Category Archives: ibu dosen

berbagi pengetahuan dunia ekonomi, manajemen, dan bisnis.

komunitas ibu-ibu anti korupsi

Standar

Founder Read’s House Kindly : Dewi Laily Purnamasari bersama ibu-ibu di Indonesia – juga di seluruh dunia bertekad dan bergerak untuk menjadi teladan pertama dan utama bagi anak-anak dan keluarga agar memiliki sikap anti korupsi. Anak-anak adalah cikal bakal pemimpin masa depan dan keluarga adalah persemaian yang terbaik bagi tumbuhnya benih-benih akhlak mulia termasuk di dalamnya sikap anti korupsi.

Foto pertama : Santai sesaat sebelum mengajar di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) sambil menikmati keindahan gunung Ciremai.

Helmi Ali dari Rahima Rumah Berdama bercerita bahwa pesan khotib (di Masjid Baiturrahman, Rawa Rambu, Pasar Minggu) hari ini menarik; Dia mengatakan bahwa kasus-kasus korupsi di negeri kita ini sebenarnya telah mempermalukan kita, karena pelakunya kebanyakan adalah tokoh-tokoh yang mempimpin organisasi-organisasi yang berbasis agama, yangg biasa berbicara dengan menggunakan simbol-simbol keagamaan; mereka itu hanya menjual agama, menjual kita, untuk kepentingan perutnya; Lihat saja gaya hidupnya yang sangat mewah, dengan harta yang berlimpah ruah sementara rakyat semakin terpuruk dalam kemiskinan; karena itu kita seharusnya mendukung upaya-upaya pemberantasan korupsi yang dimotori oleh KPK, katanya; lebih jauh dia mengatakan ‘kenapa kita tidak memperlakukan para koruptur itu sebagai kotoran yang menjijikkan’;

Salah seorang anggota komunitas Wiwiek Abassuni menuliskan : Pernahkah Ibu-ibu ditawarkan oleh seorang pegawai Diknas “jatah” masuk ke sekolah favorit untuk putra Ibu, bila Ibu membayar sekian juta rupiah padanya? Sementara itu ada seeorang anak pintar dan telah berjuang keras untuk masuk ke sekolah itu dengan kemampuannya sendiri harus tergusur oleh “jatah” sang oknum pegawai Diknas tesebut.?

Menurut Rina Wahyuningsih : Hasil korupsi ibarat kotoran seperti halnya juga yang biasa dibuang di kloset. Nah kalau orang yang suka makan kotoran itu apa ya namanya? Parahnya lagi merka bagi-bagikan kotoran itu kepada orang-orang yang dicintai. Duh nauzubillah!!!!!! Semangaattt memerangi korupsi mulai dari diri sendiri.

Oleh sebab itu sejatinya orang yang beragama seharusnya hidupnya takut kepada Tuhan, sebab ia tahu apa yang dilarang Tuhan dan apa yang akan dituai ketika ia melanggar.Setan saja gemetar takut kepada Tuhan. Ini sudah keterlaluan ..Tuhan kelewat sedih juga kali melihat ketidakpedulian ini…ck..ck..melakukan korupsi yang menyengsarakan sesama dan keturunannya menjadi suatu kebanggaan….hadeh! Ayo Ibu- ibu…kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang anti korupsi!…kita jadikan mereka memimpin bangsa ini yang berkualitas kelak dalam membenahi negeri ini. Hal ini diungkapkan Rita Liliana anggota komunitas ibu ibu anti korupsi.

Berbagi ide dari Anung Nur Rachmi yang menuliskan : ‘Dengan adanya pers bebas yang membawa terciptanya transparansi, baik rakyat maupun para pejabat publik jadi sama-sama belajar bahwa jadi pejabat publik itu ternyata diikat oleh banyak aturan yang mengharuskan mereka jadi orang “bersih”: tak boleh menggelembungkan (mark-up) anggaran, tak boleh menggunakan anggaran negara utk kepentingan pribadi, tak boleh menerima suap/sogokan, tak boleh memutuskan kebijakan untuk kepentingan suatu kelompok, perusahaan, atau seseorang, hanya karena sudah disogok dengan pemberian mobil atau liburan ke luar negeri, dan lain-lain. Semoga di masa mendatang, banyak orang betul-betul merasa harus berpikir dua kali kalau ingin jadi “pegawai negeri”, makin banyak rakyat yang sadar bahwa “sabetan” atau “penghasilan tambahan” sebagai pegawai negeri atau pejabat publik adalah sesuatu yang ‘haram’, adalah tindakan yang melanggar hukum..’

Foto kedua : Bersama mahasiswa dan rekan dosen Akademi Perdagangan Catur Insan Cendikia (AP-CIC) selepas menjadi pembicara kunci dalam seminar bisnis.

saatnya penduduk desa menjadi blogger

Standar

Wah … Supraise betul saat silaturahim ke rumah keluarga di desa Panjatan Wates Yogyakarta. Apa gerangan itu ? Di seberang rumah ada bangunan kecil dengan papan putih bertuliskan Pusat Layanan Internet Kecamatan dengan logo Kementrian Kominfo. Penasaran aku intip ke dalam ruangan. Ternyata ada beberapa set perangkat komputer. Di luar bangunan ada tower setinggi lebih dari 10 meter.

