Merajut Cinta di Kota Lama Semarang

Standar

Tantangan menulis kali ini dari Mamah Gajah Bercerita (MaGaTa) sangat terlambat aku tulis. Sesekali menjadi deadliner tak apa ya Mah … Ada apa di kota Semarang? Apa yang membuat hatiku kepincut? Ha3 … Semarang memang menawan. Yuk! Ikuti jalan-jalanku di kota yang terkenal dengan lumpia dan bandeng prestonya ini.

Selepas subuh aku dan suami langsung cuuusss berboncengan motor menuju Kota Lama Semarang. Suasana masih sepi tak banyak kendaraan yang melewati kawasan yang terus berbenah dengan konsep revitalisasi. Bangunan tua bergaya desain kolonial di kawasan ini telah direstorasi dan dialih fungsikan. Hal ini bagus karena bangunan menjadi lebih terjaga dan tetap dimanfaatkan dengan baik. Namun ada juga bangunan yang masih tak terawat, dindingnya sebagian rusak, jendela hampir terlepas, bahkan ada yang dirambati tanaman menjalar.

Sembari menikmati beragam bangunan yang indah aku merenungkan makna cinta yang ada dalam rumah tangga kami. Tak jauh dari profesi kami sebagai arsitek, maka cinta sepasang suami istri bisa diibaratkan juga sebuah bangunan. Ada pondasi, dinding, pintu, jendela, dan atap. Tentu bangunan juga ada interior atau isi bangunan.

Prinsip merajut cinta adalah proses tiada henti sejak ijab kabul diucapkan. Pasangan suami istri harus bersama merawat cintanya, menambal, memperbaiki, bahkan merestorasi jika perlu. Seandainya ada kerusakan parah, maka tak apa mencari dan mendapat pertolongan dari ahlinya. Supaya apa? Ya … Agar bangunan rumah tangga bisa berfungsi sebagai rumah surga dunia, tempat menumbuh kembangkan seluruh potensi kebaikan di dalam diri para penghuninya.

Yuk! Balik ke cerita jalan-jalan lagi ya … Aku buatkan parade foto-foto agar para Mamah MaGaTa kesayangan bisa ikut merasakan suasananya.

Stasiun Tawang berada di Kota Lama Semarang dengan bangunan utama yang terawat baik. Di depan stasiun ada sebuah kolam besar tempat penampungan air dan dihiasi patung Soekarno atau Bung Karno setinggi 14 meter. Jogging track dibuat sepanjang polder dengan pepohonan nan rimbun. Semilir angin pagi sejuk terasa membuatku tambah semangat untuk terus menjelajah setiap lorong di kawasan ini.

Bangunan dengan dominasi batu bata merah di dekat jembatan Berok ini ternyata rumah pompa. Fungsinya untuk mempercepat penyurutan genangan banjir di kawasan Kota Lama Semarang. Sentuhan estetik menjadi bangunan ini favorit sebagai latar swafoto.

Lorong antar bangunan telah ditata dengan apik dan diutamakan untuk pejalan kaki. Waaahhh … Aku senang sekali keluar masuk lorong-lorong di kawasan ini. Terasa sensasi berbeda saat melintas di antara bangunan berumur lebih dari 100 tahun. Ornamennya unik dengan jendela tinggi dan bukaan yang lebar agar udara bisa keluar masuk dengan leluasa. Jaman dulu belum ada teknologi air conditioning elektrik. Jadi teknologi alami yang cocok dengan daerah tropis adalah plafon yang tinggi, atap miring 45 derajat, bukaan lebar, dan bangunan menghadap ke arah utara – selatan. Keren kan …

Sudut tersembunyi di Kota Lama Semarang dengan bangunan yang belum tersentuh revitalisasi. Beruntung aku bisa dapat pose foto ini. Ada becak sebagai latar depan dan dinding bangunan ditumbuhi pohon dengan akar menjalar. Apa komentar para Mamah nih ketika melintasi lorong ini di malam hari?

Seru juga nih bisa menikmati jamu tradisional yang dijajakan seorang ibu paruh baya. Bangunan ini adalah pabrik rokok Praoe Lajar. Aslinya aku tidak suka dengan asap rokok, bisa mual dan pusing. Tapi kalau bau tembakau bercampur cengkih yang tercium dari bangunan ini ternyata sedap juga ya he3 …

Matahari semakin meninggi hampir sepengalahan. Sejenak duduk santai di bangku yang tersedia sambil melihat lalu lalang kendaraan. Suasana sudah ramai orang hilir mudik menuju tempat bekerja. Waktunya kembali ke hotel untuk melanjutkan tugas negara.

Kesimpulan hasil jalan-jalan berdua kali ini adalah cinta kami harus terus dirawat hingga akhir hayat. Begitu juga sebuah kawasan dengan bangunan bersejarah perlu terus dijaga kelestariannya dengan cinta dari para pemangku kepentingan agar anak cucu dapat memperoleh hikmah.

MaGaTa adalah komunitas menulis para alumni perempuan ITB dari berbagai progam studi dan lintas angkatan.

Silakan mampir membaca artikel menarik lainnya di sini:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s