Komunitas Mamah’s Long Chair: Sewindu Yang Selalu Bikin Rindu

Standar

“Hai Mah … Ikut arisan yuk! Setorannya 2 juta perbulan, bisa narik 20 juta Mah, lumayan kan?” ajak seorang mamah di sekolah anak bungsuku. Eeehhh … Aku kaget tiba-tiba diajak arisan, secara mamah ini belum begitu aku kenal. “Maaf Mam … Aku gak biasa arisan,” tolakku halus sambil tersenyum.

Mamah’s Long Chair, komunitas di sekolah Teteh yang membuatku bahagia.

Aku punya kisah menarik tentang komunitas Mamah’s Long Chair di sekolah anakku. Bukan komunitas arisan loh! Sewindu sudah kebersamaan kami selalu menggurat rindu. Ada banyak cerita menarik yang patut dibagikan untuk ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ edisi Oktober 2021 ini dengan tema ‘Komunitas yang Aku Cintai‘.

Definisi Komunitas

Beberapa definisi tentang komunitas yang diungkapkan oleh para ahli antara lain sebagai berikut :

Komunitas merupakan kumpulan dari para anggotanya yang memiliki rasa saling memiliki, terikat diantara satu dan lainnya dan percaya bahwa kebutuhan para anggota akan terpenuhi selama para anggota berkomitmen untuk terus bersama-sama.

Sumber: McMillan dan Chavis (1986).

Dalam hidup, manusia tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan manusia lain sebagai support dan sahabat. Manusia juga makhluk sosial. Sudah tak aneh jika manusia cenderung lebih dekat dengan mereka yang punya minat yang sama. Makanya, mereka bergabung dalam sebuah komunitas.

Berawal Dari Anak-anak Kelas Satu SD

Pada tahun 2013 saat anakku bungsu, Teteh mulai belajar di SD Islam PB Soedirman Jakarta, aku terpilih menjadi Ketua WOTK. Tugasnya santai saja sih … Salah satunya menjadi narahubung antara sekolah, wali kelas, guru, dan orangtua siswa di kelas tersebut. Untuk mengoptimalkan kerja sosial tak berbayar itu, aku menyusun kepengurusan kelas. Ada 11 orang yang aktif mengerjakan tugas-tugas WOTK.

Teman-teman Teteh saat SD kelas satu. Mereka adalah anak dari Mamah’s Long Chair.

Ternyata hingga kini, setelah anak-anak lulus SD dan pisah sekolah, aku masih terhubung dengan komunitas penuh cinta ini. Mengapa aku beri label penuh cinta? Sepanjang perjalanan persahabatanku di komunitas ini, sungguh rasa cinta yang bisa mengikat dan terus menjadikan kami tetap menjalin silaturahmi hingga sekarang dan semoga hingga batas usia memisahkan.

Teteh senang juga ikut kumpul bareng para Mamah sahabat ibunya.

Biasanya komunitas para mamah di sekolah diikat oleh arisan. Tapi Mamah’s Long Chair tidak demikian loh! Out of the box sih … Kadang ada mamah lain bertanya, “Kok bisa nyambung terus tapi gak arisan?” Waaahhh … Aku malah balik tanya, “Memangnya kalau mau bersahabat harus arisan ya?”

Kalau komunitas lain rempong menentukan dress code untuk setiap pertemuannya, kami seadanya saja. Bila komunitas lain menentukan tempat kongkow di restoran berbintang atau di pusat perbelanjaan, kami nongkrong sarapan bubur ayam di warung tenda pun tetap asyik. Atau blusukan ke pasar tradisional berburu pete dan jengkol bisa membuat kami tertawa bersama.

