Kenangan Saat Menjadi Ketua Posyandu

Standar

Peringatan Hari Posyandu Nasional ke 37 Tahun 2021 diperingati setiap tanggal 29 Apr 2021. Program utama posyandu adalah mendukung pelayanan kesehatan dasar di tingkat desa/kelurahan. Fungsi lain posyandu adalah mendukung tercapainya pencegahan stunting. Pembinaan setiap jenjang terus dilakukan, sinergitas lintas sektor juga dilakukan dan partisipasi masyarakat sangat penting.

Sumber: https://pkk.jakarta.go.id/selamat-hari-posyandu-nasional-ke-37/

Aku ingin berbagi pengalaman menarik kepada teman-teman pembaca saat menjadi ketua posyandu. Sejak pindah di sebuah perumahan tipe 21/72 di daerah Pondok Ranji Ciputat, aku jadi terinspirasi untuk berbagi dengan masyarakat sekitar. Ruang tamu dan garasi mobil yang tak terlalu besar (hanya seukuran 2,5 x 3 meterpersegi dan 4 x 3 meterpersegi) aku sulap menjadi perpustakaan komunitas posyandu dan PAUD.

Percakapan ini di alamatkan kepadaku:

“Bu … tolong anak saya gak mau makan! Gimana caranya biar mau yah?”

“Boleh gak yah imunisasi kalau sedang panas, batuk, pilek?”

“Saya baiknya pakai KB apa yah, Bu?”

“Anak saya kok nakal banget sih! Masa gak mau sekolah … Tolong dong Bu kasih tahu kalau sekolah itu penting!”

He3 … banyak sekali percakapan menarik saat aku dan teman-teman kader bertugas di  posyandu. Ya … Selama dua tahun aku dipercaya menjadi ketua sebuah posyandu yang sudah ‘mati suri’. Sebabnya mati suri adalah tak ada yang mau kerja sosial, sukarela, dan tidak ada penghasilannya. Bahkan menjadi kader itu harus mengeluarkan uang dari kocek sendiri. Ah … beginilah kehidupan individualistis dan materialistis di pinggiran kota metropolitan Jakarta. Aku berusaha menerima amanah ini dengan senang hati dan berdoa semoga Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi Karunia memberikan kemudahan dan kelapangan agar posyandu ini bermanfaat bagi sesama.

Bayi Teteh rajin ke posyandu hingga usia 6 bulan.

Ada sekitar 40 anak yang aktif datang seminggu dua kali, masing-masing selama satu jam saja. Mereka datang untuk membaca, bercerita, mendengarkan musik, menonton CD/DVD pendidikan, bermain sambil belajar bersamaku. “Bu Guru … Assalamu’alaikum …”, sapa mereka setiap kali datang. Ah … suara merdu dari mulut mungil balita usia 3 – 5 tahun membuatku bersemangat setiap pagi dari pukul 08.00 -10.00 WIB.

Lapangan bola dan halaman masjid dekat rumah, aku manfaatkan juga untuk kegiatan luar ruang. Olahraga dan ‘outbond‘ kecil-kecilan, berlarian, berkejaran, bermain bola, hitung-hiutng menjaga kesehatan gratis! Aku berkeringat dan ikut tertawa ceria bersama mereka. Ibu-ibu yang mengantar sesekali aku libatkan menjadi asisten. Mereka bisa membantuku menemani anak-anak melipat, mewarnai, membentuk plasitin, atau merobek-robek kertas bekas. Suatu kali anak-anak aku ajak bertanam dan menyirami tanaman mereka, wah … selesai itu secara tak terduga mereka minta main air. “Hoooreee ….”, teriak mereka. Tak apalah basah kuyup. Yang penting mereka gembira …

Posyandu terus berkembang, balita yang ditimbang dan diimunisasi atau sekedar bertanya-tanya tentang kesehatan anak semakin bertambah. Pemberian vitamin A setiap tahun dua kali. Tak lupa penyuluhan tentang bahaya kaki gajah, TBC, dan DBD juga dilakukan. Ada sekitar 100 balita di perumahan ku yang menjadi tamu tetap posyandu. Senang sekali bila mereka sehat dan bertambah berat serta tinggi. Setelah ditimbang dan dicatat, mereka akan mendapat makanan sehat. Teman-teman kader secara bergantian membuat makanan sehat seperti bubur kacang hijau, kue-kue, puding, sop sayuran, susu dan buah-buahan. Murah meriah tapi tetap bergizi.

