Monthly Archives: Agustus 2021

Lima Alasan, Mengapa Tetap Setia Menulis?

Standar

Senin yang cerah … Angin semilir menembus jalusi pintu dan jendela di ruang kerjaku. Tetiba Teh Sari Agustia admin di Komunitas Mamah Gajah Bercerita (Magata) mengirimkan chat.

Apa kabar Teh? maaf ini dadakan ingin minta tolong. Kami dari kru ada agenda pengin mengundang member sharing to member gitu. Minimal sebulan sekali, saat minggu ada libur. Bersediakah Teteh mengawali jadi yang pertama minggu ini? Sharing di WAG aja cerita pengalaman menulis bisa video, chat, voice note.

Logo Komunitas Magata, alumni perempuan ITB yang hobi menulis.

Kalau berkenan sebelum hari Jumat mulai masuk minggu baru nulis. Sharing gimana biar nulis ga jd beban misalnya. Teteh kan selalu gercep ni kirim tulisan,” lanjut Teh sari. Hhhmmm … Jadi semangat nih menarikan jemari di atas keyboard laptop, mumpung ada waktu luang nih karena mahasiswa sedang libur dan tugas sidang tugas akhir juga sudah rampung pekan lalu. Anakku bungsu juga sudah masuk pesantren.

Ada lima alasan mengapa aku tetap semangat menulis? Bukan rahasia ah … Walau di beberapa artikel sering menemukan kata rahasia dan tips, aku lebih senang sekedar berbagi pengalaman saja.

Pengalaman Pertama Kali Menulis Dan Nasihat Nenek

Ketika duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar Muhammadiyah 07 Jakarta, aku mengikuti lomba menulis pidato dan harus membacakannya. Nenekku, Eni Enah yang sedang datang silaturahmi mengajariku menulis naskah pidato. Beliau juga melatihku untuk menghafal teks pidato tersebut, agar saat tampil lebih lepas dengan tambahan intonasi dan gerak tubuh.

Mantap sekali nenekku ini seorang anggota DPRD di sebuah kota kecil Jawa Barat. Nasihat nenekku yang selalu teringang adalah “Teteh harus terus mengasah kemampuan menulis. Tulisan apa saja yang Teteh sukai. Kalau bisa setiap hari atau ada hari khusus ya.” Beliau juga mengajarkan cara menulis halus dan menulis cepat agar bisa menyalin penjelasan guru dengan baik.

Alhamdulillah … Aku menang juara 2. Senangnya hatiku, bukan hanya karena mendapat hadiah satu lusin buku dan sepaket alat tulis, tapi karena aku jadi punya semangat dan minat untuk terus menulis berkat nasihat nenekku. Inilah alasan pertama aku tetap setia hingga kini untuk meluangkan waktu menulis.

Oya … Aku juga jadi senang mengirimkan karya ke majalah dan stasiun TVRI. Akhirnya setelah berkali-kali mengirim puisi, ada satu puisiku lolos di Majalah Bobo dan gambarku tampil di acara TVRI Gemar Menggambar bersama Pak Tino Sidin. Jamanku stasiun televisi ya baru TVRI itu, tak ada yang lain.

Terpilih menjadi cover Majalah Noor karena tulisanku di beberapa media cetak menarik perhatian pimpinan redaksi Jetti Rosila Hadi (Bu Tila) yang ternyata alumni Planologi ITB.

Artikelku ada yang mendapat penghargaan seperti juara ketiga di Kompasiana.Com dalam tema Cegah Stunting. Ada artikelku di blog yang menjadi jalanku tampil di Tabloid Wanita Indonesi, Majalah Noor dan menjadi narasumber di beberapa kegiatan tentang parenting.

Senang juga bisa tampil di Tabloid Wanita Indonesia sebagai finalis sebuah lomba yang didalamnya ada penilaian menulis esai selain aktivitas sehari-hari sebagai orangtua.
Terpilih menjadi finalis pada ajang Tribute to Mom, aku sepanggung dengan penulis terkenal di Indonesia Helvi Tiana Rosa dan Tias Tantaka istri dari Gola Gong yang sekarang menjadi Duta Baca Indonesia. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/551aed32813311591a9de2ad/ajang-pemilihan-ibu-teladan-tahun-2012-versi-majalah-noor
Artikelku terbit di Majalan Noor. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fdc3a858ede48096252b2e2/pengalaman-tulisan-terbit-di-media-cetak.
Aku menjadi narasumber di sebuah sekolah tentang parenting.
Kisah sejati di Tabloid Wanita Indonesia ditulis dari hasil wawancara dan artikelku di Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55295cf06ea8340b7b8b457b/titik-balik-suami-diphk-aku-jadi-direktur.

Tak disangka juga ketika kuliah di Arsitektur ITB, nilai matakuliah Bahasa Indonesia mendapat A. Apa mungkin disebabkan tugas menulisku dianggap sangat baik oleh dosen pengampunya, entahlah?

Hobi Memotret Menjadi Penunjang

Bapa memberiku hadiah ulangtahun ke-10 sebuah kamera merek Kodak diisi film berbentuk gulungan. Siapa teman pembaca yang pernah memakai kamera jenis ini? Sekarang kamera handphone sudah bisa mendapatkan hasil foto yang keren. Dulu … Jika salah jepret ya tidak bisa diulang. Ada satu kebiasaan Bapa yang unik yaitu memberi keterangan di balik foto yang dicetak. Beliau berkata, “Gambar itu lebih hidup bila ada rangkaian kata yang menyertainya.”

Hobi memotret menular kepada anak-anakku. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5ad15cf4cbe52348952c2c93/karya-fotografi-anak-10-tahun-ini-luar-biasa
Selain memotret pemandangan alam yang indah, aku berusaha menangkap realitas sosial dengan kamera. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/551aac66a33311a521b65932/perempuan-bercerita-lansia-perkasa-di-tawangmangu.

Alasan kedua aku terus setia menulis karena ditunjang hobi memotret. Hasil fotoku kadang jadi cerita tersendiri hanya dari beberapa foto saja. Hobi ini terus berlanjut hingga sekarang. Aku selalu melampirkan foto dalam setiap artikel. Rasanya agak aneh kalau artikel tanpa foto.

