Bromo, Wisata Alam Penuh Kenangan

Standar
Keren juga nih foto Jeep merah menyala dengan latar lautan pasir.  Indonesia memang surga bagi para penjelajah alam. Keindahannya tiada tara …

Tadabur alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal Allah subhanahu wa ta’ala yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. Tadabur alam akan membersihkan diri dan jiwa kita dari energi-energi negatif yang mungkin telah bersemayam di hati dan fikiran kita dan sebagai rasa syukur atas karunia Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi.

Sungguh bersyukur kita menjadi bangsa yang dikaruniai keindahan alam oleh Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Terpuji. Bentang alam lautan, gunung dan pegunungan, pantai, hutan, sungai, danau, aneka ragam kekayaan hewan dan hayati, masyaallah …

Kawah pasir serupa lautan indah sekali …

Menjelajah pasir abu-abu yang lembut sambil dimanja belaian angin semilir. Hati siapa tak akan bergetar? Betapa indah ciptaan-Mu Ya Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa. Sensasi pertama yang aku dirasakan adalah ketika dini hari harus berjalan dikegelapan malam menempuh luasnya lautan pasir di kawah purba. Woowww … Pasirnya terasa bagi butiran es dingin sekali. Untung pakai sepatu kets dan berkaos kaki, bukan sendal gunung yang terbuka.

Fajar belum juga menghampiri ketika para penjelajah Bromo terjaga dan bersiap menaiki kendaraan khusus seperti jeep Landy atau Hartop. Aku awali dengan shalat tahajud, bersujud pada malam yang sunyi mengantarkan doa-doa kepada Illahi Rabbi. Semoga perjalanan kali ini mendapatkan hikmah betapa Allah Yang Mahaagung lagi Maha Tinggi menunjukkan kekuasaan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur.

Jalan yang menanjak dan berliku ditambah badan jeep yang berguncang ketika ada lubang, membuat mata yang masih mengantukpun tak lagi mampu terpejam. He3 … Lagi pula sayang kan bila sensasi naik jeep ini terlewat begitu saja. Sensasi ajrut-ajrutan di dalam jeep, bagi yang tak tahan jangan lupa bawa kantong kresek. Siap-siap saja barangkali tiba-tiba mual dan muntah he3 … Oya, bawa kayu putih atau minyak angin ya … Lumayanlah buat menahan rasa mual.

Ternyata aku salah tebak lagi! Ya Allah … Ini sensasi ketiga ketika bertemu begitu banyak wajah dan mata yang terkagum-kagum dengan keindahan alam di tebing puncak. Langit kemerahan berganti biru dihiasi awan putih. Pengunjung Bromo menanti dengan setia terbitnya mentari.

Sebagian orang mungkin berpikir di tebing puncak sana hanya sedikit saja pengunjungnya. Alhamdulillah … Ternyata ketika mentari beranjak terang tampaklah kerumunan penikmat suasana alam yang sangat menakjubkan ini. Hi3 … Mungkin juga banyak yang  menyangka tak akan ada kanak-kanak yang berani main-main di sekitaran area yang dinginnya menggigit hingga ke tulang. Tangga menuju tebing puncak lumayan menguras energi. Jadi sebelum berangkat sebaiknya makan atau ngemil dulu. Boleh juga bawa makanan kecil dan minuman agar tak kelaparan atau kehausan. 

Oya … Pakaian yang nyaman digunakan saat menjelajah di Bromo adalah kaos lengan panjang juga celana panjang yang agak tebal. Pakailah sweater, baju hangat, atau jaket agar tubuh tidak terlalu kedinginan. Bagi yang tidak tahan udara dingin dan debu ada baiknya menggunakan masker juga. Tutup kepala disarankan agar hembusan angin tidak menusuk ubun-ubun dan telinga.

Sarung tangan dan kaos kaki juga sebaiknya dipakai. Jilbab adalah pakaian yang pas bagi perempuan untuk meredam udara dingin di kawasan setinggi 2392 meter di atas permukaan laut ini. Sensasi keempat menikmati dingin yang akan dikenang dan tak terlupakan. Apalagi kalau sampai menggigil hi3 … Waaahhh … Mantap sekali.

