Monthly Archives: Mei 2022

Serunya Naik Kereta Keliling Pulau Jawa

Standar

Kami telah mengunjungi berbagai kota dengan transportasi kereta, diantaranya adalah :

  1. Kota Bandung kereta Argo Parahiangan
  2. Kota Cirebon kereta Cirebon Ekspres atau Argo Jati (sekarang bernama Argo Cheribon)
  3. Kota Yogyakarta kereta Taksaka
  4. Kota Purwokerto kereta Purwojaya
  5. Kota Semarang kereta Argo Muria
  6. Kota Solo kereta Argo Dwipangga atau Argo Lawu
  7. Kota Surabaya kereta Argo Bromo Anggrek atau Bima
  8. Kota Malang kereta Gajayana

Rute kereta tersebut ada yang melewati jalur Utara dan Selatan.

Pengalaman Seru Naik Kereta

Dulu pertengahan tahun 90-an hingga akhir tahun 2005, aku sekeluarga akan memilih kereta untuk mengunjungi orangtua di Cirebon dan Solo. Selain tidak lelah karena membawa anak yang masih kecil, juga sensasi berkereta itu memang beda. Selanjutnya saat Teteh lahir hingga sekarang kesukaan kami terhadap transportasi publik ini malah semakin menjadi he3 …

Apa yang paling disukai saat melakukan perjalanan naik kereta?

Menu kesukaan Teteh di restorasi kereta.

Anak-anakku suka sekali memesan nasi goreng dan bistik di restorasi kereta api. Rasanya yang sedap dan disajikan di atas piring ceper berwarna putih. Sungguh membuat perut ini keroncongan lagi mengingatnya.

Kaka dan Mas naik kereta ke Yogyakarta dan Solo di tahun 2000-an.
Selama perjalanan Teteh bisa belajar dan menikmati pemandangan indah dari balik jendela kereta.
Aku biasanya lebih memilih jadwal perjalanan pagi agar bisa menikmati keindahan alam sepanjang jalur kereta di Pulau Jawa.
Sempat memotret rel kereta dari jendela saat mendapat gerbong terakhir.

Kami sekeluarga pernah mendapatkan tiket dengan berbeda-beda gerbong. He3 … Kok bisa? Ceritanya saat libur lebaran memang peak season ya. Jadi nomor kursi kami kan tidak berdekatan, padahal kangen kepingin ngobrol bareng. Maklum kan Kaka dan Mas kuliah di Bandung. Jadilah kami nge-date di restorasi. Untung saja menjelang tengah malam restorasi dalam keadaan sepi. Kami memesan kopi, teh, dan makanan. Tapi saat itu sudah beda loh! Makanannya dikemas dalam wadah plastik yang bisa dihangatkan di microwave. Kata anak-anakku lebih enak makanan jaman jadul yang disajikan di atas piring.

Akibat kami berpisah gerbong maka meet up sekeluarga di restorasi kereta tengah malam ha3 …
Ketemu petugas kondektur kereta api. Kostumnya keren ya …

Cerita naik kereta jaman lebih jadul lagi, saat aku kecil tahun 70-an hingga 80-an naik kereta Gunung Jati rute Jakarta-Cirebon. Nah … Di kereta ini kursinya masih berhadap-hadapan tidak bisa dibalik. Seperti kursi kelas ekonomi. Karcis masih berupa sepotong kertas tebal berkuran sekitar 3×7 cm. Ada nomor seri dan petugas kondektur akan membolonginya saat pemeriksaan. Seru sekali kereta jaman dulu, banyak pedagang naik ke atas gerbong saat berhenti di stasiun. Mereka menjajakan pecel, nasi rames, beragam minuman dan cemilan. Ramai … Heboh. Iya lah! Tapi aku suka karena sepanjang jalan bisa jajan. 

Selain itu, banyak juga penumpang yang selonjoran, duduk di lantai, bahkan tidur dengan nikmatnya. Kalau sekarang mana boleh! Gerbong kereta dilengkapi dengan kipas angin yang sering tidak berputar. Sampah berserakan. Ketika hampir sampai tujuan biasanya ada pembagian tissue basah. Begitu muka dan tangan dilap, waaaahhhhh …. hitam jadinya tissue itu. Ternyata sepanjang jalan banyak debu menempel di kulit kita.

Nah … satu lagi perihal toilet, ya ampun deh! Jaman dulu kalau bisa menahan saja keinginan buang air kecil apalagi buang air besar. Toiletnya kadang tak berair. Lebih aneh lagi ada penumpang (mungkin tidak bertiket) sengaja duduk di toilet. Sepertinya menghindari pemeriksaan petugas kondektur.

Sekarang anak-anak kalau bepergian dengan kereta, sudah jauh lebih nyaman. Ada kelas eksekutif dengan pendingin udara, toilet bersih, kursi bisa diubah senderanya hingga nyaman untuk tidur. Stasiun rapi dan teratur dengan petugas yang ramah. Bahkan PT. KAI di masa pandemi Covid-19 ada fasilitas pemeriksaan tes Antigen atau G-Nose. Tempat duduk diatur agar masih berjarak aman. Tidak boleh makan atau minum di dalam gerbong selama perjalanan. Namun masih bisa bekerja di kereta api, karena tersedia stop kontak untuk mengisi daya laptop dan handphone. Penumpang diberi paket masker dan tissue basah.

Tiket kereta saat ini.

Pembelian tiket sudah bisa dilakukan dengan online. Penumpang bisa mencetak tiket di stasiun keberangkatan. Sedangkan tiket go-show bisa dibeli 3 jam sebelum berangkat. Petugas Kondektur memeriksa tiket sambil melihat layar handphone. Tidak lagi ada alat pembolong kertas.

Adakah teman-teman Mamah Gajah Ngeblog (MGN) yang mengoleksi tiket kereta jaman dulu? Atau mau bercerita kisah naik kereta di kolom komentar.

Bangunan Stasiun Kereta Api

Teteh dan sepupunya di depan Stasiun Kejaksan Cirebon.

Stasiun Cirebon di tetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya dan didesain oleh Arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang diresmikan pada 3 Juni 1912 bersamaan dengan dibukanya lintas milik SS Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer. Gaya arsitektur bangunannya merupakan perpaduan dari ciri arsitektur lokal dengan pengaruh aliran seni Art Nouveau dan Art Deco. Dua menara bertuliskan “Cirebon” dahulu terdapat tulisan “kaartjes” (karcis) di sebelah kiri dan “bagage” (bagasi) di sebelah kanan. Pada tahun 1984, gedung stasiun ini diberi cat putih. Pembangunan Stasiun Cirebon tak lepas dari aktivitas produksi gula yang ada di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa, dari Semarang hingga Cirebon.

Stasiun Solo Balapan saat Teteh liburan sekolah.

Stasiun Solo Balapan dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) bersamaan pembangunan jalur kereta Kedungjati-Solo sepanjang 74 km dengan lebar jalur 1.435 mm. Pada 1872, NISM mengoperasikan dua kali perjalanan kereta dari Solo-Semarang dan sebaliknya.

Teteh di Stasiun Tugu saat berlibur di Kota Yogyakarta.
Tahun 2013 model tiketnya masih seperti ini.

Stasiun Tugu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah yaitu Staatspoorwegen (SS). Stasiun Tugu pertama kali dioperasikan untuk umum tanggal 12 Mei 1887 yang melayani jalur Yogyakarta-Cilacap. Bangunan Stasiun Tugu Yogyakarta merupakan stasiun pulau yang diapit oleh jalur-jalur kereta. Stasiun Yogyakarta di tetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya dan dikenal sebagai salah satu tempat pemberhentian kereta tertua di Indonesia. Stasiun dioperasikan sejak tanggal 2 Mei 1887 sedangkan Stasiun Lempuyangan telah dioperasikan 15 tahun lebih awal.

Saat berlibur ke Kota Semarang aku juga memilih naik kereta api.

Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914. Sebelumnya, pada tahun 1911 dilakukan peletakan batu pertama oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi di NISM.

Bangunan stasiun yang bergaya Hindia ini diarsiteki oleh Ir. Louis Cornelis Lambertus Willem Sloth-Blaauboer. Stasiun ini tergolong stasiun sisi; memanjang mengikuti sumbu jalur kereta. Bentuk massa bangunan adalah perpaduan kubus dan balok, dan atapnya berbentuk limas segiempat pada lobi utama serta prisma segitiga pada kedua sisi sampingnya. Atap pada bangunan lobi dimahkotai kubah sehingga memberi kesan megah, tegas, dan kokoh yang menjadi ciri khas arsitektur kolonial.

Aku berada di Stasiun Pasar Turi Surabaya ketika berlibur ke Kota Gresik dan Kota Malang.

Stasiun Surabaya Pasarturi dibangun oleh perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda, yaitu Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Setelah mendapat keuntungan pada 1890-an, NIS mengajukan konsesi pembangunan jalur baru. Pada 1 September 1897, perusahaan ini mendapat konsesi izin pembangunan jalur kereta baru lintas Gundih–Gambringan–Bojonegoro–Surabaya. Supaya dapat menampung penumpang dari Gresik, maka dilakukan pembangunan jalur cabang menuju Gresik. Selain itu, jalur kereta lintas Babat hingga Merakurak juga dibangun.

Stasiun beserta jalur kereta lintas Lamongan–Surabaya mulai beroperasi sejak 1 April 1900. Kemudian pada 15 Oktober 1900, jalur kereta ruas Gundih–Kradenan selesai dibangun dan pembangunannya dilanjutkan hingga Bojonegoro. Jalur ini selesai dibangun secara keseluruhan pada 1 Februari 1903. Nama “Surabaya Pasarturi” diberikan sejak Djawatan Kereta Api mulai mendata stasiun-stasiun di Indonesia pada 1950-an. Stasiun ini diberi nama “Pasar Turi” karena terdapat sebuah pasar dengan nama yang sama.

Stasiun Bandung. Sumber: Wikipedia

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto, gagasan awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884 pada masa pemerintahan Bupati Koesoemoadilaga. Pada waktu yang sama dibuka jalur kereta Batavia–Bandung melalui Bogor dan Cianjur.

Dari Stasiun Gambir Jakarta menuju berbagai kota di Pulau Jawa. Let’s traveling

Gagasan pembangunan jalur kerata di Batavia (Jakarta) mencuat tahun 1846. Kala itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. J. Rochussen mengusulkan pemerintah untuk membangun jalur kereta dari Jakarta menuju ke Buitenzorg (Bogor). Stasiun Batavia Koningsplein dikenal pula dengan Stasiun Gambir. Terkait penamaan Gambir belum diketahui kapan pastinya, diduga sekitar tahun 1922. Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, konon kabarnya karena  di lapangan tersebut tumbuh Pohon Gambir. Pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

Di Stasiun Gambir, pintu lift yang diberi gambar pemandangan kereta terlihat sangat menarik.
Di lantai 3 stasiun Gambir ada peta jalur kereta sepanjang Pulau Jawa.

Artikel ini dipersembahkan untuk: Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog Mei 2022.

Mampir juga di artikel menarik lainnya di sini:

Kunyah Saja Rokokmu

Standar

Sebuah fiksi dari sebagian kejadian nyata untuk memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun 2022.

Sumber: https://kesmas.kemkes.go.id/konten/105/0/media-hari-tanpa-tembakau-sedunia-2022

“Ka, temani Ibu yuk! ke BSM mau bayar-bayar nih …” ajak Ibu suatu pagi saat aku libur sekolah.

