Gowes Di Kota Tua Jakarta Sambil Belajar Sejarah

Standar

Mentari beranjak tinggi, ketika aku sampai di Kawasan Kota Tua Jakarta. Cukup hangat dan tentu saja membuat cucuran keringat. Anakku -Teteh begitu biasa dipanggil, mendadak minta jalan-jalan di kawasan yang menjadi salah satu tujuan wisata.

Oya… Sebagai warga Jakarta yang baik … ‘cie-cie’ … kami memanfaatkan transportasi publik. Transjakarta memang asyik, nyaman, aman, murah pake banget!

Kenapa di Kota Tua dilarang mati gaya ??? … Aku tuh seneng banget bisa sepedaan keliling alun-alun yang luas banget. Sewa sepedanya hanya 20ribu rupiah untuk 30 menit. Teteh pun hobinya sama, jadilah kami berkejaran sambil tertawa riang berasa seumuran. 

Sengaja kami menyewa sepeda onthel jadul ini, agar sesuai dengan latar bangunan kolonial di kawasan kota Tua Jakarta. Gedung-gedung yang dibangun pada masa penjajahan Belanda memiliki ciri khas arsitektur dengan dinding tebal berwarna putih. Fasade dengan jendela lebar dan pintu yang tinggi menyesuaikan dengan langit-langit yang juga dibuat tinggi. Fungsinya adalah sebagai penyejuk dan sirkulasi udara yang baik. Bukankah Indonesia negara tropis yang cenderung panas ? Sedangkan masa itu belum ada AC.

Ha3 … Aslinya sih beda 37 tahun loh! Memang olahraga itu resep awet sehat dan awet muda. Coba aja kalo gak percaya … Rugi deh! Satu lagi nih … Asyiknya di Kota Tua itu buat foto-foto. Banyak spot keren yang bisa menghasilkan gambar keren. Sayangkan kalau kita malu-malu bergaya. 

Nah … Setelah puas sepedaan, lanjut berkunjung ke Museum Fatahilah -sekarang namanya Museum Sejarah Jakarta. Setelah di revitalisasi jadi bagus, bersih, tertata rapi, dan ramah anak. Betah banget Teteh memperhatikan berbagai informasi di ruangan-ruangan yang berbeda. 

Jika lapar … Bolehlah mampir di kedai Djakarte persis di depan museum. Asyik ngopi cantik di sini sambil ngobrol seru.

Bangunan historis ini sangat mendukung hobi memotret dan bergaya Teteh. Ada pintu tinggi berwarna merah yang cantik sebagai latar foto. Lantai kayu dan pigura besar juga mendukung hasil foto-foto kami. 

Macam-macam desain pintu unik di Museum Jakarta.

Di halaman dalam museum ada penjual makanan khas Betawi seperti es selendang mayang yang enak dinikmati saat cuaca semakin terik. Kerak telor yang harum dan gurih, gado-gado dan toge goreng juga tersedia. 

Halaman belakang Museum Jakarta.

Silakan mampir di artikel menarik lainnya:

2 responses »

  1. Ping-balik: Ragam Jilbabku | dewi laily purnamasari

  2. Ping-balik: Hari Sepeda Sedunia Dirayakan Pada Tanggal 3 Juni | dewi laily purnamasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s