Serunya Naik Kereta Keliling Pulau Jawa

Standar

Kami telah mengunjungi berbagai kota dengan transportasi kereta, diantaranya adalah :

  1. Kota Bandung kereta Argo Parahiangan
  2. Kota Cirebon kereta Cirebon Ekspres atau Argo Jati (sekarang bernama Argo Cheribon)
  3. Kota Yogyakarta kereta Taksaka
  4. Kota Purwokerto kereta Purwojaya
  5. Kota Semarang kereta Argo Muria
  6. Kota Solo kereta Argo Dwipangga atau Argo Lawu
  7. Kota Surabaya kereta Argo Bromo Anggrek atau Bima
  8. Kota Malang kereta Gajayana

Rute kereta tersebut ada yang melewati jalur Utara dan Selatan.

Pengalaman Seru Naik Kereta

Dulu pertengahan tahun 90-an hingga akhir tahun 2005, aku sekeluarga akan memilih kereta untuk mengunjungi orangtua di Cirebon dan Solo. Selain tidak lelah karena membawa anak yang masih kecil, juga sensasi berkereta itu memang beda. Selanjutnya saat Teteh lahir hingga sekarang kesukaan kami terhadap transportasi publik ini malah semakin menjadi he3 …

Apa yang paling disukai saat melakukan perjalanan naik kereta?

Menu kesukaan Teteh di restorasi kereta.

Anak-anakku suka sekali memesan nasi goreng dan bistik di restorasi kereta api. Rasanya yang sedap dan disajikan di atas piring ceper berwarna putih. Sungguh membuat perut ini keroncongan lagi mengingatnya.

Kaka dan Mas naik kereta ke Yogyakarta dan Solo di tahun 2000-an.
Selama perjalanan Teteh bisa belajar dan menikmati pemandangan indah dari balik jendela kereta.
Aku biasanya lebih memilih jadwal perjalanan pagi agar bisa menikmati keindahan alam sepanjang jalur kereta di Pulau Jawa.
Sempat memotret rel kereta dari jendela saat mendapat gerbong terakhir.

Kami sekeluarga pernah mendapatkan tiket dengan berbeda-beda gerbong. He3 … Kok bisa? Ceritanya saat libur lebaran memang peak season ya. Jadi nomor kursi kami kan tidak berdekatan, padahal kangen kepingin ngobrol bareng. Maklum kan Kaka dan Mas kuliah di Bandung. Jadilah kami nge-date di restorasi. Untung saja menjelang tengah malam restorasi dalam keadaan sepi. Kami memesan kopi, teh, dan makanan. Tapi saat itu sudah beda loh! Makanannya dikemas dalam wadah plastik yang bisa dihangatkan di microwave. Kata anak-anakku lebih enak makanan jaman jadul yang disajikan di atas piring.

Akibat kami berpisah gerbong maka meet up sekeluarga di restorasi kereta tengah malam ha3 …
Ketemu petugas kondektur kereta api. Kostumnya keren ya …

Cerita naik kereta jaman lebih jadul lagi, saat aku kecil tahun 70-an hingga 80-an naik kereta Gunung Jati rute Jakarta-Cirebon. Nah … Di kereta ini kursinya masih berhadap-hadapan tidak bisa dibalik. Seperti kursi kelas ekonomi. Karcis masih berupa sepotong kertas tebal berkuran sekitar 3×7 cm. Ada nomor seri dan petugas kondektur akan membolonginya saat pemeriksaan. Seru sekali kereta jaman dulu, banyak pedagang naik ke atas gerbong saat berhenti di stasiun. Mereka menjajakan pecel, nasi rames, beragam minuman dan cemilan. Ramai … Heboh. Iya lah! Tapi aku suka karena sepanjang jalan bisa jajan. 

