Category Archives: ibu perempuan

berbagi kisah keberpihakan dan pemberdayaan perempuan dunia

Membidik Senyum Soeharto Dan Amien Rais

Standar

Wah… sungguh kenangan yang tak terlupakan. Saat mengikuti Raimuna dan Kanira Nasional tahun 1987  Pramuka Penegak Pandega, aku berkesempatan memotret Pak Harto dan Ibu Tien beserta Ka Kwarnas Mashudi. Jarakku dan beliau hanya sekitar satu meter.

13098760401610450292

Usiaku masih tujuhbelas tahun dan hobi memotret telah merasuki jiwaku sejak usia sepuluh tahun. Ayahku memberi kamera Kodak sebagai hadiah ulangtahun. Lalu saat masuk SMA aku mendapat hadiah kamera Fuji yang kubawa kemanapun pergi. Waktu kuliah aku menenteng kamera Nikon. Kemudian era digital datang, aku dibelikan suami kamera Canon (hilang tertinggal di toilet sebuah mal hiiiksss). Tak lama kemudian ada rezeki aku dibelikan lagi oleh suami tercinta (yang sangat mengerti hobi memotretku ini) sebuah kamera Canon. Sungguh … aku lebih suka menenteng kamera daripada HP atau BB.

13098765511488031023

Salah satu hasil jepretanku tahun 1999. Pak Amien dan Ibu Kus dengan anak pertamaku (saat usia tiga tahun) sebelum menunaikan shalat jumat di masjid Teja Suar Cirebon.

Senyum …

Ya … senyum Pak Harto dan Pak Amien di balik lensa kameraku itu membuatku menghormati mereka. Manusia tak ada yang sempurna. Pak Amien salah satu tokoh reformasi (malah disebutkan sebagai lokomotif reformasi) yang berhasil menghentikan era orde baru. Pak Harto adalah presiden terlama Republik Indonesia yang berkuasa selama hampir 32 tahun dan lengser berkat gerakan reformasi.

gempita pemilukada untuk siapa ?

Standar

Pemilu 2014 yang akan diselenggarakan pada tanggal 9 April 2014 semakin dekat saja waktunya. Aku, Dewi Laily Purnamasari telah mendapatkan stiker pemutakhiran data pemilih pemilu 2014. Pertanyaanku adalah gempita pemilu untuk siapa ?

Bercermin pada gempita dan hiruk pikuk pemilihan kepala daerah ‘Pilwalkot’ di Kota Cirebon sedang mencapai titik kulminasi tertinggi. Bagaimana tidak ? Waktu tinggal dua pekan lagi. Pencoblosan akan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 24 Februari 2013.

Lima pasangan calon walikota – wakil walikota akan berkampanye sesuai jadwal yang telah di tetapkan KPUD Kota Cirebon. Selain kampanye terjadwal, ternyata spanduk, pamflet, juga baliho besar menghiasai jalanan Kota Cirebon pun batang pohon dan tiang listrik tak luput dari foto kandidat. Mereka adalah pasangan Bamunas-Priatmo, Ano-Aziz, Ayi-Azrul, Sofyan-Sunarko, dan Saladin-Heru.

Namun … Sayang seribu sayang. Kampanye yang diharapkan mampu menjadi sarana pendidikan politik praktis bagi masyarakat Kota Cirebon ternyata belum bisa terwujud. Lagi-lagi kampanye lebih banyak di isi iring-iringan pawai yang memacetkan kota. Sedangkan debat publik atau diskusi bersama beragam komunitas tidak maksimal dilakukan.

Oke lah bila kampanye pilkada kali ini tak memenuhi harapanku, maka aku ingin menyampaikan pemikiran yang semoga dapat menjadi bekal walikota – wakil walikota terpilih nanti. Salah satu tugas pemimpin pemerintahan di tingkat kota adalah menyusun anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang kemudian dibahas bersama DPRD. APBD milik siapa ? Pertanyaan mendasar ini perlu dijawab oleh pemegang amanat rakyat. Mengapa ?

Dari sisi konseptual, APBD memegang peran penting dalam proses pembangunan. Fungsi utama dalam kaitannya dengan program pembangunan adalah sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat politik, alat koordinasi dan komunikasi, alat penilaian, dan alat motivasi. Namun, menurut pandangan berbagai kalangan APBD Kota Cirebon belum memenuhi asas keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat luas – khususnya masyarakat miskin dan kaum perempuan.

Satu hal penting lainnya adalah potensi korupsi pada APBD Kota Cirebon. Pada tahap penyusunan maupun implementasi program yang tertuang dalam APBD, memang sangat rentan mengundang praktek korupsi. Terutama dalam pos anggaran belanja rutin. Anggaran terus membengkak seiring dengan masuknya pembelian mobil dinas, perjalanan dinas, renovasi kantor, pemeliharaan rumah dinas, juga ongkos kantor (biaya rapat dan kepanitiaan).

Sudah seharusnya pemerintah dalam hal ini walikota – wakil walikota memegang teguh tiga prinsip utama dalam menyusun APBD, yaitu prinsip orientasi publik, prinsip keadilan, dan prinsip kepemimpinan yang baik. Prinsip orientasi publik memiliki pengertian bahwa pengambilan kebijakan dan keputusan khususnya APBD Kota Cirebon seharusnya terbuka dan berpihak kepada kepentingan dan kemashlahatan masyarakat banyak. Keterbukaan ini dapat dinilai dari proses mulai perencanaan, penyusunan, penetapan, dan evaluasi serta pertanggungjawaban. Jangan lagi anggaran disusun untuk kepentingan segelitir golongan, bukannya untuk masyarakat. Malah lebih parah bila di korupsi oleh pejabat dan rakyat tetap saja melarat.

Buletin Blakasuta yang diterbitkan oleh Fahmina Institute Cirebon mengangkat tema tentang APBD Kota Cirebon Milik Siapa ? Tulisanku ada di dalamnya bersama tulisan teman-teman lainnya Faqihuddin Abdul Kodir, Setyo Hajar Dewantoro, Ipah Jahrotunnasipah, Wiharti, Obeng Nurrosyid, Dadang Kusnandar, Rosidin, Nuruzzaman, dan Husein Muhammad.