Supraise … Ketika cuaca sudah terang, aku berjumpa anak-anak usia sekolah dasar yang dengan semangatnya mendaki lautan pasir hingga sampai di tebing puncak. Barakallah ya Nak, salut! Hebat sekali …
Menuruni tangga dari tepian tebing menuju lautan pasir. Tampak dikejauhan ada Pura Luhur Poten yang cantik. Warna dominan bangunanya abu-abu dan hitam tampak elegan.

Saat mentari makin beranjak tinggi dan inilah waktunya kembali turun meninggalkan lautan pasir tepian tebing. Udara sudah tak terlampau dingin, bahkan terasa nyaman. Beberapa pengunjung mulai melepaskan jaket dan penutup kepalanya, juga sarung tangannya. Tapi tak sedikit yang tetap dalam balutan kostum lengkap hingga jeep membawa kembali ke basecamp.

Kuda-kuda ini jinak loh! Cobalah menungganginya dan berkeliling lautan pasir. Sangat menantang …

Jika merasa agak lelah atau nafas mulai pendek, tak ada salahnya menggunakan jasa kuda tunggang. Silahkan pilih mana kuda yang disuka. Nikmatilah sensasi kelima bagai pangeran dan putri kerajaan.

Bersiap kembali ke basecamp.

Mari kita menadabburi keberadaan gunung, di mana Allah berfirman:

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ ٱلْجِبَالَ وَتَرَى ٱلْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَٰهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا

“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” Surat Al-Kahfi ayat 47.

Hikmah lain kita menadabburi kekokohan gunung yang semua itu pada akhirnya nanti akan lenyap, hancur, dan berhambur menjadi debu beterbangan. Namun, di lain sisi, kita dapat mengambil manfaat dari gunung-gunung tersebut sebagai pasak bumi, sehingga bumi tidak berguncang. Allah berfirman dalam Al-Qur’an :

وَإِلَى ٱلْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

“Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” Surat al-Ghasyiyah ayat 19.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar, kita diajarkan agar dapat melihat gunung-gunung bagaimana Allah menegakkannya dan dengannya bumi menjadi stabil, tidak membuat manusia terguncang di atas bumi ini. Lihat juga ayat lain: “dan gunung-gunung sebagai pasak” (QS an-Naba’:7).

Sila baca juga artikel menarik lainnya di link berikut:

6 responses »

  1. wah jadi kangen Bromo deh Teh, aku suka disana, adem..Indomie paling enak juga Indomie yang di makan di Pananjakan sambil nunggu sunrise haha.

  2. Masya Allah Teh Dewi, kpn ya terakhir kali saya ke gunung. Sejak menikah udah ga pernah lagi padahal bagus ya utk refresh dari hiruk pikuk dunia dan untuk tadabbur alam. Berapa derajat teh puncak di dini hari?

  3. Aku pengen ke Bromo, dari dulu belum kesampaian. Tiap mudik juga nggak sempat ke arah sana. Mudah-mudahan masih kuat buat naik jeep atau bagaimanapun caranya naik ke sana, hehehe…

    Kadang-kadang malu hati, lama merantau kok ya belum sampai juga ke tempat indah di negeri sendiri.

  4. Teteh… indah banget Bromo-nya. Seru nih blogwalking kali ini ada dua liputan wisata.
    Bener teh, aku setuju, melihat alam, kita melihat betapa besaaaaaaaaaaaaarnya pekerjaan Tuhan… liat langit dan indahnya awan dan sinar matahari aja suka inget gitu, apalagi kalau liat pemandangan alam yang kayak Bromo gini ya teh, yang menuju ke sana harus susah payah.
    Makasih teh sharingnya, semoga aku suatu saat bisa ke Bromo juga *heart

  5. Begitu melihat mobil jeep merah Mba Dewi, saya langsung teringat dengan ‘Strawberry’ milik May, ehehe. Warnanya merah juga, Mba.

    Indahnya, masya Allah alhamdulillah. Saya belum pernah sekalipun ke sana, Mba. Kebayang dinginnya ya, dan tentunya betapa agungnya ciptaanNya. 🙂 Foto-fotonya juga bagus-bagus, Mba Dewi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s