Profil anak-anak yang belajar di rumah ku adalah anak dari kelas menengah ke bawah. Orangtua mereka ada yang berprofesi sebagai satpam, supir taksi, tukang bakso, marbot masjid, buruh cuci, tukang jahit, petugas kebersihan, dan beberapa anak-anak pegawai biasa di perkantoran. Aku bahagia hidup berdampingan bersama mereka. Tentu teman-teman tahu, bahwa playgroup atau TK  biasanya mahal. Lebih mahal dari SD Negeri. Mereka sanggup menyekolahkan ke SD namun tak sanggup memberikan pendidikan usia dini (PAUD) karena faktor ekonomi. Itulah yang mendorongku untuk memberikan tempat dan kesempatan kepada anak-anak mereka mendapatkan pendidikan gratis!

Oya, Ibu-ibu juga boleh meminjam buku untuk satu minggu. Mereka sangat senang meminjam majalah dan terutama buku resep masakan. Aku semangati mereka untuk juga membaca buku tentang pendidikan dan kesehatan anak. Mereka juga bolah berkonsultasi tentang pendidikan anak kepadaku. Senangnya bisa berbagi … Ternyata. aku sesungguhnya yang banyak belajar dari mereka. Bagaimana mereka di tengah kesulitan ekonomi tetap semangat mengejar ilmu serta berusaha sekuat tenaga agar anak-anak mereka dapat belajar dan memperoleh pendidikan yang lebih baik … 

Terima kasih ya … Kalian Ibu-ibu hebat!

Allah sungguh Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, juga Mahakaya dan Mahabijaksana. Pada tahun kedua kegiatan posyandu dan PAUD, tiba-tiba saja pengurus DKM mendapat hadiah dari seseorang. Rumah wakaf dua buah sekaligus, tepat di depan masjid. Masyaallah …

Semua teman-teman kader posyandu kaget. Aku dan  teman-teman begitu sudah payah memiliki rumah walau satu saja, menyicil pula (kata lain dari kredit … he3 …). Namun, bila Allah menghendaki, maka dua rumah sekaligus untuk kegiatan PAUD dan Tempat Pendidikan Al-Quran (sebelumnya TPA diadakan sore hari di serambi masjid). Alhamdulillah … Walau sedikit sedih karena rumahku kehilangan tamu-tamu cilik yang manis-manis dan lucu-lucu. Tentu aku sangat bersyukur karena anak-anak mendapatkan tempat belajar yang lebih layak, lebih besar, dan dapat digunakan kapan saja.

Oya … Posyandu dan PAUD yang aku selenggarakan murni gratis. Ibu-ibu bertanya, “Bu … benar nih gratis?” “Iya …”, aku mengangguk pasti. “Lalu darimana biaya alat belajar, buku, juga makanan ini?” “Ooohhh tenang saja ada Allah yang memberinya dari langit …”, kataku sambil tersenyum. Sungguh ini bukan bercanda, namun aku merasakan sungguh rezeki datang dari langit, karena banyak donatur yang memberikan segala keperluan PAUD dan posyandu.

Setelah dua tahun, aku mohon undur diri dari jabatan ketua posyandu, karena aku hamil dan melahirkan anak ketiga. Namun kegiatan sosial yang menyenangkan itu tak kutinggalkan. Sampai akhirnya pada pertengahan tahun 2008 aku harus pindah rumah ke Jakarta. Sedihnya hatiku. Anak-anak posyandu juga sedih. Mereka bertanya, “Bu Guru … Bolehkah kita main ke rumah Ibu yang baru?” Mereka juga memberiku kado selamat jalan. Ya … Semoga kita akan berjumpa lagi anak-anak baik dan hebat. Airmataku menetes tak terasa empat tahun aku berada di Perumahan Nuri. Kenangan indah ini akan ku bawa ke rumah baruku. Semoga di lingkungan baru aku juga mampu memberi kemanfaatan yang banyak bagi sesama. Aamiin …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s