“Bu … Dekat bank ada rumah sakit tempat aku dilahirkan ya? Nanti kita mampir yah!” tanyaku pada Ibu.

“Kaka mau nostalgia?” canda Ibu sambil mengucek rambutku.

“Aku ingin lihat kamar nomor lima,” lanjutku.

“Oke … Kita mampir sambil beli ketoprak di depan rumah sakit,” kata Ibu.

Aku masa kecil bersama Ibu.

Di perjalanan menuju bank, Ibu bercerita tentang pengalamannya hamil tiga anak beserta suka dukanya masing-masing. Ibu mengandung sembilan bulan lebih. Makin hari makin berat kandungannya. Bayi dalam perutnya dibawa kemanapun Ibu pergi. Ketika Ibu bekerja sebagai arsitek di sebuah konsultan ternyata para juru gambar di kantor itu semuanya perokok. Ruang gambar penuh asap rokok dari pagi hingga malam hari. Namun ruang kerja arsitek bebas asap rokok. Peraturan itu ditegakkan dengan susah payah. Tetapi, Ibu tetap terkena polusi asap rokok karena harus masuk ke ruang juru gambar untuk mengecek hasil gambar mereka. Setiap hari Ibu menjadi perokok pasif. Ibu merasa sedih karena pastinya sebagai perokok pasif juga akan menanggung akibat yang fatal bagi diri sendiri maupun bayi yang sedang dikandungnya.

Ibu juga sangat benci asapnya. Ibu pernah bilang, “Kunyah saja rokok-mu! atau merokoklah dalam ruang kedap udara untuk dirimu sendiri. Ha … ha … ha … apa ada yang mau?”

Para perokok memang kejam! Mereka tidak berperikemanusiaan. Sudah tahu rokok berbahaya bagi diri sendiri. Tetap saja barang haram itu dihisap. Lebih jahat lagi perilaku mereka karena tak menghiraukan orang lain. Perokok pasif lebih rugi karena terpaksa menghirup racun. Ibu sangat kecewa.

Sejak kecil aku sering batuk dan pilek. Di usia empat tahun aku terdeteksi mengidap asma. Beberapa kali aku harus melakukan inhalasi di UGD. Nafasku berbunyi ‘nggiikk … nggiikk … pada malam hari. Batukku ‘ggrrookk .. ggrrookk … pada pagi hari. Selama satu tahun aku menjalani pengobatan flek paru-paru. Minum obat tak boleh putus setiap hari.

Setelah sembuh, dokter menganjurkan agar aku rajin berenang dan menghindari pencetus alergi. Paru-paru dan saluran pernafasanku perlu perhatian lebih. Bronkhitis akut juga pernah aku alami. Dokter memberiku obat semprot. Minuman dingin dan bersoda tak boleh aku konsumsi. Makanan berpenyedap rasa akan memicu batuk. Debu membuatku bersin.

Alhamdulillah … Keadaan ini tak membuatku gentar. Aku yakin tak akan diberi ujian melebihi kemampuan. Justru aku jadi termotivasi belajar masak. Kok masak? Teman-teman pasti heran. Anak laki-laki senang masak memang tak umum. Mau tahu kenapa?

Waktu Ibu mengandung anak ketiga sering di pagi hari tak sempat memasak sarapan. Ibu mual dan pusing. Kami tak memiliki pembantu yang menginap. Pembantu kami datang pagi hari dan pulang siang hari. Jadi kalau mau tetap sarapan harus ada yang bertugas memasak. Aku dengan senang hati melakukan tugas itu.

Nasi goreng telur parut wortel, dadar telur, goreng nugget, telur mata sapi, roti oles mentega mesis, mie goreng, susu sereal, dan teh manis aku bisa buat. Menurut Bapak nasi goreng terenak adalah buatanku. Wow … jadi tambah semangat nih! Kata adikku Dimas (anak kedua Ibu) telur dadar buatanku membuatnya tambah nafsu makan. Ibu bilang mie gorengku tak kalah dengan hasil koki restoran.

Nah … Pendapatku “Kalau tak mau kelaparan. Belajarlah masak.”

“Huk … huk … huk…hhaacchhiimm…” aku terbatuk dan bersin.

Di depanku seorang pembeli ketoprak dengan tenangnya merokok. Huh! Rasanya aku ingin mengeluarkan satu dua jurus karate. Ibu menutup hidung dengan ujung kerudung. Perokok itu tak bergeming.

“Pak maaf. Bisa dimatikan rokoknya!” pinta Ibu.

Perokok itu bukannya mematikan rokoknya malah menghisapnya makin dalam dan menghembuskan asapnya ke arah aku dan Ibu. Matanya mendelik. Mukanya masam. Ibu segera membayar ketoprak dan mengajakku pergi. Ah … sayang ketoprakku belum habis. Sungguh! Aku janji tak akan merokok sampai mati. Bukankah rokok banyak mengandung zat yang mematikan? Coba rokok dikunyah saja! Hi … hi … hi … tentu aku dan Ibu tak perlu marah. Hah … buang energi saja!

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Perempuan Penebar Pesona Kebaikan

Standar

Hari Ibu yang diperingati setiap tanggal 22 Desember seharusnya menjadi momen mengungkap pesona kebaikan dari para perempuan. Kali ini aku ingin menuliskan kisah para perempuan undercover, terabaikan bahkan kadang kita tak peka kalau mereka ada. Kontak komunikasi tak lebih dari 10 menit telah menggoreskan kenangan dan pelajaran berharga. Sejatinya menemukan mutiara kehidupan itu bisa dari siapa pun.

Seorang ibu pedagang asongan di stasiun Solo Balapan sedang belajar membaca Al-Quran ditemani pengajarnya yang juga ibu sudah lansia.