Bangunan ini berdiri tepat di pojok pasar. Sebelah bangunan ada sungai dan di tak jauh dari situ ada hamparan sawah. Anak-anakku Kaka dan Mas juga tertarik dengan fenomena internet masuk desa ini. Usut punya usut ternyata pengelolanya adalah istri sepupu suamiku. Sayang … Aku tak sempat berbincang lebih dalam tentang bagaimana pengelolaan sehari-hari pusat layanan internet ini.

Lucunya … Sepanjang perjalanan menuju Kota Yogyakarta, kami malah ramai berdiskusi tentang manfaat internet yang ada di pedesaan. Kaka punya teori bahwa bila sudah ada internet para petani bisa menjual hasil pertaniannya dengan membuat situs sendiri dan langsung berhubungan dengan pembeli dari luar daerah bahkan luar negeri. Mas punya pendapat bahwa anak-anak di desa itu bisa mencari informasi untuk bahan pelajaran sekolah dengan searching google. Eh … Teteh si kecil yang baru lulus TK bilang … Asyik dong! Di desa bisa main game online. Ha3 … Sepertinya yang terakhir ini perlu di teliti. Apakah internet dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan atau hanya sekedar untuk main game ?

Tentu aku berharap, dengan adanya internet masuk desa bisa meningkatkan kesejahteraan penduduk di sana. Hasil bumi dapat dipasarkan dengan lebih baik. Lebih penting lagi adalah peningkatan pengetahuan yang bermanfaat bagi mereka. Satu lagi nih … Aku jadi kepingin balik lagi kesana suatu hari nanti untuk mengajak penduduk aktif menulis, membuat blog, dan menjadi blogger.

buah dan sayur impor menjajah kita : miris!

Standar

Siang hari panas menyengat. Sesaat turun dari angkutan umum, aku masuk ke pasar modern dekat rumah. Hawa sejuk menyeruak namun tak meredakan darahku yang tiba-tiba mendidih. Ah … Kali ini aku kok jadi sensitif ya ? Aku hanya ingin membeli sebungkus margarin dan sekotak telur ayam kampung. Saat melintas rak pendingin aku tertegun. Wow … Deretan jamur beragam rupa ditata apik. Pun buah-buahan aneka warna.

Tahukah teman-teman kompasiana yang cinta negeri Indonesia ? Jamur itu datang dari negeri Korea. Impor! Disebelahnya ada tempe yang juga kedelainya impor. Di rak sebrang wortel impor bersebelahan dengan tomat lokal. Waduh … Bagaimana ini ? Rasa mirisku tak berhenti di rak ini.

Ternyata buah-buahan itupun berasal dari negeri nun jauh di sana. Kiwi Australia. Apel dan Anggur  Amerika. Cinapun mengimpor pir dan apel. Ada lemon, buah naga, jeruk, dan durian impor. Gelaran buah lokal ada apel malang, jeruk medan, manggis, alpukat, semangka, melon, dan pepaya. Namun … Tampilannya tak segar. Entah mengapa ?

Negara kita tak dijajah sebagaimana jaman sebelum kemerdekaan. Tapi … Melihat fenomena ini, apakah tak terpikirkan bahwa sekarangpun kita ini masih dijajah.

Deretan buah-buahan impor. Wah … Benar-benar miris!

Kedelai bahan baku tempepun impor loh! Jamur itu datang dari Korea.

Mau tahu kiatku sebagai ibu rumahtangga agar tak dijajah ? Karena salah satu Untuk urusan belanja buah dan sayur, aku tetap setia membelinya di pasar tradisional. Buah yang kerap aku beli adalah semangka, jeruk, pepaya, mangga, jambu merah, alpukat, pisang, nanas, dan melon. Sayuran favoritku adalah bayam, plus jagung, dan seperangkat sop-sopan atau campur aduk sayur asem (he3 … kadang sampai lupa apa saja ya isinya ?).

Trik berbelanja di pasar tradisional adalah aku tak pernah menawar harga buah dan sayur. Paling banter aku akan bilang begini : ‘pasnya berapa mba ?’ atau ‘boleh kurang gak mas ?’ Aku kok tidak tega kalau harus menawar padahal paling-paling turun harga seribu dua ribu untuk satu kilo jeruk medan misalnya. bahkan hanya limaratus perak saja untuk seikat bayam.

Satu lagi nih … Aku tidak pernah belanja kepada penjual yang menjajakan dagangannya di trotoar. Ini harga mati! Karena menurutku penjual di trotoar itu sangat mengganggu pejalan kaki dan membuat kemacetan. Jadi belanjanya ya di dalam pasar kepada penjual di kios atau lapak yang telah disediakan.

Internasional Knowledge Sector Conference 2012

Standar

13496779831545317824

(masyarakat Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk menjawab tantangan ekonomi yang ada sehingga dapat memperkuat kesehatan dan pendidikan yang ada. namun, kenyataannya Indonesia belum menjadi tempat pilihan bagi investasi khususnya di bidang riset. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Australian AID menggagas sebuah kegiatan konferensi internasional bertajuk ‘The Knowledge Sector Conference 2012 : Tracing Indonesia’s New Path Revitalising Knowledge to Reduce Proverty’ pada tanggal 2-4 Oktober 2012.

Pembukaan acara di hadiri oleh Duta Besar Australia, Jacqui De Lacy (AusAID Indonesia), Prof.Dr.Pratikno,M.Soc.Sc (UGM), Anies Rasyid Bawesdan Ph.D (Universitas Paramadina), Dr. Denny Indrayana. Prof. Dewi Fortuna Anwar Ph.D, Prof. Fasli Jalal Ph.D, Edwin Utama, Rizal Sukma, Nicolas Ducote (Buenos Aires, Argentina), Martine Letts (Lowy Institute Australia), Yuna Farhan, dan 50 partisipan perwakilan organisai LSM, perguruan tinggi, dan lembaga riset seluruh Indonesia.

