Category Archives: ibu profesional

berbagi pengetahuan dunia pengasuhan anak dan keluarga

Kisah Seram Saat Lembur di Kantor

Standar

Waktu menjelang terbenam matahari. Indahnya semburat lembayung di ufuk menjadi latar gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Aku duduk di sebuah bangku yang berada di koridor lantai dua Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Di ujung koridor peserta kegiatan Sosialisasi Internet Sehat dan Aman antusias berinteraksi dengan para narasumber. Tim ID-Kita Kompasiana bekerja sama dengan Kementrian Kominfo bersemangat membagi pengalaman agar internet dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Internet harus bermanfaat untuk meningkatkan nilai positif dan meninggalkan hal negatif.

Di koridor lantai dua ini, aku berbincang dengan salah seorang teman tentang tren bisnis telekomunikasi dan informatika di Indonesia. Kami berdiskusi tentang pilihan jurusan yang prospektif dan sekiranya sesuai dengan minat anak. Nah … Temanku yang baik hati inipun tak segan berbagi pengalaman.

Cerita tambah seru saja ketika bahasan mulai merambah pengalaman paling berkesan saat bekerja. Eh … Temanku yang pandai bermain gitar ini kok ya malah bercerita tentang kisah seram. Aku makin asyik saja menyimak kisah seram yang terjadi beberapa tahun lalu di sebuah gedung perkantoran di Jakarta.

Diah dan Kursi Bergeser

Ini kisah seram temanku saat kebagian shift malam. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam -sebut saja nama temanku ini Diah-sampailah dia di kantor. Entah mengapa? Malam itu ruang kantor yang biasanya ramai dan hiruk pikuk oleh pekerja shift malam, kali ini sepi sekali. Batin Diah rasanya meronta tak biasa. Ya begitulah nasibnya. Tmanku hanya sendirian di ruang besar itu. Seperti biasa tugas pun dikerjakan, namun tiba-tiba ada bunyi kursi bergeser di arah belakang.

Penasaran dong! …??? Temanku menuju ke arah sumber suara … Iiihhh … Dalam kesunyian malam, secara perlahan rasa merinding menjalar dari arah tangan terus ke pundak, tengkuk, lalu menuju ubun-ubun. Jantung pun berdegup kencang tak menunggu waktu lagi, temanku lari ke arah lift. Segera menekan tombol ke lantai dasar. Waduh … Baru ingat kalau ternyata telepon genggam tertinggal di atas meja kerja.

Hiiiksss … Ampun deh! Tapi kudu kembali ke atas. Masih dalam kondisi setengah takut, temanku kembali ke ruang kerja. Ternyata begitu membuka pintu ruangan dan menuju ke arah meja kerja, proses merinding itupun terjadi lagi. Wuuussss …. Secepat kilat disambar telepon gengam. Komputer jinjing dibiarkan saja di atas meja kerja, temanku langsung bergegas menuju ke lift. Begitu sampai dalam lift rasa merinding seketika hilang blaaasss …

Mondar-mandir di lantai dasar ditemani satpam yang asyik berjaga sambil main catur. Bosan menanti waktu Diah menyempatkan diri membeli makanan di luar kantor. Duh … Waktu shift baru berganti pukul tujuh pagi. Sedangkan ini masih dini hari. Dengan memberanikan diri, Diah menuju ke lantai ruang kerjanya. Namun tak menuju meja kerja, melainkan menuju mushola kecil di sudut ruangan. Di tempat ini ia tak ada rasa merinding. Diah meringkuk menahan kantuk akhirnya terpejam juga matanya. Waktu subuh pun tiba. Mentari pagi hadir menerangi ruangan dari jendela kaca bening.

Beberapa pekerja shift pagi mulai berdatangan. Suasana ruangan pun kembali ramai. Dan sungguh rasa merinding itupun lenyap begitu saja. Diah menutup ceritanya. Aku penasaran bertanya, “Diah apakah di keluarga ada yang terbiasa mengalami hal seperti itu?” Ternyata menurutDiah, ibunda tercinta bisa melihat makhluk halus bahkan berkomunikasi. Begitupun kakek dan pamannya.

Kisah seram lainnya berlanjut di dalam mobil yang membawa kami menuju restoran bakmi jawa. Mau tahu? Tapi ini seram yang lain, alias serius dan ampuh he3 … Teman-teman mengajakku berbagi ide penataan ruang kantor mereka. Ini akibat aku ketahuan seorang ibu rumah tangga yang merangkap sebagai dosen juga arsitek.

Aku bilang insya allah akan silaturahim ke kantor mereka dan membantu menata kembali interior ruangannya agar terasa lebih nyaman untuk bekerja. Bukankah salah satu faktor untuk meningkatkan kinerja adalah ruang kerja yang nyaman? Tentu selain salary alias pendapatan yang memadai juga reward atau penghargaan dari tempat kerja atas prestasi yang dicapai. Sssttt … Aku belum sempat tanya pada temanku, kalau pegawai negeri sipil golongan 3A gajinya berapa ya? Sekedar referensi saja barangkali ada mahasiswa yang bertanya hal serupa.

Aku masih menunggu cerita dari Diah saat dua malam berturut-turut dia ‘ngelayap’ mondar-mandir di koridor bahkan hingga naik turun ke lantai lain termasuk lobby hotel. Diah ternyata jenis manusia kalong yang baru bisa tidur nyenyak ketika waktu memasuki fajar sekitar pukul empat pagi. Tak lebih dari dua jam, kami sudah kembali bersiap sarapan di restoran hotel.

Aku dan Lift di Gedung Jadul

Kisah seramku di kantor konsultan juga lumayan bikin merinding. Tapi aku woles aja sih … Jadi saat aku kerja di sebuah gedung yang cukup berumur alias gedung jadul, Lift gedung berlantai 4 itu kadang naik turun sendiri tanpa ada yang memencet nomor lantai. Aku sebagai arsitek berada di lantai 3 dan para drafter di lantai 4.

Aku pernah juga memencet untuk turun, eeehhh … liftnya malah naik ke lantai studio para drafter. Aku seneng dong! Berarti malam itu bisa ada teman membeli makan karena sedang lembut. Ya aaampuun … Pas pintu lift terbuka koridor lantai atas sudah gelap dan tidak ada orang di depan lift. Mau kabur ya gimana coba? Aku baca saja ayat Kursi dan surah 3 Qul dengan berbunyi, bukan dalam hati.

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Raab Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (wanita-wanita) tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya) dan dari kejahatan orang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq 113 : 1-5).

“Katakalah” ‘Aku berlindung kepada Rabb (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan (ilah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS. An-Naas 114 : 1-6).

Pintu lift pun tertutup kembali dan meluncur ke lantai dasar. Aku bergegas keluar menuju halaman belakang kantor. Di pinggir jalannya banyak lapak makanan, seperti pecel lele dan nasi uduk, sate padang, nasi goreng, dan minuman hangat. Rencananya aku mau beli makanan untuk di bawa ke ruang kerja. Tapi gegara acara lift yang bikin dag dig dug itu, aku putuskan makan di warung pinggir jalan itu saja.

Kebetulan ada drafter yang tiba-tiba saja masuk di warung tempatku makan. Aku sapa sambil tanya apakah dia lembur juga malam ini? Ternyata dia juga sedang lembur. Penasaran dong aku tanya lagi apakah lampu koridor lantai drafter mati barusan aja gak lebih dari setengah jam yang lalu saat lift yang aku tumpangi itu naik ke atas. Dia mengatakan pas dia turun koridor lampunya menyala, biasa saja tidak mati. Waaaduuhhh … Kok bisa ya?

Aku ceritakan kejadian tadi. Eeehhh … Dia malah tertawa dan bilang dengan santai, biasa aja kok itu iseng. Paling juga mau nemenin di lift. Ooohhh … Tidak, jangan lagi deh!

Allah Menciptakan Jin dan Manusia

Memang antara percaya tidak percaya dengan beragam cerita seram seperti ini. Namun … Baru saja aku membaca Al-Qur’an dan didalamnya ada surah Al-Insan juga surat Al-Jin. Allah Yang Maha Kuasa menciptakan jin dan manusia. ‘ … dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin. Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya, kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesungguhnya kami (jin) telah menduga, bahwa kami tidak akan mampu melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di bumi dan tidak (pula) dapat lari melepaskan diri (dari)-Nya.’ (QS. Al-Jinn 72 : 6 dan 11-12).

Jin dan manusia sama-sama hidup di bumi ini meskipun berbeda alam. Alam jin adalah alam yang berdiri sendiri gaib. Alam jin terpisah dan berbeda dengan alam manusia namun keduanya hidup dalam dunia yang sama, kadang tinggal dalam rumah yang dibangun atau didiami manusia.

Jin sudah lebih dulu diciptakan oleh Allah Rabbal ‘alamin sebelum manusia, jadi jumlah bangsa jin diperkirakan lebih banyak dari pada manusia. Allah berfirman: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr 15 : 27).

Perhatikanlah firman Allah Yang Maha Mulia yang berbunyi, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan 76 : 2).

Allah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa berfirman, “Dan (ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua (dan Allah berfirman), “Wahai golongan jin! Kamu telah banyak (menyesatkan) manusia.” Dan kawan-kawan mereka dari golongan manusia berkata, “Ya Tuhan, kami telah saling mendapatkan kesenangan dan sekarang waktu yang telah Engkau tentukan buat kami telah datang.” Allah berfirman, “Nerakalah tempat kamu selama-lamanya, kecuali jika Allah menghendaki lain.” Sungguh, Tuhanmu Mahabijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am 6 : 128).

Jin diciptakan dari api yang sangat panas telah dijelaskan dalam surah Al-Hijr ayat 26-27, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.”

Jin dan manusia sama-sama makan, minum, berjenis kelamin, mempunyai hawa nafsu, berketurunan. Mereka sama-sama berkeluarga, berkelompok dan berbangsa-bangsa. Hal ini berdasarkan hadis Dari Ibnu Mas’ud RA. (diriwayatkan) bahwa para jin datang kepada Nabi Muhammad dan meminta kepada beliau makanan yang halal. Lalu Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam.. bersabda kepada mereka: “Makanan halal untuk kalian adalah semua tulang hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Ketika tulang itu kalian ambil, akan penuh dengan daging. Sementara kotoran binatang akan menjadi makanan bagi hewan kalian.” (HR. Muslim). Dalam Al Quran disebutkan: “Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu?” (QS. Al-Kahfi 18 : 50).

Pertanyaan yang sering muncul adalah apa tujuan jin diciptakan? Bacalah surah Az-Zariyat ayat 56, Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”

Ada dua perbedaan pendapat mengenai tujuan Allah menciptakan jin dan manusia di kalangan para ahli tafsir. Mengutip pendapat Ibnu Jarir dalam tafsir Ibnu Katsir, penciptaan keduanya bukan karena Allah yang membutuhkan. Namun, semata-semata agar kedua makhluk tersebut mengakui kehambaan mereka kepada-Nya. Sedangkan menurut Ibnu Juraij makna yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an di atas adalah tujuan penciptaan jin dan manusia tersebut dimaksudkan agar kedua makhluk Allah dapat mengenal-Nya.

Ternyata jin dan manusia sama-sama mempunyai Rasul dari golongan mereka sendiri. Sebagaimana firman Allah, “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-An’am 6 : 130).

Larangan Bergaul Dengan Jin

Perhatikan penyebutan jin dan manusia yang berdampingan dalam ayat di atas. Hhhmmm … Tak heran ya kalau jin itu memang ada di sekitar diri kita dan mereka kadang ingin berinteraksi dengan kita.

Manusia diperintahkan oleh Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia. Bukankah tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.

Jin selalu membersamai manusia sebagaimana dalam hadis: Dari Ibnu Mas’ud RA. (diriwayatkan) berkata: Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam bersabda: “Tidak seorang pun di antara kalian kecuali bersamanya ada qarinnya dari jin. Para sahabat bertanya: ‘Engkau juga wahai Rasulullah? jawab Rasulullah: “Saya juga demikian, tetapi Allah telah menolong saya mengatasinya sehingga saya selamat, maka ia tidak menyuruhku kecuali kepada yang baik.’” (HR. Muslim).

Allah Yang Maha Baik lagi Maha Agung mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Jadi … Walaupun jin kadang iseng ingin bergaul dengan kita, kita dilarang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bergaul dengan mereka.

Dikutip dari buku ‘Anda Bertanya Islam Menjawab’ oleh Muhammad Mutawalli Sha’rawi, jin dalam bentuk aslinya tidak dapat dilihat oleh manusia. Jin memiliki kemampuan untuk menjelma menjadi wujud hewan seperti anjing, ular, anjing, atau keledai, bahkan menjelma menyerupai manusia. Jin yang menampakkan wujud ini bertujuan mengganggu dan menakuti manusia dan melakukan tipu daya.

Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 27, “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”

Berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya. Sering kali jin baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Hikmah 99 Asmaul Husna, Aku Cinta Islam

Standar

Tak mengapa bila ada yang benci Islam. Hal itu tak akan mempengaruhiku untuk mencintai Islam. Islam telah memberiku rasa cinta mendalam kepada Tuhan Pencipta Alam Semesta Rabbal ‘alamin. Islam telah mencerdaskanku untuk memahami berbagai fenomena kehidupan. Islam telah membukakan pintu bagiku untuk berkata dan berlaku lebih baik kepada sesama.

Cintaku tak datang serta merta. Cinta berproses dalam kebeningan hati. Cinta menjelma dalam kedalaman pemikiran. Cinta terwujud dalam kebenaran perkataan dan perilaku. Al-Qur’an yang aku pahami telah memberiku hikmah 99 Asma Allah yang sudah seharusnya diteladani dalam kehidupan ini.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman 55 : 30).

 

Asmaul Husna

Ijinkan aku menuliskan 33 Asmaul Husna :

 “Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”. (QS. Al-Fatihah 1 :1).

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa Akulah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hijr 15 : 49).

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Tuhan (yang memiliki) Arsy yang mulia.” (QS. Al-Mukminun 23 : 116).

“Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada  Allah. Maha Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa, Maha Bijakasana.” (QS. Al-Jumu’ah 62 : 1).

“Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Pemberi Keselamatan, Yang Maha Pemberi Rasa Aman, Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Kehendak-Nya tidak bisa diingkari, Yang Memiliki Kebesaran.” (QS. Al-Hasyr 59 : 23).

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah.”(QS. Al-Hasyr 59 : 24).

“(Allah berfirman), Wahai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. An-Naml 27 : 9).

“Dan sungguh Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.” (QS. Thaha 20 : 82).

“Katakanlah, Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Maha Penakluk.” (QS. Ar-Ra’d 13 : 16).

“(Mereka berdoa), Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 8).

“Sungguh Allah, Dialah Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat 51 : 58).

“Katakanlah, Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia Yang Maha Pemberi Keputusan (pembuka jalan penyelesaian), Maha Mengetahui.” (QS. Saba 34 : 26).

“Tetapi jika mereka condong kepada perdamaian, maka terimalah dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfal 8 : 61).

“Dan Allah Menyempitkan dan Melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah 2 : 245).

“Dan sekiranya Allah Melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi.” (QS. Asy-Syura 42 : 27).

“(Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).” (QS. Al-Waqi’ah 56 : 3).

“Dan apabila dikatakan, Berdirilah kamu, maka berdirilah niscaya Allah akan meninggikan (derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah 58 : 11).

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah.” (QS. Fathir 35 : 10).

“Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina.” (QS. Mujadilah 58 : 20).

“Dan milik-Nyalah segala apa yang ada pada malam dan siang hari, dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am 6 : 13).

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid 57 : 4).

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemberi keputusan yang terbaik.” (QS. Al-An’am 6 : 57).

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil.” (QS. Al-Maidah 5 : 8).

“Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya, Dia memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syura 42 : 19).

“Sungguh, orang-orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat 49 : 13).

“Tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 155).

“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung.” (QS. Al-Waqi’ah 56 : 96).

Meneladani Asma Allah Dalam Keseharian

Aku meneladani Asma Allah Al-Haliim yang berarti Allah Maha Penyantun dengan berusaha -sebisaku dan semampuku tentu- untuk menahan diri, tidak membalas kejelekan orang lain dengan kejelekan atau perbuatan serupa. Misalnya ada teman mengejekku tentu aku tak akan balas mengejek. Aku doakan dia agar sadar akan perbuatannya dan semoga pada lain waktu dia menjadi lebih baik.

Allah memiliki nama indah Al-Baasith yang artinya Allah Maha Melapangkan, maka berusaha sekuat tenaga agar aku mampu melapangkan hati dan membahagiakan orang lain, misalnya orang tua, suami, anak-anak, tetangga, kerabat, sahabat, atau siapapun). Orangtuaku -Mamah dan Bapa- sangat senang bila di telepon seminggu atau dikunjungi minimal sebulan sekali. Aku berusaha agar dapat memenuhi hal itu agar orangtuaku bahagia.

Suamiku sangat senang bila aku buatkan teh manis -apalagi bila disuguhkan dengan ‘plus’ senyum termanis … he3… Nah … Apa salahnya bila aku memberikan teh manis dengan senyum termanisku pada suami agar dia bahagia. Oya … anak-anakku, Kaka, Mas dan Teteh itu paling senang bila aku bacakan cerita sebelum tidur. Ya … Walau sudah setengah mengantuk … hi3 … Kadang-kadang aku sambil mata terpejam ceritanya tetapku bacakan -terutama cerita yang sudah aku hafal. Sambil aku modifikasi agar anak-anakku bisa tidur dengan bahagia.

Parenting With Love

Mengasuh anak-anakku Kaka, Mas, dan Teteh dengan cinta senantiasa aku upayakan. Tidak saja saat mereka bayi, bahkan hingga nanti waktu untukku di dunia ini berakhir.

Sejatinya cinta harus menjadi landasan bagi orang tua dalam menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Negara dan bangsa membutuhkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Kecerdasan menjadi bekal dalam memimpin menjadi khalifah di muka bumi ini. Tugas manusia diciptakan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Kuasa adalah beribadah kepada-Nya dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dan kehidupan alam semesta.

Bukankah manusia telah diciptakan dengan Cahaya Cinta dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang? Bukankah Nabi Muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam menebarkan cinta kepada umatnya agar berakhlak mulia dan mencintai Tuhannya, sesamanya, serta alam semesta tempat hidupnya?

Pandangan tauhid terhadap tugas mencerdaskan anak dengan cinta dimulai ketika Ibu dan Ayah bercita-cita memiliki keturunan. Ibu mengandung selama sembilan bulan kemudian menyusui sampai genap dua tahun. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (qalbu), agar kamu bersyukur’, (QS. An Nahl 16 : 78).

Allah telah mengingatkan seorang ibu di dalam Al-Qur’an, “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.” (QS. Al-Baqarah 2 : 233). 

Orangtua sebagai guru, tentu patut memahami proses menjadi cerdas bagi anak-anaknya. Proses itu bernama belajar. Belajar harus memperhatikan kecerdasan yang secara unik dimiliki oleh masing-masing anak. Cara belajar yang tepat menjadikan kecerdasan melejit lebih cepat. Cara belajar yang kurang/tidak tepat justru akan mematikan kecerdasan. Contoh : Balita (0-6 tahun) cara belajar dengan cinta dan kasih sayang; Anak SD (7-13 tahun) berikanlah tanggung jawab; Remaja SMP/SMA (14-19 tahun) kepercayaan adalah hal utama.

Balita dan anak sangat membutuhkan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar harus dengan hari gembira. Maka, orangtua sebagai guru pertama dan utama bagi anak harus juga menyenangkan. Bukan menjadi ‘monster’ atau ‘hantu’ yang menakutkan bahkan menakuti-nakuti anak.

Seringkali orang tua lupa ketika berkata tidak baik, maka akan tertancap dalam ingatan dan hati anak. Seperti mengatakan, “Belajar dong! Nanti bodoh mau jadi apa?” Banyak juga yang menggunakan kalimat mengancam seperti, “Awas nanti Bu guru marah tuh! Kamu kerjakan PR-nya”.

Coba kita ganti dengan kalimat positif yang menyenangkan, seperti “Nak … Kamu mau jadi anak pintar kan? Bu guru dan Ibu senang loh kalau Kaka mau mengerjakan PR.” Ingat! Sambil tersenyum yah … Jangan sambil cemberut. Bisa juga gunakan kalimat seperti, “Yuk! Ibu temani belajar buat besok ulangan. Ade kan anak shalih …” Tentu saja harus dalam waktu yang penuh tidak disambi menyetel TV atau membuat kegaduhan lain. Fokus! 

Mengasuh anak adalah sebuah kesempatan yang berharga dan menyenangkan, dimana kita bisa tumbuh bersama anak-anak. Hubungan baik antara kita dengan anak akan terus memotivasi kita agar terus mendorong dan membimbing anak kita menghadapi masa depannya. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, kita telah membuat anak kita merasa dia memiliki teman berbagi pikiran dan menanyakan berbagai persoalan yang sulit. Ini penting! Karena kita ingin anak kita tidak lari kepada narkoba, pergaulan bebas, atau perilaku negatif lain akibat dia tidak merasa memiliki orangtua yang menjadi sahabat sejatinya.

Saat kita ingin menanamkan juga bagaimana mencintai Allah, Rasulullah, Al-Qur’an, dan agama Islam tentu orang tua harus menjadi teladan bagi mereka.

Berusaha Menjadi Teladan

Sejarah telah mencatat betapa cinta ibunda Nabi Ibrahim telah memberikan motivasi bagi Ibrahim kecil. Ketika masa kecil Ibrahim di tengah kaum penyembah berhala, ibundanya mengajakan berdiam diri atau tafakkur di sebuah gua di tengah hutan.

Kegiatan ini dipilih oleh ibundanya karena sesungguhnya dalam hatinya menentang perilaku suami dan kaumnya yang menyembah berhala. Masyaallah … Ternyata kegiatan mengasingkan diri ini telah mengantarkan Ibrahim menemukan Tuhan yaitu Allah Yang Maha Pencipta. Tiada satupun yang patut disembah selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibrahim pun berani menantang resiko berdakwah kepada ayahnya yang berprofesi sebagai pembuat patung dan Raja Namrud. Itulah cinta seorang ibu yang mencerdaskan dalam ketauhidan. Begitu pula cinta Asiah istri Firaun yang mendampingi Nabi Musa semasa kecil. Kasih sayangnya menembus batas kesenangan dunia sebagai istri raja. Asiah telah mengantarkan Musa menjadi pemimpin kaumnya dan berani menentang kedzaliman Firaun.

Islam mengajarkan pentingnya peran ayah dalam proses mencerdaskan anak dengan cinta. Mari belajar pada ayah para nabi, yaitu Nabi Ibrahim. Tentu kita sebagai umat Islam juga belajar kepada teladan utama yaitu Nabi Muhammad. Al-Qur’an pun menggambarkan bagaimana Lukman berusaha mencerdaskan anaknya dengan penuh cinta, “(Lukman berkata) : ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui. ‘Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). ‘Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkung. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman 31 : 16-18).

Mereka para Nabi dan Rasul, tidak meninggalkan perannya sebagai Ayah, walau menyandang risalah begitu berat menyebarkan tauhid kepada umatnya. Di rumah, mereka adalah ayah yang penuh cinta, hangat, ramah, penyanyang, dan mau bersama-sama Ibu mendidik dan mengasuh anak-anaknya.

Islam Mengajarkan Cinta Membaca

Allah Yang Maha Agung lagi Maha Pemberi Karunia berfirman, “(Tuhan) Yang Maha Pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.” (Ar Rahman 55 : 1-4). Ditegaskan juga di dalam surah Al-Alaq ayat 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Firman ini seharusnya memberikan motivasi kuat kepada orang tua agar memfasilitasi anak-anaknya cinta membaca.

Kami sekeluarga sangat senang membaca. Koleksi buku kami dari berbagai jenis. Anak-anak sejak kecil aku perkenalkan dengan buku. Kini mereka juga senang membaca. Walaupun kami tak memiliki televisi saat mereka kecil, tak menjadi masalah karena waktu luang diisi dengan membaca.

Al-Qur’an adalah bacaan yang mulia. Bacakanlah setiap hari satu atau beberapa ayat Al-Qur’an kepada anak-anak bila mereka belum mampu membaca. Bila anak-anak telah mampu membaca, alangkah indahnya bila membaca bersama lalu dibaca pula artinya. Bila telah mampu membaca tafsirnya, maka alangkah menyenangkannya bila anak-anak mampu menjelaskan makna dari Al-Qur’an.

Ada banyak orang tua mengatakan senang dan bangga bila anak-anak hobi membaca. Namun, seringkali orang tua bingung bagaimana memulai agar anak-anak mencintai buku dan menjadi ‘kutu buku’? Tantangan era cyber seperti saat ini adalah maraknya tayangan televisi dan mudahnya akses internet. Hal tersebut membuat anak-anak lebih memilih duduk manis menonton film kartun, sinetron, bahkan iklan di televisi dibandingkan asyik membuka buku ilmu pengetahuan, novel, cerpen, atau majalah. Terlebih bila akses internet sudah dikenal, maka anak-anak cenderung memilih memainkan jari-jari mungilnya di atas keyboard dan mata fokus ke layar monitor memainkan beragam games online yang banyak juga digratiskan. Begitu juga penggunaan gadget atau handphone sudah dimulai bahkan sejak mereka bayi.

Ada baiknya orang tua berkaca diri! Cobalah renungkan … Apakah sebagai orang tua juga sudah memberi teladan kecintaan pada buku dan sudahkan menularkan hobi membaca pada anak-anak? Bila tidak atau belum optimal, jangan salahkan anak bila mereka lebih memilih menonton siaran televisi atau bermain game online di komputer dan handphone.

Saat Teteh berkunjung ke toko buku pasti akan segera bergegas menuju rak khusus cerita anak atau novel. Dia akan asyik berlama-lama memilih dan merasa senang bila ada plastik sampul buku yang terbuka. Teteh akan ‘ndemprok’ duduk di lantai dan membuka halaman demi halaman bukunya. Waaahhh … Aku harus sabar menanti Teteh puas hingga memboyong beberapa buku untuk dijadikan koleksi.

Terwujudnya Indonesia cerdas melalui gemar membaca dan memberdayakan perpustakaan. Itulah visi Perpustakaan Nasional Indonesia yang aku baca di laman resmi perpusnas.go.id.

Kami tidak hanya tidak hanya sekali saja berkunjung ke Perpusnas. Pernah sekali watu liburan sekolah, aku mengajak para sepupu Teteh yang juga hobi membaca. Wisata edukasi di Perpusnas adalah pilihan tepat. Kali lain, aku mengajak sahabat Teteh untuk main sambil belajar di sini. Menularkan virus cinta membaca perlu dilakukan sedari dini. 

Jaman sekarang, anak-anak tuh sulit sekali jauh dari gadget. Main game atau menonton Tik Tik dan berselancar di media sosial seperti Instagram pastilah menghabiskan waktu. Nah … Bila memiliki hobi membaca pastilah bisa menjadi alternatif yang menyenangkan untuk mengisi waktu luang.

Buku adalah jendela dunia. Insya Allah dengan senang membaca akan meluaskan wawasan, memperdalam pemahaman, dan memperkuat ingatan. Yakinlah! Jika kita gemar membaca akan membuka jendela dunia dan membuka pintu menuju surga-Nya.

Silakan mampir di artikel menarik di link berikut:

Review Novel, Khadijah ‘Ketika Rahasia Mim Tersingkap’

Standar

Hujan deras mengguyur Jakarta malam ini. Aku sudah selesai shalat Isya dan bersiap istirahat. Udara yang sejuk dan suara tetes air di atas genting menyajikan irama indah. Ya … Aku suka suasana saat hujan baik pagi, siang atau malam selalu indah.

Hangatnya selimut menemaniku membuka halaman demi halaman sebuah novel karya Sibel Eraslan. Judul novel setebal 385 halaman ini adalah Khadijah Ketika Rahasia Mim Tersingkap. Novel yang aku punya ini adalah cetakan pertama tahun 2013 dari Penerbit Kaysa Media Jakarta.

Airmata Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam

Kepergian sang pelindung besar, Abu Thalib dan Khadijah hanya berselang tiga hari. Rasulullah lagi-lagi hidup sendiri sebatang kara. “Perkara mana yang harus aku tangisi?” tanyanya kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka menyebut tahun itu sebagai ‘Sanatu’l Hazan’ tahun duka cita.

Setelah itu Rasulullah acap kali memberi perhatian khusus kepada beberapa wanita. Jika ditanya, ia akan menjawab, “Wanita ini adalah teman dekat Khadijah.” Beberapa tahun setelah menjalani hijrah, seperti yang juga dijalani rasul-rasul sebelumnya, Rasulullah kembali ke kotanya sebagai Pembebas Mekah. Dan di sana, Rasulullah hendak mendirikan markas besar pasukan tepat di seberang Gunung Hujun.

“Khadijah. Khadijah sedang berbaring di sini …,” demikian beliau akan memberi jawaban jika ditanya sebabnya.

Duuuhhh … Airmataku menderas dan membasahi wajah hingga menetes di atas selimut. Hujan semakin deras pula. Malam semakin larut namun aku tak surut kembali menyelusuri kata demi kata dalam novel ini.

Kemudian suatu hari, dengan penuh kesedihan Rasulullah menggoreskan empat buah garis ke tanah dengan cabang pohon kurma. “Tahukah kalian apa arti empat garis ini?”

“Rasul Allah pastilah tahu yang sebenar-benarnya,” jawab mereka.

“Empat garis ini menggambarkan empat wanita ahli surga yang paling mulia. Khadijah putri Khuwalid, Fatimah putri Muhammad, Istri Firaun, putri Mudzahim, Asiyah, dan Maryam putri Imran. Semoga Allah meridai mereka.”

Aku teringat ketika menunaikan ibadah Haji pada tahun 2006/2007 dan Umroh tahun 2017, manakala melakukan tawaf dan sa’i seketika teringat akan Bunda Hajar dan Khadijah. Aku menangis tersedu merasakan perjuangan, cinta, dan keimanan keduanya. Mereka adalah guru yang mulia dan penuh kelembutan yang sedang memberikan pelajaran ke dalam ruhku agar kembali mengenal dan bersaksi kepada Nabi Muhammad, utusan terakhir yang telah memberi contoh dengan kehidupan dan pengajaran Rabbaninya.

Dengan bergeloranya iman, hatiku yang kadang bagai padang pasir gersang telah bermandikan lautan. Begitu sejuk dan segar …

Matematika dan Sastra

Kaka, Mas, dan Teteh ketiga anakku ini pernah aku ajak diskusi santai tentang matematika terutama geometri apakah ada hubungannya dengan sastra? Sejauh yang telah aku pelajari dan rasakan sastra adalah seni geometri. Aku gambarkan tiga buah titik yang tidak paralel di buku sketsa. Jika masing-masing titik dihubungkan satu sama lain, pembahasan pertama matematika setiap anak di dunia ini adalah bangun segitiga, dengan rumus Pitagoras yang mengatakan bahwa: ‘Angka pertama yang ada di planet adalah tiga’.

Begitu juga Sibel menulisnya dalam Prakata. Ia mengatakan, “Aku hitung luas bangun segitiga, entah mengapa masing mengingatkanku pada sebuah puisi. Rasulullah yang tercinta memiliki dua teman perjalanan. Yang satu seorang malaikat penghuni langit, yaitu Jibril, dan yang satunya lagi adalah putri dunia, Bunda Khadijah. Allah yang menyebut Rasulullah dengan habibi telah memberi dua teman hidup untuk mendukungnya.” Malaikat di langit dan wanita di bumi.

Penulis kelahiran di Uskudar, Istanbul tahun 1967. Dia menjadi kolumnis di koran Star, menulis di majalah Teklif, Imza, Dergah, Mostar, dan Heje.  Sibel piawai lagi mampu menyelami era masa lalu, kemudia menceritakannya dengan kekuatan kata-kata. Sibel Eraslan, perempuan penulis asal Turki telah menulis novel ‘Serial The Greatest Women’, dengan tokoh perempuan luar biasa yang tercatat dalam Al-Qur’an dan sejarah kemanusiaan. 

Rahasia Mim

Khadijah kembali harus berani melewatkan tiga puluh hari kedua yang memisahkan dirinya. Ia menemukan dirinya seolah dalam dunia aksara. Semua tentang dirinya ia dapati terangkum ke dalam satu huruf. Mim, namanya. Sebuah kata kunci, rumus, sandi, dan juga tanda tangan.

Mim!

Huruf itu!

Dan lagi, huruf itu. Seantero jagat, baik di bumi maupun langit, penuh dengan huruf itu. Mim … mim …

Dan kini, ia tidak lagi mengucapkan nama sang kekasihnya. Tidak mungkin terucap penuh satu kata ‘Muhammad’ dari mulutnya.

Seolah dirinya merasakan tubuhnya akan terbelah menjadi dua dalam guncangan gempa bilamana nama itu terucap dari bibirnya. Seolah seluruh bahasa di dunia akan kehilangan kata-kata, membisu terpaku sembari memandang dengan kosong. Sungguh, sedemikian nama itu menyimpan rahasia dan kekuatan sehingga ia tidak ingin kecolongan menyebutnya agar tidak terbongkar semuanya. Karena itulah ia selalu menggenggamnya erat-erat sebagai kunci rahasia.

Khadijah, Tempat Berteduh untuk Huruf Mim

Malam sudah larut. Para tamu berpamitan dan meninggalkan tempat pernikahan. Ketika pengantin laki-laki beranjak dari tempat pernikahan bersama dengan saudara-saudaranya, pengantin wanita dengan sopan mengajak pengantin laki-laki tinggal di ruma baru mereka.

Semua terjadi seperti apa yang ada di dalam mimpi Khadijah. “Hidup adalah sebuah rumah yang akan menafsirkan mimpi-mimpi,” pikir Khadijah.

Khadijah tak hanya melihat mimpi yang indah dan penuh dengan berkah. Dia juga berusaha mewujudkan dalam kehidupannya dan berhasil. Mimpi itu mengarahkannya untuk berniat dan menumbuhkan keinginan untuk mewujudkannya. Ruh Khadijah yang melihat mimpi, sementara keinginan dan kemauannya yang mewujudkan mimpi itu.

Niat bagus yang tumbuh dan berbuah tindakan di tangan Khadijah sesungguhnya adalah sesuatu yang diinginkan Allah, seperti yang terjadi pada Khadijah dan Ibunda Hajar.

Dengan ketekunan dan usaha, takdir yang tertulis di dalam diri kita harus dituangkan dalam perbuatan untuk mewujudkan tujuan kita dikirim ke dunia, dan agar ujian hidup dan tujuan hidup saling melengkapi.
Sungguh, Allah adalah penulis buku takdir mulai dari awal sampai akhir. Walaupun berada di situasi yang paling buruk, berjalanlah, atau berlarilah dengan kasih sayang dan penuh keyakinan.

Iqra! : Bacalah!

Kali ini, Khadijah tidak berada di sisinya. Al-Amin berada di Gua Hira sendiri.

Sosok yang ia kenal dalam mimpinya sedang memandangnya. Al-Amin diselimuti perasaan takut dan cemas ketika berhadapan dengan sosok itu. Kemudian sosok itu berjalan mendekatinya perlahan-lahan. Setelah menunduk, intonasi suaranya yang tegap dan menggetarkan batikn manusia terdengar.

“Iqra!” ucapnya. Suaranya seakan-akan ledakan yang datang dari langit.

Di dalam gua, saat tak ada orang lain kecuali al-Amin, perintah ‘bacalah’ di berikan kepadanya. “Aku tidak bisa membaca,” jawab al-Amin dengan perasaan takut.

Mendengar jawaban tersebut, sosok itu langsung memegang erat tubuh al-Amin. Ia pun merasakan tulang-tulangnya tertekan. “Iqra!” Karena himpitan yang sangat kuat, al-Amin kesulitan menghirup nafas. Ia bahkan mengira dirinya akan tewas.

“Aku tidak bisa membaca!” Sosok itu sekali lagi mencengkeram dengan kekuatan yang lebih besar. Kali ini al-Amin merasakan tubuhnya seperti hancur berkeping-keping.

“Bacalah! Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Hati al-Amin sudah seperti kelereng dan ucapan-ucapan itu dituliskan di atas permukaan kelereng tersebut, penuh dengan kesakitan. Sangat berat, tetapi jelas dan tidak akan terhapuskan.

Orang Pertama

Al-Amin kemudian menerima wahyu, firman Allah yang berbunyi, “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan. Dan Tuhanmu agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.”

“Selimuti aku … selimuti aku …,” ucapnya dengan suara gemetar sepulang dari Gua Hira berjumpa Jibril.

Malaikat itu berkata, “Kau adalah Rasulullah.”

Khadijah adalah orang pertama yang menerima kalimat itu. Suaminya telah menjadi Rasulullah. Khadijah adalah yang pertama mengimaninya. Ketika kalimat syahadat keluar dari bibir Khadijah, ia adalah orang pertama yang mengulangi kalimat Nabi Muhammad al-Mustafa.

Perintah ‘bangun dan peringatkan’ seakan-akan seperti suara gelombang untuk memulai dakwah. Khadijah adalah orang pertama yang melakukan perintah pertama yang turun kepada suaminya.

“Dan bersabarlah karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Hud : 115).

Khadijah adalah manusia yang mampu menghidupkan gurun pasir dan laut, besi dan madu sekaligus, yang mampu mengubah api menjadi air dan air menjadi api dalam satu waktu. Ia adalah penjaga air kehidupan yang memancar dari tengah gurun pasir yang tandus, pembangkit semangat kuat besi dari manisnya madu.

Zamzam milik Hajar memberi kehidupan bagi gurun yang tandus. Rasul milik Khadijah memberi kehidupan bagi kemanusiaan.

Hajar dan Khadijah …

Dua wanita pilihan ini adalah wanita yang menghadirkan laut di tengah gurun panas.

Silakan mampir di artikel menarik ini:

Hikmah 99 Asmaul Husna, Kompasku adalah Islam

Standar

Judul ini tiba-tiba saja muncul di pagi yang sejuk … Jakarta terasa Bandung, asyik buat menuliskan sesuatu yang juga sejuk, damai, nyaman, dan membahagiakan para pembaca.

Melanjutkan pengalamanku mengambil hikmah 99 Asmaul Husna. Kali ini aku ingin berbagi tentang betapa menyenangkannya hidup dengan banyak kerabat, sahabat, dan teman baik. Alhamdulillah … Rasanya sampai saat ini aku tidak punya orang yang menjadi musuh, semoga begitu seterusnya.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surah Al-Isra’ ayat 110: “Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaul Husna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”

“Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan dan agungkanlah Dia seagung-agungnya.” (QS. Al-Isra’ 17 : 111).

Asmaul Husna telah menginspirasiku agar mampu berkata dan berlaku baik kepada sesama. Pilihan ku bukan memusuhi orang namun aku sangat benci dengan tindak / perilaku kedzaliman, ketidakadilan, kesombongan, keangkuhan, kesewenang-wenangan, dan keserakahan / ketamakan. Aku juga sangat senang dengan tindak dan perilaku bersahabat, berkasih sayang, saling tolong menolong dalam kebajikan, menghormati, menghargai, menegakkan keadilan, berlaku sopan santun, dan memahami segala bentuk perbedaan.

Asmaul Husna

Ijinkan aku berbagi 33 Asma Allah dalam Al-Qur’an berikut ini:

 “Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa”. (QS. Al-Ikhlas 112 : 1).

“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas 112 : 2).

“Katakanlah, Sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-An’am 6 : 37).

“Mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kami semuanya maka Kami azab mereka dengan azab dari Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar 54 : 42).

“(Allah) berfirman, Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, dan sungguh dahulu Aku telah memberi ancaman kepadamu.” (QS. Qaf 50 : 28).

“lalu dia berkata (menyesali) : Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian) ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun 63 : 10).

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Dzahir, dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid 57 : 3).

“Dan apabila Allah menghendaki sesuatu keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak pula pelindung mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d 13 : 11).

“(Allah) Yang Mengetahui semua yang gaib dan yang nyata, Yang Maha Besar, Maha Tinggi.” (QS. Ar-Ra’d 13 : 9).

“Sesungguhnya kami menyembah-Nya sejak dahulu, Dialah Yang Maha Melimpahkan Kebaikan, Maha Penyayang.” (QS. Ath-Thur 52 : 28).

“Kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskannya, mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Aku lah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah 2 : 160).

“Sungguh, Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As Sajdah 32 : 22).

“Maka mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa 4 : 99).

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2 : 143).

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 26).

“Maha Suci nama Tuhanmu Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman 55 : 78).

“Allah menyatakan bahwa tiada tuhan selain Dia; (demikian pula) malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 18).

“Tuhanku, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.” (QS. Ali ‘Imran 3 : 9).

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fathir 35 : 15).

“Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah 9 : 28).

“Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu orang lain untuk mengusirmu.” (QS. Al-Mumtahanah 60 : 9).

“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana (derita) kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’am 6 : 17).

“Katakanlah (Muhammad), Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikendaki Allah.” (QS. Al A’raf 7 : 188); “Allaj (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.” (QS. An-Nur 24 : 35).

“Dan sungguh Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj 22 : 54).

“(Allah) pencipta (tanpa contoh sebelumnya) langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya ‘Jadilah!’ Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Al-Baqarah 2 : 117).

“Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman 55 : 27).

“Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Ali’Imran 3 : 180).

“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi 18 : 17).

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah 2 : 153).

Kenangan Bersama Dengan Yang Berbeda

Kali ini kenanganku kembali ke masa kecil yang indah. Aku bertetangga dengan keluarga suku Batak dan beragama Kristen. Sampai saat ini aku tetap bertetangga. Sudah 40 tahun rumah kami bersebelahan dan dinding pun saling menempel. Tak satu kali pun terjadi pertengkaran antar kami. Saling menghormati dan menghargai adalah kunci utama pergaulan antar sesama.

Kaka dan Mas dulu sekitar tahun 2009-2012 sebelum mereka masuk pesantren juga main bersama dan membuatku merasa terharu. Mereka bersama-sama memelihara hamster dan berdiskusi tentang bagaimana caranya bisa mengurus peliharaan mereka dengan baik. Ah … Tumbuhnya rasa saling tolong menolong di hati serta pikiran mereka membuat hidup menjadi damai. Kini anakku bungsu Teteh berteman dengan anak-anak tetangga dan tak pernah sekalipun mereka bertengkar.

Begitu pun pengalamanku ketika bersekolah di SMP. Satu teman laki-lakiku beragama Budha suku campuran Jawa. Aku bersuku Sunda dan beragama Islam. Kami sering berada dalam satu kelompok / regu di kelas. Baik-baik saja tak pernah saling meledek atau menghina atas nama agama dan suku. Paling banter ledekan khas anak-anak. Dia bernama Mardedi diplesetkan jadi Mardewi ha3 … Lucu-lucuan saja dan jadi kenangan indah saat ada reuni sekolah.

Lalu pengalaman lain saat aku bersekolah di SMA jurusan Fisika atau A1. Di kelasku hanya ada tujuh siswa perempuan diantara 41 siswa laki-laki. Jumlah siwa yang ganjil menyebabkan harus ada satu perempuan duduk bersama satu laki-laki. Nah … Entah mengapa? Mungkin disebabkan aku paling ‘tomboy’ di antara teman-teman perempuan, jadilah aku duduk dengan laki-laki paling lembut dan baik hati beragama Konghuchu dan bersuku campuran Cina-Jawa.

Kami saling menghormati dan tak pernah setitik pun di hati terbersit rasa merendahkan atau meminggirkan keberadaannya yang minoritas. Kami tetap bersilaturahmi  bahkan kini dia sudah sukses sebagai pengusaha. Oya … Dia pernah mampir ke kampusku saat aku menjabat sebagai Direktur sebuah akademi di Kota Cirebon.  Kami tertawa mengenang betapa lucu nya ‘gadis tomboy’ itu kini berjilbab dan lebih -sedikit- feminin.

Saat kuliah S1 di ITB dan S2 di STIE IPWI pun tak semata mendapat ilmu dan nilai akademik. Sungguh, aku sangat bersyukur mendapat ilmu kehidupan dan nilai persahabatan. Kita sebagai manusia tentu berbeda dan unik. Namun, pilihan hidup bukan lah untuk membeda-bedakan bukan pula untuk merendahkan dan meminggirkan. Begitu pun ketika menjalani kehidupan berkarir, bertetangga, berorganisasi, berbangsa dan bernegara bahkan bersama menjadi warga dunia.

Kompasku Islam Agar Tetap Di Jalan Yang Lurus

Pengalamanku meneladani Asma Allah Al Haadii yang bermakna Allah Maha Pemberi Petunjuk adalah aku harus mampu membimbing diri sendiri -kalau mampu juga orang lain- agar istiqamah atau berpegang teguh di jalan yang benar. Jalan para khalifah yang menjadi rahmatan lil ‘alamin atau pemberi rahmat bagi sesama juga bagi alam semesta.

Aku pun berusaha meneladani Asma Allah Ar Rauuf yang bermakna Allah Maha Pengasih / Belas Kasih kepada sesama dengan menjalin silaturahmi dan menolong sesama tanpa membedakan asal suku, bangsa, agama, atau pilihan politik. Misalnya ketika menolong korban bencana alam dan bencana kemanusiaan tentu mengedepankan kepedulian sosial dan sesama saudara sebangsa setanah air dan juga saudara sesama umat manusia penghuni bumi ini.

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah 4 : 2).

Dalam meneladani Asma Allah Azh Zhahir yang bermakna Allah Maha Nyata artinya aku harus berupaya sekuat tenaga menampilkan karya-karya yang bermanfaat bagi sesama dan alam semesta. Aku juga berusaha semaksimal mungkin menampakkan sikap hidup yang mulia, sopan santun, disiplin, dan gigih mengejar cita-cita. Aku berdoa semoga ilmu yang ada dapat berguna bagi orang lain kini bahkan dikemudian hari.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman yang artinya : “Wahai Muhammad tabahkanlah dirimu bersama orang-orang yang tekun beribadah kepada Allah baik pagi maupun sore, demi mencari keridhaan-Nya. Jangan alihkan perhatian kamu dari orang-orang yang tekun beribadah, hanya karena kamu menginginkan kesenangan hidup dunia. Janganlah kamu taat kepada orang-orang yang lalai mengingat Allah dan mengikuti hawa nafsunya. Usaha mereka itu pasti sia-sia.” (QS. Al-Kahfi: 28).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya : “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). 

Ajak Anak Untuk Suka Silaturahmi

Kecerdasan sosial (SQ)  pada diri anak-anak yang tinggal di kota besar cenderung rendah. Hal ini terbukti dari nilai/skor kecerdasan majemuk ketiga anakku, Kaka, Mas, dan Teteh. Tentu hal ini bukan berita buruk, tapi sebuah trigger/pemicu semangat bagiku untuk bersama-sama meningkatkan kecerdasan sosial.

Program yang aku buat adalah memperbanyak silaturahmi, berkunjung ke tempat yang membutuhkan komunikasi antar personal. Aku memilih untuk sering mengunjungi rumah kerabat atau sahabat. Bila ada undangan resepsi pernikahan, kepindahan rumah, aqiqah,  atau undangan syukuran umroh/haji, dan ulangtahun kami sempatkan untuk datang.

Orang tua memberi teladan dengan berusaha terlebih dahulu memberikan senyum, menyapa, memberi salam, berjabat tangan atau bila dengan kerabat mahram bisa berpelukan, lalu kami mengobrol. Biasanya bila bertemu orang yang baru saja dikenal mereka cenderung malu-malu, bahkan anak bungsuku seringkali tak mau menyambut tangan orang yang mengajaknya bersalaman.

Pengalaman heboh sering terjadi, mereka resah dan gelisah, lalu rewel, atau marah minta segera pulang. Namun, lama kelamaan sejalan makin intensif program ini berjalan, Alhamdulillah mereka makin enjoy bila diajak bersilaturahmi.

Agar suasana lebih sesuai dengan usia mereka, aku sempatkan berkumpul bersama sepupu saat liburan sekolah. Senang sekali mereka bila diajak berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata. Sepanjang perjalanan mereka bisa bercanda dan saling bertukar cerita. Cerita lucu mengalir deras, tawa ceria pun terdengar tiada henti. Aku pikir satu-dua digit nilai/skor SQ mereka pasti meningkat.

Imam Syafi’i berkata, “Jalan-jalan itu ada manfaat yaitu agar semua kesedihan akan hilang. Jika sedang sumpek, jangan berdiam di rumah saja, tetapi pergilah keluar rumah, jalan-jalan. Pergilah ke suatu tempat dan lihat keadaan kaum muslimin di situ, carilah pengalaman. Lalu akan muncul ide-ide karena sering berinteraksi dengan orang lain selama di perjalanan.”

Selain silaturahim dengan kerabat, Teteh juga aku ajak bersosialisasi dengan berbagai strata sosial. Ini untuk melatih empati dan rasa rendah hati, tidak sombong dan angkuh. Kebetulan di rumahku ada asisten yang memiliki cucu sebaya Teteh. Ia sering diajak neneknya ke rumah pada hari minggu dan bermain bersama Teteh. Mereka bermain masak-masakan, mewarnai, atau bersepeda di halaman rumah.

Asistenku yang satu lagi, masih punya bayi berumur satu tahun dan selalu diajak ibunya ke rumahku saat bekerja. Bayi lucu ini pun menjadi teman bermain Teteh yang menyenangkan selepas pulang sekolah. Aku berharap mereka tak membedakan teman berdasarkan latar belakang sosial keluarganya.

Tetap Terhubung di Masa Pandemi

Pengalaman menarik pada saat di rumah saja, aku jadi lebih sering melakukan video call dengan Kaka dan Mas. Selepas tarawih dan waktu sahur dipilih agar terasa tetap berkumpul walau berada di kota yang berbeda. Begitupun dengan Mamah dan keluarga besar di berbagai kota bahkan berbeda negara, aku melakukan hal yang sama.

Kami juga memanfaatkan WhatsApp Group untuk saling berkirim kabar kepada keluarga besar. Sepupuku yang tinggal di Paris Perancis dan Perth Australia juga bisa ikut dalam acara bukber virtual. Saat lebaran kami mengadakan silaturahim menggunakan aplikasi Zoom. Senang bisa melepas rindu, walau tak bisa berpelukan dan hanya menatap wajah serta mendengar suara mereka.

Oya … Ada satu grup WA yang baru dibuat pada saat pandemi, yaitu grup tahsin Alquran khusus akhwat beranggotakan keponakan, sepupu, kakak dan adikku. Masyaallah … Teknologi bisa menghubungkan kami yang tinggal berjauhan, ada yang tinggal di Gresik, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Tangerang, Palangkaraya bahkan Brisbane Australia untuk bersilaturahim setiap hari ahad sore.

Tak kalah unik dan menarik adalah grup WA komunitas Mamah Gajah Bercerita dan Mamah Gajah Ngeblog yang aku ikuti. Senang rasanya masih bisa terhubung dalam komunitas yang memiliki hobi sama. Barakallah … Semoga jalinan silaturahim ini bisa langgeng dan penuh manfaat, aamiin.

Ikhtiar tetap menjalin interaksi dengan keluarga kecilku agar selalu merasa dekat dan saling menyayangi. Teknologi memang bisa menghubungkan secara maya, namun kedekatan fisik juga penting.

Aku memanfaatkan waktu saat ke Bandung untuk tracking sejenak bersama Kaka, Mas, dan Teteh di Tahura. Kami juga berkunjung ke Masjid Salman dan menyempatkan berfoto di depan gerbang kampus ITB. Saat mereka bisa ke Jakarta, aku mengusahakan untuk refresing di kawasan kaki Gunung Salak. Pekan lalu aku mengajak Mas dan Teteh merayakan hari kemerdekaan Indonesia di kawasan Dieng Plateu.

Catatan : Silaturahmi dan silaturahim adalah dua kata yang memiliki pengertian yang sama tetapi penggunaannya berbeda. Silaturahmi dipakai dalam lingkungan yang umum sedangkan silaturahim dipakai untuk lingkungan keluarga atau karib kerabat terdekat.

Silakan mampir di artikel menarik lainnya:

Hikmah 99 Asmaul Husna, Akalku Membenarkan Islam

Standar

Aku hormati saja, bila ada teman yang akalnya tak dapat membenarkan Islam. Tak mengapa … Karena sejati-nya setiap manusia akan berproses secara personal dengan hati dan akal masing-masing. Namun, aku sungguh-sungguh menerima betapa Al-Qur’an telah mencerdaskanku untuk memahami berbagai fenomena kehidupan.

Ketika kuliah di jurusan Teknik Arsitektur ITB tahun 90-an, aku mendapat hikmah saat membaca surah Ali ‘Imran ayat 190-192 yang berbunyi: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab. Yaitu mereka yang berdzikir (mengingat) Allah sambil berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka yang berpikir tentang kejadian langit dan bumi.”

Demikian juga ketika aku membaca surah An-Nahl ayat 11-13, Allah berfirman: “Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan tanaman-tanaman zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan, sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah)  bagi orang yang berpikir. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu, dan bintang-bintang dikendalikan dengan perintah-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mengerti. dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.”

Hikmah itu sangat aku syukuri. Belajar ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi di kampus memberiku pemahaman bahwa Allah Maha Baik. Dia memberiku akal dan mencerdaskanku agar dengannya aku mampu berpikir. lalu mengerti dan mengambil pelajaran (hikmah) dari segala fenomena kehidupan.

Asmaul Husna

Ijinkan aku berbagi 33 Asma Allah dalam Al-Qur’an berikut ini:

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar 39 : 53).

“Agar Allah menyempurnakan pahala-Nya kepada mereka dan menambahkan karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penerima Syukur.” (QS. Fathir 35 : 30).

“Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil, dan sungguh Allah Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Hajj 22 : 62).

“Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, merekaberkata : Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab : (Perkataan) yang benar, dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Saba 34 : 23).

Dan tidak ada kekuatan (iblis) terhadap mereka, melainkan hanya agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya hari akhirat dan siapa yang masih ragu-ragu tentang (akhirat) itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara sesuatu.” (QS. Saba 34 : 21).

“Dan barangsiapa memberi pertolongan dengan pertolongan yang buruk, niscaya dia akan memikul bagian dari (dosa)nya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa 4 : 85).

“Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorangpun dirugikan walau sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya 21 : 47).

“tetapi wajah Tuhan mu yang memiliki kebesaran (keluhuran) dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman 55 : 27).

“Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhan ku Maha Kaya, Maha Mulia.” (QS. An-Naml 27 : 40).

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An Nisa 4 : 1).

“Sesungguhnya Tuhan ku sangat dekat (rahmat-Nya) dan mengabulkan (doa hamba-Nya).” (QS. Hud 11 : 61).

“Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2 : 115).

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah 5 : 118).

“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih.” (QS. Al-Buruj 85 : 14).

“(Itu adalah) rahmat dan berkah Allah, dicurahkan kepada kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Mulia.” (QS. Hud 11 : 73).

“Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj 22 : 7).

“Katakanlah (Muhammad), Imbalan apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Imbalanku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Saba 34 : 47).

“Yang demikian itu karena sungguh, Allah, Dialah Yang Haq (benar), dan sungguh, Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sungguh, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hajj 22 : 6).

“Allah mencatat siasat yang mereka atur pada malam hari itu, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah yang menjadi pelindung.” (QS. An-Nisa 4 : 81).

“Sungguh, Tuhanmu, Dia Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Hud 11 : 66).

“Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki yang memiliki kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat 51 : 58).

“Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya (iman).” (QS. Al-Baqarah 2 : 257).

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah, dan Allah, Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fathir 35 : 15).

“Agar Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah Tuhannya, sedang (ilmu-Nya) meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (QS. Al-Jin 72 : 28).

“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembar-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi.” (QS. Al-Anbiya 21 : 104).

“Dan Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya.” (QS. Ar-Rum 30 : 27)

“Ketika Ibrahim berkata : Tuhanku ialah Yang Menghidupkan dan Mematikan.” (QS. Al-Baqarah 2 : 258).

“Dan sesungguhnya Dialah Yang Mematikan dan Menghidupkan.” (QS. An-Najm 53 : 44).

“Dan bertakwalah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.” (QS. Al-Furqan 25 : 58).

“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2 : 255).

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Adh-Dhuha 93 : 8); “Yang memiliki Arsy, lagi Maha Mulia.” (QS. Al-Buruj 85 : 15).

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Tunggal, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah 2 : 163).

Al-Qur’an dan Arsitektur

 Teman … ketika sudah menjadi Arsitek, aku senang dan sangat terinspirasi dengan surah An-Nahl ayat 80-81 yang mengatakan: “Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta, dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan. Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”

Sarang lebah, rumah semut, bendungan berang-berang, gedung rayap, terumbu karang, jaring laba-laba, dan kepompong kupu-kupu : mengilhamiku betapa Allah juga telah mencerdaskan mahkluk ciptaan-Nya. Seumpama hewan yang ‘mungkin’ menurut kita tiada artinya. Bangunan mereka menginspirasi berbagai bentuk bangunan karya para arsitek. Dunia arsitektur (yang dikembangkan manusia) hanya sedikit saja dari seluruh ilmu Allah. Begitupun aku, manusia tiada sempurna. Tentu banyak kekurangan ketika berusaha memahami dan meneladani Asma Allah Yang Maha Sempurna.

Esensi Ruang : Dari Tiada Menjadi Ada

Fenomena pemanfaatan ruang -terutama ruang publik- yang dipandang dengan pro dan kontra oleh berbagai pihak sedang marak akhir-akhir ini.  Pengertian sederhana dari ruang publik atau public space adalah tempat yang dapat digunakan oleh masyarakat luas atau komunitas untuk berkumpul dalam rangka memenuhi kebutuhannya berdasarkan tujuan yang sama.

Ruang publik dapat berupa real space yang berada di dunia nyata  atau di dunia maya yang disebut virtual space. Beberapa bentuk ruang publik berupa real space di antaranya adalah jalur hijau, playground, trotoar, taman-taman, square, plaza, pasar, tepi air (sempadan sungai dan danau), gedung-gedung bersama, gym dll. 

H.P. Berlege (1908) mengemukakan pendapat: “The aim of our creations, is the art of space, the essense of architecture.” 

Ruang! Sebuah kata denga daya tarik ajaib bagi para arsitek abad keduapuluh, sebuah kata yang begitu sering digunakan sekaligus disalahgunakan. Ketika aku menempuh pendidikan di Teknik Arsitektur ITB medio akhir tahun 80-an hingga awar 90-an terdapat matakuliah Ruang dan Bentuk Arsitektur, Sejarah Peradaban, Arsitektur Kota, Arsitektur Kontekstual, serta Analisis Sejarah dan Kritik Arsitektur. 

Aku sangat berterima kasih dan mengagumi para dosen di kampus yang mumpuni di bidang arsitektur telah memberikan wawasan yang luas dan mendalam tentang konsep menciptakan ruang. Proud and very grateful to  pembimbing tugas akhirku yang baik hati Prof.Ir. Slamet Wirasondjaja  MLA. Llmu arsitektur lingkungan yang beliau dedikasikan telah memberiku pemahaman tentang pentingnya eco architecture bagi kehidupan yang lebih baik. Begawan arsitektur  Prof. Dr. Danisworo MSc yang memberikan ilmu urban design dengan sepenuh hati kepada para mahasiswanya. Prof. Iwan Sudradjat M.SA. Ph.D, Dr.Ir. Sri Rahaju BUK. MSA,  Ir. Zaenudin Kartadiwiria M.Arch, dan Ir. Rijadi Joedodibroto yang telah menjadi jalanku untuk memiliki minat pada bidang kajian budaya dan kritik arsitektur. Semoga Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Pemurah melimpahkan pahala kepada guru-guruku, aamiin.

Pada tahun 1957, Louis I. Khan berkata, “Arsitektur berarti menciptakan ruang dengan cara yang benar-benar direncanakan dan dipikirkan. Pembaharuan arsitektur yang berlangsung terus menerus sebenarnya berakar dari pengubahan konsep-konsep ruang.” Sedangkan jauh sebelum itu, pada tahun 550 sebelum Masehi Lao Tzu (dua ribu limaratus tahun lalu) berkata, “Thirty spoken converage upon a single hub; It is on the hole in the center that the purpose of the axle depends. We make a vessel from a lump of clay; It is the empty space within the vessel that makes it useful. We make doors and windows for a room; But it is these empty spaces that make the room habitable. Thus while the tangible has advantage; It is intangible that make it useful.”

Jadi sementara yang berwujud memiliki keuntungan; Itu tidak berwujud yang membuatnya berguna.

Inti dari filosofi Tao si Orang Tua yang legendaris itu telah meletakkan dasar atau The Way if Becoming adalah gambaran pengertian bahwa di dunia tiada yang abadi, selalu berubah. Pemikiran manusia selalu berubah. Tao telah mengemukakan prinsip filosofis dan fenomenologis polaritas yang menyatukan Being (Yang Ada) dan Non-Being (Yang Tak Ada). Di sinilah terkuak dan Tao berhasil menyibakkan superioritas yang terkandung, yaitu ruang di dalamnya, yang tidak nyata justru menjadi hakikatnya, dan di-nyata-kan dalam bentuk materi/fisik.

Aku merasakan benar adanya rasa ruang ketika gowes menikmati indahnya pusat Kota Jakarta. Upayaku untuk merawat sehat dan mereguk bahagia sepanjang koridor Jalan Sudirman. Tentu sambil mendatangi spot menarik seperti ruang baca di terowongan Kendal Dukuh Atas dan Skate Park Sudirman. Seru sekali loh!

Kali ini aku menjajal kawasan Cikini yang legendaris. Sekaligus mendatangi Taman Ismail Marzuki yang hampir rampung dalam proses revitalisasinya yang mengedepankan ruang publik. Senang rasanya bisa bernostalgia bersama suami ke TIM. Kangen juga nih nonton tayangan alam semesta di Planetarium. Semoga lekas selesai ya …

Satu lagi kawasan ruang publik di kota Jakarta yang menarik untuk didatangi adalah Kota Tua. Pekan lalu aku sengaja naik Transjakarta jurusan Blok M – Kota untuk memantau progres revitalisasi kawasan bersejarah itu. Keren! Luar biasa konsepnya menjunjung nilai-nilai historis kawasan dan bangunan heritage  yang ada di sana. Juga semangat menjadikan kawasan yang  rendah emisi atau Low Emission Zone. Great job … 

Baca juga artikel menarik di link ini: Mengerjar Sunrise di Kawasan Kota Tua Jakarta

Selain di Jakarta, aku juga menikmati rasa ruang ketika blusukan di kawasan Kauman Solo dan kawasan Gua Sunyaragi Cirebon.

Aku perhatikan dengan seksama bahan bangunan di lorong-lorong kawasan Kauman masih menggunakan tegel berwarna kuning di terasnya, dinding yang menghadap jalan dengan deretan beberapa pintu dan jendela dengan ventilasi tipis di atasnya. Ada kursi besi yang sengaja ditaruh di lorong ini. Mungkin disediakan untuk duduk pejalan kaki yang lelah saat menyusuri perkampungan Kauman. Beberapa bangunan ada yang telah dialih fungsikan menjadi toko Batik. Nuansa batu kali sebagai ornamen dinding luar masih dipertahankan dan menambah asri suasana. 

Baca artikel menarik di link berikut : Kangen Blusukan di Kota Solo

Kota Cirebon terkenal juga dengan sebutan Kota Udang. Kawasan Gua Sunyaragi di ujung selatan Kota Udang dahulunya adalah tempat petilasan. Ciri arsitektur estetik bernilai historis dengan nilai spiritual yang tinggi tampak menonjol dalam desain ruang luar dan ruang dalam. Pola bangunan menyerupai awan dan batu karang, motif ini menjadi ciri khas batik yang dikenal dengan nama Mega Mendung.

Mampir yuk! Ada artikel menarik di link ini: Gua Sunyaragi di Kota Cirebon Unik Nan Mistis

Manusia melalui tubuh dan jiwa ber-satu-alam dan ber-satu-hukum dengan dunia semesta materi/fisik di kelilingnya dengan berbudaya, bermakna. Y.B. Mangunwijaya dalam buku Wastu Citra membahas topik sendi-sendi filsafat dan budaya bentuk arsitektur, termasuk ruang publik. Ia mengatakan bahwa manusia sejak jaman dahulu memiliki intuisi bagaimana kesederhaan, keindahan, kebenaran, merupakan kata-kata lain dari satu perkara. Kualitas bahasa arsitektur pertama-tama adalah perkara batin-dalam, ruh: yang semoga dapat kita bina sebening mungkin.

Ruang publik hanya akan bermakna bagi jiwa dan juga fisik jika inti dari keberadaan ruang itu dapat memberikan rasa bahagia bagi penggunanya. Sangat mustahil terwujud ruang publik yang bermanfaat, bahkan bisa jadi ruang publik yang dibangun hanya kesia-siaan belaka. Aktifitas pengguna itulah yang memberi makna bagi keberadaan ruang publik.

Bukan Kota Wali : Buku Uji Nyali Sebagai Penulis

Standar

Kemarin pagi di Telegram Grup MGN telah diumumkan tantangan untuk bulan Februari. Waaahhh … Pengumuman itu membuatku kembali rusuh ha3 … Deretan buku di perpustakaan keluarga diubek-ubek lagi deh! Aku harus menceritakan buku yang berpengaruh baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Aslinya sih ini aku masih jetleg karena baru saja mendarat dari dinas luar kota.

Akhirnya setelah berdoa selepas shalat maghrib, aku putuskan untuk menulis tentang buku berjudul Bukan Kota Wali : Relasi Rakyat-Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota. Penulis buku ini adalah aku sendiri bersama tiga orang temanku saat bekerja di sebuah NGO atau LSM bernama Fahmina Institute. Aku bersyukur mendapat pengalaman menjadi peneliti dan wakil direktur di lembaga yang berlokasi di Kota Cirebon itu selama kurang lebih 5 tahun.

Ketika Aku Menjadi Aktivis Muda Kritis

Buku setebal 320 halaman yang diterbitkan pada tahun 2006 ini adalah hasil penelitian sosial dari para aktivis muda yang kritis dan memiliki sense of belonging yang mampu menempatkan diri sebagai agent of change. Penerbit Kutub Fahmina memberikan kata pengantar yang nyelekit tentang korupsi.

Sejatinya aku dan teman-teman sedang uji nyali untuk melawan maraknya tindak pidana korupsi di berbagai daerah yang dilakukan oleh pejabat publik. Aktifitas ini pernah membuatku diancam akan diseret ke penjara oleh seseorang yang terkait kasus yang diangkat dalam buku ini.

Korupsi menjadi candu. Sekali isap maka akan terus-menerus membuat seseorang melakukan praktik kotor tanpa kapok. Meskipun rakyat terlantar di pinggir-pinggir jalan, di kolong-kolong jembatan, di rumah-rumah kardus, di bawah reklame, lampu merah dan lain-lainnya.

Dengan asumsi, bahwa kebijakan publik adalah upaya untuk menanggulangi masalah-masalah publik, maka sepatutnya kebijakan itu berorientasi pada kepentingan publik, bukan elit. Gaung reformasi yang diharapkan mampu meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan rakyat tersapu watak kepicikan kaum elit. Otonomi daerah sebagai upaya pemberdayaan rakyat di daerah kentir hanyalah sebuah dongeng anak-anak menjelang tidur, dan ketika rakyat terlelap dalam buaian dongeng ‘si kancil dan buaya’, badik penguasa menikam dan mencabik-cabik harapan bangsa.

Banyak masyarakat yang mengalami depresi karena tidak kuat membendung limbah elit daerah yang berperilaku bak raja-raja kecil. Buku ini mengungkap malpraktik pemerintah kota dalam menggerakkan roda pemerintahan. Banyak pos-pos anggaran yang tidak sesuai dengan kontradiksi pokok masyarakat. Banyak pula kebijakan yang tidak sesuai dengan hati nurani rakyat.

Tidak cukup kita hanya berpikir tentang kepedulian sosial. Kita harus bertindak dengan penuh kepedulian sosial. Seharusnya pemerintah bisa menindaklanjuti untuk membuka lebar proses partisipasi yang lebih aktif dan konstruktif, demi tercapainya harapan masyarakat yang adil, aman, dan sejahtera,

Baca juga artikel menarik di link berikut: Kado Untuk Ulang Tahun Fahmina ke-21

Ketika Gubernur Jawa Barat Memberi Apresiasi

Sebagai penulis, aku merasa senang bisa mendapatkan kata sambutan dari Gubernur Jawa Barat. Saat buku ini terbit Dr. Drs. H. Danny Setiawan, M.Si adalah Gubernur Jawa Barat dari tahun 2003 sampai 2008. Danny Setiawan menyambut baik terbitnya buku Bukan Kota Wali yang mengupas tentang kebijakan penganggaran. Rekaman peristiwa, permasalahan, pendapat, kritik, dan tuntutan masyarakat akan keadilan yang dimuat dalam buku ini pantas menjadi bahan perenungan bagi penyelenggara pemerintahan daerah beserta seluruh stakehorders pembangunan.

Gubernur mengatakan sangat memahami bahwa keinginan untuk mewujudkan tata pemerintahan yang baik atau good governance dalam proses penyelengaraan pemerintahan daerah merupakan kebutuhan dan tujuan kita bersama. Walaupun tidak jarang kita dituntut bersabar dalam proses implementasinya. Perubahan ke arah pemerintahan yang lebih baik, tidak sekedar berkaitan dengan tuntutan pergeseran paradigma dalam manajemen pemerintahan daerah, melainkan perlu komimtmen dan upaya bersama penyelenggara pemerintahan dan masyarakat untuk mewujudkan cita-cita daerah yang dituangkan dalam visi dan misi pembangunan daerah.

Apresiasi dari Gubernur Jawa Barat kepada penulis atas terbitnya buku ini tentu memberikan bara api semangat yang insyaallah tidak akan padam dalam melakukan kerja-kerja bagi kebajikan sesama.

Ketika Direktur PUSHAM UII Menuliskan Review

Eko Prasetyo mengatakan buku ini istimewa karena menyuguhkan sebuah realitas mikro bagaimana nasib rakyat yang terlantar. Bidang utama yang penting disoroti dalam buku ini adalah pendidikan dan kesehatan yang masih saja meninggalkan pekerjaan rumah berat. Pekerjaan pada bidang pendidikan masih bergerak pada persoalan lama, pemerataan dan kualitas. Sedangkan pada masalah kesehatan juga berhadapan dengan problem akses dan keterjangkauan layanan yang berkualitas.

Buku ini mendesakkan tuntutan yang lugas, bagaimana pendidikan dan kesehatan menjadi dasar utama penilaian keberhasilan sebuah sistem politik. Dinasti kekuasaan yang mengabaikan dua masalah utama itu akan berhadapan dengan merosotnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya tingkat kompentensi daerah dan yang mencemaskan hilangnya generasi.

Hal menarik dari buku ini yang patut dicermati adalah deteksi penyakit kebijakan daerah yang ada selama ini. Orientasi kebijakan yang hanya menginginkan reputasi kota sama halnya dengan kegairahan prosedur untuk membuat serial ‘bodoh’ sinetron sebanyak-banyaknya. Masyarakat diajak bermimpi ketika penguasa kota lebih memilih membangun pusat perbelanjaan ketimbang merevitalisasi pasar tradisional. Penguasa lebih memilih mengusir PKL ketimbang memberika legalitas dan bantuan untuk mereka.

Penyakit paling dasar dalam kebijakan penguasa daerah adalah pandangan yang berubah tentang rakyat : dari sumber kedaulatan menjadi konsumen yang dilimpahi fasilitas. Posisi sebagai konsumen itulah menyebabkan rakyat mampulah yang dapat penghargaan dan perlindungan. Sebaliknya mereka yang miskin akan disingkirkan dan diberi pertolongan ‘semu’ seperti BLT atau yang dikerjakan oleh pihak swasta dengan ‘uang kaget’. Orientasi sesat kekuasaan berangkat dari pandangan keliru bagaimana negara ini dikelola.

Buku ini juga mendedah perspektif kebijakan yang tidak peka gender. Dalam perancangan anggaran maupun perumusan kebijakan peran dan keterlibatan perempuan sangat terbatas. Wajah busuk kekuasaan, tampak pada parasnya berupa penindasan, memang kemudian tidak akan mempertimbangkan aspek gender.

Sumber ketidakadilan itu akan membuat perkara kesehatan kemudian menjadi masalah. Sektor wisata hanya usaha untuk menjual potensi, bahkan bisa berujung pada bagaimana bisnis pelacuran dan perdagangan perempuan menjadi marak. Posisi perempuan yang tersudut dan terkucil, lalu menjadikan kebijakan publik tidak sensitif dan tidak peka pada kalangan perempuan. Seperti dalam APBD terdapat alokasi kunjungan keluar bagi anggota dewan lebih tinggi ketimbang pos kesehatan anak dan balita.

Kerap kali gender hanya dipahami sebagai soal perempuan -makanya- dengan memberi anggaran untuk perempuan kemudian semua soal beres. Padahal gender bukan semata-mata itu, karena yang terpenting bagaimana keadilan terpenuhi dan akses perempuan miskin untuk mendapat layanan publik berkualitas dapat terwujud.

Ketika Harapan Itu Masih Ada

Buku ini menyampaikan fakta kesenjangan yang dipampangkan dengan tegas. Membaca buku Bukan Kota Wali seperti menghidupkan kembali harapan kita, bukan hanya pada sistem politik yang arif tapi juga pemimpin politik budiman.

Cita-cita yang mungkin belum terwujud secepatnya, namun tak menyurutkan semangat.

Hayu ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Februari 2023 … Kata Teteh Admin MGN ada hadiah limited edition loh!

Mau Kuliah di ITB? Ikuti Open Housenya

Standar

Awal tahun ini berita berseliweran di laman media sosial tentang biaya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sepertinya siswa SMA kelas 12 memang sedang berkutat menghadapi waktu akhir bersekolah. Mereka mempersiapkan diri untuk lulus dari jenjang sekolah menengah atas dan bersiap memasuki perguruan tinggi. Salah satu perguruan tinggi negeri favorit yang dituju adalah ITB.

Cita-Cita Mas Kuliah di ITB

Aku ingin berbagi pengalaman waktu anakku sangat ingin kuliah di ITB. Bukan saat SMA, namun sejak bayi Mas sering diajak mampir di kampus tempat aku dan suami kuliah dulu. Keliling kampus dari gedung ke gedung. Sejuknya udara Bandung plus pohon-pohon besar di dalam kampus sangat nyaman untuk kami berjalan-jalan. Kolom-kolom batu kali berhias bunga warna jingga dan merah muda menambah unik suasana. Ada ruang terbuka di tengah kawasan dengan air mancur yang sering dijadikan lokasi berfoto.

Gedung ikonik di kampus berlambang Ganesha adalah kembar. Aula Barat dan Aula Timur. Bangunan dengan atap bersusun dan kayu-kayu jati sebagai material utama. Bangunan ini menjadi citra lokal yang monumental. Arsitek Henry Maclaine berasal dari Belanda, mendesain dan membangunya pada tahun 1918. ITB kemudian resmi menjadi perguruan tinggi tersendiri pada tahun 1920. Jadi … Sudah satu abad atau 100 tahun usia kampus pada tahun 2020.

Selamat ulang tahun ITB kampusku tercinta. Eeehhh … Kampus kami berempat sih tepatnya. Aku, suami, Kaka, dan Mas. Barakallah.

Nah … Bagaimana tips dan trik lolos ujian SBMPTN (waktu jaman Mas) sekarang UTBK? Atau ada sistem baru ya … Sejauh ingatanku, Mas itu waktu sekolah pesantren di Al Binaa IBS minta diijinkan untuk melanjutkan SMA di negeri. Aku bilang oke, asal tetap lanjut belajar Al-Qur’an dan menghafal di Al-Utsmani. Suamiku memotivasi Mas ketika masuk SMAN 14 Jakarta untuk lebih memilih menjadi Ketua Rohis agar bisa mengamalkan ilmu agamanya. Mas sewaktu SMA malah lebih asyik dengan kegiatan keorganisasiannya baik OSIS, pencak silat, dan Rohis. Ya … Gak apa-apa juga yang penting tetap fokus dengan cita-citanya kuliah di ITB.

Sewaktu ITB mengadakan Open House untuk memperkenalkan berbagai jurusan dan fakultas yang ada. Mas juga ikut hadir. Bersama teman-temannya meluncur ke Bandung. Karena acaranya selam dua hari, Mas harus menginap. Kebetulan ada hotel persis di depan Masjid Salman ITB masih tersedia kamar. Tinggal jalan kaki saat harus menuju kampus maupun ketika shalat wajib berjamaah.

Oya … Kantin di masjid Salman ITB menyediakan beragam makanan yang enak dan murah. Ini kantin favoritku loh! Siapa yang punya kenangan indah di kantin ini?

Aku coba share foto-foto bangunan dan suasana di dalam kampus ITB. Anggap saja ini pemanasan sebelum benar-benar mengikuti open house secara offline atau ini bekal sebelum ikut sesi online. Agar punya sedikit gambaran ya …

Gerbang utama ITB di Jalan Ganesha 10.

Tempat ini diberi nama ‘Plaza Widya Nusantara’ supaya kampus ini menjadi tempat anak bangsa menimba ilmu, belajar tentang sains, seni, dan teknologi; supaya kampus ini menjadi tempat bertanya, dan harus ada jawabnya; supaya kehidupan di kampus ini membentuk watak dan kepribadian; supaya lulusannya bukan saja menjadi pelopor pembangunan, tetapi juga pelopor persatuan dan kesatuan bangsa.

Masjid Salman ITB.

Pengalaman Mas Tembus ITB Tahun 2018

“Mba dewi … Anaknya keterima di ITB ya? Waaaahhhh … Kasih tahu bocorannya. Lagi pilih kampus buat anakku nih!” beberapa teman yang anaknya duduk di bangku SMA berkirim pesan ke WhatsApp. Tak jarang juga secara langsung saat kopi darat, “Mau ya … Tips dan triknya gimana tuh biar nembus ITB.” Atau ada yang bilang, “Iiihhh pasti pinter deh anaknya bisa lolos kampus ITB kan passing gradenya tinggi banget!” 

Jadi begini ya ibu-ibu he3 … Pilih kampus itu bukan orang tua yang memilih loh! Salah kaprah kalau orang tua memaksakan kehendaknya kepada anak agar kuliah di kampus tertentu atau di jurusan favorit orangtuanya. Lah! Kan yang mau belajar anaknya bukan orang tuanya. Kebanyakan sih teman-teman anakku curhat katanya, “Kesel deh! Masa harus kuliah di jurusan yang aku gak suka.” Atau ada yang ngedumel, “Masa sih aku aku harus kuliah yang bukan passionku?!” Ya … Begitulah anak-anak galau dan cemas bukan hanya karena persaingan ketat masuk Perguruan Tinggi Negeri. Tapi juga kadang terjadi perseteruan dengan orang tua karena beda pandangan terkait jurusan dan perguruan tinggi pilihannya.

Lalu … Apakah tembus atau lolos masuk ke ITB itu harus pintar? Hhhmmm … Alhamdulillah Mas, anakku kedua ini pinternya biasa aja. Walau pernah dites hasil IQ-nya 143. Tapi pernah juga dapat skor 130, malah waktu TK hasil tes IQ-nya 90 saja he3 … Menurut Psikolog bisa saja nilai IQ itu naik-turun, disebabkan kondisi sesaat. Mungkin waktu tes sedang sakit, atau sedang tak konsentrasi. Begitulah … Jadi angka IQ tidak patokan juga. Anakku pernah dapat nilai UN 10 untuk matematika. Tapi seringkali pas ulangan harian ada saja nilai matematikanya di bawah 80. 

Apakah selalu ranking satu? Tidak juga! Kebetulan di sekolah anakku tak ada ranking. Walau kadang ada urutan bocoran dari walikelasnya. Semenjak SD variasi urutan dari lima besar, sepuluh dan sering di atas urutan ke-15. Istilahku bagian ikat pinggang ha3 … Syukurlah anakku bahagia belajar, bertanggung jawab dan mandiri.

Gimana mau lanjut lagi kisah perjuangan Mas lolos SBMPTN ITB?

Mas berjumpa sepupunya yang sudah menjadi mahasiswa SBM ITB setahun sebelumnya.

Kelas 12 Mas sudah tidak lagi boleh (oleh pihak sekolah) aktif di organisasi. Jadi mulailah Mas mengikuti bimbingan belajar intensif untuk SBMPTN. Walau dapat jatah SNMPTN, tapi Mas berhitung sepertinya berat untuk lolos jalur undangan ke ITB. Belajar di sekolah itu arahnya adalah lulus UN, tapi Mas bilang Insya Allah lulus. Nah … Selama 10 bulan Mas konsentrasi untuk SBMPTN. Latihan soal bersama teman segrup, diskusi dengan pembimbingnya, plus belajar mandiri.

Mas memilih SAPPK ITB sebagai pilhan pertama dengan dua prodi yaitu : (1) Arsitektur dan (2) Perencanaan Wilayah dan Kota dulu dikenal dengan Planologi. SAPPK atau Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan mencakup tujuh disiplin profesional utama : arsitektur, perencanaan perkotaan dan regional, desain perkotaan, transportasi, studi pengembangan, perencanaan pariwisata, dan arsitektur landskap. Sekolah ini bertujuan untuk menghasilkan para profesional di lingkungan yang dibangun secara berkelanjutan yang terampil dalam penyelidikan, analisis, pemecahan masalah dan komunikasi dan termotivasi untuk berkontribusi secara signifikan terhadap kehidupan profesional dan masyarakat.

Setelah masa TPB selama dua semester. Mas sekarang kuliah di prodi PWK atau Planologi. Oya … Bedanya ITB dengan kampus lain, semua mahasiswa harus menempuh Tahap Persiapan Bersama atau TPB dengan mata kuliah Matematika, Fisika, dan Kimia serta pengetahuan umum lain seperti Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Barulah setelah itu ada tes minat bakat dan nilai IPK juga mempengaruhi penempatan di progam studi.

Tapi menurut pandanganku. Bukan hanya kerja keras dan belajar yang bisa mengantarkan Mas mendapat kampus impiannya. Ini atas rahmat. karunia dan ijin Allah Yang Maha Baik lagi Maha Pemurah. Saat Mas ujian SBMPTN, suamiku sedang dirawat pasca operasi. Mas harus tes di lokasi yang jauh dari rumah. Dia secara mandiri mencari hotel terdekat dengan lokasi ujian. Mengatur jadwal pemberangkatan, survey, dan transportasi di hari H. Ya Allah … Aku merasa sangat terharu. Justru pada detik-detik Mas menghadapi ujian aku malah tak bisa menemani dengan maksimal.

Suamiku di rumah sakit juga merasa demikian. Hampir 10 hari tak jumpa Mas. Namun … Kami yakin doa dari orang sakit, doa orang tua terutama ibu, doa kerabat, sahabat, teman-teman Mas juga guru-guru di sekolah adalah jalan keberhasilan ini. Ada yang khas di OSIS sekolah Mas, saat kakak kelas akan ujian maka adik-adik kelas memberikan secarik kertas berisi doa dan semangat. Aamiin ya Rabbal’alamin.

Kegiatan mahasiswa TPB SAPPK ITB kunjungan atau studi lapangan.

Teteh berkunjung ke kampus ITB dan Masjid Salman ditemani Mas.

Mahasiswa lain masih libur kuliah … Aktivis ini masih sibuk dalam kepanitiaan OSKM ITB tahun 2020 dan mentoring Osjur HMP, barakallah.

Alhamdulillah … Mas dan tim mahasiswa PWK-ITB mendapatkan Juara Harapan 1 pada ajang lomba: Hackaton Inovasi Sosial : Safe and Sound Cities (s2cities) tahun 2022. Barakallah …

Ide-ide kreatif dari pemuda berusia 18-24 tahun yang punya banyak solusi inovatif untuk menyelesaikan permasalahan Kota Bandung dan mewujudkan Kota Bandung yang lebih baik. Lomba ini mengusung tema besar: “Tangguh Kotaku, Bahagia Pemudaku”. Ada lima sub-tema yang diangkat: Mobilitas, Lingkungan, Kriminalitas, Platform berbicara, Isu lainnya.

Alhamdulillah … Mas dan tim meraih juara 2 dalam Lomba Essay yang diselenggaran IAP (Ikatan Ahli Perencana) Jawa Barat dengan tema Inovasi Perencanaan Wilayah dan Kota Berkelanjutan di Jawa Barat.

Baca juga artikel menarik lainnya di sini:

Hadiah Termahal Dari Seorang Anak

Standar

Bagaimana pun kondisi kita, sesusah apapun hidup kita, seburuk apapun finansial kita, jangan pernah berhenti menjadi orang baik. Jangan pernah berhenti untuk berbagi dengan apa yang kita punya, walau sekadar seulas senyum dan sebait doa.

Mengapa?

Tiada yang paling dicintai Allah selain Al-Qur’an. Maka, tiada amalan yang paling besar pahalanya kecuali amalan terkait Al-Qur’an. Kita bisa membantu aneka program terkait Al-Qur’an. Memberikan fasilitas belajar Al-Qur’an kepada anak kita juga kepada anak-anak lain yang kurang mampu.

Aku jadi ingat obrolan dengan Kaka di rumah Jatihandap saat mulai kuliah S2 di SBM ITB. Saat itu Teteh sedang ada ujian tahfizh di SMP Qur’an Al-Ihsan boarding school. Insyaallah … Target Teteh adalah hafalan Al-Qur’annya mencapai 30 juz. Lalu Kaka bertanya kepadaku, “Bu … Gimana kalau Kaka belum punya hafalan Al-Qur’an yang banyak? Bisa apa untuk mendapatkan keberkahan Al-Qur’an?”

Aku sampaikan kepada Kaka, “Tidak masalah di mana posisi kita berada. Kaka bisa menjadi pendiri pesantren Al-Qur’an, bisa sebagai donatur, sebagai pemberi gaji para pengajar Al-Qur’an, atau lainnya. ”

Kita berharap andai kita nanti sudah wafat, selama pesantrennya masih ada, selama santri masih mengaji, Allah akan mengalirkan pahalanya untuk kita sampai hari kiamat. Jadi bagian dari orang-orang terbaik yang bisa mendapatkan keberkahan Al-Qur’an di dunia dan di akhirat.

Ada pesan dari Aa Gym saat aku mengikut kajian di Pesantren Daarut Tauhid Bandung, “Ingin rumah kita diberkahi? Ingin kita semakin dekat dengan keluarga, dengan pasangan, dengan anak-anak? Cobalah untuk merutinkan halaqah Al-Qur’an di rumah, semisal setelah bada Maghrib sampai Isya, atau setelah shalat Subuh, atau waktu-waktu yang memungkinkan untuk itu.”

Beliau melanjutkan, “Apa yang dilakukan? Ada banyak. Hal minimal adalah membaca Al-Qur’an bersama-sama, atau bisa seorang demi seorang, kemudian bacalah terjemahnya. Kalau mampu baca tafsirnya. Lakukan secara rutin. Insyaallah, keberkahan Al-Quran akan hadir di rumah kita, pahala membaca dan mempelajari Al-Qur’an akan didapatkan, dan pemahaman kita kepada Kitabullah akan meningkat secara perlahan tapi pasti.”

Pada kesempatan lain aku pernah diskusi santai dengan Mas tentang bagaimana kita menjalankan ibadah sehari-hari? Kadang kita itu mudah bosan. Tidak istiqamah, bahkan malas dengan seribu alasan untuk melakukan ibadah.

Aku sampaikan pesan Teh Ninih agar ibadah tidak membosankan ada triknya. Kita layak untuk mencoba ibadah-ibadah yang belum pernah atau sangat jarang kita lakukan dan kita sanggup untuk melakukannya. Kita bisa rasakan bedanya dan bedakan rasanya.

Adapun kegiatan ibadah ini bisa kita coba jalankan, di antaranya adalah:

  • Jika kita tidak pernah tahajud atau tahajud tapi hanya sesekali, cobalah bangun untuk tahajud setiap malam. Lakukan walau hanya 2 rakaat plus 1 witir.
  • Jika kita jarang shaum sunnah, cobalah lakukan shaum Senin Kamis walau hanya sebulan sekali atau dua kali.
  • Jika ngaji kita hanya satu atau dua halaman perhati, cobalah tambah menjadi setengah atau satu juz perhari.
  • Jika kita jarang sedekah, cobalah untuk bersedekah setiap pagi walau hanya seribu dua ribu rupiah.

Oya … Aku jadi ingat pernah diskusi santai dengan Mas saat awal kuliah di SAPPK ITB tentang sedekah. Mas kan baru saat itu tidak tinggal pesantren atau di rumah, tapi indekos. Aku sampaikan pesan, “Mas … Titip ya kalau setiap hari Jumat sedekah di masjid tempat Mas shalat Jumat. Boleh juga di mana aja sih …” Malah waktu SD aku biasakan Kaka, Mas, dan Teteh untuk menyisihkan sebagian uang saku mereka di kotak amal kelas atau masjid sekolah.

Sungguh, dengan bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah kita, akan bertambah pula keberkahan hidup kita. Hati pun akan semakin lapang dan tenang. Tentu tidak mungkin Allah berbuat zalim kepada hamba-Nya seburuk dan sebanyak apapun dosa sang hamba. Maka, saat Allah menakdirkan sesuatu kepada kita, itu pasti yang terbaik, telah terukur, dan tidak mungkin salah.

Saat kita ditimpa kesusahan, itu tandanya Allah ingin kita dekat dengan Allah, ingin kita menambah dosis kesabaran dan ibadah kepada-Nya, ingin kita mengaku sebagai hamba yang lemah lagi sangat butuh kepada-Nya.

Demikian pula saat kita tengah bahagia karena limpahan karunia, itu pun pertanda bahwa Allah ingin kita menambah dosis kesyukuran kita kepada-Nya.

Maka, jangan pernah berburuk sangka kepada-Nya. Sebanyak apapun dosa kita tetaplah berbaik sangka bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa kita. Sesial apapun nasib kita tetaplah berhusnuzhan kepada Allah bahwa cepat atau lambat nasib kita akan berubah.

Sebab, kita butuh pengampunan dosa, butuh aliran pahala, butuh pula dengan surga. Dan, semua itu tidak mungkin didapatkan kecuali dengan terus berbuat kebaikan di jalan-Nya. “Tidak ada balasan atas kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS Ar-Rahmân, 55:60)

Dunia adalah tempatnya ujian.
Siapapun yang hidup di dalamnya, dia pasti akan mendapati yang namanya kesusahan, kesempitan dan ketidaknyamanan.
Ingin sesuatu yang menyenangkan, kita harus bersusah payah memperjuangkannya.

Ingin kaya harus mau bekerja keras. Ingin pintar harus berpayah-payah belajar. Ingin kuat harus berletih-letih dalam berlatih. Ingin sehat harus mau berpantang dan berobat. Bahkan, kadang kala kita sudah berusaha maksimal, akan tetapi hasil yang didapat masih jauh dari harapan.

Maka, agar tidak menderita dan berputus asa, milikilah stok kesabaran yang banyak. Dan, sulit bagi kita untuk bersabar apabila apa yang kita lakukan tidak disandarkan kepada Allah Azza wa Jalla. Maka, jadikan Allah sebagai sandaran, tujuan dan pemandu langkah agar kita lebih kuat dalam menghadapi beratnya kehidupan.

Sungguh aku tidak berharap anak-anak memberikan hadiah kepadaku. Namun dengan mereka mencintai Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Mulia, meneladani Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam, mencintai Al-Qur’an, dan senantiasa berbuat kebajikan kepada sesama itulah hadiah termahal yang sangat aku syukuri.

Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang memberkahi kalian, Kaka, Mas, dan Teteh.

Mampir membaca yuk di artikel menarik lainnya di link berikut:

Kejadian Lucu Bersama Anak-anak, Parenting Tak Selamanya Ideal

Standar

Pagi tadi aku baca artikelnya teh Restu (teman menulis di Mamah Gajah Bercerita / MaGaTa ITB) berasa de javu saat Kaka dan Mas di usia 6 dan 2 tahun. Indah kenangan dan jadi bahan obrolan seru sekarang di usia 26 dan 22 tahun.

Aku selalu teringat kejadian ketika Kaka pernah memberi bedak bayu di keyboard komputer. Tidak hanya bedak loh! Kaka oleskan juga (banyak-banyak hampir setengah botol) minyak telon. Ya ampuuunnn … Kejadian itu saat Kaka baru punya adik katanya sambil tersenyum manis sekali, “Biar wangi kayak Dimas komputernya.”

Atuuuhhhh … Mau gimana coba? Aku hanya bisa balas tersenyum kecut dan peluk Kaka, “Kamu sayang Dimas ya Ka?”

Cerita lainnya saat Mas menolong Kaka yang jatuh dari sepeda. Lutut Kaka berdarah karena lukanya cukup dalam. Seingatku Mas masih umur 3 tahun. Anak dua itu kalau sore hari senang sekali main sepeda di halaman rumah. Sayangnnya dari pagi hingga sore hujan tiada berhenti. Begitu tinggal gerimis, mereka pun dengan semangat main sepeda. Aku sudah bilang, “Main di teras ajau yuk! Lego atau menggambar?”

Hhhmmm … Mereka keukeuuuhhhh tetap main sepeda. Lantai semen ternyata licin karena ada beberapa genangan air. Jatuhlah Kaka dan Mas yang merasa bersalah tidak mengindahkan saranku jadi deh sibuk cari kapas dan betadine untuk mengobati Kaka. Ooohhh … So sweet sih.

Mau marah? Ya … Tapi tidak bisa melihat mereka tampak saling menyayangi seperti itu. Ada juga aku terharu dan mataku tetiba berkabut.

Kali lain pernah juga Kaka dan Mas itu main gulat-gulat jagoan gitu di bangku tengah mobil. Aku menyetir di jalur Pantura dari Jakarta menuju Cirebon. Seperti mereka sedang bahagia setelah pembagian rapot dan boleh berlibur di rumah Mamah. Sempat aku bercanda ke mereka, “Ka, Mas, lihat tuh di depan ada kontainer kosong. Kalau mau tarung di sana lebih luas. Pindah aja ke sana!” Eeehhh … Mereka malah cekikikan geli. Kaka bilang, “Uuuggghhh … Gak mungkin lah Ibu tega aku dan Mas naik truk itu.” “Ha3 … Ibu suka becanda…” sahut Mas sambil tertawa.

Iiihhh … Tidak berhasil meredakan aktivitas mereka yang tambah seru. Tiba-tiba Kaka menjerit, “Aduuuuhhhh …” Tapi Mas malah berdesis, “Sssttt … Jangan teriak nanti ketahuan Ibu.” Ya Allah … Aku melirik kaca spion tapi tidak jelas juga apa yang terjadi. Saat kendaraan melambat karena ada kemacetan, aku tengok ke belakang. Mulut Kaka ditutup tisu. Aku minta buka tisunya dan tampak bibir Kaka berdarah.

Aku geleng-geleng kepala. Kebetulan ada penjual air kemasan yang melintas (biasanya memang begitu di jalur Pantura kalau macet tiba-tiba saja ada tukang jualan macam-macam). Aku beli air kemasan sekaligus es batunya. Kaka ditolong Mas menempelkan air dingin dan es batu di bibir.

Alhamdulillah … Tidak berapa lama sudah tidak berdarah lagi, tapi jontooorrr geuning? Akhirnya Mas mau juga cerita tadi tuh saat bercanda gulat, bibir Kaka berdarah kena jidat Mas. Walau begitu mereka tetap tertawa-tawa.

Semoga Kaka dan Mas selalu rukun dan saling menyayangi. Selalu mendoakan walau kini sudah jarang bersama karena kesibukan kuliah dan aktivitas masing-masing.

Mampir yuk! Ada kisah menarik lainnya di link berikut:

Kemilau Embun di Pagi Hari

Standar

Masyaallah …


Mentari baru saja sepenggalahan naik. Aku diam sejenak di taman sebuah majelis ilmu. Tampak kemilau buliran bening tetes embun dan cerah bunga merekah menemaniku menikmati pagi yang indah. Dedaunan pun bagai tersenyum menyambut hangatnya sinar mentari. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman 55: 55).

Kemilau embun di pagi hari dapat kamu jadikan sebagai pendorong dan tambahan semangat sebelum menjalani hari dengan penuh keceriaan. Embun identik dengan pagi hari. Saat embun hadir, biasanya udara akan terasa sangat sejuk. Hal tersebut dapat menggambarkan banyak hal indah yang terjadi dalam kehidupan.

Embun juga tak setiap hari muncul dan dapat dirasakan sehingga kehadirannya selalu dinanti dan ditunggu-tunggu karena kesan sejuk yang dibawanya. Sama halnya dengan seseorang yang bersifat lembut nan menyejukkan hat, kehadiran embun di sekeliling juga akan selalu dinanti-nantikan. Kita bisa mengambil pelajaran dari tetesan embun. Terkadang mereka tidak terlihat, namun kita bisa merasakan kehadirannya.

Aku ingin bagai embun pagi hari, kau daun tempatku singgah. Walau kadang mentari nan hangat membuatku menghilang, namun sejatinya kita tak pernah berpisah. Embun pagi ini seperti berbisik memintaku segera berlari meninggalkan luka dan menjemput bahagia. Pagi mengajarkan kita bahwa segala sesuatu selalu diawali dengan rasa syukur dan embun adalah tanda keikhlasannya.

Biarlah embun pagi menjadi saksi betapa aku sangat bersyukur atas karunia Ilahi Rabbi, Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji. Betapa besarnya anugerah yang selama ini telah aku nikmati.

Embun di pagi hari  memang terasa sangat menyegarkan dan menyejukkan. Terlebih pancaran sinar mentari semakin membuat embun berkilau dan tampak indah di pandang. Sejumlah inspirasi terkadang muncul saat melihat indahnya bulir embun nan bening. Pagi hari menjadi waktu yang cocok untuk memulai hari dengan penuh semangat.

Sejatinya keindahan embun pagi hanya dapat kalian nikmati secara singkat sebelum mentari benar-benar beranjak tinggi. Inilah yang dapat menjadi pelajaran berharga buat kita agar memanfaatkan waktu dengan baik.

Perumpamaan Orang Yang Berinfak

Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa berfirman, “Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari rida Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah 2 : 265).

Dikatakan, bahwa yang diumpamakan dengan kebun itu adalah orang yang menafkahkan hartanya, karena dia menyadari bahwa dia telah menerima rahmat yang banyak dari Allah, maka dia bersedia untuk memberikan infak yang banyak; walaupun suatu ketika dia memperoleh rahmat yang sedikit, namun dia tetap memberikan infak.

Infak diumpamakan sebagai sebidang kebun yang mendapat siraman air hujan yang cukup, sehingga kebun itu memberikan hasil dua kali lipat dari hasil yang biasa. Andaikata hujan itu tidak lebat, maka hujan gerimis pun cukup, karena kebun tersebut terletak di dataran tinggi yang mendapatkan sinar yang cukup serta hawa yang baik, dan tanahnya pun subur.

Membelanjakan harta di jalan Allah atau berinfak, benar-benar dapat memperteguh jiwa. Sebab cinta kepada harta benda telah menjadi tabiat manusia, karena sangat cintanya kepada harta benda terasa berat baginya untuk membelanjakannya, apa lagi untuk kepentingan orang lain. Maka jika kita bersedekah misalnya, hal itu merupakan perbuatan yang dapat meneguhkan hati untuk berbuat kebaikan, serta menghilangkan pengaruh harta yang melekat pada jiwa.

Al-Qur’an benar berisi pengetahuan ilmiah yang tidak mungkin diketahui 1400 tahun yang lalu. Ini berkisar dari aritmatika dasar hingga topik paling maju dalam astrofisika. Jika tanah tidak menerima hujan maka akan menerima embun. Hari ini kita tahu bahwa embun mencapai gurun terkering di bumi. Bagaimana mungkin seorang pria buta huruf yang hidup 1400 tahun yang lalu mengetahui bahwa embun mencapai daerah yang paling kering?  

Baca juga kisah menarik lainnya di link berikut: