Category Archives: ibu buku

berbagi kisah interaksi dan resensi buku favorit dunia

tanda cinta suami

Standar

Saling memberi hadiah adalah cara untuk saling mencintai. Hadiah tak perlu mahal. Aku paling suka bila diberi hadiah buku. Pun begitu suamiku ternyata paling suka memberi hadiah buku. Klop deh!

Sepulang kantor suamiku membawakan buku berjudul ‘Menuntut Ilmu : Jalan Menuju Surga’ karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Buku ini menjadi teman perjalanan liburanku kemarin ke Solo. Waktu berangkat tak sempat kubaca (karena by plane cuma satu jam). Pulang dari Solo berpuluh halaman kubaca saat naik kereta Argo Lawu (lumayan loh! sembilan jam perjalanan). Begitulah cara suamiku mengungkapkan cintanya. Bila ingin memberi nasihat (apalagi ajakan yang cukup berat dan sulit), dia sering menggunakan media buku sebagai perantara.

Seperti buku ini mengungkapkan pemikiran dan perasaannya serta keinginannya agar aku memperdalam ilmu syar’i. Sebagaimana isi buku yang terlihat di daftar isinya bahwa menuntut ilmu syar’i wajib bagi setiap muslim dan muslimah, juga memudahkan jalan menuju surga dan majelis ilmu adalah taman-taman surga. Ah … bagaimana tak bahagia bila istri diajak suami ke surga ?! Keutamaan ilmu syar’i dan mempelajarinya adalah kesaksian Allah SWT kepada orang-orang yang berilmu, diangkat derajatnya dan orang yang berilmu adalah orang-orang yang takut kepada Allah SWT.

Ilmu juga adalah nikmat yang paling agung serta kebaikan di dunia dan jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah SAW mendoakan orang yang menuntut ilmu dan setara jihad di jalan Allah SWT laksana mujahid. Pahalanya pun mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Dengan menuntut ilmu, kita akan berfikir yang baik, benar, mendapatkan pemahaman yang benar dan dapat mentadabburi ayat-ayat Allah SWT. Ilmu lebih baik dari harta, ilmu adalah imamnya amal, ilmu adalah obat bagi semua penyakit hati, ilmu lebih dibutuhkan manusia melebihi kebutuhan mereka terhadap makan dan minum, Nabi SAW menyambut orang yang menuntut ilmu syar’i dan para malaikat meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu syar’i.

Buku ini menjelaskan pula kiat-kiat meraih ilmu syar’i yaitu : mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah SWT, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan rindu untuk mendapatkannya, menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada Allah SWT, tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu, mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru, diam ketika pelajaran disampaikan, berusaha memahami ilmu syar’i yang diajarkan, mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan, mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari, dan mendakwahkan ilmu.

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besasr’. (QS. Al Ahzaab : 70-71). ‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.’ (QS. Al Baqarah : 152).

Rasulullah SAW bersabda : ‘Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim no. 2699, Ahmad II/252, Abu Dawud no.3643, At Tirmidzi no. 2646, Ibnu Majah no. 225 dan Ibnu Hibban no.78-mawaarid dari sahabat Abu Hurairah ra.

Selain buku ini, telah banyak hadiah buku dari suami untuk diriku. Tentu aku sangat berterima kasih dan bersyukur Alhamdulillah … semoga Allah SWT mencintai dan menyayangi suamiku di dunia dan di akhirat dan kelak mendapatkan surga-Nya terindah, amin …

15 Tahun Lebih Tak Punya Televisi

Standar

Gambar

 

Ternyata tak punya televisi-pun tetap baik-baik saja. Masih banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan bersama anak-anak dan pasti lebih sehat, seperti berolahraga, bersilaturahim ke rumah kerabat, juga bermain di alam terbuka.

Siapkah kita meninggalkan televisi? Aku dan suami punya pengalaman menarik : selama hampir 15 tahun tak memiliki televisi. Benda berbentuk kotak, dari ukuran layar 14 inci hingga ‘home theater’, flat atau cembung. Sahabat, televisi adalah benda kecil penuh tombol ‘remote controle’. Bayi usia setahunpun kerap menekan tombol-tombolnya. Sebab apa? Dia tahu jika tombol ditekan layar akan menampilkan gambar berpendar-pendar, suara hingar bingar,  dan orang-orang yang lebih tua darinya menjadi terpana berjam-jam.

Salahkah jika balita kita menjadi kecanduan menonton televisi? Toh, kita pula yang mengajarkan mereka kebiasaan buruk itu! Lalu apa yang harus kita lakukan? Karena kami sangat tahu program televisi 90% lebih tak layak ditonton anak-anak kami. Anak pertama lahir tahun 1996 dan anak kedua lahir tahun 2000.  “Kasian deh kamu! Ibu kamu gak gaul. Masa kamu gak punya tv”, komentar teman-teman anakku kerap disampaikan untuk merayu kami membeli televisi.

Waktu menikah aku diberi hadiah televisi oleh seorang kerabat. Namun sudah waktunya masuk gudang, maklum televisi edisi jadul mungkin ada komponen yang rusak dan aku tak mau membetulkannya ke tukang servis hi3 …

Aku dan suami berjuang menyiasati hal tersebut. Buku! Ya … Sama-sama benda kotak. Berlembar-lembar halamannya juga penuh gambar, berwarna, dengan tulisan cerita yang sangat menarik. Saat anakku belum bias membaca. Maka kamilah ‘annoucher’ layaknya pembawa berita di televisi. Kami belajar ’story telling’ dan berperan seperti aktor dan aktris sinetron. Atau kami mencari gaya terbaik agar menarik serupa tokoh-tokoh kartun Nobita, Doraemon, Naruto, Avatar, Bart Simpson, dan sebagainya.

Setelah mereka bisa membaca. Wow … Jumlah buku kami melonjak cepat, karena mereka sangat lahap menyantap berbagai bacaan yang ada. Kecepatan membacanya membuat kami harus menyediakan anggaran khusus agar dapat membeli buku-buku bagi mereka. Ini pilihan hidup! Jika anak lain pergi ke mal minta makan KFC, MC Donald, Texas, Baskin and Robin, atau mainan mobil dan robot. Anak-anak mengajak kami duduk bahkan ndeprok berjam-jam di toko buku. Lalu pulang dengan masing-masing membawa satu buku.

Nah … Cerita ini berlanjut menjadi momen yang mengharukan. Saat kami pindah ke sebuah perumahan tipe 21/72 dan bertetangga dengan keluarga-keluarga muda (anak-anak mereka usia balita / SD) anakku berkata, “Bu … kasihan deh! Masa teman-temanku gak punya buku cerita.” “Kenapa kasihan?” tanyaku. “Katanya buat makan dan bayaran sekolah aja susah. Mana bias beli buku”. Lanjut anakku. “Trus gimana dong?” tanyaku memancing ide mereka. “Buat perpustakaan aja Bu. Buku-buku kita boleh dibaca sama mereka. Gratis!” sambung mereka antusias.

Ya! Jadilah perpustakaan mungil di ruang tamu kami. Namanya ‘read’s house kindly’. Artinya rumah baca yang penuh kasih sayang. Lalu terjadilah multiplayer effect. Dulu, posyandu di lingkungan kami hanya menimbang, memberi makanan tambahan, dan imunisasi bagi balita. Kini, dua hari dalam seminggu ada kelas balita bermain sambil belajar. Daya tarik utamanya buku cerita bergambar milik anak-anakku.

Di garasi rumahku mereka lesehan bahkan tengkurap, asyik membuka buku. Sesi berikutnya baru diajak menggambar, menyanyi, menari, melipat, berhitung, menusun balok, membentuk plasitin, bertanam, bermain peran, atau berbasah-basahan dengan hujan buatan dari kran. Ibu-ibu yang mengantar tak sempat ngerumpi. Setumpuk majalah, koran, dan tabloid juga buku-buku kecil berisi informasi agama, kesehatan, dan pendidikan membuat mereka lebih tertarik untuk membaca. Jika belum selesai, buku boleh dipinjam selama satu minggu.  Paling laris tentu buku resep masakan. Aku paling senang bila di kirimi hasil uji coba mereka.

Kesimpulannya, jika kita tak punya televisi kita tak akan mati kehabisan informasi. Masih ada buku, koran, dan radio. Kalaupun perlu punya televisi bersiaplah untuk berjibaku menahan rayuan gombalnya. Sesi berita tak lebih dari 10% dari seluruh rangkaian program televisi. Jadi bersiaplah menyusun menu diet bagi keluarga kita. Agar tak mengalami obesitas kegemukan yang tak sehat akibat terlalu sembrono mengkonsumsi siaran televisi. Tentu untuk sehat perlu perjuangan. Bukankah sehat itu

Teteh asyik berburu buku.

Diet Siaran Televisi

Standar

Gambar

(mengajak anak-anak ber-diet siaran televis ternyata gampang-gampang susah. begitu besar tantangan dan beragam godaan muncul. namun dengan komunikasi efektif orangtua dapat memotivasi anak-anak untuk lebih memilih beraktifitas positif seperti membaca buku atau bermain bongkar pasang balok dibandingkan menonton siaran televisi. ditulis oleh dewi laily purnamasari)
Apakah ada yang mau terkena obesitas? Tentu tidak! Apalagi jika obesitas jenis ganas, yaitu kegemukan akibat salah mengkonsumsi siaran televisi. Siaran televisi yang mengandung lemak jahat lebih berbahaya ketimbang lemak jahat penyebab tingginya angka kolesterol. Kolesterol tinggi menyebabkan penyakit jantung koroner, darah tinggi, stoke, bahkan kematian. Maka siaran televisi bisa menyebabkan kejahatan, stress, depresi, perkelahian, pelecehan, pemerkosaan, perceraian, sirik, bunuh diri, dan masih banyak lagi akibat negatifnya.
Selama hampir lebih dari selusin tahun aku tak punya televisi.
Cerita bermula saat tahun 2008 aku, Dewi Laily Purnamasari mendapat hibah televisi 29 inci. Si kotak hitam itu membuatku 99% stress karena harus berjibaku dengan keinginan anak-anak menonton. Aku buat resep sehat ‘diet siaran televisi’. Hari sekolah tak ada konsumsi siaran televisi. Hari sabtu – minggu hanya dua jam saja. Resep ini sungguh berat dilaksanakan. Bersyukur aku didukung oleh suami. Acara nonton bareng di hari libur pun tetap diselingi dengan olahraga (karate, jalan pagi, bersepeda, renang) dan silaturahmi ke tempat famili. Televisi dibuat tidak menarik karena tanpa remote. Pesaing televisi diperbanyak yaitu buku-buku bacaan, permainan edukatif, dan kita orangtua sebagai teman ngobrol / curhat anak-anak.
Anda mau coba? (oya resep ini berlaku juga untuk game komputer, playstation, dan sejenisnya). Tentu resep ini tak begitu saja tersaji. Ada rangkaian uji coba yang lucu bila ku kenang.
“Oh … no …! Thank’s deh. Kalau bisa tv-nya dibawa saja. Jangan ditinggal di rumah ini”, kata ku memelas. Adikku menjawab, “Rumah kami yang baru kecil Teh … Rasanya kurang pas dan mungkin tv 29 ini tidak muat. He … ditinggal di sini saja yah …”
Sepenggal percakapan itu mengawali momen kepindahan keluargaku ke rumah yang sebelumnya di tinggali adikku. Aku dan suami sangat berat menerima hadiah televisi itu. Sudah terbayang akan ada ucapan ’selamat menempuh hidup baru’ … bersama si-penggoda bernama televisi!
Godaan pertama datang menghampiri suami. Dia mulai menuangkan ide untuk memiliki antena tv yang lebih ‘oke’ agar gambar lebih jelas. Lalu, sebagai arsitek, dia menata ulang letak perabot dan fungsi ruang. Ada ruang tamu merangkap ruang keluarga, merangkap pula ruang ‘audio-visual’. Nah … tv kami akhirnya ‘nongkrong’ dengan gagah di atas meja kayu dilengkapi decorder televisi berlangganan. Tak lupa sofa, bantal-bantal empuk, dan kipas angin.
Godaan kedua datang kepada anak-anak. Mereka minta jatah menonton televisi. Selama ini -ketika tak ada tv- kami hanya punya jatah menonton film dari dvd. Film pilihan beserta waktu menonton pilihan. Mereka menonton atau bermain game pilihan di komputer dua jam hari Sabtu dan Minggu. Hari sekolah komputer mati! Komputer boleh hidup untuk mengerjakan tugas sekolah. Sedangkan televisi siarannya tak selalu bisa dipilih. Begitupun waktunya. Bukan pilihan kita, bukan ? tapi televisi yang mengatur kita. Oh … apa yang harus ku lakukan ?
Godaan ketiga datang kepadaku. Beberapa kali aku harus menegur anak-anak karena di hari sekolah merajuk ingin menonton televisi. “Please Bu! Satu film saja … yah”, rayu Mas Hanif. Lalu Kaka Rusydi menambahkan, “Iya Bu, bosen nih!” Ooo … Rasanya aku ingin marah. Tahan … tenang … ambil nafas … he3 … begitulah beratnya dirayu anak-anak. Wajahku pasti terlihat jelek! Ya … aku cemberut. “Tidak!” jawab ku tegas. Kaka dan Mas balik cemberut. Muka mereka ditekuk … Ah … sore yang indah menjadi buram. Lain waktu di suatu pagi duka ku bertambah. Saat sibuk menyiapkan keberangkatan sekolah anak-anak di ruang makan. Eh … mereka asyik menonton televisi.
Aku tak mau ada godaan keempat, kelima, dan seterusnya. Ini harus dihentikan! Harus digantikan dengan suasana yang lebih baik. Di hari minggu pagi, semua sedang ceria. Aku utarakan ide untuk diet siaran televisi. Aku ajak anak-anak menyusun menu sehat. Layaknya menu sarapan dan bekal sekolah atau makan siang dan makan malam. Makanan dan minuman harus ‘halalan thoyyiban’ (halal dan baik), begitu juga dengan siaran televisi. Hanya program yang halal dan baik saja yang boleh dikonsumsi. Anak-anak ku ajak mengemukakan pendapatnya tentang manfaat dan  kejelekannya bila tak mampu menahan diri dalam menonton televisi. Mereka juga boleh mencari program yang sekiranya menurut mereka bermanfaat.
Menarik! Prosesnya mirip di gedung parlemen. Sesekali mereka protes. Bahkan Kaka dan Mas juga punya program pilihan yang berbeda. Aturan disepakati melalui proses negosiasi. Televisi boleh! Akhir pekan, Sabtu dan Minggu dua jam saja. Hari sekolah satu jam saja. Pilihan program di sepakati : sesuai usia anak dan remaja. Bila ada program berisi kekerasan, asusila, atau mengandung kata-kata buruk, Ibu boleh menghentikannya. Aku berusaha menyampaikan pemahaman bahwa : kita bersama-sama akan mengendalikan televisi, bukan televisi mengendalikan kita; televisi hanyalah salah satu sumber informasi dan hiburan; menu favorit kita tetap membaca buku.
Kini, televisi kami harus bersaing dengan dua lemari besar dan satu lemari kecil berisi koleksi buku-buku.  Dindingpun tak luput ditempel rak untuk menyimpan buku-buku anak ditambah satu rak majalah dan koran. Pagi hari, suami ku memutarkan siaran radio berisi siaran berita, ceramah agama,lantunan ayat suci Al Quran dan doa-doa. Sore hari, bila bosan datang menyerang, anak-anak memilih bermain sepeda, papan luncur, karambol, congklak, basket, catur, berlarian di taman, atau sekedar ‘ngobrol’ dengan teman-teman di teras rumah.
Oh … indahnya … aku sering tersenyum mengingat ini semua tidak datang begitu saja. Bagaimana dengan anda ?
Kindi senang membaca buku.

berkenalan dengan ibu ibu doyan nulis

Standar

(membaca, menulis, melukis, dan fotografi adalah aktifitas yang sangat mengasyikkan. selain di blog dan jejaring sosial, tulisan bisa dikirim ke media cetak dan diterbitkan sebagai buku. komunitas ibu ibu doyan nulis terus berkembang sebagai tempat berbagi inspirasi untuk terus semangat berkarya terutama dalam hal kepenulisan. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

‘Ibu … Bu …’ suara nyaring Kindi menerobos gendang telingaku. ‘Ya … ya … Ibu di sini sayang’, jawabku segera. Ada perjanjian dan kesepakatan antara aku dan anak-anak (Rusydi, Hanif, dan Kindi) bila dipanggil harus segera merespon dengan ucapan yang baik. He3 … Kali ini pun walau aku sedang ’sakaw’ menulis komentar di http://www.facebook.com/groups/ibuibudoyannulis/ IIDN Interaktif (Ibu-ibu Doyan Nulis Interaktif). ‘Ih … Ibu nih sepertinya kecanduan menulis deh!’ protes Kindi. Hah … Tahu darimana dia istilah kecanduan. Ooohhh … Aku ingat pernah mengajak Kindi ikut membaca tulisanku yang berjudul ‘Ibu-ku Kecanduan Menulis di Kompasiana’. Ha3 … Aku mengerti maksud Kindi, aku terlihat begitu asyik dan serius saat mengawal kelas diskusi online [bedahrumah].

Soal tulis menulis memang salah satu hobiku selain membaca dan fotografi. Jauh sebelum mengenal para sahabat di komunitas keren ini, aku sudah menulis opini di koran lokal dan nasional. Juga menjadi kontributor di Buletin Blakasuta dan menulis buku berjudul ‘Bukan Kota Wali’ yang terbit tahun 2006. Namun, saat dahulu itu sangatlah sepi rasanya dunia tulis menulis. Tak disangka era digital dan internet membuat khayalanku menjadi nyata.

Buku ‘Bukan Kota Wali’ yang kutulis bersama tiga sahabat, menjadi hadiah untuk Jokowi juga hadiah untuk peserta kelas diskusi online [bedahrumah] di IIDN. Tahun 1999, aku sempat berandai-andai. Para penulis (apapun genre-nya) terutama perempuan dapat saling berjumpa di dunia maya. Selusin tahun lalu aku sudah berkenalan dan akrab dengan internet karena bekerja sebagai dosen sekaligus Direktur Akademi dimana kampusku telah memiliki jaringan internet. Komputer pribadi di ruang kerjaku sudah terkoneksi dengan internet yang memungkinkan aku untuk tergabung dalam group di yahoo.com. Tapi … Tahun awal reformasi itu belum ada group penulis (atau kalau ada aku tak tahu …).

Sebelum berkenalan dengan IIDN, aku sudah aktif menulis. Namun kesenanganku menulis bertambah ketika bergabung dengan komunitas beranggotakan ibu-ibu hebat di IIDN. Akhir tahun 2012 aku mencoba menawarkan diri menjadi penanggung jawab kelas diskusi online. Sapa hangat dulu Indari Mastuti Nunu El-fasa Candra Nila Murti Dewojati Lygia Pecanduhujan Hana Sugiharti Arin- Murtiyarini.

Apa rasanya di wawancara wartawan ? Rasanya dag-dig-dug he3 … Aku diwawancara wartawan Majalah Noor terkait tema ibadah Haji. Inipun adalah akibat sampingan dari hobi menulis. Ternyata wartawan-nya tertarik dengan beberapa tulisanku tentang haji di Koran Republika.

Tulisanku tayang di Majalah Potret saat aku sudah kenal IIDN. Ternyata makin asyik nih hobiku. Inilah momen awal aku kecanduan IIDN ha3 … Kelas diskusi online [bedahrumah] ternyata diminati oleh ibu-ibu hebat di komunitas keren ini. Setiap kali di buka tak kurang dari 30 peserta aktif memberikan komentar cantik nan kreatif. Apalagi tiga minggu berturut-turut aku menyiapkan hadiah untuk masing-masing dua orang peserta dengan komentar paling keren. Wah … Benar-benar asyik diskusi online-nya. Kalau penasaran silahkan ikuti dan bersiap untuk dapat hadiah.

Tulisanku tayang di Leisure Koran Republika. Senang sekali karena ternyata teman-teman IIDN-pun langganan muncul di rubrik ini. Makin seru loh! Ibu-ibu cantik di IIDN bisa saling memberi semangat dan apresiasi. Ya … Tak mengapa bukan ? Bila kecanduan sesuatu yang positif seperti aktif di komunitas ibu-ibu asyik di IIDN. Komunitas yang telah menembus angka 6.000 anggota terus berkiprah sebagai jejaring sosial di dunia maya.

Aku yang tinggal di Jakarta, bisa dengan mudah dalam hitungan detik berinteraksi dengan ibu-ibu keren di hampir seluruh pelosok tanah air. Seperti komentar yang aku tulis ini : ‘selamat malam ibu-ibu cantik : yuk! ikutan kirim komentar kerennya tentang desain kamar anak impian, ada hadiah buku yang ditulis oleh sarah umur 13 tahun berjudul ’senyum ini selalu untukmu’ : sapa hangat dulu Ety Abdul di Palembang Reni Anggraeni di Manado Eni Suheni di Karawang Lisliana Sari di Riau Rismayani Amran di Enrekang : aku senang bisa menyapa anggota IIDN di seluruh pelosok negeri tercinta’. Sapa hangatku juga langsung klik di kolom komentar : ‘imajinasi tentang kamar anak boleh seluas hamparan bumi, setinggi langit, sedalam samudera … yang penting bisa membuatku terharu hiiiksss … : hayu ibu-ibu cantik di tunggu partisipasinya Erlina Ayu di Makasar Eka Natassa Sumantri di Medan Dwi Dira Rahmawati di Samarinda Dora Ummu Azka di Malang Asti Latifa Sofi di Batam Santi Bunda Ghifari di Yogyakarta.Sungguh aku sangat bersyukur dan senantiasa berucap Alhamdulillah … Allah Yang Maha Agung telah mengilhami lahirnya Facebook dengan fasilitas grup. Jadilah IIDN yang bisa membuatku berkenalan dengan ibu-ibu penuh semangat di berbagai negara dari ibu-ibu hebat Azmi Bil Hamasah di Selangor Malaysia Erna Wati Aziz di Canberra Australia Alice Dewanti di Riyadh Saudi Arabia Lina Herlina di Bandar Sri Begawan Brunai Darussalam Irawati Prillia di Nordrhein-Westfalen Jerman Septin Puji Astuti di Birmingham Inggris Hening Sawitri di Singapura Ellen Widyasari di Singapura Nurisma Fira di Nottingham Inggris Hana Sugiharti di Ruwais UEA.

Persahabatan bagai kepompong … Merubah ulat menjadi kupu-kupu. Aku didapuk menjadi narasumber sebuah seminar pengasuhan di Bogor ternyata ada panitia Nur Asiyah Rofi yang menjadi anggota di IIDN. Senangnya bisa berbagi ilmu dan pengalaman dan tentu saja silaturahim dan saling memberi semangat untuk aktif menulis.

Aku menjadi peserta konferensi internasional ‘The Knowledge Sector’ yang diselenggarakan oleh AusAid di Jakarta. Ternyata salah satu poin penting dari sektor pengetahuan adalah kemampuan menulis dari sebuah bangsa sebagai ukuran keberhasilan pendidikan.

Alhamdulillah di tanggal cantik 12 Desember 2012, aku menjadi finalis Ibu Teladan versi Majalah Noor. Hatiku bertambah bahagia ternyata acara puncak menjadi ajang silaturahim dari banyak anggota IIDN. Ada Wylvera Windayana senang bisa ketemuan juga dengan Helvy Tiana Rosa (HTR) Mira Sahid Irma Susanti dan Tias Tatanka.

perang melawan internet

Standar

Gambar

(buku wikinomics ditulis oleh don tapscott menginspirasi untuk terus melangkah maju dalam era digital. kemajuan di bidang teknologi, ekonomi, bisnis, industri kreatif, pendidikan, dan bidang kehidupan lainnya adalah sisi baik dari era wikinomic. ditulis oleh dewi laily purnamasari)

Setelah selama lima hari merasakan kembali hidup tanpa internet (dan ternyata baik-baik saja he3 …). Tepat tanggal 1 April 2013, aku melahirkan satu blog baru di https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/. Bukan karena kecewa dengan blog keroyokan  http://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/, namun lebih dimotivasi oleh anak sulung ku yang lebih awal sebulan membangun blog di http://ibrahimrusydi.blogspot.com/. Migrasi lebih dari 300 tulisan di kompasiana menuju wordpress ternyata cukup melelahkan namun penuh keasyikan (plus ada sensasi gairah tersendiri hi3 …).

Hari ini Rabu adalah waktu khusus untuk membaca buku. Setelah mengaduk-aduk tumpukan buku aku pilih buku bersampul putih dengan nuansa biru dan perak. Judulnya singkat saja ‘wikinomic’ : kolaborasi global berbasis web bagi bisnis masa depan, ditulis oleh Don Tapscott penulis buku laris ‘the digital economy. BIP kelompok Gramedia menerbitkannya pada tahun 2008.

Cara membacaku kadang tak biasa. Selain judul dan biografi penulis, aku sangat senang melihat daftar isi lalu memilih bab atau judul bahkan sub tema yang paling menarik (tentu menurut penilaianku loh …). Kali ini aku pilih justru halaman 343 dengan sub tema ’sisi gelap wikinomics’. Don melihat kecenderungan demokratisasi internet sebagai kekuatan positif yang memperluas akses ke pengetahuan, kekuatan, dan peluang ekonomi. Sedangkan kritik melihatnya sebagai penipisan budaya, musuh keahlian, serta penghancur kekayaan dan kemakmuran.

Scott Hervey, seorang veteran pengacara hiburan menyatakan, ‘mereka ingin dapat menikmati konten tanpa iklan, mereka tertarik menemukan musisi baru yang tidak ditekan oleh perusahaan rekaman besar, dan mereka menikamati melihat rekan sebaya mereka. mereka memiliki cita rasa yang berbeda atas hiburan. ini adalah hit and bites yang jauh lebih sedikit’. Dan pernyataan Scott adalah mewakili aku yang sangat merasa terganggu ketika menonton televisi alih-alih menyaksikan berita terkini, malah dijejali oleh iklan … iklan … dan iklan. Ketika ingin menikmati lagu ternyata diselingi dengan iklan .. iklan … dan iklan.

Satu lagi nih … Veteran komentator teknologi Victor Keegan menyampaikan pemikirannya, ‘kita kini hidup di era digital dengan ketersediaan instan dan murah, remiks, dan kreativitas massal, dengan peningkatan jumlah kreator yang siap memberikan layanan dengan gratis (seperti yang banyak dilakukan oleh gerakan opensource). kita memerlukan regulasi baru untuk sebuah era baru, sebelum kita menyerah pada permintaan produsen saat mereka berusaha menempatkan peraturan kejam menjelang kedatangan penembak ke dunia lama. ekonomi kreatif sangat penting. tetapi cara memupuknya adalah dengan mengikuti angin revolusi informasi dan bukan keinginan korporasi yang sudah eksis untuk melindungi model bisnis yang sudah dijungkirbalikkan oleh revolusi yang berlangsung di hampir tiap industri kreatif’. Wah … Sangat setuju dengan Keegan. Itulah sebabnya aku membuat blog juga menulis catatan di jejaring sosial dan menjadi ‘guru’ kelas diskusi online di sebuah komunitas ibu ibu doyan nulis, juga mendirikan komunitas ibu ibu anti korupsi.

Pengetahuan yang aku sampaikan di ‘dunia maya’ adalah gratis. Walau untuk menuliskan satu paragraf ternyata butuh membaca satu atau lebih buku, harus jalan-jalan dulu menyerap suasana lingkungan, bisa juga satu tulisan adalah hasil kerja tiga hari dalam program workshop. Satu saja yang belum aku lakukan : mengunggah rekaman video ke youtube. Gambar atau hasil jepret kamera sudah bertebaran di blog dan jejaring sosial. Tak salah jika menyangkut internet, Hollywood dan banyak perusahaan telekomunikasi tetap bersaudara (loh … kok bisa ?). Mereka menghadapi dilema inovator dan mereka melihat internet sebagai hewan buas yang perlu dijinakkan. Atau malah diperangi ?  Wow … Mungkin itu sebab aku dan ketiga anakku akhir-akhir ini sedang asyik mengunggah film lewat internet ’saja’ dan tidak pergi ke bioskop. Anak bungsu ku sangat senang menonton mickey dan minnie juga strawberry shortcake di youtube. Anak kedua ku senang membaca komik conan juga ternyata ada di situs internet.

Telekomunikasi berada dalam kondisi berantakan. Di dunia telepon internet gratis, sumber utama pendapatan mereka akan lenyap. Pendatang baru seperti skype kini mendominasi (Nah … Kalau yang ini juga aku belum mencobanya. Ha3 … Kalah dengan teman anak bungsu ku yang setiap akhir pekan selalu skype-an dengan ibu-nya yang tinggal di Amerika sedangkan dia dan adiknya tinggal di Jakarta bersama nenek-nya). Kendati jalur telepon kabel tidak akan menghilang dalam satu malam, hal ini kelak pada suatu saat akan terjadi. Aktivitas bertelepon akan gratis. Oh … Apakah aktivitas menonton televisi juga akan tanpa iklan ? Duh … Sungguh berharap.

Vint Cerf, seorang pionir internet mengingatkan, ‘dampak sosial dan keberhasilan ekonomi internet di banyak hal terkait langsung dengan karanteristik arsitektur disainnya’. William Smith, CTO di BellScouth mengusulkan skema pengenaan biaya sebagai imbalan atas pemberian prioritas lalu lintas ke salah satu vendor web ditengah lalu lintas pesaing. Skema ini berpotensi menghancurkan internet. Ancaman yang dapat memadamkan inovasi yang telah memicu berbagai bisnis baru. Ini bukan sekedar perang melawan internet. Ini perang melawan pembangunan ekonomi, perang melawan daya saing dan perang melawan inovasi dan masa depan.

Wah … Ternyata lima hari tidak ber-internet ria karena berada di luar kota tanpa alat komunikasi (hanya berbekal telepon genggam CDMA standar) tidaklah menafikan bahwa pada akhirnya publik dan teknologi akan tetap bergerak maju. Tentu saja ketiga anakku adalah ‘digital native’ yang menjadi penduduk asli di era digital ini. Aku tak akan memerangi internet ’sure I’m promise’. Justru akan menjadi internet sebagai salah satu karunia hebat dari Allah Yang Maha Agung untuk kebajikan bersama. Internet sekedar alat bukan ? Kita manusia-lah yang harus mampu memanfaatkannya untuk kemashlahatan.

Tulislah Kebenaran! Catatan Pengalaman Menulis Buku

Standar

Gambar

Penelitian tentang APBD Kota Cirebon selama hampir lima tahun dilaksanakan bersama Fahmina Institute Cirebon. Berbagai kebijakan pemerintah daerah dikritisi dan diberi masukan solusi. Hasil penelitian diterbitkan di dalam buletin Blakasuta. Kumpulan tulisan akhirnya dapat dibukukan dengan judul Bukan Kota Wali.

Ancaman akan dituntut masuk penjara pernah aku, Dewi Laily Purnamasari (beserta teman-teman) penulis buku : Bukan Kota Wali ‘Relasi Rakyat-Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota’ terima. Namun, dengan berbekal tawakal kepada Allah SWT, aku tak merasa takut dengan ancaman itu. Aku menulis kebenaran ‘bukan fitnah / kebohongan’. Bekerja sebagai peneliti dan diberi amanah sebagai wakil direktur organisasi LSM Fahmina Institute Cirebon masa bakti 2002-2004 memberiku ruang untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat Kota Cirebon.

Buku perdanaku ini memang membedah sesuatu yang masih dianggap tabu (khususnya oleh pejabat di Kota Cirebon). APBD dan beragam kebijakan Pemerintah Daerah menjadi fokus kajianku. Eko Prasetyo (Direktur Pusham UII Yogyakarta) menyatakan bahwa buku ini seperti sebuah kaca rias yang akan membuat kita tahu wajah sesungguhnya dari sistem demokrasi. Agungnya sistem ini memang seolah-olah hanya ada di atas kertas; karena kita semua tahu, realitas politik yang ada tak lagi mampu berbuat dan menymbang banyak. Rasa kemanusiaan kita seperti ditagih dengan kehadirnya buku yang secara memikat dikasih judul Bukan Kota Wali. Membaca buku ini seperti menghidupkan kembali harapan kita, bukan hanya pada sistem politik yang arif, tapi juga pemimpin politik yang budiman.

Sambutan diberikan juga oleh Danny Setiawan (Gubernur Jawa Barat), yang mengatakan rekaman peristiwa, permasalahan, pendapat, kritik, dan tuntutan masyarakat akan keadilan yang dimuat dalam buku ini pantas menjadi bahan perenungan bagi penyelenggara Pemerintah Daerah beserta seluruh stakeholders pembangunan Kota Cirebon dan penyelenggara daerah lainnya di dalam proses pemantapan kinerja.

Penerbit buku Kutub Fahmina Yogyakarta mengulas bahwa korupsi telah menjadi candu yang sekali isap maka akan terus menerus melakukan praktik kotor tanpa kapok, meskipun rakyat terlantar di pinggir-pinggir jalan, di kkolong-kolong jembatan, di rumah-rumah kardus, di bawah reklame, lampu merah, dan lain-lainnya. Gaung reformasi yang diharapkan mampu meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan rakyat tersapu watak kepicikan kaum elit. Otonomi daerah sebagai upaya pemerdayaan rakyat di daerah kentir hanyalah sebuah dongeng anak-anak menjelang tidur, dan ketika rakyat terlelap dalam buaian dongeng si kancil dan buaya, badik penguasa menikam dan mencabik-cabik harapan bangsa. Sehingga banyak masyarakat yang mengalami depresi karena tidak kuat membendung limbah elit daerah yang berperilaku bak raja-raja kecil. Buku ini akan mengungkapkan malpraktik Pemerintah Kota dalam menggerakkan roda pemerintahan. Banyak pos anggaran yang tidak sesuai dengan kontradiksi pokok masyarakat. Dan banyak kebijakan yang tidak sesuai hati nurani rakyat. (Yogyakarta, 19 Februari 2006).

Aku, dan teman-temanku (Faqihuddin Abdul Kodir, Ipah Jahrotunnasipah, dan Obeng Nur Rosyid) menyampaikan keberanian mengkritik lewat sebuah buku, karena kami pikir para pemimpin kita juga mewarisi akhlak Sahabat Abu Bakr ash-Shiddig ra, sang Khalifah pertama yang justru secara terang-terangan meminta kritik disuarakan dengan tegas dan lantang. Buku ini adalah salah satu bentuk komunikasi politik dari kami sebagai rakyat. Juga dari suara-suara rakyat yang kami rekam, selama perjalanan kami menemani mereka menyatakan pendapat, melukis harapan, mendemo keinginan dan melonglong tuntutan. Ini kritik sosial terhadap pemerintah. Kritik untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan.

Ingatlah pesan masyhur Rasulullah SAW “Kerusakan suatu kaum itu diawali ketika elit yang mencuri dibiarkan, tetapi ketika sijelata mencuri dituntut ke pengadilan. Demi Allah, jika putriku Fatimah mencuri, akan aku potong tangannya.” Menurut Thamrin Amal Tomagola, korupsi akan selalu terjadi pada orang-orang yang memiliki sumber daya strategis. Baik politik, ekonomi, maupun budaya. Karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan melakukan kontrol yang ketat. Pengawasan dari pihak yang independen, dengan sistem yang membuat orang merasa selalu diawasi dan bisa dibeberkan secara publik.

Buku Bukan Kota Wali yang kutulis berdasarkan riset selama hampir lima tahun di Kota Cirebon ingin menyempaikan pelurusan, dengan mengajak semua pihak introspeksi. Sejauh mana kebijakan sudah mementingkan rakyat banyak. Rakyat jelata, miskin, bodoh, dan mereka yang terpinggirkan. Atau rakyat kebanyakan sebagai pemberi mandat pemerintahan. Ini semua, karena ide pendirian pemerintahan adalah untuk rakyat. Bukan untuk elit, atau para pengusaha, atau tokoh-tokoh tertentu semata. Menurut kami, pemerintah yang baik adalah yang mampu menggunakan kritik rakyat sebagai dasar proses perbaikan kebijakan ke depan. Anggap saja, kami adalah para pengawas gratisan.

Aku, dan teman-temanku tidak sendirian : karena kalaupun bukan kami, kritik juga pasti akan datang dari yang lain. Aku yakin, bagi mereka yang memiliki perspektif pemihakan pada rakyat, pasti akan nyaman dengan catatan-catatan dalam buku ini. Membaca, menikmati, dan merumuskan ulang kesadaran diri. Entahlah … bila mereka yang sebaliknya ?! (Salah satu reaksi yang muncul adalah menuntut aku dan teman-teman akan dipenjarakan, Alhamdulillah … telah berlalu waktu lima tahun lebih tuntutan itu tak berwujud juga).

13589193011607036590

Buku yang ditulis Dewi Laily Purnamasari bersama tiga orang sahabatnya dari Fahmina Institute Cirebon.

Yuk! Aku bedah isi bukunya yah … Buku yang terdiri dari tigabelas bab ini mengambil beberapa judul : (1) Aura Reformasi dan Otonomi; (2) Bukan Kota Wali, Tapi Kota Udang; (3) Belajar dari APBD Gate; (4) Belanja Rakyat dan Belanja Dewan; (5) PKL : Potret Rakyat Kecil di Kota Cirebon; (6) Kebijakan Pendidikan bagi Rakyat Miskin; (7) Pendidikan dan Kesehatan; (8) Menjadi Kepala Daerah; (9) APBD dalam Perspektif Gender; (10) Kebijakan Lingkungan dan Wisata; (11) Pasar Tradisional yang Dilupakan; (12) Mengejar Pendapatan Daerah; (13) Rakyat Tidak Terlelap.

Halaman terakhir buku ini mengungkapkan bahwa hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Fahmina Institute (aku sebagai salah seorang peneliti) memberikan gambaran dan bukti rakyat memiliki mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang merasa. Terhadap seluruh kebijakan Pemerintah Daerah. Seringkali penyelenggara pemerintahan menganggap rakyat itu tidak melihat dan tidak mengerti. Survey ini bisa menjadi awal dari upaya untuk melakukan perbaikan-perbaikan ke depan. Seharusnya penyelenggara mengadakan survey sendiri. Melakukan evaluasi untuk mengetahui kinerja masing-masing anggota penyelenggara negara. Evaluasi diperlukan sebagai langkah awal untuk perbaikan dan perubahan. Jika tidak ada perbaikan yang dilakukan, tidak mau mendengar keluhan dari rakyat, sebagai pemilik kedaulatan sekaligus pengguna jasa pelayanan Pemerintah Daerah, maka sesungguhnya para pejabat itu sedang menggali lubang kehancuran mereka sendiri. Rakyat tidak buta dan tidak tuli.

Buku Membawaku Bertemu Tiga Ibu Negara

Standar

Alhamdulillah … Aku diberi kesempatan bisa bertemu Ibu Tien Soeharto saat menjadi peserta perwakilan Pramuka Kwarcab kota Cirebon dalam Raimuna dan Kanira Nasional tahun 1987 di Cibubur Jakarta. Berkesempatan diundang ke Istana Negara oleh Ibu Ainun Habibie sebagai wakil organisasi Tiara Kusuma kota Cirebon. Serta diminta bantuan sebagai konsultan manajemen oleh Ibu Sintha Abdurahman Wahid dalam menataulang organisasi Puan Amal Hayati.

Tahun 80-an saat SMA aku, dewi laily purnamasari senang sekali ikut kegiatan Pramuka. Inspirasiku tentang kegiatan di Pramuka adalah buku petualangan Lima Sekawan. Seluruh bukunya aku miliki dengan jalan menabung. aku rela kelaparan tidak ‘jajan’ di sekolah : uangnya ditabung untuk membeli buku kesayanganku seharga Rp.1.800,-.   Jabatan bergengsi (he3 … menurut ku loh!) sebagai Sekretaris DKC Kota Cirebon memberiku jalan mengikuti beragam kegiatan (lokal – regional – nasional) dan saat menjadi anggota DKD Jawa Barat bahkan aku bisa mengikuti kegiatan internasional.

Saat mengikuti kegiatan di TMII aku mendapat tugas mengawal podium (berdiri di kanan) yang akan digunakan oleh Ibu Tien Soeharto untuk berpidato. Wah … senangnya hati ini. Terlebih, acara ini disiarkan langsung di televisi (waktu itu cuma ada TVRI). Kali lain aku mejadi fotografer di acara Raimuna Kanira Nasional bertempat di Cibubur. Aku berkesempatan memotret Presiden RI Soeharto dan Ibu Negara. Hasil jepretan ku mendapat apresiasi dari para pembina Pramuka di Kota Cirebon.

Cerita lain tentang buku adalah kesukaanku membaca buku sejarah dan politik. Nah … buku-buku itu membuatku aktif menulis di media massa lokal. Tak disangka aku diajak menjadi anggota sebuah organisasi bernama Tiara Kusuma sebagai pengurus bidang pendidikan. Suatu hari aku diajak untuk mengikuti pembukaan Rapat Kerja Nasional Tiara Kusuma di Istana Negara tahun 90-an. Wow … supraise! Aku bisa berjumpa sekaligus bersalaman dengan Ibu Ainun Habibie istri Presiden BJ. Habibie.

Pengalaman menarik lainnya, karena buku pula aku bekerja sama dengan Ibu Sinta Abdurrahman Wahid. Aku diminta untuk berbagi tentang pengelolaan manajemen sebuah LSM. Beliau memiliki sebuah organisasi LSM perempuan bernama Puan Amal Hayati. Saat menjadi dosen dan direktur di APWD Cirebon, aku akrab dengan buku-buku manajemen dan agama. Aku juga aktif sebagai peneliti di LSM Fahmina Institute Cirebon. Satu penelitianku tentang APBD Kota Cirebon dan kebijakan publik yang sensitif gender telah menginspirasi lahirnya sebuah buku berjudul Bukan Kota Wali : Relasi Rakyat-Negara dalam Kebijakan Pemerintah Kota yang terbit tahun 2000-an.

Alhamdulillah … Berkat rahmat dan karunia-Nya, aku dapat bertemu dengan 3 Ibu Negara. Buku pula yang membuka jendela duniaku sehingga mampu berkarya di tengah-tengah masyarakat, menulis, dan bersilaturahim dengan berbagai kalangan.

Berjumpa Ibu Ainun Habibie di Istana Negara Jakarta tahun 1998.
Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto pada kegiatan Raimuna Kanira Nasional di Cibubur Jakarta, tahun 1987.

al quran dalam 40 bahasa dunia

Standar

Gambar

(mempelajari al quran sebagai penuntun kehidupan agar selamat di dunia dan di akhirat adalah suatu keharusan bagi setiap muslim-muslimah, atas dasar kecintaan kepada Allah Yang Maha Pemurah. ditulis oleh dewi laily purnamasari.

Berada di Madinah saat menunaikan ibadah haji tahun 2006/2007, artinya terbuka seluas-luasnya mengambil hikmah dari tempat-tempat bersejarah. Kesempatan berkunjung ke Mujamma’ Malik Fadh (percetakan mushaf Al Quran) yang berdiri tahun 1405H. Setiap tahunnya hasil terbitan Mujamma’ mencapai jutaan eksemplar, kemudian dibagikan gratis pada umat Islam. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai hadiah dari Raja Fadh.

Al Quran telah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dunia, seperti bahasa Spanyol, Thailand, Persia, Zulu, Perancis, Yunani, Jerman, Somalia, Inggris, Turki, Cina, dan Hausa. Tentu … ada juga dalam bahasa Indonesia. Aku dapat membaca Al Quran terjemah itu di dalam masjid Nabawi. Biasanya selepas shalat Subuh sambil menanti shalat Dhuha.

Terjemah Al Quran pertama yang ku baca adalah dalam bahasa Perancis. Aku, Dewi Laily Purnamasari menyempatkan diri menuliskan terjemah Surah Al Fatihah : Le Noble Coran et la traduction en langue Fransaise de sessens, Sourate Al Fatiha (prologue ou ouverture)

(1) Au nem d’Allah, le Tout Misericordieux, le Tres Misericordieux;

(2) Louange a Allah, Seigneur de l’univers;

(3) Le Tout Misericordieux, le tres Misericordieux;

(4) Maitre du Jour de la retribution;

(5) C’est Toi (Seul) que nous adorons, et c’est Toi (Seul) dont nous implorons secours;

(6) Guide-nous dans le droit chemin;

(7) Le chemin de ceux que Tu as combles de faveurs non pas de ceux qui ont en couru Ta colere, ni des egares.

Aku pun sempat menulis terjemah Surah Al Fatihah dalam basa Mandar (luar biasa : ini kan bahasa daerah ?) Karoang Mala’bi’anna Battuanna Tama di Basa Mandar Al Fatihah Pambuai :

(1) Sawa’ sangana Puang Alla Taala (Puang Iya) Masayang na Makkesayang;

(2) Inggannana pappuji di Puang Alla Taala nasangi, Puang inggannana alang;

(3) (Puang Iya) Masayang na Makkesayang;

(4) (Puang Iya) Makkuasai allo diboe’;

(5) I’omo tu’u disomba, I’o tomo diperau tulungngi;

(6) Patitoi iyami’ tangalalang malampu (maroro);

(7) Tangalalang to iya pura Mubei pappenya mang; tania (tonga lalanna) to Mucalla anna tania to’o (tangalalanna) to Mupappusa.

Subhanallah … Allah SWT pastilah Yang Maha Cerdas. Dia-lah Pencipta seluruh bahasa di muka bumi ini. Baru ku tahu ada bahasa Malawi dan Al Quran terjemahnya juga tersedia di dalam Masjid Nabawi.

Qur’an yolemekezeka yotanthau zidwa m’chichewa Malawi Surat Al Fatihah :

(1) M’dzina la Mulungu Wachifundo chambiri, Wachisoni;

(2) Kutamandidwa konse nkwa Mulungu Mbuye Wa zolengedwa zonse;

(3) Wa chifundo chambiri, Wa chisoni;

(4) M’wini tsiku lachiweruzo;

(5) Inu nokha tikukupembedzani, ndiponso. Inu nokha tikukupemphani chithandizo;

(6) Tiongolereni kunjira yoongoka;

(7) Njira ya omwe mudawapatsa chisomo; Osati ya amene adak wiyiridwa (ndi Inu) Osatinso ya omwe adasokera.

Surat Al Fatihah dalam bahasa Indonesia diterjemahkan :

(1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;

(2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam;

(3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang;

(4) Yang Menguasai hari pembalasan;

(5) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan;

(6) Tunjukilah kami jalan yang lurus;

(7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai; dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat;

Allah SWT pasti mengerti bahasa setiap hamba-Nya, siapapun dia dengan bahasa apapun : tentu … seandainya hamba-Mu juga tak mampu berucap. Bahasa qalbu – bahasa hati ini pun tentu akan Engkau mengerti, Ya Tuhan ku Yang Maha Mendengar …

Terjemah dalam bahasa Inggris (sebagai salah satu bahasa dunia) ku tuliskan juga. Oya … aku pun berburu Al Quran terjemah bahasa Inggris dan senang sekali karena dapat membeli edisi ‘built up’ terbitan Darussalam, Riyadh, karya  Dr. Muhammad Muhsin Khan dan Dr. Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali.

Surat Al Fatihah (The Opening) :

(1) In the Name of Allah, the most Gracious, the Most Merciful;

(2) All the praises and thanks be to Allah, the Lord of the ‘Alamin (mankind, jinn and all that exists);

(3) The Most Gracious, the Most Merciful;

(4) The only Owner (and the Only Ruling Judge) of the Day of Recompense;

(5) You (Alone) we worship, and You (Alone) we ask for help (for each and everything);

(6) Guide us to the Straight Way;

(7) The way of those on whom You have bestwed Your Grace, not (the way of those who earned Your Anger, nor of those who went astray.