Tanggal 2 Oktober bertepatan dengan hari Batik Nasional diapresiasi oleh para peserta termasuk Duta Besar Australia untuk Indonesia Greg Moriarty tampil dengan busana batik. Jadilah ruang ballroom hotel Aryaduta Jakarta menjadi semarak dengan aneka ragam batik Indonesia.

13496781001364070336

Greg Moriarty menjadi pembicara kunci dan menyampaikan tema ‘Indonesia at the Crossroads’ – Indonesia dipersimpangan jalan. Kondisi Indonesia saat ini adalah waktu yang tepat untuk segera meningkatkan pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi sehingga memberikan manfaat dan kesempatan kepada semua orang. Masyarakat Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk menjawab tantangan ekonomi yang ada sehingga dapat memperkuat kesehatan dan pendidikan yang ada. Namun, kenyataannya Indonesia belum menjadi tempat pilihan bagi investasi khususnya di bidang riset, karena Indonesia masih dalam posisi kritis. Indonesia perlu meningkatkan alokasi dana riset terutama dana pendidikan agar sistem pendidikan menjadi lebih baik dan mampu menjawab tantangan yang ada.

Rektor Universitas Paramadina Anies Rasyid Bawesdan mengungkapkan bahwa dalam pendidikan ada jurang yang cukup dalam antara teori dan implementasi. Sebagai pendiri gerakan Indonesia Mengajar, Anies menggarisbawahi bahwa harus melibatkan masyarakat luas untuk bisa menjangkau masyarakat berbasis pengetahuan. Pendekatan progmatik dimana masyarkat ikut berperan serta dalam hal ini. Indonesia membutuhkan kepemimpinan dan pemimpin harus memiliki karakter yang kuat, bukan sekedar bergelar akademik saja. Pemimpin harus memiliki keberpihakan kepada masyarakat terutama yang masih miskin serta jauh tertinggal dari sisi pendidikan dan kesehatan.

1349679386755290009

Sesi pertama diskusi dimoderatori oleh Irma Natalia Hutabarat dengan tema ‘Knowledge and Indonesia’s Future Prosperity’.  Pengetahuan dan kemakmuran masa depan Indonesia adalah untuk menyoroti mengapa pengetahuan (berinvestasi dalam pendidikan dan penelitian) adalah penting untuk pembangunan masa depan Indonesia itu. Sesi ini dapat mencakup topik seperti mengapa pengetahuan adalah penting, keadaan saat ini investasi Indonesia dalam penelitian dan sumber daya manusia, penelitian Indonesia dan sumber daya manusia dalam konteks global.

Desi Anwar dari Metro TV menjadi moderator pada sesi kedua dengan tema ‘Democracy and Debate : The Role of  Knowledge’.    Demokrasi dan perdebatan peran pengetahuan adalah untuk memajukan diskusi tentang mengapa khowledge (berinvestasi dalam pendidikan dan penelitian sangat penting bagi masa depan pembangunan Indonesia, peran negara sebagai bagian dari proses pembuatan kebijakan di Indonesia, peran negara di dunia penelitian, mengapa penelitian ini penting dalam pembuatan kebijakan, dan contoh bagaimana pengetahuan telah digunakan untuk menginformasikan pembuatan kebijakan.

134967995460983984

Pada sesi acara hiburan ditampilkan atraksi menarik dari komunitas Saung Angklung Udjo. Seluruh peserta turut serta bermain angklung dan ’suprais’ … angklung yang digunakan saat bermain boleh di bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

13496801201195045072

Hari kedua dan ketiga dilanjutkan dengan workshop bertema ‘The Knowledge Sector : Developing Influential Think Tank at A Glance’. Para penyaji internasional berbagi pengalaman tentang perkembangan pendidikan dan penelitian di negara masing-masing. Hasil diskusi bersama selama tiga hari dituangkan dalam bentuk gambar grafis yang sangat menarik. Selain penyaji internasional, tampil juga teman-teman dari Warsi, Fitra, Smeru, Akatiga, LP3ES, UGM, CSIS, Pattiro, dan Mitra Samya.

13496802131894000738

1349680537490607373

Aku, Dewi Laily Purnamasari berpose sejenak di depan hasil karya Deni dari Grid. Sebagai salah satu peserta yang diundang AusAID mewakili Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon bersama Nurul Huda

13496806641177442380

Sesi berbagi di fasilitasi agar muncul ide-ide dari para peserta tentang bagaimana sektor pengetahuan dapat memiliki posisi yang kuat dalam proses pembuatan kebijakan publik. salah satu sesi adalah penampilan masing-masing kelompok dengan desain baju / kostum yang mencerminkan nilai-nilai yang akan diusung seperti kerjasama, keandalan, partisipasi, independen, mandiri, tahan banting, sukarela, konsistensi, stategi unik, riset mumpuni, dukungan masyarakat, saling menguatkan, berjejaring, dan berbasis pengetahuan lokal.

1349681090352559566

Presentasi Warsi tentang penelitian suku anak dalam di Jambi.

134968113251949371

Antonia Mutoro dari IPAR Rwanda berbagi pengalaman kepada para peserta workshop. Aku berkesempatan memberi Antonia hadiah buku yang ku tulis bersama tiga teman-teman peneliti Fahmina Institute berjudul Bukan Kota Wali.

1349681461248808079

Prof. Arun Mahizhnan dari IPS Singapura menyampaikan pengalamannya dalam bidang penelitian kepada peserta workshop. Arun juga memberikan motivasi agar organisasi penelitian di Indonesia melek teknologi informasi seperti dengan membuat web atau memanfaatkan media sosial seperti facebook, twitter, dan lain sebagainya selain tetap menggunakan media utama seperti surat kabar, majalah, atau buku.

1349681638341417041

Peserta konferensi dan workshop sebelum berpisah menyempatkan diri untuk berpose bersama. ‘Keep smile and see you again’ …

pelatihan penelitian berbasis partisipasi masyarakat

Standar

1348465524378176972

(‘bu … punya anak gadis di rumah ?’pertanyaan pembuka yang menggelitik dan juga ampuh sebagai pendekatan komunikasi antara peneliti lapangan dengan warga. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Pengalaman nyata ini dialami oleh seorang dosen ISIF (Institut Studi Islam Fahmina) Cirebon yang sedang menjalani tugas sebagai peserta Short Course Partisipatory Action Research (SC PAR) 2012 di Desa Cigugur – Kuningan Jawa Barat. Sarip, SH membuka dialog akrab dengan warga yang menjadi target penelitian memang membutuhkan skill comunication yang khas, unik, dan membumi. Tugas field work untuk mendapatkan data yang diingkan bukanlah sesuatu yang mudah. Fasilitator SC PAR adalah Mahrus El-Mawa, MA dari ISIF Cirebon dan Koordinator fasilitator Ahmad Mahmudi dari Insist Yogyakarta

Demikian juga pengalaman seorang dosen STAIN Samarinda Kalimantan Timur yang mencoba berbagai pendekatan komunikasi agar dapat berakrab-ria dengan warga. Inayah, MA berusaha menguasai beberapa kosa kata bahasa sunda seperti ‘kumaha damang ?’ ’sumuhun’, ‘parantos’ ‘hatur nuhun’, ‘mangga’ sebagai perekat komunikasi. Lain dengan Sarip, SH yang harus ikut terjun ke sawahpun dilakoninya agar bisa berbincang dengan petani tentang permasalahan pengairan di desanya.

1348465720907865077

Peserta pelatihan diantaranya adalah Inayah, MA (tengah) dan peserta SC PAR 2012 lainnya sedang mempersiapkan presentasi hasil field work

1348465964657984314

Dewi Laily Purnamasari sedang meninjau kegiatan di temani panitia Farida Mahri, Asih Widiyowati, Alifatul Arifiati, dan Alimah.

‘Ini bukan soal buku, ini soal lapangan’, tutur Ahmad Mahmudi berulang kali. Peneliti senior di Insist Yogyakarta yang menemani 25 peserta pelatihan dari PTAI seluruh Indonesia. Hal mendasar yang membedakan penelitian positivistic dengan PAR adalah seorang peneliti harus menggunakan semua inderanya dan life in (hidup bersama warga) di lingkungan yang sedang ditelitinya. Buku digunakan sebagai rerefensi pembanding : sedangkan teori yang sebenarnya adalah praktik / kenyataan yang terjadi di lapangan.

Sekilas  Desa Cigugur – Kuningan

Aku berkesempatan menjadi peninjau kegiatan SC PAR 2012 di sebuah desa di kaki gunung Ciremai. Pusat kegiatan berlangsung di Paseban Tri Panca Tunggal yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional. Lokasi yang asri, nyaman, sejuk, segar, dan tenang membuat saya juga para peserta betah dan tak bosan mengikuti beragam kegiatan yang padat. Peserta yang berjumlah 25 orang tinggal di rumah-rumah warga. Selama 2,5 bulan mereka melakukan berbagai aktifitas terkait PAR.

1348465687737774863

Suasana cottage di tepi situ Paseban

1348465865862635797

Pemandangan indah memberi nuansa tersendiri terutama semangat bagi peserta juga panitia

13484660051849344688

Pintu utama Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur – Kuningan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional

13484660631501681495

Kolam teratai yang dihiasi ornamen cantik di dalamnya terdapat ikan kancra hideung (ikan mas hitam) yang serupa dengan ikan di balong Cigugur, balong dalem Jalaksana, balong Cibulan, balong Linggarjati (semuanya kolam alam di kaki gunung Ciremai)

13484661521903030955

Lelamah atau aula besar tempat peserta dan panitia berkumpul berbagi hasil temuan lapangan

Desa Cigugur – Kuningan adalah contoh nyata penerapan kerukunan beragama dalam kehidupan bermasyarakat, sejak jaman awal Indonesia merdeka. Hal ini diungkapkan oleh Hj. Tuti Sulastri, SH. MH dosen di Unswagati Cirebon yang juga cucu dari Kuwu Cigugur Bapak Rongkah Sastrasasmita. Lekat dalam ingatannya betapa rukun dan damai kehidupan di desa Cigugur saat ia kanak-kanak (sekitar 60 tahun yang lalu). Warga beragama Islam bertetangga dengan warga beragama Kristen juga warga penganut kepercayaan berdampingan saling bahu membahu dan tolong menolong. Bila ada salah seorang warga mendirikan rumah, maka gotong royong dilaksanakan tanpa melihat agama. Persaudaraan tetap terjaga, terutama saat ada warga yang terkena musibah seperti kematian. Terbukti, di pemakaman warga dekat Balai Desa tidak ada pemisah antara makam Islam dan Kristen.

