Evolution 6E, Mindshake Design Thinking Model

Standar
Sumber: Dwi Indra Purnono https://www.dwipurnomo.id/6e-design-thinking/

Sebelum membahas lebih dalam tentang Evolution 6E, mari kita kembali ke topik pendahuluan Design Thinking (DT) yaitu: Re-Design Your Thinking yang telah dituliskan dalam artikel ini: https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/10/15/re-design-your-thinking/

Ada 5 proses yang harus dijalankan dan tidak boleh memotong proses tersebut. Yuk! Ingat kembali apa saja proses tersebut?

  1. Emphatize (berempati): memahami kebutuhan manusia atau konsumen yang terlibat langsung.
  2. Define (mendefinisikan): membingkai ulang dan mendefiniskan masalah dengan cara yang berpusat pada manusia.
  3. Ideate (ideasi): membuat banyak ide dalam sesi-sesi ideasi.
  4. Prototype (purwarupa): mengadopsi pendekatan langsung dalam membuat perwujudan purwarupanya.
  5. Test (pengujian): mengembangkan prototipe atau solusi untuk masalah tersebut.

Selain disusun dalam 5 proses, beberapa ahli menyusun proses DT menjadi 6, yaitu:

  1. Observe.
  2. Define.
  3. Ideate.
  4. Prototype.
  5. Storytelling.
  6. Test.

Tools dalam Evolution 6E

Istilah lain yang digunakan untuk 6 tahapan di atas telah disusun ulang dalam Mindshake House karya Mindshake & Katja Tschimmel tahun 2015. Apa saja tools yang bisa menjadi bahan belajarnya?

  1. Emergence, yaitu kemampuan mengidentifikasi kesempatan. Tools belajar untuk mengeksploitasi langkah ini bisa melalui riset media, observasi tren, matrix atas tren yang terjadi, papan inspirasi, mindmap, dan belajar menuliskan “intent statement“.
  2. Emphaty, yaitu menguatkan kapasitas berpikir kontekstual yang lebih baik. Melatih empati bisa dilakukan dengan membuat stakeholder map, wawancara, persona canvas, peta empati, moodboard, hingga journey map.
  3. Experimentation, yaitu groan zone. Janganlah buru-buru mengambil kesimpulan dan cari berbagai sudut pandang. Untuk mengembangkan keterampilan tim agar bisa lebih eksploratif gunakan tools berikut: brainstorming, insight clustering, konfrontasi semantik, dan analogi.
  4. Elaboration, yaitu mengelaborasi dan menguji langsung dengan beragam materi dan solusi semantik. Sehingga dapat memaknai lebih dalam hubungan yang terjadi di dalamnya. Mengembangkan DT memang harus selalu menyenangkan, salah satunya adalah bagaimana mengembangkan kemampuan elaborasi dengan berlatih roleplay. rapid prototype, matriks evaluasi, blueprint, dan pilot testing.
  5. Exposition, yaitu mengomunikasikan konsep-konsep baru dan solusi yang dihasilkan dari proses sebelumnya. Komunikasi kerap kali menjadi masalah dalam tim. Oleh karena itu, latihlah menggunakan storyboard dan ilustrasi konsep. Selain itu dapat juga dengan membuat pernyataan visi, purwarupa, presentasi, hingga memvisualisasikan model bisnis menjadi tantangan.
  6. Extension, yaitu mengimplementasikan konsep pada kondisi nyata, mengobservasi, mengembangkan, dan menumbuhkannya. Langkah ini dapat dilakukan dengan menggunakan peta implementasi, media print atau digital, hingga membuat kuisioner, umpan balik, dan roadmap.
Sumber: https://www.dwipurnomo.id/category/design-thinking/

Belajar Membuat Mindmap (Emergence)

Konsep mind mapping ini dikenal oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an, menurut Tony teknik pencatatan mind mapping merupakan sistem penyimpanan, penarikan data serta akses yang luar biasa, konsep ini menurut Tony sudah ada dalam otak manusia dan kita hanya perlu mengolah data-data tersebut.

Mindmap tentang Manajemen Waktu. Sumber: Glints
Example of mind map
An example of a mind map (Strategies for Whole-Food Plant-Based Living)

A mind map is a visual way to organise and learn information. Mind maps can help you to break down complex information, memorise information, and see the connections between different ideas.

Belajar Membuat Journey Map (Emphaty)

A customer journey mapping is an experience exercise to understand how consumers engage with the product. The four stages of customer journey mapping are Awareness, Consideration, Conversion, and Retention & Advocacy. The method takes important details about users such as emotional transformation, touchpoints, and UX (User Experience) opportunities. It leads to developing improved customer interaction processes that help reduce time and cost of service.

Sumber: https://medium.com/@UX101/mengenal-costumer-journey-map-afcf1ed41a9a

Tersurat dari namanya, customer journey map adalah semacam peta yang jadi representasi visual dari perjalanan pelanggan mencapai goals dengan suatu perusahaan. Dengan itu, Anda bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang mereka ingin dan butuhkan saat mencari, menimbang, hingga membeli produk atau layanan.

Misalnya, untuk tahap pertama Anda bisa lihat fase discovery dan menemukan insights seperti ini:

Q: Bagaimana mereka bisa sampai menemukan brand ini?
A: Google, Instagram, Facebook;

Q: Apa goals yang mereka tuju saat bersentuhan dengan touchpoints itu?
A: Mencari solusi atas kebutuhan akan penyedia layanan internet terbaik; 

Q: Apa yang mereka rasakan saat menemukan brand ini?
A: Tertarik dengan harganya tapi belum sepenuhnya percaya dengan kualitas jaringan; 

Q: Apa yang bisa kita lakukan?
A: Membuat communication baru untuk meningkatkan kepercayaan di blog, Instagram, dan Facebook.

https://business.tutsplus.com/id/tutorials/customer-journey-map–cms-27014

Belajar Brainstorming (Experimentation)

Brainstorming adalah sebuah alat bantu yang digunakan untuk mengeluarkan ide dari setiap anggota tim yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Brainstorming dapat memberi inspirasi, memperluas wawasan, merupakan pembelajaran dalam mengambil keputusan, selain itu menciptakan kesetaraan dan melibatkan seluruh anggota tim. namun saat ini Brainstorming juga dapat dilakukan tanpa harus berkumpul dalam satu ruangan, namun juga dapat dilakukan di dunia maya atau telekonferensi dengan jarak ribuan meter.

Sumber: kajianpustaka.com

Jenis brainstorming ada 2, yaitu:

  1. Individual  brainstorming cenderung menghasilkan lebih banyak gagasan. Pada kenyataannya, orang memang mendapat lebih banyak mendapatkan ide-ide brainstorming ketika berpikir sendiri.
  2. Group brainstorming menjadi lebih efektif karena menggunakan semua pengalaman dan kreativitas dari anggota kelompok yang ada. Ketika salah satu anggota yang mengungkapkan ide sudah mencapai batasannya, maka anggota yang lain dapat membantu mengembangkan ide tersebut.

Tata cara group brainstorming, terdiri dari:

  1. Suspend Judgment, semua anggota tim harus menahan diri, tidak menghakimi ide, pendapat dan gagasan yang diajukan oleh anggota lain
  2. Record all Ideas, ada seseorang yang dapat menjadi notulen, mencatat semua ide, pendapat ataupun gagasan yang diajukan, walaupun ide tersebut terdengar aneh
  3. Encourage “Piggy-backing” ideas, koordinator atau fasilitator mendorong untuk membangun ide, pendapat atau gagasan baru atau tambahan dari ide yang sudah pernah dijalankan
  4. Think out of the box, yakni mendorong untuk mengeluarkan pemikiran yang baru, tidak pengulanggan dari ide atau pendapat yang sudah ada.

Baca kembali artikel berikut untuk memperdalam pengetahuan, link di sini:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s