Merenungkan kembali makna pemilihan anggota DPRRI dan DPRD  yang akan dilanjutkan dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia. Semoga saja akan terpilih para pemimpin yang amanah, jujur, adil, dan teguh pendirian untuk menegakkan kebenaran, aamiin …

Kisah Para Pedagang Malam

Standar

Beginilah suasana malam selepas maghrib di sepanjang jalan menuju rumahku. Mikrolet 06A dari Jatinegara begitu lepas Cililitan dan memasuki Jalan Raya Bogor, merayap perlahan terkadang berhenti karena padatnya kendaraan.

Pengamen menyanyikan lagu diiringi gitar empat senar (ah … sayang … lagunya tak kuhafal dan suaranya juga tak merdu). Namun dengan rasa agak takut (lengan pengamen itu berhias tato, telinganya beranting, dan rambutnya berwarna merah) ku berikan selembar ribuan.

Pasar Kramatjati yang hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer dari PGC ditempuh dalam waktu hampir seperempat jam. Wah … lebih baik aku turun saja. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Perempuan bersepatu bot itu telah siaga.

Sesekali tangan mereka menggenggam golok atau pisau panjang besar. Satu persatu dipenggal kepala besar itu. Lalu dengan lincah tangan halus itu membelah perutnya dan mengeluarkan segala isinya. Perempuan berjilbab mengulurkan uang kertas berwarna biru. Transaksipun berlangsung cepat dan mereka berdua terlihat puas.

Kepala besar itu digeletakkan begitu saja di atas meja bersama puluhan ikan (ada tuna, bandeng, udang, kembung, juga pari). Tak lama datang lagi seorang lelaki menanyakan berapa harga kepala itu ? Sekilo saja, katanya. Aku tanya dia ‘Mau dimasak apa Pa?’ Dia tersenyum dan menjawab ‘Istri saya ngidam gulai kepala kakap’. Ooohhh … Perempuan malam itu penjual ikan laut di tepi Jalan Raya Bogor bersama dengan perempuan lainnya mereka menghabiskan malam untuk berjualan. Mereka mengais rezeki saat oranglain terlelap nyenyak di peraduan hangat.

Aku membeli sekilo ikan kembung dilanjutkan membeli buah semangka beratnya hampir lima kilo. Penjualnya juga seorang perempuan, masih muda. Lanjut … sayur-mayur ketimun, tomat, jamur, wortel, bawang bombay, sawi, jagung, brokoli aku beli secukupnya, oya penjualnya juga perempuan yang memangku seorang balita. Kiri kanan tanganku sudah hampir seimbang. Mampir di kios seorang perempuan setengah bayaaku membeli tempe dan tahu.

Rumahku hanya lima puluh meter dari pasar yang hidup hampir duapuluh empat jam ini. Di pinggir  jalan depan sebuah toko sepatu berjejer beberapa perempuan menjual kueh cucur. Mereka memasaknya di situ. Ada juga seorang perempuan menjajakan ayam bakar beserta lalapannya. Harumnya sungguh menggoda …

Ya! Mereka perempuan malam. Perjuangan mereka sangatlah berat. Aku sangat menghargai dan salut betapa mereka dengan gigih bertarung di tengah gempuran pasar modern (yang dibangun seratus meter saja dari pasar tradisional). Bahkan, seorang perempuan tetap membawa balita mereka sambil berjualan. Ada juga yang sudah berusia lanjut.

Malam semakin larut. Sudah jam delapan, aku harus pulang. Hiruk pikuk pasar ku tinggalkan. Di sepanjang jalan masih ramai kendaraan dan tetap macet. Perempuan malam itu juga tetap semangat menyambut setiap pembeli yang datang. Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal dan berkah untuk mereka. Amin …

NB :

Demi solidaritas ku buat para pedagang perempuan, aku tak pernah menawar harga. Sesekali saja aku mengungkapkan dengan bahasa halus ‘pasnya berapa ?’. Bukankah di pasar moder juga aku tak diberi kesempatan menawar ! Hi3 … semua barang harganya  sudah dibandrol kan ?

senyum nenek penjual salak

Standar

Senyum itu tersungging di kejauhan, membuat langkahku mendekat kepadanya. Rutinitas tugas mengajar mengantarkanku seminggu sekali berkunjung ke kota Cirebon. Tugas mengajar di AP-CIC dan ISIF harus kutunaikan, sekaligus silaturahim bertemu mamah dan menjenguk anak pertama yang ‘boarding school’ di Insan Cendikia Cirebon.

13363714011659180998

Setiap kali akan kembali ke Jakarta, aku selalu bertemu seorang perempuan lanjut usia (usianya pasti lebih dari 70 tahun) di pintu stasiun Kejaksan. Raut wajahnya menggambarkan sudah seberapa senior dirinya menjalani kehidupan ini.

Senyumnya tetap manis, tak terhalang oleh gugurnya beberapa gigi. Tangannya cekatan melayani para pembeli dan tetap cerdas menghitung harga yang harus dibayarkan. Sapanya hangat menawarkan dagangannya. Aku pun luluh untuk membawa oleh-oleh sekilo buah salak yang manis …

Kain batiknya lusuh pun kebayanya tak berkancing, hanya dijepit peniti. Rambut putihnya menyembul di sela tutup kepala yang juga lusuh. Tapi … ibu hebat ini tak pernah mengeluh. Tak pernah terlihat wajahnya letih. Tak pernah menopangkan rezekinya pada siapapun, kecuali Allah SWT yang Maha Pemberi Rezeki. Tak pernah meminta-minta / mengemis … Si Mbah juga tentu tak akan terbersit untuk korupsi. Subhanallah …

Lalu … kita yang masih muda, kuat, diberi karunia ilmu … rasanya malu bila tak bercermin pada ibu hebat ini. Yuk! … semangat mengisi kehidupan dengan karya bermanfaat. Apapun profesi kita …

Dan tetaplah tersenyum …

Pesan si Mbah, ‘Jauhilah memperkaya diri dengan korupsi. Malu …’

mendampingi korban perkosaan amatlah berat

Standar

Siang itu temanku datang ke rumah untuk berdiskusi tentang rencana pengembangan organisasi yang mengusung hak-hak anak dan kesejahteraan perempuan. Organisasi ini sudah puluhan tahun berdiri dan kini sedang mengalami masalah karena gedung yang ditempatinya akan alih fungsi. Begitupun beberapa konselor perempuan yang ada di organisasi sudah mulai berkurang karena sibuk dengan urusan rumahtangga (alias tidak diijinkan bekerja lagi oleh suaminya setelah menikah dan punya anak). Padahal dari sisi program ada banyak tawaran menarik terutama seminar di sekolah dan komunitas orangtua terkait masalah anak dan keluarga.