Tulisanku tayang di koran Republika dilengkapi dengan banyak foto hasil jepretanku. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2020/12/12/jejak-budaya-kota-cirebon/.
Hasil jepretan kameraku saat aku mengikuti kegiatan Raimuna Kanira Nasional tahun 1987.

Jalan-Jalan Sumber Inspirasi Dan Setia Kepada Suami

Asyiknya melangkahkan kaki sekedar menghirup udara segar dan bermandi sinar matahari. Inspirasi menulis sering datang saat berada di luar ruangan. Jaman kecil aku senang bila diajak berlibur ke rumah kakek di kaki Gunung Ciremai. Desa kecil dengan pemandangan yang indah, dekat dengan sungai dan sawah. Suasana asri dan nyaman membuatku sering kedatangan ilham untuk melukis dan menuliskan ceritanya.

Hingga kini, aku sudah berumur 50 tahun, hobi jalan-jalan masih sering dilakukan. Kadang sekedar bersepeda keliling kota atau tracking di alam bebas. Sesekali kemping dan merasakan tidur beratap langit berhias bintang.

Aku sering mendapatkan inspirasi dari hasil jalan-jalan. Lebih seru lagi, ternyata aku menikah dengan kakak kelas di Arsitektur ITB yang punya hobi sama. Suami suka fotografi dan traveling, tapi tidak suka menulis ha3 … Bersyukur sekali. Banyak tulisanku yang fotonya adalah hasil jepretan suami.

Suamiku suka fotografi jadi klop kan dengan aku yang suka menulis. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fd58b948ede4829d9601872/sunrise-di-pantai-kejawanan-cirebon.

Jadi inilah alasan ketigaku tetap setia menulis, karena akupun setia kepada suamiku … Eh … Cie … Cie … Dia suka kepoin artikelku dan akan merasa tersanjung bila hasil karyanya ikut tampil di blogku.

Jalan-jalan di alam bebas menjadi sumber inspirasi tulisan. tulisan.https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5f78357ad541df6ac53a03c2/berkuda-di-agrowisata-kebun-teh-gunung-mas.

Anak bungsuku rupanya senang difoto dan menjadi model pada banyak artikelku. Walau kadang aku kesulitan mendapat best picture jika Teteh sedang bad mood, tapi dengan modal sabar, akhirnya foto yang bagus bisa aku dapatkan juga. Aku sudah membuat satu blog khusus untuknya namun belum begitu aktif. Semoga kelak Teteh bisa hobi menulis juga.

Anakku sering jadi model dan tampil di artikelku. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/612469b40101903d100c0062/curug-putri-palutungan-keindahan-alam-di-kaki-gunung-ciremai.

Menulis Untuk Menolak Pikun

Pas lagi gak bisa kemana-mana bisa jadi galau dan bete dong! He3 … Betul sekali itu. Ide menulis jadi mandeg deh! Aku biasanya menghibur diri dengan membaca. Koleksi buku di rumah lumayan beragam. Selain buku-buku untuk referensi mengajar di kampus Universitas Catur Insan Cendikia Cirebon, ada juga koleksi novel, buku agama, politik, sejarah, dan ensiklopedia yang bisa menjadi pemantik ide menulis.

Aku menemani Teteh pesantren daring di ruang perpustakaan keluarga. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/08/25/budayakan-anti-buku-bajakan-berbagi-pengalaman-untuk-tantangan-mgn/.

Beberapa tahun lalu pernah aku kehilangan gairah menulis. Lalu tak sengaja aku membaca kisah Habibie yang mulai menulis ketika ditinggal istri tercinta, Ainun. Tak lama seorang teman yang berprofesi sebagai wartawan mengontakku untuk share tulisan pengalaman menunaikan ibadah haji. Lalu aku juga dipertemukan dengan kompasianer yang baru sembuh pasca stroke berat, dia seorang arsitek. Terapi terbaik yang dapat mengembalikan memori dan mendorongnya tetap semangat hidup adalah menulis. Masyaallah … Terbit kembali semangat menulisku.

Aku juga sepakat dengan motivasi bahwa menulis itu bisa menolak pikun. Selain istiqamah tilawah Alquran dan membaca buku, maka menuliskan kembali apa yang dibaca baik dari buku maupun dari beragam pengalaman sehari-hari akan merawat daya ingat. Aku ingin menua tanpa pikun, sehat raga juga sehat jiwa. Aamiin …

Punya Komunitas Sehobi

Penting sekali kita memiliki komunitas dengan hobi yang sama. Komunitas Magata dan Mamah Gajah Ngeblog (MGN) yang anggotanya harus alumni perempuan ITB telah menjadi tempatku mendapatkan suntikan semangat untuk terus menulis. Tantangan menulis sangat membantu agar tidak malas untuk menuangkan ide-ide dalam tulisan.

Buku Jejak Kenangan bersama Magata. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/603f6cead541df5b2c37c422/review-buku-jejak-kenangan-karya-alumni-itb.
Pertama kali bergabung di MGN dapat penghargaan juara keempat pada Tantangan Blogging Maret 2021. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/03/30/mencintai-yang-terpilih/.

Kadang aku membongkar file tulisan jadul, lalu dimodifikasi dan disesuaikan dengan keadaan terkini. Atau aku bercakap-cakap via chat dengan teman-teman dan mendapatkan ide menulis. Waaahhhh … Intinya aku senang sekali bisa bergabung pada dua komunitas ini.

Aku menulis di Kompasiana.com sejak tahun 2009 dan sudah terbit lebih dari 700 artikel. Walau sekarang kurang nyaman karena banyak iklan berseliweran saat kita membaca artikel, namun sejauh ini aku merasa tetap semangat menulis karena ada teman-teman yang terhubung di komunitas tersebut.

Buku bersama teman-teman penulis Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fa285a6d541df236b13a422/supraise-bisa-jumpa-om-tjip-dan-tante-lina.

Ketika aku aktif di LSM Fahmina Institute Cirebon juga tergabung dalam komunitas menulis. Sehingga banyak artikelku terbit di Buletin Blakasuta dan satu buku terbit dengan judul Bukan Kota Wali.

Buku pertamaku yang diterbitkan oleh Kutub Fahmina Yogyakarta. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2013/04/02/tulislah-kebenaran-catatan-pengalaman-menulis-buku/

Keluarga besarku juga mulai merintis komunitas menulis. Kami mendapat dorongan dari Pakde Abdul Nur Adnan, mantan wartawan dan penyiar di Voice of America (VOA) yang tinggal di Washington DC. Sudah ada sekitar 10 artikel yang terbit dan semoga semakin banyak anggota keluarga mau menulis pengalaman atau kisah inspiratifnya.

