Monthly Archives: Januari 2015

pantai senggigi lombok nan eksotik

Standar

Menikmati senja di pantai Senggigi Lombok berlatar lembayung yang membuat air laut begitu berkilau. Gunung Agung di Bali terlihat gagah di kejauhan.

Pantai Senggigi menawarkan sensasi tersendiri dengan bentang alam khas Indonesia Timur.

Coba nikmati foto karya Rachmad Aziz Mucharom ini, pastikan rasa syukur akan semakin menyeruak atas segala karunia keindahan alam di bumi Indonesia. Alhamdulillah … Ya Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Dia lah Yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Masjid Salman ITB Tempat Cintaku Bersemi

Standar

Semasa kuliah di Arsitektur ITB, masjid Salman adalah tempat favoritku. Selepas penat menimba ilmu di ruang kuliah dan mengasah keahlian di studio, aku paling senang bergegas ke masjid Salman. Berwudhu dengan airnya yang super sejuk. Menapak lantai kayu yang hangat. Bersujud kehadirat Illahi Rabbi yang telah memberiku karunia untuk dapat belajar di kampus tercinta.

Masjid yang diarsiteki oleh Ahmad Nu’man ini memiliki ciri khas arsitektur yang bersahaja. Ruang shalat tanpa tiang dengan atap beton tak berkubah.

Suasana masjid Salman senantiasa ramai oleh jamaah yang sebagian besar adalah mahasiswa ITB. Oya … satu lagi kesukaanku adalah makan siang di kantin Salman dengan menu enak dan murah. Pas sekali dengan kantong mahasiswa yang tipis he3 …

Aku merasa selain perlu belajar ilmu di kampus, perlu juga belajar ilmu agama yang tak di dapat di kampus tentunya. Nah … Di masjid Salman ini aku dapat belajar ilmu agama. Ada banyak kajian yang diselenggarakan oleh pengurus masjid. Alhamdulillah … Hingga kini bila berkunjung ke Bandung, aku berusaha menyempatkan diri untuk mampir di masjid Salman. Nostalgia yang indah.

Nasi Jamblang Cirebon Cermin Bhineka Tunggal Ika

Standar

Beraneka ragam lauk pauk berjejer rapi di meja penjual nasi jamblang.

Makanan khas Cirebon ini sangat terkenal sebagai kuliner paling top bersanding dengan empal gentong dan tahu getjrot. Namun, khusus nasi jamblang ada filsafat agung yang mengiringi keunikannya. Lauk pauk beraneka ragam layaknya keragaman suku, bangsa, budaya, bahasa, dan adat istiadat di negara Indonesia tercinta.

Rasanya ada yang pedas, seperti sambel goreng asli Cirebon. Manis terwakili tahu kuah kecap, asin tentu ada ikan jambal goreng yang mak nyuuusss … Selain rasa sumber makanan juga bermacam-macam, ada ikan sontong yang di goreng berlumuran hitam tintanya. Wuih … sedap nian rasanya. Ada kerang pedas, pepes teri, dan ikan jambal asin, mewakili makanan laut.  Tahu tempe goreng dan pepes tahu mewakili sumber kacang-kacangan. Telur dadar, hati sapi di bumbu kecap, daging bistik, usus ayam, paru goreng, dan otak goreng lapis telur mewakili sumber makanan hewan ternak darat. Lalu ada terong balado, pepes jamur, sambel goreng, perkedel dan sate kentang mewakili palawija.

Cara memasaknya pun berbeda-beda : ada yang digoreng, ditumis, dipepes, dikuah, dan ditanak.

Lalu, satu-satunya yang tak ada lain di negeri ini adalah nasinya itu loh! Dibungkus daun jati. Harumnya menarik selera untuk semakin semangat menyantap makanan unik ini. Sepertinya tidak cukup satu bungkus he3 sebab nasi hanya sekepalan saja. Bila sedang lapar bolehlah minta nasinya 2 atau 3 bungkus.

Jadi bhineka berarti beragam- lauk pauknya dan tunggal -satu- nasinya dibungkus daun jati serta  ika -bersatu- sedap rasanya. Mau tahu hal unik lainnya ?

Penjual nasi jamblang tidak pernah bawa kalkulator hi3 … Entah bagaimana mereka dapat menghitung dengan cepat dan tepat ?Pun berapa total harga makanan yang ada di dalam piring kita ? Sepertinya mereka dulunya jago matematika di kelasnya. 