Saat asyik berdiskusi, aku tiba-tiba saja melontarkan pertanyaan : ‘Mba … apakah ada korban perkosaan yang pernah minta didampingi oleh organisasi ?’ Temanku langsung terdiam … Matanya tiba-tiba berkabut dan kepalanya menunduk dalam. Ooohhh … Salahkah pertanyaanku. ‘Maaf … Ada yang salah dengan pertanyaanku ?’ akhirnya keluar juga kata-kata itu dari mulutku. ‘Gak … gak apa-apa …, Mmm … hanya aku saja yang suka begini setiap kali membahas kasus perkosaan anak. Ah … Berat rasanya,’ gumam temanku dengan wajah yang begitu sedih.

Semenit kemudian temanku minta ijin untuk ke toilet. Lama sekali dia berada di sana, hampir sepuluh menit. Aku agak khawatir. Ku ketuk pintu toilet. ‘Kamu gak apa-apa ? Ada apa ?’ tanyaku. Tak ada jawaban … Namun sejenak pintu terbuka. Ada bau tak nyaman menyeruak dari dalam toilet. Seperti bau muntah. ‘Maaf ya …’ katanya singkat. Ku pegang lengannya, dingin sekali. ‘Benar kamu gak apa-apa ? Mukamu pucat, kamu sakit ?’ selidikku.

Dia duduk kembali di sofa ruang tamu. Menyeruput teh hangat yang tadi ku suguhkan. ‘Maaf nih … jadi mengganggu diskusi kita,’ katanya sudah lebih ceria. ‘Inilah kelemahanku … Sebagai konselor aku seringkali merasa tertekan, tak berdaya, berat … pikiranku juga jiwaku rasanya berontak, bahkan maaf ya tadi aku muntah di toilet jika teringat kasus perkosaan anak,’ lanjutnya. ‘Sebelum ke sini, baru saja tadi pagi aku mendampingi korban perkosaan. Seorang anak SD yang diperkosa ayah kandungnya. Duh … di depan anak itu juga ibunya, aku berusaha kuat … Tapi di sini pertahananku jebol …’ katanya lirih.

Ah … betapa aku merasakan berat beban yang ditanggung temanku. Ketika dia menjalani tugasnya sebagai konselor dan harus mendampingi korban perkosaan. Otak dan jiwanya sangat tidak nyaman dengan peristiwa yang menimpa korban. Namun, sebagai profesional tentu tak mungkin dia menangis dan meluapkan emosi di depan korban. Yang tak dapat ku bayangkan lagi adalah bagaimana perasaan korban ? Ya Tuhanku … Apa yang bisa ku perbuat untuk membantu korban ? Aku pasti lebih parah lagi dari temanku, baru mendengar saja (belum jadi konselor dan bertemu langsung dengan korban : perutku sudah bergejolak dan kepalaku terasa berdenyut).

Tadi pagi ku buka website Komnas Perempuan : Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang mengadakan kampanye gerakan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan. Di singkat G16 yang berlangsung dari tanggal 25 November – 10 Desember tahun 2012. Keterangan lebih lengkap ada di sini : http://www.komnasperempuan.or.id/2010/11/g16-gerakan-16-hari-untuk-selamanya/. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu korban kekerasan termasuk di dalamnya perkosaan terhadap perempuan dan anak, adalah dengan cara :

Sisihkan uangmu untuk didonasikan minimal Rp. 1,000 selama 16 hari, mulai tanggal 25 November hingga 10 Desember, sehingga total donasimu akan terkumpul minimal Rp. 16,000,-

Berikan donasimu melalui booth atau meja donasi PUNDI PEREMPUAN, atau panitia penyelenggara Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan yang menjadi simpul G16

Kamu juga dapat menjadi simpul G16. Kumpulkan 16 orang teman, sahabat, saudara dan siapapun yang kamu kenal dan kamu percaya mau membantu. Ajak mereka bicara tentang kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, tentang kesulitan pendanaan yang dihadapi oleh lembaga pengada layanan, dan bahwa ada kesempatan untuk menjamin pelayanan bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan

Kemudian ajak mereka untuk ikut berdonasi. Jika setiap menyumbang (minimal) Rp. 16,000, maka kita membutuhkan 375,000 orang untuk mengumpulkan dana abadi sebanyak 6 Milyar yang menjadi target penggalangan dana ini

Jika sudah terkumpul, kirimkan sumbangan itu melalui transfer ke nomor rekening a.n. Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan; Bank Niaga: 025-01-00098-00-3. BCA: 342-3059008, Bank Mandiri: 123-00-0529000-4

Konfirmasikan transfer donasi yang kamu lakukan Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan melalui telp ke  021-548 3918/96649224, atau faks ke 548 3918, atau email ke info@ysik.org, atau sms ke 0815 11129270

Informasikan juga nama kamu dan para donator lainnya serta kontak yang bisa dihubungi (alamat, email dan no hp), sehingga kami dapat terus menyampaikan laporan dan perkembangan penggalangan dana ini

Aku dan anak perempuanku Maryam Aliyya Al Kindi menjadi relawan untuk kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yuk! Kampanyekan gerakan ini kepada lebih banyak sahabatmu. Dorong terbentuknya kelompok-kelompok yang peduli akan masalah ini. Tulis surat, kirim email atau sms kepada semua orang yang kamu kenal dan kamu percaya bisa mendukung kampanye ini. Semakin banyak yang terlibat memberikan dukungan, semakin besar perubahan yang bisa kamu buat.