Aku tetiba tersaput haru. Hampir saja airmataku jatuh. Saat melihat Ibu pedagang asongan ini sedang belajar membaca Al-Quran di selasar Stasiun Solo Balapan. Ibu dengan kain jarik batik ini menjual oleh-oleh khas seperti karak, keripik usus, kerupuk rambak, dan cemilan lainnya. Ketika sepi pembeli, dia melanjutkan belajar lagi membaca Kitabullah, walau terbata. Namun tampak semangatnya membara.

Kebetulan aku perlu sebotol air mineral. Jadilah aku membeli sambil meminta ijin untuk mengambil fotonya. He3 … Bersyukur dia mau dijepret. Pelajaran penting yang aku dapat dari kejadian ini adalah belajar bisa di mana saja. Belajar tak terbatas usia. Tak ada alasan tak mau belajar untuk mencintai Al-Quran. Bukan hasil akhirnya … Tapi dari proses itulah Allah Yang Mahatinggi lagi Mahamulia akan melimpahkan karunia terbaik-Nya. Malu sangat bila kita yang diberi kelapangan, kelonggaran, kemampuan, bahkan kelebihan untuk belajar Al-Quran tapi menyia-nyiakannya. 

Kejadian lain yang juga membuat hati ini membuncah haru adalah saat tiba di Stasiun Kejaksan Cirebon. Begitu keluar gerbang ada seorang nenek penjual salak. Tampak segar dan besar-besar buah kesukaanku itu. 

Senyum tipis selalu menghiasi wajah keriput Nenek penjual salak di Stasiun Kejaksan Cirebon kepada setiap pembeli yang menghampirinya.

Aku mendekat dan menanyakan harganya. Nenek ini duduk bersimpuh tanpa terpapar terik matahari. Tapi wajah keriputnya tersenyum ke arahku. Matanya ramah. Tak nampak lelah. Duuuuhhh … Aku saja yang melihatnya merasa tak tega. Aku membeli sekilo dan menyerahkan uangnya. “Tak usah kembalian Nek …” kataku. Waaaahhh … Tak disangka, dia memegang tanganku dan menarik kantong plastik yang kupegang. Dia masukkan lagi beberapa buah salak. “Ini Neng … Kelebihan uangnya”. Ya Allah Yang Mahabaik lagi Maha Pemurah berkahilah rezeki nenek penjual salak ini. 

Peristiwa itu membuatku berpikir ulang tentang makna kaya. Nenek ini sungguh sangat kaya. Senyum kepada saudaramu adalah sadaqah. Betapa dia telah banyak bersadaqah karena kepada setiap pembeli selalu dihadiahi senyum. Sejatinya Nenek ini sungguh beruntung karena tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Walau secara usia sudah renta tapi tak mau meminta-minta. Tetap semangat mengais rezeki untuk diri-sendiri. Tak menyusahkan orang lain. 

Satu lagi peristiwa mengharukan terjadi saat aku belanja buah di Pasar Tawangmangu. Hampir seluruh pedagang di sini perempuan. Baik yang berjualan sayuran, buah-buahan atau bahan makanan lainnya. Aku tertarik dengan seorang Mbok penjual jambu merah. Di sebelahnya ada penjual pecel ndeso dan capuk rambak kuliner Solo yang khas dan unik. 

Mbok pedagang jambu di Pasar Tawangmangu Karanganyar yang tampak semangat berdagang agar tetap mandiri di usia senja.

Suamiku suka sekali makanan tradisional ini dan membelinya beberapa bungkus. Sedangkan aku membeli jambu merah untuk dibuat jus kesukaan anak-anak. Tanpa menawar aku membeli sekilo dan memberinya uang lebih. Sama seperti kejadian di Cirebon, ternyata Mbok ini tak mau kelebihan uang. Dia memberi aku beberapa jambu biji lagi. 

Begitulah para pedagang kecil yang bermartabat dan terhormat. Salut sangat aku kepada mereka. Perih dan marah kepada para pejabat jahat. Memakan uang rakyat untuk kesenangan diri. Tak peka terhadap sekitar di mana masih banyak orang melarat. 

Sekali lagi pelajaran penting aku dapat. Jika ingin menjadi manusia yang selamat baik di dunia maupun di akhirat, maka tebarlah kebaikan selagi sempat. 

Salam hormat untuk para perempuan penebar pesona kebaikan. Semoga Allah Yang Mahaagung lagi Mahakuasa melimpahkan segala rahmat-Nya. Aamiin …

Pendidikan Terbaik untuk Anak

Standar

Prinsipku dalam mendidik anak adalah bahwa proses jauh lebih penting dijalankan dengan sebaik-baiknya. Potensi bakat dan minat anak haruslah berkembang dengan optimal. Bukahkah kecerdasan anak tidak sama rata? Masing-masing anak adalah unik. 

Alhamdulillah … Berkat karunia dan kasih sayang Allah Yang Mahabaik lagi Mahamulia, terbukti bahwa prestasi adalah hasil kerja cerdas dan ikhtiar keras. Mas menjadi mahasiswa PWK ITB tahun 2018.
Kaka saat mengikuti wisuda lulus dari Fakultas Peternakan Unpad angkatan 2014.
Sebagai orangtua tentu sangat bersyukur dan bangga atas prestasi dan hasil belajar Mas selama menempuh pendidikan Al Binaa Islamic Boarding School dan Kaka di SMA Insan Cendikia SK IBS. Lebih membanggakan lagi karena nilai tersebut diperoleh dengan menjunjung tinggi kejujuran.

Jujur Itu Keren

Belajar penuh semangat dan doa terus dipanjatkan. Bila nilai didapat dengan kejujuran, rasa syukur sungguh akan terpancar indah. Namun nilai tinggipun bila didapat dengan kecurangan, rasa apakah yang akan muncul dari lubuk hati terdalam? Malu! Entahlah … Apakah masih ada rasa malu dihadapan Allah Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar bagi guru, orangtua dan siswa yang melakukan kecurangan?