Komunitas menulis di keluarga besarku Bani Tafsir Anom V. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/06/07/puisi-karya-abdul-nur-adnan-untuk-hbh-bani-tafsir-anom-v/.

Alasan kelima adalah andaipun aku sudah tiada, semoga karya dalam bentuk tulisan ini tetap menebar manfaat bagi sesama. aamiin …

Kesimpulan

Lima alasanku tetap setia menulis adalah :

  1. Ingat nasihat nenek : jangan berhenti menulis sejak juara pidato kelas 2 SD.
  2. Hobi memotret : berkat hadiah kamera dari Bapa pada ulangtahun ke-10, gambar itu lebih hidup bila ada rangkaian kata yang menyertainya.
  3. Setia kepada suami (hobinya pun sama loh! fotografi dan traveling).
  4. Menolak pikun : menua tanpa pikun, sehat raga juga sehat jiwa.
  5. Punya komunitas sehobi dan karya yang bermanfaat bagi sesama walau aku sudah tiada.

Yuk! Teman pembaca bisa berbagi kisah di sini, apa alasan tetap setia menulis?

Budayakan Anti Buku Bajakan, Berbagi Pengalaman Untuk Tantangan MGN

Standar

Setelah maju mundur cantik dan merasa hampir menyerah atas tantangan bulanan kali ini dari admin Mamah Gajah Ngeblog (MGN), akhirnya aku berhasil juga menulis artikel yang berisi pengalaman ringan namun semoga berdampak kuat.

Daftar jadi member MGN disini http://bit.ly/FormMamahGajahNgeblog.

Kami diajak  move on ke tantangan bulanan kali ini. Pada bulan Agustus ada Hari Kemerdekaan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan. Selama 3,5 abad kita terjajah, kini kita sudah merdeka. Sudah seharusnya kita bermental merdeka dan adil juga pada sesama. Makanya, admin memilih tema tentang Budaya Hidup Tanpa Bajakan. Mendukung cara hidup yang legal dan tidak menggunakan yang bukan hak kita . Pembahasan dapat berupa produk yang kita pakai maupun kita produksi. Tentunya topiknya adalah sesuatu yang kita kenal dan kuasai untuk memudahkan pembahasan. 

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog.  https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-agustus-budaya-tanpa-bajakan/ on.

Koleksi Buku Langka Warisan Bapa dan Nasihat Anti Buku Bajakan

Sejak SD aku sudah rajin ke perpustakaan sekolah. Sewaktu SMP dan SMA, aku melebarkan sayap dengan menjadi anggota perpustakaan daerah. Waaaah … Senangnya bisa membaca beragam buku tanpa harus membeli. Maklum kan uang saku terbatas. Bapa juga menyarankan agar aku lebih sering ke perpustakaan terutama saat liburan sekolah.

Satu buku langka yang ada di rak perpustakaan rumahku adalah buku berjudul Dibawah Bendera Revolusi karya Soekarno. Sampul biru dongker dengan tulisan berwarna keemasan. Kertasnya sudah usang menguning. Buku cetakan ketiga ini diterbitkan tahun 1964. Sudah lebih dari 50 tahun ya umur bukunya. Adakah teman pembaca yang punya koleksi buku ini juga?

Dibawah Bendera Revolusi adalah koleksi buku langka, warisan dari Bapa.

Buku ini asli bukan bajakan. Bapa berkisah tentang cara memperoleh buku ini dari sahabatnya saat beliau sedang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indoenesia era tahun 65-an. Bapa menjadi aktivis mahasiswa pada saat itu. Aku mendapat nasihat dari Bapa bahwa kita harus menghargai karya orang lain. Tidak mudah untuk melahirkan sebuah karya seperti buku yang berisi kumpulan tulisan selama bertahun-tahun dengan pengorbanan harta bahkan jiwa.

Dibawah Bendera Revolusi adalah buku fenomenal yang menghimpun tulisan-tulisan Soekarno pada masa penjajahan Belanda (1917 – 1925) dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1959 oleh sebuah Panitia Penerbitan di bawah pimpinan H. Mualliff Nasution. Pada tahun 1963 buku monumental itu mengalami cetak ulang yang kedua dan hanya dalam waktu dua minggu sudah habis terjual. Tidak mengherankan setelah itu pencetakan kembali dilakukan setiap tahun. Terakhir kali, tahun 1965 buku itu untuk keempat kalinya dicetak ulang. Ini menunjukkan bahwa keinginan rakyat Indonesia untuk memiliki buku itu sangat besar. (Sumber: https://id.wikisource.org/wiki/Dibawah_Bendera_Revolusi). 

Rasanya jahat sekali kalau kita membaca buku bajakannya bukan?

Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka, tertanda dibeli bapa tahun 1985.

Satu lagi ada kumpulan buku bersejarah yang diwariskan Bapa kepadaku. Siapa tak kenal Buya Hamka? Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, lebih dikenal dengan nama Buya Hamka, lahir di Sungaibatang, Tanjungraya, Agam, Sumatera Barat, pada 17 Pebruari 1908. Dan, meninggal pada 24 Juli 1981 di Jakarta. Ia adalah ulama modern yang multitalenta, sebagai sastrawan, wartawan, pengajar, bahkan politik sebagai kegiatan-kegiatan yang menyertai jalan hidupnya. Sebagai politisi, Buya Hamka aktif di Partai Masyumi di samping organisasi keagamaan Muhammadiyah hingga akhir hayatnya. Pada masa Orde Baru, Buya Hamka menjadi Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Sumber: https://lajnah.kemenag.go.id/artikel/661-buya-hamka-dan-tafsir-al-azhar).

