Begini Rasanya Hamil dan Melahirkan 3 Anak

Standar

Ijinkan aku bercerita tentang pengalaman menarik dan berkesan saat hamil dan melahirkan.

Kaka, Mas, dan Teteh bersama Bapa tersayang.

Hamil dan Melahirkan Kaka

Kehamilan pertama dijalani bersamaan dengan karirku di konsultan perencana sebagai arsitek. Pekerjaan di lapangan dan tugas desain yang cukup melelahkan tak menyurutkanku untuk tetap menjalani kehamilan dengan sehat dan bahagia. Usiaku saat itu menginjak 26 tahun. Proses melahirkan normal membuatku merasakan betapa batas antara sakit dan kekuatan untuk menahannya adalah keniscayaan. Allah Yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang memberiku kekuatan. Masyaallah …

Dahulu aku sangat ngeri dengan darah, tetapi saat aku melihat betapa banyak darah pada sekujur tubuh anak pertamaku dan di tempatku melahirkan, terasa sedikit demi sedikit rasa ngeri itu pudar. Masyaallah … Inilah pengalamanku melahirkan dengan normal.

Hamil dan Melahirkan Mas

Kehamilan kedua aku jalani bersamaan dengan karirku sebagai dosen dan pimpinan perguruan tinggi. Aku diberi amanah menjadi direktur sebuah akademi. Aktivitas yang padat tak membuatku gentar untuk menjalani kehamilan dengan sehat dan bahagia.  Proses melahirkan cesar dengan bius total harus kujalani, karena anak keduaku terlilit plasenta. Aku sudah berusia 30 tahun. Sungguh hanya karena karunia dari Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa telah memberiku keselamatan dan kesehatan.

Luar biasa rasanya pengalaman spiritual dalam proses bius total. Tak ada ingatan dan rasa apapun. Selama lebih dari dua jam aku terbujur kaku. Tangan mungil anak sulungku yang pertama kali aku rasakan saat kesadaran mulai menghampiri. Lamat-lamat terdengar lantunan doa suamiku saat siuman. Oh … begini rupanya perasaan orang yang meninggal dunia? Inilah berkah melahirkan gaya operasi cesar dengan bius total. Subhanallah …

Hamil dan Melahirkan Teteh

Saat menginjak usia 37 tahun di mana menurut ilmu kedokteran cukup rawan untuk menjalani kehamilan. Dua tahun sebelumnya aku terdeteksi ada kista pada salah satu indung telur berdiameter hampir 7 cm. Jadilah kehamilan ketiga ini janin berdampingan dengan kista. Aku sempat merasa ragu, apakah akan baik-baik saja si jabang bayi dalam rahimku? Oya … Saat hamil aku sedang beralih profesi menjadi pekerja sosial. Aku diberi amanah memimpin sebuah posyandu dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) masjid di perumahan tempatku tinggal. Bersama ibu-ibu hebat di komunitas tersebut aku menjadi tetap bersemangat menjalani kehamilan sehat dan bahagia. Beda sekali rasanya hamil diusia ini he3 … Cepat lelah dan tulang sering terasa pegal linu.

Kali ini proses melahirkan yang aku pilih adalah operasi cesar dengan bius setengah badan. Dokter anastesi menyuntikku di bagian punggung. Atas saran dokter kandungan proses melahirkan ini disaksikan oleh suamiku. Dia bisa memperhatikan tahap demi tahap bagaimana anak ketigaku dilahirkan. Aku tetap bisa mendengar alunan musik dan percakapan dokter dengan suster di dalam ruang operasi. Dzikir, doa, dan ayat suci Al-Qur’an aku panjatkan terus menerus sepanjang waktu operasi. Perasaanku campur aduk ketika terdengar bunyi tangis keras bayi yang sedang dipeluk suamiku untuk dikumandangkan adzan. Allahuakbar …

Dokter kandungan melanjutkan tugasnya mengambil kista dan menyelesaikan proses operasi. Bayi mungil di dekatkan ke wajahku. Selanjutnya aku dibawa ke ruang pemulihan dan setelah dua jam kembali ke ruang rawat, langsung diminta menyusui oleh susternya. Walaupun ASI belum keluar tetapi mulut bayi telah belajar mencari dan menemukan sumber minuman dan makanan utamanya. Sungguh Allah Yang Mahamulia lagi Maha Terpuji telah menunjukkan keagungan-Nya.

Doa-doa Terbaik untuk Anak

Doa-doa terbaik senantiasa dipanjatkan. Ya Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabijaksana, jadikanlah Kaka, Mas, dan Teteh sebagai anak shalih yang senantiasa mencintai-Mu, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, meneladani Rasulullah Shalallaahu Alaihi Wassalaam, dan kelak dengan ilmunya menjadi pemimpin orang-orang yang bertaqwa.

Alhamdulillah telah Engkau berkahi kami sekeluarga rasa bahagia ketika bisa berkumpul bersama.

Berkahilah mereka kecerdasan, akhlak mulia, kesehatan, ketangguhan dalam menjalankan episode kehidupannya. Rahmatilah mereka dengan kasih dan sayang-Mu ya Allah Yang Maha Penjaga lagi Maha Pemberi Karunia. Aamiin … 

Mengintip Kemegahan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Standar

Senang sekali kemarin kedatangan kerabat dari Solo. Beliau adalah kakak sulung suamiku, biasa disapa Pade Abu. Waktu hanya sehari semalam saja di Jakarta untuk bersilaturahim kepada kerabat Bani Tafsir Anom V (BTA V) sepupu dari Ibunda Sirriyah.

Silakan mampir di sini: Kisah Berjumpa dengan Kerabat BTA V

Pemandangan indah Kota Jakarta dan Monas tampak dari Perpusnas RI.

Hari ini beliau akan kembali ke Solo menggunakan kereta api dari Stasiun Pasar Senen. Sambil menunggu jadwal keberangkatan, suamiku mendadak punya ide untuk berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) di Jalan Medan Merdeka Selatan. Lokasinya tepat di depan Monumen Nasional (Monas) dan berjejer dengan Gedung Balaikota DKI Jakarta, kantor Gubernur Anies Baswedan.

Berpose sejenak di depan gedung utama Perpusnas RI.

Kunjungan yang berkesan sekali bagi Pade Abu karena belum tentu warga Jakarta juga sudah mampir ke perpustakaan tertinggi di dunia ini. Waaahhh … Keren banget ya! Sekilas info tentang perpustakaan kebanggaan Indonesia ini adalah:

Perpusnas RI menjadi gedung perpustakaan tertinggi di dunia loh! Gedung utama setinggi 126.3 meter dengan total ruang adalah 27 lantai dan 3 lantai bawah tanah. Perpustakaan ini berdiri di area seluas 11.975 meter persegi dengan luas bangunan 50.917 meter persegi. Gedung perpustakaan ini dirancang dengan konsep green building.

Lobby utama yang didesain dengan modern.

Setiap lantai gedung menyimpan koleksi buku yang berbeda. Ruang baca anak ada di lantai 7. Sedangkan lantai14 menyimpan koleksi buku langka, lantai 21 hingga 24 menyimpan berbagai buku umum. Pada lantai teratas atau lantai 24 terdapat executive lounge serta menjadi tempat ideal untuk melihat panorama area Monas.