Mas mengerjakan soal secara mandiri dan penuh percaya diri. Tak sedikitpun terbersit keinginan berlaku curang alias mencontek. Pesan kejujuran selalu aku sampaikan terus menerus seiring kerja cerdas dan ikhtiar kerasnya mempersiapkan diri agar dapat menyelesaikan pendidikan di SMP dengan baik. Para guru dan manajemen sekolah mempersiapkan siswa untuk percaya kepada kemampuan diri sendiri dan berlaku jujur dalam mengerjakan soal-soal ujian agar memperoleh hasil terbaik.

Sekolah tempat Mas belajar juga ternyata tidak melulu berorientasi asal lulus Ujian Nasional. Beberapa pertemuan antara manajemen sekolah yang diwakili kepala sekolah bersama orangtua siswa, sangat ditekankan bahwa pendidikan adalah sebuah proses. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Para siswa dibimbing agar mampu menjadi manusia versi terbaik. Berbagai program disusun agar mereka memiliki keimanan, ketaqwaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkelindan tak terpisahkan. Siswa diharapkan dapat menebar kebaikan kepada sesama juga alam semesta.

Rasanya senang mendapatkan informasi tersebut. Saat dibanyak tempat nilai adalah satu-satunya tujuan. Lalu kejujuran diabaikan dan dipojokkan di ruang berdebu. Kecuranganpun diambil sebagai jalan pintas agar nampak keberhasilan semu.  Apakah harus begitu?

Anakku Bukan Robot

Manusia unik, spesifik, menarik, dan berkapasitas penuh sebagai khalifah fil ard. Anak-anak tidak sepatutnya dinilai keberhasilannya hanya semata dari ukuran eksternal seperti ujian sekolah atau ujian nasional.

Kadang orangtua melupakan dan menghilangkan makna penting menjadi seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, suka menjelajah, sesekali jatuh, lalu bangun lagi, melompat bahkan terjun di kolam berair jernih untuk kemudian berenang penuh semangat hingga di sisi lain.

Berikan kesempatan mereka  pemahaman hikmah ujian sebagai proses dan langkah baik menuju tahapan kehidupan berikutnya yang lebih baik, bukan sebgai tekanan. Masa kanak-kanak terlalu berharga bila disia-siakan dengan tekanan-tekanan serupa aliran listrik, tombol mekanik, dan gabungan beragam instruksi ‘manual book‘ artifisial berupa persaingan tak terkendali, jam belajar text book yang panjang, rapor atau kertas ijazah yang membungkus seluruh kemanusiaannya dalam angka-angka.

Mungkin pemikiranku ini tak begitu sejalan dengan pandangan umum. Aku membayangkan dan terus ingin mendiskusikannya kemudian berupaya bersama mencapai gagasan besar ini bersama para guru, kepala sekolah, dan penyelenggara pendidikan di tempat anak-anakku belajar. Sekolah yang melihat anak-anak sebagai benih yang perlu di rawat -guru adalah juru kebun yang membantu mengeluarkan potensi di dalam diri anak. Penyelenggara adalah lahan subur yang memberikan tanah terbaiknya baik keberlangsungan tumbuh kembang benih-benih unggul tersebut menjadi manusia versi terbaiknya masing-masing. Anak bukanlah lempung yang bisa dibentuk semena-mena oleh guru dan orangtua sebagai pembuat tembikar yang memutuskan bentuk apa yang harus dihasilkan lempung itu.

Doa-doa Terbaik

Tiada kata seindah dan seberkah doa. Bukan hanya berpahala, doa adalah jalan terbaik bagi siapapun yang ingin menjadi lebih baik. Maka diawali dengan sadar akan kekurangan diri, lalu memperbanyak tobat dan berlatih untuk berubah, sempurnakan semua ikhtiar dengan memperbanyak doa kepada-Nya.

Ambil waktu-waktu terbaik. Jangan sia-siakan waktu setelah shalat fardhu, waktu sepertiga malam terakhir (waktu sahur), saat menunggu shalat (khususnya di antara azan dan iqamah), saat hari Jumat (terkhusus dari bada Ashar sampai datangnya Maghrib), saat turun hujan, termasuk pula saat di perjalanan, kecuali kita mengisinya dengan memperbanyak zikir dan doa.

Utamakan doa-doa masyhur yang diambil dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, lalu doa-doa yang dicontohkan para ulama, bisa pula doa dengan bahasa kita sendiri. Ingatlah bahwa pertolongan Allah sebanding dengan kesungguhan kita untuk berubah. Semakin serius kita mendekat kepada-Nya semakin cepat pula pertolongan-Nya datang menghampiri. Insyaallah …

Kaka, Mas, dan Teteh kesayangan … Barakallah.

Aku bertekad memberikan anak-anak kebebasan untuk menjelajahi kehidupan dengan sungguh-sungguh. Penjelajah tentu perlu bekal bukan? Sebagai orangtua, tugasku adalah membekali mereka nilai-nilai terutama agama yang kuat, memberikan peta dan kompas berupa teladan akhlakul karimah, kejujuran, integritas, amanah, semangat belajar, dan kerja keras, juga terus melangitkan doa-doa terbaik sebagai pengiring perjalanan mereka.

Fitrah Based Education, Let’s Go Back to Fitrah

Standar

Pendidikan Berbasis Fitrah, Mari Kembali ke Fitrah

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ

QS Al-Araf (7):172.

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Buku karya Harry Santosa, mengembalikan pendidikan sejati selaras fitrah, misi hidup, dan tujuan hidup.