Awalnya Buya Hamka mengenalkan tafsirnya tersebut pada kegiatan kuliah subuh pada jama’ah masjid al-Azhar Kebayoran Baru, Jakarta. Sejalan dengan aktivitasnya di bidang politik, Presiden Soekarno memberinya pilihan untuk tetap menjabat sebagai petinggi negara atau melanjutkan sebagai anggota Masyumi. Buya Hamka memilih untuk mengundurkan diri sebagai pejanat negara.Tak lama setelah itu, Buya Hamka ditangkap penguasa Orde Lama dengan tuduhan berkhianat pada negara dan dipenjara selama 2 tahun 7 bulan; ia pun memanfaatkan waktunya untuk menulis dan menyempurnakan tafsirnya. Masyaallah …

Kita tahu bagaimana Buya Hamka kehilangan kemerdekaan raganya karena dipenjara, namun tak kehilangan jiwanya. Apakah kita tega membeli kumpulan buku karya Buya Hamka hasil bajakan? Tentu, jawabannya adalah tidak.

Sebagian koleksi buku di perpustakaanku semuanya original. Aku membelinya di toko buku atau pameran buku.
Buku membuka cakrawala dan cara pandang kita menjadi lebih luas dan mendalam. 

Koleksi Buku  Original Milik Anak-anakku

Nah … Ketika sudah memiliki anak, hobi membaca buku ini aku tularkan kepada Kaka, Mas, dan Teteh. Aku yakin buku itu jendela kehidupan dan membaca buku adalah cara agar kehidupan terasa bermakna. Oya … Sebagai Ibu, aku berusaha agar mampu memberi nutrisi terbaik bagi otak anak-anak. Membelikan buku adalah salah satu caraku bersyukur atas karunia otak agar lebih berakal, lebih cerdas, dan mampu berfungsi dengan optimal. Bukan hanya makanan, minuman, dan pakaian saja kebutuhan mereka. Buku juga bisa memperkaya jiwa dan melembutkan hati.

Anggaran membeli buku menjadi salah satu prioritasku. Sudah pasti aku membeli buku-buku tersebut di toko buku, baik Gramedia maupun Gunung Agung. Aku juga membeli buku langsung dari agen penerbitnya pada saat pameran buku. Hal tersebut dilakukan agar terhindar dari membeli buku bajakan. Aku ingin menjadi teladan bagi anak-anak agar mereka juga melakukan hal yang sama yaitu anti buku bajakan.

Teteh umur 6 bulan sudah mengenal buku yang aku beli langsung dari agen penerbitnya.

Teteh setelah bisa membaca senang sekali dengan buku serial Strawberry Shortcake yang diterbitkan oleh Buku Erlangga dan ditulis oleh American Greetings. Strawberry Shortcake mempunyai 5 sahabat baik, yaitu: Blueberry Muffin, Lemon Meringue, Raspberry Torte, Orange Blossom, dan Plum Pudding. Masing-masing memiliki kelebihan. Orange Blossom yang suka menolong teman-temannya, Plum Pudding yang pintar menari, Raspberry Torte pintar menjahit gaun, dan Lemon Meringue yang pintar menata rambut. Strawberry Shortcake pintar membuat kue dan minuman ringan, lalu ada Blueberry Muffin sangat pintar, ia suka membaca buku.  Strawberry Shortcake tinggal di kota Berry Bitty.

Teteh di toko buku Gramedia Bandung.
Buku koleksi Teteh serial Strawberry Shortcake.
Toko buku Gramedia Matraman menyediakan ruang membaca sekaligus kafe.

Sebelum masa pandemi, toko buku Gramedia pusat di Matraman Jakarta menjadi destinasi wisata akhir pekan Teteh. Lokasinya dekat dengan rumah dan ada ruang membaca sekaligus kafe. Sejak pemberlakuan PSBB dan PPKM kegiatan berkunjung ke toko buku menjadi agak terhambat. Tapi beberapa kali masih sempat sih mengajak Teteh ke toko buku untuk membeli novel karya Tere Liye. Melengkapi koleksi Teteh sebelumnya seperti serial Anak Pintar dan serial Bumi. Ya … Sejak kelas 5 Sekolah Dasar, Teteh sudah bisa membaca novel dengan tebal 400 halaman. Alhamdulillah …

Teteh membeli novel karya Tere Liye di toko buku Gramedia Central Park Jakarta.
Novel serial Bumi karya Tere Liye koleksi Teteh.
Teteh mengoleksi novel karya Tere Liya serial Anak Pintar.

Oya … Aku berusaha menularkan semangat membeli buku original kepada para sepupu Teteh. Jadi kalau liburan sekolah dan ada waktu berkumpul bersama, aku akan mengajak mereka ke toko buku. Lalu mereka boleh memilih satu atau dua buku kesukaannya sebagai hadiah kenaikan kelas. Waaaahhhh … Senangnya mereka bisa saling bertukar membaca buku selama berlibur bersama.

Sebagian buku koleksi Teteh di perpustakaan rumahku. Ada serial buku Franklin, Sahabiyah, Princess Muslimah, KKPK, juga novel Hijab for Sister, Delisa, Laut Biru Klara, dan Mata.
Aku mengajak Teteh dan para sepupunya membeli buku original sebagai hadiah kenaikan kelas.

Kaka dan Mas senang membaca komik serial Detektif Conan. Lebih dari 50 edisi telah mereka koleksi. Versi tankōbon dari manga ini telah terjual sebanyak lebih dari 230 juta kopi di seluruh dunia, menjadikannya sebagai seri manga terlaris keempat sepanjang masa.

Kaka, Mas dan Teteh hobi membaca buku.

Buku original tentu jauh lebih mahal dari buku bajakan. Aku sampaikan kepada mereka apa saja bentuk pembajakan buku seperti:

1. Mengutip, meng-capture/screenshot, mengunduh, serta menjual kembali versi e-book secara ilegal.

2. Mereproduksi dan menjual kembali buku dengan menggunakan kertas koran atau kertas dengan bertekstur buruk.

3. Memfotokopi buku dan dijual kembali, baik itu beberapa halaman maupun satu buku penuh.

4. Menduplikasi tanpa izin atau menerjemahkan buku tanpa izin dari penerbit dan penulis.

Koleksi komik Conan milik Kaka dan Mas. Edisi pertama dibeli saat Kaka berusia 10 tahun.

Serial Detektif Conan ditulis dan diilustrasikan oleh Gosho Aoyama. Manga ini telah dimuat dalam majalah Weekly Shōnen Sunday terbitan Shogakukan sejak tanggal 19 Januari 1994, dan telah dibundel menjadi 98 volume tankōbon hingga tanggal 15 April 2020.