Selain itu, banyak juga penumpang yang selonjoran, duduk di lantai, bahkan tidur dengan nikmatnya. Kalau sekarang mana boleh! Gerbong kereta dilengkapi dengan kipas angin yang sering tidak berputar. Sampah berserakan. Ketika hampir sampai tujuan biasanya ada pembagian tissue basah. Begitu muka dan tangan dilap, waaaahhhhh …. hitam jadinya tissue itu. Ternyata sepanjang jalan banyak debu menempel di kulit kita.

Nah … satu lagi perihal toilet, ya ampun deh! Jaman dulu kalau bisa menahan saja keinginan buang air kecil apalagi buang air besar. Toiletnya kadang tak berair. Lebih aneh lagi ada penumpang (mungkin tidak bertiket) sengaja duduk di toilet. Sepertinya menghindari pemeriksaan petugas kondektur.

Sekarang anak-anak kalau bepergian dengan kereta, sudah jauh lebih nyaman. Ada kelas eksekutif dengan pendingin udara, toilet bersih, kursi bisa diubah senderanya hingga nyaman untuk tidur. Stasiun rapi dan teratur dengan petugas yang ramah. Bahkan PT. KAI di masa pandemi Covid-19 ada fasilitas pemeriksaan tes Antigen atau G-Nose. Tempat duduk diatur agar masih berjarak aman. Tidak boleh makan atau minum di dalam gerbong selama perjalanan. Namun masih bisa bekerja di kereta api, karena tersedia stop kontak untuk mengisi daya laptop dan handphone. Penumpang diberi paket masker dan tissue basah.

Tiket kereta saat ini.

Pembelian tiket sudah bisa dilakukan dengan online. Penumpang bisa mencetak tiket di stasiun keberangkatan. Sedangkan tiket go-show bisa dibeli 3 jam sebelum berangkat. Petugas Kondektur memeriksa tiket sambil melihat layar handphone. Tidak lagi ada alat pembolong kertas.

Adakah teman-teman Mamah Gajah Ngeblog (MGN) yang mengoleksi tiket kereta jaman dulu? Atau mau bercerita kisah naik kereta di kolom komentar.

Bangunan Stasiun Kereta Api

Teteh dan sepupunya di depan Stasiun Kejaksan Cirebon.

Stasiun Cirebon di tetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya dan didesain oleh Arsitek Belanda bernama Pieter Adriaan Jacobus Moojen yang diresmikan pada 3 Juni 1912 bersamaan dengan dibukanya lintas milik SS Cikampek-Cirebon sejauh 137 kilometer. Gaya arsitektur bangunannya merupakan perpaduan dari ciri arsitektur lokal dengan pengaruh aliran seni Art Nouveau dan Art Deco. Dua menara bertuliskan “Cirebon” dahulu terdapat tulisan “kaartjes” (karcis) di sebelah kiri dan “bagage” (bagasi) di sebelah kanan. Pada tahun 1984, gedung stasiun ini diberi cat putih. Pembangunan Stasiun Cirebon tak lepas dari aktivitas produksi gula yang ada di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa, dari Semarang hingga Cirebon.

Stasiun Solo Balapan saat Teteh liburan sekolah.

Stasiun Solo Balapan dibangun oleh perusahaan kereta api swasta Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) bersamaan pembangunan jalur kereta Kedungjati-Solo sepanjang 74 km dengan lebar jalur 1.435 mm. Pada 1872, NISM mengoperasikan dua kali perjalanan kereta dari Solo-Semarang dan sebaliknya.

Teteh di Stasiun Tugu saat berlibur di Kota Yogyakarta.
Tahun 2013 model tiketnya masih seperti ini.

Stasiun Tugu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah yaitu Staatspoorwegen (SS). Stasiun Tugu pertama kali dioperasikan untuk umum tanggal 12 Mei 1887 yang melayani jalur Yogyakarta-Cilacap. Bangunan Stasiun Tugu Yogyakarta merupakan stasiun pulau yang diapit oleh jalur-jalur kereta. Stasiun Yogyakarta di tetapkan sebagai Bangunan Stasiun Cagar Budaya dan dikenal sebagai salah satu tempat pemberhentian kereta tertua di Indonesia. Stasiun dioperasikan sejak tanggal 2 Mei 1887 sedangkan Stasiun Lempuyangan telah dioperasikan 15 tahun lebih awal.

Saat berlibur ke Kota Semarang aku juga memilih naik kereta api.

Stasiun Tawang dirancang oleh arsitek Belanda Sloth-Blauwboer dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 1914. Sebelumnya, pada tahun 1911 dilakukan peletakan batu pertama oleh Anna Wilhelmina van Lennep, putri Kepala Teknisi di NISM.

Bangunan stasiun yang bergaya Hindia ini diarsiteki oleh Ir. Louis Cornelis Lambertus Willem Sloth-Blaauboer. Stasiun ini tergolong stasiun sisi; memanjang mengikuti sumbu jalur kereta. Bentuk massa bangunan adalah perpaduan kubus dan balok, dan atapnya berbentuk limas segiempat pada lobi utama serta prisma segitiga pada kedua sisi sampingnya. Atap pada bangunan lobi dimahkotai kubah sehingga memberi kesan megah, tegas, dan kokoh yang menjadi ciri khas arsitektur kolonial.

Aku berada di Stasiun Pasar Turi Surabaya ketika berlibur ke Kota Gresik dan Kota Malang.

Stasiun Surabaya Pasarturi dibangun oleh perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda, yaitu Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Setelah mendapat keuntungan pada 1890-an, NIS mengajukan konsesi pembangunan jalur baru. Pada 1 September 1897, perusahaan ini mendapat konsesi izin pembangunan jalur kereta baru lintas Gundih–Gambringan–Bojonegoro–Surabaya. Supaya dapat menampung penumpang dari Gresik, maka dilakukan pembangunan jalur cabang menuju Gresik. Selain itu, jalur kereta lintas Babat hingga Merakurak juga dibangun.

Stasiun beserta jalur kereta lintas Lamongan–Surabaya mulai beroperasi sejak 1 April 1900. Kemudian pada 15 Oktober 1900, jalur kereta ruas Gundih–Kradenan selesai dibangun dan pembangunannya dilanjutkan hingga Bojonegoro. Jalur ini selesai dibangun secara keseluruhan pada 1 Februari 1903. Nama “Surabaya Pasarturi” diberikan sejak Djawatan Kereta Api mulai mendata stasiun-stasiun di Indonesia pada 1950-an. Stasiun ini diberi nama “Pasar Turi” karena terdapat sebuah pasar dengan nama yang sama.

Stasiun Bandung. Sumber: Wikipedia

Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto, gagasan awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884 pada masa pemerintahan Bupati Koesoemoadilaga. Pada waktu yang sama dibuka jalur kereta Batavia–Bandung melalui Bogor dan Cianjur.

Dari Stasiun Gambir Jakarta menuju berbagai kota di Pulau Jawa. Let’s traveling

Gagasan pembangunan jalur kerata di Batavia (Jakarta) mencuat tahun 1846. Kala itu, Gubernur Jenderal Hindia Belanda J. J. Rochussen mengusulkan pemerintah untuk membangun jalur kereta dari Jakarta menuju ke Buitenzorg (Bogor). Stasiun Batavia Koningsplein dikenal pula dengan Stasiun Gambir. Terkait penamaan Gambir belum diketahui kapan pastinya, diduga sekitar tahun 1922. Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, konon kabarnya karena  di lapangan tersebut tumbuh Pohon Gambir. Pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

Di Stasiun Gambir, pintu lift yang diberi gambar pemandangan kereta terlihat sangat menarik.
Di lantai 3 stasiun Gambir ada peta jalur kereta sepanjang Pulau Jawa.

Artikel ini dipersembahkan untuk: Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog Mei 2022.

Mampir juga di artikel menarik lainnya di sini:

13 responses »

  1. Teteh aku jadi kangen naik kereta. Terakhir benar2 pas jaman kuliah. Memang seru sambil lihat pemandangan. Karena dl ngekos pengiritan jadi ngga sempat cobain pesan makan di kereta

  2. Kl baca blog teteh seru bgt ya tehh naik kereta kemana2 di pulau jawa.. dulu jg pernah naik kereta dr bdg ke blitar pas pertama nikah mau ke rumah eyangnya suami.. abis itu kapok, pegel bgt teh ampun :p
    Cukup lah aku jd penggemar argo parahyangan aja huehehehe

  3. Lengkap banget foto dokumentasi perjalan naik KA bareng anak-anak. Iya, aku kangen menu yang piringnya beling bukan container plastik. Haha…
    Terakhir naik KA, Nov 2021 kemarin, BDG-Surabaya. Memang favorit sih naik KA. Paling jauh Bandung-Malang, mayan pegel pol, 14 jam di KA.
    Dulu sih sering pas kuliah JKT-BDG, aku turun Jatinegara, karena rumah di deket Pasar Beras Cipinang.
    Teh, udah punya buku “Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe”? Ditulis oleh Olivier Johannes Raap, orang Belanda tapi bisa bahasa Indonesia. Keren bukunya…

  4. Lengkap banget foto dokumentasi perjalan naik KA bareng anak-anak. Iya, aku kangen menu yang piringnya beling bukan container plastik. Haha…
    Terakhir naik KA, Nov 2021 kemarin, BDG-Surabaya. Memang favorit sih naik KA. Paling jauh Bandung-Malang, mayan pegel pol, 14 jam di KA.
    Dulu sih sering pas kuliah JKT-BDG, aku turun Jatinegara, karena rumah di deket Pasar Beras Cipinang.
    Teh, udah punya buku “Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe”? Ditulis oleh Olivier Johannes Raap, orang Belanda tapi bisa bahasa Indonesia. Keren bukunya…

  5. Waah jadi ingin naik kereta lagi bawa anak2. Saya pribadi pernah naik kereta cuma 2x, Argo Parahyangan dan kereta eksekutif ke Yogja. Setuju banget, nasi gorengnya favorit harganya pun terjangkau kan tehh hehe.

  6. Teh Dewiiii, aduh bacanya puas. Lengkap informasinya, dari sejarahnya, suasana, dan fasilitasnya.

    Perjalanan Mba Dewi dan keluarga dengan kereta api kok terlihat sangat menyenangkan ya. 😍

    Saat kuliah, kereta api menjadi transportasi andalan untuk pulang kampung, dulu naik yang kelas ekonomi, yang masih bebas penjual masuk, dan penumpangnya penuh berdesakan sampai berdiri atau selonjor di bawah. Pastinya sudah tidak senyaman jaman now lah ehehe.

    Plus sesudah lama berada di kereta, seringkali hidung jadi banyak upilnya ahaha. Mungkin sirkulasi udaranya kurang bersih ya. 😅

    Suka banget bacanya Teh Dewi. Terimakasih Teh 🥰

  7. Teh Dewi, seperti biasa selalu super lengkap dan detail. Aku juga suka naik kereta, udah lama ni ga naik kereta, jadi kangen.

    Lihat foto nasi goreng jadi ingat, entah kenapa dulu nasi goreng kereta parahyangan bandung-jakarta itu enak banget hehe

  8. Teh Dewi, aku lupa udah komen atau belum, komen lagi aja ya. Seperti biasa detil dan lengkap banget tulisan Teh Dewi, aku juga suka naik kereta, jadi kangen.

    Nasi goreng kereta api ini enak banget deh, dulu kalau pas di Jakarta dan kebeneran ke bandung naik Parahyangan pasti pesen nasi goreng hehe

  9. Waa baca ini jadi kangen naik kereta 😍. Terakhir naik kereta tahun 2016 kalo ga salah waktu ke Bandung.

    Kalo buat yg suka mabuk kendaraan macam sy, kereta memang pilihan terbaik buat perjalanan jauh. Semoga nanti bisa jalan-jalan naik kereta lagi 🤗

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s