Silaturahmi Bersama Bu Marti, Penuh Kehangatan dan Keakraban

Standar
Artikel di blog ini adalah kumpulan tulisan yang akan dibukukan oleh Keluarga Bani Tafsir Anom V.

Penulis : Abu Bakar Akbar

Setelah menempuh perjalanan Solo-Bandung dengan kereta api dan menginap semalam, Saya dan Ibunda Sirriyah dilanjutkan perjalanan Bandung-Jakarta dengan mobil. Sampailah kami dikediaman Ibu Marti, di Cirendeu Jakarta Selatan. Perjalanan ini menyita waktu dan tenaga sehingga Ibunda kami kelelahan dan dipersilahkan istirahat sejenak di kediaman Ibu Marti. Sebagaimana biasanya, Ibunda akan pulih kondisinya setelah beristirahat.

Dalam berbagai kesempatan baik dengan Ibunda atau dengan anggota keluarga yang lain kami beberapa kali singgah walau sejenak di Cirendeu. Karena Ibu Marti adalah sepupu Ibunda yang akrab, maka pembicaraan cair mengalir. Ibunya Ibu Marti yakni Eyang Marfu’ ah dengan Ibunya Ibunda Sirriyah yakni Eyang Marhamah, kakak beradik nomor 9 dan nomor10 dari 10 bersaudara putra Eyang Tafsir Anom V.

Disamping kedekatan silsilah, ternyata kedekatan masa kecil mewarnai persahabatan Ibunda Sirriyah dan Ibu Kusmartiah (demikian nama lengkap Ibu Marti). Ibunda biasa memanggil dengan Yu Marti, panggilan Mbakyu disingkat dengan Yu, dalam Bahasa jawa yang ditujukan kepada wanita yang lebih tua umurnya atau lebih tua urutan silsilahnya.

Kedekatan keduanya pernah diceritakan dimasa kecil, Ibunda kadang tidur siang di kediaman Ibu Marti di Kauman, kampung di sebelah Barat Kraton Kasunanan,  sementara Ibunda tinggal di Danukusuman, kampung di sebelah Selatan Kraton.

Saling memberi kabar keluarga adalah hal yang lazim dilakukan, demikian pula dalam suatu kesempatan berjumpa dengan Ibu Marti ditahun 2019. Ahad pagi kami singgah di kediaman beliau.

Bu Marti dan Pak Hardjono tampak sehat dan bugar diusia yang telah melewati 80 tahun. Masyaallah …

Dengan ditemani adinda Pak Azis dan Ibu Endah, kami bersilaturahmi. Senang sekali dapat bertemu  Ibu Kusmartiah dan Bapak Hardjono dalam keadaaan sehat. Ibu Marti dikarunia 5 (lima) putra, 3 (tiga) pria dan 2 (dua) wanita. Dan darinya telah dikaruniai cucu dan cicit. Keluarga besar Ibu Marti rutin mengadakan kegiatan mengaji  dalam suatu kesempatan kami pernah hadir di kediaman anak ke-2, mbak Titi selaku penyelenggara kegiatan.

Kedekatan dengan Ibu Marti mungkin karena gaya bicara yang mirip dengan Ibunda yang orang sering katakan  akrab dan hangat. Pada kesempatan Ahad pagi Ibu Marti bercerita tentang perjuangan beliau selesaikan pendidikan strata satu (S1) Bahasa Inggris di IKIP Rawamangun Jakarta. Dengan dorongan yang luar biasa dari Pak Hardjono yang menyatakan ada kesempatan menempuh jenjang sarjana bagi guru SMA. Walau awalnya tidak berminat mengingat usia yang sudah tidak muda lagi, sehingga tentu ada berbagai kebatasan.

Salah satu keterbatasan adalah mobilitas fisik, mengingat jarak antara tempat beliau mengajar dengan kampus tidaklah dekat, belum lagi padatnya penumpang kendaraan umum yang menjadi tantangan tersendiri, dalam berbagai kesempatan ada penumpang yang memberikan tempat duduknya. Namun dalam beberapa kesempatan kacamata beliau tidak ada ditempatnya. Penuh sesaknya penumpang bis kota, menyebabkan kacamata Ibu Marti terjatuh di dalam bis kota beberapa kali. Alhamduliilah perjuangan membuahkan hasil Ibu Marti selesai menempuh pendidikan dan diwisuda sarjana di IKIP Rawamangun Jakarta.  

Tinggal di Jakarta, ibu kota negara tentu berbeda dengan kota-kota di Indonesia. Disamping luas wilayah dan kepadatan penduduk maka biaya hidup menjadi pembeda bagi penduduk yang tinggal di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Ibu Marti dalam kesempatan silatuahmi itu menceritakan tentang harapannya kepada 5 (lima) putranya untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, Alhamdulillah harapan itu terwujud.

Yang menarik adalah selama masa pengabdiannya sebagai guru Bahasa Inggris ternyata karena banyaknya siswa maka tanpa disadari ada putra beliau yag menjadi murid di kelas. Juga ada keponakan dan kerabat. Mas Koko dan Mas Uut, sulung dan bungsu di SMAN 70 sedangkan Mbak Titi, mak Nurul dan Mas Taufiq di SMAN 6 Jakarta.

Sebelum tinggal dan dinas di Jakarta, Ibu Marti pernah menjadi guru di Nahdatul Muslimat, sekolah Islam di Kauman. Salah satu siswa beliau adalah Ibu Ma’rifah binti Abdul Salam (Ibu Basit). Kedua beliau dalam kesempatan yang berbeda saling mengenang. Ibu Marti mengenang ibu Basit sebagai murid yang cerdas, sebaliknya Ibu Basit mengenang ibu Marti sebagai pendidik memberi bekal kemampuan berbahasa Inggris  yang memadai sehingga membekas sampai memberanikan diri terbang sendiri dari Denver ke Washington. Disamping Ibu Basit terus mengasah kemampuan berbahasa Inggrisnya di Klub Bahasa Inggris selepas pendidikan dari NDM.

Ibu Marti sudah pensiun sejak 1993, disamping putra dan putri beliau ada Mas Zaen bin Abdul Hadi Adnan dan Mas Rasydi bin Najib Issom yang pernah menjadi murid beliau, Barokalloh.

Bu Marti dan Pak Hardjono.
Eyang Marfu’ah anak ke-9 dari Eyang Tafsir Anom V.
Eyang Marhamah anak ke-10 (bungsu) dari Eyang Tafsir Anom V.
Mbak Titi menjadi ketua kelas Tahsin Akhwat BTA V yang senantiasa berusaha meneladani poro pini sepuh dalam mencintai Al-Quran. Barakallah …

Bersyukur dalam masa pandemi Covid-19 justru diberikan kemudahan untuk melaksanakan kegiatan tahsin melalui Zoom Meeting. Tampak dalam gambar ada Mbak Ira, Mbak Salmah, dan Mbak Ina istri Mas Nurhadi anak-anak dari Pak Bachit Issom. Oya … Mbak Ina yang mengajar tahsin akhwat dan Mas Nurhadi mengajar tahsin ikhwan.

Hadir juga Mbak Susi anak dari Pak Choesni. Senangnya bisa sambung silaturahmi dengan adanya tahsin ini seperti hadir juga Mbak Fitri anak Pak Nadjib Issom. Mba Nurul, Mbak Tetty anak Pak Tsabit Issom dan Mbak Yani serta Mba Win para ipar mereka. Serta adik-adik ipar saya Mbak Iin istri Pak Umar, Mbak Dewi istri Pak Aziz, dan Mbak Endah istri Pak Amir. Bahkan sesekali ada Nisa anak Pak Umar dan Affi anak Pak Amir juga ikut serta dalam kegiatan tahsin ini.
Monggo bagi kerabat BTA V (khusus akhwat) yang memiliki keluangan waktu bisa bergabung setiap hari Ahad ba’da Ashar. Bisa japri wa. Dewi 081286351123 untuk diinvite di WhatApps Group.

Baca juga artikel ini :

Kisah Perjalanan Ibadah Haji Abdul Hayi Adnan Tahun 1989 (1409 Hijriyah)

Standar
Artikel dalam blog ini akan dijadikan buku kenangan keluarga Bani Tafsir Anom V.

(Catatan: Ketika kemarin bongkar-bongkar dokumentasi, saya menemukan surat Mas Hayi almarhum, yang menceritakan pengalaman beliau ketika menunaikan ibadah haji pada akhir tahun 80-an.  Para ahli waris tentunya sudah mendapat cerita ini secara lisan, tapi tidak secara tertulis.  Mudah-mudahan salinan surat beliau ini bermanfaat, tidak saja bagi para ahli waris, tetapi bagi kita semua. Amin. –ana) Abdul Nur Adnan.

MENUNAIKAN IBADAH HAJI

Oleh: Abdul Hayi Adnan (alm.)

Keterangan foto tidak tersedia.
Suasana Masjid Nabawi.

Kami mendaftarkan haji pada akhir bulan Ramadhan 1409 Hijriyah (1 Mei 1989) sesudah kami menerima persekot rumah Babadan.  ONH dari Indonesia 1989 sebanyak Rp. 5.150.000.  Menurut cerita orang yang sudah biasa ke luar negri ongkos sekian itu sangat mahal bila dibandingkan ongkos perjalanan biasa ke AS atau ke negeri lain.  Belum lagi ada tambahan ongkos-ongkos pakaian seragam, penataran manasik haji, dll. 

Kata orang lebih murah naik haji dari AS daripada dari Indonesia.  Bagaimana pun kalau kenyataannya sudah begitu, dan sudah niat mau haji ya harus ditempuh.  Rombongan haji DIY dan Klaten diberangkatkan ke Jakarta tanggal. 10-6-1989, dan bermalam di asrama haji Pondok Gede 2 hari.

Dinihari pukul 2.45 WIB, tanggal 12-6-1989 dengan pesawat Garuda Boeing 747 rombongan kloter V (DIY, Klaten, dan sebagian Jakarta) diberangkatkan ke Jeddah.  Menurut  keterangan, 1 kloter terdiri dari kurang lebih 500 orang.  Saya tidak tahu apakah pesawat Boeing 747 jika dimuati 500 penumpang itu “overweight” atau tidak.  Yang terang tempat duduknya sangat berdempetan.  Tapi nampaknya Garuda berusaha melayani para haji itu dengan baik di bidang lain.  Kami dibekali koper, tas tentengan, payung, dan semprotan sebelum berangkat, dan ternyata payung dan semprotan itu sangat berguna di Arab Saudi. 