Satu serial kesayangan Kaka dan Mas adalah novel Narnia. Tidak murah juga untuk membeli langsung 7 judul dengan kemasan khusus di toko buku Gramedia. Kaka dan Mas senang juga membaca ensiklopedia dan buku ilmu pengetahuan seperti serial 3 Menit Pengetahuan Umum bergaya Korea. Juga berlangganan majalah Orbit yang fokus pada informasi sains dan teknologi.

Majalah Orbit koleksi Kaka dan Mas sewaktu SD.

Aku harus memilih antara membeli banyak buku untuk anak-anak atau memiliki tas original impor bermerek seperti Fossil, Coach, Aigner, atau Longchamp. Keputusanku adalah memakai tas hasil rajutan teman atau tas menengah buatan asli Indonesia seharga tidak lebih dari Rp. 500.000,-. Dengan demikian aku memiliki dana yang cukup untuk membeli buku. Eits … Jadi punya ide untuk menulis tentang tas koleksiku yang asli Indonesia. He3 …

Novel Narnia kesayangan Kaka dan Mas. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/06/02/review-serial-film-narnia-dari-novel-legendaris-ke-film-epik.

Oya … Anak-anak juga aku ajak untuk menyisihkan uang saku agar bisa membeli buku yang diinginkan. Bila masih ada kekurangan aku akan menambahkannya. Intinya membeli buku original itu butuh perjuangan. Godaan buku dengan harga murah merajalela di marketplace saat ini, sedangkan jaman itu buku bajakan biasanya dijual di lapak atau toko buku di lorong jalan menuju Universitas Indonesia atau di Pasar Senen Jakarta. Di Bandung ada pasar buku Palasari atau Shopping Center Jogja di Yogyakarta.

Kaka dan Mas juga mengoleksi novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Selain Laskar Pelangi, Andrea Hirata juga sukses dengan karya-karya lainnya seperti Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), Maryamah Karpov, Padang Bulan (2010), Cinta di Dalam Gelas (2010), Sebelas Patriot (2011), Laskar Pelangi Song Book (2012), Ayah (2015), Sirkus Pohon (2017) hingga Orang-Orang Biasa (2019). 

Novel serial Laskar Pelangi koleksi Kaka dan Mas.

Pada bulan Maret tahun 2019 di Blitzmegaplex, Grand Indonesia, Jakarta Pusat,  Andrea Hirata mengatakan  industri buku adalah industri yang paling rentan dibajak setelah industri musik. Ironisnya, salah satu faktor penyebabnya adalah kemajuan teknologi. Dikatakan Andrea, berkembangnya perangkat lunak pengonversi file pdf (Adobe Acrobat) menjadi word (Microsoft Word) memudahkan pembajak karena mereka cukup memindai (scan) buku aslinya untuk menghasilkan versi bajakannya. 

Tanda tangan penulis novel Edensor, Andrea Hirata.

Andrea mengaku saat ini novel Laskar Pelangi sudah terjual lebih dari 1 juta kopi. Sayang versi bajakannya lebih laku ketimbang yang diterbitkan Mizan. “Novel saya laku 1 juta, tapi bajakannya laku 3 juta kopi, 300 persen,” ungkap Andrea. (Sumber: https://hot.detik.com/celeb/d-1101551/andrea-hirata-rela-novel-laskar-pelangi-dibajak).

Aku berjumpa Andrea Hirata di Masjid Salman ITB dalam acara bedah novel Edensor pada tahun 2010. Senang sekali bisa mendapat tanda tangan penulis di novel Edensor yang aku bawa saat itu.

Ketika novel belum juga diluncurkan, karya terakhir Andrea dalam novel tetralogi, sudah beredar versi bajakannya. Baru saja bilang mau menerbitkan novel Maryamah Karpov, keesokannya ada novel dengan cover Maryamah Karpov, tetapi isinya berbeda. Andrea mengaku sedih dan prihatin terhadap kondisi perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) di negeri ini. Wajar  saja Andrea sedih karena menjadi korban pelanggaran HKI. Sebagai penulis, Andrea mengaku sakit hati ketika karyanya dibajak oleh pihak tak bertanggung jawab. Total, empat kali karya Andrea yang dibajak.

Aku berkunjung ke Belitung dan menyempatkan melihat replika Sekolah Laskar Pelangi.

Tak hanya laku di pasaran, novel Laskar Pelangi menyabet beberapa penghargaan bergengsi baik di tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan-penghargaan yang diraih seperti : Khatulistiwa Literaly Award (KLA) tahun 2007, Aisyiyah Award, Paramadina Award, dan Netpac Critics Award. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing seperti Malaysia, Spanyol, dan Inggris. Menilik perjuangan Andrea saat menulis karya novel Laskar Pelangi dengan riset mendalam yang dilatarbelakangi oleh pengalamannya sebagai siswa di SD Muhammadiyah Belitung, sangat tidak bijak bila kita membeli novel bajakannya. 

Buku Karyaku Semoga Tak Dibajak

Penelitianku tentang APBD Kota Cirebon selama hampir lima tahun dilaksanakan dalam sebuah program di LSM Fahmina Institute Cirebon. Berbagai kebijakan pemerintah daerah dikritisi dan diberi masukan solusi. Hasil penelitian diterbitkan secara berkala di dalam buletin Blakasuta. Kumpulan tulisan akhirnya dapat dibukukan dengan judul Bukan Kota Wali ‘Relasi Rakyat-Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota’.

Buku karya pertamaku tahun 2006 diterbitkan oleh Kutub Fahmina Yogyakarta. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2013/04/02/tulislah-kebenaran-catatan-pengalaman-menulis-buku/

Ancaman akan dituntut masuk penjara pernah aku rasakan. Namun, dengan berbekal tawakal kepada Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaadil, aku tak merasa takut dengan ancaman itu. Aku menulis kebenaran, bukan fitnah atau kebohongan. Bekerja sebagai peneliti dan diberi amanah sebagai wakil direktur organisasi LSM Fahmina Institute Cirebon masa bakti 2002-2004 memberiku ruang untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Kota Cirebon.

Aku memberikan hadiah kepada Jokowi pada saat berjumpa di acara Kompasiana Modis tahun 2015.