Hal senada diungkapkan oleh Rama Pangeran Djatikusumah cucu dari Pangeran Madrais yang sekarang menjadi Pengurus Cagar Budaya Nasional mengatakan bahwa warga Cigugur adalah teladan kebhinekaan di Indonesia. Pesannya, ‘Janganlah usik kerukunan kami di sini … Kami telah merasakan damainya hidup berdampingan tanpa ada gesekan akibat perbedaan agama dan kepercayaan.’

Sekilas : Apa Itu Partisipasi ?

Pendekatan pembangunan partisipatoris harus mulai dengan orang-orang yang paling mengetahui tentang sistem kehidupan mereka sendiri. Pendekatan ini harus menilai dan mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka, dan memberikan sarana yang perlu bagi mereka supaya dapat mengembangkan diri. Ini memerlukan perombakan dalam seluruh praktik dan pemikiran, di samping bantuan pembangunan. Ringkasnya diperlukan suatu paradigma baru. (J. Pretty dan Guijt, 1992 : 23)

Kaizen Five Step : 5S

Standar

Kai berarti perubahan dan Zen berarti baik. Kaizen adalah istilah bahasa Jepang terhadap konsep continous incremental improvement. Jadi, Kaizen mengandung pengertian melakukan perubahan agar lebih baik secara terus menerus dan tiada berkesudahan.

Prinsip yang berlaku adalah good enough is never good enough. Masaaki Imai memberikan rencana lima langkah ‘Kaizen five step plan’ yaitu : Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke.

Langkah pertama : Seiri (mengatur atau membereskan). Langkah ini bertujuan memisahkan antara yang perlu dan tidak perlu serta membuang atau menyingkirkan yang tidak perlu. Yuk! Cek kembali surat atau dokumen di laci anda. Buka kembali file holder dan tas kerja anda. Juga periksa sistem data file di komputer jinjing dan personal komputer kantor anda. Adakah yang sudah tak perlu ladi disimpan, atau salah penempatan, bahkan perlu anda buang ?

Langkah kedua : Seiton (menyimpan dengan teratur). Periksa dan letakkan dengan benar alat dan material yang harus anda simpan. Tempatkan dengan tepat dan teratur sehingga saat dibutuhkan anda dapat dengan mudah menemukannya. Oya … hal ini berlaku juga untuk lemari pakaian anda. Jika memungkinkan di akhir pekan susun kembali segala peralatan dapur anda. Tak lupa garasi beserta segala pernik kendaraan, tata kembali dengan teratur. Ajak anak anda untuk menyimpan dengan tepat peralatan dan baju sekolahnya.

Langkah ketiga : Seiso (membersihkan). Peliharalah kebersihan tempat kerja, rumah, lingkungan anda sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan efisien.

Langkah keempat : Seiketsu (kebersihan pribadi). Bila lingkungan sudah bersih … tentu kebersihan diri adalah hal utama yang harus anda perhatikan. Di tempat kerja, biasakanlah agar anda terlihat bersih dan rapi sehingga memiliki penampilan yang mencerminkan profesionalisme dalam melaksanakan tugas kerja. Begitupun anda di rumah tetap harus terlihat bersih dan rapi, bukan ?

Langkah kelima : Shitsuke (disiplin). Nah … langkah ini mencakup ketaatan terhadap prosedur kerja yang baku. tentu hal ini membutuhkan disiplin pribadi. Di tempat kerja, di rumah, maupun di lingkungan tempat anda tinggal, disiplin adalah hal penting yang harus terus dijaga. Sehingga langkah 1-4 dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan perubahan ke arah yang lebih baik secara terus menerus : bukan angin-anginan.

Sistem nilai Kaizen yang dapat anda terapkan di tempat kerja berupa Kaizen Umbrella terdiri dari : (1) fokus pada pelanggan; (2) pengendalian kualitas terpadu; (3) robotik; (4) gugus kendali kualitas; (5) sistem saran; (6) otomatisasi; (7) disiplin di tempat kerja; (8) pemeliharaan produktivitas terpadu; (9) kanban; (10) penyempurnaan kualitas; (11) tepat waktu; (12) tanpa cacat; (13) aktivitas kelompok kecil; (14) hubungan kerja sama karyawan-manajemen; (15) pengembangan produk baru.

Kaizen (改善) merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang bermakna “perbaikan berkesinambungan”. Filsafat kaizen berpandangan bahwa hidup kita hendaknya fokus pada upaya perbaikan terus-menerus.

Dari Kaizen Menjadi Lean Innovation (1)

Baca juga link berikut:

pengantar manajemen kualitas

Standar

Total Quality Management

Goetsch dan Davis (1994) membuat definisi mengenai kualitas yaitu : kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

TQM menurut Santosa (1992) merupakan system manajemen yang mengangkat kualitas sebagai strategi usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota organisasi.

TQ approach hanya dapat dicapai dengan memperhatikan karakteristik TQM berikut : (1) Fokus pada pelanggan; (2) Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas; (3) Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah; (4) Memiliki komitmen jangka panjang; (5) Membutuhkan kerja sama tim; (6) Memperbaiki proses secara berkesinambungan; (7)  Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan; (8) Memberikan kebebasan yang terkendali; (9) Memiliki kesatuan tujuan; (10) Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan.