Kisah Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah

Standar

Anak perempuanku, Kindi (5 tahun) sedang asyik bermain boneka dengan Ila (2 tahun). Gadis kecil teman main Kindi adalah anak Mba Sri yang bekerja di rumahku sebagai pengasuh juga juru masak. Mba Sri berumur 30 tahunan, lulusan SD berasal dari Gombong Jawa Tengah. Suaminya bekerja sebagai pengojek yang biasa mangkal di ujung jalan dekat pusat perbelanjaan PGC.

Sejak lulus SD, Mba Sri sudah merantau ke Bandung dan bekerja di pabrik. Merasa kerja di pabrik sangat melelahkan, Mba Sri ikut dengan temannya ke Jakarta dan menjadi pengasuh anak. Setelah menikah dan punya anak (anak pertamanya sekarang kelas 3 SD), Mba Sri hanya di rumah saja. Nah … Saat aku harus kembali berdinas aku berusaha menjadi pengasuh untuk Kindi. Dan jadilah Mba Sri kini sudah empat tahun bekerja di rumahku. Jam kerjanya dari pukul 10.00 – 17.00 (sesekali pulang lebih malam bila aku harus menyelesaikan tugas di luar kota).

Keluarga Mba Sri terbilang harmonis, suaminya baik dan penyayang. Mereka tinggal di kamar kontrakan berukuran 3×3 meter persegi. Sebulan harus membayar uang sewa Rp. 300.000,-. Aku sungguh terkesan dengan caranya mengelola keuangan keluarga. Tak pernah berhutang, bisa menabung (Mba Sri lebih senang membeli emas sebagai alat simpan uangnya), suaminya (juga hanya lulusan SD) telah melunasi motor yang dipakai untuk mengojek, sebulan sekali mengirim uang untuk biaya sekolah adiknya, dan setiap mudik lebaran mereka mampu memberi oleh-oleh untuk keluarga di kampung. Salut …

Teman main Kindi yang lain adalah Cika (7 tahun, kelas satu SD), cucu Mbah Eja yang bekerja mencuci dan menyetrika di rumahku. Pekerjaan yang menurutku sangat melelahkan ^_^ (duh … jadi ketahuan deh!). Umur Mbah Eja sudah lebih dari 50 tahun. Cika memiliki orangtua, sayang … ayahnya menikah lagi (siri / tidak bersurat nikah) dan meninggalkan begitu saja istri dan anaknya. Tidak bertanggung jawab. Mbah Eja-lah yang mengurus Cika sehari-hari, dari menyiapkan sarapan, mengantar ke sekolah, menjemput sekolah, dan mengajaknya ke rumahku sampai pekerjaan selesai. Mbah Eja bekerja dari pukul 07.00 – 12.00. Dia melanjutkan bekerja di rumah lain sampai sore (istilahnya shift siang).

Kindi senang bermain dengan Cika. Permainan favorit mereka adalah masak-masakan dan dokter-perawat. Ah … Kindi anakku yang cantik memang baik hati juga rendah hati. Tak pernah dia membedakan darimana dan siapa teman-teman mainnya itu berasal. Ila dan Cika bermain di rumah dengan nyaman karena mereka diperlakukan dengan baik oleh Kindi. Bahkan mainanpun berbagi tak sedikitpun menguasai (he3 … pernah Mbah Eja membawa Cika ke rumah tempat dia bekerja shift siang, ternyata cucu kesayangannya itu dipukul dan dihina oleh anak majikannya. Sejak saat itu Cika lebih memilih main di rumah Kindi pun ketika shift siang itu).

Suami Mbah Eja adalah penjual asinan keliling. Mereka berasal dari Sumedang. Di kampung mereka punya sebuah rumah dan sebidang sawah, namun di Jakarta mereka hanya mampu mengontrak kamar yang dihuni empat orang.  Mbah Eja, ibu dari empat orang anak. Dua lelaki dan dua perempuan. Kedua anak perempuannya gagal berumah tangga. Dia pernah menangis ketika menceritakan hal ini kepadaku. Satu mantu perempuannya awal bulan ini berangkat ke Malaysia menjadi buruh pabrik. Meninggalkan dua orang anak umur lima dan dua tahun. Lagi-lagi Mbah Eja meneteskan airmata waktu bercerita betapa beratnya melepas mantunya bekerja keluar negeri karena kasihan kepada cucunya yang masih kecil. Tapi apa daya … Persoalan ekonomi yang melilit keluarga anak lelakinya itu menjadikan mereka memilih pilihan yang sungguh tidak diinginkan. Aku sungguh salut kepada Mbah Eja, sebagai ibu, dia begitu tegar, kuat, pantang menyerah, pekerja keras, dan senantiasa berbaik hati menerima ketentuan hidup yang dijalaninya dengan ikhlas. Padahal SD-pun Mbah Eja tak lulus.

‘Bu … aku pingin dipijet, pegel banget nih tadi pagikan pelajaran renang di sekolah,’ ujar Kindi sambil merajuk meminta aku memijat kakinya. Ya … begitulah kebiasaan Kindi persis sama dengan aku yang tak bisa lepas dari kebutuhan untuk dipijat bila sedang penat. Bu Tiyah juru pijat favoritku. Asli Banten. Ceria, humoris, senang bercerita, dan yang pasti pijetannya super enak. Wah … pegal dan capek hilang. Berganti rasa segar dan bugar kembali.