Aku menulis buku tersebut terinspirasi oleh pesan masyhur Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bahwa “Kerusakan suatu kaum itu diawali ketika elit yang mencuri dibiarkan, tetapi ketika sijelata mencuri dituntut ke pengadilan. Demi Allah, jika putriku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya.” Menurut Thamrin Amal Tomagola, korupsi akan selalu terjadi pada orang-orang yang memiliki sumber daya strategis. Baik politik, ekonomi, maupun budaya. Karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan kontrol yang ketat. Pengawasan dari pihak yang independen, dengan sistem yang membuat orang merasa selalu diawasi dan bisa dibeberkan secara publik. 

Tentu sebagai penulis yang mengangkat tema korupsi, aku sangat tergelitik dengan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus: “Budayakan Hidup Tanpa Bajakan”. Fenomena korupsi dan pembajakan karya baik buku atau lainnya adalah pencurian. Pembajak adalah pencuri, mirip dengan koruptor adalah pencuri uang rakyat.

Pembajak bisa dikategorikan pencuri karena unsur pencurian terhadap pelanggaran hak cipta untuk kepentingan
komersial, yaitu:
1) Hak cipta merupakan benda atau harta yang mempunyai nilai dan berlaku akad jual beli terhadap benda tersebut.
2) Hak cipta dilindungi Undang-undang yang berfungsi sebagai penyimpan atau penjagaan yang berlaku terhadap benda atau materi.
3) Kedudukan penjual barang bajakan dapat di samakan dengan tukang tadah barang curian. Menurut Undang-Undang Hak Cipta (UUHC) mereka dapat di seret ke pengadilan yang dapat di jatuhi tindak pidana sebagai mana pembajak itu sendiri. Dalam kaitan ini terlihat sudah jelas bahwa jual beli barang hasil bajakan berlawanan dengan Undang-undang dan syariat Islam. Oleh karena itu, akad yang dilakukan tidak sah menurut hukum Islam dan hukum positif serta jual beli barang bajakan termasuk pembelian barang ilegal yang berindikasikan barang yang tidak boleh di perjual berikan. (Sumber: https://dspace.uii.ac.id/bitstream/handle/123456789/8021/print%20untuk%20cd.pdf?sequence=1).

Dalam Pasal 40 Ayat (1) Huruf (a) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, buku adalah salah satu ciptaan yang dilindungi oleh hak cipta. Penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta sangat penting, mengingat perkembangan perlindungan hak cipta dan perlindungan hukum terhadaphak cipta bagi pencipta masih kurang. Masih banyak terdapat hambatan yang timbul dalam penegakan hukumnya, meskipun telah dilakukan upaya-upaya hukum oleh para pihak, serta penerapan sanksi-sanksi hukum terhadap pelanggaran hak cipta. Undang-undang ini menggantikan UUHC 19/2002. (Sumber: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt54192d63ee29a/uu-hak-cipta-baru)

Satu buku antalogi berjudul Jejak Kenangan dari 43 penulis perempuan alumni ITB telah terbit pada tahun 2021. Aku menjadi salah satu penulisnya dengan judul The Last Eighty : ITB 89. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/603f6cead541df5b2c37c422/review-buku-jejak-kenangan-karya-alumni-itb
Me time di toko buku.

Semoga budaya anti buku bajakan semakin berkembang di Indonesia. Rasa malu untuk membeli buku bajakan sedikitnya akan mengikis pangsa pasar buku bajakan. Pemerintah dan aparat hukum juga harus bertindak tegas terhadap para pembajak karena membajak karya cipta telah memperkaya diri dengan merugikan orang lain.

Berusaha Tetap Terhubung Pada Masa Pandemi

Standar

Menurut Aristoteles, seorang filsuf Yunani Kuno, manusia adalah zoon politicon, sudah jadi kodrat manusia untuk hidup bermasyarakat, sehingga manusia selalu berusaha berinteraksi dengan orang lain. Manusia merupakan makhluk sosial, karena itu, ia membutuhkan interaksi dengan sesamanya.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali dideteksi pada tanggal 2 Maret 2020, ketika dua orang terkonfirmasi tertular dari seorang warga negara Jepang. Sejak saat itu beragam kebijakan pemerintah Indonesia untuk mengatasi pandemi digulirkan. Salah satu yang terasa dampaknya adalah pembatasan interaksi sosial atau social distancing.

Sumber : https://indonesiabaik.id/infografis/beda-social-distancing-dan-physical-distancing

Namun, World Health Organization (WHO) telah mengganti istilah social distancing dengan physical distancing untuk menjernihkan konteks yang telah beredar di masyarakat luas, yakni imbauan untuk tetap berada di rumah selama pandemi virus Corona. Physical distancing kita tidak mengisolasi secara sosial dan menjauhi satu sama lain. Kita tetap bisa terhubung dan menjalin silaturahmi dengan cara baru seperti memanfaatkan teknologi informasi dan media sosial.

Aku ingin berbagi pengalaman tetap terhubung dengan keluarga walau tidak bisa mudik saat lebaran. Sedih pastinya … Dua anakku, Kaka dan Mas yang tinggal di Bandung tak bisa pulang ke Jakarta. Selama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri pada tahun 2020 dan 2021 mereka tetap berada di Bandung. Untunglah setelah pembatasan berakhir mereka bisa mudik ke Jakarta. Aku bersyukur masih bisa berkunjung ke Bandung pada waktu yang lain untuk berkumpul bersama mereka.

Awal waktu perkuliahan pada tahun 2020, Mas sudah kangen kuliah offline nih …

Aku memanfaatkan waktu saat ke Bandung untuk tracking sejenak bersama Kaka, Mas, dan Teteh di Tahura. Kami juga berkunjung ke Masjid Salman dan menyempatkan berfoto di depan gerbang kampus ITB. Saat mereka bisa ke Jakarta, aku mengusahakan untuk refresing di kawasan kaki Gunung Salak. Pekan lalu aku mengajak Mas dan Teteh merayakan hari kemerdekaan Indonesia di kawasan Dieng Plateu.

Kami menyusuri kawasan Tahura sebagai usaha menjaga kesehatan dengan olahraga di alam bebas.
Rihlah di Poeti Mountain Resort agar bisa menghirup udara segar dan berjemur sinar matahari.
Tafakur alam di kawasan Dieng Plateu bersama Mas dan Teteh pada bulan Agustus 2021. Kaka tidak bisa ikut karena kegiatan kuliah S2 di SBM ITB sudah dimulai. Awal pekan ini Mas sudah mulai kuliah semester 7.