Tiba di Bandara Jeddah Menuju Kota Madinah

Akhirnya, pesawat mendarat di King Abdul Aziz airport pukul 9.00 waktu setempat pada hari yang sama.  Di bandara ini kami harus menunggu datangnya bus yang akan mengangkut kami ke Madinah selama 6 jam.  Selama menanti, kami duduk-duduk, berbaring di atas babut yang disediakan Pem. Arab Saudi, dan pada waktunya sholat kami sholat jamaah di tempat yang disediakan.  Tempat tunggu itu semacam kemah besar dan tinggi serta terbuka.  Karena itu, mulailah terasa angin panas yang bertiup sepoi-sepoi kering ke dalam tenda.  Baru kira-kira pk. 16.30 kami diberangkatkan ke Madinah.

Tiba di Madinah 13-6-1989 pukul 4.00 dinihari.  Sebenarnya Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Arab Saudi sudah berusaha meningkatkan pelayanan Jamaah Haji, namun sering jamaah itu sendiri tidak sabar.  Ini nampak ketika bus berhenti di tempat pemondokan dan ketika panitia sedang berusaha mengatur penempatan jamaah di kamar-kamar, para jamaah sudah lari menyerbu kamar-kamar pondokan untuk mencari tempat yang dianggapnya paling baik.  Di sinilah saya terpaksa dengan nafas terengah-engah menaiki tangga ke kamar di lantai 4 (tidak ada elevator) dan sebelum sampai sudah tidak kuat, ndheprok di lantai 2.  Sesudah itu terpaksa harus istirahat beberapa hari.

Kerja kami di Madinah berusaha sebanyak mungkin untuk dapat berjamaah sholat fardhu 5x setiap hari, bahkan kebanyakan orang berusaha untuk mencapai 40x jamaah (sholat arba’in).  Saya tidak bisa mencapai itu karena kesehatan yang tidak mengizinkan.  Di samping itu, waktu-waktu diisi dengan zikir, berdoa dan nderes Quran.  Tentu saja ketika pertama kali masuk Masjid Nabawi kami berziarah ke makam Nabi s.a.w. dan ke Raudhah (maqam mustajab, yakni bagian masjid, yang kalau kita mau berdoa di situ mudah dikabulkan Allah). 

Kami sangat terharu ketika pertama kali masuk Masjid Nabawi, tidak terasa  air mata meleleh bercucuran, terbayang bagaimana perjuangan rasul ketika tiba berhijrah di Madinah, mendapat sambutan yang baik sekali dari kaum Anshar.  Dari hari ke hari makin banyak jamaah  dari berbagai penjuru dunia yang datang sehingga masjid pun makin hari makin berdesakan  ketika berjamaah.  Jika kita ingin sholat shubuh, dan ingin mendapat tempat yang baik di dalam masjid (sampai ke raudah) kita harus datang awal-awal kira-kira pukul 2.00 (pagi).  Kalau ngepas hanya akan kebagian tempat di luar.

Pada suatu hari kami mendapat kesempatan untuk berziarah ke tempat-tempat bersejarah: Masjid  Quba (masjid yang pertama kali didirikan ketika Nabi tiba di Madinah), Masjid Qiblatain (beralihnya qiblat dari Baitulmaqdis ke Makkah), Bukit Uhud, dll.

Menuju Kota Makkah

Setelah 9 hari di Madinah, kami diberangkatkan lagi ke Makkah pada tanggal 22-6-1989 pukul + 01.00, dan tiba di Makkah pukul 08.00 pagi. Sopir Arab itu serba “baksis” (tip), tanpa baksis bus akan selalu mogok.  Busnya memang baik, ber-AC, dan jumlahnya cukup untuk menampung para hujjaj, tetapi toh orang-orang itu selalu berebut  dan tidak sabar.  Dari Madinah kami sudah memakai pakaian ihram meskipun sebenarnya miqatnya dari Bir Ali (10 km dari Madinah).  Sebetulnya di Bir Ali jamaah harus turun, mulai niat ihram, umrah dan mulai ihram.  Namun, berpakaian ihram sudah dimulai dari Madinah untuk menjaga mungkin sopirnya tidak mau berhenti di Bir Ali.  Betul juga, bus tidak berhenti di situ karena merasa rugi kalau harus belok dari jalan tol.

Suasana di pelataran Ka’bah Masjidl Haram.

Tiba di Makkah kami harus berebut kamar lagi.  Sebelum diizinkan masuk pondokan kami harus menunggu + 1 jam.  Di muka pondokan kami ditemui oleh  Dik Asbari (Asngadi putra almarhum Pak Badjuri Tegalsari).  Dia bekerja di Riyadh, tetapi selama musim haji memang aktif membantu jamaah haji.  Kami bahkan diberi minuman dan buah-buahan sebelum masuk pondokan (saya terpaksa harus doyan buah-buahan: apel dan jeruk sunkis kebanyakan). 

Memang di sini kita perlu  banyak minum dan makan buah-buahan  demi kesehatan fisik.  Akhirnya kami pun mendapat kamar di lantai 5 (alhamdulillah pondokan ber-AC dan ber-elevator) , tetapi kami 1 regu dipisah (ibu-ibu, termasuk Yu Dah di lantai 2, dan bapak-bapak di lantai 5).   Luas kamar 4×5 meter diisi 5 orang, sedang Yu Dah  luas kamarnya 4 x 4 meter diisi 6 orang.  Di Madinah kamarnya 2x luas kamar di Makkah sehingga regu kami 11 orang dapat masuk dalam satu kamar.  Semua tidur di atas kasur busa yang tipis.  Untuk makan setiap hari kami masak sendiri (dimasakkah oleh ibu-ibu), biaya ditanggung bersama secara beriur.  Namun, ketika kami pertama kali tiba di Madinah kami diberi jatah oleh Panitia berupa bahan makanan: beras, supermi, garam, gula, kopi, teh.

Persediaan air di Arab Saudi cukup melimpah.  Sore hari setelah tiba di Makkah kami menuju Masjidil Haram untuk melakukan tawaf dan Sai dalam rangka umrah sebagai bagian dari ibadah haji, dengan pemandu dik Asbari dkk.  Selesai itu kami bercukur (tahallul), dan setelah  sholat Magrib kami pulang ke pondokan dan menanggalkan pakaian ihram, kembali dengan pakaian biasa.  Acara kami sehari-hari hampir sama dengan acara di Madinah.  Hanya saja di Makkah ada tambahan kegiatan umrah sunnah, sekiranya badan kuat.  Di Madinah ketika kami tiba panasnya antara 48-50 derajat Celsius.  Awal di Makkah masih sama, tetapi sedikit demi sedikit panas mulai naik, dan sampai puncaknya di Arafah dan Mina, panas mencapai 56-58 derajat Celcius.

Pemondokan jamaah haji Indonesia sekarang diurusi oleh muassasah, yakni asosiati para syeikh.  Demikian juga pengaturan perjalanan selama di Arab Saudi, sedangkan masalah ke dalam dan ibadah diurusi oleh TPHI (Tim Pembimbing Jamaah Haji), TKHI (Tim Kesehatan), TPIH (Tim Pembina Ibadah Haji) tingkat Pusat dan Daerah. Kerja Tim itu yang kami nilai paling baik ialah TKHI.  TPHI-nya dalam saat-saat jamaah memerlukan bimbingan sering kebingungan, sedang TPIH-nya dalam memberi penerangan manasik haji nampak kurang koordinasi sehingga kadang-kadang keterangan yang diberikan A berlawanan dengan yang diberikan B.  Ini dapat membingungkan jamaah dalam menentukan pelaksanaan ibadah.  Namun, dibandingkan dengan sistem Syeikh dulu, yang ini sudah lebih baik, kata mereka yang pernah haji 2-3 kali.

Berangkat Ke Arafah Untuk Wukuf

Kami diberangkatkan ke Arafah tanggal 8 Dzulhijah, bermalam di Arafah 1 malam, sedangkan esoknya tanggal 9 Dzulhijjah wuquf di Arafat, berhenti di Arafah sesudah zawal (waktu dhuhur), tafakkur, zikir, dan berdoa.  Tempat ini juga merupakan maqam mustajab.  Di sini saya juga mendoakan Pak Nur dan saudara-saudara yang lain, semoga mereka kelak dapat juga datang ke tempat ini (Tanah Suci) untuk melaksanakan rukun Islam yang ke-5. 

Malamnya (sudah masuk tanggal 10 Dzulhijah) kami diberangkatkan lagi ke Muzdalifah, mabit dan mengambil krikil untuk lempar jumrah.  Baru + 1/2 km meninggalkan Muzdalifah bus yang kami tumpangi mogok.  Di sinilah kami merasa sangat lelah, kemrungsung karena sudah menunggu 2 jam busnya belum jalan, bahkan sopirnya menghilang sehingga kami pun terpaksa menumpang bus Turki yang kebetulan lewat, dan biayanya sampai ke Mina 10 riyal seorang. 

Kegiatan Lempar Jumrah Di Mina

Tiba di Mina sudah pukul 9.00 pagi, dan panasnya mulai menyengat tubuh.  Kami masih harus mencari kemah Indonesia, dan masih harus berjalan kaki 1,5 kilometer lagi.  Akhirnya sesudah tanya sana sini ketemulah kemah kami Maktab V.  Namun badan kami sudah sangat lelah dan panas badan sudah 39 derajat Celcius.  Ketika saya akan jatuh, Yu Dah berteriak-teriak memanggil dokter sehingga hampir semua dokter yang ada di sana datang untuk menolong, dan menyemprot saya dengan air dingin.  Saya lihat di sebelah saya Pak Prof. Zamzawi Suyuti (sudah kenal Dik Nur) baru saja sadar sehabis kena heat stroke seperti saya.  Dengan demikian, lempar jumrah Aqabah terpaksa kami mintakan orang lain untuk melakukannya a.n. saya.  Esoknya tgl. 11 Zulh. kami kembali ke Makkah istirahat bersama 4 orang kawan.

Sorenya Yu Dah bersama kawan-kawan berangkat lagi ke Mina untuk lempar jumrah lagi sampai selesai dan melemparkan juga untuk saya.  Tanggal 13 Dzulhijah. semuanya sudah selesai, dan semua kembali ke Makkah untuk melaksanakan tawaf ifadah dan sai.  Tanggal 16 Dzulhijah. kami tawaf wada’, kemudian sorenya diberangkatkan ke Madinatul Hujjaj di Jeddah, menginap satu malam. 

Tanggal 17 Dzulhijah keliling kota Jeddah, dan akhirnya kembali ke tanah air dengan selamat tanggal 18 Dzulhijah.  Di Jakarta menginap di rumah Iwang.  Hari Ahad, tanggal 20 Dzulhijah (22-7-1989) pertemuan di rumah Mas Kewus dengan para keluarga Jakarta: Dik Hadi, Najib, dik Harjono/Marti, mas Ki dan saudara-saudaranya.  Tanggal 24 Juli 1989 kembali ke Yogya dengan kereta BIMA, dan tiba di Yogyakarta dengan selamat dijemput anak-anak dan adik-adik.  Inilah cerita haji kami yang kami usaha pendek, tapi kok ya masih panjang.  Mudah-mudahan Dik Nur sempat untuk membacanya.

Wassalam,

Kanda tercinta

Abdul Hayi Adnan

Mungkin gambar 2 orang, orang berdiri, kerudung, luar ruangan dan pohon
Pak Nur dan Bu Bid menunaikan shalat Idul Adha 1442 Hijriyah di Fort Washington, Maryland. Alhamdulillah …
Mungkin gambar 6 orang
Eyang Prof. KHR. Muhammad Adnan, ayahanda dari Pak Abdul Hayi Adnan dan Pak Abdul Nur Adnan berfoto bersama Presiden Soekarno.

Baca juga artikel ini :

Kisah Bodor Pasukan Pelupa dan Emak Imut

Standar

Suasana hari ini cerah. Aku duduk ala ‘macan’ (eeehemmm itu singkatan -manis dan cantik) ditemani sinar mentari hangat yang menyelinap lewat jendela rumah. Sesekali menarikan jemari di atas keyboard laptop tanpa mandi pagi tak apalah ya? Ha3 … Menikmati dan bersabar dalam situasi PPKM darurat Jawa Bali dengan stay at home nemenin suami tercinta WFH dan anak liburan pesantren.

Hatiku juga sedang ceria dihibur kisah seru sekaligus lucu dari member of MGN. Cerita susu beruang Teh Risna dan memori Jacob-nya Teh Deani membuatku tertawa geli dan sudah pasti dong imun meningkat. Sungguh Teh Andina sangat cerdas dan sergep bin gercep meluncurkan tema ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ kali ini tentang Cerita Lucu.

Motor Dika Hilang

Tadi sambil sarapan bareng suami (dalam keadaan belum mandi loh ya), terjadilah obrolan flashback saat sohib arsi yang panik karena motornya raib dari parkiran rumah kontrakan.

Namanya Dika, anak Palembang yang tinggi, berkacamata, jago sketsa, dan sungguh . Pagi-pagi tanpa sempat mandi, Dika pamit terburu-buru kepada suamiku (mereka satu kontrakan rumah di tepi sungai bagian Kebun Bibit Barat).

“Woooiiii … Aku jalan dulu jemput Ibu ke bandara. Tolong tutup pagar!” setengah berteriak Dika melesat dengan motornya.

Menjelang siang, Dika kembali bersama ibunya dengan segambreng kardus, tas tenteng, dan tas kresek. Suamiku dan satu teman lainnya membantu merapikan bawaan ke kamar Dika. Sepertinya ibunya Dika akan menginap agak lama di kontrakan mereka. Sore hingga malam mereka tak kemana-mana, karena sibuk menikmati berbagai makanan oleh-oleh dari ibunya Dika.

Esok hari, pagi-pagi selepas shalat subuh Dika disuruh ibunya membeli sarapan. Banyak makanan enak dipojokan pasar Balubur.

Tetiba Dika masuk lagi ke rumah. “Ada yang minjem motorku gak?” suamiku yang sedang duduk di ruang tamu menggelengkan kepala.

“Motor aku hilang!” seru Dika panik.

Suamiku keluar menuju parkiran motor. Loh! Motor Dika gak ada. Tinggal 2 motor milik suamiku dan temannya.

“Macem mana ini motorku gak ada?!” suaranya terdengar bergetar.

Memang di daerah itu sedang marak curanmor. Banyak teman ITB yang raib motornya walau pgar sudah digembok dan motor sudah dikunci ganda. Entahlah pencurinya itu hebat sekali bisa membobol dan menggondol motor dengan santai.

“Bentar … Sabar. Diinget-inget dulu kamu taruh di mana motornya?” tanya suamiku dengan gaya Solo yang kalem dan tenang.

“Ya di sini lah! Di mana lagi parkirkan emang di sini!” meninggi suara Dika.

“Ya aaammmmpuuunnn … Aduh! Motorku ada di parkiran bandara”, tetiba Dika menepuk dahi sambil geleng-geleng kepala.

“Lah … Kemarin kamu ke sini naik apa dari Bandara?” tanya suamiku.

“Kami naik taksi, kan barang Ibu banyak sekali,” jawab Dika sambil nyengir.

Akhirnya suamiku membonceng Dika menuju Bandara. Menjadi saksi teronggoknya motor Dika di parkiran basah kunyup tersiram hujan semalam. Ampun deh! Geli campur gemas punya sohib macam begini.

Asistensi Pakai Sendal Jepit dan Piyama

Mamah Gajar lulusan Arsi mesti pernah mengalami keos saat asistensi tugas studio. Apalagi kalau dosennya bergelar ‘killer’. Kelompok studio Perancangan Tapak dijamaku, pasti jauh-jauh hari berdoa jangan sampai dapat dosen pembimbing sebut saja namanya Pak Tapak. Mengapa?

Kelompok aku pun mengalami kekeos itu. Asistensi pagi sekali membuat Asri temanku yang sedang kurang sehat berdiri hampir pingsan. Hampir 2 jam kami mendengarkan berbagai komentar Pa Tapak terhadap gambar kami. Hasil kerja kelompokku sepertinya tidak memuaskan beliau. Asri makin pucat dan keringat dingin pun mengucur.

Untunglah beliau sempat melihat ke arah Asri dan menegur, “Kamu kenapa pucat begitu?”

“Asri sedang kurang sehat Pak,” aku menjawab.

“Duduk di kursi itu,” jawab beliau sambil menunjuk kursi kosong di samping kanan meja kerja dosen.

Asri segera duduk dan menarik nafas lega. Aku dan teman lain tetap dalam posisi berdir, karena di ruang dosen kan tidak ada cukup kursi untuk 6 mahasiswa yang ketar-ketir dibantai ini. Tak disangka Pak Tapak tiba-tiba memberikan sebatang coklat kepada Asri.

“Makan ini biar gak lemes,” kata beliau.

Bukan hanya coklat, beliau menyuguhkan juga piring berisi risoles dan beberapa kue manis yang ada didekatnya ke hadapan Asri.

“Belum sarapan ya? Makan ini juga,” lanjut beliau.

Tentu saja ini kejadian langka. Suasana menjadi lebih cair, tidak setegang tadi. Asri tanpa sungkan mengambil risoles dan memakannya. Aku dan teman lain hanya menjadi saksi bisu, ha … ha … ha … Ternyata tidak hanya risoles, coklat pun disantap Asri dengan santai tanpa menghiraukan tatapanku yang jelas-jelas bilang cukup … sudah cukup satu risoles saja. Pegal kaki kami semua karena asistensi sambil berdiri lebih dari dua jam.

Setelah itu Pak Tapak menyuruh kami memperbaik gambar dan berpesan jangan lupa sarapan. Kalau pingsan nanti dia takut disalahkan. Disangka mahasiswa pingsan gara-gara asisten perancangan tapak bersama beliau.

Setelah berada di luar ruangan Pak Tapak, sepanjang turun dari lantai 2 menuju teras depan Labtek Arsi kami tertawa terbahak-bahak walau harus ditahan-tahan agar tak terdengar para dosen di ruangan. Meledak tawa kami di lantai bawah. Duuuuhhhh gemes kan … Asri polos saja merasa tak bersalah berlama-lama makan risoles dan coklat.

Lalu tawa kami kembali pecah setelah melihat keadaan diri masing-masing, ada yang celana panjangnya ternyata celana tidur alias piyama. Temanku lupa ganti celana saat berangkat ke kampus, bahkan dia juga ternyata belum mandi. Ampuuunnnn …

Aku juga baru sadar ternyata pakai sendal jepit. Lupa ganti sepatu tadi di mobil saking terburu-buru asistensi. Tidak telat saja bisa kena damprat. Gimana kalau telat? Wuuuiiihhh … Bisa kiamat itu kertas kalkir dicoret spidol malah dengar-dengar ada juga yang disobek. Hiiikkkssss …

Palang Parkir IGD Tidak Terbuka

Sekarang kita gak boleh lupa bawa kartu uang elektronik kalau mau memakai jalan tol. Kebiasan baru tentu membutuhkan perjuangan tersendiri ya … Apalagi buat aku yang sudah jelita (jelang limapuluh tahun) saat itu. Tak boleh juga lupa mengisi saldonya. Bodor sekali kalau menempelkan kartu tapi palang pintu tol tak terbuka juga akibat saldo anda tidak cukup.

Hhhmmm … Untunglah aku tak mengalami hal itu.

Aku justru terhadang palang parkir di IGD RS. Polri. Kartu uang elektronik aku tempelkan di mesin parkir. Tapi kok palangnya tidak terbuka. Coba lagi … coba lagi … Tiga kali mencoba. Panik dong! Maju kena palang parkir, mundur sudah banyak yang antri mobil di belakangku.

Anakku bungsu, Teteh yang tadi santai tiduran tanya, “Kenapa Bu lama banget? Itu kok palangnya gak kebuka?”

“Iya ini Teh … Kenapa ya?” aku balik tanya heran juga.

“Ibu gimana tangannya kurang deket kali. Atau jangan digoyang-goyang gitu tangannya. Sensornya gak bisa scan,” kata Teteh.

“Kok pakai tangan sih Teh?!” aku jawab sambil mikir.

“Ya .. Iya dong Bu, pakai tangan gitu kayak yang di mal tadi,” kata Teteh yang tampak bingung dengan kata-kataku tadi.

“Astaghfirullah … ya ampun. Ha … ha … ha …” aku tertawa keras sambil mendekatkan telapak tangan ke alat scan parkir.

Jadi tadi aku kan menempelkan kartu uang elektronik ya pantas saja palangnya tidak terbuka. Ini kan pintu masuk yang harus menggunakan tangan di scan dengan alatnya. Barulah mesin mengeluarkan karcis dan palang parkir terbuka. Sampai kapan juga gak bakalan terbuka palang parkirnya. Bunyi klakson mulai terdengar dari mobil yang pastinya tak sabar menunggu.

Berhasillah aku melewati palang parkir dengan masih diiringi senyum geli. Aya-aya wae … Jadi sekarng hobiku menyetir mobil harus diringi dengan skill keluar masuk parkiran dengan berbagai metode, ada yang pakai menempelkan kartu uang elekronik seperti di stasiun gambir dan beberapa mal. Ada yang dengan mendekatkan tangan ke alat scan. Beberapa lokasi masih harus menekan tombol berwarna hijau atau biru untuk mengeluarkan tiket dan membuka palang parkir. Semoga saja tak akan ada peristiwa lupa bawa kartu uang elektronik saat menggunakan jalan tol. Jangan juga lupa mengisi saldonya terutama saat perjalanan jauh yang bayar tol hingga ratusan ribu rupiah.

Titipan Peniti Buat Yuke

Acara wisuda mahasiswa tentu sangat membahagiakan orangtua dan para lulusan. Aku kala itu menjabat sebagai Direktur Akademi dan akan memimpin Sidang Senat Terbuka.

Mahasiswi berpakaian kain kebaya. Tampak cantik dan penuh pesona. Aku juga berkain kebaya, sederhana saja tanpa make up salon. Cuma bedak tipis dan lipstik warna nude.

Sebelum acara dimulai, aku menghampiri mereka untuk sekedar bertukar sapa. Senang rasanya melihat mereka tertawa ceria saat mulai mengenakan jubah wisuda dilengkapi dengan topinya. Aku bergegas menuju ruang tunggu tempat kolega dosen berkumpul. Sebelum sampai tiba-tiba seorang ibu memanggilku.

“Neng … Punten titip ini peniti buat Yuke anak Ibu. Pasangin di kebayanya tadi kancingnya ada yang copot,” sambil menyerahkan plastik kecil berisi peniti ke tanganku.

“Makasih ya Neng …” sambil berlalu menuju ruang utama gedung pertemuan, tanpa menoleh lagi.

Hhhmmm … Senyumku mengembang. Duuuhhhh … Lagi-lagi terulang batinku. Ya sudahlah … Aku balik lagi ke ruang tempat calon wisudawan sedang berkumpul.

“Hai Yuke … Ini titipan ibu kamu, buat betulin kebaya yang kancingnya copot,” kataku.

“Terimakasih ya Bu … Kok Ibuku nyuruh Bu Dewi sih?” Yuke tersenyum malu.

Prosesi sidang Senat Terbuka berjalan lancar. Aku berpidato dan menjalankan tugasku memindahkan tali di topi para wisudawan.

Selesai acara ada ramah tamah dengan orangtua lulusan terbaik. Yuke adalah salah satunya. Ibunya Yuke langsung mendekatiku dan menyalamiku minta maaf.

“Ya Allah … Maafkan ya Bu … Tadi saya kira temannya Yuke,” ujarnya perlahan.

“Gak apa-apa Bu … Sudah biasa kok,” jawabku santai.

Ya … Sungguh sudah sangat biasa. Berulangkali aku disangka mahasiswi. Bukan dosen apalagi Direktur Akademi tempatku mengabdi.

Pak Joko Kaget Saat Berjumpa Bu Dewi

Pernah ada pengantar surat dari DPRD Kota datang ke kampus. Dia ingin langsung menyerahkannya surat itu kepada Direktur, bukan dititipkan di Sekretariat apalagi Security. Pak Joko (sebut saja bagitu namanya) dipersilakan duduk di ruang tamu oleh sekretarisku karena aku masih dalam perjalanan.

Sewaktu aku melintasi ruang tamu, tetiba ada seorang bapak menghampiriku. “Neng sini Neng. Bisa minta tolong bilang kesekretarisnya Bu Dewi, saya mau ke mushola sebentar shalat dzuhur.”

Aku menganggukkan kepala dan bilang, “Iya Pak … Punten Bapak siapa dari mana? Mangga shalat dulu, nanti saya sampaikan.”

“BIlang ada Pak Joko dari DPRD Kota,” jawabnya.

Ooohhh … Mungkin Pak Joko enggan ke ruangan sekretariat lagi karena agak jauh dari ruang tempatnya menunggu. Waktu dzuhur sudah hampir habis. Sedangkan mushola dekat di ruang tamu itu. Setelah Pak Joko selesai shalat, sekretarisku memintanya masuk ke ruang kerjaku.

Pintu ruang kerjaku diketuk, lalu perlahan terbuka. “Assalamu’alaikum.”

Aku lihat Pak Joko berdiri ragu dan menghentikan langkah kakinya.

“Wa’alaikum salam. Mangga … Pak Joko silakan masuk,” sapaku ramah.

Pak Joko tampak kaget. “Ooohhh … Ini Bu Dewi ya?”

“Iya Pak … Saya Dewi. Bapak dari DPRD Kota ya?” kataku.

Pak Joko melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu duduk di kursi sofa tak jauh dari meja kerjaku. Aku menghampirinya.

“Duuuhhh maaf ya Bu Dewi … Saya kira tadi mahasiswi di sini,” katanya tersenyum malu.

“Hhhmmm … Gak apa-apa sudah baisa kok Pak,” jawabku santai.

Kebetulan saat itu hari olahraga jadi boleh berkostum bebas, santai, dan rapi. Jadi aku pakai celana panjang dan kaos saja dengan kerudung segiempat. Alas kaki juga sepatu kets. Tas yang kupakai berbentuk ransel. Pantaslah disangka mahasiswi he3 …

Tantangan bulan Juli 2021. ‘https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-juli-cerita-lucu/

Lanjut gak ya? Tapi sudah 1700 kata lebih nih. Nanti aja deh buat seri berikutnya. Hayu para Mamah Gajah tuliskan pengalaman lucunya agar kita bisa bersama-sama meningkatkan imunitas. Tertawalah sebelum tertawa dilarang. Meluculah sebelum melucu dilarang. Kalaupun gak lucu paling tidak sudah berusaha … Ha … ha … ha …

Kalau masih mau lanjut ketawa boleh mampir di link ini pengalaman bodor saat aku menunaikan ibadah haji https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/550e0a2b813311b62dbc604d/disangka-abg-nyasar-di-masjidil-haram-hikmah-haji gemes banget deh! Pipiku dijawil emak-emak gegara disangka anak gadis kali ya?!

Satu lagi nih … Emak riweuuuuhhhh ha3 https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2021/04/28/drama-tak-terduga-saat-antar-jemput-anak-sekolah/ semoga terhibur.

Peringatan 101 Tahun ITB Menuju Tak Terbatas

Standar

Dari 101 menuju tak terbatas! ITB 100+1 AND BEYOND. Begitulah tagline yang diusung oleh ITB dalam peringatan 101 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia.

Menginjak tahun 2021 adalah momen refleksi sebagai titik tolak bagi ITB dalam langkah transformasi bangsa Indonesia menuju kemajuan peradaban. Bersama kita juga saling menyemangati dan bahu membahu dalam menghadapi berbagai krisis demi kelangsungan kehidupan generasi mendatang yang lebih baik.

Sumber ITB1920

Tema yang diusung kali ini adalah The Cradle of Civilization. Perlehatan ini memiliki dua jenis kegiatan utama yaitu

  • Transformative Talks
  • Musical Concert

Kegiatan dibuka oleh Prof. Reini selaku Rektor ITB ini, akan dilanjutkan dengan diskusi dari beragam tokoh nasional dengan tajuk:

  • ITB 100 Tahun On The Move
  • ITB Cradle of Civilization
  • ITB, Karsa, Karya, Kreasi

Serangkaian special performances dari Musisi ITB, peragaan busana karya alumni ITB dan banyak lagi!

Beberapa teman satu angkatanku di Teknik Arsitektur ITB alumni tahun 1989 akan ikut meramaikan acara tersebut. Ada Imelda Rosalin, Stefanini Sumardiman, dan Donna Murdijanto.

Bagi yang ingin turut serta merasakan getaran semangat ITB 101, yuk! catat waktunya 3 Juli 2021 pukul 19.00 WIB sampai selesai. Gabung di https://bit.ly/itb101

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater !

Tadi pagi aku menyaksikan tayangan di cannel Youtube rangkaian acara pemberian gelar Doktor Kehormatan (HC) kepada orang alumni ITB.

Sambutan Rektor ITB dalam sidang Terbuka 101 Tahun PTTI.

Dalam rangka memperingati 101 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) pada 3 Juli 2021 nanti, Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menyelenggarakan beberapa rangkaian acara secara virtual dari mulai tanggal 1-4 Juli 2021.

Rangkaian acara tersebut meliputi seminar virtual dengan tema “ITB untuk Transformasi Digital Indonesia” pada 1 Juli, pameran virtual exhibition pada 1-4 Juli, dilanjutkan dengan Pagelaran Musik dan Budaya tanggal 3 Juli, kemudian ITB 101 Virtual Run dan acara puncaknya yaitu Sidang Terbuka 101 Tahun PTTI di Aula Barat ITB pada 3 Juli 2021.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan tersebut diberikan kepada seseorang yang dinilai telah menunjukkan karya nyata yang mengandung nilai inovatif dalam pemikiran, gagasan atau penelitian, dan pengembangan konsep-konsep orisinal yang terbukti bermakna dan bermanfaat bagi masyarakat, perkembangan kebudayaan bangsa dan kemanusian, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

Pemberian gelar Doktor Kehormatan tersebut diberikan kepada :

Raden Muhamad Samsudin Dajat Hardjakusumah (atau Sam Bimbo) menerima Doktor HC dalam bidang Seni dan Religiositas.

Nyoman Nuarta menerima gelar Doktor HC sebagai tokoh Culturepreneur dalam Bidang Ilmu Seni Rupa (Patung).

Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D menerima Doktor HC dalam bidang Pengembangan Wilayah dan Kota (Regional and Urban Development).

Ketua Tim Promotor
Gelar Doktor Kehormatan untuk Sam Bimbo
Sam Bimbo telah menghasilkan karya yang patut dibanggakan, bahkan telah mendulang berbagai penghargaan tingkat nasional maupun internasional.

Beberapa tokoh memberikan testimoni tentang perjalanan Sam Bimbo di bidang seni dan religiusitas.

AD Pirous Prof. Emirtus FSRD ITB
Mantan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Emil Salim
Taufik Ismail, Sastrawan yang kerap bekerjasama dalam melahirkan karya musik religi bersama Sam Bimbo.

Sam Bimbo menyamapaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang berjasa dalam perjalanan karirnya di bidang seni. Judul orasi ilmiah yang sederhana namun sarat makna dipilih oleh Sam Bimbo, Cinta 5.0.

1.0 Cinta keluarga, dari ayah dan ibu tertanam sikap hidup dalam berkeluarga. Cinta diikat dengan tali persaudaraan, kasih sayang, dan terutama doa ayah dan ibu.
2.0 Cinta seni lukis. Seni dapat dengan 5 panca indera dapat melahirkan cinta. Dengan mata kita bisa melihat, maka lahirlah seni lukis. Sam Bimbo adalah alumi FSRD ITB tahun 1968.
3.0 Cinta musik religi. Kenangan yang tak terlupakan saat menunaikan shalat Jumat di Masjid Salman. Khatib mengajak para jamaah dalam khutbahnya, “Marilah kita bersama-sama tunjukan keimanan kita kepada Allah dengan berbuat kebajikan. Maka lahirlah syair lagu dengan judul Tuhan pada tahun 1972 bersama Taufik Ismail.

TuhanTempat aku berteduhDi mana aku mengeluhDengan segala peluh
TuhanTuhan Yang Maha EsaTempat aku memujaDengan segala do`a
Reff: Aku jauh, engkau jauhAku dekat, engkau dekatHati adalah cerminTempat pahala dosa bertaruh


4.0 Cinta dalam kemanusian. Memahami kemanusiaan dan lingkungan. Lahirlah lagu berjudul Surat untuk Tuan Reagen dan tuan Andropov, hingga mendapat penghargaan dari dua negara.

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Diri anda berdua orang tua terhebat di dunia
Dan hanya dengan satu kata dari anda berdua
Dunia bisa berobah, ooh ho..ho..

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Mata anda berdua menembus seluruh dunia
Dan bahkan keluar angkasa raya
Bionik dan Supermen oh kecil dibanding anda
Ho.. ho.ho.. hoo..

Bersama surat ini kami ingin usul, sebelum perang dunia ketiga
Berikan pengumuman terlebih dahulu agar orang-orang bisa berfoto
Membuat kenang-kenangan untuk mengenang mereka
Di amsa yang akan datang dan juga mengenang anda
Ooh..

[Interlude]

Yang Mulia, tuan Reagen dan tuan Andropov
Anda berdua damai, seluruh dunia ikut gembira
Pabila anda berdua marah, sungguh kami tak suka
Tetapi mungkinkah itu, ooh.. ho.ho.. ooh..

Sekian surat kami, maaf bila ada yang salah
Hormat kami, Bimbo…

Saat Menteri Lingkungan HIdup dijabat Prof. Emil Salim, lahirlah lagu berjudul Kalpataru yang isinya mengajak menyintai lingkungan. Selain itu Sam Bimbo juga menjadi tokoh yang gigih memperjuangkan perlindungan hak cipta dalam menghadapi tantangan berat melawan pembajakan sehingga ada cukai kaset.


5.0 Cinta Illahi. Pengalaman yang panjang dalam berkarya membuat Sam Bimbo makin memahami makna hablul minnanas dan hablul minallah, Hingga saat ini Sam Bimbo lebih memilih untuk berkarya dalam bidang seni lukis dengan kaligrafi dan dalam bidang musik dengan lagu religi.

Parade Alumni ITB dan Perwakilan Kementerian RI

Sakti Wahyu Trenggono Menteri KPP
Sandiaga Uno Menteri Pariwisata
Ridwan Kamil AR90 Gubernur Jawa Barat

Parade Karya Alumni ITB

Pembantu Rektor ITB dan perwakilan Pimpinan Fakultas di lingkungan ITB.
Pianis Imelda Rosalin AR89 yang juga menjadi Host dalam perlehatan ITB 101 tahun
Donna Priadi AR89 dan karya KIND Denim

Peringatan yang ke-101 tahun ini masih merupakan rangkaian dan penutup kegiatan 100 tahun ITB dan PTTI. Namun karena pandemi, sebagian kegiatan diundur ke tahun ini. Peringatan inti PTTI, sejatinya hanya dengan sidang terbuka saja, diperkirakan pada peringatan tahun depan, yang ke-102, akan kembali hanya mengadakan sidang terbuka.

Pengarah kegiatan P101, Prof. Dr. Ir. B. Kombaitan menambahkan, seminar virtual dengan tema “ITB untuk Transformasi Digital Indonesia” mengangkat dua tema besar. Pertama yaitu Konsepsi dan Arahan dengan sambutan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, dan pembicara kunci yaitu Menteri PPN/Bappenas Dr. Ir. Suharso Monoarfa, Menkominfo Johnny G. Plate, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko, dan dimoderatori oleh Prof. I Gede Wenten.

Tema kedua yaitu “Implementasi Transformasi Digital Indonesia”. Pembicara utamanya adalah Sekjen Kementerian Dalam Negeri Dr. Muhammad Hudori, Kepala LPIK ITB Dr. Sigit P. Santosa, Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI Kemenkominfo, Direktur Utama Telkomsel Hendri Mulya Syam, dan Moderator Kepala Pusat Penelitian Teknologi Informasi dan Komunikasi ITB Dr. Ary Setiadi.

Acara Pagelaran Seni dan Budaya yang dilaksanakan pada malam hari, di hari yang sama dengan prosesi sidang terbuka, 3 Juli 2021, melengkapi meriahnya kegiatan P101. Acara ini bertajuk The Craddle of Civilization. Pada acara ini akan dibahas mengenai beberapa isu yang diselingi oleh penampilan musisi-musisi yang merupakan alumni ITB.

Sumber itb.ac.id

Silaturahmi Bersama Pak Choesni, Berbagi Cerita Penuh Keceriaan

Standar
Artikel ini ditayangkan sebagai kumpulan tulisan Keluarga Bani Tafsir Anom V.

Kenangan penulis Abu Bakar Akbar bersama Bapak dr. H.M. Choesni Prodjowijoto.

Keterangan : (sumber Mba Susi Annafiati)
Berdiri dari kiri : Leni ( baju putih ), Susi, Bisri ( suami Susi ) & Tara ( anak ke 3 Susi )
Duduk tengah dari kiri : Pak Choesni, bu Nur, Azza ( anak ke 1 Susi ) & Zemma ( cucu Susi )
Duduk bawah dari kiri : Nanda ( anak Leni ), Kya ( anak ke 2 Susi ) & Hafil ( mantu Susi )

Pekan lalu di dalam chat WhatApps Group Keluarga Tafsir Anom ada kabar bahwa Pak Choesni sedang diuji sakit. Kabar ini disampaikan oleh Mba Susi Annafiati. “Assalamu’alaikum saudara-saudara BTA tersayang. Mohon doanya untuk kesembuhan ayahku ; dr. H.M Choesni Prodjowijoto hasil pemeriksaan Swab Antigen beliau positif Corona, sehingga masih diperlukan pemeriksan, pengobatan dan perawatan selanjutnya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT.”

Doa dan semangat dihaturkan oleh para kerabat. Salah satu doa yang dikirmkan oleh Mba Nurul Hayati sangat menyentuh.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Robb manusia, hilangkanlah sakit (ini), sembuhkanlah Bapak dr. Choesni, Engkau adalah Dzat Yang Maha menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.”
Aamiin Yaa Robb.

Foto keluarga Mba Susi Annafiati bersama ayahandanya Pak dr. H.M. Choesni Prodjowijoto.
Mba Susi bersama pepo dan memo. Semoga selalu sehat aamiin …

Penulis ingin berbagi kisah saat silaturahmi dengan Pak Choesni di kediaman beliau pada tahun 2019. Saya diantar adik yang tinggal di Jakarta, Rachmad Aziz meluncur ke kediaman Pak Choesni di Cinere. Oya … Adik ipar saya (istrinya Amir Al Amin), yang bernama Endah Wukirsari ikut menemani dalam acara silaturahmi kali ini.

Hari Ahad hari libur lalu lintas tidak terlalu padat, tempat yang ditujupun cukup dekat. Hari belum terlalu siang ketika kami datang bertandang. Setelah ucapkan salam, berjabat tangan kami duduk di ruang tamu, bertatap muka, bertegur sapa dan bercanda seakan kami lupa waktu dan usia.

Saya sudah lama kenal tetapi belum pernah bersilaturahmi. Ternyata beda antara berjumpa di acara Halal bi Halal BTA dengan bicara di rumah, karena tidak ada pembawa acara yang batasi topik dan waktu pembicaraan. Sebagai yang junior sowan ke senior, belajar kehidupan. Beliau kelahiran Solo menghabiskan masa kecil dan remajanya di Kauman. Pak Choesni setelah itu melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran UGM.

Obrolan  penuh tawa diawali dengan pernyataannya; ”Orang tidak percaya saya kuliah di Gadjah Mada Fakultas Kedokteran”. Mungkin waktu itu masuk UGM susah apalagi Fakultas Kedokteran lebih susah, karena tingginya tingkat persaingan.

Kami bertiga dan Pak Choesni ditemani istri tercinta, berbincang dan tertawa bersama. Ibu Choesni ternyata tidak kalah humoris. Sungguh keluarga harmonis. Obrolan terkait ketemu jodohnya orang Jawa dan Palembang juga sarat makna dan cinta. Pak Choesni dikaruniai 2 putri, Mba  Susi dan Mba Leni, dari keduanya Pak Choesni dikaruniai cucu dan cicit.

Selain pengalaman sebagai dokter yang pernah berdinas di Angkatan Laut juga pernah menjadi dokter di Pertamina. Ternyata menjadi dokter tidak melulu dinas di Puskesmas atau Rumah Sakit  Umum tetapi juga bisa bertugas di Rumah Sakit Perusahaan.

Pembicaraan cair  seiring hidangan yang mengalir,  sampailah pada kisah beliau berjumpa dengan kerabat Bani Tafsir Anom yakni Bapak Abdul Nur Adnan di Washington Amerika Serikat dan Bapak Abdul Hadi Adnan di Ottawa Kanada. Pak Choesni Kembali berkelakar banyak orang tidak percaya beliau sampai Amerika apalagi sampai kuliah S2. Beliau kuliah S2 di Universitas Tulane di New Orlane dan kursus singkat di Universitas Harvard, Boston pada tahun 1987.

Hari semakin siang di depan kami telah terhidang menu istimewa, sate. Bersyukur kami bisa dialog, bercanda dan berfoto bersama. Jelang duhur kami mohon pamit. Sungguh hampir 2 jam kami belajar bagaimana berbagi cerita dengan keceriaan. Semoga Alloh memberikan keberkahan kepada keluarga Pak Choesni.

Foto bersama Pak Choesni dan istri, sebelum kami pamit pulang.

Baca juga artikel ini :

Hari Peduli Sampah Tahun 2021

Standar

Tantangan terakhir di bulan Juni 2021 dengan tema Peduli Sampah, Raih Berkah ternyata sejalan dengan tema Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari 2019 sejak tahun 2006. Motivasi utama adanya HPSN agar masyarakat dan pemerintah semakin baik dalam pengelolaan sampah.

HPSN kali ini mengusung tema “Sampah Bahan Baku Ekonomi di Masa Pandemi”, Pemprov DKI Jakarta ingin mempertegas komitmen mendorong sektor pengelolaan sampah menjadi pendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat. Serta mewujudkan salah satu prinsip pengelolaan sampah berkelanjutan, yaitu waste to resource melalui pelaksanaan ekonomi sirkular dan  sampah sebagai sumber energi. Sebagaimana amanat Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga (RW).

Aku coba berbagi kisah komunitas yang berhasil menjadikan sampah sebagai berkah terutama membantu peningkatan kesejahteraan keluarga dari sisi ekonomi.

Bank Sampah Berkah

Pada bulan Juni 2019 berdiri Bank Sampah Berkah di Kelurahan Tugu Selatan, Koja, Jakarta Utara. Total 77 orang tercatat menjadi nasabah bank sampah tersebut. Lurah Tugu Selatan, Sukarmin menjelaskan, bank sampah ini memanfaatkan sebagian lahan kelurahan sebagai tempat memilah, membersihkan dan menampung sampah.

Pembentukan bank sampah sebagai jawaban dari rasa prihatin akibat banyaknya sampah plastik yang menggangu fungsi saluran, Selain untuk mengurangi volume sampah, bank sampah bisa memberikan kontribusi ekonomis bagi warga sebagai program pemberdayaan. Sampah plastik perkilo dihargai Rp. 2.000,-.

PKK Kelurahan Pisangan

Program daur ulang sampah menjadi karya yang bermanfaat, indah, dan berkualitas, telah menjadikan team PKK Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten mendapat penghargaan dari pemerintah daerah setempat.

Ketua PKK, Yana Rosiana mengatakan, sebagian hasil karya kerajinan adalah buatan anggota lanjut usia (lansia). Program pengelolaan lingkungan dan sampah dapat dimulai dari hal-hal kecil saja dahulu, di lingkungan yang kecil juga tidak apa-apa. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Topi, tas, peralatan dapur, bunga meja, bros, karya para lansia. Sumber tajuklombok.com

Produk hasil karya para lansia Kelurahan Pisangan ini sudah dijual secara online. Uangnya kami kumpul-kumpul untuk digunakan nanti saat acara ulang tahun paguyuban kami para lansia. Hebat!

Bank Sampah Sakura

Lurah Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Selatan, Supriyadi mengatakan Bank Sampah Sakura dikelola  oleh PKK bekerjasama dengan Karang Taruna. Bank Sampah Sakura milik Kelurahan Pulau Untung Jawa berpotensi untuk meningkatkan roda ekonomi warga setempat.

Setiap minggu ada sekitar 2 kwintal sampah plastik. Setelah dipilah sisanya dijual dan menghasilkan sekitar Rp. 500 ribu setiap minggunya. Bank sampah dikelola oleh 20 anggota. Setiap anggota memiliki buku saku tabungan seiring semakin rutinnya penghasilan dari bank sampah. Waaahhh … Berkah dengan peduli sampah terbukti di Bank Sampah Sakura.

Komunitas Warga Rawajati Pancoran

Bank Sampah yang didirikan oleh warga Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan berfungsi mendaur ulang sampah menjadi barang yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai jual. Warga Rawajati memanfaatkan sampah untuk diolah kembali dan menjadi uang. Rezeki ternyata bisa datang dari lingkungan yang bersih.

Kerajinan tangan dari kertas koran. Sumber newsdetik.com

Warga memiliki keterampilan mengubah sampah tersebut menjadi barang berguna. Sampah lain seperti kertas koran juga mampu diolah menjadi perabotan yang indah. Selain sampah anorganik seperti kertas, plastik, dan karton, sampah organik juga dikumpulkan di Bank Sampah. Lalu sampah-sampah organik dijadikan pupuk kompos dan dijual kembali.

Berkaca pada keberhasilan komunitas dalam mengelola sampah, aku menjadi malu pada diri sendiri. Mengapa? Karena belum bisa menjadi bagian aktif dari semangat peduli sampah. Peran dan kontribusiku masih sedikit sekali. Sudah berusaha memilah sampah di rumah, tapi di bak penampungan komplek masih dicampur lagi.

Bersyukur Teteh senang membuat karya dari barang bekas. Beberapa hasilnya seperti lukisan dikardus bekas, vas bunga dari botol bekas, kulit telur menjadi kolase di atas kanvas. Ada bekas CD dilukis dan ditempel menjadi hiasan dinding, juga bebatuan serta kayu kering menjadi hiasan air terjun.

Hasil karya Teteh dari barang bekas.

Rekomendasi Destinasi Wisata Alam di Indonesia Yang Mempesona

Standar

Wisata di Indonesia Saja. Wonderful Indonesia.

Pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk memulihkan pariwisata Indonesia. Di masa wabah pandemi Covid-19 ini, pemerintah ingin menjadikan wisatawan domestik sebagai tulang punggung pemulihan pariwisata

Kawasan wisata Danau Toba spot Geosite Huta Ginjang yang eksotik. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fadf4752da237038a0551d2/geosite-huta-ginjang-spot-istimewa-di-danau-toba

Begitulah Menteri Pariwisata Indonesia, Sandiaga Uno menggaungkan kebangkitan pariwisata Indonesia di tengah pandemi yang telah melanda dunia hampir satu tahun lebih. Pilihan rekreasi alam adalah salah satu yang menjadi fokus dari pemerintah Indonesia, baik tingkat pusar, provinsi, maupun kota/kabupaten.

Kebutuhan akan Rekreasi Masyarakat Perkotaan

Dewasa ini kegiatan rekreasi alam telah menjadi kebutuhan bagi manusia, terutama masyarakat yang hidup di kota-kota besar. Mereka adalah masyarakat yang kompleks dan membutuhkan peralihan suasana. Kondisi di atas membutuhkan tempat dan sarana rekreasi yang ideal, yaitu rekreasi yang dapat dinikmati secara fisik, sosial, dan emosional.

Tracking di Bukit Bintang Bandung menuju patahan Lembang. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5f5c4523097f3677ad1d8ed2/menjelajah-bukit-bintang-aktivitas-seru-bersama-pasangan

Indonesia merupakan sebuah negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Negeri ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kekayaan tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang. Ancaman kerusakan yang mungkin terjadi terhadap keanekaragaman ini umumnya berasal dari manusia, maka dari itu dibuatlah tempat konservasi bernama Taman Wisata Alam (TWA).

Taman Wisata Alam (TWA) dibuat untuk memberi pengetahuan kepada masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sekitar. Pengelola wilayah konservasi ini membuat tempat rekreasi dan pariwisata, sehingga pengunjung dapat merasakan keindahan alam di dalamnya.

Gunung Bromo yang eksotik. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5aacf3f2dd0fa8525658cc02/bromo-wisata-alam-penuh-sensasi

Aktifitas rekreasi alam kegiatan utamanya adalah menikmati alam, dimana unsur rekreasi juga tetap dipertahakankan. Sebagaimana definisi rekreasi yang menurut asal katanya mempunyai arti mengembalikan daya cipta (re berarti mengembalikan dan create berari daya cipta). Menurut kamus WJS Purwadarminta, rekreasi berarti bersukaria, bersenang-senang, mencipta lagi.

Menapak jejak letusan gunung Merapi Jawa Tengah. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/54f4530b745513902b6c8934/misteri-batu-aliens-petualangan-di-kaki-merapi

Recreation is enjoyment. All types of physical and mental activitties which can satisfy our feeling. We relax and feel content, mind at rest, and we enjoy ourselves, we have fun‘.

Pulau Komodo destinasi unik yang menjadi tujuan wisatawan mancanegara. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/56e91820c823bd59107c5e7c/indahnya-pulau-komodo-dan-pantai-pink

Rekreasi merupakan aktifitas yang membentuk dan meningkatkan kembalai daya karya serta cipta manusia yang dilakukan dengan jalan mencari suasana yang berbeda sehingga dapat memberikan kepuasan dan kegembiraan (Willian Wayne, Recreation Place, Reinhold, New York 1959).

Menyelusuri jalan setapak di Taman Hutan Raya Dago Bandung. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5f7925b6d541df1d287ece72/eksotika-tahura-dago

Fungsi rekreasi antara lain :

1. Perkembangan intelegensia dan menganl pribadi

2. Mempertinggi imajinasi

3. Menimbulkan sifat ingin tahu dan jiwa petualang

4. Pendidikan mental

5. Mempertinggi keterampilan, menambah pengetahuan, dan menambah hal-hal baru dalam kehidupan.

Pulau Belitung dengan kekayaan alam laut yang mempesona. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5994526fda56da559978e2e2/cantiknya-belitung

Rekreasi alam merupakan jenis kegiatan rekreasi yang memanfaatkan alam (danau, gunung, pantai, hutan, dan sebagainya) sebagai atraksi utama kegiatan rekreasi. Clare A. Gunn (1988) mengemukakan bahwa jenis atraksi rekreasi merupakan faktor utama yang menarik pengunjung, mengunjungi kawasan,  rekreasi, maka jenis atraksi yang ditampilkan dalam kawasan harus mampu menarik pengunjung.

Keindahan pantai di Pulau We sangat mengesankan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5f9b5907d541df50ee4a3f12/kilometer-0-indonesia-destinasi-terunik-versi-api-2019

Brockman (1982) menyatakan bahwa kegiatan rekreasi alam terbuka merupakan bentuk interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini, manusia memberikan tekanan terhadap lingkungan yang dapat mengakibatkan rusaknya lingkungan tersebut. Kerusakan ini dapat mengakibatkan turunnya daya tarik kawasan rekreasi sebagai daerah tujuan rekreasi, maka pengembangan kawasan rekreasi di samping berupaya menyediakan sarana dan prasarana untuk digunakan dalam kegiatan rekreasi harus juga mengedepankan pelestarian / konversi alam.

Menyelusuri Kali Oya dan Gua Pindul Yogyakarta seru sekali. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/552963e9f17e6168698b4599/goa-pindul-dan-kali-oya-lokasi-wisata-asyik-di-gunung-kidul-yogyakarta

Alam telah menyediakan dirinya untuk dinikmati. Tapi jangan sampai dirusak. Kita harus memelihara dan melestarikan dengan kesadaran akan warisan ini untuk anak cucu kelak di masa yang akan datang.

Eco Architecture’ Tren Perancangan Ideal Masa Depan

Sense of place yang diciptakan oleh karya manusia berupa arsitektur seharusnya mencerminkan keindahan, perilaku, kesejarahan, mitos, dan fantasi, untuk mencapai lingkungan ideal. Lingkungan buatan yang lebih memperhatikan keberadaan simbol untuk merasai kebesaran alam, keterkaitan antara manusia, bangunan, dan alamnya, karena ada unsur memori dan respon tubuh dalam bangunan / lingkungan buatan.

menikmati sejuknya udara pegunungan di Tawangmangu. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/55187693813311a9689deb2b/wisata-asyik-seputar-solo

Fasilitas penginapan dibangun di daerah wisata alam harus memperhatikan tata guna lahan agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Selain memperhatikan kontur dan vegetasi pada lahan tersebut, seharusnya bangunan didesain untuk mengadaptasi unsur-unsur alam, seperti batu alam, kayu, dan bambu. Serta memanfaatkan cahaya matahari, udara alami dan pepohonan agar hemat energi.

Bali Ndeso adalah salah satu destinasi wisata di kaki gunung Lawu yang mengusung desain ramah lingkungan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/600fc573d541df4fcc003f72/bali-ndeso-nan-unik-di-kaki-gunung-lawu

Dari gurunya Sullivan, dan sejalan dengan teori evolusinya Darwin, Wright mewarisi suatu kerinduan akan yang organik, yang menyatukan bentuk dan fungsi. analog dengan fenomena alam. Konsekuensinya, alam organik akan merepresentasikan gaya itu. Alam telah menyediakan pelajaran-pelajaran yang menunjukkan bagaimana suatu bangunan dapat bertumbuh secara harmonis dengan lingkungannya; suatu harmoni bentuk yang juga bersumber pada fungsi-fungsi batin. (Frank Lloyd Wrigh, In the Cause of Architecture, 1908 dan 1914).

Pantai Baron Yogyakarta yang indah. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fbb8bc744b57802711dd472/pantai-baron-nan-eksotik

Manusia ber-satu-alam dan ber-satu-hukum dengan dunia semesta fisik di sekelilingnya, tetapi sekaligus mengatasi flora, fauna dan alam materi belaka. Hakikat dan tugas budaya arsitektur pun disitulah, bagaimana ber-satu-hukum dengan alam semesta,s ekaligus mengatasinya : artinya berbudaya, bermakna. (YB Mangunwijaya, Wastu Citra, Gramedia, Jakarta, 1992).

Desa Wisata di sekitar Candi Borobudur terus dikembangkan sebagai pendukung dari destinasi utama wisata. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fcb6bf7d541df594e50a412/misteri-gunadharma-arsitek-borobudur

Pengembangan Desa Wisata yang merupakan bagian dari pada pilar terpenting dari pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif ke depan. Sesuai RPJMN 2020 – 2024, Kemenparekraf/Baparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024. Tentu Desa Wisata sudah selayaknya dibangun dengan mengedepankan rasa ramah lingkungan. Tepat sekali bila mengambil tren ‘Eco Architecture‘ dalam rancang bangunnya.

Kemping menikmati alam adalah salah satu pilihan rekreasi yang ramah lingkungan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5a5b0280dd0fa80919512432/kemping-di-situ-patenggang-ciwidey

“Kita harapkan desa wisata ini akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuka lapangan kerja. Dan tentunya, pengembangan desa wisata menekankan aspek berkelanjutan,” kata Sandiaga Uno.

Hotel Tiara Bunga Balige memanfaatkan view alam Danau Toba yang menakjubkan. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5b87c8ddc112fe794541fcd6/terdampar-dalam-indahnya-danau-toba

Tanda Cinta Tanah Air Indonesia

Sebagai perempuan, kata cinta dan mencintai sangatlah nyaman terdengar dan menyentuh hati sanubari. Cinta dan mencintai bagian dari nurani keperempuanku, Dewi Laily Purnamasari. Mencintai ketiga anakku adalah amanah mulia dari Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi Karunia. Mencintai suami adalah bukti rasa hormat kepada pilihan pendamping hidup dari Allah Yang Maha Baik lagi Maha Bijaksana.

Mencintai orangtua adalah  bakti tiada berujung perintah dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebagai bagian dari semangat Aksi untuk Indonesia, maka  mencintai Indonesia adalah ungkapan rasa syukur atas anugerah sebuah negeri indah dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Perkasa.

Mencintai Indonesia itu sederhana. Ya … Benar! Dua cara sederhana yang aku coba lakukan sebagai tanda cintaku kepada tanah airku Indonesia … Negeri elok amatku cinta … Tanah tumpah darahku yang mulia … Pertama Menjelajah Alam Negeri Sendiri Aku dan keluarga lebih memilih wisata dalam negeri sebagai tanda syukur atas karunia keindahan dan kekayaan alam Indonesia. Gunung, lembah, sungai, pantai, laut, pulau, kota dan desa di Indonesia sungguh kaya ragam bentang alam dan budaya unik yang menarik.

Alhamdulillah beberapa destinasi yang pernah kami kunjungi adalah danau Toba di Sumatra Utara, sungai Batanghari di Jambi, gunung Merapi di Jawa Tengah, pulau Sempu di Jawa Timur, pantai Kuta di Bali, pulau Gili Trawangan di Lombok, sungai Mahakam di Samarinda, gunung Bromo di Jawa Timur, pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur, pantai Losari di Sulawesi Selatan, laut Bunaken di Sulawesi Utara, pulau Karimunjawa di Jawa Tengah, gunung Kerinci di Lombok.

Tak ketinggalan mengunjungi juga Kaliurang di Yogyakarta, Sarangan di Magetan, Baturaden di Purwokerto, Linggarjati di Kuningan, Brastagi di Medan, Tawangmangu di Karanganyar, Ciater di Subang, Kebun Raya Bogor dan Cibodas. Inilah sebagian pengalamanku sebagai tandamata betapa eloknya zamrud katulistiwa. 

Kisahku Bersama Hujan

Standar
Hujan menemaniku menikmati satu sore yang dingin di kampus ITB.

Sore ini hujan turun mengiringi tarian jemariku di atas keyboard laptop. Merangkai kata untuk tantangan MAGATA dengan tema air, air, air. Ditemani nyanyian merdu tetes hujan, kenangan indah bersama tetesan bening, dingin, dan segar pun muncul kembali. Dulu, berbasah kuyup, riang gembira, berlarian diderasnya hujan. Kini, hujan ingin ku nikmati dengan cara menuliskan kisah masa kecil hingga berjodoh dengan kating yang juga suka hujan.

Waktuku kecil, begitu hujan turun aku lari keluar rumah. Mamah kadang heboh mencegah, tapi akhirnya hanya bisa berkata, ‘Teh … Hati-hati!’ Aku tertawa riang berlarian bermandi butiran dingin menyegarkan. Heran deh! Walau jemari sudah keriput tanda kedinginan, masih saja asyik bermain. Biasanya kalau sudah mengigil barulah kembali ke rumah.

Hujan bukan halangan, bahkan hujan identik dengan kesenangan. Berbasah kuyup tak dilarang. Berlarian berkeliling bersama teman-teman dari gang kecil satu ke gang kecil lainnya, lalu berkumpul di sudut jalan. Di bawah talang dan teritis atap rumah kami tertawa riang.

Sesekali permainan diisi pertengkaran. Namanya juga anak-anak. Kami rebutan bunga dan daun kembang sepatu dari kebun tetangga. Mau tahu untuk apa? Bila ditumbuk sampai halus akan mengeluarkan cairan kental seperti jelly. Kami menyulapnya menjadi minyak goreng untuk bermain masak-masakan. Tanah liat jadi bumbu kacang dan beragam dedaunan jadi gado-gado.

Bosan satu permainan, kami berganti permainan lain. Masih dalam guyuran hujan yang telah menggigilkan tubuh. Supaya lebih hangat sekali lagi kami berlarian mencari tempat sembunyi. Yup! Petak umpet sambil bermain hujan. Seru sekali, syaratnya tak boleh sembunyi di tempat yang tak terkena air hujan.

Jangan main hujan! Nanti masuk angin. Sering kan dengar kalimat itu. Bermain hujan kok masuk angin. Kenapa bukan masuk hujan? Ha3 … Aya-aya wae . Awas nanti pening dan demam loh! Duuuhhh … Aku lebih sering pening kalau ketiga adikku yang bawel minta diajari matematika atau lebih pening lagi minta dibuatkan gambar. Lah … Itukan tugas mereka. Kenapa aku yang harus kerjakan? Tapi, Mamahku bilang itu tugas anak pertama, Teteh harus mau jadi mentor adik-adiknya. Bukan pening karena hujan-hujanan. Oya … Aku sakit demam seiring penyakit cacar air. Jadi tak ada demam dan pening karena main hujan-hujanan. Alhamdulillah …

Saat pertama turun hujan … Wangi tanah dan dedaunan tersiram air dari langit menyeruak dari jendela dan pintu yang sengaja ku buka lebar-lebar.  Aku meyakini salah satu waktu terbaik dikabulkannya doa-doa saat turun hujan. Setiap tetes ada malaikat turun menyertai. Rahmat-Nya dicurahkan kepada hamba-Nya yang bermohon, “Ya Allah Yang Maha Baik lagi Maha Mulia, berikanlah kami kesehatan, keselamatan, dan terhindar dari segala marabahaya”.

Dalam Al Quran Allah berfirman, “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu, sebagiannya mengjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, padanya kamu menggembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu Dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berfikir.” (QS. An-Naml : 10-11).

Aku senang memandang rumput, dedaunan, bunga-bunga dengan hiasan sisa hujan atau embun. Keindahannya tiada tara, membuatku senantiasa bersyukur atas segala karunia yang telah Allah limpahkan.

Kisah bersama hujan yang romantis juga pernah aku alami. Ketika mengikuti proyek LPPM ITB ke Jambi. Saat survey rumah adat di Kampung Sebrang Sungai Batanghari, hujan lebat turun tiada henti. Lama sekali. Sesekali petir menyambar. Aku terjebak di teras sebuah rumah berduaan saja dengan seorang kating. Sedang teman lain entah terkurung dimana? Sementara tak ada yang bisa kami lakukan. Selain duduk menatap langit dan menikmati gemericik air hujan di pekarangan. Kami bercakap-cakap dengan asyik sebagai teman. Ternyata dia juga suka hujan. Kami bertukar cerita tentang hujan. 

Akhir cerita, aku dan kating yang suka hujan itu menikah. Kami berjodoh, kini sudah 26 tahun kami bersama dengan bahagia. Barakallah.

Belajar BRTT, Bebas Komiba, dan TSP di Pesantren Daarut Tauhid Bandung

Standar

Libur ‘tlah tiba … Libur ‘tlah tiba … Hatiku gembira.” 

Ada yang ingat lagu yang dinyanyikan Tasya ini? Mengisi waktu libur dengan kegiatan bermanfaat sangat penting untuk seorang anak. Nah … Anakku bungsu, Teteh beberapa kali mengikuti pesantren kilat (sanlat) untuk mengisi waktu liburnya. Sekarang sih … Teteh sudah pesantren betulan, kelas 7 di SMP Quran Al Ihsan Boarding School. Alhamdulillah.

Teteh besama teman kelompok dan kaka pembimbingnya di kegiatan Sanlat MQ.

Waktu kelas empat sekolah dasar tahun 2017, Teteh ikut sanlat MQ bersama Pesantren Daarut Tauhid (DT) Bandung. Lokasinya di Lembang. Selama 3 malam 4 hari. Senangnya Teteh karena sahabatnya Ara juga ikut. Waaahhhh … Liburan sambil menimba ilmu, berlatih menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, istiqamah dalam beribadah, berprestasi dan berakhlak mulia. Teteh juga ikut Sanlat di Puncak Bogor dan di hotel bilangan Jakarta Utara. Kenapa suka ikut Sanlat? Teteh bilang karena banyak ketemu teman baru dan kegiatannya seru.

Apa yang menarik dari Pesantren DT ini? Aku sudah menjadi santri kalong sejak sekitar tahun 1990. Sebagai mahasiswi berjilbab di-era itu sangat butuh dukungan lahir dan batin agar bisa istiqamah. Selain kuliah di Arsitektur ITB, aku juga ikut kajian agama di Masjid Salman dan Pesantren DT.

Suasana Jalan Gegerkalong Girang tempat Pesantren DT berada terlihat bersih dengan banyak tempat sampah yang mudah diakses. Pesantren DT sangat concern terhadap isu lingkungan. Sejak awal mengenal Pesantren DT, aku tertarik dengan budaya BRTT dan ‘Bebas Komiba’. BRTT merupakan singkatan dari Bersih, Rapi. Tertib, dan Teratur. Sedangkan Bebas Komiba bermakna Berantakan-Rapikan, Basah-Keringkan, Kotor-Bersihkan, Miring-Luruskan, dan Bahaya-Amankan. Keren kan?!

Adakah Mamah Gajah Bercerita yang juga pernah menjadi santri di Pesantren DT? Atau anaknya ikut sanlat MQ?

Ketertiban, kerapihan, dan kebersihan diterapkan dalam setiap kegiatan santri. Lihatlah tas santri yang berjejer rapi saat pelaksanaan shalat berjamaah. Ruangan juga bersih tanpa sampah.
Sepatu dan sendal disusun rapi menghadap ke depan, agar saat hendak digunakan kembali lebih mudah. Susunan disesuaikan dengan kelompok masing-masing.
Kegiatan makan bersama juga menerapkan bebas sisa. Jadi santri dilatih untuk tidak membuang makanan. Ambil saja secukupnya agar tidak sia-sia makanannya.

Nah … Teteh saat ikut Sanlat MQ mendapat materi sekaligus praktek BRTT dan Bebas Komiba. Salah satu contoh sederhananya ialah menyimpan alas kaki menghadap ke depan secara teratur. Pakaian santri diharapkan bersih, rapi, sebagaimana yang dicontohkan oleh KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai pendiri dan pembina. Santri wajib melakukan mengaplikasikannya, baik itu di lingkungan Pesantren DT maupun di rumahnya masing-masing. Santri harus membudayakan BRTT dalam kehidupan sehari-hari, Hal ini menjadi salah satu upaya menjaga kebersihan sesuai dengan ajaran Islam.

Cottage Darul Jannah di lingkungan Pesantren DT, tempat favoritku kalau butuh staycation di Bandung.
Masjid dan bangunan kayu ini didesain oleh dosen Arsitektur ITB, Ir. Budi Faisal, MAUD, MLA, Ph.D.

Lingkungan Pesantren DT mempunyai jargon TSP, yaitu Tahan dari buang sampah sembarangan, Simpan sampah pada tempatnya, Pungut sampah Insya Allah sedekah. Dalam kegiatan sanlat ada lomba menjadi pasukan semut untuk membersihkan lingkungan. Santri menyapu, memungut dan membuang sampah pada tempatnya. Seru sekali, hasil pungut sampahnya ditimbang dan ditukar menjadi reward. Kebersihan kamar dinilai dan diakhir kegiatan akan diumumkan juara kelompok terbersih.

Bagian dalam Masjid DT yang selalu dijaga kebersihannya. Sebagai bukti penerapan BRTT, Bebas Komiba, dan TSP.

Tiga konsep ini bukan sebatas jargon Pesantren DT, namun aku menjadi saksi Aa Gym langsung turun tangan. Beliau tak segan memungut dan membersihkan jika melihat sampah berserakan di sekitarnya. Pernah satu kali, Aa Gym sampai turun dari mobil ketika melihat ada yang buang sampah sembarangan di sekitar jalan dekat masjid DT. Sampah itu langsung dipungut dan dibuang ke tempat sampah. Hal ini menyebabkan para santri dan masyarakat menjadi lebih tergugah untuk menjaga lingkungannya agar bersih dan tertib tanpa terpaksa.

Yuk! Mengenal Kecerdasan Visual-Spasial Anak

Standar

Semula aku hanya menduga-duga he3 … Kaka dan Mas juga memiliki kecerdasan visual-spasial. Nah … Aku tebak saja Teteh juga sepertinya begitu. Bagaimana tidak? Hasil karya Teteh di dinding rumah penuh berhias goresan pinsil. Gambar-gambar sejak dia berumur setahun. Lucu deh! Ada gambar yang tingginya se-jendela. Ah … Ternyata Teteh menggambar sambil memanjat meja untuk menggapai tempat kosong (maklum dinding yang rendah sudah penuh semua hi3 …). 

Sebagian lukisan di dinding itu adalah karya Teteh.

Anak bungsuku, mengikuti pemeriksaan psikologis MIR (Multiple Intelligences Research). Aku mendapatkan report hasilnya adalah poin 4,1 (skala 5) untuk kecerdasan spasial visual. 

Hhhmmm … Apakah artinya? Membaca pendapat DR. Howard Gardner komponen inti kecerdasan ini adalah kepekaan merasakan dan membayangkan dunia gambar dan ruang secara akurat. Spasial visual berkaitan erat dengan kemampuan menggambar, memotret, membuat patung, dan mendisain.

Menurut David F. Lohman seorang pakar psikologi dari Universitas Stanford (1979) menjelaskan bahwa kecerdasan spasial – visual merupakan kemampuan untuk menghasilkan, memelihara, memanggil kembali dan mengubah imajinasi visual yang terstruktur dengan baik di otak kita

Supraise juga untuk soal memotret. Tak disangka ternyata Teteh memiliki mata fotografi yang luar biasa. Ketika aku minta dia memotret, sedangkan aku yang jadi objeknya, waaahhhh … ternyata hasilnya cantik! Saat tes Kindi diminta membentuk sesuatu dari plasitin dan hasilnya bagus. Oh … Rupanya dugaanku tak meleset. 

Asyik nih jadi modelnya Teteh ketika piknik di kaki gunung Lawu.

Kadang hasil coba-cobanya sendiri -otodidak tanpa diajari menghasilkan foto dengan komposisi yang pas. Sepertinya harus sering dilatih dan diajak untuk berburu objek foto yang keren. Menggunakan smartphone pun hasilnya juga indah.

Aku dipotret Teteh di pantai Pelabuhan Ratu saat sunset.
Karya fotografi Teteh. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5ad15cf4cbe52348952c2c93/karya-fotografi-anak-10-tahun-ini-luar-biasa

Teteh mana tak tahan bila sehari saja tak pegang pinsil warna. Lincah nian menorehkannya di kertas gambar (bekas pun tak masalah yang penting bisa di warnai). Waktu TK, Teteh  mendapat nilai A untuk pelajaran paint under windows. Gurunya memberi pujian bahwa hasil karyanya melebihi kemampuan rata-rata teman-teman sekelasnya.

Kalau sedang asyik melukis gak bisa diganggu tuh! Kadang tangan dan kaki ikut dilukis juga ha3 … Ini Teteh umur 10 tahun.

Tes kali ini tidak hanya tentang IQ, tapi juga kecenderungan gaya belajar anak. Alhamdulillah … Aku jadi tahu kalau Teteh senang belajar dengan gambar. Teteh lebih mudah belajar dengan membayangkan, suka dengan warna juga belajar dengan metafora.

Teteh senang belajar melalui gambar dan metafora. Ciri paling menonjol dari anak dengan kecerdasan visual.

Ooo … Pantas saja waktu di ajak ke museum dia sangat antusias. Sebab di museum kan kita bisa melihat langsung dengan matanya bentuk-bentuk hewan, maupun beragam benda lainnya. 

Satu lagi nih … Teteh tuh lincah banget. Dia bergairah bila belajar dilakukan dengan aktivitas, drama, respon tubuh atau membuat kerajinan tangan. Hasil MIR mendaptkan poin 3,9 untuk kecerdasan kinestetiknya.

Sejak kecil Teteh senang sekali beraktivitas di luar ruang. Teteh sedang bermain trampolin di bukit Sekipan Tawangmangu.

Wah … Beneran deh! Aku tuh sampai kemringet kalau mendampingi aktivitas Teteh. Tidak bisa diam lama he3 … Malah senang kalau belajarnya dibumbui dengan acara menari -bergerak kesana kemari.

Loncat-loncat kayak bola bekel ha3 … Teteh berlibur di kebun teh Gunung Mas Puncak Bogor. https://dewilailypurnamasari.wordpress.com/2020/10/20/kebun-teh-gunung-mas-jalan-jalan-bareng-hijaber-cilik/
Teteh menari di atas pasir pantai Baron Yogyakarta. https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fbb8bc744b57802711dd472/pantai-baron-nan-eksotik
Was-was juga saat mencari Teteh kok gak ada pas dipanggil untuk makan siang. Ternyata Teteh main di tempat jemur pakaian dan merayap hingga pucuk atap genting rumah. Ini bukti fotonya hasil jepretan sahabatnya.
Teteh sedang mengerjakan tugas sekolah.

Orangtua harus sabar dan tetap semangat. Anak visual spasial itu cenderung senang buat berantakan rumah. Teteh kalau melukis ya bisa nge-blok bagian ruang kerja untuk gelar cat air, cat akrilik, karayon, pinsil warna, spidol, pulpen, kanvas, kertas, kuas-kuas, belum lagi tumpahan airnya. Belepotan lantai kadang juga bagian badannya berlumuran cat. He3 … 

Bermain lego juga sangat membantu Teteh untuk mengasah kecerdasan visual spasial berpadu dengan kinestetik. Balok-balok warna warni beragam ukuran disusun dan dirangkai menjadi bermacam bentuk. Koleksi lego Teteh cukup banyak dan pernah juga ikut lomba having fun aja sih! Alhamdulilah menang dapat hadiah lego. Wuuiiiihhh … very happy ya Teteh.

Teteh kalau sedang asyik buat hasta karya dari kain. Dia akan mengeluarkan kain-kain beragam corak. Jarum, benang, gunting. manik-manik, lem tembak akan berserakan. Hasil karya Teteh berupa ikat rambut, kalung – gelang manik-manik, tas / tote bag, dan mainan untuk kucing kesayangannya. 

Ikat rambut dari kain katun hasil hasta karya Teteh di sela PJJ pesantren daring. Korean garlic bread yang yummy ini juga buatan Teteh loh! https://www.kompasiana.com/dewilailypurnamasari/5fc8b4878ede480512678c82/jalankan-hobi-di-sela-pjj

Kalau lagi keluar kepinginannya masak … Heboh deh dapurku. Aneka tepung, telur, mentega, butter, coklat, dan segala peralatan. Mixer, spatula, panci, oven, talenan, dan teman-temannya akan jadi alat perang Teteh. Aku malah takjub, dia belajar dari internet. Lah! Aku gak hobi masak kok he3 … Seneng loh dibuatin Teteh sifon cake, pancake, dissert box, banana cake, dan minuman yummy berbahan dasar kopi.

Senangnya bisa mengetahui hal ini sejak dini. Sebagai orangtua tentu hal ini sangat berguna untuk menemani anak belajar. Sepakat dengan para ahli pendidikan, bahwa selagi masih anak-anak tentu bermain sambil belajar itu lebih asyik.