Kejujuran juga hal yang menarik dalam kuliner nasi jamblang. Kita menyebutkan apa yang tadi kita makan bukan saat makanan itu ada. Namun setelah makanan sudah meluncur mulus lewat mulut dan sampai di lambung kita. Nah … Kalau kita lupa bagaimana ? Itulah kehebatan mereka! Percaya saja pada apa yang disebutkan oleh pembelinya.

Pembeli boleh mengambil sendiri laukpauknya, kecuali nasi jamblang yang dibungkus daun jati itu diambilkan oleh penjualnya. Aku suka kerang yang dimasak dengan cabai. Blakutak alias cumi bertinta hitam juga favoritku. Cirebon sebagai kota di tepi laut, tentu kaya dengan hasil tangkapan ikannya. Udang digoreng lalu sajikan seperti sate. Pepes rajungan juga sedap sekali rasanya. Sambel dengan cita rasa khas harus diicip, agar acara makan makin seru. 

Tempat yang terkenal adalah nasi jamblang Mang Dul di daerah Gunungsari (persis depan Grage mal), lalu di pelabuhan Cirebon (pintu masuk dekat Klenteng). Ada juga penjual nasi jamblang di pasar modern seperti Yogya Toserba. Oya … Penjual nasi jamblang masih ada loh bawamembakul keluar masuk kampung / gang.

Nasi jamblang cirebon dengan aneka lauk dan nasi yang dibungkus daun jati

Hayu mampir kuliner di Cirebon. Jangan lupa ya nasi jamblangnya. Siapkan lidah untuk menyantap beragam rasa. Temukan sensasi bineka tunggal ika didalamnya. Salam sehat dan selalu semangat.

Bertandang Ke Kota Udang

Standar

Cirebon dijuluki Kota Udang karena berasal dari kata cai-rebon atau air udang (kecil-kecil). Cirebon juga berarti Caruban atau campuran. Masyarakat Cirebon adalah masyarakat kosmopolitan dan plural, ada orang sunda, jawa, aceh, arab gujarat, cina, melayu dan sebagainya. Daerah ini terletak di Kebon Pesisir atau Tegal Alang-Alang di tepi pantai sebelah Timur Pasambangan kurang lebih 6 km dari Lemahwungkuk sekarang.

Pendiri nagari Caruban adalah Sunan Gunung Djati alias Syeh Syarif Hidayatullah. Beliau adalah salah satu ulama besar penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-14. Menurut buku Babad Cerbon Purwaka Caruban Nagari, Sunan Gunung Djati adalah cucu dari Gusti Pramu Siliwangi, putri dari Nyi Mas Rara Santang yang dipersunting Sultan Mesir. Kerajaan yang didirikan bernama Pakungwati tahun 1479 dan masjid Agung Kesepuhan Sang Cipta Rasa tahun 1480. Arsiteknya bernama Raden Sepat. Masjid bersejarah lainnya adalah masjid merah Panjunan yang dibangun oleh Syekh Abdurakhman tahun 1485.

Laksamana Cheng Ho pernah datang bersama armada Cina dan tercatat ikut menyempurnakan pembangunan pelabuhan Muara Jati. Beliau membangun mercusuar dan bengkel perbaikan perahu ukuran besar. Di sekitar Muara Jati dibangun pemukiman orang asing, gudang-gudang, dan pasar. Sedangkan pemimpin masyarakat Cina di pelabuhan Talang bernama Haji Tan Eng Hoat atau Haji Maulana Ifdil Hanafi penganut mazhab Hanafi pedagang yang kaya dan berwibawa. Anaknya yang bernama putri Ong Tin dinikahkan dengan Sunan Gunung Djati.

Asimilasi dan akulturasi kebudayaan ini dapat dilihat pada bangunan khas Cina di sekitar pelabuhan Talang (pelabuhan Tanjung Mas sekarang). Perpaduan arsitektur Cina dengan arsitektur lokal pada beberapa bangunan seperti hiasan piring-piring keramik di dinding atau pagar, warna merah dan emas pada ornamen kayu dan besi, juga guci-guci besar dan antik. Gambaran tersebut dapat menjadi contoh pola hidup rukun dan saling bertoleransi. Alangkah damai dunia jika kita dapat saling menghormati sesama.

Bila bertandang ke Kota Udang, sempatkanlah mengunjungi Gua Sunyaragi. Ah … dulu gua ini sangat indah. Namun, kini terlihat agak menyeramkan tak terawat. Gua ini adalah tempat petilasan, ciri arsitektur estetik bernilai historis dengan nilai spiritual yang tinggi. Pola bangunan menyerupai awan dan batukarang, motif ini menjadi ciri khas batik yang dikenal dengan nama Mega Mendung.

Teman-teman tentu penasaran, di mana ada udang sebagai lambang Kota Cirebon. Berjalan kaki lah sepanjang Siliwangi. Gedung Balaikota yang didirikan oleh Belanda di atapnya berhiaskan ornamen empat ekor udang berwarna keemasan. Bangunan dengan fasade bergaya art deco ini sekarang digunakan sebagai kantor Walikota dan Wakil Walikota. Kurang lebih 500 m ke arah Timur terdapat pendopo yang menggunakan gaya arsitektur Jawa. Atap limas dan bahan ornamen kayu. Halaman luas beralaskan rumput dihiasi pohon-pohon beringin yang rimbun.

Berkeliling kota dengan becak lebih menarik dan asyik … Sepanjang jalan dapat dilihat berbagai bangunan dengan gaya arsitektur Barat dan Timur (lokal maupun yang dibawa oleh para pendatang dari luar). Sungguh, menjadi keunikan tersendiri. Karya arsitektur dapat menjadi cermin, bahwa kebudayaan dapat saling menyapa dengan damai dan tetap menghasilkan keindahan. Di mana ? Ya … di Kota Udang Cirebon.

Oya, ingat belilah makanan khas nya : tahu gejrot, nasi jamblang, nasi lengko, empal gentong, dan kerupuk udang. Lalu berdandalah dengan batik cerah berwarna-warni. Naik lah sedikit ke arah Kuningan. Ada pemandian air hangat alami di Sankanhurip atau di Linggarjati. Bagi para petualang boleh juga menginap di kaki gunung Ciremai di perkemahan Palutungan Cigugur. Atau naik lah ke arah Majalengka, ada pemancingan ikan dan restoran Cikalahang. Pemandangannya masih hijau alami.

Hayu ah … Insya Allah liburan semester ini aku, Dewi Laily Purnamasari sekeluarga akan mengunjungi kota Cirebon dan sekitarnya.

Silakan mampir juga di artikel menarik lainnya:

Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pesona Masjid Menara Kudus

Standar

Perjalanan panjang menyusuri jalur Gresik – Bojonegoro – Blora – Rembang -Kudus terbayar tuntas sudah. Aku sempat salah alamat ketika akan menuju Masjid Menara Kudus yang keren itu. Di alun-alun kota Kudus ada Masjid Raya ternyata bukan masjid yang ingin aku tuju. Jarak tak lebih dari 2 kilometer namun harus berputar karena jalur searah.

Tak lebih dari 15 menit sampailah aku di parkiran masjid. Berjalan kaki 50 meter menuju masjid yang didirikan oleh Sunan Kudus satu dari 9 Wali yang menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Terlihat megah. Susunan batu bata merah tampak kokoh. Di sisi kiri ada makam dan sisi kanan ada masjid lama yang di kelilingi bangunan masjid baru.

Pesona menara masjid membuat para peziarah tak henti-hentinya berpose di sekitarnya. Bahkan penjaja foto kilat pun beraksi menawarkan foto langsung jadi dengan harga tak terlalu mahal. Aku terkagum-kagum dengan teknik arsitektur menara yang hanya dilapis semacam semen tipis antar batu batanya. Atap gerbang yang mengarah ke makam pun unik dengan ornamen yang mengadaptasi lengkung-lengkung seperti ujung lunas perahu. Apakah arsitekturnya terpengaruh budaya pesisir ? Bisa jadi!

Aku sempatkan shalat tahyatul masjid dan menikmati sejuknya semilir angin di beranda sambil bersender di gerbang dari batu bata merah. Sepertinya itu adalah gerbang utama di masa lalu.

Yang menarik adalah kios-kios di sepanjang jalan menuju masjid. Kebanyakan kios itu menjajakan busana muslim seperti baju koko, kopiah, sajadah, dan kaos dengan gambar Masjid Menara Kudus atau Wali Sanga. Sayang masih ada peminta-minta yang sedikit memaksa untuk diberi sedekah.

Sejarah perkembangan agama Islam di Indonesia tak lepas dari jasa para Wali yang begitu gigih dan luwes berdakwah. Tanpa gejolak dan tak serta merta menghilangkan budaya masyarakat menjadikan jalan dakwah para Wali berkenan di hati dan diikuti oleh masyarakat dengan suka cita. Sepertinya kita harus belajar dari para Wali untuk menemukan metode yang menarik, damai, dan memikat agar Islam yang Rahmatan lil ‘alamin benar-benar tercermin dalam akhlak mulia para penganutnya, aamiin …

 
Gerbang masjid dan menaranya dibangun dengan material utama batu bata merah tanpa perekat semen.

Menara setinggi 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Tampak menarik dengan ragam hias piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Ternyata di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati, dibuat sekitar tahun 1895 M. Menilik bangunan masjid ini menunjukkan ada kaitan erat dengan kebudayaan Hindu Jawa, Bangunan terrdiri dari 3 bagian: (1) kaki, (2) badan, dan (3) puncak bangunan. Di puncak menara ini dihiasi antefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).

Menapak Jejak Sejarah Walisanga di Jalur Utara Jawa

Standar

Rute kedua 10 hari keliling pulau Jawa.

Setelah dihadiahi berita duka pasar Klewer Solo terbakar, aku juga dikejutkan berita kakak ipar masuk rumah sakit di Gresik. Jadilah liburan kali ini destinasinya bertambah sampai ke Jawa Timur. Rencana semula hanya sampai Solo lewat jalur Selatan lalu kembali ke Jakarta lewat jalur Utara.

Selanjutnya mari ikuti petualangan di jalur Utara. Aku belum pernah mencoba rute Gresik – Bojonegoro – Blora – Rembang – Kudus – Demak – Pati – lalu Pekalongan – Tegal – Cirebon.

Jadi siang sepulang dari rumah sakit, jatah suami mengemudikan mobil hingga Blora. Aku meminta untuk menginap di kota perjuangan ini. Jalan yang kami lalui sepanjang siang cukup mengesankan. Rada-rada serem juga sih … Beberapa kali bingung menentukan arah karena ternyata GPRS kami kehilangan sinyal. Selain jalannya tidak begitu mulusm hujan deras mengiringin kami sepanjang siang hingga sore. Syukurlah sesampai di Blora tepat di depan alun-alun kota, kami bisa menginap di hotel Al Madinah.

Hotel bersebelahan dengan masjid raya Blora yang unik. Malam itu suami dan Kaka shalat di masjid raya. Lalu aku dan Teteh menyusul ke alun-alun untuk menikmati wedang ronde yang hangat. Tidur kami pun menjadi nyenyak dan pagi hari badan segar kembali.

Aku meminta untuk menyupir rute Blora pagi hari hingga siang nanti entah dimana sampainya. He3 … Aku ingin menikmati rute menembus hutan jati yang sepi. Tak disangka di jalur Blora menuju Rembang kami melewati makan Ibu Kartini. Oh … Putri Bupati Jepara yang menikah dengan Bupati Rembang dan meninggal di usia muda tak lama setelah melahirkan anak pertama. Makamnya berada di hutan jati yang sepi … Semoga Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun memberi balasan indah bagi perjuangan beliau.

Alhamdulillah … Akhirnya jalur Utara pun sampai. Kami beristirahat sejenak di rest area. Fasilitasnya seperti hotel bintang. Lantainya kering, wangi, dan berinterior indah. Pantas saja toilet ini berbayar Rp. 5.000,- sekali pakai.

Aku melanjutkan duduk di belakang kemudi hingga sampai di Kudus. Masjid Menara Kudus tujuan utama kami. Eh … Malah nyasar ke masjid raya di depan alun-alun. Untung marbot masjid memberi tahu kami tak jauh dari situ Masjid Menara Kudus berada. Nah … Pesonanya melekat hingga kini, tulisannya pun sudah lebih dulu tayang di sini http://sejarah.kompasiana.com/2015/01/06/masjid-menara-kudus-tetap-mempesona-714980.html.

Rute selanjutnya suami ganti menyetir. Kami mampir shalat di Masjid Raya Demak. Di dekatnya juga ada makam para raja Kerajaan Demak. Perjalanan terus berlanjut hingga di Pekalongan. Tak ku sia-siakan untuk mampir sejenak di IBC / International Batik Centre. Pusat batik Pekalongan yang apik. Teteh antusias menyelusuri lorong-lorong IBC. Akhirnya perjuangan Teteh terbayar dengan menemukan baju cantik seharga Rp. 50.000,- dan kipas batik seharga Rp. 13.000,-.

Ah … Rasanya penat juga badan kami semua. Kepingin segera sampai di Cirebon. Mamahku sudah menanti di sana. Kangen juga dengan kuliner Cirebon yang sedap. Oya … Aku juga harus membeli selusin botol sirop Tjampolay untuk oleh-oleh teman-teman di sekolah Teteh. Di Cirebon kami menginap dua malam. Perjalanan Cirebon – Jakarta dimulai pagi hari dan aku jadi supir pertama hingga Cikampek. Suami melanjutkan jatah menempuh tol Cikampek hingga sampai dengan selamat di rumah. Alhamdulillah …

Subhanallah … Rute kami di jalur Utara menapak jejak para Wali. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Sunan Kudus, Raden Fatah di Demak juga Sunan Gunung Jati di Cirebon.

 
Masjid Agung Baitunnur di depan alun-alun Blora.
Shalat di bagian selasar Masjid Sunan Kudus.

Kaka dan Bapa di depan Masjid Agung Demak.

Sempat shalat di Masjid Agung Pekalongan.
Masjid At Taqwa Cirebon.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Keraton Kesepuhan Cirebon.
Bagian selasar Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Interior Masjid Panjunan atau Masjid Merah Cirebon.

Mampir yuk! Diartikel menarik lainnya:

Menelusuri Jalur Selatan Jawa Nan Elok

Standar

Rute pertama 10 hari keliling pulau Jawa.

Gambar berikut tidak memiliki atribut alt; nama berkasnya adalah masjidjamigresik.jpg

Liburan sekolah akhir tahun 2014 dan awal tahun 2015 sangatlah menyenangkan dan penuh kejutan. Rencana semula hanya akan berlibur di Jakarta. Namun berkah itu datang ketika ijin cuti disetujui. Jadilah aku bersama anak sulung Kaka, si bungsu Teteh, dan suami menyelusuri jalur Selatan pulau Jawa dan jalur pantai utara selama 10 hari.

Rute pertama aku didaulat menjadi supir Jakarta – Bandung via tol cipularang. Suamiku harus jadi penumpang karena ia perlu duduk manis mengerjakan tugas kantornya yang akan dibawa rapat pagi itu juga di Gedung Sate Bandung. Setelah mengantar suami ke tempat rapatnya, aku dan  Teteh ngemil dulu di restoran jadul berjudul Bancakan di seputaran Gedung Sate. Apa yang menarik di restoran Sunda ini ? Aku suka menunya yang segar serta peralatan makan dari kaleng. Perjalanan di lanjut menjemput Kaka di kos-annya. Sambil menunggu suami selesai rapat, aku beristirahat di Hotel Jatinangor.

Rumah Strawberry di jalur Garut menuju Ciamis. Bangunannya keren dan pemandangannya indah. Sawah dan bukit menjadi latar yang menyejukkan.

Hari kedua rute Bandung – Ciamis aku menyetir di tengah kepadatan arus lalu lintas. Padat merayap. Kondisi seperti ini yang dibutuhkan bukan keahlian memacu mobil, namun kesabaran. Bersyukur pemandangan sangat menawan. Pegunungan, hijau pepohonan, sawah, sungai, dan langit biru membuatku betah duduk di belakang kemudi hingga perbatasan Ciamis. Selepas makan dan shalat gantian suami yang mengendarai mobil hingga Kebumen.

 

Kami bersepakat untuk menginap bila waktu menjelang malam. Hotel Candisari menjadi pilihan. Wah … Aku sempat terkaget-kaget dengan harga kamar. Sungguh … Kamar yang aku sewa semalam Rp. 125.000,- saja. He3 … Waktu mudik lebaran aku menginap di tempat yang sama harga sewa kamarnya Rp. 400.000,-. Tidur kami cukup pulas dan selepas shalat subuh bersiap melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Kali ini aku kembali memegang kemudi hingga perbatasan Wates. Selanjutnya memasuki Kota Yogyakarta suamiku yang menyetir karena ia lebih hafal seluk beluk dalam kota.

Alhamdulillah … Aku bisa menginap di Cottage Den Nanny Resto Jl. Taman Siswa. Malam hari aku berkeliling kota Yogyakarta menikmati kemacetan di mana-mana he3 … Hujanpun menemani tiada henti membuat tidurku semakin nyenyak. Siang hari aku melanjutkan perjalanan menuju Solo dan duduk manis jadi penumpang.

Sesampai di Solo aku menginap di keluarga dan tak disangka sekitar pukul 7 malam listrik mati. Penyebabnya adalah pasar Klewer terbakar. Pagi harinya suami dan Kaka melihat lokasi musibah kebakaran dari dekat. Sedangkan aku dan Teteh berkeliling berburu makanan khas Solo naik becak. Serabi Notosuman dan nasi Liwet berhasil memuaskan rasa kangenku akan kuliner Solo yang maknyuuusssss.

Perjalanan dilanjutkan dengan rute Solo menuju Gresik. Etape pertama jatah pagi hingga sore aku nyupir. Ini pengalaman pertama rute Jawa Timur. Aku melewati kota Sragen, Ngawi dan Nganjuk. Menjelang masuk kota Surabaya barulah gantian suami yang menyetir. Kami sampai di Gresik sekitar pukul 8 malam. Lelah juga badan ini. Tak ada yang diinginkan selain segera mandi dan berbaring.

Pagi hari aku bersiap menjenguk saudara yang dirawat di Rumah Sakit Semen Gresik. Siang hari selepas makan dan shalat perjalananpun dilanjutkan untuk kembali ke Jakarta dengan rute kedua Jalur Pantai Utara. Pengalaman di jalur Selatan sangat mengesankan. Subhanallah … Sungguh betapa indah dan kaya Indonesia negeriku tercinta. Terimakasih Ya Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Kuasa.

Masjid Salman ITB di Bandung.
Masjid Agung di Keraton Surakarta.
Masjid di rest area daerah Ciamis. Rest area di perbatasan Ciamis. Masjidnya indah dan bersih. Makanannya enak dan murah. Pemandangannya cantik.

Mampir yuk! Diartikel menarik lainnya:

ibu peluklah aku : ayah rangkullah aku

Standar

Berduka cita sedalam-dalamnya. Keprihatinanku membuncah … Dadaku terasa sesak.

Berita kematian seorang anak SMP dengan jalan bunuh diri membuatku miris. Sebagai ibu tiga orang anak. Satu mahasiswa, satu siswa SMP dan satu siswi SD berita ini sungguh membuatku terpekur merenung.

Bagiku peristiwa ini kembali mengingatkan kita sebagai orangtua untuk segera instrospeksi diri. Sudahkah kita sebagai orangtua menjalankan amanah atas titipan anak dari Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Tinggi ? Sudahkah kita menjadi tempat bersandar bagi mereka saat berduka. Sudahkan kita menjadi tempat mengadu saat mereka menghadapi masalah di luar sana. Sudahkan kita menjadi tempat berbagi tawa saat mereka bahagia. Sudahkah kita menjadi tempat yang hangat bagi jiwanya yang haus kasih sayang.

Bercerminlah! Selama ini  adakah kita sebagai orangtua hanya menganggap anak-anak sebagai sosok raga. Kita hanya memberi makan-minum-pakaian dan perlengkapan jasad. Namun kita lalai … Mereka punya jiwa. Kita abai kebutuhan mereka akan panutan, suri tauladan, perhatian, dan senyuman.

Anak butuh dipeluk. Kala jiwanya terluka. Kala di luar sana begitu keras tantangan kehidupan. Belailah jiwa mereka dengan doa-doa terbaik, sirami dengan senyuman indah, dan taburi dengan cinta. Peran ibu  sebagai pendidik pertama dan utama sangatlah penting. Insya Allah anak-anak akan menjalani kebidupannya dengan bahagia.

Berbahagialah bila kita sebagai orantua tahu. Anak-anak butuh dipeluk jiwanya. Anak-anak butuh dirangkul jiwanya. Siapa yang mereka harapkan untuk itu ? Tidak lain – tidak bukan : Tentulah Ibu dan Ayah tercinta.

Remaja butuh dirangkul. Jadikan mereka sahabat. Dengarkan suara jiwa mereka. Kedekatan seorang ayah kepada anak-anak terutama anak laki-laki menjadikan mereka memiliki panutan yang berguna kelak ketika mereka dewasa.

yuk! belai harimau dan naik gajah di taman safari puncak bogor

Standar

Dimana kita bisa santai naik gajah ? Dimana kita bisa asyik belai harimau ? Yuk! Ikuti liputan perjalananku di Taman Safari Indonesia.

Wuih … Tak terkira senangnya ketiga anakku saat memasuki kawasan Taman Safari. Kaka dan Mas tak henti membidikkan kamera ke arah hewan yang berkeliaran bebas. He3 … Mungkin dibenak para hewan itu terbersit ‘iiihhh … kok ada manusia di kandangin dalam mobil ya ???’.

Gajah, anoa, zebra,  kuda, jerapah, rusa, beruang, buaya, harimau, singa, dan beragam jenis hewan lainnya membuat perjalanan berkelok dan merayap tak terasa menjemukan. Hingga tiba di parkir mobil, kami pun bergegas menuju mushola untuk menunaikan shalat. Selepas itu kami makan siang di dekat arena pertunjukkan gajah. Seru!

Teteh kepingin naik kuda mini. Harga tiketnya cukup 15.000 rupiah. Tak puas juga rupanya kalau belum naik gajah. Ayo! Siapa takut …  Akhirnya akupun jadi ikut kepingin ha3 …

Maryam Aliyya Al Kindi naik gajah.

Taman Safari sangat memanjakan para pengunjung. Tiket masuk seharga 150.000 rupiah sepadan dengan apa yang tersaji menarik di sana. Kami bisa menonton pertunjukkan burung pemangsa, seperti burung elang, burung hantu, dan burung garuda.

Atraksi menarik lainnya adalah pertunjukkan singa laut, lumba-lumba, pingun dan cowboy. Wah … Benar-benar asyik deh! Suasana di Taman Safari sangat nyaman. Udaranya sejuk. Lingkungannya bersih, pun dengan toiletnya patut diacungi jempol. Top!

Kaka, Mas, dan Teteh sangat bersemangat saat melakukan tracking di jalur hutan kecil Baby Zoo. Kami memasuki terowongan yang keren. Tak lupa foto bersama harimau. Walau sebelumnya sempat ngeri-ngeri eh … setelah dipandu pawang rasa takutpun hilang. Harimau pun dibelai-belai. Jepret!

Ibrahim Rasyid Ridho Rusydi bersama harimau sumatera.

Muhammad Hafizh Haidar Hanif bersama harimau putih.

Kenangan Indah Di Tanah Suci Bersama Suami Tercinta

Standar

Perjalanan ibadah haji adalah perjalanan spritual yang sangat menakjubkan. Perjalanan yang menggambarkan dengan gamblang betapa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana sangat menyayangi hamba-Nya. Ketundukan kepada segala perintah-Nya serta upaya menjauhi segala larangan-Nya terbayar tunai di sana. Itulah yang aku dan suami ambil hikmahnya selama hampir 40 hari berada di tanah suci : Makkah – Madinah.

Kerinduan kembali menjalankan ibadah haji senantiasa bergema dalam hati. Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Kaya hanya kepada-Mu lah hamba berharap.

Menapaki jejak Rasulullah yang berjalan kaki ketika hendak wukuf di Arafah. Rute yang kami tempuh adalah Makkah – Mina (mabit satu malam)- Arafah (wukuf) – Mudzdalifah (mabit satu malam sekaligus mengambil batu untuk jumrah) – Mina (jumrah aqabah : tahalul) – Makkah (tawaf : tahalul)  – Mina (jumrah aqabah-wustu-ula dan mabit tiga malam) – Makkah.

Sepanjang jalan menuju Mina dari Makkah terdapat banyak keran air zamzam seperti ini. Segar. Insya Allah tidak akan kehausan.

Sesampai di Mina suasana masih sepi. Karena tidak semua jamaah haji melakukan perjalanan menuju Arafah dengan berjalan kaki dan mabis satu malam dahulu di Mina. Tenda putih bagai lautan dan siap menyambut jamaah haji selepas wukuf esok hari.

Selepas shalat subuh kami bergerak menuju arah matahari terbit. Di ufuk Timur nun jauh di sana kami hendak menyungkur sujud kehadirat Illahi Rabbi. Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang dengan segala kuasa-Nya menuntun kami hingga tiba di Arafah dengan sehat dan selamat.

Arafah start here! Papan besar berwarna kuning menjadi petunjuk bahwa inilah Arafah. Laksana padang mahsyar tempat berkumpulnya jutaan manusia dari ratusan negara. Semua berkain ihrom. Tiada identitas lain yang dapat dibanggakan di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia. Begitupun kelak di akhir masa, hanya amal kebajikan dan rahmat-Nya yang dapat menghantarkan kita ke dalam surga-Nya.

Mina bagaikan kota metropolitan yang berisi jutaan manusia dari segala penjuru dunia. Selama tiga hari kami di Mina hidup berdampingan tanpa ada kerusuhan, pertengkaran, keributan, saling dendam, benci atau semacamnya. Kami adalah saudara sesama muslim. Kami terikat dalam aqidah Islam yang menjadikan kami merasa saling menyangi, saling menghormati, saling menjaga, saling menolong, dan saling menghargai. Indahnya Islam tampak di Mina dan pengalaman ini membuatku sangat terkesan. Beginilah seharusnya kami sebagai umat Islam.

Pasukan dapur umum yang selalu siaga. Mereka memasak untuk jutaan jamaah haji. Pagi – siang- malam. Bayangkan saja panci dan kualinya sebesar itu ? He3 … pastilah tenaga mereka juga sangat besar. Terimakasih kepada para petugas katering yang melayani kami selama di Mina.

Unta selalu tersenyum. Ayo! Mana senyum kita kepada sesama saudara muslim ? Jangan sampai kalah sama unta dong!

Wuih … Ada motor juga di koridor antar tenda di Mina. Tak tahan ingin bergaya.

Sejenak beristirahat di sebuah jembatan menuju Makkah dari Mina untuk melaksanakan tawaf dan tahalul.

Serasa menjelma menjadi Adam dan Hawa di dekat jabal rahmah. Semoga Allah Yang Maha Pengampun lagi Maha Lembut memberikan keberkahan kepada keluarga kami, aamiin …

Nah … Masih ada nih bis dengan model jadul begini. Keren ya!

Kami menuju Madinah setelah ibadah haji selesai. Di awal tahun (bulan Januari) suhu di sini cukup dingin. Selain menunaikan ibadah shalat di masjid Nabawi, kami di ajak untuk menikmati karunia Allah Yang Maha Pencipta lagi Maha Indah.

Berlatar kebun kurma tak afdol rasanya bila belum belanja kurma ajwa. Nabi Muhammad sangat menyukai kurma jenis ini, karena teksturnya lembut dan manisnya pas. Harganya lumayan mahal euy.

Kunjungan yang berkesan adalah di percetakan Al Quran. Hampir 40 bahasa telah menjadi terjemahan Al Quran tanpa meninggalkan sedikitpun keaslian dari bahasa Al Quran. Inilah bukti bahwa Al Quran memang mukjizat dari Allah Yang Maha Cerdas lagi Maha Suci kepada Nabi Muhammad. Al Quran adalah petunjuk kehidupan umat Islam.

Suasana masjid Nabawi yang senantiasa mengundang rindu untuk kembali datang ke sini.

Subhanallah … Di bawah atap hijau itulah Rasulullah tercinta di makamkan. Di dekatnya ada raudah tempat yang sangat diinginkan oleh jamaah haji untuk dapat shalat karena suasananya memang sangat berkesan.

Pengalaman menarik lainnya adalah bisa mengelus kepala unta, ha3 …
Wukuf di Arafah, mabit di Muzhdalifah, melempar jumrah di Mina, dan Tawaf di pelataran Ka’bah adalah sebagian dari rukun Haji. Kisah inspiratifnya aku tuliskan di sini: https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2015/09/23/wukuf-di-arafah-adalah-puncak-ibadah-haji/ semoga bermanfaat …
Kenangan saat berjalan kaki menuju Arafah. Kisah lengkapnya ada di sini: https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/05/24/berjalan-kaki-menuju-arafah-mengenang-rasulullah/
Selain rutin menjalan ibadah di Masjid Nabawi, aku juga melakukan kunjungan ke percetakan Al-Qur’an, Masjid Qishash, Masjid Quba, ketika sedang di Kota Madinah

Mampir yuk! di artikel menarik lainnya …