Ikhtiar tetap menjalin interaksi dengan keluarga kecilku agar selalu merasa dekat dan saling menyayangi. Teknologi memang bisa menghubungkan secara maya, namun kedekatan fisik juga penting.

Alhamdulillah kami bisa berjumpa dan berkumpul secara nyata dengan segala perjuangannya.

Pengalaman menarik pada saat di rumah saja, aku jadi lebih sering melakukan video call dengan Kaka dan Mas. Selepas tarawih dan waktu sahur dipilih agar terasa tetap berkumpul walau berada di kota yang berbeda. Begitupun dengan Mamah dan keluarga besar di berbagai kota bahkan berbeda negara, aku melakukan hal yang sama.

Kami juga memanfaatkan WhatsApp Group untuk saling berkirim kabar kepada keluarga besar. Sepupuku yang tinggal di Paris Perancis dan Perth Australia juga bisa ikut dalam acara bukber virtual. Saat lebaran kami mengadakan silaturahim menggunakan aplikasi Zoom. Senang bisa melepas rindu, walau tak bisa berpelukan dan hanya menatap wajah serta mendengar suara mereka.

Sepupuku dan suaminya. https://thr.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/60856ce68ede48510d7bb962/bukber-virtual-paris-jakarta-perth
Aku belajar tahsin Alquran menggunakan aplikasi Zoom.

Oya … Ada satu grup WA yang baru dibuat pada saat pandemi, yaitu grup tahsin Alquran khusus akhwat beranggotakan keponakan, sepupu, kakak dan adikku. Masyaallah … Teknologi bisa menghubungkan kami yang tinggal berjauhan, ada yang tinggal di Gresik, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Tangerang, Palangkaraya bahkan Brisbane Australia untuk bersilaturahim setiap hari ahad sore.

Aku juga sempat reuni virtual dengan teman-teman Ar89 ITB.

Tak kalah unik dan menarik adalah grup WA komunitas Mamah Gajah Bercerita dan Mamah Gajah Ngeblog yang aku ikuti. Senang rasanya masih bisa terhubung dalam komunitas yang memiliki hobi sama. Barakallah … Semoga jalinan silaturahim ini bisa langgeng dan penuh manfaat, aamiin.

Bersyukur Atas Kemerdekaan Indonesia

Standar

Sejenak mengingat kembali teks proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno dan didampingi Mohammad Hatta di serambi depan rumah Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. “Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.” Setelah teks proklamasi dibacakan, untuk pertama kalinya bendera merah-putih dikibarkan dan disaksikan oleh masyarakat di Jakarta.

Aku menulis opini di koran Radar Cirebon.

Aku bersyukur atas kemerdekaan Indonesia ke-76 pada tahun 2021. Hidup merdeka tanpa ada yang memaksa, siapa sih yang nggak mau? Ciri orang merdeka itu memiliki jati diri, berdaulat atas dirinya dan bermartabat. Terkait hal ini ada satu hal yang ingin aku soroti yaitu korupsi. Mengapa?

Buku warisan dari Bapa yang menyemangatiku terus bersyukur atas kemerdekaan Indonesia. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fcdd1f9d541df16d951ffc2/sebagai-rakyat-biasa-aku-kecewa

Bercermin dari terkuaknya korupsi para pejabat, baik anggota DPR-RI dan dewan perwakilan daerah, Gubernur, Bupati/Walikota, petinggi TNI dan Polri, juga pemegang amanah di lembaga negara lainnya, sungguh sudah tidak ada kata mundur atau takut lagi untuk bergerak bersama melawan korupsi. Jangan hanya ICW dan beberapa lembaga LSM saja yang meneriakkan dan juga berusaha menguak beragam praktik korupsi di negeri tercinta ini. 

Tak boleh hanya KPK dan jajarannya saja yang jungkir balik, bersusah payah, berpeluh bahkan siap diancam teror mengentaskan kasus korupsi. Penjara-penjara di seluruh tanah air akan kebanjiran para koruptor. Bila nilai kesederhanaan, kebersahajaan, keberkahan semakin tercerabut dari nurani kita sebagai manusia. 

Kelimpahan, kemakmuran, dan kemapanan ternyata tak menjadikan mereka bersyukur. Mereka bagai meminum air laut saja, tak puas, dan tak merasa cukup. Itulah penyakit utama korupsi terus marak, terasa nikmat dijalankan, dan kesenangan semu dikejar tiada henti. Serakah dan konsumerisme menjadi biang keladi.

Mengapa kita masih takut melawan korupsi?  Korupsi memang harus di awan secara bersama-sama. Kesepahaman di antara elemen yang tidak takut melawan korupsi harus terus ditingkatkan. Lawan kita cukup tangguh. Siapa sih yang tidak sayang jabatan dan karir? Juga yang tidak tergiur uang melimpah, didapat dengan cara mudah?

Inilah persoalan besar bangsa ini. Kemerdekaan memang telah direbut, tapi siapa yang tak merasa miris, sedih, getir, hingga menangis tersedu ketika negeri sendiri kekayaannya dijarah para koruptor?

Ingatlah ayat-ayat anti korupsi telah difirmankan Allah Yang Maha Mengetahui lagi Mahateliti, lebih dari 1.400 tahun lalu. “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa padahal kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah 2 : 188).

Dalam firman yang lain disebutkan : “Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.” (QS. An Nisa 4 : 29).

Buku berjudul Bukan Kota Wali berisi tulisanku yang berkaitan dengan tata kelola pemerintahan. Aku menulis buku ini dilandasasi semangat anti korupsi dan memiliki pemerintahan yang bersih dari korupsi. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2013/04/02/tulislah-kebenaran-catatan-pengalaman-menulis-buku/

Walau demikian kita harus optimis, karena dari 270 juta lebih penduduk Indonesia, paling tidak lebih dari satu juta orang yang terlibat korupsi. Dari segi jumlah tentu lawan kita tidaklah banyak. Lalu mengapa masih takut? Seharusnya kita tidak takut pada kekuatan selain Allah subhanahu wata’ala.

Kaka dan Mas sekarang sudah menjadi teman diskusi tentang good governance yang mengasyikkan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5517712aa333115307b65d9a/nilai-un-matematika-10-selamat-ya-hanif-telah-berlaku-jujur

Aku juga berusaha menanamkan sifat jujur kepada anak-anakku, agar mereka mampu hidup dengan bermartabat dan tidak takut untuk mengatakan tidak kepada korupsi. Itulah salah satu jati diri orang merdeka.