Jepang sebagai Negara industry terkemuka di Asia menemukan strategi-strategi untuk menciptakan revolusi dalam kualitas, beberapa diantaranya : (1) Para manajer tingkat atas secara personal mengambil alih pimpinan revolusi tersebut; (2) Semua level dan fungsi manjalani pelatihan untuk mengelola kualitas; (3) Perbaikan kualitas dilakukan dengan revolusioner dan terus menerus; (4) Tenaga kerja dilibatkan dalam perbaikan kualitas melalui konsep pengendalian kualitas.

Dimensi kualitas dalam produk manufacture / barang industry :

1. Kinerja (performance) karakteristik operasi pokok dari produk inti;

2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (feature) yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap;

3. Kehandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai;

4. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya;

5. Daya tahan (durability) berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan;

6. Serviceability meliputi kecepatan, kompetisi, kenyamanan, mudah direparasi, penanganan keluhan yang memuaskan;

7. Estetika, yaitu daya tarik produk terhadap panca indera;

8. Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.

Zeithaml, Berry, dan Prasuraman (1985) mengidentifikasikan lima kelompok karakteristik yang digunakan oleh pelanggan dalam mengevaluasi kualitas jasa :

1. Bukti langsung (tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;

2. Kehandalan (reliability), yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan;

3. Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan tanggap;

4. Jaminan (assurance), mencakup kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari bahaya risiko atau keragu-raguan;

5. Empati (emphaty) meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan, komunikasi yang baik, dan memahamai kebutuhan para pelanggan.

Introduction to International Business

Standar

Bisnis Internasional

Mahasiswa telah mencoba membuka, membaca dan mempelajari beberapa perusahaan multinasional melalui media internet seperti :  (Cocacola, Guess, Nike, KFC, Shell, Apel, Toshiba, Sony, VW, Honda, Seiko, Carrefour, Sogo, Google, FedEx, Nestle, Nokia, Nexian, Samsung, BMW, P&G, Aqua, Hilton Hotel, Citibank, Adidas, Ferrari,dsb).

• Hakikat Bisnis Internasional

Dunia kini menghadapi era globalisasi sebagai akibat makin banyak Negara melaksanakan liberalisasi dan reformasi ekonomi yang ditunjang oleh majunya teknologi komunikasi dan transportasi.

Bentuk kerjasama dan bisnis Internasional yang ada saat ini diantaranya :

1, Kerjasama multilateral yaitu kesepakatan GATT (General Agreement on Tariff and Trade) tanggal 15 April 1994 menghasilkan keputusan penting menyangkut pembentukan WTO ( World Trade Organization) pada tanggal 1 Januari 1995 dan rencana liberalisasi perdagangan. Terkait hal ini, maka dunia usaha pun harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya agar dapat bersaing dengan produk sejenis dan produk substitusi dari seluruh penjuru dunia.

2. Kerjasama regional

(a) Masyarakat Eropa (European Community)

(b) NAFTA (North American Free Trade Area)

(c) APEC (Asia Pasific Economic Cooperation) didirikan November 1989 dan memiliki 18 negara anggota. Berdasarkan deklarasi Bogor, akan diciptakan perdagangan yang bebas dan terbuka di kawasan Asia Pasifik pada tahun 2020. Sasaran Negara maju pada tahun 2010 dan Negara berkembang tahun 2020. Indonesia termasuk Negara berkembang, tinggal 10 tahun lagi menghadapi era keterbukaan yang penuh tantangan itu. Siapkah kita ?

(3) Kerjasama pengembangan sub-regional seperti SIJORI antar Negara ASEAN.

Gejala yang mewarnai era bisnis dan perdagangan di masa datang adalah semakin kuatnya blok perdagangan, pudarnya paham marxisme, tergesernya Amerika Serikat sebagai lokomotif ekonomi oleh Jepang dan Cina, berakhirnya perang dingin antara Uni Sovet dan AS, kejatuhan ekonomi di Negara Eropa, tahun 1998 Indonesia dilanda krisis moneter, AS saat ini sedang mengalami guncangan ekonomi / keterpurukan ekonomi akibat banyaknya kredit macet di sektor property dan mulai tumbangnya paham ekonomi kapitalis. Lalu … masa datang system ekonomi seperti apa yang mampu mengusung nilai-nilai kesejahteraan yang sejati, tanpa harus berlaku curang atau dzalim kepada sesame, tanpa harus menindas Negara / bangsa lain : system ekonomi yang adil dan setara / egaliter, penuh tanggung jawab dan mengedepankan etika terutama kejujuran. Adakah ?

• Alasan Melaksanakan Bisnis Internasional

Faktor yang mendorong bisnis Internasional diantaranya : (a) market driver; (b) cost driver; (c) government driver; (d) competitive driver; (5) faktor lain.

Market driver tergantung pada aspek perilaku konsumen, sturktur saluran distribusi, dan sifat pemasaran dalam industri yang bersangkutan. Contoh : meningkatnya arus wisatawan asing dan perjalanan antar Negara, konsumen dengan gaya hidup yang berubah seperti orang Prancis menyukai McDonald’s made in AS, dan orang AS menyukai shabu-shabu Hoka-hoka Bento made in Jepang.

Cost driver bergantung pada aspek ekonomi dunia bisnis seperti inovasi teknologi yang semakin cepat, kemajuan dalam transportasi, munculnya NIC (newly industrializing countries) dengan kapabilitas yang produktif dan biaya tenaga kerja yang murah misalnya, cina, Taiwan, Vietnam, dan Thailand.

Government driver tergantung pada tindakan pemerintah seperti hambatan tariff, pengurangan hambatan non-tarif, pembentukan blok perdagangan, berkurangnya peranan pemerintah.