Perpusnas RI menyimpan banyak koleksi buku. Tercatat pada awal 2015 mencapai 2,6 juta buku. Jumlah itu masih terus bertambah dari tahun ke tahun. Tak hanya buku saja, ada juga koran, majalah, dan foto kuno. Menariknya, ada 11 ribu naskah kuno yang dipamerkan. Tiga di antaranya telah terdaftar dalam Memory of The World UNESCO, di antaranya adalah Naskah Negarakertagama, Babad Diponegoro, dan La Galigo yang merupakan warisan budaya nusantara. Keren ya … Alhamdulillah.

Beruntung bisa sampai di balkon lantai teratas Perpusnas RI.
Bisa memandang keindahan Kota Jakarta.
Ruang di lantai 24 adalah executive lounge yang dilengkapi dengan sofa-sofa empuk.
Selain buku, di Perpusnas RI ada juga ruang pameran karya seni ciri khas Indonesia.

Bila ingin berkunjung ke Perpusnas RI dengan transportasi publik sangat mudah. Letaknya dekat dengan halte Transjakarta Balaikota DKI Jakarta. Transjakarta biasa digunakan oleh warga Jakarta untuk menuju pusat kota. Moda transportasi publik ini nyaman, aman, bersih, murah, dan anti macet. Slogan itu menjadi andalanku agar Teteh senang memanfaatkan fasilitas umum ini. Tapi kali ini Pade Abu hanya berjalan kaki dari kantor suamiku di Jalan Kebon Sirih. Hebat! Sehat dan bahagia tentunya.

Bangunan dengan gaya arsitektur kolonial yang masih dipertahankan dan berfungsi sebagai ruang tamu dan ruang pameran. Bangunan ini diberi nama Galeri Nasional.

Bangunan depan perpustakaan adalah bangunan bergaya kolonial yang tetap dirawat dan dipertahankan keasliannya. Tiang besar dan tinggi menyambut kami. Di ruang pertama ada meja kursi antik yang boleh diduduki oleh pengunjung. Kami berjalan menuju koridor yang di kiri kanannya ada ruang pameran instalasi. Ada juga bangunan yang diberi label Galeri Kepresidenan.

Galeri Kepresidenan di lokasi Perpusnas RI.

Semoga kemegahan gedung Perpusnas RI dan segala isinya terutama buku-buku koleksinya bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baik oleh masyarakat. Hal ini demi mendukung kepedulian pemerintah terhadap program melek literasi di tanah air, sehingga menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul, inovatif, dan memiliki kreativitas bagi terwujudnya masyarakat berpengetahuan dan berkarakter.

Perpusnas RI adalah amanat Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007. Maka dengan adanya undang-undang ini diharapkan keberadaan perpustakaan benar-benar menjadi wahana pembelajaran sepanjang hayat dan wahana rekreasi ilmiah. Selain itu, juga menjadi pedoman bagi pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan di Indonesia sehingga perpustakaan menjadi bagian hidup keseharian masyarakat Indonesia.

Foto Bung Hatta.

Bung Hatta memberi pesan, “Membaca tanpa merenung adalah bagaikan makan tanpa dicerna.”

Koleksi buku di Perpusnas RI salah satunya berjudul House of Solo.
Poster BJ Habibie dengan kutipan pemikiran beliau yang menginspirasi.

“Hanya anak bangsa sendirilah yang dapat diandalkan untuk membangun Indonesia, tidak mungkin kita mengharapkan dari bangsa lain.”

Beberapa foto saat aku bersama Teteh berkunjung ke Perpusnas RI.

Ruang baca anak ada di lantai 7. Suasananya sangat nyaman dan bikin betah.
Desain pintu liftnya sangat menarik dengan foto-foto berbagai bangunan bersejarah di Indonesia.
Dindingnya dihiasi dengan beragam lukisan yang indah.
Replika desain ruang perpustakaan yang nyaman.
Pameran ruang peristiwa membaca dari jaman ke jaman.

Sebagai orangtua tentunya kita ingin memberikan motivasi kepada anak-anak agar mau berkunjung dan menikmati sensasi membaca yang mengasyikkan di Perpusnas RI. Silakan baca di sini: Perpusnas RI Destinasi Wisata Edukasi

Simak artikel terkait yang menarik di sini:

Pelajaran Berharga dari Seorang Penjual Kerupuk

Standar

Pada tahun 1969 mantan KSAU Chappy Hakim mengikuti latihan dasar terjun payung statik di Pangkalan Udara Margahayu Bandung. Ia menjalani latihan cukup berat bersama 120 orang yang tinggal sehari-hari tinggal di dua barak panjang. Seperti layaknya standar prajurit, mereka mendapat ransum makan pagi, siang dan malam. Di ujung barak ada drum berisi sayur dan di sampingnya ada sebuah karung plastik berisi kerupuk milik seorang ibu setengah baya. Ibu ini tak pernah menunggu barang dagangannya.

Rutin … Ibu yang tinggal di dekat barak prajurit itu selalu meletakkan barang dagangannya menjelang waktu makan dan mengambil sisa beserta uang hasil dagangannya selepas waktu makan. Cheppy merasa heran. Mengapa Ibu itu tak pernah khawatir ada yang tidak bayar ? Jawabannya sangat mengagetkan. Ternyata penjual kerupuk yang baik itu percaya bahwa tak akan ada prajurit yang tak membayar kerupuk yang dimakannya. Seandainya harus ada kembalian, prajurit tinggal mengambil kembalian dari kotak uang yang ada. Selalu begitu … dan tak pernah defisit.

Demikian seterusnya … Cheppy pun mencari informasi kepada pelatih terjun. Subhanallah … Selama bertahun-tahun para prajurit yang berlatih di sana tidak ada yang berani mengambil kerupuk dan tidak bayar. Mereka takut melakukannya karena khawatir payungnya tidak mengembang dan akan terjun bebas serta mati berkalang tanah.

Begitulah adanya! Bila setiap orang berpikir bahwa pintu kematian begitu dekat. Kematian pasti datang dan tak bisa ditawar-tawar maka orang akan selalu bersikap jujur dan dapat dipercaya. Masya Allah … Bagi penulis yang belum pernah sekalipun berlatih terjun payung merasa betapa seharusnya kita berusaha sebagaimana para prajurit yang sedang berlatih terjun payung. Jujur dan dapat dipercaya karena tahu persis bahwa Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Pengampun penggenggam ubun-ubun kita. Setiap saat bisa saja kematian menjemput kita.

(Intermezo … Sssttt … Ada pengalaman saat aku ingin mengikuti latihan terjun payung di kegiatan Raimuna Nasional Pramuka. Waktu itu aku masih kelas 2 SMA. Eeehhh … Ternyata aku ditolak! Alasannya karena berat badanku kurang dari 40 kg. Kebayangkan mungilnya hi3 … : Akhirnya aku cuma bisa menonton teman-teman yang asyik berlatih terjun payung.)

Sumber bacaan : Bekerja Bersama Allah Membangun Integritas Kerja, Penerbit Spiritual Capital Management Human Capital Center PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk.

Kawasan Lagoi Bintan Yang Unik dan Eksotis

Standar

Sebelum memutuskan untuk berkunjung ke Pulau Bintan dari Pulau Batam, aku sempat ragu. Apa yang bisa dieksplor di pulau terbesar di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) ini? Aku sudah pernah berkunjung ke Pulau Belitung dengan laut dan pantai yang begitu indah tentu memiliki ekspektasi yang tinggi juga dengan Pulau Bintan. He3 … Maklum saja tiket pesawat sedang mahal nih.