Suatu ketika tiba-tiba Bu Tiyah mengajakku ngobrol tentang anak lelakinya yang berperilaku seperti perempuan. Bu Tiyah tak segan mengatakan anakku itu ‘bencong’, pintar dandan, kulitnya putih halus, perawakannya tinggi semampai, dan senang pakai baju warna pink. Lalu aku penasaran bertanya, ‘Maaf ya Bu Tiyah … Bagaimana perasaan ibu dengan keadaan anak ibu itu?’ Wajahnya tetap ceria, tangannya terus memijat telapak kakiku. ‘Saya mah sudah menerima semuanya dari anak saya itu. Semuanya titipan Allah. Waktu kecil belum begitu kelihatan, tapi waktu balig terlihat dia tambah kemayu.’ katanya. ‘Oya … sekolahnya lulusan apa Bu?’ tanyaku. ‘Dia lulus SMA dan sekarang sudah bekerja di sebuah mal. Kalau kerja ya dandan pakai kutek, bulu mata palsu, lipstik, dan sepatu hak tinggi segala kok!’ lanjutnya. Aku terdiam …

‘Dulu … Pernah bapaknya merasa marah, malu, kecewa, dan mau memukul anakku agar bisa jadi lelaki yang tegap dan terlihat jantan. Wah … Saya marah, “Pa! Anak kita itu titipan Allah. Bukan begitu caranya menerima amanah-Nya. Gimana kalau sampai babak belur? Atau mati, bisa dipenjara.” Bu Tiyah melanjutkan ceritanya dengan semangat. ‘Saya pernah juga sedih … Saat anak saya bilang begini, “Mah … kenapa ya aku seperti ini? Kenapa aku diberi ‘t*t*t’ padahal aku merasa perempuan?” suara Bu Tiyah berubah lirih. ‘Sepertinya doa dua ‘bencong’ yang pernah merasa didzalimi suamiku terkabul. Waktu aku hamil anakku itu, suamiku jadi kondektur bis. Nah … sore hari ada dua orang ‘bencong’ naik. Suamiku marah dan mendorong keduanya hingga tersungkur di selokan air. Mereka berteriak … ‘Eike sumpahin! Kalau bini loe hamil, anaknya bakal kaya eike … Sumpah!’ lanjut Bu Tiyah.

Duh … Sungguh hatiku terharu. Bu Tiyah, seorang ibu yang tamatan SD begitu ikhlas menerima ketentuan yang harus dijalaninya. Kasihsayangnya kepada anak yang berbeda tak lekang, walau dua anak lainnya normal. Doanya tak putus untuk diberi kekuatan menerima banyak ucapan dan perlakuan tak sedap bahkan merendahkan, bagi anaknya, dirinya, bahkan keluarganya.  Bu Tiyah menjalani episode hidupnya dengan ikhlas. Suaminya yang bekerja sebagai pengojekpun kini sudah bisa menerima keadaan anaknya dan tak malu untuk menggonceng dimotornya.  Mengantar anaknya ke halte transjakarta untuk berangkat kerja diiringi canda khas yang membuat banyak mata tak lepas menatap.

Banyak bantuan mereka kepadaku yang membuatku bisa menjalankan beragam aktivitas. Ya Allah …  Berilah mereka bertiga Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah : juga ibu-ibu hebat lainnya surga-Mu yang terindah. Amin …

Aku dan Teteh banyak dibantu oleh Mba Sri, Mbah Eja, dan Bu Tiyah. Alhamdulillah …

Terpesona Lansia Perkasa Di Tawangmangu

Standar

Pemandangan indah lereng gunung Lawu membuatku tak bosan berkunjung ke Tawangmangu. Liburan kali ini aku sempatkan menyewa sebuah villa mungil di dekat bumi perkemahan. Sisi kiri kanan villa masih terbentang kebun strawbery dan sayur mayur yang begitu segar. Villa itu terlingkup deretan bukit pinus yang menyebarkan bau harum saat pagi berembun menyapaku. Mentari hangat menerobos daun bambu di depan villa bercanda dengan angin semilir yang membuatku agak menggigil.

Indah …

Aku berjalan kaki menyusuri jalan berbatu melihat di kebun beberapa perempuan bekerja. Tak lama aku berpapasan dengan ibu yang sudah lanjut usia (lansia) berjalan terbungkuk dengan kayu bakar dipunggungnya. Tersenyum … Giginya tinggal beberapa. Namun terlihat jejak kecantikan masa mudanya dari matanya yang berbinar. Kaki terus melangkah. Di sisi lain aku melihat lagi beberapa perempuan sedang memanen sayuran dan memasukkannya ke dalam karung. Di angkutnya karung gendut itu ke bak mobil. Bersama mereka menyelesaikan pekerjaan angkat berat itu dan dengan santainya menaiki karung-karung di bak mobil yang melaju kencang menuju pasar Tawangmangu.

Duh … Aku yang masih empatpuluhan tersipu malu! Mana kuat mengangkat puluhan kilo karung dan menggendongnya dibantu selendang kain lusuh. Menggendong Kindi seberat 15 kilo saja ‘ngos-ngosan’ he3 … Lansia perkasa! Sunggung perkasa … Pekerjaan berat dari mulai menanam di kebun atau sawah, merawat tanaman hingga panen, mengangkutnya ke pasar.

Penasaran … Pasti! Aku minta suami mengantarku ke pasar Tawangmangu. Rasa ingin tahu apakah perempuan perkasa itu juga menjadi pendagang di pasar ? Subhanallah … ternyata ya! Sebagian mereka ada yang juga merangkap menjadi pedagang ada yang menjadi agen. Keren kan ? Bila menggunakan statistik cepat, kurang lebih 75 persen pedagang di pasar Tawangmangu adalah perempuan. Dan 75 persen pedagang perempuan itu adalah lansia.

Aku membeli pisang asli dari kebun di Tawangmangu. Tak murah juga harganya satu sisir Rp. 20.000,-  tapi sungguh tidak menyesal. Manis dan segar karena matang pohon. Penjualnya perempuan paruh baya yang ramah, malah menawariku untuk juga membeli ubi ungu. Tak kuasa menahan rasa ingin mencicipi jenang dwi warna yang terlihat ‘yummy’ aku berjongkok sambil menanti dengan sabar pedagangnya melayani tiga pembeli. Kulit wajah sudah menunjukkan usianya yang lanjut, namun tangannya tetap cekatan menyendok jenang dan membungkusnya dengan rapi. Ah … aku dihadiahi juga senyum manis he3 … Dia bilang ‘Nduk bukan orang sini ya ?’ Loh … Kok tahu ? (Ketahuan deh! Walau aku pakai bahasa Jawa tapi logatnya tidak pas dan aneh terdengar).