Kaka menulis puisi ini saat berusia 10 tahun. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55017136a333117f7351332f/mei-in-memori-koruptor-dilarang-baca-artikel-ini

Sekali lagi kita perlu menguatkan diri dan tetaplah bergandeng tangan untuk melawan korupsi. Sekecil apapun usaha kita tentu akan memberi pengaruh positif bagi penghapusan korupsi di muka bumi Indonesia tercinta. Salam merdeka!

ITBMotherhood Komunitas Alumni ITB Terkeren Versi Mamah Gajah

Standar

Salam Ganesha! Bakti kami untukmu, Tuhan.. Bangsa.. dan Keluarga Almamater. “In Harmonia Progressio” adalah motto Institut Teknologi Bandung (ITB). “Harmonia” memiliki arti harmoni atau kebersamaan, dan “Progressio” memiliki arti kemajuan untuk mewujudkan “a Globally Respected and Locally Relevant”.

Logo ITBMotherhood, gemesin banget kan? … Mamah Gajah dan Anak Gajah yang lucu.

Aku alumni Arsitektur ITB tahun 1989. Selepas menyelesaikan 164 SKS dalam waktu 9 semester, aku diwisuda pada bulan April tahun 1994. Setelah menjadi alumni, kegiatan yang menyenangkan adalah reuni kecil bersama teman Ar’89 dan reuni akbar ITB’89. Selain komunitas Ar’89 dan ITB’89, aku bersyukur bisa bergabung dengan komunitas ITBMotherhood berbasis Facebook (FB).

Siapakah founder dan admin komunitas ITBMotherhood?

Pendiri ITBMotherhood adalah Teh Dilla Satya alias Bu Dil (Mom of Arifadyas). Admin komunitas ini adalah Teh Yuria Cleopatra, Teh Istiana Ilma Sakina, Teh Hana Takarai, Teh Bu Dil, Teh Dini Yudison, Teh Annisa Ramdhaningtias, dan Teh Anzika Rizja Yunita.

Hanya anggota yang bisa melihat siapa anggota grup ini dan apa yang di-posting. Hanya anggota yang bisa menemukan grup ini. Jadi bagi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang ingin menjadi anggota bisa memverifikasi Nomor Induk Mahasiswa (NIM) ITB. Sedangkan membership approval berdasarkan rekomendasi dari anggota yang sudah tergabung terlebih dahulu di ITBMotherhood. Grup ini dibuat pada tahun 2010, untuk mewadahi mahasiswi atau alumni perempuan ITB yang tertarik pada dunia ibu dan anak. Alhamdulillah saat artikel ini ditulis, ITBMotherhood telah memiliki 4487 member dari berbagai penjuru dunia. “We have different minds, different sources, different arguments. But we respect each other and we learn from each other“.

Walau logo ITBMotherbood bergambar anak gajahnya masih imut, anakku Kaka dan Mas sudah jadi member of ITB, teteuuupppp aku merasa very excited berada dalam komunitas keren ini. Salah satu sebabnya adalah aku masih punya si bungsu, Teteh kelas 8 SMP. Aku merasa masih mahmud (mamah muda) walau sudah lebih jelita (jelas-jelas lima puluh tahun usianya) ha3 …

Mamah Gajah kangen kampus. Silakan mampir https://www.youtube.com/watch?v=V4B82wgFc_U&t=34s

Seru sekali saat ada pembahasan topik memilih sekolah. Aku memilih tempat kuliah, sementara ada Mamah Gajah lain yang sedang mencari taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Ketika ada curhat anak susah makan atau sedang mencari resep mpasi, aku sudah lupa momen 12 tahun yang lampau saat Teteh berusia satu tahun. Waaaahhhh … Pokoknya hiburan yang bikin imun meningkat saat membuka grup FB rahasia ini.

Pose Teteh tahun 2013. Cita-citanya kuliah di FSRD ITB 5 tahun lagi aamiin … https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2014/02/26/wisata-edukasi-di-kampus-itb/

Saat Mas lulus SBMPTN tahun 2018, aku membuka tread percakapan mencari tempat indekos khusus putra. Ramai sekali informasi dari para Mamah Gajah. Supraise … Afra putri Teh Yuria Cleopatra dan Abil putra Teh Ani Sulaksani masuk SAPPK ITB juga. Amazing … Mas ternyata bersahabat dengan Abil, bahkan kini indekos di lokasi yang sama.

Mas kelas 6 SD tahun 2012. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2020/12/05/al-binaa-islamic-boarding-school-sekolah-favorit-kaya-prestasi/

Pengalaman berkesan lainnya saat Kaka berniat meneruskan kuliah pascasarjana setelah lulus dari Fakultas Peternakan UNPAD. Kaka memiliki minat di bidang manajemen bisnis dan ingin memperdalam ilmu entrepreneurship. Aku membuka tread percakapan terkait perkuliahan di SBM ITB. Gercep sekali para Mamah Gajah dengan senang hati memberi masukan yang sangat berguna. Kaka Insyaallah akan mulai kuliah pertengahan bulan Agustus tahun ini.

Kaka kelas 12 tahun 2014 dan rezekinya kuliah S2 di ITB tahun 2021. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/07/03/peringatan-101-tahun-itb-menuju-tak-terbatas/

Aku mulai bergabung di komunitas Mamah Gajah Bercerita (Magata) pada tahun 2020 dengan proyek pertama menerbitkan buku berjudul Jejak Kenangan. Awal tahun 2021 aku menjadi anggota Mamah Gajah Ngeblog (MGN) dengan tantangan menulis setiap bulan di blog masing-masing. Aku follow subgrup ini karena senang menulis dan bisa mendapatkan ilmu kepenulisan dari para Mamah Gajah.

Logo Magata dan tantangan bulan Agustus. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/07/30/inilah-dua-cara-mencintai-indonesia-dengan-sederhana/
Buku Jejak Kenangan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/603f6cead541df5b2c37c422/review-buku-jejak-kenangan-karya-alumni-itb
Logo MGN dan aturan dasar ITBMotherhood. https://mamahgajahngeblog.com/
Saat aku wisuda. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/03/30/mencintai-yang-terpilih/