Karakter Unik Mamah’s Long Chair

Kesamaan kami adalah profesi sebagai tukang ojek atau supir antar jemput anak sekolah ha3 … Profesi ini menjadi jalan untuk kami bertemu setiap hari di sekolah, selepas anak-anak masuk kelas. Ada sebuah bangku panjang milik sekolah yang menjadi tempat kami duduk melepas lelah sejenak dari kehebohan pagi hari. Obrolan santai, lucu, atau curhat seputar aktivitas anak menjadi selingan yang membuat energi kami kembali untuk melakukan aktivitas berikutnya. Jadilah kami menamakan diri Mamah’s Long Chair, maksudnya para mamah yang selalu meet up di bangku panjang.

Oya … Kami juga sama-sama pencinta petai dan jengkol. Makanan berbau khas ini menjadi favorit kami dan sering dijadikan menu boltram atau makan bersama. Adakah para Mamah member of MGN yang juga pencinta petai dan jengkol? Tentu ada ya … Tapi apakah dua makanan ini bisa menjadi perekat sebuah komunitas? Belum tentu kan!

Mamah’s Long Chair berburu petai dan jengkol di pasar tradisional dekat sekolah.

Selain kesamaan, tentu ada ciri khas karakter dan kepribadian masing-masing yang saling melengkapi. Nama panggilan juga berbeda-beda loh! Bukan nama yang umum digunakan seperti Mamah plus nama anak. Aku tidak disapa Mamah Maryam. Namun aku dipanggil Emak katanya karena paling senior masa pernikahannya, juga mirip tokoh dalam film Emak Ingin Naik Haji cenah. “Gak nyambung gitu sih!” komentarku sambil mengernyitkan dahi. “Tapi ya sudah … Aku senang kok dipanggil Emak,” lanjutku sambil tertawa geli.

Sahabatku bernama Rosdiana mendapat panggilan Mpok Di. Satu lagi sahabat yang dipanggil mpok adalah Mpok Yos. Entah dari mana nama Yos, karena aslinya dia bernama Jubaedah. Duo mpok ini memang asli none betawi. Kocak banget kalau keduanya sedang ramai mengobrol dengan gaya betawinya, seperti menonton pertunjukkan lenong. Apalagi jika Bos Via ikut komentar dan tertawa ngakak. Dijamin seru! Via Busana itu nama lengkapnya sejak lahir tinggal di Jakarta. Dipanggil bos karena suaminya seorang bos atau pengusaha yang sukses. “Aih … Ade-ade aje nih! Klop dong ya … Kite bikin grup lenong nyok.” kata Mpok Di sambil hive five dengan Mpok Yos.

Sepertinya Mamah’s Long Chair menerapkan literasi budaya untuk memberi nama sapaan. Terbukti pada nama panggilan berikut: Uni Vera karena dia orang Padang, Jeng Niken dan Mbak Ani yang berasal dari Banyuwangi, sedang Enci Di adalah sapaan untuk sahabatku keturunan Thionghoa yang bernama Diana. Asyik juga aku bisa sesekali belajar bahasa Minang dari urang awak, bahasa Jawa Osing asli Banyuwangi, dan bahasa Hokkien khas keluarga etnis Cina Benteng Tangerang.

Ada dua orang bernama Ayu anggota Mamah’s Long Chair. Untuk membedakannya Ayu pertama dipanggil Mam Ketu, karena usianya paling tua. Sssttt … Tapi sahabatku ini tidak marah atau tersinggung dipanggil demikan. “Asal jangan panggil mam ketuaan ya …” ujarnya sambil tersenyum. Nah … Ayu kedua disapa Mamito karena 4 anaknya memanggil dia Mami, ya simple kan?

Salah satu sahabatku pemilik KBIH bernama Yenny mendapat sapaan Bu Hajjah. Jika ada acara yang harus diawali atau diakhiri do’a, sudah pasti Bu Hajjah yang akan memimpin do’a lalu kami mengaminkannya. Terakhir adalah Dessy memiliki panggilan Bu Guru karena bekerja freelance mengajar bahasa Inggris di sebuah TK.

Para Mamah perlu happy, agar suami dan anak-anak juga happy. I miss you all …
Inilah kami selusin genap 12 orang anggota Mamah’s Long Chair dengan panggilan unik yaitu: Emak, Mpok Di, Mpok Yos, Bos Via, Uni Vera, Jeng Niken, Mbak Ani, Enci Di, Mam Ketu, Mamito, Bu Hajjah, dan Bu Guru.

Beragam Kegiatan Seru Mamah’s Long Chair

Pertama: Kami suka sarapan bersama di warung girly alias pinggir kali atau di kabels singkatan dari kantin belakang sekolah. Banyak jenis makanan dan minuman untuk kami santap seperti baso, lontong sayur, pecel lele, siomai, nasi rames, gado-gado, bubur ayam, pisang goreng, kopi dan teh.

Makan bersama menu Indonesia dengan petai dan jengkol favorit kami.

Beberapa kali kami mengadakan acara makan bersama dengan menu andalan petai dan jengkol. Cara makannya dengan alas daun pisang yang digelar, lalu kami duduk lesehan agar terasa lebih akrab. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi contoh sering mengundang para sahabat untuk makan bersama.

Kedua: Kami menjenguk sahabat atau keluarganya bila ada yang sakit atau meninggal dunia. Kegiatan ini selalu dilakukan agar kami bisa saling support dan saling mendoakan. Aku terharu sekali ketika Mamah’s Long Chair menjenguk Teteh di rumah sakit. Teteh ketika masih SD, hampir tiap tahun harus menjalani rawat inap dengan diagnosa penyakit yang berbeda-beda, seperti operasi usus buntu, DBD, atau terkena virus dan bakteri yang menyebabkan infeksi.

Kami mengunjungi orangtua salah seorang sahabat yang menjalani operasi otak di RSPP untuk saling menguatkan.

Begitu juga saat ada sahabat yang melahirkan, kami akan berkumpul untuk ikut berbagi kebahagiaan dengan hadirnya anggota keluarga baru. Bila ada musibah, seperti kematian atau kecelakaan, kami juga akan saling membantu meringankan beban dengan mengumpulkan dana. Kami melakukan hal ini karena benar-benar merasakan bahwa perhatian dari sahabat itu bisa membuat kesedihan dan masalah terasa lebih ringan.

Serunya bila sedang kumpul … Ceria dan heboh pastinya. Barakallah …

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga: Kegiatan kajian di majelis taklim secara rutin. Kami menyadari bahwa belajar adalah kewajiban sepanjang hayat. Sebagai seorang ibu tentu pengetahuan agama harus terus ditingkatkan. Apalagi anak-anak kami bersekolah berbasis agama. Guru-guru kami di antaranya adalah ustadzah Siti Fatiyah untuk kajian tafsir Al-Qur’an, ustadzah Herlini Amran yang memberi materi fiqh perempuan, ustadz Khalid Basalamah dengan kajin kitab Minhajul Muslim dan 76 Dosa Besar. Lalu ada ustadz Farid Okbah yang mengajar ilmu tauhid sesekali diselingi politik Islam.

Menghadiri kajian di majelis taklim menjadi aktivitas Mamah’s Long Chair untuk meningkat keimanan dan ilmu agama.

Kajian lain yang kami ikuti adalah majelis taklim di Masjid ALatief Blok M dengan narasumber KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dan ustadz Haikal Hasan. Kami juga kadang hadir pada kajian tafsir Al-Qur-an di AQL Tebet bersama ustadz Bachtiar Nasir. Sedangkan kajian tentang parenting yang kami ikuti dengan penceramah, ustadzah Elly Risman, ustadzah Neno Warisman, ustadz Benri Jaisyurrahman, dan ustadzah Aisyah Dahlan.

Aku mengikuti kegiatan kajian di majelis taklim bersama Mamah’s Long Chair.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dari kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”

(QS. Al Mujadalah 58 : 11).

Keempat: Mamah’s Long Chair adalah pengurus WOTK yang berusaha menjadi support system kegiatan anak-anak di sekolah. Banyak kegiatan sekolah yang mengharuskan orangtua terlibat aktif, seperti peringatan hari besar keagamaan, class meeting atau pertandingan antar kelas, wisuda tahfizhul qur’an, tarhib ramadhan, outbond dan field trip, pumping student, wisuda kelulusan, atau kegiatan sosial seperti santunan yatim dan dhufa.

Aku dan Teteh saat mengikuti kegiatan wisuda tahfizhul qur’an.
WOTK harus aktif dalam kegiatan peringatan besar di sekolah seperti Hari Guru Nasional.
Orangtua menjadi peserta dalam kegiatan pumping student dan doa bersama sebelum para siswa melakasanakan ujian sekolah di kelas 6.

Kami berusaha membantu semaksimal mungkin karena sejatinya pendidikan itu bukan hanya tanggung jawab sekolah. Ada peran dari orangtua yang akan menjadikan program sekolah bisa berjalan dengan baik. Jadi jangan anggap hanya dengan membayar SPP cukup, atau merasa tak perlu terlibat bahkan memilih acuh tak acuh dengan kegiatan sekolah.

 “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.”

(QS. Al-Maidah 4 : 2).

Kelima: Aktivitas jalan-jalan bareng ke beberapa tempat di sekitar Jakarta. Terakhir sebelum pandemi, kami sempat jalan-jalan ke Bandung untuk mengunjungi pesantren Daarut Tauhid di Geger Kalong dan Great Asia Lembang, Sebelum kembali ke Jakarta kami mampir sejenak di Masjid Salman.Ternyata mereka baru pertama kali shalat di masjid Salman. Supraise … Saat aku ajak berpose di depan gerbang utama ITB, mereka menyambut dengan antusias. Padahal tak ada satupun dari mereka yang alumni kampus ini.

Mamah’s Long Chair mampir di Masjid Salman ITB untuk shalat dhuzur dan ashar.
Mamah’s Long Chair ini tak ada satupun alumi ITB, tapi senangnya bisa berpose ndeprok di depan gerbang kampus Emak.

Imam Syafi’i berkata, “Jalan-jalan itu ada manfaat yaitu agar semua kesedihan akan hilang. Jika sedang sumpek, jangan berdiam di rumah saja, tetapi pergilah keluar rumah, jalan-jalan. Pergilah ke suatu tempat dan lihat keadaan kaum muslimin di situ, carilah pengalaman. Lalu akan muncul ide-ide karena sering berinteraksi dengan orang lain selama di perjalanan”.

Jadi kapan nih member of MGN akan jalan-jalan bareng atau berpose bersama di depan gerbang kampus ITB tercinta?

Indahnya Persahabatan

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman yang artinya : “Wahai Muhammad tabahkanlah dirimu bersama orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah baik pagi maupun sore, demi mencari keridhaan-Nya. Jangan alihkan perhatian kamu dari orang-orang yang tekun beribadah, hanya karena kamu menginginkan kesenangan hidup dunia. Janganlah kamu taat kepada orang-orang yang lalai mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsunya. Usaha mereka itu pasti sia-sia.” (QS. Al-Kahfi: 28).


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). 

Semoga persahabatan kami Mamah’s Long Chair dapat menjadi jalan keridhoaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemberi Karunia. Kami berharap bahwa indahnya persahabatan yang berdasarkan cinta kepada Allah Illahi Rabbi akan kekal hingga di surga-Nya, aamiin …

Our dream is best friend for ever until jannah.”

Mamah’s Long Chair.

Info lengkap tantangan kali ini sila baca di link berikut: https://mamahgajahngeblog.com/tantangan-mgn-oktober-komunitas-yang-aku-cintai/

Sila membaca juga kisah menarik lainnya di link berikut:

3 responses »

  1. aku kagum kok bisa sekelompok begitu semua suka petai dan jengkol, 2 makanan yg bikin kerja keras ekstra bersihin kamar mandi hehehee. Tapi kerenlah kesukaan yang unik malah mempererat pertemanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s