MISSION (Why We Exist)

Misi Fitrah World Movement adalah bagian dari Tugas Khalifah Allah di Muka Bumi, yaitu mengembalikan kesejatian fitrah individu, kesejatian fitrah keluarga, kesejatian fitrah komunitas, fitrah desa, atau fitrah negara lalu memandunya dengan Kitabullah (Islamic Worldview) sehingga individu, keluarga, komunitas, desa, dan negara dapat dihantarkan menuju kedaulatan peran peradabannya.

VISION (What We Want to Be)

Visi Fitrah World Movement adalah tercapainya Peran Peradaban yang Berdaulat. Peran Peradaban (Dauril Hadhoriyah) yang dimaksud adalah Peran Khalifatullah fil Ardh (Vicegerents on Earth), pada skala individual mampu menebar rahmat bagi semesta dan membawa berita gembira dan peringatan (solution maker / problem solver), kemudian secara kolektif komunal mampu menjadi the best model community (khoiru ummah) dan the integrator & collaborator community (ummatan wasathon).

VALUE (Who We Want to Be)

F.I.T.R.A.H

  • F  : Faith and Fight (Tauhid wa Dakwah)
  • I   : Intellectual and Right Action (‘Ilmu wa Adab)
  • T  : Talent and Uniqueness (Syaqila wa Sabila)
  • R  : Regeneration and Family Education (Dzuriyatan Thoyyibah wa Tarbiyah)
  • A  : Arts, Aesthetics and Happiness (Tsaqofah wa Sa’adah)
  • H : Health, Environment & Ecology

Sumber: https://fitrahbased.com/

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

QS. Ar-Rum Ayat 30

Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Fitrah cinta pada kebaikan harus ditanamkan sejak dini.

Ya … Anak-anak akan mencintai masjid dan kemudian melaksanakan beragam ibadah terutama shalat berjamaah di masjid. Aku berusaha mengajak anak-anak mencintai masjid dengan cara yang asyik. He3 … Begitulah dunia anak-anak. Bermainpun bisa sambil belajar, bukan?

Seorang pencinta sejati tentu sangat bertanggungjawab terhadap rumah tangganya, pada keluarganya. Keberhasilan memimpin keluarga adalah salah satu kriteria bagi kesuksesan seseorang.

Mampir juga ya di artikel menarik lainnya …

Apa Itu Kalimat Majemuk Setara

Standar

Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa) kali ini membuat tantangan dengan kata kunci ‘tara’. Tidak mudah membuat tulisan pada masa lebaran. Rute mudik yang aku jalani dari Jakarta, Bandung, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Cirebon, lalu kembali ke Jakarta. Berangkat dari Jakarta pada tanggal 26 April 2022 dan kembali ke Jakarta pada tanggal 16 Mei 2022. Selama kegiatan silaturahim dengan kerabat aku tak sempat membuka laptop untuk menulis. Untunglah pada hari Minggu ini ada sedikit waktu luang untuk menulis.

Selamat Idulfitri 1443 Hijriyah.

Apa yang mau ditulis? He3 … Ide kok gak muncul-muncul ya… Mungkin efek keasyikan liburan dan berburu kuliner di setiap kota yang disinggahi. Akhirnya aku coba untuk membuat tulisan tentang kalimat majemuk setara. Semoga bermanfaat ya untuk para Mamah MaGaTa.

Kalimat majemuk setara merupakan kalimat yang memiliki dua pola atau lebih sebagai hasil perluasan atau penggabungan kalimat tunggal. Dalam bahasa Indonesia, kalimat majemuk tergolong dalam jenis kalimat berdasarkan jumlah klausanya. Ada tiga jenis kalimat majemuk, yakni:

  1. Kalimat majemuk setara;
  2. Kalimat majemuk bertingkat;
  3. Kalimat majemuk campuran merupakan hasil perpaduan dari majemuk setara dan bertingkat, dengan pola tersendiri.

Kalimat majemuk setara menurut Kurshartanti dan teman-teman dalam buku Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (2005), adalah susunan kalimat yang terdiri atas dua atau lebih klausa dengan hubungan setara. Kehadiran kalimat majemuk setara dalam bahasa Indonesia ditandai dengan penggunaan konjungsi dan, atau, tetapi, serta. Konjungsi lain yang mungkin muncul dalam jenis kalimat majemuk ini adalah padahal, sedangkan, dan melainkan.

  1. Kalimat majemuk setara berurutan atau setara urutan waktu merupakan penggabungan dua kalimat yang kejadiaannya saling berurutan yang dihubungkan dengan kata tugas: kemudian, lalu, setelah itu.
  2. Kalimat majemuk setara penguatan adalah penggabungan dua kalimat yang salah satu kalimatnya bersifat menguatkan kalimat yang lainnya. Kata tugas yang digunakan untuk menghubungkan kalimat ini: bahkan, terlebih lagi.
  3. Kalimat majemuk setara memilih adalah penggabungan dua kalimat yang merupakan suatu pilihan. Kata tugas untuk menghubungkan kalimat ini: atau.
  4. Kalimat majemuk setara sebab akibat merupakan penggabungan dua kalimat, di mana satu kalimat merupakan sebab dan kalimat lainnya merupakan akibat. Kata tugas yang dipakai untuk hubungan kalimat ini: karena, sehingga, akibatnya.
  5. Kalimat majemuk setara berlawanan atau pertentangan adalah penggabungan dua kalimat di mana kondisinya bertentangan, yang dirangkai dengan kata tugas: tetapi, melainkan, sedangkan.
  6. Kalimat majemuk setara sejalan atau setara menggabungkan adalah penggabungan dua kalimat tunggal yang berada dalam situasi yang sama, dihubungkan dengan kata tugas seperti: dan, ketika, sebelum, kemudian.

Beberapa contoh kalimat majemuk setara adalah:

  1. Kindi tidak sedang bermain game online tetapi membaca novel berjudul ‘Kasih-Nya Tiada Tara‘.
  2. Hanif penyuka masakan pedas, sedangkan Rusydi penyuka masakan yang lebih asin.
  3. Aliyya mengatakan tidak tahu, padahal sebenarnya dia mengetahui kejadian tersebut.
  4. Kamu bisa membeli langsung peralatan elektronik ini di toko atau lewat online.
  5. Ridho membaca surat dari ibunya, kemudian menangis tersedu-sedu.
  6. Suasana riuh di dalam kelas terhenti ketika kepala sekolah datang.
  7. Abu Bakar ash Shidiq memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga ia dihormati dan disegani oleh masyarakat.
  8. Proses penyetaraan ijazah dapat lebih singkat karena lulusan luar negeri dapat melakukan pendaftaraan di mana saja melalui internet. 
  9. Budi sudah bolak balik berobat tetapi sakit yang dideritanya tak kunjung sembuh.
  10. Pemuda itu rajin bekerja, bahkan ia merupakan tulang punggung keluarganya.
Tantangan MaGaTa Mei 2022.

Catatan:

  • Kata melainkan merupakan pasangan dari bukan, tidak bisa dipasangkan dengan kata tidak. Pasangan tidak adalah tetapi dan bisa diikuti dengan kata kerja dan kata sifat. Pasangan bukan dan melainkan hanya bisa diikuti oleh kata benda/kata ganti orang.
  • Tidak perlu koma sebelum kata ketika, sehingga, dan karena yang menjadi kata hubung dalam kalimat majemuk setara.
  • Sebaiknya pakai huruf miring ketika sedang membahas sebuah kata untuk membedakannya dari kata yang memang sedang “bertugas” dalam kalimat tersebut.

Kuliner Solo The Spirit of Java

Standar

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog (MGN) kali ini bikin lapar ha3 … Gimana gak? Tema yang diusung oleh admin kesayangan adalah tentang makanan khas kota tempat tinggal Mamah.

Aku mencintai Kota Solo karena berjodoh dengan orang Solo. Ibu mertua adalah cucu Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V. Seorang ulama bangsawan, abdi dalem Keraton Surakarta. Beliau anak dari putri bungsu Penghulu Tafsir Anom V, bernama Marhamah. Solo The Spirit of Java adalah tagline yang mengandung makna ‘Solo merupakan jiwanya Jawa’.

Andong kendaraan khas untuk keliling Keraton Surakarta

Aku suka banget loh blusukan di Kota Solo. Naik becak lebih seru karena kendaraan ini di Jakarta sudah disingkirkan sejak tahun 90-an. Sesekali gowes bersama suami keliling kota dan mampir membeli jajanan khas. Semoga saja sajian artikel kali ini dapat menginspirasi para Mamah member of MGN tentang makanan yang membuatku jatuh cinta dan selalu rindu menyantapnya. Kuliner Solo yang aku suka di antaranya adalah Tongseng, Tengkleng, Sate Kambing, Serabi Notosuman, Es Dawet Telasih, Pecel Ndeso, Cabuk Rambuk, Jenang Lemu, Leker, Susu Murni, dan Nasi Liwet.

Ternyata ada sensasi tersendiri berjalan menyusuri kawasan Kauman Solo yang masih menyimpan nuansa kuno.

Berburu Tongseng, Tengkleng, dan Sate Kambing

Lebaran kali ini aku ngidam kepingin kuliner serba kambing. H+2 setelah ziarah ke makam Bapak dan Ibu di Pajang, aku minta suami langsung menyambangi kios Pak Manto. Sudah terbayang kambing muda yang diolah menjadi masakan terendes dalam sejarah kulinerku ha3 … Tengkleng, tongseng, dan sate kambingnya sedap pake banget. Tapi … ooohhh … sayang sekali pengunjung sangat membludak. Trotoar di samping kios sudah penuh pengunjung … Aku coba masuk ke dalam … Wuuiiihhh … Padat. Tak satupun bangku kosong.

Kios Pak Manto dapurnya berada di sisi jalan. Pengunjung bisa melihat langsung para juru masak mengolah kambing menjadi tengkleng, tongseng, dan sate.
Tengkleng rica Pak Manto. Sumber: kulinersoloraya.com

Suamiku pantang menyerah loh! Dia mengajak ke kios Pak H. Bejo yang menjual sate buntel dan tongseng maaaknyuuus … Duuuh … Gak rezeki juga nih! Tergantung tulisan ‘HABIS’ di depan kios.

Kios Pak H. Bejo sepi karena semua hidangan sudah habis.
Sate buntel dan tongseng kambing Pak H. Bejo. Sumber: gofood.co.id

Legenda Kuliner Solo

Selepas silaturahim ke rumah kerabat, aku mengajak suami ke Pasar Gede Hardjonagoro. Siang hari sungguh cocok bila menyantap dawet telasih dan es gempol pleret Bu Wiji. Segar sekali rasanya. Minuman favorit keluargaku ini rasanya manis, dingin dan segar. Bakal ketagihan deh!

Ramuan es dawet tradisional Solo yang turun-temurun tiga generasi. Semangkuk es dawet ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, biji telasih, cairan gula, dan santan dengan tambahan es batu.

Beberapa penjual es dawet telasih seperti Bu Siswo, Bu Wiji, dan Bu Dermi siap menyajikan semangkuk dawet dengan kuah santan untuk Anda. Dawet Bu Dermi misalnya, sepetak lapak tempat berjualan dawet terkenal tak pernah sepi pengunjung dari berbagai kalangan mulai dari masyarakat biasa hingga Presiden. Aku berusaha menggunakan bahasa Jawa bila berada di pasar tradisional.

Serabi Notosuman laris manis … Teteh rela menunggu serabi yang sedang dimasak. Cara membuat serabi cukup sederhana. Adonan tepung beras, santan, gula pasir, garam, pandan, dan air dicetak dalam wajan kecil dan ditutup hingga mekar.

Satu lagi makanan yang selalu disantap saat berada di Kota Solo adalah serabi Notosuman yang legendaris. Manis gurih dari santan kental pastinya tak cukup menyantap satu. Apalagi dimakan saat sore hari sambil menyeruput ngopi … Waaaahhh … Sedap sekali.

Asal usul resep Serabi Notosuman Solo ternyata berasal dari pasangan etnis Tionghoa bernama Hoo Ging Hok dan Tan Giok Lan. Notosuman merupakan nama kawasan di Solo yang identik dengan salah satu cemilan legendaris khas Solo, serabi dengan cita rasa memikat sejak 1923. Dengan begitu, usia dari usaha Serabi Notosuman yang melegenda itu sudah mendekati satu abad.

Meskipun bersumber dari catatan resep yang sama, ternyata ada perbedaan antara kedua produk Serabi Notosuman itu yakni pada warna kardus yang digunakan. Serabi Notosuman Ny. Lidia menggunakan bungkus hijau, sedangkan, serabi Ny. Handayani kondang dengan sebutan serabi bungkus oranye.

Pecel Ndeso Solo kesukaan suamiku adalah makanan sehat ala masa lampau.

Pecel biasanya terdiri sayuran rebus yang diguyur sambal kacang. Namun, berbeda dengan Pecel Ndeso Solo. Dari tampilannya saja, warna sambal terlihat lebih hitam. Ternyata, sambal pada menu ini memang berbeda. Penjual makanan khas ini bukan menggunakan kacang melainkan wijen hitam. Rasanya mantap banget deh! Selain pecel biasanya penjual menyajikan juga rebusan kacang tanah, pisang, dan makanan khas dibungkus daun pisang.

Cabuk rambak yang bikin kangen Solo ada di stadion Manahan.

Cabuk rambak berfungsi sebagai makanan sela (volumenya tidak seberapa besar dan satu porsi tidak membuat kenyang) terbuat dari ketupat nasi diiris tipis-tipis, lalu disiram saus wijen dicampur kemiri dan kelapa parut yang telah disangrai, serta ditambah beberapa potong karak (sejenis kerupuk terbuat dari nasi kering dan bleng). Biasanya disajikan tidak dengan piring tetapi wadah daun pisang dibentuk pincuk.

Nama ‘cabuk’ mengacu pada wijen (ada sejenis sambal/saus terbuat dari wijen bakar di daerah yang sama). Tapi cukup mengherankan dengan nama ‘rambak’, karena ternyata sama sekali tidak ada kerupuk kulit (rambak) yang disajikan.

Kuliner Dekat Musafir Guest House (MGH) Solo

Ketika masih ada Ibu dan Bapak, pastinya kami akan menginap di rumah Danukusuman. Namun setelah mereka tiada, kami menginap di Musafir Guest House (MGH) yang dahulu adalah rumah keluarga Ibu dan Eyang. Letaknya hanya selisih satu masjid dan satu rumah saja. Setelah direvitalisasi rumah tersebut kini berfungsi sebagai guest house dengan 4 kamar tipe superior dan 17 kamar tipe standar. MGH berada tak jauh dari alun-alun kidul Keraton Surakarta. Monggo pinarek bila bertandang ke Kota Solo …

Jenang lemu mbah Mur. Sumber: gofood.co.id

Di dekat MGH ada makanan khas yang dijual sore hari, yaitu jenang lemu Mbah Mur di Serengan seberang kios Soto Gading yang terkenal itu … Bubur gurih yang bisa dipadukan dengan kuah santan pedas atau kuah semur manis. Tambahan telur rebus, krecek, dan tahu bacem membuat sensasi rasa tersendiri. Ada juga menu ketan juruh yang legit dengan taburan parutan kelapa muda dan cairan gula merah.

Oya … Lokasi rumah keluarga dekat dengan penjual susu murni yang buka sejak sore hingga malam hari. Rahasia kenikmatan sajian dalam gelas kaca tinggi ini adalah kesegaran bahan bakunya berupa susu murni (diambil langsung dari perahan sapi) yang didatangkan dari Boyolali setiap harinya.

Superboy alias susu murni Boyolali. Sumber: kulinersoloraya.com

Saat sarapan pagi biasanya aku membeli nasi liwet di alun-alun kidul Keraton Surakarta. Nasi yang dimasak dengan santan disajikan dengan suwiran ayam areh, sayur labu siam, dan areh santan. Bungkus nasi liwet menggunakan daun pisang yang dibentuk pincuk. Lebih nikmat bila disantap bersama kerupuk karak. Hhhmmm … Maknyus tenan iki.

Nasi liwet menu sarapan favorit.
Nasi liwet mbah Manto.
Saat gowes di depan SD Kesatriyanan Keraton Surakarta bertemu penjaja leker.
Mohon maaf lahir dan batin … Berpose sejenak di depan MGH sebelum melanjutkan perjalanan mudik kami ke Kota Yogyakarta dan Kota Cirebon.

Resep Nasi Liwet

  • Bahan nasi liwet: 400 gram beras, cuci bersih 700 ml santan dari 1/2 butir kelapa 2 lembar daun pandan 2 lembar daun salam 1 batang serai, memarkan 1/2 sdt garam
  • Bahan ayam areh:  1 ekor ayam, potong jadi 4 bagian  1 sdt ketumbar 2 lembar daun salam 1 sdt garam 2 sdm gula merah  2 gelas air kelapa 
  • Bumbu halus ayam areh: 4 siung bawang putih  6 siung bawang merah  3 butir kemiri sangrai  3 cm lengkuas 1/4 sdt terasi 
  • Areh santan: 1 gelas santan kental dari 1/4 butir kelapa  3 lembar daun salam 3 cm lengkuas, memarkan 1/2 sdt garam
https://mamahgajahngeblog.com/