Monthly Archives: April 2014

Museum Gula Klaten, Pabriknya Masih Hidup Sejak 1884

Standar

Liburan sekolah tak melulu nonton televisi dan main game online. Salah satu tempat menarik di Klaten Jawa Tengah yang patut dikunjungi adalah Museum Gula Gondang Winagoen. Bisa dikatakan museum hidup loh …  Sebab, pabrik gula di lokasi ini masih beroperasi sebagaimana mestinya dan pengunjung dipersilahkan melihat secara langsung proses pembuatan gula.

Ketiga anakku Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi, Muhammad Hafizh Haidar Hanif, dan Maryam Aliyya Al Kindi bersama sepupu mereka menikmati jalan-jalan asyik di museum gula.

1309860144708652177

13098605551349746873

Perjalanan dari Solo kurang lebih satu jam sampailah kami di pelataran parkir yang sejuk. Sebuah pohon beringin besar menaungi mobil kami sehingga tak kepanasan. Kami langsung berfoto di depan lokomotif yang dipajang persis di depan museum gula. Lalu kami memasuki pabrik gula untuk mengetahui proses pembuatan gula. Wah … ternyata panjang ya … dan butuh waktu agar tebu bisa menjadi gula pasir.

1309860296407783460

Setelah puas menikmati bagian dalam pabrik gula, kami menuju ruang pamer benda-benda peninggalan yang usianya sudah ratusan tahun. Tak lupa kami mampir di toko suvenir dan menikmati teh poci dengan gula ditemani pisang goreng hangat. Mmm … sedapnya …

1309860509358581127

Car Free Day Solo

Standar

Wow … di CFD Solo memang beda! Sebagai kota budaya dengan slogan keren ‘Solo the Spririt of  Java’, aku dapat menikmati tarian dan kereta kencana khas solo. Car Free Day Solo yang mengasyikan pernah di tulis oleh kompasianer Niken S (seorang wartawati) dan menginspirasiku untuk membuat jadwal liburan bertepatan dengan minggu terakhir di bulan Juni 2011. Sama seperti di Jakarta. Namun, tentu tak sama dalam rasa dan nuansa.

Rumah keluarga di Solo ada di kawasan alun-alun Selatan, tepatnya dekat soto Gading yang terkenal itu loh! Nah … dari sana anak-anak bersama ayahnya bersepeda menuju jalan Slamet Riyadi yang ditutup selama empat jam (dari pukul 06.00 – 10.00 WIB) untuk digunakan para pesepeda dan pejalan kaki.

Udara sejuk mengiringi perjalanan melintasi alun-alun yang terkenal karena ada kandang kebo bule dan kereta jenazah. Pintu gerbang keraton yang megah berwarna biru membuat suasana sepertinya kembali ke masa lalu. (eh … tengok ke kanan deh! dipojokan ada penjual nasi liwet enak dan murah sebungkus hanya Rp. 4.000,-. Duduk lesehan sebentar menikmati sarapan khas Solo agar kuat mengayuh sepeda).

Sebuah panggung di buat di Ngarsopuro untuk menampilkan beragam atraksi menarik seperti tarian, drumband anak-anak, dan lagu-lagu.

Kami beristirahat di depan Keraton Mangkunegaran. Ada sebuah hotel yang memiliki desain unik dan menarik. Trotoar di sepanjang jalan ini juga sangat lebar, bersih, dan sejuk karena ditanami pohon-pohon besar. Lebih asyik lagi kami bisa duduk santai di kursi yang lingkari batang pohon. Aku dan Kindi berboncengan sepeda menuju pasar antik (sayangnya belum buka). Halamannya yang nyaman digunakan oleh sekelompok ibu-ibu untuk melakukan senam pagi.

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi dan Maryam Aliyya Al Kindi menikmati sepeda ontel di car free day Solo.

Tontonan menarik lainnya adalah tampilnya beragam komunitas seperti pencinta reptil (ada yang bawa ular besar sekali …) ada juga komunitas pencinta anjing dan tentu sepeda ontel. Kembali ke rumah, kami melewati alun-alun Utara dan menikmati indahnya bangunan masjid Agung serta Keraton Kasunanan. Sungguh asyik CFD di Solo, tak terlupakan deh!

 

Uji Nyali di Tawangmangu

Standar

Mau mencoba bergelantungan ala ‘flyingfox’ sambil memandangi indahnya hutan pinus?! Atau bergaya keren di atas ATV sambil menghirup segarnya udara pegunungan. Nah … ikuti juga uji nyali di jembatan tali dan panjat dinding batu sambil mendengar nyanyian burung. Oya … melompatlah setinggi-tingginya di atas trampolin sambil merasakan usapan lembut angin nan sejuk. Boleh juga berkuda sambil menikmati pemandangan sawah dan kebun strawberry sepanjang jalan setapak.

13098740881009421295

Rutinitas pekerjaan di Jakarta sejenak dapat dilupakan. Berganti dengan suasana riang dan gembira. Anak-anak juga dapat bergerak bebas dan lepas. Didukung oleh peralatan outbond yang lengkap dan harga yang terjangkau. Hanif asyik bergelantungan di ‘flyingfox’ sambil berteriak girang … aaahhh … lihatlah! di latar belakang hutan pinus yang rimbun dan hijau menyejukkan mata.

13098742322137344274

Maryam Aliyya Al Kindi suka sekali melompat tinggi di atas trampolin. Mula-mula dia minta dipegangi tangannya, lama-lama keberaniaannya muncul bahkan tampak bangga dan senang dengan berbagai gaya. Melompat … hap! … hap! … Ayo … Kindi, kamu pasti bisa. Aku memberi semangat dan bertepuk tangan saat dia menunjukkan gaya kerennya. Kaos bertuliskan Solo the Spirit of Java yang dikenakan Kindi, aku beli di PGS (masih banyak koleksi kaos yang menarik dan murah loh!)

13098744581495847465

Muhammad Hafizh Haidar Hanif memilih menunggang kuda menuju perkemahan di jalan setapak sambil melihat petani berkebun strawberry. Kabut di langit hutan pinus terlihat eksotik dan menarik. Ada beberapa penjual buah strawberry dan jeruk ‘baby’ pacitan. Coba deh! beli sekotak strawberry segar … dan nikmati manisnya jeruk. Badan menjadi lebih segar loh!

1309874710649327877

Uji nyali di atas seutas tali di hutan Pinus Tawangmangu memiliki sensasi tersendiri. Walau hati deg-degan, Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi terus meniti dengan semangat sampai di ujung dan hoooreee … berhasil! Selamat ya … dilanjutkan memanjat dinding batu … mmm … hebat! Lumayan, aktifitas ini menguras keringat dan tentu saja memompa adrenalin …

1309874934523400612

Bila ingin menginap di Tawangmangu, banyak ditawarkan villa atau hotel salah satunya adalah villa Hanif persis di sebelah lokasi outbond. Ha … ha … ha … Hanif senang dan bangga berfoto di depan villa yang bernama sama dengan dirinya. Ayo! silahkan mampir dan menginap di sini …

13098752471593205544

Tawangmangu Gayatri Outbond adalah tempat yang menjadi pilihan favorit keluarga untuk berlibur.

Membidik Senyum Soeharto Dan Amien Rais

Standar

Wah… sungguh kenangan yang tak terlupakan. Saat mengikuti Raimuna dan Kanira Nasional tahun 1987  Pramuka Penegak Pandega, aku berkesempatan memotret Pak Harto dan Ibu Tien beserta Ka Kwarnas Mashudi. Jarakku dan beliau hanya sekitar satu meter.

Usiaku masih tujuhbelas tahun dan hobi memotret telah merasuki jiwaku sejak usia sepuluh tahun. Ayahku memberi kamera Kodak sebagai hadiah ulangtahun. Lalu saat masuk SMA aku mendapat hadiah kamera Fuji yang kubawa kemanapun pergi. Waktu kuliah aku menenteng kamera Nikon. Kemudian era digital datang, aku dibelikan suami kamera Canon (hilang tertinggal di toilet sebuah mal hiiiksss). Tak lama kemudian ada rezeki aku dibelikan lagi oleh suami tercinta (yang sangat mengerti hobi memotretku ini) sebuah kamera Canon. Sungguh … aku lebih suka menenteng kamera daripada HP atau BB.

Salah satu hasil jepretanku tahun 1999. Pak Amien dan Ibu Kus dengan anak pertamaku (saat usia tiga tahun) sebelum menunaikan shalat jumat di masjid Teja Suar Cirebon.

Senyum …

Ya … senyum Pak Harto dan Pak Amien di balik lensa kameraku itu membuatku menghormati mereka. Manusia tak ada yang sempurna. Pak Amien salah satu tokoh reformasi (malah disebutkan sebagai lokomotif reformasi) yang berhasil menghentikan era orde baru. Pak Harto adalah presiden terlama Republik Indonesia yang berkuasa selama hampir 32 tahun dan lengser berkat gerakan reformasi.

andai einstein ikut ujian nasional

Standar

Bisa jadi, Einstein mikir cenat-cenut … apalagi kalau diminta memikirkan beragam masalah di negeri zamrud katulistiwa ini.

Dulu … Einstein dianggap anak bodoh oleh gurunya. Beruntung, Einstein dilahirkan oleh ibunda tercinta yang tetap setia mendampingi Einstein dan tetap memberi semangat …  ‘Ayo! Einstein … kamu anak hebat, pintar, dan pasti bisa!’

Saat ini, ada orangtua rela merogoh kantong dalam-dalam (berjuta-juta rupiah) agar nilau ujian nasional anaknya di atas sembilan dengan dikatrol.  Lalu, disebuah sekolah favorit (katanya … he3 … untung aku tidak termasuk yang menganggap favorit) ada kursi yang diperjual belikan bukan didapat karena nilai ujian nasional yang memenuhi ‘passing grade’. Ada lagi … anak-anak yang diajari rumus mencontek masal (he3 … bukannya diajari rumus kejujuran).

Bukankah kejadian itu menunjukkan orangtua (juga guru dan penyelenggara pendidikan) menganggap anak-anak itu bodoh?!  Sehingga tidak percaya kepada kerja cerdas, usaha keras, semangat juang, dan pantang menyerah. Bukankah seharusnya pendidikan dan mendidik itu adalah amanah mencerdaskan bukan membodohi ?!

 

13100521951318085795

Rachmad Aziz Mucharom ayah dari tiga anak ini, bertemu Einstein di Museum Lilin Hongkong. Einstein mikir cenat-cenut … semua masalah di atas tidak ada rumusnya. Ah … beruntunglah Einstein sudah tenang di alam lain dan tidak tahu ada masalah seperti ini di sebuah negeri berlambang burung garuda.

 

Pentingnya Mengantar Anak Saat Pertama Kali Masuk Sekolah

Standar

Aku selalu mengantar ketiga anakku, Kaka, Mas dan Teteh dengan cinta saat mereka pertama mereka masuk sekolah barunya.

Pengalaman mendampingi Teteh, anakku bungsu agar merasa nyaman dengan dunia barunya. Sejatinya cinta harus menjadi landasan bagi orangtua dalam menjalankan perannya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Negara dan bangsa membutuhkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.

Kecerdasan menjadi bekal dalam memimpin menjadi khalifah di muka bumi ini yang bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan dan kehidupan alam semesta. Bukankah manusia telah diciptakan dengan cahaya cinta dari Yang Maha Pengasih dan Penyayang? Bukankah Nabi Muhammad menebarkan cinta kepada umatnya agar berakhlak mulia dan mencintai Tuhannya, sesamanya, serta alam semesta tempat hidupnya?

Pandangan tauhid terhadap tugas mencerdaskan anak dengan cinta dimulai ketika ibu dan ayah bercita-cita memiliki keturunan. Ibu mengandung selama sembilan bulan kemudian menyusui sampai genap dua tahun. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (qalbu), agar kamu bersyukur‘, (QS. An-Nahl 16 : 78). “Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut … (QS. Al-Baqarah 2 : 233).

Orangtua sebagai guru, tentu patut memahami proses menjadi cerdas bagi anak-anaknya. Proses itu bernama belajar. Belajar harus memperhatikan kecerdasan yang secara unik dimiliki oleh masing-masing anak. Cara belajar yang tepat menjadikan kecerdasan melejit lebih cepat. Cara belajar yang kurang/tidak tepat justru akan mematikan kecerdasan.

Balita (0-6 tahun) cara belajar dengan cinta dan kasih sayang.

Anak SD (7-13 tahun) berikanlah tanggung jawab.

Remaja SMP/SMA (14-19 tahun) kepercayaan adalah hal utama.

Balita dan anak sangat membutuhkan suasana belajar yang menyenangkan. Belajar harus dengan hari gembira. Maka, orangtua harus juga menyenangkan. Bukan menjadi ‘monster’ atau ‘hantu’ yang menakutkan bahkan menakuti-nakuti anak.

Contoh percakapan yang tidak bijak dan kadang orangtua merasa tidak tahu harus bagaimana? : “Belajar dong! Nanti bodoh mau jadi apa?”. Atau “Awas nanti Bu guru marah tuh! Kamu kerjakan PR-nya”.

Coba kita ganti percakapan dengan kalimat positif yang menyenangkan : “De mau jadi anak pintar kan? Bu guru dan Ibu senang loh! Kalau Ade mau mengerjakan tugasnya dengan segera.” (Ingat ya … bercakap-cakap sambil tersenyum dan nada yang mengajak. Jangan nada tinggi yah …). Bisa juga gunakan kalimat seperti ini,  “Yuk! Ibu temani belajar buat besok ulangan. Kaka kan anak shalih …” (tentu benar-benar meluangkan waktu, tidak menyetel televisi, atau membuat kegaduhan lain).

Mengasuh anak adalah sebuah kesempatan berharga dan menyenangkan, di mana kita bisa bertumbuh bersama anak-anak. Hubungan baik antara orangtua dengan anak akan memotivasi kita agar terus mendorong dan membimbing anak-anak menghadapi masa depannya. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, kita telah membuat anak kita merasa memiliki teman atau sahabat erat untuk berbagi pikiran dan menanyakan berbagai persoalan yang sulit. Ini penting! Karena kita ingin anak kita tidak lari kepada narkoba, pergaulan bebas, atau perilaku negatif lain akibat dia tidak merasa memiliki orangtua yang menjadi sahabat sejatinya.

Sekolah tempat Teteh belajar menerapkan pendekatan kecerdasan ganda (Multiple Intelegencies) :

(1) Linguistik;

(2) Matematis-Logis;

(3) Ruang-Spasial;

(4) Kinestetik-Badani;

(5) Musik;

(6) Interpersonal;

(7) Intrapersonal;

(8) Lingkungan-Naturalis;

(9) Eksistensial-Spiritual;

Anak dihargai karena memiliki keunikan masing-masing. Semua anak hebat! Dan pasti mampu belajar dengan baik asal guru dan sekolah bisa menyesuaikan dengan gaya belajar masing-masing anak.

Pentingnya peran ayah dalam proses mencerdaskan anak dengan cinta.

Mari belajar pada Ayah para Nabi seperti Nabi Ibrahim dan teladan umat Nabi Muhammad. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Lukman  alaihis salam berusaha mencedaskan anaknya dengan penuh cinta, “(Lukman berkata) : ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah Maha halus lagi Maha Mengetahui. ‘Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). ‘Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkung. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman 31 : 16-18).

Mereka para Nabi dan Rasul, tidak meninggalkan perannya sebagai Ayah, walau menyandang risalah begitu berat menyebarkan tauhid kepada umatnya. Di rumah, mereka adalah ayah yang penuh cinta, hangat, ramah, penyayang, dan mau bersama-sama ibu mendidik dan mengasuh anak-anaknya.

Hadiah Buku Sebagai Tanda Cinta dari Suami

Standar

Saling memberi hadiah adalah cara untuk saling mencintai. Hadiah tak perlu mahal. Aku paling suka bila diberi hadiah buku. Pun begitu suamiku ternyata paling suka memberi hadiah buku. Klop deh!

Sepulang kantor suamiku membawakan buku berjudul ‘Menuntut Ilmu : Jalan Menuju Surga’ karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Buku ini menjadi teman perjalanan liburanku kemarin ke Solo. Waktu berangkat tak sempat kubaca (karena by plane cuma satu jam). Pulang dari Solo berpuluh halaman kubaca saat naik kereta Argo Lawu (lumayan loh! sembilan jam perjalanan). Begitulah cara suamiku mengungkapkan cintanya. Bila ingin memberi nasihat (apalagi ajakan yang cukup berat dan sulit), dia sering menggunakan media buku sebagai perantara.

Seperti buku ini mengungkapkan pemikiran dan perasaannya serta keinginannya agar aku memperdalam ilmu syar’i. Sebagaimana isi buku yang terlihat pada daftar isinya bahwa menuntut ilmu syar’i wajib bagi setiap muslim dan muslimah, juga memudahkan jalan menuju surga dan majelis ilmu adalah taman-taman surga. Ah … bagaimana tak bahagia bila istri diajak suami ke surga? Keutamaan ilmu syar’i dan mempelajarinya adalah kesaksian Allah Yang Mahatinggi lagi Maha Terpuji kepada orang-orang yang berilmu, diangkat derajatnya dan orang yang berilmu adalah orang-orang yang takut kepada-Nya.

Ilmu juga adalah nikmat yang paling agung serta kebaikan di dunia dan jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam  mendoakan orang yang menuntut ilmu dan setara jihad di jalan Allah SWT laksana mujahid. Pahalanya pun mengalir meskipun pemiliknya telah meninggal dunia. Dengan menuntut ilmu, kita akan berfikir yang baik, benar, mendapatkan pemahaman yang benar dan dapat mentadabburi ayat-ayat Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Bijaksana. Ilmu lebih baik dari harta, ilmu adalah imamnya amal, ilmu adalah obat bagi semua penyakit hati, ilmu lebih dibutuhkan manusia melebihi kebutuhan mereka terhadap makan dan minum, Nabi Muhammad menyambut orang yang menuntut ilmu syar’i dan para malaikat meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu syar’i.

Segala puji hanya bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. ‘Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besasr’. (QS. Al Ahzaab : 70-71). ‘Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.’ (QS. Al Baqarah : 152).

Saling menguatkan dan bertumbuh menjadi hamba Allah yang bertaqwa.

Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam bersabda : ‘Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.

‘Menuntut Ilmu : Jalan Menuju Surga’ karya Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Buku ini menjelaskan pula kiat-kiat meraih ilmu syar’i yaitu : mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu, memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi Karunia, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan rindu untuk mendapatkannya, menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengan bertaqwa kepada-Nya, tidak boleh sombong dan tidak boleh malu dalam menuntut ilmu, mendengarkan baik-baik pelajaran yang disampaikan ustadz, syaikh atau guru, diam ketika pelajaran disampaikan, berusaha memahami ilmu syar’i yang diajarkan, mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan, mengamalkan ilmu syar’i yang telah dipelajari, dan mendakwahkan ilmu.

Buku Bulughur Maram.

Selain buku ini, telah banyak hadiah buku dari suami untuk diriku. Tentu aku sangat berterima kasih dan bersyukur Alhamdulillah … semoga Allah Yang Mahamulia lagi Maha Pengampun senantiasa mencintai dan menyayangi suamiku di dunia dan di akhirat dan kelak mendapatkan surga-Nya terindah, berkumpul bersama sekeluarga aamiin …

Buku Fiqhul Islam hadiah dari suamiku.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya. (Hadits shahih diriwayatkan oleh Muslim no. 2699, Ahmad II/252, Abu Dawud no.3643, At Tirmidzi no. 2646, Ibnu Majah no. 225 dan Ibnu Hibban no.78-mawaarid dari sahabat Abu Hurairah ra.

Terus belajar Al-Qur’an hingga akhir hayat.

Silakan mampir di artikel menarik lainnya:

tak merokok! keren kok!

Standar

Hari ini aku sedikit kesal dan agak marah. Loh ?! Kok bisa … Iya nih, tadi di halaman sekolah anakku Maryam Aliyya Al Kindi para supir antar jemput asyik mengobrol sambil merokok. Wah … Padahal terpampang jelas ada tulisan kawasan bebas asap rokok dengan nomor undang-undang dan peraturan daerah segala.

Sungguh! Percaya deh … Jika anda merokok hanya karena ingin dianggap keren, sudahi saja. Ah … Mungkin alasan utamanya adalah penghalau jemu. Duh … Coba ya ada kegiatan pengisi waktu untuk mereka hingga tak perlu bosan menunggu.

Bahaya rokok dari segi medis sudah banyak yang membahas. Aku coba saja memberikan gambaran betapa tidak kerennya para perokok.

Pertama : bau! Mmm … bau asap rokok membuatku mual, entah kalau oranglain ?!

Kedua : jorok! Wah … belum pernah melihat perokok bawa asbak kemana-mana, jadi abunya pasti dibuang sembarangan deh. Belum lagi puntungnnya diinjak-injak di lantai.

Ketiga : pelit! Coba saja alihkan dana pembelian rokok semisal Rp.2.000,- / hari, maka setahun terkumpul Rp.730.000,-. Bisa untuk membatu seorang anak SD yang miskin membeli seragam, tas, sepatu, dan buku baru di awal tahun ajaran. Uangnya tidak dibakar-bakar.

Sebenarnya bisa juga perokok terlihat lebih keren bila : bawa asbak atau tong sampah kemanapun dia pergi terutama saat merokok. Lalu, telan saja asapnya jangan dihembuskan kepada oranglain yang tidak mau menghirupnya. Lebih keren lagi kalau setiap membakar satu batang rokok, bakar juga uang seharga rokok itu ?! He3 … Apa tidak sayang yah ?!