Competitive driver tergantung pada tindakan pesaing seperti peningkatan level perdagangan dunia, semakin banyaknya Negara yang menjadi kunci kompetisi seperti Jepang dan Korea, semakin bertambahnya jumlah perusahaan yang dimiliki pihak asing, muncul pesaing baru dalam bidang industry otomotif dan elektronik, tumbuhnya jaringan global, muncul global strategic alliances, dan perusahaan bersifat globally centered.

Faktor lain diantaranya adalah revolusi dalam informasi dan komunikasi, globalisasi pasar-pasar financial, dan penyempurnaan dalam bisnis travel.

(Sumber buku Strategi Pemasaran, Fandy Tjiptono penerbit Andi Yogyakarta)

• Tahap-tahap dan Hambatan Memasuki Bisnis Internasional

1. Perusahaan domestic; yaitu perusahaan yang memfokuskan orientasi dan strategi pada pasar, pemasok, dan pesaing domestic;

2. Perusahaan internasional; yaitu perusahaan yang melayani pasar domestic (nasional) di negaranya sendiri dan pasar nasional di Negara lain.

3. Perusahaan multinasional; yaitu perusahaan yang menjual produknya ke banyak Negara dan memperlakukan setiap Negara sebagai pasar tersendiri; karena setiap Negara di anggap unik sehingga untuk melayaninya diperlukan program pemasaran tersendiri dan independen.

4. Perusahaan global; yaitu perusahaan yang memperlakukan dunia sebagai satu pasar. Orientasi bisnis perusahaan global adalah geosentris, yakni menganggap pasar duni memiliki persamaan dan perbedaan, sehingga memungkinkan memanfaatkan strategi global yang memanfaatkan kesamaan yang ada menanggapi perbedaan yang ada.

Alasan untuk Go Internasional and Go Global secara proaktif :1. Untuk memperoleh manfaat tertentu misalnya menarik investor dari luar negeri; 2. Memiliki produk yang unik dan sumber yang tidak ada di Negara lain; 3. Memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi; 4. Informasi ekslusif tentang pasar internasional misalnya sumber bahan mentah baru; 5. Komitmen manajemen untuk terjun ke arena internasional; 6. Memanfaatkan kemudakah regulasi ekspor yang diberikan pemerintah; 7. Memperoleh skala ekonomis dalam produksi; 8. Meningkatkan citra perusahaan; 9. Memperoleh peluang riset misalnya dengan menguji produk di pasar asing; 10. Mengekspor teknologi ke Negara berkembang; 11. Meningkatkan pengaruh politik perusahaan.

Memahami budaya internasional adalah penting. Kebudayaan memiliki karakteristik utama, yaitu dipelajari (tidak terbawa sejak lahir, seperti anggota tubuh atau sifat genetic). Setiap elemen kebudayaan saling berkaitan dam digunakan bersama-sama oleh kelompok kebudayaan tertentu yang mengakibatkan adanya batasan-batasan tertentu yang membedakannya dari kelompok yang lain. Cateiora 1987 membagi unsur-unsur kebudayaan sebagai berikut : 1. Kebudayaan material terdiri dari teknologi dan perekonomian; 2. Lembaga sosial; 3. Kemanusiaan dan universalitas; 4. Estetika; 5. Bahasa.

Sumber: Markey

Kebudayaan selalu berkembang dan berubah sejalan dengan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh manusia yang membutuhkan solusi yang lebih baik. Beberapa informasi yang perlu dimiliki bisnisman internasional dalam rangka melakukan analisis budaya suatu Negara, yaitu : 1. Perkembangan atau sejarah singkat suatu Negara; 2. Kondisi geografis, meliputi lokasi, iklim, topografi, sumberdaya, trasportasi, dan sistem komunikasi; 3. Lembaga kemasyarakatan, meliputi sistem kekeluargaan, pendidikan, system politik, hukum, dan organisasi sosial; 4. Sistem kepercayaan, agama, dan estetika; 5. Kondisi kehidupan, meliputi pakaian, perumahan, kesehatan, kondisi kerja, rekreasi, dll.

Baca juga artikel berikut:

Business Nature

Standar

• Pengertian dan Hakikat Bisnis

Kegiatan bisnis dapat dirasakan oleh semua orang. Setiap hari kita terlibat dalam kegiatan bisnis seperti : berbelanja di pasar, membaca Koran, menonton televise, menggunakan angkutan kota, mengendarai motor, membeli makan di warung, membaca buku, ‘searching’ internet, memakai baju, menghubungi teman dengan HP, dan sebagainya.

Berbagai produk kita gunakan sebagai penunjang kegiatan dan pasti berhubungan dengan bisnis. Misalnya ketika menggunakan internet, kita berhubungan dengan bisnis warung internet, komputer atau laptop dan notebook (beragam merek Toshiba, AXIO, Apel, Dell, HP, dll), USB / eksternal harddisk, provider internet (Telkom Speedy, Telkomsel, Indosat, Esia, Axis, XL, dll), listrik dari PLN, FB, Twitter, Google, Bank Indonesia, ATM, dsb. Puluhan bahkan ratusan bisnis terhubung hanya untuk satu aktifitas menggunakan internet.

Hakikat bisnis adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia, organisasi ataupun masyarakat luas. Businessman (seorang pebisnis) akan selalu melihat adanya kebutuhan masyarakat dan kemudian mencoba untuk melayaninya secara baik sehingga masyarakat menjadi puas dan senang. Dari kepuasan masyarakat itulah si pebinisnis akan mendapatkan keuntungan dan pengembangan usahanya.