Selesai membeli jenang, aku berkeliling pasar dan menemukan pedagang kacang rebus yang masih mengepulkan asap. Wah … sepertinya enak. Langsung aku menghampiri dan membeli dua tangkup kacang rebus. Aku tanya apakah kacangnya membeli ? Tidak! Kacang dari kebun sendiri, ditanam sendiri, dipanen sendiri, dimasak sendiri, diangkut sendiri, dijual sendiri. Tapi uangnya buat rame-rame, buat anak cucu. Oh … hebat sekali! Perempuan ini adalah lansia ceria, terbukti sambil melayani aku dan juga pembeli lain, dia tetap ramah sesekali tersenyum bahkan tertawa menanggapi pertanyaanku tadi.

1354505831768796713

Duh … Bagaimana tidak dibilang perkasa ? Karung gendut dan beratpun diangkut!

13545050011642011049

Sayur mayur segar di pasar Tawangmangu dengan pedagang perempuan lebih dari 75 persen

13545054351373011373

Potret sarat makna, betapa perempuan lansia pun masih bisa mewarnai dunia dengan karya nyata. Tak bermalas-malasan apalagi meminta-minta. Kita yang masih muda, apa tak malu pada mereka ?

Belajar Alat Reproduksi Sehat

Standar

Semenjak SMA aku sering diajak ayah untuk menjadi pencatat pasien. Ayahku berdinas di rumah sakit umum daerah pada pagi hari dan sore hari membuka praktek hingga pukul sepuluh malam. Nah … Demi memanfaatkan malam minggu yang ceria, jadilah aku asisten ayah dan mendapat uang saku tambahan. Tugasku mencatat nama pasien lalu mencari kartu dan memberi nomor antrian. Setelah pasien diperiksa ayah mereka menyerahkan kembali kartu, aku catat di buku besar, dan proses teakhir menyimpannya kembali di loker sesuai abjad. Sederhana … Namun sangat bermakna.

Di tempat praktek ayah banyak buku tebal bergambar sedikit ‘horor’, maklum ayahku dokter spesialis kulit dan kelamin. Ih … teman-temanku saja suka iseng meledek aku ‘Wi … Kamu anaknya spesialis kelamin ya!’ Huh … Kadang sebal juga dengan teman-teman yang seperti tak punya alat vital saja. Apa salahnya dengan kata kelamin ? ‘Aya-aya wae … Sudah tak perlu dipikirkan’, kata ayahku saat aku bercerita ledekan teman-teman.

Tabu … Sepertinya membicarakan alat vital alias alat reproduksi menjadi aib. Malu … Akhirnya jadi serba tidak tahu. Mitos … Ya! Tak ada ilmu yang cukup untuk memahami dengan benar bagian tubuh sendiri yang di titipkan Allah Yang Maha Pencipta kepada kita. Akhirnya, banyak terjadi permasalahan seputar alat reproduksi yang pada kenyataannya sering merugikan sedikit laki-laki dan sebagian besar perempuan.

Kisah pilu seorang (mungkin juga ratusan bahkan ribuan) istri yang dicerai suaminya karena tidak berdarah saat berhubungan intim bisa saja terjadi karena suami mengalami ejakulasi dini. Loh! Kok bisa? Ya bisa saja hal ini terjadi saking semangatnya apalagi malam pertama. Ketika belum sampai membuat ‘gol’ suami sudah orgasme. Nah … Tentu saja peristiwa ini tak menimbulkan efek ‘berdarah’. Dan tidak semua perempuan juga akan berdarah saat berhubungan intim dengan suaminya pertama kali.

Apa sih ejakulasi dini itu? Menurut buku ayahku, ejakulasi dini atau dikenal juga dengan istilah ED merupakan disfungsi seksual yang banyak dialami kaum pria, di samping disfungsi ereksi. Tetapi pada awalnya banyak pria yang mengalami ejakulasi dini tidak menyadari bahwa itu termasuk gangguan fungsi seksual. Mereka hanya merasa dan mengeluh pada dirinya sendiri, mengapa ejakulasinya terlampau cepat terjadi. Ejakulasi dini ditentukan oleh mampu tidaknya pria mengendalikan ejakulasi agar terjadi sesuai dengan keinginannya. Bila ingin lebih jelas silahkan tanya ‘tante wikipedia’ ya … he3 …

Nah … Apakah perawan harus mengeluarkan darah saat berhubungan intim pertama kali? Kata ayahku ‘Tidak! Penelitian menghasilkan angka 43 persen saja perempuan perawan (alias belum pernah melakukan hubungan intim sebelum menikah) yang mengeluarkan darah. Jadi … Sangat aneh bila suami seenaknya saja memvonis istri tidak perawan gara-gara tidak mengeluarkan darah saat pertama kali berhubungan intim.

Sekali lagi aku jadi teringat teman-teman yang masih malu-malu bahkan terlanjur malu-maluin ketika tidak mau belajar tentang alat reproduksi. Padahal sekali lagi Allah Yang Maha Tahu telah mengaruniakannya kepada manusia tentu tidak sia-sia. Ayo … Singkirkan kata tabu untuk memahami karunia Allah terutama bagian tubuh kita sendiri agar tak salah memilih mitos yang merugikan diri sendiri.

Mau tahu gambar ‘horor’ apa saja yang ada di buku ayahku ?

1. Alat kelamin yang berpenyakit seperti gonorhea, sifilis, herpes, HIV/AIDS, dll. (satu peringatan keras untuk tidak melakukan kegiatan seks beresiko termasuk di dalamnya berganti-ganti pasangan seksual : kalau ganti pakaian bersih harus itu biar tidak kena kudis)

2. Jamur yang tumbuh di kulit (kalau jamur tiram enak di tumis atau jamur merang enak di pepes  …  nah … kalau jamur kulit tidak enak dipandang. Jaga kebersihan alat reproduksi sangat penting, agar tidak jamuran. Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari, tidak saling meminjam pakaian dalam dan handuk adalah cara pencegahannya.

3. Wajah dan badan berjerawat, jadi ingat harus rajin cuci muka sebelum tidur,  mandi dua hari sekali, tidak memencet jerawat walau sudah sangat gemas. Perbanyak makan sayur dan buah, jangan gorengan ya … apalagi minyaknya dipakai berulangkali.

Kisah Dua Mantan TKW

Standar

Malam sudah larut. Aku masih disibukkan menyusun laporan untuk tender di DPU besok pagi. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. ‘Neng … Boleh Mba masuk ?’ terdengar suara Mba Eni pelan setengah berbisik. ‘Ayo … Masuk saja sini … Ada apa malam-malam tumben biasanya asyik nonton,’ candaku. ‘Maaf ya … ganggu apa gak nih ?’ tanyanya sambil masuk dan duduk di lantai. ‘Gak apa-apa … Tinggal dikit lagi kok! Aku lagi bikin laporan,’ kataku sambil selonjor di karpet kecil dekat meja komputer. Kamarku terletak di lantai dua rumah pamanku di daerah Bintaro.

Aku menumpang tinggal di sana karena banyak kamar kosong di rumah besar itu dan paman hanya tinggal berdua dengan istrinya. Mba Eni adalah asisten rumah tangga serba bisa. Cekatan sekali gerakannya seperti tak pernah lelah. Mba Eni suka humor dan canda jadi wajahnya terlihat selalu ceria. Tawanya pun keras memecah keheningan rumah bila menonton sinetron lucu atau lawakan di televisi.

‘Neng … Boleh minta tolong ? Mmm … Mba kepingin belajar ngaji dan shalat lagi. Sudah lama gak pernah ngaji lagi, shalat juga lupa bacaannya. Neng kan tiap habis subuh ngaji atau malam-malam gini nyetel kaset ngaji, trus Neng juga rajin shalat, pakai jilbab lagi,’ katanya panjang lebar sambil mengeluarkan musaf Al Quran kecil dan mukena dari kantong kresek yang sejak tadi digeletakan di lantai. Ooohhh … Subhanallah …

Aku tahu dari beberapa kali cerita santai dengan Mba Eni bahwa dia mantan TKW di Saudi Arabia. Hampir lebih dari sepuluh tahun. Mba Eni adalah salah satu TKW yang beruntung mendapatkan majikan yang baik. Tugas utamanya selama menjadi TKW adalah memasak. Aku mengakui masakannya sungguh lezat. Apapun yang di masaknya walau cuma sayur bayam dan tempe goreng rasanya luar biasa enak. Ah … Aku memang tak ahli masak makanya makanan itu selalu ku beri rangking enak, enak sekali dan luar biasa enak he3 …

Mba Eni lulusan SMP dan menurutku dia perempuan cerdas. Bisa belajar dengan cepat kosa kata bahasa Arab terutama yang terkait dengan masak memasak termasuk nama-nama bahan makanan dan bumbu-bumbu. Hebat! Buktinya … Selama menjadi TKW selalu disayang majikan terutama anak-anak karena selain memasak Mba Eni di waktu senggangnya juga senang bermain dan membuat lelucon. Jadilah anak-anak majikannya tertawa terpingkal-pingkal. Mba Eni pun ditangisi mereka ketika kontraknya habis dan harus kembali ke Indonesia. Sepertinya tertawa adalah cara Mba Eni melupakan sakit hatinya kepada mantan suami yang tak bertanggung jawab. Hingga keputusan berat untuk menjadi TKW bekerja jauh dari kampung halaman demi anak-anak tak kelaparan dan bisa sekolah.

Nah … Aku jadi heran! Kenapa Mba Eni minta aku mengajarinya lagi membaca Al Quran dan menghafal bacaan shalat ? Selidik punya selidik (hi3 … seperti detektif  saja) setelah sepuluh tahun menjadi TKW, Mba Eni memutuskan untuk tidak kembali ke Arab Saudi karena anak-anaknya melarang. Semua anaknya sudah menikah dan memiliki pekerjaan. Tapi Mba Eni bukan tipe perempuan yang bisa ongkang-ongkang kaki. Jadilah dia tetap menjadi pekerja rumah tangga termasuk saat itu bekerja di rumah pamanku. Mba Eni mengaku bahwa dia tidak pernah mengaji dan shalat. Kalaupun ditanya majikannya di Arab Saudi juga di Indonesia, apakah sudah shalat ? Dia akan jawab sudah. Padahal tidak shalat. Apalagi mengaji … Katanya malas sekali.

Sekarang Mba Eni bilang umurnya sudah tak muda lagi. ‘Neng … Mba sudah nini-nini. Cucu sudah mau tiga. Masa gak shalat juga. Nanti gimana kalau mati ?’ kata Mba Eni sungguh-sungguh. Aku terharu … Sungguh tak terasa airmataku menetes. Betapa dalam pernyataannya. Aku jadi bersemangat menemaninya mengulang lagi iqro 1 sambil mengenal huruf hijaiyah. Namun … Aku takjub! Ternyata Mba Eni hafalannya memang luar  biasa. Saat membaca dia terbata-bata, tapi menghafal surat pendek cepat sekali. Pun begitu dengan bacaan shalat. Ya Allah … Bisa saja dahulu, empatpuluh tahun yang lalu Mba Eni sudah menghafal semua itu. Lalu tertimbun dan kini tergali kembali, bersinar lagi. Kini Mba Eni sudah tak lagi menjadi pekerja rumah tangga. Anak-anaknya membuat warung kecil-kecilan untuk mengisi waktu Mba Eni agar tak bosan menjalani masa tuanya.

Kisah Mba Ani pun tak kalah menarik. Gadis berumur tigapuluh empat tahun ini telah delapan tahun menjadi TKW di Arab Saudi. Benar loh! Mba Ani seorang gadis. Sampai hari ini dia belum menikah. Ada rencana di bulan Februari 2013 Mba Ani akan melangsungkan pernikahannya. Mba Ani bekerja sebagai pengasuh anak di rumah adikku. Supel, murah senyum, dan sangat perhatian kepada anak-anak. Pantas saja ketika menjadi TKW pun tugasnya adalah mengasuh anak.

Lulusan SMA dengan nilai ijazah yang memuaskan tak membuat Mba Ani kehilangan tekad bekerja di negeri orang. Lewat perusahaan resmi yang telah memberikan pelatihan bahasa Arab dan keterampilan sebagai pengasuh anak, Mba Ani berusaha bekerja untuk membiayai ibunya yang ditinggal kawin lagi oleh bapaknya. Adik-adiknya berjumlah enam orang dan butuh biaya sekolah. Juga nenek yang tinggal sebuah di rumah berdinding ayaman bambu di desa kaki gunung Ciremai. Total delapan jiwa ditangung sendiri oleh Mba Ani. Sepetak sawah tentu tak mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Bapaknya tak bertanggung jawab sepeserpun atas nafkah keluarga.

Mba Ani pun beruntung memiliki majikan yang baik. Diajak umroh dan berlibur ke Eropa. Mba Ani menjadi kesayangan anak-anak majikan yang tanpa sengajapun akhirnya bisa sedikit-sedikit berbahasa Indonesia. Mereka bilang dalam isak tangis, ‘Ani jangan pergi …’ ketika Mba Ani harus kembali ke Indonesia karena keluarganya mengkhawatirkan dirinya yang sudah lewat kepala tiga belum juga menikah. Sambil menanti jodoh Mba Ani lagi-lagi tak bisa berdiam diri saja melihat dapur keluarganya tak mengepul. Pun tak tega melihat ibu dan neneknya yang sudah renta harus menjadi buruh tani dengan upah tak seberapa.Mba Ani bekerja di rumah adikku dan Alhamdulillah kini telah menemukan jodohnya. Semoga saja kelak suaminya baik dan bertanggung jawab, tidak seperti bapaknya yang kawin lagi …

Semoga Allah Yang Maha Pemberi Karunia memberikan kebahagiaan kepada Mba Eni dan Mba Ani, amin …

13546049751914276749

Foto saat aku di tanah suci Makkah menjalankan ibadah haji tahun 2006-2007 : sungguh tak terbayangkan di negara ini telah banyak perempuan sebangsa didzalimi bahkan ada yang merenggang nyawa.

istri setia di bilik sebelah

Standar

Rabu kelabu. Awan memayungi langit Jakarta, saat aku menyetir mobil menyusuri macetnya jalanan ibukota. Mobil melaju menuju rumah sakit di bilangan Jatinegara, membawa suamiku tercinta yang meringis kesakitan. Demamnya belum juga reda. Bahkan semalam badannya menggigil tak tertahankan.

Selesai memarkir mobil di lantai lima, aku bergegas ke ruang UGD dan menemani suami diperiksa dengan seksama oleh dokter jaga. Dan disarankan dengan sangat untuk di rawat intensif. Ternyata … kamar rawat inap di rumah sakit ini penuh. Aku menunggu hampir tiga jam, baru bisa diantar menuju lantai enam. Seharusnya dari kantor suami mendapat kelas satu, namun harus masuk dulu di kelas dua. Tak apalah … yang penting suami segera ditangani dan mereda rasa sakitnya.

Tak berapa lama masuk pasien lain di bilik sebelah. Seorang laki-laki paruh baya yang diantar oleh istrinya. Dari pembicaraan suster dengan ibu Ani (sebut saja begitu), aku tahu kalau suaminya menderita gagal ginjal dan harus cuci darah dua minggu sekali. Nah … saat ini ternyata trombositnya di bawah normal, jadi harus transfusi darah dulu sebanyak dua labu (1000 ml). Ibu Ani mendampingi suaminya dengan setia. Dan terdengar memberi semangat kepada suaminya, bahwa akan baik-baik saja.

Saat senggang, aku sempat berbincang dengan ibu Ani. Dari ceritanya, aku mengambil hikmah betapa setianya ibu Ani menemani hari-hari sulit suaminya saat dinyatakan mengalami gagal ginjal. Rencananya besok harus operasi untuk membuat lubang baru di sekitar leher. Lubang itu berfungsi untuk jalannya proses cuci darah. Suaminya hampir enam bulan menjalani cuci darah dua kali seminggu. Ya Allah … ketegaran dan doa-doa terbaiknya untuk suaminya membuatku seolah mendapat enegi baru. Aku pun harus kuat dan sabar menemani suami di rumah sakit.

Esok harinya suster kepala mengatakan ada kamar kosong kelas satu. Setelah beres menata pakaian di lemari dan mengurus surat pindah kamar, aku berkenalan dengan ibu di bilik sebelah. Ibu Ina (sebut saja begitu) menemani suaminya yang menderita kanker getah bening. Sudah seminggu lebih berada di rumah sakit untuk proses kemoterapi. Namun tertunda terus disebabkan hasil laboratorium suaminya belum stabil, sehigga belum bisa dilakukan kemoterapi.

Suaminya yang dahulu berbadan tegap, kini kurus dan tak lagi memiliki rambut. Kulitnya seakan terbakar dan suaranya pun berubah parau. Duh … sedih aku melihatnya terbaring dengan selang infus yang berisi zat makanan untuk menstabilkan kondisinya agar bisa segera di kemoterapi. Sungguh … kesabaran ibu Ina mendampingi suaminya memberikan dorongan semangat kepadaku untuk melakukan hal yang sama menemani suamiku menjalani hari-harinya di rumah sakit.

Sampai hari ke tujuh panas badannya selalu naik turun. Hasil laboratoriumnya belum menunjukkan tanda-tanda sakit apa gerangan ? Tadi malam dokter melakukan USG dan ditemukan ada abscess / bisul bernanah di liver / hatinya. Hasil rontgen memperlihatkan ada radang di paru-parunya. Subhanallah … Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Ya Allah … Engkau-lah Yang Maha Menyembuhkan. Sehatkanlah kembali suamiku tercinta, amin …