Perjalanan kali ini sungguh luar biasa. Mengapa? Aku tak menyangka akan menjelajah kawasan wisata yang keren banget dan bertaraf internasioan di Pulau Bintan. Ya! Kawasan seluas sekitar 18.000 hektare yang hak konsesinya milik Salim Group dan Sembawang Corp ini sudah banyak hotel dan fasilitas pendukung lain dibangun. 

Pelabuhan Tanjung Uban Bintan.

Dari Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat Super Jet aku menuju bandara Hang Nadim Batam. Lalu aku menuju ke pelabuhan Telaga Punggur untuk berlayar dengan speedboat ke Tanjung Uban. Waktu tempuhnya tak lama … Hanya 20 menit saja. Beruntung pagi itu laut sedang tenang, jadi aman dan nyaman selama perjalanan.

Selanjutnya aku berkendara menuju Kawasan Legoi Bintan tak lebih dari 45 menit. Saat memasuki gerbang utama kawasan tampak suasana sepi. Jalanan yang lebar dan mulus di kiri dan kanannya tumbuh pepohonan hijau nan lebat. Bisa jadi karena waktu berkunjungku ini di hari kerja bukan saat liburan juga. 

Daya tarik pantai pasir putih yang panjang membentang di Pulau Bintan yang berhadapan dengan Laut Cina Selatan.

Ternyata … Dibandingkan wisatawan lokal, kawasan ini lebih diminati oleh wisatawan mancanegara, terutama dari Singapura. Mereka senang dengan suasana asri dan alami dari Kawasan Legoi Bintan ini. Bintan sudah ditetapkan sebagai salah satu wilayah travel bubble antara Indonesia dengan Singapura sejak Senin, 24 Januari 2022. Terminal Feri Bandar Bintan Telani untuk memasuki kawasan travel bubble Lagoi Bintan Resort, Bintan. Info lengkapnya ada di sini.

Sejak tahun 2018, Kawasan Lagoi Bintan juga disinggahi setiap minggunya oleh kapal pesiar lainnya, namun pelayaran kapal pesiar ini terpaksa terhenti oleh karena merebaknya pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Kapal pesiar Voyager of the Seas milik perusahaan Royal Caribbean Internationa jugal sempat dua kali melakukan pelayaran dengan membawa turun 4.000 penumpang setiap berlayar ke wilayah perairan Indonesia di Bintan Utara untuk melancong dengan melalui pelabuhan laut Bandar Bentan Telani yang terletak di dalam kawasan wisata ini.

Menurut pengemudi kendaraan yang mengantarku, memang kawasan ini ramai di akhir pekan, Jumat-Minggu. Selain itu efek masa pandemi selama dua tahun lebih juga membuat kawasan ini harus berusaha kembali bangkit dengan meningkatkan kualitas pelayanan, fasilitas, dan promosinya.

Ada banyak spot unik dan eksotis yang patut dikunjungi selama berada di Kawasan Lagoi Bintan.

Pertama: Treasure Bay

Treasure Bay ini memiliki sekitar 40 bungalow dan sebuah kolam renang raksasa, terluas se-Asia Tenggara. Wahana bernama Crystal Lagoon di Chill Cove, adalah bagian dari Treasure Bay dengan luas 6,3 hektar dengan panjang 800 meter atau setara dengan 50 kolam renang olimpiade jika digabungkan. Wooow … Luas sekali ya … Lebih kerennya lagi kolam ini berisi air laut loh! Mantap kan …

Kolam renang air laut seluas 6,3 hektar.

Beberapa aktivitas di Treasure Bay yang dapat dilakukan adalah wakeboarding, bumper boat, cable tube, jet ski, kayak, paddle boat, hingga menuruni seluncuran setinggi 7,5 meter dan bersantai di atas ban lucu berbentuk unicorn. Kolam dengan titik kedalaman bertahap hingga 2,5 meter, menjadikan pengunjung bisa menikmati wisata air di kolam renang yang luas dengan desain bak laguna asli tersebut seperti sedang benar-benar berada di pantai.

Bagi penyuka olahraga renang pilihan untuk menginap di Treasure Bay sangat tepat. Oya … Hotel di sini bentuknya juga unik, serupa tenda. Ada Anmon Resort Bintan dan Natra Bintan sebagai pilihan. Sedangkan pengunjung yang tidak menginap bisa membeli tiket masuk kawasan seharga Rp. 184.000,- sebagai paket terusan. Pengunjung bisa menikmati wahana kolam renang dan menyusuri hutan mangrove dengan kapal motor. Ada juga sepeda yang bisa disewa untuk berkeliling kolam renang.

Kedua: Hutan Mangrove

Pulau Bintan memang kaya akan pesona alamnya yang luar biasa. Mulai dari pantai dengan pasir putih dan batu-batu besar, pulau-pulau kecil, wisata buatan hingga hutan mangrove yang begitu memukau. Hutan mangrove adalah ekowisata yang menarik untuk dikunjungi karena suasana alami.

Aku menjelajahi Sungai Sebong sepanjang 6,8 km dan terpukau dengan indahnya hutan mangrove ini. Sepanjang perjalanan menyusuri hutan dengan perahu, aku melihat keanekaragaman flora dan fauna yang masih sangat terjaga.  

Sebuah pengalaman yang tak terlupakan ketika aku berkeliling hutan mangrove dan bertemu buaya. Padahal sebelumnya tour guide mengatakan bahwa dia belum pernah bertemu hewan liar yang memang habitatnya ada di rawa-rawa itu.

Ketiga: Pantai Lagoi Bay

Kawasan wisata yang diberi nama Lagoi Bay ini memiliki luas 1.300 hektare ini telah diresmikan pada 23 Mei 2015.  Bagi pengunjung yang ingin menginap di sini terdapat beberapa hotel yang dibuka secara bersamaan, di antaranya The Shancaya Resort milik seorang investor asal Rusia, Swiss-Bell Hotel, Grand Hotel Lagoi, dan Lagoi Bay Mall.  Menurutku hal yang sangat disayangkan, sebagian besar hotel di pantai ini dikelola investor asing. Semoga di masa datang akan banyak pengusaha lokal yang membuka hotel di kawasan ini.

Pantai pasir putih yang bersih dengan deretan pohon kelapa serta laut biru yang landai menjadikan lokasi ini menjadi spot yang menarik untuk para pengunjung. Semilir angin yang seolah tiada hentinya berhembus, akan senantiasa menemani. Selain berfoto dan bermain pasir, kita bisa juga bersepeda di sini karena pantainya yang landai.

Pengunjung bisa menikmati sajian kuliner khas Bintan, seafood yang segar di restoran yang berada di dekat pantai. Harganya terjangkau dan rasanya menggugah selera. Lebih asyik lagi saat malam hari dengan hiasan lampu gantung menambah romantis suasana.

Keempat: Danau Lagoi Bay

Tak jauh dari pantai ada sebuah danau yang cantik. Sekeliling danau ditanami rumput dan pepohonan yang membuat suasananya semakin nyaman. Bagi pencinta gowes, inilah lokasi yang pas dan sangat tepat untuk mengayuh pedal sambil menikmati kicau burung dan langit biru berhias awan putih. 

Setelah puas gowes di pantai, aku menuju ke arah danau dan sungguh merasa supraise … Amazing. Masyaallah … Indah sekali pemandangannya. Bersih dan nyaman track untuk bersepedanya. Air danau yang gelap tampak tenang bagai cermin memantulkan warna langit biru berhias awan putih.

Gowes mengelilingi danau sejauh lebih dari 7 kilometer membuat tubuh segar dan bugar. Hatipun bahagia sejenak melepas penat dari rutinitas sehari-hari di Kota Jakarta yang padat. Pengalaman gowes di Lagoi Bay sudah aku tulis di sini

Kelima: Doulos Phos

Siapa sangka ada hotel berupa kapal pesiar di ujung utara Kawasan Lagoi. Benar sekali … Ada sebuah kapal pesiar disulap jadi hotel, sungguh spot unik yang baru aku temui di Lagoi. Ini adalah hotel terapung pertama di Indonesia.

Kapal pesiar berumur 108 tahun ini atau dua tahun lebih muda dari kapal Titanic dijadikan bangunan hotel dan sangat diminati oleh wisatawan. Pembuatannya berlokasi di Newport News Shipbuilding and Dry Dock Company, Amerika Serikat, pada 1914.

Aku sejenak menikmati segelas jus dan sepinggan kentang goreng di restoran hotel yang menghadap ke arah laut. Angin semilir membelai lembut menambah romantis suasana di sini. Kolam renang yang berada di tepi laut menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu hotel, karena ada sensasi seolah berenang di laut lepas. 

Catatan tambahan:

Kami merasa ada yang kurang di kawasan Legoi Bintan karena hanya menemukan satu masjid yaitu Masjid Al-Ansyorin Nirwana Garden. Pengelola tempat wisata sudah mencoba membuat mushola yang memadai. Sedangkan saat di hotel, kami shalat berjamaah di kamar saja.

Pada artikel selanjutnya aku akan tulis tentang Pulau Penyengat dan jejak sejarah perkembangan Islam di nusantara. Pulau Penyengat merupakan pulau yang bersejarah dan memiliki kedudukan yang penting dalam peristiwan jatuh bangunnya Imperium Melayu.

Berjumpa sahabat suamiku saat kuliah di Arsitektur ITB yang kebetulan sedang bertugas mengawas proyek renovasi sebuah hotel di kawasan Lagoi Bintan.

Silakan mampir membaca artikel perjalanan yang menarik lainnya di sini:

Congo Sensasi Kuliner di Galeri Seni

Standar

Pagi telah beranjak pergi … Udara Bandung tetap saja sejuk dan nyaman terasa. Mobilku melaju menuju kawasan Dago Pakar dan memasuki gerbang sebuah restoran. Anakku yang sedang kuliah di ITB biasanya akan merasa senang jika diajak untuk kuliner bersama untuk melepas rindu dan saling berbagi cerita.

Sambil menunggu pesanan makanan dan minuman Teteh bermain dengan riang.

Aku memilih Congo Galery and Cafe, sebuah restoran yang dibangun di atas lahan seluar dua hektar. Desain restoran ini unik dan menarik. Atap bangunan dari rumbia atau ijuk menambah kesan alami. Batu-batu alam digunakan untuk bagian taman, tangga, dan jalan setapak.

Waaahhh … Gayanya asyik juga nih Teteh.
Bangunan Congo Galery and Cafe dengan nuansa alami.

Restoran modern dengan hidangan lokal disajikan di tempat elegan bernuansa kayu dengan latar belakang rimbun. Konon pemilik dari Congo cafe Bandung ini adalah pengelola hasil hutan khususnya perkayuan, sehingga jangan heran,dengan sentuhan seni yang tinggi, gudang disini dipenuhi berbagai jenis kayu nan indah ini juga diperdagangkan.

Teteh menikmati suasana yang asri dengan udara yang sejuk.
Pepohonan yang rindang menambah segar berpadu dengan suasana di Dago Pakar yang memang sejuk.

Bagian utama bangunan dibuat terbuka dengan jendela besar yang memungkinkan pengunjung bisa melepas pandangan ke arah luar. Tampak pepohonan hijau mengelilingi area restoran. Interior didominasi kayu-kayu solid sebagai meja dan kursi. Congo memiliki galeri perkayuan yang sangat mengesankan dengan koleksi kayu bermutu tinggi dari mulai yang kecil sampai yang berukuran sangat besar. Kayu trembesi dan jati yang diplitur halus sehingga masih menampakkan urat-urat alami, indah sekali.

Meja dan kursi dari kayu solid.

Tempat ini memajang karya-karya seni yang terlihat sangat indah dan artistik yang terbuat dari dari pahatan kayu serta furnitur-furniturnya didominasi oleh kayu. Itulah alasan yang menjadi rekomendasi penulis kenapa tempat ini harus anda datangi dan kunjungi, khususnya bagi anda yang ingin mencari Tempat makan dan nongkrong yang asyik di Bandung dengan balutan suasana ruangan cafe yang artistik,tradisional, asri serta nyaman tentunya.

Area yang lebih terbuka di lantai satu.

Lampu-lampu berwarna kuning menambah romantis suasana. Lukisan di dinding juga membuat ruang makan ini menjadi bertambah indah. Aku senang sekali bisa duduk santai bersama anak-anak sambil menikmati sajian makanan dan minuman yang nikmat.

Meja dari marmer.

Ada yang menarik di bagian luar restoran yaitu beragam mobil antik dipajang dan bisa dijadikan latar berfoto yang unik. Di bagian depan ada juga meja dari marmer yang besar sekali dan menarik perhatian Teteh untuk berpose sejenak. Sebuah mesin pemotong kayu besar yang telah dipensiunkan dipajang berdekatan dengan akar pohon besar berbentuk unik, diletakkan tepat sebelum koleksi kayu besar.

Sebuah kursi kayu unik berada di dekat pintu masuk restoran.

Menu yang bisa dinikmati di Congo Gallery and Cafe ini adalah T-Bone panggang (steak), Dory dan buntut bakar (grilled), gindara, ayam, dan iga panggang, dengan minuman Fruit Punch, ice green tea, dan milkshake choco.

Simak juga artikel menarik lainnya untuk rekomendasi wisata di Kota Bandung dan sekitarnya:

Masjid Kubah Emas Depok Nan Menawan

Standar

Masjid paling megah se-Asia Tenggara pantas disematkan untuk Masjid Dian Al-Mahri. Betapa tidak … Kubahnya yang berwarna emas itu memang benar-benar berlapis emas sungguhan. Itulah sebabnya masjid yang memiliki 5 kubah utama dan 4 kubah kecil berlapis emas setebal 2-3 mm ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kubah Emas.

Taman di dalam kawasan Masjid Kubah Emas ditata dengan asri.
Inner court yang menjadi ruang perantara sebelum memasuki ruang shalat utama.

Masjid seluas 8.000 meter persegi yang menampilkan gaya arsitektur timur tengah ini didirikan oleh almarhumah Dian Djuriah Maimun Al-Rasyid di atas lahan seluas 70 hektar. Terkenal sebagai pengusaha sukses, Dian juga dikenal sebagai seorang dermawan yang gemar membantu anak yatim dan banyak membangun masjid, total ada 1.000 masjid yang sudah ia bangun.

Tampak dinding bagian luar masjid dilapisi marmer berwarna terracotta. Lengkungan jendela mengingatkan pada gaya arsitektur timur tengah.
Selasar dengan tiang-tiang berlapis marmer hitam tampak elegan.
Teteh dan sepupu kesayangannya senang sekali bisa berkunjung ke masjid megah ini.

Balutan emas bukan hanya pada bagian kubah saja, namun juga hadir di beberapa bagian ornamen masjid. Di mimbar juga terdapat relief hiasan yang terbuat dari emas 18 karat. Tak hanya itu serbuk-serbuk emas pun digunakan untuk melapisi mahkota pilar masjid yang berjumlah 168 buah. Di puncak keenam menara juga diletakkan kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Diketahui bahwa sebagian besar bahan untuk membangun masjid ini diimpor langsung dari Italia dan Turki.

Ruang utama shalat dilapisi karpet yang empuk dan wangi. Tiang-tiang berlapis marmer tampak kokoh menopang langit-langit yang tinggi.
Mihrab dan area dinding depan masjid dengan ornamen geometris yang cantik. Pencahayaan alami didapat dari bukaan jendela besar di kiri dan kanan ruang utama.
Kubah utama tampak dari dalam dihiasi ornamen lukisan awan yang menawan.

Filosofi bangunan dapat dilihat pada kubah yang berjumlah 5 melambangkan rukun Islam, sedangkan 6 menara merupakan simbol rukun iman. Di pintu masuk masjid, termasuk pintu menara berjumlah 17 yang selaras dengan jumlah rakaat pada shalat rawatib umat Islam. Di kaki kubah utama ada 33 jendela yang menggunakan kaca patri. Setiap jendela ada 3 nama Allah (Asmaul Husna), bila dikalikan 33 menjadi 99.

Aku sempat mampir dan shalat di Masjid Kubah Emas sebelum pandemi.

Pepohonan rindang menambah nyaman suasana masjid bagi para pengunjung.

Mengubah Wajah Kota Jakarta

Standar

Hari Habitat Dunia (HHD) diperingati setiap hari Senin di minggu pertama Oktober dan tahun lalu jatuh pada Senin, 4 Oktober 2021. Tema HHS adalah mempercepat aksi perkotaan untuk dunia bebas karbon yang sangat berkaitan dengan isu emisi karbon yang meresahkan di seluruh dunia. Hampir satu tahun berjalan, apakah yang sudah dilaksanakan di Kota Jakarta terkait hal tersebut. Adakah yang sudah berubah ke arah yang lebih baik?

Aku teringat pernah mengikuti Seminar Nasional HHD pada1 Oktober 2012. Waaahhh … Sudah sepuluh tahun lalu. Saat itu ditetapkan tujuan HHD adalah merefleksikan kondisi permukiman dan hak dasar manusia akan hunian layak, serta mengingatkan dunia akan tanggung jawab bersama untuk masa depan habitat manusia.

Peningkatan sebesar dua pertiga proporsi penduduk dunia di perkotaan, maka semakin meningkat kebutuhan untuk memperkuat upaya mengatasi masalah-masalah perkotaan terutama yang berkaitan dengan penurunan kemiskinan global dan perwujudan pembangunan berkelanjutan. Bemula dari kebutuhan menjadi peluang kota dengan perencanaan dan fungsi yang baik dapat mengarahakan kita menuju perubahan masa depan yang kita inginkan, yaitu kota dimana setiap penduduk dapat memiliki hunian layak dengan sarana air, sanitasi, kesehatan, dan fasilitas lain yang memadai. Selain itu kota juga menyediakan pendidikan berkualitas dan lapangan pekerjaan, kota dengan bangunan serta sistem transportasi publik yang hemat energi, serta kota di mana semua penduduknya merasa memiliki.

Kawasan Rendah Emisi

Saat ini, masyarakat bisa menikmati area pejalan kaki yang lebih luas dan transportasi publik lebih terintegrasi di Kawasan Kota Tua Jakarta (KKTJ). Selain itu, revitalisasi ini juga ditargetkan mengubah KKTJ menjadi kawasan rendah emisi (KRE) atau low emision zone (LEZ), sehingga kualitas udara di sekitarnya lebih baik. Kawasan ini memiliki luas sekitar 139 hektar dengan dominasi bangunan arsitektur Eropa dan Cina dari abad ke-17 hingga awal abad ke-20.

KKTJ dicanangkan sebagai LEZ.

Trotoar dan area pejalan kaki terasa lebih lega dan nyaman karena tidak ada lagi pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan dagangan di trotoar. KKTJ menjadi bersih dari PKL, mulai dari trotoar di depan Museum Mandiri dan Museum Bank Indonesia, hingga di sepanjang Kali Besar. PKL dipindahkan ke lokasi binaan Kota Intan.

Gowes berdua di KKTJ.

Kampung Susun Pemukiman Tanpa Kumuh

Peresmian KSPTC. Sumber: FB Anies Baswedan.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah meresmikan Kampung Susun Produktif Tumbuh Cakung (KSPTC). Pembangunan kampung susun di atas lahan seluas 4 ribu meter persegi itu dilengkapi sejumlah fasilitas, seperti ruang ramah anak, ruang serba guna, musala, serta lokasi untuk usaha warga setempat.

Pemukiman tanpa kumuh.

Gubernur berpesan agar warga yang tinggal di kampung susun bertanggung jawab untuk menciptakan suasana guyub. “Jangan sampai berubah menjadi kumpulan unit-unit rumah yang pribadi dan keluarganya individualistik. Saya, kami, bagian membangun. Ibu dan bapak, saya titip membangun suasana kampungnya,” kata Anies. KSPTC terdiri dari beberapa menara yang memiliki warna cat berbeda, Ukuran unit seluas 36 meter persegi dengan dua kamar tidur, satu toilet, dan satu ruang bersama.

Penyeran kunci unit KSK. Sumber: detik.com

Satu contoh lagi perubahan yang baik adalah pembangunan Kampung Susun Kunir (KSK). Ada yang unik dari KSK ini karena berada di KKTJ. Untuk melestarikan dan menghormati sejarah, maka dibangun juga Galeri Kunir di lantai semi basement KSK yang berisi temuan arkeologi di tempat ini.

Bangunan KSK terdiri dari satu blok, empat lantai, dan satu lantai semi basement, yang terdiri dari 33 unit hunian seluas 36 meter persegi. Setiap unit hunian terdiri dari ruang keluarga, satu kamar tidur, kamar multifungsi, kamar mandi, dapur, dan balkon.

Bangunan KSK. Sumber: liputan6.com

Apresiasi kepada seluruh pihak yang berkolaborasi, karena kampung susun ini bisa terwujud berkat proses dialog, serta perencanaan bersama dengan warga. KSK dibangun agar menjadi pengingat dan penanda, bahwa kampung dan segala kehidupan di dalamnya adalah bagian yang selalu melekat dengan masa lalu dan masa depan Kota Jakarta.

Dunia Belanjaku Sebagai Alumni ITB adalah Blusukan di Pasar Tradisional

Standar

Aku bukan perempuan yang suka belanja, apalagi keluar masuk mal. Biasanya sih aku belanja itu untuk sesuatu yang dibutuhkan. Sesekali aku pergi ke mal tentu untuk membeli barang yang dibutuhkan. Namun tempat belanja yang paling pas dan menjadi pilihan utamaku adalah pasar tradisional. Kali ini Mamah Gajah Ngeblog (MGN) mengadakan ‘Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog’ bulan Septermber dengan tema ‘Mamah dan Dunia Belanja.’

Teteh belajar berbelanja sayur mayur dan bumbu dapur di pasar tradisional.

Pasar Tradisional

Berbelanja di pasar tradisional kerap aku lakukan diberbagai kesempatan. Pasar tradisional di berbagai kota/kabupaten di Indoenesia masih memiliki posisinya tersendiri di mata masyarakat. Sekalipun harus berhadapan dengan gempuran dari pasar-pasar mewah, mal-mal, supermarket, bahkan mini market yang merayap masuk di lahan pasar tradisional.

Seseorang ketika menyematkan kata tradisional pada hal-hal tertentu, biasanya mengandung makna perendahan atau penomorduaan. Kelas bawah. Berbeda ketika menyebutkan kata modern, yang dimaknai mengandung kehebatan dan kemajuan.

Istilah pasar tradisional seringkali mengarah kepada pasar-pasar yang bermodal kecil, lemah, kotor, tidak rapih, semrawut dan seringkali tidak taat aturan. Karena, gejala ini menghinggapi banyak orang, Pemerintah Daerah pun terkadang tidak berpikir keras untuk melahirkan kebijakan-kebijakan yang memungkinkan mereka bisa bertahan, maju dan bisa memberikan nilai lebih kepada kesejahteraan para pedagang dan masyarakat pada umumnya.

Pasar tradisional merupakan tempat yang relatif lebih memungkinkan dimasuki oleh pelaku ekonomi lemah/pedagang kecil. Mereka memiliki jumlah mayoritas dalam piramida ekonomi di Indonesia. Pasar tradisional mudah diakses oleh pedagang kecil karena harga sewa kios/lapak, bahkan bisa di emperan, terjangkau oleh mereka. Pedagang kecil tidak mampu menyewa di pasar modern dengan harga yang lebih mahal, karena modal mereka juga terbatas.

Inilah enam pasar tradisional yang pernah aku kunjungi bersama Teteh:

1. Pasar Beringharjo Yogyakarta

Setiap orang yang pernah menjejakkan kaki di kota Yogyakarta pastilah memiliki kenangan indah tersendiri. Begitupun Aku dan Teteh ketika berlibur ke Yogyakarta sekaligus menghadiri Ujian Terbuka untuk memperoleh derajat Doktor dalam Ilmu Lingkungan. Artikel lengkapnya ada di sini.

Bukan pertama kali ini Teteh berlibur di Yogyakarta. Namun pengalaman berkeliling kota dengan becak listrik barulah pertama kali. Dari penginapan di kawasan kampus UGM, Teteh menuju jalan Malioboro dan langsung minta untuk belanja di Pasar Beringharjo. Pagi itu pasar masih lengang sehingga kami leluasa untuk memilih berbagai motif batik yang menarik, unik, dan cantik. Harganya murah meriah loh! Pedagangnya pun sangat ramah.

Murah meriah harga segala jenis batik di Pasar Beringhardjo.

2. Pasar Gede Hardjonagoro Solo

Bila berlibur di Solo, aku selalu mampir ke Pasar Gede Hardjonagoro. Siang hari sungguh cocok bila menyantap dawet telasih dan es gempol pleret Bu Wiji. Segar sekali rasanya. Minuman favorit keluargaku ini rasanya manis, dingin dan segar. Bakal ketagihan deh!

Teteh pasti memilih naik becak bila keliling kota Solo.
Di dalam pasar tradisional banyak kuliner favorit Teteh.

Ramuan es dawet tradisional Solo yang turun-temurun tiga generasi. Semangkuk es dawet ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, biji telasih, cairan gula, dan santan dengan tambahan es batu. Artikel tentang kuliner Solo sudah aku tuliskan di sini. Selain kuliner aku biasanya membeli buah-buahan dan oleh-oleh khas Soli di pasar ini.

3. Pasar Triwindu Solo

Kali ini aku mengajak Teteh menjejak masa lalu di Pasar Triwindu Solo. Barang-barang antik yang tak lagi digunakan anak-anak gen Z, seperti lampu cempor, patromaks, setrika arang, radio, televisi tabung hitam putih, sepeda onthel, alat takar minyak tanah, mesin ketik manual, … beberapa barang aku pernah memakainya. Ya! Karena aku anak kelahiran tahun 70-an.

Sahabatku Tetty (sesama alumi AR-ITB) bercerita, “Dulu kalau almarhum Kakek sudah bersiap siap nyalain petromaks, aku pasti langsung pasang posisi nongkrong di depan beliau. Karna bagiku dulu menyalanya lampu petromaks itu seperti sulap … Kok bisa? Kaos lampu yang kempes dan terbuat dari bahan yang seperti jala-jala jadi genduuut dan menyala … Emejiiing …” 

Teteh berkunjung ke pasar barang antik di Solo, rasanya seperti melewati lorong waktu.

Maya sahabatku yang keturunan Keraton Solo juga berkisah, “Ngalamin masa-masa pake petromaks, lampu kentir, obor, tungku kayu. tungku kayu bakar plus perlengkapan dapur dari tembaga berat-berat. Trus nasinya diaron baru ditanak setelah matang digelar dinampah dikipas-kipas. Hhhmmm … haruuuummmm uap nasinya ajaib.”

Petromaks dan segala macam barang antik di pasar Triwindu.

Lain lagi nih sahabatku Vera punya pengalaman menarik. Katanya, “Aku ngalamin pakai petromak, setrika arang yang beeuaratt. Lampu minyak juga dan mesin tik …tok … tik …tok … Obor dan masak pakai kayu bakar. Televisi masih hitam putih. Kalau mau nonton harus mandi dulu. Trus berjejer di depan televisi yang masih pakai aki.”

4. Pasar Kramatjati Jakarta

Pete kesukaanku adanya di pasar tradisional.

“Yaaa ampuuunnn! … Cantik-cantik kok suka pete?” tetiba seorang teman protes ketika aku upload foto pete serenteng. Lain waktu ada yang ketawa tergelak saat aku pesan pete goreng di rumah makan, “Ha3 … Baru tau ternyata Mba Dewi suka pete. Gak takut kebauan ya?” aku tersenyum dan iseng bilang, “Gampang kok ilangin bau pete. Hhhmmm … Makan aja jengkol. Ha3 …”.

Aku membeli pete di pasar tradisional. Kebetulan rumahku tak jauh dari Pasar Kramatjati, cukup 10-15 menit berjalan kaki. Nah … Teteh juga sering aku ajak di akhir pekan ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Walau kadang dia kesal karena becek dan bau.

Belanja bahan makanan di pedagang kecil.

5. Pasar Tawangmangu Karanganyar

Sayur mayur segar di Pasar Tawangmangu.
Para pedagang sebagian besar perempuan.

Aku minta suami mengantarku ke pasar Tawangmangu. Aku membeli pisang asli dari kebun di Tawangmangu. Tak murah juga harganya satu sisir Rp. 20.000,-  tapi sungguh tidak menyesal. Manis dan segar karena matang pohon. Penjualnya perempuan paruh baya yang ramah, malah menawariku untuk juga membeli ubi ungu. Tak kuasa menahan rasa ingin mencicipi jenang dwi warna yang terlihat ‘yummy’ aku berjongkok sambil menanti dengan sabar pedagangnya melayani tiga pembeli. Kulit wajah sudah menunjukkan usianya yang lanjut, namun tangannya tetap cekatan menyendok jenang dan membungkusnya dengan rapi.

Pemandangan seperti ini cuma ada di pasar tradisional.

Selesai membeli jenang, aku berkeliling pasar dan menemukan pedagang kacang rebus yang masih mengepulkan asap. Wah … sepertinya enak. Langsung aku menghampiri dan membeli dua tangkup kacang rebus. Aku tanya apakah kacangnya membeli? Tidak! Kacang dari kebun sendiri, ditanam sendiri, dipanen sendiri, dimasak sendiri, diangkut sendiri, dijual sendiri. Tapi uangnya buat rame-rame, buat anak cucu. Oh … hebat sekali! Perempuan ini adalah lansia ceria, terbukti sambil melayani aku dan juga pembeli lain, dia tetap ramah sesekali tersenyum bahkan tertawa menanggapi pertanyaanku tadi. Duh … Bagaimana tidak dibilang perkasa? Karung gendut dan beratpun diangkut!

6. Pasar Kanoman Cirebon

Jika aku mengunjungi Mamah di Cirebon, dipastikan selalu berkunjung ke Pasar Kanoman untuk berburu ikan laut. Waaahhhh … Ikannya masih segar dan harganya terjangkau. Aku paling suka udang dan balakutak hideung. Nah … Kisah masakan favorit ini sudah aku tuliskan di sini.

Ikan laut masih segar di Pasar Kanoman. Sumber About Cirebon

Selain ikan segar di pasar ini juga banyak produk olahan berbahan dasar ikan seperti kerupuk, terasi, petis, dan ikan asin. Ada juga pedagang makanan khas seperti empal gentong, tahu gejrot, dan nasi jamblang di sekitar area pasar. Lengkap banget kan Mah?

Penutup

Nah … Para Mamah MGN alumni ITB suka belanja di mana nih? Yuk! Kita galakkan belanja di pasar tradisional untuk mendukung kemajuan ekonomi masyarakat terutama sektor UMKM. Semoga pasar tradisional bisa ditata lebih bersih, rapi, nyaman, dan aman agar para pengunjung semakin puas ketika berbelanja di sini.

Sehat Harus Disyukuri, Sakit Penggugur Dosa

Standar

“Sehat itu mahal. Hematlah pada kesehatan, supaya sehat kita bisa digunakan untuk amal shalih. Ingat, Ightanim khamsan qabla khamsin. (Salah satunya) Shihhah qabla saqam,” tutur K.H. Hasan Abdullah Sahal di Pondok Modern Gontor. Kita harus berikhtiar untuk meningkatkan Iman dan Imun’. Tidak hanya memperkuat keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja, namun juga didukung dengan fisik yang sehat dan terhindar dari penyakit.

Merawat sehat dengan olahraga dan olah jiwa.

Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mencinta hambanya yang kuat. Di dalam ajaran Islam, bahkan Nabi Muhammad shalallaahu alaihi wassalaam menyampaikan bahwa Allah lebih mencintai hamba-hamba-Nya yang sehat:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan”.

Kata sehat menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah suatu keadaan/kondisi seluruh badan serta bagian-bagiannya terbebas dari sakit. Mengacu pada Undang-Undang Kesehatan No 23 tahun 1992 sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan seseorang dapat hidup secara sosial dan ekonomis.

Definisi dan Pengertian Sehat Menurut WHO

Definisi sehat menurut WHO yang perlu kamu ketahui juga tentu mengandung 3 karakteristik antara lain :

1. Merefleksikan Perhatian pada Individu Sebagai Manusia

Secara personal tubuh seseorang dikatakan sempurna meliputi kondisi fisik saja. Hal ini bisa juga disebut dengan sehat jasmani dan rohani tanpa melibatkan unsur eksternal.

2. Sehat yang Berkaitan dengan Lingkungan Internal atau Ektersnal

Hal ini tentunya mencakup kondisi kesehatan yang meluputi kesehatan baik fisik dan sosial. Lingkungan tempat tinggal termasuk dalam karakteristik ini.

3. Sehat Sebagai Hidup Kreatif dan Produktif

Sehat juga bisa diartikan sebagai sebuah kehidupan yang kreatif dan juga produktif. Di mana selain menjaga tubuh tetap sehat, tentunya kondisi ini juga memastikan bahwa fisik kamu dapat menghasilkan suatu hal yang kreatif dan juga bentuk fisik yang masih tetap produktif.

Dekat denganAl-Qur’an salah satu cara meraih sehat mental spiritual.

Adapun pengertian sehat menurut WHO mempunyai tiga komponen pendukung yang sangat penting. Hal ini tentunya merupakan satu daripada kesatuan dalam defenisi yang bisa dikatakan sehat yaitu:

1. Sehat Jasmani

Sehat jasmani adalah merupakan sebuah komponen penting apabila diartikan sebagai sehat seutuhnya. Ini bisa dikatakan sebagai sebuah sosok manusia yang berpenampilan dengan kulit bersih, hingga memiliki mata yang bersinar.

Selain itu juga mempunyai rambut yang tersisir dengan rapi, memiliki pakaian yang rapi, tubuh yang fit, tidak gemuk, nafas tidak berbau, mempunyai selera makan yang baik, dapat tidur nyenyak, bersikap gesit dan seluruh fungsi fisiologi pada tubuh dapat berjalan normal.

2. Sehat Mental

Sehat mental ini bisa dikatakan sehat jiwa. Ini tentunya mencakup dalam kesehatan jasmani, di mana ini selalu dihubungkan dengan satu sama lain dalam pepatah jawa di mana dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat.

3. Sehat Spritual

Sehat spritual merupakan sebuah komponen tambahan dengan mencakup pengertian sehat menurut WHO. Konsep ini tentunya memiliki arti penting dalam sebuah kahidupan sehari-hari di masyarakat.

Ini juga bisa dikatakan dimana pada setiap individu membutuhkan perolehan daripada pendidikan formal dan juga pendidikan informal. Seperti memiliki kesempatan untuk berlibur, mendengarkan beragam alunan lagu dan musik, memperoleh siraman rohani dan juga lain sebagainya. Hal ini untuk mencipkatakan sebuah keseimbangan dalam jiwa kamu yang dinamis namun tidak monoton.

Bila Sakit, Bersabar dan Berikhtiar sebagai Penggugur Dosa

Sakit adalah episode tak terelakan dalam kehidupan manusia. Beragam jenis penyakit dapat saja diderita oleh manusia, tak terkecuali diri kita, suami atau istri, anak-anak, orangtua, dan keluarga dekat yang kita sayangi.

Pengalamanku saat menemani anak dan suami sakit ada di sini.

Hati dan ruh bisa mengambil manfaat dari penderitaan dan penyakit. Kebersihan hati dan ruh itu tergantung kepada penderitaan badan dan kesulitannya. Kalau tidak karena cobaan dan musibah dunia, niscaya manusia terkena penyakit kesombongan, bangga diri, dan kekerasan hati. 

Dzikir yang dianjurkan dibaca oleh orang yang sedang sakit :

‘Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah, dan Allah Maha Besar. Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah semata. Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah milik-Nyalah kerajaan dan pujian. Tidak ada ilah yang berhak di ibadahi dengan benar selain Allah tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.

Dianjurkan bagi orang muslim yang menjenguk saudaranya yang sedang sakit hendaklah mendoakan dia dengan membaca : ‘Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu.’ Nabi Muhammad SAW ketika menjenguk orang sakit berkata : ‘Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, Insya Allah Ta’ala’. Dan membaca doa : ‘Dengan menyebut Nama Allah mudah-mudahan Dia membebaskan dirimu dari segala penyakit mudah-mudahan Dia akan menyembuhkanmu, melindungimu dari kejahatan orang dengki jika dia mendengki dan dari kejahatan setiap orang yang mempunyai mata jahat’.

Mampir di artikel menarik lainnya:

Mengajak Anak Mencintai Pohon Sebagai Sumber Kehidupan

Standar

Apa jadinya bila rumah kecilku tak berpohon? Ugh … Udara Jakarta yang sumpek, penuh polusi kendaraan bahkan asap pembakaran kayu untuk mengolah jengkol dari pasar di balik tembok pagar perumahan itu pasti perlahan akan membuat paru-paru keluargaku sesak. Usaha pengolahan jengkol yang dimulai sejak pukul delapan malam menghasilkan bau menyengat dan asap yang serta merta akan masuk ke dalam perumahan. Untung saja sejak pindah empat tahun lalu, kami sudah menabung pohon.

Anak-anak jaman sekarang (terutama yang tinggal di kota besar) sangat jarang bersentuhan dengan pohon. Apakah mereka tahu bahwa kertas berasal dari pohon, pinsil pun demikian, apalagi meja dan kursi kayu tentulah berasal dari pohon.

Adakah keinginan mereka untuk menanam pohon? Adakah empati mereka untuk ikut menentang penebangan pohon di hutan? Apakah kita sebagai orangtua sudah mengajak mereka untuk lebih mencintai pohon?

Ya … We love the trees

Di rumahku yang tak seberapa luas tumbuh pohon beragam jenis. Pohon tanjung, mangga, kamboja, bintaro, soka, belimbing, palem juga beringin. Ah … walau belum tertata rapi, namun sudah terasa rimbun, sejuk, segar, hijau menyegarkan mata. Pagi hari saat matahari bersinar cerah, burung-burung berkicau di dahan pohon. Bila beruntung ada juga kupu-kupu hinggap dibunga yang sedang mekar.

Tak kenal maka tak sayang … Bukankah pepatah mengatakan demikian? Aku pun berusaha mengenalkan pohon kepada anak-anak agar mereka bisa mencintainya. Foto-foto di bawah ini mencerminkan ‘walau’ sedikit kecintaan mereka kepada pohon.

Teteh senang sekali saat menyirami tanaman di halaman depan rumah.

Teteh sangat antusias bertugas menyiram tanaman. Halaman rumah ditanami rumput dan bunga, sedangkan sisi jalan ditanami pohon berdaun rimbun seperti tanjung, kamboja, bintaro, mangga, belimbing dan beringin.

Anak-anak pun dilibatkan dalam proses penanaman pohon itu. Kaka anak sulungku membantu ayahnya menggali tanah, lalu Mas anak kedua memberi pupuk kompos dan pupuk kandang ke dalam lubang. Sedangkan si bungsu Teteh paling senang bila bertugas menyiram pohon. Kami bersama belajar mencintai pohon sebagai wujud rasa cinta kepada Allah Yang Maha Pemurah. Tentu kami sangat yakin suatu hari nanti investasi berharga ini akan menuai hasil.

Ya … Benar kami kini telah menuai hasilnya. Pohon tanjung yang berdaun rimbun tingginya sudah lebih dari lima meter. Berjajar berdampingan dengan pohon kamboja dan bintaro. Lalu ada pohon belimbing dan pohon mangga. Di sudut rumah ada pohon beringin yang tumbuh sendiri loh! Mungkin bijinya dibawa burung yang mampir di pepohonan kami.  Semuanya pohon berbatang keras dan berakar tunjang. Sedangkan di halaman dalam ada hamparan rumput gajah mini seluas 2×3 meter persegi yang dilengkapi dengan pot bunga adenium, kana, pisang-pisangan. Kami juga menanam jahe, lengkuas, kunyit, dan pandan,

Apa yang terjadi dengan udara di rumah kami? Malam hari terasa sekali fungsi dedaunan yang menyerap karbondioksida dan menangkal asap untuk masuk ke dalam rumah. Rumah kami menjadi satu-satunya rumah yang tidak begitu terganggu dengan bau jengkol he3 …

Tak hanya itu … Kami juga kedatangan burung-burung bersuara merdu dipagi hari. Ternyata pohon belimbing menarik minat mereka untuk mencicipi bunga-bunganya yang asam manis. Bunga tanjung yang harum pun mengundang banyak kupu-kupu cantik. Ada yang aneh … Kucing kampung yang biasa berkeliaran di perumahan kami kemudian melahirkan di halaman rumah dan anak-anaknya yang lucu senang sekali bermain di hamparan rumput atau bercanda di sela batang bunga. Dua ayam kate peliharan kami pun punya hobi bermain di bawah rindang pohon. Duh … Ini karunia yang tak terkira nikmatnya.

Kucing peliharaan Teteh bermain di taman. Namanya lucu-lucu deh! Pampa, Prairi, Stepa, dan Grassland.

Ayam kate bernama salju dan hujan sedang asyik ‘ngadem’ di bawah rindang pohon. Pampa, Prairi, Stepa dan Grassland kucing peliharaan kami sedang asyik sarapan di taman berhampar rumput gajah.

Tahu dan Tempe senang bermain di batang pohon bunga Kamboja. Kisah kucing-kucing kami ada di sini.

Kaka, Mas dan Teteh sangat mencintai pohon yang mereka tanam dan terus merawatnya dengan menyiram juga memberi pupuk secara rutin. Kegiatan kami di rumah ternyata di terapkan Mas saat ini di boarding school-nya. Mas bergabung dalam tim botanical garden yang mengelola sebuah taman berisi puluhan tanaman dan kolam ikan. Oya … Aku juga pernah ikut program sedekah pohon di kampus tempatku mengajar. Aku menanam lima pohon tanjung dan kini tingginya sudah lebih dari tiga meter. Di rumah orangtua, aku menyumbang dua pohon mangga dan kini sudah berbuah lebat. Ketika liburan ke Cirebon Kaka, Mas, dan Teteh bisa panen mangga deh!

Pohon mangga yang kami tanam di halaman rumah orangtua tengah berbuah lebat. Teteh senang sekali bisa ikut panen mangga.
Pohon dadap merah bisa dijadikan penyangga ayunan sederhana. Ini tempat main favorit Teteh.

Ada kejadian menarik saat musim kemarau panjang tahun lalu. Rumah kami tetap tak kesulitan air bersih. Air tanah tetap mengalir lancar. Rupanya akar pohon besar itu telah membuat jalan-jalan resapan air di bawah tanah dan air hujan yang tertampung di dalamnya dapat terus bertahan hingga musim kemarau tiba. Alhamdulillah … Puji syukur tiada terkira. Bukankah air sangat penting untuk kehidupan?

Agar lebih cinta pohon, kami sering mengujungi tempat rekreasi alam. Seperti air terjun Jumog di Tawangmangu yang masih alami dengan pohon-pohon besar yang rimbun. Kami juga belajar di Kebun Raya Bogor tentang beraneka ragam pohon dan keunikannya. Saat mengunjungi keluarga di Kuningan dan Wates, kami sempatkan bermain di sawah. Liburan di Bandung pun tak hanya di isi wisata kuliner, namun kami mampir di kebun teh Lembang. Inilah cara kami sekeluarga untuk lebih mencintai pohon.

Teteh berlibur ke Kebun Raya Cibodas. Simak di sini artikel lengkapnya.
Mas berkunjung ke Kebun Raya Bogor.

Rekreasi alam sambil belajar mencintai pohon di air terjun Jumog Tawangmangu. Teteh mendapat pengetahuan berharga bahwa kita harus menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak menebang pohon sembarangan dan ikut menanam pohon. Pengalaman kami mengunjungi Kebun Raya Bogor ada di sini.

Memang benar teladan itu jauh lebih efektif dari sekedar bicara. Yuk! Sebagai orangtua mari ajak anak cinta pohon sebagai investasi berharga bagi masa depan bumi tercinta.

Silakan mampir di artikel menarik lainnya