Melihat asal katanya (bahasa Inggris) berarti Perusahaan, Urusan atau Usaha. Hugges and Kapoor menyatakan : Business is the organized effort of individuals to produce and sell for a profit, the goods and services that satisfy society’s needs. The general term business refers to all such efforts within a society or within an industry.

Orang yang berusaha menggunakan uang dan waktunya dengan menanggung resiko dalam menjalankan kegiatan bisnis di sebut entrepreneur.

Adakah bisnis yang tidak bermotif mencari keuntungan ? Kalau diamati ada bisnis yang bermotif tidak mencari keuntungan seperti sekolah / perguruan tinggi CIC, PDAM, PLN, Pembuatan SIM/KTP, Puskesmas.RSUD, kebersihan kota, keamanan dan ketertiban lalu lintas. Walaupun ada pembayaran dari konsumen lebih diarahkan untuk operasional bisnis tersebut bukan mencari keuntungan bagi pemiliknya.

Hal di atas terkait definisi dari Brown and Petrello yang menyatakan : Business is an institution which produces goods and services demanded by people.

Bisnis dibedakan menjadi 4 macam berdasarkan jenis kegiatannya : (1) Bisnis ekstraktif; (2) Bisnis agraris; (3) Bisnis industry; (4) Bisnis jasa;

Dapat juga berkembang menjadi 9 macam kegiatan, yaitu : usaha pertanian, produksi bahan mentah, pabrik / manufaktur, konstruksi, usaha perdagangan besar dan kecil, transportasi dan komunikasi, usaha financial, asuransi, dan real estate, usaha jasa, dan usaha yang dilakukan oleh pemerintah.l

Bisnis dibedakan menjadi 4 macam kegunaan : (1) kegunaan bentuk / form utility; (2) kegunaan tempat / place utility; (3) kegunaan waktu / time utility; (4) kegunaan pemilikan / possession utility.

• Daya Tarik Bisnis

Indonesia sebagai Negara agraris dan maritime sangat ketinggalan dalam hal motivasi bergerak di bidang bisnis. Mengapa ? secara psikologis masyarakat di Indonesia merasa lebih berharga / bermartabat bila bekerja sebagai pegawai (terutama PNS) walaupun bergaji kecil. Padahal pebisnis bisa memiliki penghasilan lebih dibanding pegawai dan bahkan memiliki pegawai (karena pebisnis mengembangkan usahanya dan membutuhkan bantuan oranglain).

Faktor kontinuitas bisnis adalah : (sumber Buchari Alma : Pengantar Bisnis)

1. Likuiditas, yaitu kemampuan bisnis membayar utang-utang pada saat jatuh tempo. Likuiditas juga berarti mampu menjaga kelancaran proses produksi agar suplai hasil produksi lancer;

2. Solvabilitas, yaitu berusaha agar modal sendiri / asset bisnis lebih besar dari utangnya;

3. Soliditas, yaitu kemampuan bisnis untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Kepercayaan meliputi moral pengelola bisnis, tepat dalam berjanji, dan dipercaya dalam bidang keuangan;

4. Rentabilitas, yaitu bisnis mampu memperoleh keuntungan yang layak tidak merugi;

5. Crediet Waardigheid, yaitu bisnis dipercaya sehingga layak memperoleh kredit / pinjaman.

• Sejarah Perkembangan Bisnis

Sekarang adalah jaman globalisasi. Dunia semakin transparan dan persaingan bisnis semakin hebat, baik perusahaan nasional maupun multinasional. Media massa menyatakan ‘perang dagang’ antara Jepang dan Amerika juga China dan Amerika. Begitu juga antara Jepang dan Korea di Indonesia dalam memasarkan mobil dan elektronik. Belum lagi produk China membanjiri pasar Indonesia. Sebelumnya tentu kita tahu berbagai produk masuk dan mengusai pasar Indonesia, seperti restoran siap saji (AW, KFC, McD, Pizza Hut) atau makanan dan minuman (Cocacola, Nestle, FrisianFlag), elektronik (Sharp, Toshiba, LG, HP, Blackberry, Nokia, Samsung, Nexian).

Lalu, Indonesia dan masyarakatnya apakah hanya akan tinggal diam ?

• Peluang-peluang dalam Bisnis

Jika anda seorang mahasiswa, kelak akan terjun ke dunia bisnis maka mulailah menekuninya sejak sekarang. Mulailah belajar memikul tanggung jawab, latihlah keterampilan dan keahlian anda. Galilah bermacam pengalaman dari tingkat yang paling sederhana. Semua usaha tersebut akan menjadikan anda memiliki pondasi yang kuat mencapai tingkat yang lebih tinggi / professional.

Silahkan ukur diri sendiri dengan melingkari salah satu angka sesuai kepribadian anda :

Yakin pada diri sendiri, optimis, kepemimpinan, fleksibilitas, bisa mengelola uang, imajinasi, bisa merencana, sabar, tegas, semangat, tanggungjawab, kerja keras, dorongan mencapai sesuatu, integritas, percaya diri, relisme, organisasi, ketepatan, ketenangan, memperhitungkan resiko, kesehatan fisik, komunikasi dengan orang lain, kebebasan, bisa bergaul, membuat keputusan.

(5 = sangat kuat; 4 = kuat; 3 = sedang, 2 = lemah; 1 = lemah sekali)

Silakan membaca artikel berikut: