Gadis Tomboy dengan Kain Kebaya dan Konde

Standar

Kisah ini berawal saat lomba peringatan hari Kartini (tahun 80-an), aku masih kelas 5 SD. Gadis cilik yang tomboy harus berkain kebaya dan berkonde. Aduuuuhhhh! Aku sungguh merasa tersiksa ha3 … Jika boleh memilih aku ingin ikut lomba pidato tentang semangat Ibu Kartini mendirikan sekolah untuk perempuan. Ibu Kartini pandai menulis dan kegemarannya membaca menjadikan tulisannya sangat luar biasa. Apakah tak pantas atau tak cocok perempuan bila menjadi orator dan penulis ? Hatiku bertanya-tanya …  

Pengalaman pertama berkain kebaya dan berkonde. Hobiku membaca sejak SD.

Bisa dipastikan, aku bukan pemenang lomba lenggak-lenggok di catwalk sekolah. 

Sejak SD, aku senang sekali membaca buku. Koleksi serial Lima Sekawan sebagian besar dibeli dari uang saku yang aku kumpulkan susah payah. Lokasi favorit ku untuk membaca adalah di atas pohon mangga yang tumbuh di halaman rumahku. Mudah bagiku memanjat hingga sampai di dahan yang kokoh dan menjulur horisontal. Duduk manis sambil ongkang-ongkang kaki. Bersender ke batang pohon yang menjulang tinggi. Angin semilir dari sela dedaunan menambah asyik kegiatan membacaku.

Syukurlah aku diberi kesempatan ikut lomba cerdas cermat antar sekolah dan di TVRI. Aku bersemangat berkutat dengan buku sekolah maupun pengetahuan umum, agar memenangkan lomba cerdas cermat yang diikuti. Wali kelas memberi buku tambahan seperti ensiklopedia. 

Aku sering keperpustakaan sekolah untuk meminjam buku dan membacanya di rumah. Spesialisasi lomba cerdas cermat terus kusandang saat SMP dan SMA. Aku meraih nilai NEM SMP tertinggi ke-2 se-Kota Cirebon, bahkan berhasil menjadi juara 3 lomba Pelajar Teladan se-Kota Cirebon tingkat SMA. Saat SMA pernah berjumpa Presiden Soeharto dan didapuk menjadi ajudan Ibu Tien saat peringatan hari Pramuka di TMII.

Tak disangka suatu hari, aku harus mewakili SMA-ku mengikuti lomba Putri Citra. Berkostum wajib berkain dodot dan berkonde. Ooohhh! Hampir copot jantungku membayangkan harus berjalan terseok-seok. Hiikkkssss …

Tak habis pikir, mengapa aku terima tantangan ikut lomba itu ? Lebih tidak percaya lagi, ternyata aku bisa menang membawa dua piala sekaligus. Sebagai juara 2 dan juara intelegensia. Lalu aku dikirim ke tingkat provinsi Jawa Barat mewakili kota Cirebon. Lagi-lagi menang sebagai juara intelegensia.

Pada tahun berikutnya, kembali aku dikirim lomba mewakili kota Cirebon di tingkat provinsi. Aku dapat juara harapan pertama. Mungkin aku bisa menang bukan karena berjalan bak peragawati atau berwajah cantik sekali. Tapi aku mempesona (eeehhh ciyeee …) dewan juri karena fasih berpidato tentang keunggulan pariwisata kota Cirebon. Essay yang kutulis juga bisa membuat juri memberi poin lebih. Bisa jadi juri mendapati nilai tes IQ dan wawancara kepribadianku juga tinggi. Entahlah … ???

Saat kuliah di ITB, aku ikut lomba Putri Ideal Indonesia. Aku berhasil menjadi juara pertama. Kali ini, walau berkain kebaya dan berkonde, ada banyak tes yang berkaitan dengan keahlian dan keterampilan. Seperti penampilan seni, olahraga, kepribadian, menulis essay, wawancara, keaktifan berorganisasi, dan prestasi akademik.

Aku menang lomba busana muslimah bersama kedua adikku.

Setelah berjilbab di tahun 1990, aku tak bisa lagi ikut lomba dengan kostum terbuka. Alhamdulillah menang juara umum lomba busana muslimah se-wilayah 3 Cirebon. Dan juara 2 se- Bandung Raya. Desain busana muslimahnya aku sendiri yang membuat loh! Alhamdulillah …

Oya … Tadi cerita tentang menulis. Pengamalan masa kecil ternyata menjadi bekal masa dewasaku mengisinya dengan aktifitas positif. Artikelku tayang di koran Radar Cirebon, Pikiran Rakyat, Republika, Majalan Ummi, buletin Blakasuta. Aku menerbitkan buku berjudul Bukan Kota Wali dan menjadi penulis di Kompasiana. Bersyukur hobi menulis dan berorganisasi mengantarkanku berjumpa Ibu Ainun Habibie, Ibu Sinta Nuriyah, Bapak Anies Baswedan, Bapak Amien Rais, dan Bapak Joko Widodo. Tahun 2006 aku diminta menjadi cover majalah Noor dan menjadi finalis Tribute to Mom dalam rangka hari Ibu tahun 2012. Tugasku sebagai dosen pun harus rajin membaca dan menulis artikel ilmiah untuk terbit di jurnal. Semoga saja selalu semangat ya … Aamiin 

Komunikasi Pemasaran

Standar


Sumber IDN Times

Kita akan mulai membahas mengenai promosi dan pengembangan pasar dengan cara penyampaian pesan yang efektif, memilih pembawa pesan, dan memilih saluran komunikasi pemasaran.
Komunikasi pemasaran bertujuan memberikan informasi, mendidik, dan membujuk pasar yang ditargetkan terkait perilaku yang diinginkan.
Promosi merupakan alat yang dapat diandalkan untuk memastikan bahwa audiensi sasaran mengikuti tawaran anda. Alhasil, mereka percaya akan merasakan manfaat yang dijanjikan dan akan terinspirasi untuk bertindak. Komunikasi ini mewakili suara sebuah merek, didesain dan disampaikan untuk menggarisbawahi tawaran anda dan produk, harga, dan tempat.

Model perkembangan komunikasi pemasaran

Tiga komponen utama dalam komunikasi pemasaran :

Pesan yang baik adalah pesan yang singkat dan jelas, di dalam komunikasi yang lebih baik itu adalah yang lebih singkat.

Pemilihan pembawa pesan juga merupakan hal yang perlu dipikirkan oleh pelaku usaha, sehingga pesan yang telah diformulasikan dapat tersampaikan dengan baik. Setelah pesan dan pembawa pesan terpilih, maka langkah selanjutnya adalah memilih saluran komunikasi.

Menurut Kotler (2002) terdapat beberapa jenis saluran komunikasi dan perangkat umumnya yang dapat dipilih oleh para pelaku usaha secara individu maupun perusahaan, yaitu :

Kegiatan memilih saluran komunikasi secara umum memang mempertimbangkan banyak hal. Selain mempertimbangkan anggaran dan sumber dana untuk kegiatan tersebut, pelaku usaha juga harus mempelajari profil pasar seperti demografi, psikologi, grafik, geografik, maupun perilaku.

Tujuannya adalah untuk memilih tipe media umum, alat yang spesifik dan waktu untuk melakukan penyampaian yang tepat, sehingga para audiensi dapat melihat, tertarik, dan terpengaruhi.

Sumber PNG Wings

Bentuk ragam periklanan di Indonesia

Sumber Teks Iklan
Contoh brosur bank

Analisa brosur informasi

Contoh brosur pelayanan rumah sakit
Contoh brosur pelayanan kereta api

Analisa brosur harga

Brosur harga kuliah perguruan tinggi

Tugas Mandiri

  1. Mendatangi Bank tempat membuka rekening dengan berpartner Bersama anggota kelompok yang tidak memiliki rekening bank. Tugas mahasiswa yang mempunyai rekening adalah memprint buku tabungan. Sedangkan yang belum memiliki rekening adalah mengambil brosur tentang produk bank yang ada di meja informasi.
  2. Berswafoto di depan bank yang menunjukkan gambar tampak nama bank.
  3. Membuat review laporan hasil kunjungan, seperti nama bank, lokasi, lama pelayanan, keramahan petugas, suasana ruangan, fasilitas ruangan, jumlah petugas customer service, jumlah petugas teller, fasilitas pendukung seperti atm, penerapan prokes terkait Covid-19
  4. Perhatikan bagaimana customer service dan teller melayani konsumen. Berikan tanggapan dengan mengunakan Analisa kepuasan pelanggan.
  5. Perhatikan brosur yang telah didapat. Berikan pendapat dengan menggunakan Analisa komunikasi pemasaran.

Gadis Cilik di Atas Pohon Mangga

Standar

“Teeehhhh … Ada di mana ?’ suara Mamah terdengar dari dalam rumah.

Aku diam saja. Asyik tenggelam dalam kata, kalimat, paragraf dan halaman buku Lima Sekawan. Seru! Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy seekor anjing jinak berpetualang ke pulau harta. Ini buku pertama karya Enid Blyton yang aku beli dari menyisihkan uang saku. Bela-belin tidak beli jajanan di sekolah dan beralih mengunjungi perpustakaan agar tidak tergiur menuju kantin.

Sejak kelas lima SD, aku senang sekali membaca buku serial Lima Sekawan, koleksiku akhirnya lengkap sejumlah 21 buku, ketika aku naik kelas dua SMP. Hampir sebagian besar dibeli dari uang saku yang aku kumpulkan susah payah. Sayang saat pindah rumah, koleksiku tercecer entah di mana ? Hiiikkkssss … Tak bersisa.

‘Neng, di mana Teteh ? Sebentar lagi adzan ashar. Guru mengaji mau datang’, Mamahku meminta adikku agar mencari dimanakah gerangan aku berada.

Duuuuhhhh … Aku tetap saja tak mengubah posisi. Nangkring di atas pohon mangga depan rumah. Halaman rumah kami cukup luas dengan pohon mangga yang sudah tinggi sekali. Batangnya besar pun dahannya kokoh. Mudah bagiku untuk memanjat hingga sampai di dahan yang menjulur horisontal. Duduk manis sambil ongkang-ongkang kaki. Bersender ke batang pohon yang menjulang.

Kepalaku menunduk melihat pintu samping, sepertinya sebentar lagi adikku akan muncul dan berteriak menyuruhku turun.

‘Nah … Kan benar saja’, gumamku.

‘Teteh … Ayo turun! Dicari Mamah …’, teriak adikku dari bawah pohon.

‘Iyaaa … Bentar lagi!’ jawabku sambil membalik halaman menandai dengan kertas.

‘Iiihhhh … Teteh tuh kayak mon-mon. Suka banget sih manjat pohon,’ sahut adikku.

‘Wwweeee … Biarin. mon-can dong!’ gemas aku dibilang mon-mon.

Sedetik aku sudah merayap turun. Loncat dari ketinggian satu setengah meter. Tepat di samping adikku. Mukanya masih menyimpan kesal. Pikirnya ini kakak perempuan, tapi senang bercelana pendek dan berkaos oblong. Alas kakinya sendal jepit. Hobi manjat pohon. Sering main gundu bareng anak lelaki di sekitar rumah, menang pula. Bila bersepeda kadang beraksi dengan lepas tangan. Suka bermain layangan di lapangan bola.

Bapak dan Mamah menggendongku saat bayi. Aku diajari beladiri silat pertamakali oleh Bapak yang sudah bersabuk hitam dengan strip satu di ujung sabuk. Mamah memberi teladan kasih sayang, kelembutan, dan sifat memaafkan.

Berkelahi Melawan Si Jagoan

Adik perempuanku sangat nge-fans loh sama aku. Hi3 … Cie … cie …, kok bisa gitu ? Ceritanya sih seru tapi konyol. Adik perempuanku masih kelas tiga SD saat diganggu teman sekelasku yang terkenal usil bin jail. Balon yang capek-capek ditiup untuk praktikum IPA, tetiba dipecahkan. Ia menangis, lalu berlari mencariku di kelas. Tapi aku tak ada, karena sedang main gobag sodor di lapangan sekolah. Dia menghampiriku., masih menangis.

‘Teteh … Balon Neng dipecahin sama temen Teteh. Itu!’ telunjuknya mengarah pada temanku, yang sudah dua kali tidak naik kelas.

Temanku itu jangkung dan terkenal sering bertengkar bahkan ‘gelut’ main jotos dengan anak lainnya. Mungkin tidak naik kelas bukan hanya prestasi akademik yang parah, tapi karena perilakunya masih harus ditata ulang. Dia dijuluki si jagoan. Aku tak gentar. Maju tak gentar membela adikku.

Aku berhenti bermain, langsung menghampirinya. Eeeehhhh … Dia malah lari masuk kelas. Kau lari … Ku kejar. Macam judul film saja ‘Kejarlah Daku … Kau Kutangkap’. Berhasil aku raih kemejanya. Langkahnya terhenti. Aku paksa dia balik badan.

‘Hei … Loe kok pecahin balon adik gue ?’ seruku kesal.

‘Ooohhh … Itu adik loe!’ sahutnya ketus.

‘Gak mau tahu … Cepet beliin gantinya dan tiupin lagi!’ perintahku.

‘Ogaaaahhhhhlah …’, sambil menjulurkan lidah, meledek.

Aku marah. Aku hajar perutnya dengan jurus silat, tangan terkepal. Buk .. buk … Dua kali. Kaget diserang tiba-tiba oleh gadis cilik setinggi bahunya saja. Dia sadar dan berusaha mau menampar mukaku. Aku tangkis. Tangannya aku pelintir. Entah mengapa ? Aku punya kekuatan mendorongnya ke arah dinding. Di dekat pintu ada tongkat pramuka. Aku ambil dan aku jadikan pengunci agar dia tak bisa lolos.

Teman-teman sekelas yang melihat pertarunganku dengan yang biasa dijuluki jagoan itu terperangah. Ada yang menjerit berteriak. Ada juga yang berinisiatif bergegas ke ruang guru, memanggil walikelas.

Ramai sekali suasananya. Wali kelas melerai kami. Aku lupa apa yang dinasehatkan kepada aku panjang lebar. Tapi ada yang aku ingat sedikit, seperti jangan suka ganggu teman, perempuan juga bisa melawan, harus berani menegakkan kebenaran, jangan berkelahi. Kami diminta bersalaman dan saling memaafkan. Walau tadinya enggan mengulurkan tangan karena merasa harus membela kebenaran. Juga ingin memberi pelajaran agar temanku tidak lagi sok jagoan. Namun aku ingat pesan Mamah, orang hebat dan jagoan sejati itu harus mau meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama. Tidak boleh dendam.

Catatan kecil … Adik perempuanku sudah wafat tahun 2012 diusia 40 tahun, karena sakit kanker.

Kata Mamah, sejak kecil aku suka memanjat -teterekelan, tidak bisa diam dan banyak bergerak -pecicilan. Hhhmmm … Pantas saja banyak bekas luka di tubuhku.

Tenggelam di Kolam Ikan Hingga Kepala Bocor

Ada sebuah garis dipangkal hidungku, sejajar dengan mata. Mamah bercerita, waktu aku belajar berjalan itu gaya sekali. Tidak mau dipegang oleh siapapun. Maunya bangun dari duduk lalu berpegangan kursi atau meja. Melipir dengan semangat. Terus berkeliling ruangan sesekali jatuh terduduk. Kembali bangun … Jalan lagi sambil pegangan. Suatu kali aku berpegangan meja, tepat disudut meja aku terseok, limbung. Bukannya jatuh terduduk, malah terantuk wajahku kepinggiran meja kayu yang agak tajam. Luka deh hidung mancungku ini ha3 … Tandanya abadi hingga sekarang. Dan aku baru tahu kalau bukan hanya luka luar, ternyata tulang hidungku juga bengkok.

Waktu aku masih TK, umur lima tahun, berkunjung ke rumah nenek dari Bapak. Rumahnya besar di kaki gunung Ciremai. Di sisi kiri dan di depan rumah ada kolam ikan atau balong besar. Sumber air langsung dari mata air mengalir melalui buluh-buluh bambu berupa pancuran. Airnya bening. Sungai besar ada di balik hamparan sawah. Selokan kecil melintas dekat kolam ikan, airnya pun jernih hingga tampak bebatuan, pasir, dan kerang di dasarnya.

Iseng sekali aku melipir di tepian kolam. Licin karena berlumut. Aku tergelincir. Tercebur ke kolam dan tenggelam. Bersyukur ada pengasuhku yang sedari tadi mencari keberadaanku. Dia langsung menceburkan diri ke kolam, berenang mendekati posisi tenggelamku. Alhamdulillah … Aku selamat, walau pingsan dan harus ditunggingkan agar air yang tertelan bisa keluar (Nah … Versi gimana tepatnya proses penyelamatan itu ? Aku tidak tahu persis).

Pernah juga aku gelundung dari atas sebuah jalan meluncur ke jalan di bawahnya melalui tangga batu. Akhir pekan, aku ikut pengasuh yang diminta tolong Mamah membeli bahan makanan di warung. Ada tangga batu di dekat warung. Aku naik turun … lalu naik turun … tadinya pelan-pelan. Tambah lagi kecepatan, sedikit berlari. Dan … Terseok, lalu jatuh dan terkapar di tangga paling bawah. Kata Mamahku sih aku dibopong ke rumah tak sadarkan diri. Untung hanya luka didahi, siku, dan dengkul. Baret-baret saja.

Perihal luka, pernah kepalaku bocor, darah berceceran. Bapakku tergopoh pulang untuk menjahit bagian belakang kepalaku yang terbentur pipa besi. Kejadiannya sekejap saja sih. Sepulang sekolah TK, aku main sepeda. Berkeliling halaman rumah dan sesekali menggoda pamanku yang sedang mengisi polybag untuk bibit cengkeh. Dia sudah memperingatkan agar aku tidak mendekat. Khawatir terpeleset plastik yang berserakan.

Benar saja, aku malah turun dari sepeda dan berlari menuju tempat paman. Kakiku menginjak lembaran plastik, terjengkang ke belakang. Namun aku ingat betul kok ya langsung duduk dan berdiri lagi. Tidak sadar kalau kepalaku terluka. Paman yang melihat ada tetesan darah terlihat panik. Segera menuntunku ke dalam ruangan. Lalu Mamah menyuruhnya menyusul Bapakku di rumah sakit. Sambil menunggu, kepalaku dibebat kain oleh Tanteku yang sepertinya ikut PMR jadi bisa P3K. Sampai sekarang masih ada loh jejaknya. Kulit kepalaku pitak ha3 … Tak ada rambut tumbuh di sana.

Aku anak pertama dari lima bersaudaraa. Pengalaman masa kecil yang bahagia dan indah untuk dikenang. Fotoku saat masih TK bersama dua orang adikku. Alhamdulillah … Walau jauh di mata karena berjauhan tempat tinggal, namun selalu dekat di hati juga melekat dalam doa-doa terbaik.

Menyalurkan Energi pada Kegiatan Positif

Sepertinya Bapak dan Mamah tahu persis harus menyalurkan energiku. Jadi ketika sudah SD, aku dikirim berlibur ke rumah kakek dan nenekku.

Aku sering diajak ke kebun cengkeh oleh kakek (ayahnya Mamahku). Kebunnya ada di beberapa lokasi. Ikut memetik buah cengkeh bersama para petani. Biasanya aku dibonceng naik Vespa, juga sambil keliling kota dan kongkow dengan teman Kakek di pasar untuk transaksi hasil kebun.

Di waktu senggang, kakek mengajariku menembak dengan senapan angin. Kaleng-kaleng dijejer di atas tembok pembatas rumah kakek. Dor … dor … dor … Horeeeeeee … Aku berjingkrak-jingkrak jika ada kaleng yang terguling. Mamahku pernah melarang aku melakukan hal itu. Berbahaya katanya.

Aku juga berlibur di rumah nenek (ibunya Bapakku), agar bisa bermain di sawah dan sungai. Oya … Saat SD aku sudah pandai berenang, jadi tak takut lagi tenggelam. Ada kerabat dekat rumah nenek yang mengajakku tracking hingga perbatasan hutan pinus di kaki gunung Ciremai.

Keasyikan lain berlibur di desa adalah menemani panen sayuran. Ada buncis, kacang panjang, tomat, daun bawang, kol, dan ubi. Jika musim panen padi, seru sekali melihat dan kadang ikut memukulkan batang-batang padi agar berguguran bulir-bulirnya. Lalu dijemur di halaman rumah agar kering. Barulah setelah kering akan dibawa ke penggilingan.

Sedangkan saat hari sekolah, aku biasanya mengisi waktu luang dengan olahraga renang, sepeda, beladiri silat, bulutangkis, dan catur. Pernah menang lomba catur mengalahkan anak SMA di acara tujuhbelas Agustus. Aku juga suka melukis dan sering menang lomba lukis. Bapakku memberi hadiah kamera sejak kelas dua SD, jadilah aku hobi motret hingga sekarang.

Aku aktif di kegiatan Pramuka. Beberapa kali ikut kemping di Buperta Ragunan dan Buperta Cibubur. Aku menjadi ketua regu dan pernah dikirim mewakili sekolah lomba antar regu Penggalang. Oya … Lomba cerdas cermat beberapa kali aku ikuti, yang paling berkesan adalah lomba cepat tepat di TVRI. Serunya bisa masuk televisi.

Kesenangan lainnya adalah membaca buku. Tempat favorit untuk membaca buku itu adalah di atas pohon mangga he3 …

Belajar tampil di depan umum dengan menyanyi atau berpidato diajarkan oleh nenek (dari Mamahku) yang seorang guru dan anggota DPRD di kotanya. Hingga kini aku terbiasa dan tidak canggung ketika harus menjadi pembawa acara atau berpidato dalam beragam kegiatan.

Prestasi akademik juga bisa diraih seperti langganan juara kelas, NEM tertinggi ke-2 dan menjadi pelajar teladan ke-3 tingkat kota, juara cerdas cermat antar sekolah, juara pidato, juga juara lomba putri-putri dan busana muslimah hingga menjadi wakil ke tingkat nasional. Alhamdulillah … Atas karunia Allah Yang Maha Baik lagi Maha Pemberi Karunia.

Doaku selalu untuk Kakek, Nenek, Bapak, dan Mamah berkat mereka, juga guru-guru yang telah mendidikku hingga aku menjalani masa kecil sebagai gadis cilik yang bahagia dan berprestasi. Semoga diberikan pahala terbaik dan kelak kita berkumpul kembali di surga-Nya terindah. Aamiin … Ya Rabbal ‘alamin.

Indahnya Senja di Masjid Nabawi

Standar
Kubah hijau dan kubah perak di masjid Nabawi

Mengapa waktu senja selalu dinanti banyak orang ? Senja kala mentari hendak menyelesaikan tugas beratnya menerangi siang. Mentari meninggalkan jejak indah, semburat jingga. Perlahan mengantar siang kepada malam. Selimut kehidupan, gelap menyelubungi kelelahan dan kepayahan. 

Aku dan si bungsu Teteh, bergegas keluar dari kamar hotel menuju lift setengah tua. Kecil ukurannya cukup untuk  6 orang saja. Sedikit berderak … Menyisakan rasa gentar, jangan-jangan mogok. Namun … Bismillah, semua akan baik-baik saja. Ya … Hotel tempat kami menginap di Madinag ini bintangnya hanya tiga. Sengaja kami mengambil paket hemat saat menunaikan ibadah umroh tahun 2017 sesuai saldo tabungan kami. Bersyukur Allah berikan rezeki hingga bisa berangkat bertiga, sebagai hadiah Teteh telah khatam Al Quran dan menyelesaikan hafalan juz 30.

Usia Teteh baru 10 tahun, ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci. Sedang celotehnya tentang keinginan untuk berkunjung ke Baitullah dan masjid Nabi sudah lama sekali. Seingatku sejak Teteh sekolah TK dan melihat Mas (anakku kedua kelas 5 SD) melakukan simulasi manasik haji di Asrama Haji Pondok Gede.

Allah mengijabah doa Teteh. Pada bulan April yang hangat, kami berangkat menuju tanah suci dari Bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat Oman Air. Setelah transit hampir 4 jam di bandara Muscat, Oman dengan total penerbangan 12 jam, sampailah kami di bandara Madinah. Suasana bandara Muscat sangat lengang. Mungkin karena kami tiba tengah malam. Nah … Di bandara Madinah menjelang dini hari, sudah lumayan ramai. Lama juga kami berdiri, mengantri untuk sampai loket pemeriksaan dokumen.

Aku dan Teteh mendapat sedikit masalah, ketika paspor kami dibawa petugas untuk konfirmasi lebih jauh. Entah apa yang menjadikan mereka harus melakukan sesi wawancara singkat kepadaku dan Teteh ?

Inti percakapan kami, meminta Teteh menjawab apakah benar aku ini ibunya ? Waaahhh … Ada-ada saja, apakah wajahku kurang meyakinkan sebagai ibu seorang anak usia 10 tahun. Petugas bertanya dalam bahasa Inggris, jadi Teteh bisa menjawab dengan tegas. Aku pun menambahkan bahwa benar ini anak saya, namanya Maryam Aliyya Al Kindi. Ooohhh … Petugas malah tersenyum dan bilang, ‘Bagus sekali namamu, Maryam’. Kami pun mengucapkan terimakasih dan sedikit berlari mengejar rombongan yang sudah lolos lebih dulu. Ustadz dan bahkan suamiku saja tidak tahu menahu kalau aku dan Teteh tertahan di meja petugas.

Petugas malah mengajak Teteh berfoto di depan tulisan ‘Welcome to The Holy City of Madinah – Madinah Airport’

Insiden berikutnya … Ternyata rombongan sudah tak ada satupun di ruang lobby. Mereka sudah menuju bis. Suami baru sadar kalau aku dan Teteh tak ada didekatnya. Ustadz dan seorang yang ternyata mahasiswa S2 di Madinah (menjadi guide kami selama Umroh) berusaha kembali ke arah teras bandara, dekat pintu keluar. Aku sudah di dekat pintu keluar dan melambaikan tangan segera menyusul mereka.

Aaahhhh … Sport jantung nih. Ku lihat wajah Teteh tenang saja. Setelah duduk manis di bis, aku tanya, ‘Teh … Kamu kok tenang- tenang saja ?’ Dia jawab, ‘Kan ibu yang ajari aku jangan panik, oke!’. Aku tersenyum lebar. Tadi yang panik luar biasa adalah suamiku. Dia sempat menegur kami disangkanya kami santai-santai dan tidak fokus mengikuti rombongan. Padahal kami ditahan petugas sebentar saja … Mengetahui itu suamiku minta maaf.

Selama tiga hari di Madinah, suamiku meminta ijin untuk bisa beribadah lebih sendirian saja. Dia tahu, aku dan Teteh akan butuh waktu istiraha lebih banyak. Jadi … Senja ini pun aku dan Teteh berdua saja menuju masjid Nabawi. Gate 7 adalah patokanku untuk memasuki pelataran masjid. Sejajar dengan bagian belakang, tempat jamaah bisa dengan leluasa melihat kubah hijau. Istimewanya lagi, jalur hotel hingga gate 7 melewati dua masjid yang juga bersejarah. 

Merpati jinak di pelataran masjid Abu Bakar sangat disukai Teteh.

Masjid Ghamamah, artinya mendung. Mengapa diberi nama demikian ? Dahulu Rasulullah SAW pernah sholat Ied dan ada awan mendung yang selalu berada di atas area masjid ini. Teteh senang dengan masjid berpelataran luas ini karena banyak burung merpati jinak. Masjid Abu Bakar dengan desain unik, walau kecil juga kami lewati. 

Gate 7 biasa aku dan Teteh lewati saat menuju masjid Nabawi

Aku dan Teteh, saat di masjid Nabawi qadarullah tidak sempat masuk ke raudhah. Namun kami sempat berkeliling seluruh area pelataran masjid di sisi luar. Kami melewati gerbang depan, ke arah pemakaman baqi, lalu area belakang dan sisi sejajar gate 7. Apa sebab kami tidak sempat ke raudah ? Selain harus mengantri di jam tertentu, ternyata Teteh beberapa kali selepas shalat subuh bila harus menanti masuk raudhah badannya tidak fit. Lapar dan mengantuk sepertinya. Total waktu mengantri juga hingga 2 jam. Teteh belum mampu. Sedang siang hari ba’da shalat dzuhur juga butuh istirahat, dan selepas shalat isya, Teteh juga kepingin segera tidur. Beruntunglah suamiku yang lebih leluasa untuk bisa shalat di dekat pintu masuk raudhah. Dia berkali-kali berhasil menuju ke sana. 

Semburat jingga menghias langit Madinah.

Senja hari menanti kumandang adzan shalat maghrib adalah waktu yang mempesona. Langit Madinah tampak indah. Pernah aku dan Teteh sengaja shalat di pelataran masjid Nabawi, karena melihat begitu banyak ibu-ibu dengan balita dan anak seumuran Teteh juga shalat di pelataran. Ramai … Balita berceloteh dan sesekali menangis. Anak-anak berlarian, bercanda, tertawa sambil mengunyah cemilan. Ada air tumpah, yoghurt berceceran, remahan kue, dan biji kurma terserak. 

Aaahhh … Suasana dan sisi lain ibadah. Ibu-ibu ini mungkin tidak khusyuk ketika shalat. Namun … Pastilah Allah tetap memberikan pahala terbaik-Nya. Mereka bersusah payah menenangkan bayi yang menjerit-jerit. Akhirnya jurus maut dikeluarkan. Bayi itupun tenang bahkan tertidur … Ya, ibu itu memberikan ASI kepada bayinya, sambil meninabobokan. Padahal takbiratul ihram telah terdengar dari pengeras suara. Allahu Akbar …

Ada lagi ibu di depanku harus shalat sambil menggendong balitanya yang merengek dan menarik-narik jilbab panjangnya. Berdiri, ruku, i’tidal, duduk di antara dua sujud dan tahiyat pun balitanya tetap gelendotan manja. Aku jadi kurang khuyuk melihat seorang ibu membatalkan shalatnya karena mengejar anaknya yang berlari ke arah luar area shalat perempuan. Subhanallah …

Indahnya kehebohan itu tak dialami oleh bapak-bapak bukan ?

Masjid Nabawi menyimpan kisah indah, betapa mulianya Nabi Muhammad SAW bersikap terhadap perempuan dan anak-anak. Saat shalat Rasulullah SAW mempercepat shalatnya dengan memperpendek bacaan bacaan ayat-ayat Al Quran. Sahabat bertanya, ada apakah gerangan ? Ternyata Beliau mendengar tangis bayi. Masya Allah … Shalat dipercepat karena memberikan kelonggaran waktu agar si ibu bisa segera menenangkan bayinya.

Banyak kisah lainnya, betapa Rasulullah SAW dengan akhlaknya yang sangat mulia, memperlakukan dengan baik perempuan dan anak-anak. Menghormatinya dan memberikan ruang untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Aku pernah membaca kisah Rasulullah SAW ketika mendudukkan Fatimah, anak perempuan kesayangannya dipangkuannya di dalam majelis terhormat, di antara para sahabat. Itu untuk meruntuhkan stigma bahwa memiliki anak perempuan adalah aib, begitu adat jahiliyah berurat akar di kalangan Quraisy dan banyak tempat di dunia. Bahkan di kerajaan Romawi dan Persia pun perempuan ditempatkan sangat rendah. Islam menjadi jalan bagi perempuan untuk kembali menduduki posisi terhormat.

Masjid Nabawi penuh kenangan indah selama tiga hari Teteh beribadah di sana

Senja terakhir di Madinah, aku dan Teteh menikmatinya dengan sepenuh rasa syukur. Semoga kelak dilain waktu, Allah perkenankan kami kembali ke sana. Aamiin ya Rabbal’alain

Hikmah Dari Masa Krisis Moneter 1998

Standar

Melanjutkan kisah selepas perjalanan ibadah hajiku di tahun 1998. Selama menunaikan ibadah haji tidaklah sempat membaca dan menonton berita tentang tanah air tercinta. Namun … Begitulah kejadian di tahun 1999 yang kita kenal sebagai masa krisis moneter.

Bahagia menjadi Yangti untuk kedua cucuku.

Permintaan pasar jadi menurun sehingga berpengaruh kepada produksi..akibatnya perusahaan harus melakukan PHK besar-besaran. Saat itu aku yang masih menjabat sebagai Manager juga diminta perusahaan untuk memilih. karyawan yang menjadi staffku, mana yang harus dipertahankan ? Mana yang harus terkena PHK ? Sedih rasanya, membayangkan keluarga karyawan yang terkena PHK.


Dan semakin sedih juga karena tuntutan dari Serikat Buruh. Aku dan Manager HRD yang sama-sama perempuan, qadarullah terkena PHK dengan mendapat pesangon. Saat itu aku sempat menghadap ke Wakil Presiden perusahaan, yang kebetulan orang Jepang. Perusahaan tempat aku bekerja sudah jadi PMA. Apa alasannya, sehingga aku termasuk yang di PHK ?


Dalam hati sempat bertanya-tanya, apakah karena sempat meninggalkan pekerjaan selama 40 hari ? Aku berangkat menunaikan ibadah haji. Walaupun di peraturan perusahaan dibolehkan. Jawaban dia, ‘Nurul San … Bekerja baik. Tapi karena Nurul San punya suami, jadi kan masih ada suami yang memberikan nafkah’. Lho kok …?


Akhirnya aku menemui Presiden Direktur, dia orang indonesia asli dan Muslim, serta sudah menjadi atasan atau pemilik perusahaan dari awal aku masuk bekerja saat perusahaa masih berstatus PMDN. Esoknya, diputuskan walaupun aku di PHK di perusahaannya yang bergerak di industry automotive, tetapi langsung diterima lagi di perusahaan barunya dengan partner lainnya dan pengelola yang berbeda. 

Di tempat yang baru sedang mengembangkan bengkel dengan nama Precision Tune Auto Care. Perusahaannya PMDN. Dikelola oleh mantunya pemilik perusahaan tempat aku bekerja dari awal. Mantunya berkewarganegaraan Amerika. Bengkel ini bekerja sama dengan pemodal lainnya. Ada orang indonesia jug, .tetapi suku asalnya orang tuanya atau leluhurnya dari China.


Jadi mereka berembug dan memanggilku serta memutuskan agar aku menjabat sebagai General Manager untuk perusahaan penunjang bengkelnya sekaligus merangkap sebagai Direktur dari Bengkelnya. Dengan pertimbangan karena aku orang Indonesia asli, muslimah dan berhijab. Kalau mereka tidak mungkin, karena saat itu suasana dan situasi di Indonesia tidak aman atau kurang aman untuk mereka. Jadi jabatan malah jadi naik dari posisi aku sebelumnya di perusahaan yang lama dan tentu saja Rupiah salarynya. Ya..Allah … Apakah ini jawaban dari do’aku kepada-Mu di depan Multazam ? 

Qadarullah, pemilik perusahaan yang aku sudah bekerja dengannya dari tahun 1985, walau sempet 3x berbeda nama PT nya, tapi aku ikut terus bekerja dengannya hingga dia pada tahun 2003 wafat. Pada tahun yang sama, perusahaan / bengkel mengalami masalah perburuhan yang serius. Sistem karyawan kontrak yang diberlakukan bagi karyawan pabrik ditentang oleh serikat buruhnya, sampai harus mengalami sidang perburuhan. Akibatnya agar perusahaan tidak mengalami kerugian yang berkepanjangan, bengkelnya di lock up atau ditutup. Konsekwensinya aku yang saat itu diminta menjabat sebagai Direktur harus selesai dan tidak bekerja di situ lagi.


Alhamdulillah … Janji aku untuk tetap bekerja dengan pemilik yang aku ikuti dari aku awal bekerja di perusahaannya tahun 1985 berakhir di tahun 2003 atau sampai dia wafat. Pesan yang selalu aku ingat, ‘Nurul … Kamu bekerja disini terus ya, sama saya’. Berarti Alhamdulillah, amanah yang telah diembankan kepadaku juga telah selesai. 

Bekerja di pabrik atau industry otomotif maupun di bengkel..menuntut kedisiplinan dalam segala hal. Termasuk waktu atau jam kerja yang ketat. Karena kita bagian dari suatu sistem produksi saling bergantung satu dengan lainnya. Era setelah tahun 2003 itu saat usiaku masuk ke usia 45 tahun dan tuntutan di rumah sebagai ibu dari kedua anakku yang masih sekolah semakin besar. Hal itu membuat aku mencari pekerjaan yang waktunya lebih fleksibel. Agar aku dapat lebih mengatur kapan harus bekerja ? Kapan harus menemani anak ke sekolah ? Apalagi setelah anakku kuliah diluar kota.


Jadi bisa mengatur kapan harus menengok mereka di tempat kost nya mereka di luar kota juga. Sehingga akhirnya aku sempat mencoba di bidang pemasaran, baik di industri asuransi selama 3 tahun. Mengelola supermarket buah selama 3 tahun. Sebelum akhirnya mengelola sebuah bimbingan belajar.


Alhamdulillah.. Anakku Ilmam berkesempatan juga ikut les ditempat bimbingan belajar yang aku kelola. Ia berhasil tembus masuk ITB di Jurusan STEI pada tahun 2011 tanpa test. Rifka bisa kuliah di kedokteran Unsoed Purwokerto melalui test, saat itu aku belum mengelola bimbingan belajar. Aku mengelola bimbingan belajar selama 8 tahun.
Dan pada tahun 2017, di usiaku yang ke 59 tahun, aku tidak lagi berminat untuk meneruskan lagi bimbingan belajarnya. Alasan utama karena usia dan sudah punya cucu.

Mulai lah aku punya kegiatan untuk menengok cucu di Parung. Oya … Rifka setelah lulus mendapat tempat praktek dan rumah di Parung. Selain juga untuk mulai benar-benar menjadi ibu rumah tangga saja. Menikmati menjadi seorang Eyang Puteri, atau biasanya cucuku Zahra memanggilnya Yangti. 

Ada beberapa hal yang bisa diceritakan juga dengan waktu yang fleksibel itu, Aku sempet diminta juga untuk mengurus Majelis Ta’lim..ibu-ibu di Masjid Komples rumah selama satu periode sebagai ketua Majelis Ta’lim.
Lalu mengikuti aktifitas di kumpulan MT yang ada di Bekasi / BKSM sampai sekarang..baik sebagai anggota seksi pendidikan..maupun pernah di bidang usaha juga. Di Majelis Ta’lim ibu..ibu inilah maupun di BKSM..akhirnya aku benar-benar memasuki dunia ibu-ibu / perempuan, setelah sebelumnya banyak berkecimpung di dunia laki-laki terutama saat masih bekerja di pabrik maupun bengkel. Sebenarnya saat mengelola supermarket buah sudah banyak karyawan perempuannya walau masih ada yang laki-laki.


Demikian juga..saat bekerja di pekerjaan yang waktunya flexibel..aku sempat kursus Pendidikan Mubaligh Al Azhar di Masjid Al -Azhar Keb Baru Jakarta selama 4 tahun, Ini juga sudah mulai banyak kawan perempuannya. Atau di tempat kursus tarjamah Al Qur’an yang pernah aku ikuti. 

Rupanya pepatah..Life begins at forty itu benar aku rasakan. Aku sempat merasakan naik turunnya karir aku dalam pekerjaanku. Serta Allah juga ingin mengajarkan kepada aku bahwa jabatan hanyalah suatu amanah, suatu saat dapat diambil lagi oleh Allah sang Pemilik alam semesta ini. Dan Allah mengajakan kepadaku melalui pengalaman hidupku dan nasihat ibuku bahwa jangan pernah gentar menghadapi hidup. Ada Allah. kalau ada apa-apa mintalah langsung ke Allah. Demikian juga rezeki itu kadang bisa datang dari arah yang tidak kita duga. Slama kita masih hidup yakinlah Allah pasti memberikan rezeki untuk kita. 

Hikmah lainnya yang Allah ajarkan kepadaku sesuai dengan yang tertera dalam Al Qur’an..QS: Al Ahqaf,46:15, bila kita sudah berusia 40 tahun agar lebih berbuat baik kepada ibuku. Bapakku mah memang sudah wafat dari aku kecil di usia 6 tahun. Alhamdulillah, setelah bekerja yg flexible time, aku juga saat itu sampai ibuku wafat lebih bisa mengunjunginya, dibandingkan saat masih bekerja di pabrik / bengkel.


Setelah usia 40 tahun, Allah memerintahkan kita untuk lebih baik ibadahnya dan lebih baik banyak berdo’a, Salah satu do’anya adalah do’a yang terkandung di dalam QS:46:15. Alhamdulillah ya Allah., saat do’aku di depan Multazam, aku minta diberikan yang terbaik menurut Allah. Baru dapat aku ketahui hikmahnyakemudian. Jadi sering tidak pada saat kejadian / ujian yang menimpa kita nya. Hanya kepadaMu kami bergantung ya Allah..dan hanya kepadaMu..kami memohon pertolongan.

Allah SWT berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْاِ نْسَا نَ بِوَا لِدَيْهِ اِحْسَا نًا ۗ حَمَلَـتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗ وَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰـثُوْنَ شَهْرًا ۗ حَتّٰۤى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۙ قَا لَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَwa washshoinal-ingsaana biwaalidaihi ihsaanaa, hamalat-hu ummuhuu kurhaw wa wadho’at-hu kurhaa, wa hamluhuu wa fishooluhuu salaasuuna syahroo, hattaaa izaa balagho asyuddahuu wa balagho arba’iina sanatang qoola robbi auzi’niii an asykuro ni’matakallatiii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihang tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal-muslimiin
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.””(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 15)


Aamiin yaa Rabb.

Ditulis oleh Nurul H. Tsabit Issom

Kenangan dan Hikmah Menunaikan Ibadah Haji di Usia 40 Tahun

Standar
Aku, Nurul H. Tsabit adalah anak ke 5 dari 7 bersaudara. Dilahirkan di Kediri,pada tanggal 31 Agustus 1958. Terlahir dari Bapak yang bernama : R.Mochamad Tsabit Issom. Ibu yang bernama : R.Tuti Atiah Adjhoeri.

Riwayat singkat keluarga

Eyang Kakungku dari garis Bapak,berasal dari Surakarta ( Solo ), memiliki nama lengkap : R.Ng.Darmosuroto ( M.Issom) atau biasanya kami memanggilnya Eyang Issom. Eyang Issom adalah Putra ke 6 dari Eyang Buyut KRP.Tafsir Anom ke V. Adapun Eyang Putriku dari garis Bapak berasal dari Kediri,bernama Eyang Raden Ayu Hindarsyah binti Alimusthoha.

Sedangkan ibuku berasal dari Tasikmalaya. Akiku bernama R.O.Adjhoeri. Dan Nenekku bernama R.Siti Zaenab.

Aku memiliki 2 kakak perempuan dan 2 kakak laki-laki..serta 2 adik laki-laki.
Adapun urutan lengkapnya putera puteri bapak M.Tsabit Issom, sebagai berikut..
1. Adjeng Hidayah Tsabit Issom.
2. Taufik Qurochman Tsabit Issom.
3. Abdul Rachman Tsabit Issom.
4. Tetty Fatimah Tsabit Issom.
5. Nurul Hayati Tsabit Issom.
6. Abdul Hadi Tsabit Issom.
7. Hery Moch.Ischak Tsabit Issom.

Alhamdulillah .. Aku menikah dengan suamiku..Mustafa Luthfi Makmuri Ghozali,pada tanggal 20 Desember 1987.
Dikaruniai 2 orang anak. Dan saat ini juga sudah memiliki 2 cucu. Adapun nama anak pertamaku perempuan, yang telah menikah bernama : Rifka Fathnina ,suaminya bernama : Ahmad Abdul Hafiidh. Cucuku bernama : Fatimah Az Zahra dan Muhamad Umar Hafidz. Sedangkan anak keduaku yang belum menikah, laki-laki,bernama : Muhamad Ilmam.

Kenangan Ibadah Haji

Ibadah haji adalah Rukun Islam yang ke 5. Merupakan salah satu ibadah yang banyak aktifitas fisiknya dan menuntut fisik yang sehat dan prima. Selain perjalanan yang jauh dari Indonesia juga rangkaian ibadah yang harus dilakukan.

Ada kisah menarik saat dalam perjalanan di pesawat menuju ke Jeddah..maupun saat di bandaranya. Jamaah yang pergi menunaikan ibadah haji..dengan kami..di tahun 1998..beragam usia..serta asal suku bangsa ,demikian juga maupun saat tahun 2019. Alhamdulillah saat itu Allah memberi kami kesempatan Umrah di awal Ramadhan selama 12 hari dengan suami, mas Luthfi.

Di pesawat, saat mau ibadah haji, Aku duduk selain sejajar dengan mas Luthfi dan bi Diah, juga bersebelahan dengan seorang Nenek asal Bekasi yang sudah sepuh. Ia kelihatan sekali khawatir dan takutnya naik pesawat terbang. Sedangkan saat mau Umroh tahun 2019, aku duduk bersebelahan dengan Ibu-ibu yang hampir sebaya dengan aku asal nya dari Pati – Jawa Tengah. Di kedua perjalanan tersebut walau rentang waktu nya sekitar 22 tahun, tapi kasus yang terjadinya hampir mirip. Kedua ibu / Nenek yang aku ceritakan tersebut di atas mengalami kesulitan enggunakan toilet di pesawat terbang..jadi harus dibantu atau diberi contoh dahulu. Jadi rupanya Manasik Haji itu harus rinci dan lengkap juga ya..termasuk Toilet Training di Pesawat Terbang.

Betapa Allah subhanahu wa ta’ala membalas setiap kebaikan yang dilakukan oleh hambanya..sekecil apapun juga kebaikan yang kita lakukan….kadang sudah langsung ditunjukkan di dunia. Salah satu contohnya yang aku rasakan.. adalah ..saat saya berhaji di usia 40 th an aku dan mas Luthfi dititipi bi Diah yang sudah berusia 70 tahun.


Nah … Saat aku umroh diusia sekitar 60 tahun an. di bandara Soekarno Hatta, sebelum masuk ke pesawat..aku terpisah dengan mas Luthfi. Padahal tas tentengan saya cukup banyak, karena untuk perempuan dan laki-laki dipisahkan. Saat itu Allah menolong aku melalui seorang jamaah perempuan muda seumuran di atas Rifka, bernama mba Renny asalnya dari Kalimantan. Alhamdulillah selain mba Renny, juga suaminya akhirnya membantu kami menenteng barang-barangku.

Demikian juga saat thawaf di Baitullah. Saat haji, Bibi..berpegangan ke tanganku, dengan posisi aku di sebelah kiri yang lebih dekat ke pusaran thawaf / dekat Ka’bah. Sementara mas Luthfi menjaga kami dari belakang agar tidak terdorong oleh jama’ah lainnya. Sementara saat Umrah, Ustadz Pembimbingnya di depan diikuti oleh aku dan Ibu-ibu sepuh lainnya. Baru ibu-ibu muda, sisanya bapak – bapak termasuk mas Luthfi di dalamnya.


Suatu saat pas thawaf Umrah, aku berasa agak kesulitan bernafas dan berusaha mencari udara segar atau 0ksigen, maklum thawaf di siang hari dan sedang shaum juga bisa karena usia. Tiba-tiba … saat berusaha keluar sedikit dari rombongan, suami mba Renny ikut bantu jaga agar aku tidak ditabrak jamaah rombongan lain dan minta aku masuk ke dalam rombongan.

Hikmah yang lainnya..bila berhaji atau berumrah di usia relatif muda untuk kasusku berhaji di usia 40 tahunan ..sangat banyak. Baik rangkaian sholat wajib dan sunnah, maupun berdzikir, berdo’a maupun tadarus Al Qur’an dan rangkaian ibadah lainnya yang mengharuskan kita bolak balik harus ke Masjid.

Dari mulai masuk Masjid Nabawi untuk mendapatkan shaf sholat serta agar dapat masuk ke Raudhah. Juga saat masuk ke Masjidil Haram untuk melakukan sholat dan thawaf serta rangkaian ibadah lainnya. Saat usiaku 40 tahunan, aku relatif bisa lebih sering thawaf umrah sebagai pengganti tahiyatul Masjid di Masjidil Haram. Bahkan pernah saat mas Luthfi kurang sehat, aku izin untuk pergi ke Masjid sendiri dan melakukan thawaf sendiri. Lalu saat ibadah Sa’i sebagai bagian dari ibadah haji nya..langkah kakinya terasa lebih ringan, dibandingkan saat sa’i untuk umrah yang aku rasakan di usia 60 tahunan. Demikian juga untuk berdo’a berlama..lama depan Multazam..maupun sholat sunnah dan berdo’a di belakang Maqam Ibrahim.

Kisah Munajat di Multazam


Munazat di Multazam,yaitu tempat antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah..dengan berdo’a. Do’a nya yang dipanjatkan..tergantung kita yang berdo’a. Alhamdulillah pada tahun 1998, kami bertiga berkesempatan berdo’a persis di depan Multazam. Ada do’a yang aku ingat betul sampai saat ini di antaranya Do’a untuk anak, agar diterima sekolah di sekolah yang baik. Pendidikan umum nya maupun pendidikan agamanya. Qadarullahnya, Alhamdulillah … Mereka diterima di sekolah yang mereka cita-citakan.


Lalu aku juga teringat untuk mendo’akan kakak-kakak dan adik untuk segera dapat menunaikan ibadah haji. Alhamdulillah sekarang semua kakak dan adik sudah menunaikan ibadah haji, kecuali mba Adjeng yang sangat sibuk menjadi Diplomat sehingga waktu itu belum sempet.


Dan masih banyak do’a yang lain, termasuk permohonan agar diberikan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ada satu do’a yang aku panjatkan..yang rasanya baik juga untuk diceritakan di sini. Karena selama kuliah di ITB..serta saat berbelas- belas tahun bekerja di pabrik / industry otomotif, lebih banyak kawan dan karyawan laki-laki sehingga saat itu menyempatkan berdo’a memohon ampun kepada Allah dan memohon diberikan yang terbaik oleh Allah, termasuk di bidang pekerjaan aku.

Singkat cerita..kami telah selesai menunaikan ibadah haji..dan kembali pulang ke Indonesia. Selama menunaikan ibadah haji..saat itu belum musim nya kita membawa hp ..dan tidak mengikuti perkembangan berita tentang kondisi di tanah air melalui TV atau apapun.


Nah … Tiba-tiba saat di pesawat ada kawan sesama jamaah yang membaca berita di koran yang ada di pesawat tentang perkembangan di tanah air..terutama di bidang ekonomi. Katanya rupiah anjlok dan seterusnya. Saat ibadah haji itu kami selama kurang lebih 40 hari..berangkat di bulan Maret 1998, kembali di bulan April 1998.


Ya Allah … Qadarullahnya, pada bulan Mei 1998..terjadi krisis Moneter, sempet tidak terkendali. Terjadi banyak pembakaran dimana-mana. Kondisinya menjadi kurang aman, baik untuk warga sipil maupun dunia usaha.
Termasuk di tempat aku bekerja.

Kisah ini akan berlanjut dengan artikel berjudul Hikmah di Masa Krisis Moneter 1999

Wallahu’alam.
Bekasi, 27 Maret 2021.
Nurul H.Tsabit Issom.

Kisah Berjumpa dan Menjadi Bagian dari Keluarga Tafsir Anom V

Standar

Sebuah kisah disampaikan tentu karena mengandung hikmah. Bagaimana masa lalu berjumpa masa kini, juga menjadi masa depan ? Bagaimana Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pemberi Karunia memberikan jalan bagi sesiapa saja untuk mendapatkan hikmah dari sebuah perjumpaan ?

Kadang manusia tidak tahu, atau malah memang manusia itu makhluk lemah jadi ya sedikit saja pengtahuannya tentang bagaimana skenario dan episode hidupnya. Begitupun aku, Dewi Laily Purnamasari yang sangat bersyukur bisa berjumpa dan menjadi bagian dari keluarga Tafsir Anom V.

Apa istimewanya ? Apa menariknya ? Apa hikmah yang terkandung dalam perjumpaan itu ? He3 … Tentu sebagai manusia biasa, aku hanya mampu menggali secuil dan menemukan tetes demi tetes kebajikan didalamnya. Semoga saja dengan dituliskan akan menjadi pelajaran penting bagi diri sendiri, kerabat, dan anak-cucu kelak. Aamiin …

Kenangan Masjid Agung Al Azhar

Masjid yang berdiri kokoh di daerah Kebayoran Jakarta ini menyimpan beragam kisah indah. Pada tahun 70-an saat aku bersekolah SD, seringkali Bapakku mengajak mampir shalat di sana. Senang sekali aku dengan bangunan masjid dengan kubah besar, tangga berumpak-umpak tinggi untuk sampai ke bagian utama ruang shalat yang dihiasi kaligrafi indah. Tiang dengan ornemen sederhana namun elegan. Lengkung bukaan jendela berderet-deret mengalirkan udara segar.

Kaki dan langkah kecilku tak surut menaiki satu demi satu anak tangga, walau begitu sampai terasnya nafasku tersengal. Ha3 … Paling Bapak bilang, ‘Ayo … Teh, semangat sedikit lagi sampai!’ Rasa senangku bertambah-tambah, karena Bapak akan mentraktir sate padang dan es kelapa muda. Hingga aku dewasa dan kini diusia golden age … alias setengah abad, 50 tahun, kenangan sate padang dan es kelapa muda itu selalu melekat.

Sebab itu pula di tahun 1994, setelah wisuda dari Teknik Arsitektur ITB aku kembali menjadi penghuni Ibukota Indonesia. Oya … Tahun 1984 kami sekeluarga pindah ke Cirebon, karena selesai sekolah dokter spesialis di Universitas Indoensia, Bapak ditugaskan di RS Gunung Jati Cirebon. Tentu aku sekolah pindah ke SMP dan SMA di Cirebon. Rasa kangenku menyantap sate padang dan es kelapa muda tak terelakan. Sepulang kantor mampirlah ke Masjid Agung Al Azhar Kebayoran.

Biasanya kalau bersama Bapak, kami shalat dulu. Tapi kali ini, aku makan dulu he3 … Karena waktu shalat maghrib masih sekitar 30 menit. Di pojok dekat gerbang belakang, duduk dibangku kayu beratap terpal. Harum asam sate padang …. Hhhhmmm … Aaahhh … Sedaplah pokoknya.

Entahlah mengapa ? Sebelum naik ke lantai utama, aku melirik papan petunjuk di hampir di setiap ruangan bagian bawah yang aku lewati. Ada satu ruang di pojok kanan dekat pintu aula bertuliskan Kursus Kader Mubaligh Al Azhar. Menarik! Begitu batinku. Waktu kuliah aku kepingin sekali ikut kursus semacam ini. Namun belum kesampaian. Malah pernah guyonan dengan salah seorang sahabat kepingin mondok jadi santri di Pesantren Gontor. Lucu rasanya punya ide macam itu. Tapi begitulah obrolan bisa jadi doa.

Setelah shalat maghrib, aku mampir ke ruangan KMA. Berbincang sebentar dengan petugas admin tentang program kursus di sana, akupun mendaftar. Kilat ya … Begitulah. Aku terdaftar menjadi peserta KMA angkatan 17. Guru-guru yang mengajar sangat mumpuni dibidangnya. Sebut saja ada Afif Hamka dan Rusdi Hamka, putra dari Buya Hamka. Pengajar lainnya ada M. Zen Al-Hadi, Suharyadi Sumhudi (sekarang sudah profesor), M. Amien Rais dan Yusril Ihza Mahendra (sebagai dosen tamu), beberapa nama lain aku sudah lupa.

Alhamdulillah aku berhasil lulus kursus dan diwisuda untuk tahap pertama. Ada tahap lanjutan, aku pun mendaftar. Masih banyak waktu luang … lah wong masih jomlo ha3 … jadi ya memanfaatkan waktu selain kerja di konsultan arsitektur dan menjadi pengawas pembangunan apartemen.

Saat aku ikut kelas lanjutan, Tante, istri dari adik Mamahku menjadi peserta KMA angkatan 18. Jadi kami sering bersapa dan ngobrol sejenak sebelum atau sesudah kegiatan belajar. Suatu hari, Tante bilang, ‘Neng … Itu bapak yang itu (sambil menunjuk ke arah Pa Najib teman seangkataku di KMA-17) teman kelas Neng kah ?’. Aku mengiyakan. Tante tampak girang sekali. Waaahhhh … Kok senang ya ? Aku penasaran dong! ‘Eeehhh … Tante kenal ?’, tanyaku.

‘Itu wajah dan perawakannya persis seperti dosen Tante waktu kuliah di Muhammadiyah. Tapi beliau kan sudah wafat,’ ‘Ayo atuh kita tanya saja, barangkali saudaranya atau apanya gitu dengan dosen Tante’, ajakku saat itu juga. Jadilah kami menghampiri Pa Najib. Subhanallah … Ternyata dari bertanya sedikit-sedikit, (karena Tante agak segan takut salah bertanya), dan aku tahu Pa Najib ini pendiam namun murah senyum. Pembawaannya tenang. Pa Najib adalah adik Pa Bachit yang pernah menjadi dosen di tempat Tante kuliah.

Nah … Aku belum tahu juga kalau Pa Najib ternyata ada hubungan kekerabatan dengan suamiku (waktu itu masih teman saja sesama alumni ITB, dia kakak kelasku). Duuuuhhhh … Kan sambung menyambung. Ya Allah … Ternyata dari pertemuan itu, tersambunglah sebuah ikatan lingkaran. Lahir, jodoh, mati adalah rahasia Allah Yang Maha Rahman dan Rahim.

Tahun 1995 aku menikah dengan keponakan Pa Najib ini. Di mana ternyata, ibu mertuaku, Bu Siriyyah adalah bersepupu dengan Pa Najib. Ayahnya Pa Najib dan ibunya Bu Siriyyah adalah kakak beradik. Masya Allah.

Masjid Agung Surakarta, tempat Tafsir Anom V bertugas sebagai imam dan penghulu.

Silsilah Keluarga Tafsir Anom V

Kalau di turut silsilahnya maka akan sampai pada Sultan Syah Alam Akbar III (R. Trenggono), sultan Demak terakhir. Adapun putra dan putri Kiai Tafsir Anom V (lima) berjumlah 10 orang yaitu:

1. Raden Ngabei Diprodipuro alias Muhammad Qomar.
2. Raden Ngabei Tondhodipuro (Raden Ketib Cendhono), alias Muhammad Ridwan.
3. Raden Nganten Mursoko alias Mardiyah.
4. Kiai Haji Raden Muhammad Adnan, alias Shauman.
5. Kiai Kanjeng Raden Tumenggung Pengulu Tafsir Anom VI. Sebelum bergelar Raden Ketib Winong, dan nama kecilnya Sahlan.
6. Raden Ngabei Darmosuroto alias Muhammad Thohar, nama kecilnya Muhammad Ishom.
7. Raden Nganten Maknawi.
8. Raden Nganten Sumodiharjo, alias Siti Maryam.
9. Raden Nganten Projowiyoto alias Marfu’ah.
10. Raden Nganten Condrodiprojo alias Marhamah.

Raden Ngabei Darmosuroto atau M. Ishom anak nomor 6 dari Tafsir Anom V adalah ayahnya Pa Najib. Sedangkan Raden Nganten Condrodiprojo atau Marhamah anak nomor 10 adalah ibunya Bu Siriyyah (suamiku yang biasa disapa Aziz adalah anak ketiga beliau).

Bila diurut dari Tafsir Anom V, berarti suamiku itu keturunan ke-3, Bu Siriyyah dan Pa Najib adalah keturunan ke-2. Sedangkan Pa Ishom dan Bu Marhamah adalah keturunan pertama dari Tafsir Anom V.

Siapakah Tafsir Anom V ini ? Sebelumnya tertulis bila diurut hingga akan bertemu dengan sultan Demak terakhir yaitu Sultan Syah Alam Akbar III. Bagaimana urutannya ? Mari kita simak!

Sejarah Kerajaan Demak

Sultan Syah Alam Akbar III (Raden Trenggono), adalah Sultan Demak terakhir. Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam yang berpusat di Jawa Tengah. Demak menjadikan dirinya sebagai tonggak perjuangan untuk menyebarkan agama Islam pada dasawarsa pertama abad ke-16. Bangunan penting bersejarah yang menjadi pusat kegiatan kerajaan Islam pertama di Jawa Tengah ini adalah Masjid Demak.

Di sinilah markas para wali untuk bermusyawarah (sumber Ensiklopedi Islam, penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta). Keturunan ke-13 dari Sultan Demak terakhir adalah Kanjeng Raden Penghulu Tafsir Anom V. Beliau wafat pada Kamis malam tanggal 30 Jumadil Awal 1864 atau tanggal 22 September 1933. Salah satu peranan KRP. Tafsir Anom V semasa hidupnya adalah ikut mendirikan dan mengembangkan Mambaul’ulum (yaitu pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan agama) di Keraton Kasunanan Surakarta pada tanggal 20 Juli 1905. Madrasah ini mempelopori diberikannya pelajaran ‘Barat’ dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia. 

Bentuk lain kepedulian Beliau terhadap pendidikan adalah membuka sekolah di pendopo rumahnya serta sekolah di sebelah Timur rumahnya (sekarang menjadi TK. MDN Kauman). Salah satu putra beliau yang terkenal sebagai cendekiawan muslim adalah Prof. KH. R. Muhammad Adnan (nama kecilnya Muhammad Sauman). Karya besar beliau adalah Tafsir Al Quran berbahasa Jawa pada tahun 1977. Beliau yang juga menantu KH. Ahmad Shofawi menajdi takmir masjid Tegalsari di Surakarta. Setelah diijinkan pihak Keraton Kasunanan Surakarta, masjid Tegalsari mulai menyelenggarakan shalat Jumat.

Foto acara halal bi halal, keluarga Tafsir Anam tahun 1385 Hijriyah atau 1965 Masehi.

Silsilah Tafsir Anom V yang berkaitan dengan Kerajaan Demak adalah sebagai berikut :

Sultan Syah Alam Akbar III atau Raden Trenggono, berputra Raden Prawoto, berputra :

  1. Pangeran Hadipati Madepandan I, berputra Pangeran Djojoprono, berputra
  2. Raden Djojoprono, berputra Raden Dadang Sumyang, berputra
  3. Raden Kreinojo, berputra
  4. Kangjeng Kyai Pengulu Djajaningrat (Kangjeng Kyai Pengulu Godong) Pengulu Dalem Kartasura, berputra
  5. Raden Ayu Muhammad Tohar, menikah dengan Kyai Muhammad Rohot, Pradikan di Matesih, berputra
  6. Kangjeng Kyai Pengulu Muhammad Tohar Hadiningrat (Kangjeng Pengulu Zakaria) Selarong, berputra
  7. Kyai Pengulu Tafsir Anom Hadiningrat I (Kanagjeng Kyai Djimat) Pengulu Dalem Susuhunan Pakubuwono IV, dimakamkan di Kutogedhe, berputra
  8. Kanjeng Kyai Pengulu Tafsir Anom IV, dimakamkan di Pajang Saripan, berputra
  9. Kangjeng Raden Pengulu Tafsir Anom V,

Jadi bila menurut silsilah, Bu Marhamah adalah keturunan urutan ke-10, Bu Siriyyah urutan ke-11, suamiku urutan ke-12, dan anakku urutan ke-13 dari sultan Demak terkakhir.

Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Jawa, tepatnya terletak di Pantai Utara Jawa. Demak semula merupakan salah satu bagian penting dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Demak tercatat menjadi pelopor penyebaran Islam di Jawa, salah satunya melalui ulama yang kuat dalam tradisi Jawa yaitu Wali Songo.

Raden Trenggono berjasa atas penyebaran Islam di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Di bawahnya, Demak mulai menguasai daerah-daerah Jawa lainnya seperti merebut Sunda Kelapa dari Padjadjaran serta menghalau tentara Portugis yang akan mendarat di sana (1527), juga menaklukkan hampir seluruh Pasundan/Jawa Barat (1528 – 1540) serta wilayah-wilayah bekas Majapahit di Jawa Timur seperti Tuban (1527), Madura (1528), Madiun (1529), Surabaya dan Pasuruan (1527 – 1529), Kediri (1529), Malang (1529 – 1545), dan Blambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur pulau Jawa (1529 – 1546). Trenggana meninggal pada tahun 1546 dalam sebuah pertempuran menaklukkan Pasuruan.

Anak Raden Trenggono yang bernama Raden Prawoto menggantikan sebentar saja karena terjadi kisruh perebutan kekuasaan oleh kakak Raden Trenggono yang bernama Sekar Seda. Namun Raden Prawoto membunuh Sekar Seda. Tak lama anak dari Sekar Seda yang bernama Arya Penangsang membunuh Raden Prawoto dan Hadiri yang merupakan suami dari Ratu Kalinyamat adik dari Raden Trenggono.

Ratu Kalinyamat bersama para adipati salah satunya bernama Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Atas bantuan Ki Ageng Pemanahan dan Sutawijaya, terbunuhlah Arya Penangsang. Setelah peristiwa itu Ki Ageng Pemanahan mendapat diberi wilayah Kota Gede. Sedangkan Sutawijaya dijakan anak angkat Joko Tingkir. Setelah menjadi raja, Joko Tingkir memindahkan pusat pemerintahan Demak ke Pajang.

Menjadi Anggota Keluarga Bani Tafsir Anom V

Begitulah sejarah telah tertulis. Kita membacanya, mempelajarinya, memahaminya, mengkritisinya, mengambil ibrah dan hikmahnya. Kita bukan pelaku sejarah masa lalu. Kita adalah pelaku sejarah masa kita sendiri. Keterikatan dan keterkaitan dengan masa lalu sejatinya adalah sekali lagi sebagai ibrah / hikmah agar dimasa kini dan masa depan yang buruk tinggalkan dan yang baik laksanakan.

Kembali kepada kisah berjumpa dengan keturunan Tafsir Anom V, beragam peristiwa menarik aku alami. Saat pernikahanku di Cirebon dihadiri oleh keluarga besar keturunan Tafsir Anom V. Mereka bersama keluarga inti suamiku menggunakan satu bis dari Solo. Sedangkan yang bermukim di Jakarta, mereka menggunakan moda transportasi kereta dan kendaraan pribadi.

Sebut saja ada Pa Abdul Hadi, Pa Abdul Basit (beliau menjadi wakil keluarga pada iacara perkenalan), Pa Abdul Latif, dan Bu Muhtaromah putra dari Pa M. Adnan putra ke-4 Tafsir Anom V. Pa Najid juga menghadiri pernikahanku. Bu Chusnul dan Pa Chusban putra dari Bu Marfuah putra ke-9 Tafsir Anom V. Pa Yusro dan Bu Sri adalah kakak dan adik dari Bu Siriyyah.

Suamiku , 4 bersaudara laki-laki semua. Bu Siriyyah dan Pa Roosdi tinggal di Solo. Aku pernah mendapat kisah menarik dari suami, sewaktu kecil sering digonceng sepeda ke masjid oleh Pa Condro, ayahnya Bu Siriyyah. Ternyata Pa Condro adalah keturunan dari Tafsir Anom IV. Waaaahhh … Bagaimana silsilahnya ?

Baik … Mari kita simak ya! Pelan-pelan saja he3 … Mempelajari silsilah itu tidak mudah, kadang kita sampai lieeeurrr karena di sana-sini bertemu nama yang sama. Atau garis yang berkelindan -salingsilang. Naik turun sampai penyebutan pun kadang tak seragam tergantung dari mana garisnya. Bisa om bisa juga ternyata keponakan. Sepupuan ternyata itu kakak ipar, dan sebagainya. Intinya sih … Aku cukup tertarik belajar silsilah karena bagai matematika pohon atau kurva FPB dan KPK.

Tafsir Anom IV dan Tafsir Anom V itu kakak beradik

Pa Condro atau Condrodiprojo, ayahnya Bu Siriyyah adalah putra dari Bu Condropradoto (tahan … ini saja sudah bikin lieeeuuurr he3, nama anak dan mirip nama ibunya yang pada masa itu sering dipakaikan nama suami). Bu Condropradoto adalah anak pertama dari Bu Reksoniti.

Baik … Kita lanjut ya! Bu Reksoniti adalah anak ke-4 dari Tafsir Anom IV. Sedangkan Tafsir Anom V adalah anak ke-6 dari Tafsir Anom IV.

Oke … Mulai agak terang ya ? Masih semangat kan ? Yuuukkkk … Jadi Bu Marhamah dan ibunya Pa Condro itu sepupuan. Artinya Bu Marhamah menikah dengan keponakan, namun dengan usia diatasnya. Bu Marhamah lahir tahun 1906 dan wafat tahun 1971, selisih 6 tahun dengan Pa Condro yang lahir tahun 1900 dan wafat tahun 1981. Itulah mengapa suamiku masih melekat erat kenangan dengan eyang kakung Condro tinimbang dengan eyang putri Marhamah yang telah wafat saat suamiku baru berusia 2 tahun. (Iiihhhh pantas saja hanya ingat eyang kakung … Ya umur segitu belum ada ingatan kuat kan ?).

Berguru Silaturahim kepada Bu Siriyyah

Aku dan suami memiliki tiga orang anak, Kaka, Mas, dan Teteh. Kami berusaha untuk merekatkan tali silaturahim dengan keluarga besar, baik dari sisi aku maupun sisi suami.

Pengalaman berharga ketika aku mengantar Bu Siriyyah berkunjung silaturahim ke rumah para sepupunya. Oya … Secara aku ini mantu pertama walau menikah dengan anak nomor tiga. Jadi ada kesempatan untuk berduaan dengan Bu Siriyyah pada banyak momen penting. Seperti menjadi panitia pernikahan kakak dan adik suami.

Aku dan suami menikah masih ditemani lengkap oleh Bu Siriyyah dan Pa Roosdi. Namun, qadarullah di tahun 1995 saat aku hamil anak pertama usia 6 bulan, Pa Roosdi wafat.

Kami pergi ke Yogyakarta untuk mengantar undangan pernikahan. Aku stir mobil Solo – Yogya pp bersama Bu Siriyyah bertiga saja dengan anak sulungku yang masih berumur 2 tahun. Kami mengunjungi Pa Abdullah dan Pa Abdul Hayi.

Bila sedang di Solo sudah pasti Bu Siriyyah akan mengajakku silaturahim ke rumah Pa Kardjo, Bu Muhtaromah, Pa Basit, Bu Coesnul dan Pa Chusban. Ketika di Bandung, aku mengantar ke rumah Pa Markam. Di Jakarta akan selalu berkunjung ke rumah Bu Kusmartiyah, Pa Chusni, Pa Abdul Hadi, Bu Sri, dan Pa Najib.

Satu kisah menarik, ketika aku didatangi oleh Bu Coesnul dan Bu Aminah di rumahku. Kaget bercampur bahagia bisa berjumpa dengan Bu Aminah adalah putra bungsu dari anak pertama Tafsir Anom V yang bernama Pa Dirdjodipuro. Tak terduga sekali … Bukankah selayaknya aku yang silaturahim ke rumah Bu Aminah ? Namun begitulah … Rasa kasih dan sayang tak menyurutkan langkah mereka menemuiku. Barakallah …

Tak kalah asyik untuk diceritakan, satu kali aku diajak suami bertemu Pa Abdul Nur yang sedang stay di Jakarta. Pa Abdul Nur bermukim di Amerika (Waaaahhh … Jauh sekali. Namun kata suamiku dekat di hati). Kami bertiga bertemu dan berbincang. Senangnya hatiku, bisa kopdar -kopi darat, jumpa tatap muka dengan Pa Abdul Nur. Lebih senang lagi, ternyata beliau membaca tulisanku di sebuah platform blog. Judul tulisanku adalah tentang Tafsir Anom V.

Sekali lagi berjumpa di acara silaturahim lebaran di Solo, tepatnya di rumah Pa Condro ayahnya Bu Siriyyah, yang kemudian ditempati Pa Kardjo. Berikutnya ada kesempatan ngobrol santai selepas acara silaturahim di Jakarta. Nah … Masa pandemi Covid-19 ini malah berdampak baik bagi jalinan silaturahim kami. Ada acara zoom meeting yang digagas Pa Abu Bakar, kakaknya suamiku, pertemuan Bani Tafsir Anom V. Sungguh luar biasa hikmahnya. Jauh di mata dekat di hati, kini di mata pun bisa dekat lewat layar laptop atau handphone dengan member of BTA V. Allahu Akbar.

Gagasan menulis ini juga datang dari Pa Abdul Nur. Aku menyambut antusias. Semoga bisa hadir banyak kisah lain dari poro sederek … Agar kisah ini semakin kaya. Silaturahim semakin erat dan tentu tugas anak- cucu menyambungkannya. Bu Siriyyah wafat tahun 2010, maka semakin kuat tekadku dan suami untuk menjalin silaturahim ini hingga kita jumpa lagi di surga-Nya terindah. Amiin ya Rabbal’alamin.

Review Novel, Hajar ‘Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam’

Standar

Seru dan mengasyikkan ikut Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini. Ide awal tema yang diajukan oleh admin adalah hari Kartini yang jatuh di bulan April. Maka tema perempuan menjadi menarik. Aku senang sekali dan sangat berminat dengan beragam kajian perempuan. Membaca novel tentang kisah perempuan juga rutin aku lakukan disela beragam kesibukan, seperti mengajar manajemen bisnis di sebuah kampus, menemani anakku bungsu kesayangan belajar daring, dan mengurus rumah tangga bersama suami tercinta.

Bulan April tema MGN adalah review buku tentang perempuan.

Oya … Sebelum membaca novel berjudul Hajar, Rahasia Hati Sang Ratu Zamzam, ada baiknya siapkan setumpuk tissue. Bersiaplah menderas airmata ketika membaca kalimat, paragraf, halaman … hingga tuntas kisah Hajar.

Hajar a novel by Sibel Eraslan, best seller dunia. Novel ini ditulis dengan riset mendalam hingga kita bisa merasakan apa yang dialami oleh Hajar.

Jika kau tak menangis … Maka koreksilah hatimu! Apakah sudah membatu ?

Jika kau menderita seperti Hajar, apakah yang akan kau lakukan ? Ya, kita mengenal Hajar sebagai seorang istri Nabi Ibarahim. Air zamzam dan Mekah adalah tanda kehadiran dirinya. Tapi, apakah kau tahu penderitaan dan pengorbanannya ? Apakah kau tahu rahasia hatinya ?

Sibel Eraslan, perempuan penulis asal Turki telah menulis novel ‘Serial The Greatest Women’, dengan tokoh perempuan luar biasa yang tercatat dalam Al Quran dan sejarah kemanusiaan. Dia juga menulis kisah Maryam ibunda Nabi Isa, Asiyah ibunda angkat Nabi Musa, Khadijah istri Rasulullah SAW, dan Fatimah putri Nabi Muhammad SAW, sebagai perempuan penghulu surga. Novel Hajar dan Aisyah juga ditulis oleh Sibel untuk membuka cakrawala pembaca akan hadirnya perempuan terpilih yang menjadi teladan bagi kita.

Sibel Eraslan penulis dengan latar pendidikan hukum dari Universitas Istanbul dan giat dalam bidang hak asasi manusia.

Penulis kelahiran di Uskudar, Istanbul tahun 1967. Dia juga menjadi kolumnis di koran Star, menulis di majalah Teklif, Imza, Dergah, Mostar, dan Heje.  Sibel piawai lagi mampu menyelami era masa lalu, kemudia menceritakannya dengan kekuatan kata-kata hingga kita bisa merasakan apa yang dialami oleh Hajar, Nabi Ibrahim dan para sahabatnya hidup dan berjuang demi agama yang mulia.

Novel setebal lebih dari 400 halaman ini beralur maju dengan beberapa flashback yang mengikuti kisah kehidupan Hajar. Kata ganti orang pertama tunggal “aku” digunakan pencerita, artinya Hajar sendiri yang menceritakan kisahnya. Menarik … Meski ada beberapa bagian yang penceritanya adalah Sarah dan Nabi Ibrahim. 

Yuk! Ikuti kisah Hajar dengan seksama.

Penerbit novel ini Kaysa Media, Depok, Jawa Barat. Aku membeli di toko buku Gramedia, cetakan original. Aib dan pantang membeli karya bajakan ya teman-teman.

Kisah memilukan menjadi awal yang mengoyak hati, negara tempat Hajar bermukim sebagai putri kepala suku diserang dan dihancurkan pasukan Raja Awemeleh. Kehidupan Hajar berubah drastis. Tak ada kebahagiaan. Tinggallah kesedihan dan penderitaan. Di tengah kondisi tersebut hadir sosok Sarah dan Nabi ibrahim, menjagi titik balik kehidupannya. Tentu kita ingat kisah Sarah dan Raja Awamelah yang gagal total -tak berhasil melecehkannya karena pertolongan Allah Yang Maha Baik lagi Maha Mulia. Bahkan, raja zalim itu malah mengusir Sarah dan memberikan Hajar kepadanya.

Bagai ada batu menimpa dada. Sesak ketika membaca halaman 104 – 109. Begini kisahnya.

Peperangan yang dilancarkan oleh raja tidak hanya bertujuan menaklukkan suatu daerah dan merampas semua harta kekayaan. Melainkan juga mendatangi laki-laki dan perempuan yang siap menjadi pengantin bagi warga istana. Keadaan ini sangat mengerikan. Entah cepat atau lambat akan mengantar mereka kepada kehancuran karena fitrah pernikahan tidak ditegakkan.

Para perempuan tawanan itu lebih dahulu dihadapkan kepada raja untuk dipilih yang paling cantik, yang paling disukai oleh raja. Setelah itu mereka akan dihadapkan kepada para pejabat istana. Para pejabat istana itu akan memilih siapa saja yang mereka suka. Kemudian setelah bosan, mereka akan menggantikannya dengan yang lain, memberikan yang ada kepada pejabat lainnya.

Sungguh, kehidupan yang sangat biadab. 

Sayangnya, kekuasaan raja telah membenteng kebiadaban itu. Rakyat tidak boleh tahu, dan seandainya tahu pun, rakyat dibuat tidak memiliki kekuatan untuk memperingatkannya.

“Engkau,” katanya kepadaku dengan penuh kelembutan disertai embusan rasa empati dan kasih sayang.

“Engkau pasti putri salah seorang raja. Siapakah namamu ?”

“Saya putri dari Bani Sana’a. Satu-satunya orang yang masih hidup dari Kabilah Col Mirler. Nama saya Hajar.”

Perjumpaan Hajar dengan Sarah adalah jalan keluar yang disiapkan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa. Jalinan kata, kalimat, membentuk paragraf yang indah mampu dirangkai oleh Sibel. Aku pun semakin terhanyut meluncur dalam dengan kisah ini.

“Setiap ujian yang diberikan oleh Allah kepada kita tentulah ada alasannya. Karena itu, setiap ujian sebenarnya adalah kesabaran kita. Sesungguhnya keteguhan, keyakinan. cinta dan kasih sayang kitalah yang sedang diuji. Pastilah Allah yang telah mengirimkan kita ke sini memiliki tujuan yang hanya Dia ketahui sendiri. Allah sekali-kali tidak akan pernah membiarkan istri utusan-Nya dihinakan oleh orang. Nabi Ibrahim selalu bersama kita. Karena itu, janganlah merasa khawatir. Jangan sampai nyali kita menjadi ciut. Teguhkan keyakinanmu!”

Tidak hanya aku yang terkagum-kagum dengan Sarah, tapi juga semua perempuan yang ada di Asrama Harem terheran-heran saat melihatnya. Mereka langsung berlarian mendekatinya seperti berlariannya anak-anak mendekati sumber cahaya.

Raja zalim pun tak mampu menghinakan Sarah yang mulia.

Lalu Hajar mengikuti kemana Sarah dan Nabi Ibrahim diperintahkan untuk berdakwah. Hajar diminta Sarah untuk menikah dengan suaminya. Hati Hajar bergejolah.

Apakah kini aku telah menjadi seorang pengkhianat bagi seorang perempuan yang sebelumnya aku terikat dan setia kepadanya ? Namun, seperti apa pun kenyataannya, aku adalah seorang perempuan yang kini telah resmi secara agama menjadi istri dari suaminya dengan ikatan cinta dan pernikahan yang suci. 

“Selamat datang di rumahmu, Hajar! Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepadamu.” 

Duhai, Allah, bukankah ini benar-benar suara adalah suaranya Nabi Ibrahim ?

Sarah dan Hajar, ibarat dua bandul timbangan pada dua sisi yang berbeda, namun berfungsi saling mencapai keseimbangan.

Sarah di depan, sementara aku di belakang. Dia berada di barisan paling depan, aku paling belakang. Dia ibarat siang, sementara itu aku adalah malam. Dia matahari, sementara aku bulan. Kehidupanku setelah itu telah tertata seimbang dengan sendirinya. Berjalan berdampingan dengan Sarah dalam keseimbangan, kesepahaman, dan keutuhan yang selalu dimaklumi dan dijaga bersama.

Hikmah ketangguhan dan keteguhan hati dari Hajar, aku temukan di halaman 342 – 384. Begini kisahnya … Tapi tunggu sebentar … Airmataku luruh menganak sungai di pipi dan jatuh membasahi pangkuan. Terisak … Tapi mari kita lanjutkan. Aku membaca novel ini secara marathon, tak terhentikan. Duduk bersila di kursi tua berumur lebih dari 50 tahun.

Hajar ditempatkan di lembah tandus tanpa air. Ismail adalah segalanya : arah kehidupan bagiku. Sejatinya, dirikulah yang berada dalam dekapan Ismail. Sejatinya, dirikulah Hijr Ismail. Aku termenung menahan pedih entah untuk berapa lama, sejak Nabi Ibrahim berlalu pergi.

Hatiku tersentak oleh tangisan Ismail yang begitu menyayat hati. Aku harus segera bangkit. Aku harus segara berbuat sesuatu. Sungguh, dalam hamparan gurun pasir tak berpenghuni ini hanya ada aku dan Ismail. Iya, demi anakku, meskipun hanya untuk seteguk air, aku akan rela melakukan apa saja. 

Seketika itu pula terlintas dalam benak pikiranku untuk naik ke atas bukit. Aku berharap dari ketinggian itu dapat melihat sekeliling jika saja ada orang di kejauhan untuk mendapatkan pertolongan dari mereka barang seteguk air saja. Duhai, Allah! Sungguh, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mendapatkan air!

Duhai, Allah! Berikanlah kekuatan kepadaku dan juga kepada putraku! Dengan menyebut asma Allah aku mulai mencari air. Berlari dan berlari. Berharapk dan selalu berharap ada air.

Sungguh, Engkau adalah Tuhan bagi mereka semua. Tuhan kami semua. Sungguh, kami dan mereka tidak memiliki siapa-siapa selain dari-Mu. Sungguh, Engkau adalah Tuhan semua orang yang ringkih lagi menderita. Sungguh, Engkau adalah Penolong dan Penyelamat segala kepedihan dan bencana yang kami derita.

Tak tahan isakku memburamkan mata. Tulisan di lembar-lembar terakhir novel bagai tersaput kabut. Memburam. Ku usap sejenak hangatnya airmata. Hela nafasku dalam … Agar kembali tenang. Merenungkan kisah Hajar sebagai ilmu.

Oya … Sibel menulis kata indah di lembar pertama novelnya. With prayer from our grandmother Hadreti Haur who awaits us near Zamzam … With salam to my fellow readers in Indonesia.

Tanda tangan penulis pada halaman pertama. Tertulis salam untuk para pembaca setia di Indonesia.

Hajar adalah pergerakan, rasa penasaran, khayalan, cinta untuk melakukan perjalanan yang akan membuat kaki-kaki kuda pun bersimpuh lelah.

Ketahuilah, Hajar adalah kecepatan angin, dan aksi. Dialah penghubung yang menghubungkan al-Quds dan Mekah bersama Ismail. Hajar adalah bukit Shafa dan Marwa. Hajar adalah ibunda Ismail dan juga Zamzam, pemilik sumur suci, ibunda yang menghilangkan seluruh kehausan. Sungguh, Hajar adalah sumurnya cinta, pancurannya cinta. Kenangan tentang cintanya akan menjadi perantara bagi hilangnya rasa haus setiap orang sampai datangnya hari kiamat. Sungguh, sumber air itu adalah pertanda kehidupan surga. 

Inilah Hajar, pendiri Mekah yang kelak akan menjadi al-Mukarramah. Hajar dan Ismail adalah dua orang yang menjadi cikal bakal Baitullah. Di pinggir sumur Zamzam ini semua orang akan mengenang Hajar dan Ismail.

Bila kelak aku ditakdirkan lagi untuk kembali beribadah di tanah suci, menjalankan kembali Haji dan Umroh, tentu kisah ini akan semakin menguatkanku untuk meneladani Hajar, ibunda Nabi Ismail, dan nenek Nabi Muhammad SAW.

Aamiin ya Rabbal’alamin.

Nenekku, Pahlawanku

Standar

Pahlawan tak dikenal dan tanpa tanda jasa, berada di segala penjuru tanah air. Tak ada lencana tersemat di dada mereka, pun tak di kubur di taman makam pahlawan. Namun, jasa mereka tersemat di hati kami ‘orang-orang dekat’ yang mengenal dan mengenang mereka. Walau kubur mereka di tempat bersahaja di sudut desa, tetap saja Tuhan Yang Maha Kuasa akan memberi pahala surga-Nya.

Eni dan Aki berpose di depan rumah mereka yang asri.

Aku memanggil nenek dengan sebutan Eni. Lahir di tahun 1920-an, seorang perempuan hebat dari Kabupaten Kuningan. Di masa penjajahan Belanda, Eni bersekolah hingga bangku sekolah guru di sekolah yang didirikan Belanda. Perempuan dimasa itu tak banyak yang bersekolah, apalagi berkarir sebagai guru. Eni bahkan ditawari untuk melanjutkan sekolah ke Jepang, saat negera Sakuru itu menjajah Indonesia. Eni lebih memilih mengabdi di daerah Subang sebagai guru. 

Masa kemerdekaan telah hadir,setelah menikah Eni tetap menjadi guru di sebuah sekolah rakyat di desa Cigugur Kabupaten Kuningan. Ketekunan dan kecerdasannya menuntun Eni menjadi Kepala Sekolah dan berlanjut menjadi guru di SMP negeri di ibukota Kabupaten.

Sekolah tempat Eni mengajar adalah bangunan yang didirikan tahun 1918. Namun dari data yang ada, resmi kegiatan belajar mengajar dilakukan pada tahun 1951. Selain menjadi guru, Eni aktif sebagai penggerak organisasi wanita. Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Eni menjadi ketua GOW Kabupaten Kuningan.

Perhatian dan semangatnya memberikan keterampilan dan peluang kerja kepada perempuan di Kabupaten Kuningan mengantarkan Eni menjadi satu-satunya perempuan anggota DPRD Kabupaten Kuningan saat itu tahun 1970-an. Menurut Eni, menjadi anggota dewan adalah perjuangan, menjadi guru adalah perjuangan. Menjadi Ibu dan Istri dalam keluarga adalah perjuangan. Menjadi perempuan yang terdidik dan mampu mendidik sesama adalah perjuangan.

Kenanganku bersama Eni ketika masa taman kanak-kanak, aku tinggal di rumah Eni. Sesekali di ajak ke sekolah tempat Eni mengajar. Aku diperkenalkan kepada guru-guru di sekolah itu dan diajak masuk ke ruang kelas menyaksikan Eni mengajar murid-muridnya. Satu peristiwa yang sangat membahagiakan adalah sepulang dari sekolah aku diberi hadiah boneka ikan dari kain hasil karya murid-muridnya. Eni dan aku berangkat dan pergi naik delman dan aku pasti meminta duduk di samping Pa kusir. Eni mengajakku menyanyi lagu naik delman … 

Syairnya di gubah seperti ini : “pada hari ini ku diajak Eni ke sekolah, naik delman istimewa ku duduk di muka, ku duduk samping Pa Kusir yang sedang bekerja, mengendali kuda supaya baik jalannya … tuk tik tak … tik tuk … tik tak … tik tuk … “.

Aku pernah juga di ajak Eni mengunjungi gedung dewan dan diperkenalkan kepada teman-teman Eni yang hari itu sedang bersiap menjalankan rapat. Eni berkata menjadi anggota dewan bukan untuk bergaya atau gagah-gagahan. Bekerja di sini juga tak mengejar keuntungan pribadi karena memang tidak digaji (he3 … aku sempat tak percaya). Eni bilang namanya honor atau uang lelah. Wah … kalau Eni masih ada, apa komentarnya bila saat ini anggota dewan mendapat gaji, tunjangan, dan fasilitas mewah lainnya (mobil, rumah, seragam, dll). Saat itu, Eni tetap naik delman untuk berangkat dan pulang bertugas di gedung dewan sebagai satu-satunya anggota dewan perempuan.

Sesibuk apapun Eni, tetaplah seorang Nenek yang baik pada aku cucu pertamanya. Sore hari aku diajak ke alun-alun untuk membeli martabak dan hucap (makanan khas Kabupaten Kuningan : tahu, ketupat dengan bumbu kacang dan kecap). Kadang Eni menjemput aku di TK dan mentraktir es krim atau permen coklat. Bila akhir pekan, Eni mengajakku menemaninya membuat kue atau menjahit kebaya. He3 … aku selalu minta ditugaskan memecahkan telur. Rasanya asyik sekali, apalagi aku menjadi orang pertama yang mencicipi kue hasil karya Eni. Mmm … lezat ‘fresh from the oven’.

Selepas TK aku turut ke Jakarta menyusul Mamah dan Bapak dan bersekolah SD . Setiap libur sekolah, aku selalu minta di kirim ke rumah Eni. Bila tak ada yang mengantar, Eni akan datang dan menjemputku. Satu peristiwa yang berkesan lainnya adalah saat Eni mengajariku menulis naskah pidato dan membimbingku cara-cara berpidato yang baik. Wuih … Eni benar-benar orator ulung. Suaranya lantang, tegas, dan menarik sekali ekspesi wajahnya. Pantas saja Eni sering diminta untuk menyampaikan aspirasi dari berbagai organisasi perempuan di gedung dewan. Aku sangat terinspirasi.

Saat ada lomba pidato di sekolahku, aku memberanikan diri mendaftar. Peserta rata-rata sudah kelas lima dan enam, aku sendiri anak kelas dua yang ikut serta. Alhamdulillah … Aku menjadi juara dua. Wali Kelasku senang sekali dan sering menunjukku untuk berpidato saat ada perayaan hari besar di sekolah. 

Ibu Enah Rokaenah, Eni tersayang adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tak dikubur di taman makam pahlawan. Namun, Eni adalah pahlawan bagiku. Semoga Allah SWT memberikan pahala surga-Nya terindah … amin.

Catatan kecil yang ku ingat tentang rumah Eni dan Aki

Kagumku pada Nenek, yang biasa ku panggi Eni. Tahun 70-an aku masih balita. Eni sering mengajakku ke sekolah tempatnya mengajar. SMP di sebuah kota kecil di kaki gunung Ciremai. 

Rumah Eni besar sekali. Kamarnya ada 3 di bagian utama dan 2 di bagian faviliun. Ruang tamu dan ruang keluarga bersambung hingga ruang makan. Taman depan ditanami berbagai jenis pohon. Ada cengkeh, rambutan, kelapa gading, jeruk, dan mangga. Bunga warna-warni seperti bougenville, kenanga, mawar, kembang sepatu, asoka, dan alamanda.

Dapur di rumah Eni ada dua. Di ujung belakang ada dapur yang masih menggunakan kayu bakar. Tunggu terbuat dari tumpukan batu bata. Perabot masaknya besar-besar. Ada dandang dengan kukusan berbentuk kerucut dari anyaman bambu. Kuali besi dan spatula kayu. Bangku kecil untuk duduk memasak. Nampan dari bambu digunakan untuk mengolah nasi yang sudah masak, dibolak-balik dan dikipasi agar uapnya hilang. Dapur satu lagi lebih dekat dengan ruang makan. Di sana ada oven dan kompor minyak tanah. Loyang-loyang alumunium untuk alas membakar kue. Toples-toples kaca berbagai ukuran. Eni memang pandai memasak dan membuat kue.

Kostum Eni unik loh! Selalu menggunakan kain batik dan kebaya yang dijahit sendiri dengan rambut disanggul. Eni punya sebuah mesin jahit dan sekotak benang berwarna-warni serta cadangan jarum dan gunting. Aku senang melihat Eni membuat pola, menggunting kain untuk kebaya, dan menjahitnya. Kaki Eni lincah menggenjot pedal dari besi, seperti naik sepeda tapi satu kaki saja he3 … Tangannya juga asyik bergerak memutar sebuah lingkaran di sisi kanan mesin jahit, seperti stir mobil. Lalu berpindah meluruskan kain agar hasil jahitannya rapi. Wuuuiiiihhh … Sungguh pemandangan yang menakjubkan untukku.

Kain batik yang diwiru sendiri oleh Eni. Lipatannya tujuh buah. Katanya itu harus ganjil, bisa lima, tujuh atau sembilan. Ada juga sih yang bisa sebelas lipatan, tapi pasti itu pemilih tubuh super langsing. Karena wiru mengurangi panjang kain kan ? Aku pernah melihat Eni mencuci kain batik menggunakan lerak. Tak ada busa saat mencuci, hanya sedikit saja gelembung dibaskom. Mengucek sebentar lalu dijemur di tempat yang sejuk tidak terkena cahaya matahari langsung. Kain batik tulis memang harus diperlakukan sangat halus, kata Eni.

Di bagian belakang rumah ada sebuah sumur dan pelataran terbuka untuk mencuci baju dan peralatan dapur. Ada taman kecil yang terlihat dari ruang tamu. Aku ingat betul di taman itu tumbuh bunga mawar kuning yang selalu lebat berbunga. Bila sedang bermain masak-masakan, aku suka memetik bunganya. Ada sebuah ruangan yang dijadikan gudang oleh Aki. Isinya tong besar berisi minyak tanah dan peralatan kebun. Oya … Aki adalah seorang pedagang, pemilik apotek, dan kebun cengkeh.

Berlibur di rumah Eni sangat menyenangkan. Aku diijinkan menyetel kaset lagu sunda -degung sebagai pengiring gerakanku menari. Tarian mengarang sendiri, suka-suka ha3 … Eni mengajakku menyiram bunga di sore hari, sambil sesekali diseling bercerita apa saja, yang entah mengapa selalu membuatku terpesona. Sepertinya bukan ceritanya, tapi cara Eni bercerita itu yang sungguh menarik.

Eni juga mengajariku menata meja makan. Ya … Tentu saja Eni ahlinya, karena lulusan sekolah kepandaian putri. Piring, sendok-garpu, serbet, gelas, dan mangkuk-mangkung atau lodor -piring berbentuk oval di tata apik di meja makan. Hiasan bunga segar di vas dirangkai dari bunga kebun sendiri.

Lebaran adalah saat yang menyenangkan. Eni akan mengelurkan koleksi kue kering buatannya sendiri, banyak sekali toples bening berjejer di meja tamu dan ruang keluarga. Bolu marmer -marmer cake adalah favorit cucu-cucu Eni. Lembut dan wangi butter sangat menggoda. Lelah berjam-jam saat mudik menyusuri jalur pantura, terbayar lunas karena di rumah Eni kami bisa berkumpul bersama para sepupu. Bergembira dengan sajian kuliner yang semuanya sedap karya Eni tercinta.

Refleksi Hari Ibu, Hari Perjuangan Perempuan

Standar

Bercermin pada sejarah 83 tahun lalu. Kongres Perkoempoelan Perempoean Indonesia pada tanggal 22 Desember 1928 di Yogyakarta yang diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari seluruh Indonesia. Kongres ini menurut pandangan saya adalah bentuk ‘pemberontakan kecil’ kalau tak ingin disebut sebagaiungkapan rasa kecewa terhadap Kongres Pemoeda yang menghasilkan Soempah Pemoeda pada tanggal 28 Oktober 1928. 

Perempuan pelopor yang menjadi panitia pelaksana Kongres Perempuan Indonesia I 928 dan ikut dalam deklarasi Sumpah Pemuda 1928 antara lain Soejatin, Nyi Hajar Dewantoro, Sitti Sundari dan lain-lain. Merekalah inisiator dan penggerak Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928. Organisasi yang mengikuti Kongres di antaranya adalahPutri Indonesia, Wanito Tomo, Wanito Muljo, Wanita Katolik, Aisjiah, Ina Tuni dari Ambon, Jong Islamieten Bond bagian Wanita, Jong Java Meisjeskring, Poetri Boedi Sedjati, Poetri Mardika danWanita Taman Siswa. 

Pandangan konservatif telah membatasi perjuangan perempuan hanya dalam ruang sempit bernama keluarga, tetapi sesungguhnya pandangan tauhid, paradiqma kesetaraan manusia dan keadilan, memberikan peluang kepada perempuan untuk melakukan perjuangan dalam ruang-ruang sosial, budaya, ekonomi, agama dan politik.

Perjuangan membangun kebersamaan dan tanpa diskriminasi, menegakkan keadilan dan menghapus segala bentuk kezaliman. Perjuangan keadilan bagi perempuan tentu tidak melulu untuk perempuan, tetapi juga untuk kehidupan yang adil, kedamaian, kesejahteraan bagi semua, perempuan dan laki-laki. 

Menurut Nasaruddin Umar dalam kepemimpinan harus mendahulukan sifat rujuliyyah / maskulin yang dibisa dimiliki oleh laki-laki atau perempuan daripada sifat nasawiyyah / feminine yang juga bisa dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Sepakat dengan pemikiran Muhammad Abduh dan Abdullah Yusuf Ali, bahwa sifat maskulin adalah qawwam . pemimpin, pengayom, pengelola, penguasa atau penanggung jawab bagi sifat feminine.

Jelaslah bahwa kesetaraan hak perempuan dan laki-laki dalam wilayah politik baik terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Baik sebagai pemimpin maupun rakyat biasa, tidak berdasarkan jenis kelamin, melainkan pada kemashlahatan publik. Kepemimpinan menuntut kualifikasi keahlian, keterampilan, dan prestasi dari pemimpin.

Sehingga kepemimpinan perempuan sama halnya dengan kepemimpinan laki-laki telah memiliki landasan teologis yang afirmatif dan jelas. Perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk terlibat dalam urusan politik. 

Oya, kembali kepada judul 22 Desember Bukan Hari Ibu : Tapi Hari Perjuangan Perempuan Melawan Ketidakadilan, karena tak semua perempuan adalah seorang Ibu, bisa saja dia seorang anak-anak, gadis remaja, perempuan lajang, juga janda. Maka kurang tepat dan jauh dari esensi perjuangan perempuan melawan ketidakadilan, bila hari Ibu diperingati dengan lomba memasak, berkebaya, atau sesuatu yang dinisbatkan kepada pekerjaan domestik dan diidentikan kepada tugas perempuan di rumah. 

Seharusnya semangat Kongres Pertama itulah yang terus kita perjuangankan. Faktanya, di era kekinian perempuan dan berbagai permasalahannya seperti kesehatan reproduksi, keselamatan ibu hamil dan melahirkan, HIV/AIDS, poligami, perkawinan di bawah tangan pada kelompok perempuan marjinal, pelacuran, tingkat pendidikan yang rendah, kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga, perdagangan perempuan dan anak, upah dan hak-hak pekerja perempuan, akses terhadap kebijakan publik, minimnya perempuan di parlemen dan pemimpin perempuan masih harus diangkat dan dibahas untuk kemudian dicarikan jalan keluarnya. 

Penilaian kritis terhadap Pemilu tahun 1999, 2004 dan 2009 belum mencapai hasil optimal dalam hal keterwakilan perempuan di lembaga legislatif baik di tingkat daerah (Provinsi, Kota / Kabupaten) maupun di tingkat pusat. Kita harus terus bersama-sama mendesakkan, melakukan tawar menawar dengan partai politik peserta Pemilu 2014 untuk menempatkan perempuan sebagai calon anggota legislatif potensial dan promosi optimal. Partai politik harus memiliki kerelaan untuk melakukan tindakan afirmatif dengan prioritas tinggi bagi perempuan.

Hal penting lainnya adalah adanya jaminan penegakan hukum yang mempunyai komitmen dan konsistensi dalam menerapkan peraturan non-diskriminatif terhadap perempuan. Di sisi lain, sebenarnya esensi perjuangan perempuan bukan hanya satu-satunya lewat menjadi anggota legislatif. Aktivitas penting lainnya adalah partisipasi politik yang dipahami dengan baik oleh perempuan.

Partisipasi politik lebih kepada kegiatan sukarela dari warganegara yang bertindak secara pribadi-pribadi dengan maksud ikut terlibat dalam tata kelola pemerintahan sejak perencanaan sampai pengawasan, serta ikut aktif mempengaruhi pembuatan kebijakan. Partisipasi politik bukan hanua sama banyak secara kuantitas dalam lembaga pengambil kebijakan. Tentu hal ini masih memerlukan banyak kajian, pemberdayaan, dan diskursus setara.