu yang asri. Kata Teteh “Sepi amat ya Bu … Gak ada macet hi3 …”. Begitulah salah satu kenikmatan menjelajah kota-kota di luar Jakarta adalah anti macet.

Senangnya memandang keluar jendela mobil. Tampak di halaman rumah banyak ditanam pohon kopi dan buah-buahan. Kadang diselingi kebun palawija. Beberapa ibu terlihat sedang menjemur pakaian. Ketika melewati sebuah sekolah dasar, halaman tampak sepi. Ooohhh … Rupanya mereka sedang berada di dalam kelas.

Teteh berkomentar “Asyik juga ya aku boleh ijin jalan-jalan ikut Ibu. Teman-temanku juga pastinya sedang berada dalam kelas. Eeehhh … Kangen deh sama Nanas temenku.” “Waduh … Baru saja sehari tidak jumpa sudah kangen teman-teman sekolah.” kataku sambil tertawa geli.

Akhirnya sampai juga di perkebunan teh Sidamanik. Hamparan tanaman teh bagai permadani hijau dengan latar pegunungan Bukit Barisan.  Langit biru cerah berhias awan putih menambah cantik. 

Tampak latar Bukit Barisan yang indah dihias langit biru cerah.

Angin semilir membelai wajah dan menerpa jilbab kami. Sungguh suasana yang membuat hati ini tertawan. Kebun teh Sidamanik sudah ada sejak tahun 1926, memiliki luas mencapai 8.373 hektare dan menjadi bagian dari PTPN IV.

Kebun teh ini disebut sebagai perkebunan terbaik kedua di Indonesia. Bahkan, hasil panennya diekspor hingga ke wilayah Eropa Timur, Eropa Tengah, Singapura, dan Malaysia. Juga diminati oleh negara Timur Tengah seperti Syiria, Mesir, Iran, dan Irak).

Produksi teh dari pabrik PTPN IV Sidamanik.

Kebun teh Sidamanik memiliki luas sekitar 8 ribu hektar lebih dan menjadi perkebunan terbaik kedua di Indonesia. Hasil perkebunan di ekspor ke beberapa negara diantaranya Singapura, Malaysia, negara Eropa Timur dan Eropa Tengah. Bila datang pagi hari sekali akan bertemu dengan para pemetik teh. 

Cantik sekali air terjun Bah Biak dengan kolam-kolam di sekitarnya untuk bermain air. Masyaallah …

Namun Aku memilih mendatangi dulu air terjun. Teteh sudah tak sabar ingin main air. Ha3 … Oke lah kalau begitu. Kami menuruni tangga menuju lokasi air terjun. Di sekitar air terjun ada kolam yang bisa digunakan pengunjung untuk berendam dan bermain air sepuasnya. Menurutku kebersihan cukup terjaga dengan adanya banyak tempat sampah dan beberapa petugas kebersihan.

Alhamdulillah … Seru loh! Main air di sini betah sekali.
Airnya sejuk dan segar.

Deretan kios makanan dan minuman sederhana juga tersedia. Jadi pengunjung bisa menikmati kopi dan teh manis hangat sambil mendengarkan suara gemercik dan meihat sesekali pelangi dari percikan air terjun. Aku memesan kopi dan mie rebus. Sedangkan Teteh memesan es teh manis dan mie goreng. Harga cukup terjangkau.

Masih betah nih? … Kuy lah ngemil dulu ya Teh. Menikmati air terjun sambil menyeruput kopi itu sangat menyenangkan.

Setelah Teteh puas bermain air, kami kembali ke parkiran mobil. Sebelum beranjak meninggalkan lokasi berfoto sekali lagi. Asli deh! Rasanya kepingin terus mengambil gambar setiap sudut perkebunan teh yang elok ini. Aku juga sempat membeli teh produksi asli dari perkebunan Sidamanik. 

Yuk! Mampir juga di artikel menarik lainnya:

Silaturahmi Bersama Bu Marti, Penuh Kehangatan dan Keakraban

Standar
Artikel di blog ini adalah kumpulan tulisan yang akan dibukukan oleh Keluarga Bani Tafsir Anom V.

Penulis : Abu Bakar Akbar

Setelah menempuh perjalanan Solo-Bandung dengan kereta api dan menginap semalam, Saya dan Ibunda Sirriyah dilanjutkan perjalanan Bandung-Jakarta dengan mobil. Sampailah kami dikediaman Ibu Marti, di Cirendeu Jakarta Selatan. Perjalanan ini menyita waktu dan tenaga sehingga Ibunda kami kelelahan dan dipersilahkan istirahat sejenak di kediaman Ibu Marti. Sebagaimana biasanya, Ibunda akan pulih kondisinya setelah beristirahat.

Dalam berbagai kesempatan baik dengan Ibunda atau dengan anggota keluarga yang lain kami beberapa kali singgah walau sejenak di Cirendeu. Karena Ibu Marti adalah sepupu Ibunda yang akrab, maka pembicaraan cair mengalir. Ibunya Ibu Marti yakni Eyang Marfu’ ah dengan Ibunya Ibunda Sirriyah yakni Eyang Marhamah, kakak beradik nomor 9 dan nomor10 dari 10 bersaudara putra Eyang Tafsir Anom V.

Disamping kedekatan silsilah, ternyata kedekatan masa kecil mewarnai persahabatan Ibunda Sirriyah dan Ibu Kusmartiah (demikian nama lengkap Ibu Marti). Ibunda biasa memanggil dengan Yu Marti, panggilan Mbakyu disingkat dengan Yu, dalam Bahasa jawa yang ditujukan kepada wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tua urutan silsilahnya.

Kedekatan keduanya pernah diceritakan dimasa kecil, Ibunda kadang tidur siang di kediaman Ibu Marti di Kauman, kampung di sebelah Barat Kraton Kasunanan,  sementara Ibunda tinggal di Danukusuman, kampung di sebelah Selatan Kraton.

Saling memberi kabar keluarga adalah hal yang lazim dilakukan, demikian pula dalam suatu kesempatan berjumpa dengan Ibu Marti ditahun 2019. Ahad pagi kami singgah di kediaman beliau.

Bu Marti dan Pak Hardjono tampak sehat dan bugar diusia yang telah melewati 80 tahun. Masyaallah …

Dengan ditemani adinda Pak Azis dan Ibu Endah, kami bersilaturahmi. Senang sekali dapat bertemu  Ibu Kusmartiah dan Bapak Hardjono dalam keadaaan sehat. Ibu Marti dikarunia 5 (lima) putra, 3 (tiga) pria dan 2 (dua) wanita. Dan darinya telah dikaruniai cucu dan cicit. Keluarga besar Ibu Marti rutin mengadakan kegiatan mengaji  dalam suatu kesempatan kami pernah hadir di kediaman anak ke-2, mbak Titi selaku penyelenggara kegiatan.

Kedekatan dengan Ibu Marti mungkin karena gaya bicara yang mirip dengan Ibunda yang orang sering katakan  akrab dan hangat. Pada kesempatan Ahad pagi Ibu Marti bercerita tentang perjuangan beliau selesaikan pendidikan strata satu (S1) Bahasa Inggris di IKIP Rawamangun Jakarta. Dengan dorongan yang luar biasa dari Pak Hardjono yang menyatakan ada kesempatan menempuh jenjang sarjana bagi guru SMA. Walau awalnya tidak berminat mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, sehingga tentu ada berbagai kebatasan.

Salah satu keterbatasan adalah mobilitas fisik, mengingat jarak antara tempat beliau mengajar dengan kampus tidaklah dekat, belum lagi padatnya penumpang kendaraan umum yang menjadi tantangan tersendiri, dalam berbagai kesempatan ada penumpang yang memberikan tempat duduknya. Namun dalam beberapa kesempatan kacamata beliau tidak ada ditempatnya. Penuh sesaknya penumpang bis kota, menyebabkan kacamata Ibu Marti terjatuh di dalam bis kota beberapa kali. Alhamduliilah perjuangan membuahkan hasil Ibu Marti selesai menempuh pendidikan dan diwisuda sarjana di IKIP Rawamangun Jakarta.  

Tinggal di Jakarta, ibu kota negara tentu berbeda dengan kota-kota di Indonesia. Disamping luas wilayah dan kepadatan penduduk maka biaya hidup menjadi pembeda bagi penduduk yang tinggal di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Ibu Marti dalam kesempatan silatuahmi itu menceritakan tentang harapannya kepada 5 (lima) putranya untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, Alhamdulillah harapan itu terwujud.

Yang menarik adalah selama masa pengabdiannya sebagai guru Bahasa Inggris ternyata karena banyaknya siswa maka tanpa disadari ada putra beliau yag menjadi murid di kelas. Juga ada keponakan dan kerabat. Mas Koko dan Mas Uut, sulung dan bungsu di SMAN 70 sedangkan Mbak Titi, mak Nurul dan Mas Taufiq di SMAN 6 Jakarta.

Sebelum tinggal dan dinas di Jakarta, Ibu Marti pernah menjadi guru di Nahdatul Muslimat, sekolah Islam di Kauman. Salah satu siswa beliau adalah Ibu Ma’rifah binti Abdul Salam (Ibu Basit). Kedua beliau dalam kesempatan yang berbeda saling mengenang. Ibu Marti mengenang ibu Basit sebagai murid yang cerdas, sebaliknya Ibu Basit mengenang ibu Marti sebagai pendidik memberi bekal kemampuan berbahasa Inggris  yang memadai sehingga membekas sampai memberanikan diri terbang sendiri dari Denver ke Washington. Disamping Ibu Basit terus mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya di Klub Bahasa Inggris selepas pendidikan dari NDM.

Ibu Marti sudah pensiun sejak 1993, disamping putra dan putri beliau ada Mas Zaen bin Abdul Hadi Adnan dan Mas Rasydi bin Najib Issom yang pernah menjadi murid beliau, Barokalloh.

Bu Marti dan Pak Hardjono.
Eyang Marfu’ah anak ke-9 dari Eyang Tafsir Anom V.
Eyang Marhamah anak ke-10 (bungsu) dari Eyang Tafsir Anom V.
Mbak Titi menjadi ketua kelas Tahsin Akhwat BTA V yang senantiasa berusaha meneladani poro pini sepuh dalam mencintai Al-Quran. Barakallah …

Bersyukur dalam masa pandemi Covid-19 justru diberikan kemudahan untuk melaksanakan kegiatan tahsin melalui Zoom Meeting. Tampak dalam gambar ada Mbak Ira, Mbak Salmah, dan Mbak Ina istri Mas Nurhadi anak-anak dari Pak Bachit Issom. Oya … Mbak Ina yang mengajar tahsin akhwat dan Mas Nurhadi mengajar tahsin ikhwan.

Hadir juga Mbak Susi anak dari Pak Choesni. Senangnya bisa sambung silaturahmi dengan adanya tahsin ini seperti hadir juga Mbak Fitri anak Pak Nadjib Issom. Mba Nurul, Mbak Tetty anak Pak Tsabit Issom dan Mbak Yani serta Mba Win para ipar mereka. Serta adik-adik ipar saya Mbak Iin istri Pak Umar, Mbak Dewi istri Pak Aziz, dan Mbak Endah istri Pak Amir. Bahkan sesekali ada Nisa anak Pak Umar dan Affi anak Pak Amir juga ikut serta dalam kegiatan tahsin ini.
Monggo bagi kerabat BTA V (khusus akhwat) yang memiliki keluangan waktu bisa bergabung setiap hari Ahad ba’da Ashar. Bisa japri wa. Dewi 081286351123 untuk diinvite di WhatApps Group.

Baca juga artikel ini :

Kisah Perjalanan Ibadah Haji Abdul Hayi Adnan Tahun 1989 (1409 Hijriyah)

Standar
Artikel dalam blog ini akan dijadikan buku kenangan keluarga Bani Tafsir Anom V.

(Catatan: Ketika kemarin bongkar-bongkar dokumentasi, saya menemukan surat Mas Hayi almarhum, yang menceritakan pengalaman beliau ketika menunaikan ibadah haji pada akhir tahun 80-an.  Para ahli waris tentunya sudah mendapat cerita ini secara lisan, tapi tidak secara tertulis.  Mudah-mudahan salinan surat beliau ini bermanfaat, tidak saja bagi para ahli waris, tetapi bagi kita semua. Amin. –ana) Abdul Nur Adnan.

MENUNAIKAN IBADAH HAJI

Oleh: Abdul Hayi Adnan (alm.)

Keterangan foto tidak tersedia.
Suasana Masjid Nabawi.

Kami mendaftarkan haji pada akhir bulan Ramadhan 1409 Hijriyah (1 Mei 1989) sesudah kami menerima persekot rumah Babadan.  ONH dari Indonesia 1989 sebanyak Rp. 5.150.000.  Menurut cerita orang yang sudah biasa ke luar negri ongkos sekian itu sangat mahal bila dibandingkan ongkos perjalanan biasa ke AS atau ke negeri lain.  Belum lagi ada tambahan ongkos-ongkos pakaian seragam, penataran manasik haji, dll. 

Kata orang lebih murah naik haji dari AS daripada dari Indonesia.  Bagaimana pun kalau kenyataannya sudah begitu, dan sudah niat mau haji ya harus ditempuh.  Rombongan haji DIY dan Klaten diberangkatkan ke Jakarta tanggal. 10-6-1989, dan bermalam di asrama haji Pondok Gede 2 hari.

Dinihari pukul 2.45 WIB, tanggal 12-6-1989 dengan pesawat Garuda Boeing 747 rombongan kloter V (DIY, Klaten, dan sebagian Jakarta) diberangkatkan ke Jeddah.  Menurut  keterangan, 1 kloter terdiri dari kurang lebih 500 orang.  Saya tidak tahu apakah pesawat Boeing 747 jika dimuati 500 penumpang itu “overweight” atau tidak.  Yang terang tempat duduknya sangat berdempetan.  Tapi nampaknya Garuda berusaha melayani para haji itu dengan baik di bidang lain.  Kami dibekali koper, tas tentengan, payung, dan semprotan sebelum berangkat, dan ternyata payung dan semprotan itu sangat berguna di Arab Saudi. 

Tiba di Bandara Jeddah Menuju Kota Madinah

Akhirnya, pesawat mendarat di King Abdul Aziz airport pukul 9.00 waktu setempat pada hari yang sama.  Di bandara ini kami harus menunggu datangnya bus yang akan mengangkut kami ke Madinah selama 6 jam.  Selama menanti, kami duduk-duduk, berbaring di atas babut yang disediakan Pem. Arab Saudi, dan pada waktunya sholat kami sholat jamaah di tempat yang disediakan.  Tempat tunggu itu semacam kemah besar dan tinggi serta terbuka.  Karena itu, mulailah terasa angin panas yang bertiup sepoi-sepoi kering ke dalam tenda.  Baru kira-kira pk. 16.30 kami diberangkatkan ke Madinah.

Tiba di Madinah 13-6-1989 pukul 4.00 dinihari.  Sebenarnya Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi sudah berusaha meningkatkan pelayanan Jamaah Haji, namun sering jamaah itu sendiri tidak sabar.  Ini nampak ketika bus berhenti di tempat pemondokan dan ketika panitia sedang berusaha mengatur penempatan jamaah di kamar-kamar, para jamaah sudah lari menyerbu kamar-kamar pondokan untuk mencari tempat yang dianggapnya paling baik.  Di sinilah saya terpaksa dengan nafas terengah-engah menaiki tangga ke kamar di lantai 4 (tidak ada elevator) dan sebelum sampai sudah tidak kuat, ndheprok di lantai 2.  Sesudah itu terpaksa harus istirahat beberapa hari.

Kerja kami di Madinah berusaha sebanyak mungkin untuk dapat berjamaah sholat fardhu 5x setiap hari, bahkan kebanyakan orang berusaha untuk mencapai 40x jamaah (sholat arba’in).  Saya tidak bisa mencapai itu karena kesehatan yang tidak mengizinkan.  Di samping itu, waktu-waktu diisi dengan zikir, berdoa dan nderes Quran.  Tentu saja ketika pertama kali masuk Masjid Nabawi kami berziarah ke makam Nabi s.a.w. dan ke Raudhah (maqam mustajab, yakni bagian masjid, yang kalau kita mau berdoa di situ mudah dikabulkan Allah). 

Kami sangat terharu ketika pertama kali masuk Masjid Nabawi, tidak terasa  air mata meleleh bercucuran, terbayang bagaimana perjuangan rasul ketika tiba berhijrah di Madinah, mendapat sambutan yang baik sekali dari kaum Anshar.  Dari hari ke hari makin banyak jamaah  dari berbagai penjuru dunia yang datang sehingga masjid pun makin hari makin berdesakan  ketika berjamaah.  Jika kita ingin sholat shubuh, dan ingin mendapat tempat yang baik di dalam masjid (sampai ke raudah) kita harus datang awal-awal kira-kira pukul 2.00 (pagi).  Kalau ngepas hanya akan kebagian tempat di luar.

Pada suatu hari kami mendapat kesempatan untuk berziarah ke tempat-tempat bersejarah: Masjid  Quba (masjid yang pertama kali didirikan ketika Nabi tiba di Madinah), Masjid Qiblatain (beralihnya qiblat dari Baitulmaqdis ke Makkah), Bukit Uhud, dll.

Menuju Kota Makkah

Setelah 9 hari di Madinah, kami diberangkatkan lagi ke Makkah pada tanggal 22-6-1989 pukul + 01.00, dan tiba di Makkah pukul 08.00 pagi. Sopir Arab itu serba “baksis” (tip), tanpa baksis bus akan selalu mogok.  Busnya memang baik, ber-AC, dan jumlahnya cukup untuk menampung para hujjaj, tetapi toh orang-orang itu selalu berebut  dan tidak sabar.  Dari Madinah kami sudah memakai pakaian ihram meskipun sebenarnya miqatnya dari Bir Ali (10 km dari Madinah).  Sebetulnya di Bir Ali jamaah harus turun, mulai niat ihram, umrah dan mulai ihram.  Namun, berpakaian ihram sudah dimulai dari Madinah untuk menjaga mungkin sopirnya tidak mau berhenti di Bir Ali.  Betul juga, bus tidak berhenti di situ karena merasa rugi kalau harus belok dari jalan tol.

Suasana di pelataran Ka’bah Masjidl Haram.

Tiba di Makkah kami harus berebut kamar lagi.  Sebelum diizinkan masuk pondokan kami harus menunggu + 1 jam.  Di muka pondokan kami ditemui oleh  Dik Asbari (Asngadi putra almarhum Pak Badjuri Tegalsari).  Dia bekerja di Riyadh, tetapi selama musim haji memang aktif membantu jamaah haji.  Kami bahkan diberi minuman dan buah-buahan sebelum masuk pondokan (saya terpaksa harus doyan buah-buahan: apel dan jeruk sunkis kebanyakan). 

Memang di sini kita perlu  banyak minum dan makan buah-buahan  demi kesehatan fisik.  Akhirnya kami pun mendapat kamar di lantai 5 (alhamdulillah pondokan ber-AC dan ber-elevator) , tetapi kami 1 regu dipisah (ibu-ibu, termasuk Yu Dah di lantai 2, dan bapak-bapak di lantai 5).   Luas kamar 4×5 meter diisi 5 orang, sedang Yu Dah  luas kamarnya 4 x 4 meter diisi 6 orang.  Di Madinah kamarnya 2x luas kamar di Makkah sehingga regu kami 11 orang dapat masuk dalam satu kamar.  Semua tidur di atas kasur busa yang tipis.  Untuk makan setiap hari kami masak sendiri (dimasakkah oleh ibu-ibu), biaya ditanggung bersama secara beriur.  Namun, ketika kami pertama kali tiba di Madinah kami diberi jatah oleh Panitia berupa bahan makanan: beras, supermi, garam, gula, kopi, teh.

Persediaan air di Arab Saudi cukup melimpah.  Sore hari setelah tiba di Makkah kami menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf dan Sai dalam rangka umrah sebagai bagian dari ibadah haji, dengan pemandu dik Asbari dkk.  Selesai itu kami bercukur (tahallul), dan setelah  sholat Magrib kami pulang ke pondokan dan menanggalkan pakaian ihram, kembali dengan pakaian biasa.  Acara kami sehari-hari hampir sama dengan acara di Madinah.  Hanya saja di Makkah ada tambahan kegiatan umrah sunnah, sekiranya badan kuat.  Di Madinah ketika kami tiba panasnya antara 48-50 derajat Celsius.  Awal di Makkah masih sama, tetapi sedikit demi sedikit panas mulai naik, dan sampai puncaknya di Arafah dan Mina, panas mencapai 56-58 derajat Celcius.

Pemondokan jamaah haji Indonesia sekarang diurusi oleh muassasah, yakni asosiati para syeikh.  Demikian juga pengaturan perjalanan selama di Arab Saudi, sedangkan masalah ke dalam dan ibadah diurusi oleh TPHI (Tim Pembimbing Jamaah Haji), TKHI (Tim Kesehatan), TPIH (Tim Pembina Ibadah Haji) tingkat Pusat dan Daerah. Kerja Tim itu yang kami nilai paling baik ialah TKHI.  TPHI-nya dalam saat-saat jamaah memerlukan bimbingan sering kebingungan, sedang TPIH-nya dalam memberi penerangan manasik haji nampak kurang koordinasi sehingga kadang-kadang keterangan yang diberikan A berlawanan dengan yang diberikan B.  Ini dapat membingungkan jamaah dalam menentukan pelaksanaan ibadah.  Namun, dibandingkan dengan sistem Syeikh dulu, yang ini sudah lebih baik, kata mereka yang pernah haji 2-3 kali.

Berangkat Ke Arafah Untuk Wukuf

Kami diberangkatkan ke Arafah tanggal 8 Dzulhijah, bermalam di Arafah 1 malam, sedangkan esoknya tanggal 9 Dzulhijjah wuquf di Arafat, berhenti di Arafah sesudah zawal (waktu dhuhur), tafakkur, zikir, dan berdoa.  Tempat ini juga merupakan maqam mustajab.  Di sini saya juga mendoakan Pak Nur dan saudara-saudara yang lain, semoga mereka kelak dapat juga datang ke tempat ini (Tanah Suci) untuk melaksanakan rukun Islam yang ke-5. 

Malamnya (sudah masuk tanggal 10 Dzulhijah) kami diberangkatkan lagi ke Muzdalifah, mabit dan mengambil krikil untuk lempar jumrah.  Baru + 1/2 km meninggalkan Muzdalifah bus yang kami tumpangi mogok.  Di sinilah kami merasa sangat lelah, kemrungsung karena sudah menunggu 2 jam busnya belum jalan, bahkan sopirnya menghilang sehingga kami pun terpaksa menumpang bus Turki yang kebetulan lewat, dan biayanya sampai ke Mina 10 riyal seorang. 

Kegiatan Lempar Jumrah Di Mina

Tiba di Mina sudah pukul 9.00 pagi, dan panasnya mulai menyengat tubuh.  Kami masih harus mencari kemah Indonesia, dan masih harus berjalan kaki 1,5 kilometer lagi.  Akhirnya sesudah tanya sana sini ketemulah kemah kami Maktab V.  Namun badan kami sudah sangat lelah dan panas badan sudah 39 derajat Celcius.  Ketika saya akan jatuh, Yu Dah berteriak-teriak memanggil dokter sehingga hampir semua dokter yang ada di sana datang untuk menolong, dan menyemprot saya dengan air dingin.  Saya lihat di sebelah saya Pak Prof. Zamzawi Suyuti (sudah kenal Dik Nur) baru saja sadar sehabis kena heat stroke seperti saya.  Dengan demikian, lempar jumrah Aqabah terpaksa kami mintakan orang lain untuk melakukannya a.n. saya.  Esoknya tgl. 11 Zulh. kami kembali ke Makkah istirahat bersama 4 orang kawan.

Sorenya Yu Dah bersama kawan-kawan berangkat lagi ke Mina untuk lempar jumrah lagi sampai selesai dan melemparkan juga untuk saya.  Tanggal 13 Dzulhijah. semuanya sudah selesai, dan semua kembali ke Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah dan sai.  Tanggal 16 Dzulhijah. kami tawaf wada’, kemudian sorenya diberangkatkan ke Madinatul Hujjaj di Jeddah, menginap satu malam. 

Tanggal 17 Dzulhijah keliling kota Jeddah, dan akhirnya kembali ke tanah air dengan selamat tanggal 18 Dzulhijah.  Di Jakarta menginap di rumah Iwang.  Hari Ahad, tanggal 20 Dzulhijah (22-7-1989) pertemuan di rumah Mas Kewus dengan para keluarga Jakarta: Dik Hadi, Najib, dik Harjono/Marti, mas Ki dan saudara-saudaranya.  Tanggal 24 Juli 1989 kembali ke Yogya dengan kereta BIMA, dan tiba di Yogyakarta dengan selamat dijemput anak-anak dan adik-adik.  Inilah cerita haji kami yang kami usaha pendek, tapi kok ya masih panjang.  Mudah-mudahan Dik Nur sempat untuk membacanya.

Wassalam,

Kanda tercinta

Abdul Hayi Adnan

Mungkin gambar 2 orang, orang berdiri, kerudung, luar ruangan dan pohon
Pak Nur dan Bu Bid menunaikan shalat Idul Adha 1442 Hijriyah di Fort Washington, Maryland. Alhamdulillah …
Mungkin gambar 6 orang
Eyang Prof. KHR. Muhammad Adnan, ayahanda dari Pak Abdul Hayi Adnan dan Pak Abdul Nur Adnan berfoto bersama Presiden Soekarno.

Baca juga artikel ini :

Kisah Bodor Pasukan Pelupa dan Emak Imut

Standar

Suasana hari ini cerah. Aku duduk ala ‘macan’ (eeehemmm itu singkatan -manis dan cantik) ditemani sinar mentari hangat yang menyelinap lewat jendela rumah. Sesekali menarikan jemari di atas keyboard laptop tanpa mandi pagi tak apalah ya? Ha3 … Menikmati dan bersabar dalam situasi PPKM darurat Jawa Bali dengan stay at home nemenin suami tercinta WFH dan anak liburan pesantren.

Hatiku juga sedang ceria dihibur kisah seru sekaligus lucu dari member of MGN. Cerita susu beruang Teh Risna dan memori Jacob-nya Teh Deani membuatku tertawa geli dan sudah pasti dong imun meningkat. Sungguh Teh Andina sangat cerdas dan sergep bin gercep meluncurkan tema ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ kali ini tentang Cerita Lucu.

Motor Dika Hilang

Tadi sambil sarapan bareng suami (dalam keadaan belum mandi loh ya), terjadilah obrolan flashback saat sohib arsi yang panik karena motornya raib dari parkiran rumah kontrakan.

Namanya Dika, anak Palembang yang tinggi, berkacamata, jago sketsa, dan sungguh . Pagi-pagi tanpa sempat mandi, Dika pamit terburu-buru kepada suamiku (mereka satu kontrakan rumah di tepi sungai bagian Kebun Bibit Barat).

“Woooiiii … Aku jalan dulu jemput Ibu ke bandara. Tolong tutup pagar!” setengah berteriak Dika melesat dengan motornya.

Menjelang siang, Dika kembali bersama ibunya dengan segambreng kardus, tas tenteng, dan tas kresek. Suamiku dan satu teman lainnya membantu merapikan bawaan ke kamar Dika. Sepertinya ibunya Dika akan menginap agak lama di kontrakan mereka. Sore hingga malam mereka tak kemana-mana, karena sibuk menikmati berbagai makanan oleh-oleh dari ibunya Dika.

Esok hari, pagi-pagi selepas shalat subuh Dika disuruh ibunya membeli sarapan. Banyak makanan enak dipojokan pasar Balubur.

Tetiba Dika masuk lagi ke rumah. “Ada yang minjem motorku gak?” suamiku yang sedang duduk di ruang tamu menggelengkan kepala.

“Motor aku hilang!” seru Dika panik.

Suamiku keluar menuju parkiran motor. Loh! Motor Dika gak ada. Tinggal 2 motor milik suamiku dan temannya.

“Macem mana ini motorku gak ada?!” suaranya terdengar bergetar.

Memang di daerah itu sedang marak curanmor. Banyak teman ITB yang raib motornya walau pgar sudah digembok dan motor sudah dikunci ganda. Entahlah pencurinya itu hebat sekali bisa membobol dan menggondol motor dengan santai.

“Bentar … Sabar. Diinget-inget dulu kamu taruh di mana motornya?” tanya suamiku dengan gaya Solo yang kalem dan tenang.

“Ya di sini lah! Di mana lagi parkirkan emang di sini!” meninggi suara Dika.

“Ya aaammmmpuuunnn … Aduh! Motorku ada di parkiran bandara”, tetiba Dika menepuk dahi sambil geleng-geleng kepala.

“Lah … Kemarin kamu ke sini naik apa dari Bandara?” tanya suamiku.

“Kami naik taksi, kan barang Ibu banyak sekali,” jawab Dika sambil nyengir.

Akhirnya suamiku membonceng Dika menuju Bandara. Menjadi saksi teronggoknya motor Dika di parkiran basah kunyup tersiram hujan semalam. Ampun deh! Geli campur gemas punya sohib macam begini.

Asistensi Pakai Sendal Jepit dan Piyama

Mamah Gajar lulusan Arsi mesti pernah mengalami keos saat asistensi tugas studio. Apalagi kalau dosennya bergelar ‘killer’. Kelompok studio Perancangan Tapak dijamaku, pasti jauh-jauh hari berdoa jangan sampai dapat dosen pembimbing sebut saja namanya Pak Tapak. Mengapa?

Kelompok aku pun mengalami kekeos itu. Asistensi pagi sekali membuat Asri temanku yang sedang kurang sehat berdiri hampir pingsan. Hampir 2 jam kami mendengarkan berbagai komentar Pa Tapak terhadap gambar kami. Hasil kerja kelompokku sepertinya tidak memuaskan beliau. Asri makin pucat dan keringat dingin pun mengucur.

Untunglah beliau sempat melihat ke arah Asri dan menegur, “Kamu kenapa pucat begitu?”

“Asri sedang kurang sehat Pak,” aku menjawab.

“Duduk di kursi itu,” jawab beliau sambil menunjuk kursi kosong di samping kanan meja kerja dosen.

Asri segera duduk dan menarik nafas lega. Aku dan teman lain tetap dalam posisi berdir, karena di ruang dosen kan tidak ada cukup kursi untuk 6 mahasiswa yang ketar-ketir dibantai ini. Tak disangka Pak Tapak tiba-tiba memberikan sebatang coklat kepada Asri.

“Makan ini biar gak lemes,” kata beliau.

Bukan hanya coklat, beliau menyuguhkan juga piring berisi risoles dan beberapa kue manis yang ada didekatnya ke hadapan Asri.

“Belum sarapan ya? Makan ini juga,” lanjut beliau.

Tentu saja ini kejadian langka. Suasana menjadi lebih cair, tidak setegang tadi. Asri tanpa sungkan mengambil risoles dan memakannya. Aku dan teman lain hanya menjadi saksi bisu, ha … ha … ha … Ternyata tidak hanya risoles, coklat pun disantap Asri dengan santai tanpa menghiraukan tatapanku yang jelas-jelas bilang cukup … sudah cukup satu risoles saja. Pegal kaki kami semua karena asistensi sambil berdiri lebih dari dua jam.

Setelah itu Pak Tapak menyuruh kami memperbaik gambar dan berpesan jangan lupa sarapan. Kalau pingsan nanti dia takut disalahkan. Disangka mahasiswa pingsan gara-gara asisten perancangan tapak bersama beliau.

Setelah berada di luar ruangan Pak Tapak, sepanjang turun dari lantai 2 menuju teras depan Labtek Arsi kami tertawa terbahak-bahak walau harus ditahan-tahan agar tak terdengar para dosen di ruangan. Meledak tawa kami di lantai bawah. Duuuuhhhh gemes kan … Asri polos saja merasa tak bersalah berlama-lama makan risoles dan coklat.

Lalu tawa kami kembali pecah setelah melihat keadaan diri masing-masing, ada yang celana panjangnya ternyata celana tidur alias piyama. Temanku lupa ganti celana saat berangkat ke kampus, bahkan dia juga ternyata belum mandi. Ampuuunnnn …

Aku juga baru sadar ternyata pakai sendal jepit. Lupa ganti sepatu tadi di mobil saking terburu-buru asistensi. Tidak telat saja bisa kena damprat. Gimana kalau telat? Wuuuiiihhh … Bisa kiamat itu kertas kalkir dicoret spidol malah dengar-dengar ada juga yang disobek. Hiiikkkssss …

Palang Parkir IGD Tidak Terbuka

Sekarang kita gak boleh lupa bawa kartu uang elektronik kalau mau memakai jalan tol. Kebiasan baru tentu membutuhkan perjuangan tersendiri ya … Apalagi buat aku yang sudah jelita (jelang limapuluh tahun) saat itu. Tak boleh juga lupa mengisi saldonya. Bodor sekali kalau menempelkan kartu tapi palang pintu tol tak terbuka juga akibat saldo anda tidak cukup.

Hhhmmm … Untunglah aku tak mengalami hal itu.

Aku justru terhadang palang parkir di IGD RS. Polri. Kartu uang elektronik aku tempelkan di mesin parkir. Tapi kok palangnya tidak terbuka. Coba lagi … coba lagi … Tiga kali mencoba. Panik dong! Maju kena palang parkir, mundur sudah banyak yang antri mobil di belakangku.

Anakku bungsu, Teteh yang tadi santai tiduran tanya, “Kenapa Bu lama banget? Itu kok palangnya gak kebuka?”

“Iya ini Teh … Kenapa ya?” aku balik tanya heran juga.

“Ibu gimana tangannya kurang deket kali. Atau jangan digoyang-goyang gitu tangannya. Sensornya gak bisa scan,” kata Teteh.

“Kok pakai tangan sih Teh?!” aku jawab sambil mikir.

“Ya .. Iya dong Bu, pakai tangan gitu kayak yang di mal tadi,” kata Teteh yang tampak bingung dengan kata-kataku tadi.

“Astaghfirullah … ya ampun. Ha … ha … ha …” aku tertawa keras sambil mendekatkan telapak tangan ke alat scan parkir.

Jadi tadi aku kan menempelkan kartu uang elektronik ya pantas saja palangnya tidak terbuka. Ini kan pintu masuk yang harus menggunakan tangan di scan dengan alatnya. Barulah mesin mengeluarkan karcis dan palang parkir terbuka. Sampai kapan juga gak bakalan terbuka palang parkirnya. Bunyi klakson mulai terdengar dari mobil yang pastinya tak sabar menunggu.

Berhasillah aku melewati palang parkir dengan masih diiringi senyum geli. Aya-aya wae … Jadi sekarng hobiku menyetir mobil harus diringi dengan skill keluar masuk parkiran dengan berbagai metode, ada yang pakai menempelkan kartu uang elekronik seperti di stasiun gambir dan beberapa mal. Ada yang dengan mendekatkan tangan ke alat scan. Beberapa lokasi masih harus menekan tombol berwarna hijau atau biru untuk mengeluarkan tiket dan membuka palang parkir. Semoga saja tak akan ada peristiwa lupa bawa kartu uang elektronik saat menggunakan jalan tol. Jangan juga lupa mengisi saldonya terutama saat perjalanan jauh yang bayar tol hingga ratusan ribu rupiah.

Titipan Peniti Buat Yuke

Acara wisuda mahasiswa tentu sangat membahagiakan orangtua dan para lulusan. Aku kala itu menjabat sebagai Direktur Akademi dan akan memimpin Sidang Senat Terbuka.

Mahasiswi berpakaian kain kebaya. Tampak cantik dan penuh pesona. Aku juga berkain kebaya, sederhana saja tanpa make up salon. Cuma bedak tipis dan lipstik warna nude.

Sebelum acara dimulai, aku menghampiri mereka untuk sekedar bertukar sapa. Senang rasanya melihat mereka tertawa ceria saat mulai mengenakan jubah wisuda dilengkapi dengan topinya. Aku bergegas menuju ruang tunggu tempat kolega dosen berkumpul. Sebelum sampai tiba-tiba seorang ibu memanggilku.

“Neng … Punten titip ini peniti buat Yuke anak Ibu. Pasangin di kebayanya tadi kancingnya ada yang copot,” sambil menyerahkan plastik kecil berisi peniti ke tanganku.

“Makasih ya Neng …” sambil berlalu menuju ruang utama gedung pertemuan, tanpa menoleh lagi.

Hhhmmm … Senyumku mengembang. Duuuhhhh … Lagi-lagi terulang batinku. Ya sudahlah … Aku balik lagi ke ruang tempat calon wisudawan sedang berkumpul.

“Hai Yuke … Ini titipan ibu kamu, buat betulin kebaya yang kancingnya copot,” kataku.

“Terimakasih ya Bu … Kok Ibuku nyuruh Bu Dewi sih?” Yuke tersenyum malu.

Prosesi sidang Senat Terbuka berjalan lancar. Aku berpidato dan menjalankan tugasku memindahkan tali di topi para wisudawan.

Selesai acara ada ramah tamah dengan orangtua lulusan terbaik. Yuke adalah salah satunya. Ibunya Yuke langsung mendekatiku dan menyalamiku minta maaf.

“Ya Allah … Maafkan ya Bu … Tadi saya kira temannya Yuke,” ujarnya perlahan.

“Gak apa-apa Bu … Sudah biasa kok,” jawabku santai.

Ya … Sungguh sudah sangat biasa. Berulangkali aku disangka mahasiswi. Bukan dosen apalagi Direktur Akademi tempatku mengabdi.

Pak Joko Kaget Saat Berjumpa Bu Dewi

Pernah ada pengantar surat dari DPRD Kota datang ke kampus. Dia ingin langsung menyerahkannya surat itu kepada Direktur, bukan dititipkan di Sekretariat apalagi Security. Pak Joko (sebut saja bagitu namanya) dipersilakan duduk di ruang tamu oleh sekretarisku karena aku masih dalam perjalanan.

Sewaktu aku melintasi ruang tamu, tetiba ada seorang bapak menghampiriku. “Neng sini Neng. Bisa minta tolong bilang kesekretarisnya Bu Dewi, saya mau ke mushola sebentar shalat dzuhur.”

Aku menganggukkan kepala dan bilang, “Iya Pak … Punten Bapak siapa dari mana? Mangga shalat dulu, nanti saya sampaikan.”

“BIlang ada Pak Joko dari DPRD Kota,” jawabnya.

Ooohhh … Mungkin Pak Joko enggan ke ruangan sekretariat lagi karena agak jauh dari ruang tempatnya menunggu. Waktu dzuhur sudah hampir habis. Sedangkan mushola dekat di ruang tamu itu. Setelah Pak Joko selesai shalat, sekretarisku memintanya masuk ke ruang kerjaku.

Pintu ruang kerjaku diketuk, lalu perlahan terbuka. “Assalamu’alaikum.”

Aku lihat Pak Joko berdiri ragu dan menghentikan langkah kakinya.

“Wa’alaikum salam. Mangga … Pak Joko silakan masuk,” sapaku ramah.

Pak Joko tampak kaget. “Ooohhh … Ini Bu Dewi ya?”

“Iya Pak … Saya Dewi. Bapak dari DPRD Kota ya?” kataku.

Pak Joko melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di kursi sofa tak jauh dari meja kerjaku. Aku menghampirinya.

“Duuuhhh maaf ya Bu Dewi … Saya kira tadi mahasiswi di sini,” katanya tersenyum malu.

“Hhhmmm … Gak apa-apa sudah baisa kok Pak,” jawabku santai.

Kebetulan saat itu hari olahraga jadi boleh berkostum bebas, santai, dan rapi. Jadi aku pakai celana panjang dan kaos saja dengan kerudung segiempat. Alas kaki juga sepatu kets. Tas yang kupakai berbentuk ransel. Pantaslah disangka mahasiswi he3 …

Tantangan bulan Juli 2021. ‘https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-juli-cerita-lucu/

Lanjut gak ya? Tapi sudah 1700 kata lebih nih. Nanti aja deh buat seri berikutnya. Hayu para Mamah Gajah tuliskan pengalaman lucunya agar kita bisa bersama-sama meningkatkan imunitas. Tertawalah sebelum tertawa dilarang. Meluculah sebelum melucu dilarang. Kalaupun gak lucu paling tidak sudah berusaha … Ha … ha … ha …

Kalau masih mau lanjut ketawa boleh mampir di link ini pengalaman bodor saat aku menunaikan ibadah haji https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/550e0a2b813311b62dbc604d/disangka-abg-nyasar-di-masjidil-haram-hikmah-haji gemes banget deh! Pipiku dijawil emak-emak gegara disangka anak gadis kali ya?!

Satu lagi nih … Emak riweuuuuhhhh ha3 https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/04/28/drama-tak-terduga-saat-antar-jemput-anak-sekolah/ semoga terhibur.

Peringatan 101 Tahun ITB Menuju Tak Terbatas

Standar

Dari 101 menuju tak terbatas! ITB 100+1 AND BEYOND. Begitulah tagline yang diusung oleh ITB dalam peringatan 101 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia.

Menginjak tahun 2021 adalah momen refleksi sebagai titik tolak bagi ITB dalam langkah transformasi bangsa Indonesia menuju kemajuan peradaban. Bersama kita juga saling menyemangati dan bahu membahu dalam menghadapi berbagai krisis demi kelangsungan kehidupan generasi mendatang yang lebih baik.

Sumber ITB1920

Tema yang diusung kali ini adalah The Cradle of Civilization. Perlehatan ini memiliki dua jenis kegiatan utama yaitu

  • Transformative Talks
  • Musical Concert

Kegiatan dibuka oleh Prof. Reini selaku Rektor ITB ini, akan dilanjutkan dengan diskusi dari beragam tokoh nasional dengan tajuk:

  • ITB 100 Tahun On The Move
  • ITB Cradle of Civilization
  • ITB, Karsa, Karya, Kreasi

Serangkaian special performances dari Musisi ITB, peragaan busana karya alumni ITB dan banyak lagi!

Beberapa teman satu angkatanku di Teknik Arsitektur ITB alumni tahun 1989 akan ikut meramaikan acara tersebut. Ada Imelda Rosalin, Stefanini Sumardiman, dan Donna Murdijanto.

Bagi yang ingin turut serta merasakan getaran semangat ITB 101, yuk! catat waktunya 3 Juli 2021 pukul 19.00 WIB sampai selesai. Gabung di https://bit.ly/itb101

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater !

Tadi pagi aku menyaksikan tayangan di cannel Youtube rangkaian acara pemberian gelar Doktor Kehormatan (HC) kepada orang alumni ITB.

Sambutan Rektor ITB dalam sidang Terbuka 101 Tahun PTTI.

Dalam rangka memperingati 101 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) pada 3 Juli 2021 nanti, Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menyelenggarakan beberapa rangkaian acara secara virtual dari mulai tanggal 1-4 Juli 2021.

Rangkaian acara tersebut meliputi seminar virtual dengan tema “ITB untuk Transformasi Digital Indonesia” pada 1 Juli, pameran virtual exhibition pada 1-4 Juli, dilanjutkan dengan Pagelaran Musik dan Budaya tanggal 3 Juli, kemudian ITB 101 Virtual Run dan acara puncaknya yaitu Sidang Terbuka 101 Tahun PTTI di Aula Barat ITB pada 3 Juli 2021.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan tersebut diberikan kepada seseorang yang dinilai telah menunjukkan karya nyata yang mengandung nilai inovatif dalam pemikiran, gagasan atau penelitian, dan pengembangan konsep-konsep orisinal yang terbukti bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusian, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan tersebut diberikan kepada :

Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau Sam Bimbo) menerima Doktor HC dalam bidang Seni dan Religiositas.

Nyoman Nuarta menerima gelar Doktor HC sebagai tokoh Culturepreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (Patung).

Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D menerima Doktor HC dalam bidang Pengembangan Wilayah dan Kota (Regional and Urban Development).

Ketua Tim Promotor
Gelar Doktor Kehormatan untuk Sam Bimbo
Sam Bimbo telah menghasilkan karya yang patut dibanggakan, bahkan telah mendulang berbagai penghargaan tingkat nasional maupun internasional.

Beberapa tokoh memberikan testimoni tentang perjalanan Sam Bimbo di bidang seni dan religiusitas.

AD Pirous Prof. Emirtus FSRD ITB
Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim
Taufik Ismail, Sastrawan yang kerap bekerjasama dalam melahirkan karya musik religi bersama Sam Bimbo.

Sam Bimbo menyamapaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang berjasa dalam perjalanan karirnya di bidang seni. Judul orasi ilmiah yang sederhana namun sarat makna dipilih oleh Sam Bimbo, Cinta 5.0.

1.0 Cinta keluarga, dari ayah dan ibu tertanam sikap hidup dalam berkeluarga. Cinta diikat dengan tali persaudaraan, kasih sayang, dan terutama doa ayah dan ibu.
2.0 Cinta seni lukis. Seni dapat dengan 5 panca indera dapat melahirkan cinta. Dengan mata kita bisa melihat, maka lahirlah seni lukis. Sam Bimbo adalah alumi FSRD ITB tahun 1968.
3.0 Cinta musik religi. Kenangan yang tak terlupakan saat menunaikan shalat Jumat di Masjid Salman. Khatib mengajak para jamaah dalam khutbahnya, “Marilah kita bersama-sama tunjukan keimanan kita kepada Allah dengan berbuat kebajikan. Maka lahirlah syair lagu dengan judul Tuhan pada tahun 1972 bersama Taufik Ismail.

TuhanTempat aku berteduhDi mana aku mengeluhDengan segala peluh
TuhanTuhan Yang Maha EsaTempat aku memujaDengan segala do`a
Reff: Aku jauh, engkau jauhAku dekat, engkau dekatHati adalah cerminTempat pahala dosa bertaruh


4.0 Cinta dalam kemanusian. Memahami kemanusiaan dan lingkungan. Lahirlah lagu berjudul Surat untuk Tuan Reagen dan tuan Andropov, hingga mendapat penghargaan dari dua negara.

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Diri anda berdua orang tua terhebat di dunia
Dan hanya dengan satu kata dari anda berdua
Dunia bisa berobah, ooh ho..ho..

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Mata anda berdua menembus seluruh dunia
Dan bahkan keluar angkasa raya
Bionik dan Supermen oh kecil dibanding anda
Ho.. ho.ho.. hoo..

Bersama surat ini kami ingin usul, sebelum perang dunia ketiga
Berikan pengumuman terlebih dahulu agar orang-orang bisa berfoto
Membuat kenang-kenangan untuk mengenang mereka
Di amsa yang akan datang dan juga mengenang anda
Ooh..

[Interlude]

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Anda berdua damai, seluruh dunia ikut gembira
Pabila anda berdua marah, sungguh kami tak suka
Tetapi mungkinkah itu, ooh.. ho.ho.. ooh..

Sekian surat kami, maaf bila ada yang salah
Hormat kami, Bimbo…

Saat Menteri Lingkungan HIdup dijabat Prof. Emil Salim, lahirlah lagu berjudul Kalpataru yang isinya mengajak menyintai lingkungan. Selain itu Sam Bimbo juga menjadi tokoh yang gigih memperjuangkan perlindungan hak cipta dalam menghadapi tantangan berat melawan pembajakan sehingga ada cukai kaset.


5.0 Cinta Illahi. Pengalaman yang panjang dalam berkarya membuat Sam Bimbo makin memahami makna hablul minnanas dan hablul minallah, Hingga saat ini Sam Bimbo lebih memilih untuk berkarya dalam bidang seni lukis dengan kaligrafi dan dalam bidang musik dengan lagu religi.

Parade Alumni ITB dan Perwakilan Kementerian RI

Sakti Wahyu Trenggono Menteri KPP
Sandiaga Uno Menteri Pariwisata
Ridwan Kamil AR90 Gubernur Jawa Barat

Parade Karya Alumni ITB

Pembantu Rektor ITB dan perwakilan Pimpinan Fakultas di lingkungan ITB.
Pianis Imelda Rosalin AR89 yang juga menjadi Host dalam perlehatan ITB 101 tahun
Donna Priadi AR89 dan karya KIND Denim

Peringatan yang ke-101 tahun ini masih merupakan rangkaian dan penutup kegiatan 100 tahun ITB dan PTTI. Namun karena pandemi, sebagian kegiatan diundur ke tahun ini. Peringatan inti PTTI, sejatinya hanya dengan sidang terbuka saja, diperkirakan pada peringatan tahun depan, yang ke-102, akan kembali hanya mengadakan sidang terbuka.

Pengarah kegiatan P101, Prof. Dr. Ir. B. Kombaitan menambahkan, seminar virtual dengan tema “ITB untuk Transformasi Digital Indonesia” mengangkat dua tema besar. Pertama yaitu Konsepsi dan Arahan dengan sambutan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, dan pembicara kunci yaitu Menteri PPN/Bappenas Dr. Ir. Suharso Monoarfa, Menkominfo Johnny G. Plate, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko, dan dimoderatori oleh Prof. I Gede Wenten.

Tema kedua yaitu “Implementasi Transformasi Digital Indonesia”. Pembicara utamanya adalah Sekjen Kementerian Dalam Negeri Dr. Muhammad Hudori, Kepala LPIK ITB Dr. Sigit P. Santosa, Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI Kemenkominfo, Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam, dan Moderator Kepala Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB Dr. Ary Setiadi.

Acara Pagelaran Seni dan Budaya yang dilaksanakan pada malam hari, di hari yang sama dengan prosesi sidang terbuka, 3 Juli 2021, melengkapi meriahnya kegiatan P101. Acara ini bertajuk The Craddle of Civilization. Pada acara ini akan dibahas mengenai beberapa isu yang diselingi oleh penampilan musisi-musisi yang merupakan alumni ITB.

Sumber itb.ac.id

Silaturahmi Bersama Pak Choesni, Berbagi Cerita Penuh Keceriaan

Standar
Artikel ini ditayangkan sebagai kumpulan tulisan Keluarga Bani Tafsir Anom V.

Kenangan penulis Abu Bakar Akbar bersama Bapak dr. H.M. Choesni Prodjowijoto.

Keterangan : (sumber Mba Susi Annafiati)
Berdiri dari kiri : Leni ( baju putih ), Susi, Bisri ( suami Susi ) & Tara ( anak ke 3 Susi )
Duduk tengah dari kiri : Pak Choesni, bu Nur, Azza ( anak ke 1 Susi ) & Zemma ( cucu Susi )
Duduk bawah dari kiri : Nanda ( anak Leni ), Kya ( anak ke 2 Susi ) & Hafil ( mantu Susi )

Pekan lalu di dalam chat WhatApps Group Keluarga Tafsir Anom ada kabar bahwa Pak Choesni sedang diuji sakit. Kabar ini disampaikan oleh Mba Susi Annafiati. “Assalamu’alaikum saudara-saudara BTA tersayang. Mohon doanya untuk kesembuhan ayahku ; dr. H.M Choesni Prodjowijoto hasil pemeriksaan Swab Antigen beliau positif Corona, sehingga masih diperlukan pemeriksan, pengobatan dan perawatan selanjutnya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.”

Doa dan semangat dihaturkan oleh para kerabat. Salah satu doa yang dikirmkan oleh Mba Nurul Hayati sangat menyentuh.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Robb manusia, hilangkanlah sakit (ini), sembuhkanlah Bapak dr. Choesni, Engkau adalah Dzat Yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.”
Aamiin Yaa Robb.

Foto keluarga Mba Susi Annafiati bersama ayahandanya Pak dr. H.M. Choesni Prodjowijoto.
Mba Susi bersama pepo dan memo. Semoga selalu sehat aamiin …

Penulis ingin berbagi kisah saat silaturahmi dengan Pak Choesni di kediaman beliau pada tahun 2019. Saya diantar adik yang tinggal di Jakarta, Rachmad Aziz meluncur ke kediaman Pak Choesni di Cinere. Oya … Adik ipar saya (istrinya Amir Al Amin), yang bernama Endah Wukirsari ikut menemani dalam acara silaturahmi kali ini.

Hari Ahad hari libur lalu lintas tidak terlalu padat, tempat yang ditujupun cukup dekat. Hari belum terlalu siang ketika kami datang bertandang. Setelah ucapkan salam, berjabat tangan kami duduk di ruang tamu, bertatap muka, bertegur sapa dan bercanda seakan kami lupa waktu dan usia.

Saya sudah lama kenal tetapi belum pernah bersilaturahmi. Ternyata beda antara berjumpa di acara Halal bi Halal BTA dengan bicara di rumah, karena tidak ada pembawa acara yang batasi topik dan waktu pembicaraan. Sebagai yang junior sowan ke senior, belajar kehidupan. Beliau kelahiran Solo menghabiskan masa kecil dan remajanya di Kauman. Pak Choesni setelah itu melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UGM.

Obrolan  penuh tawa diawali dengan pernyataannya; ”Orang tidak percaya saya kuliah di Gadjah Mada Fakultas Kedokteran”. Mungkin waktu itu masuk UGM susah apalagi Fakultas Kedokteran lebih susah, karena tingginya tingkat persaingan.

Kami bertiga dan Pak Choesni ditemani istri tercinta, berbincang dan tertawa bersama. Ibu Choesni ternyata tidak kalah humoris. Sungguh keluarga harmonis. Obrolan terkait ketemu jodohnya orang Jawa dan Palembang juga sarat makna dan cinta. Pak Choesni dikaruniai 2 putri, Mba  Susi dan Mba Leni, dari keduanya Pak Choesni dikaruniai cucu dan cicit.

Selain pengalaman sebagai dokter yang pernah berdinas di Angkatan Laut juga pernah menjadi dokter di Pertamina. Ternyata menjadi dokter tidak melulu dinas di Puskesmas atau Rumah Sakit  Umum tetapi juga bisa bertugas di Rumah Sakit Perusahaan.

Pembicaraan cair  seiring hidangan yang mengalir,  sampailah pada kisah beliau berjumpa dengan kerabat Bani Tafsir Anom yakni Bapak Abdul Nur Adnan di Washington Amerika Serikat dan Bapak Abdul Hadi Adnan di Ottawa Kanada. Pak Choesni Kembali berkelakar banyak orang tidak percaya beliau sampai Amerika apalagi sampai kuliah S2. Beliau kuliah S2 di Universitas Tulane di New Orlane dan kursus singkat di Universitas Harvard, Boston pada tahun 1987.

Hari semakin siang di depan kami telah terhidang menu istimewa, sate. Bersyukur kami bisa dialog, bercanda dan berfoto bersama. Jelang duhur kami mohon pamit. Sungguh hampir 2 jam kami belajar bagaimana berbagi cerita dengan keceriaan. Semoga Alloh memberikan keberkahan kepada keluarga Pak Choesni.

Foto bersama Pak Choesni dan istri, sebelum kami pamit pulang.

Baca juga artikel ini :